Naruto © Masashi Kishimoto
suzanesSTAR presents:
.
TO BE YOUR STAR
.
Attention!
This is Gaa x Ino pairing…
Some English dialogues may appear..
Gajenism, miss-typos, mini-lime, predictable storyline (maybe. Just read!) Mhehehehe..
Happy Reading!
.
*********************** Chapter 4 : The Most Important One ********************
.
Temari POV
Baru kali ini kulihat Gaara yang begitu mengkhawatirkan orang lain sampai seperti ini. Wajahnya pucat, berkeringat, dan bergetar. Dia hanya tertunduk, tangannya saling mengepal. Aku baru mengenal sisi Gaara yang satu ini. Kucoba berbicara padanya, "Gaara, you should take a rest. You're not in your full health." Tetapi dia hanya diam. Pandangannya menerawang kosong, memandang ke bawah. Lalu akhirnya dia angkat bicara.
"Aku…Temari-nee..aku…tak ingin terjadi apa-apa padanya," katanya, sambil tak mengubah arah pandangannya. Aku sangat terkejut, lalu kusadari satu hal. Akhirnya, dia memilikinya. Adikku yang terkenal dingin dan nyaris tanpa emosi itu akhirnya memiliki rasa itu. Aku hanya tersenyum kecil.
"Akhirnya, kau memilikinya juga, ya?" tanyaku padanya, sedikit melirik.
"Memiliki apa?" tanyanya. Mukanya mendongak heran, sambil menatap fokus padaku.
"Someone that you love very much," jawabku. Ia hanya tetap menatapku. Lalu ia berpandangan kosong kembali. Aku mendengar ia menghela nafas.
"Hhh…Temari-nee, cinta itu apa?" tanyanya polos. Aku tersenyum kecil. Mungkin sudah saatnya aku memeberitahu adikku ini tentang salah satu emosi manusia yang paling penting itu. Mau tak mau wajahku jadi memerah. Aku mencoba menjawab sebisaku.
"Cinta, ya? Umm…bagaimana, ya? Cinta itu pokoknya memaafkan, walaupun kau sulit melupakan. Memberi tanpa mengharapkan balasan. Berani berkorban untuk orang yang kita cinta, no matter what its costs. Saling berbagi dan menghormati. Kau tak pernah tahu alasan yang jelas mengapa kau jatuh cinta. Nah…kira-kira seperti itulah," jawabku. Ia tetap menatapku, lalu ia menerawang ke langit-langit.
"Understood," bisiknya.
"Apakah aku kenal dengan gadis itu?" tanyaku, penuh selidik.
"Yeah, aku rasa begitu," Gaara melirik sedikit padaku, ia sama sekali tak bisa tenang. Akhirnya setelah menunggu selama lima jam, Matsuri beserta tim medis lainnya keluar dari ruang operasi. Matsuri menghampiri Gaara, wajahnya tersenyum namun pucat. Mungkin kelelahan.
"Kazekage-sama, kondisi Kapten Yamanaka sudah stabil dan telah melewati masa kritis. Sekarang, ia sedang beristirahat. Tak lama lagi mungkin dia akan bangun," kata Matsuri, tersenyum dipaksakan. Ia lalu pamit. Aku segera melihat aura kelegaan di wajahnya. Setelah kepergian Matsuri, Gaara menghilang. Sangat cepat, sehingga aku pun tak sempat menahannya.
End of Temari POV
.
Ino POV
'Uuugh…hhh…dimana ini? Kenapa ini terang sekali?' Perlahan-lahan aku membuka mataku. Bayangan kabur itu kini terlihat jelas. Ah, Gaara-kun! Ia tersenyum lega. Wajahnya pucat dan tangannya dingin berkeringat menggenggam tanganku.
"Gaara-kun…Kau…" aku berusaha bicara, namun tenagaku masih lemas.
"Sudahlah, jangan bicara dulu. Kau selamat sekarang," katanya. Aku merasakan nafasnya yang berat. Lalu aku berusaha bicara lagi.
"Aku senang…kalau orang yang pertama kali kulihat waktu bangun, adalah kau, Gaara-kun. Umm…maafkan aku. Gara-gara aku, kau jadi babak belur begini. Aku…" kata-kataku lalu dipotong olehnya.
"…A-aku, aku senang kau selamat," katanya. Dia terlihat gugup. Lalu ia angkat bicara lagi, "Ino," baru kali ini aku mendengarnya menyebut namaku langsung.
"Ya?" jawabku, singkat.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya lagi. Aku mengerenyitkan dahi dan menatapnya lekat. Tanda aku setuju untuk menjawab semua pertanyaan darinya, yang bodoh sekalipun. Lalu ia meneruskan kembali.
"Umm…Ino, sejak bertemu denganmu, aku sering merasakan nyaman, apalagi ketika sedang bersamamu. Kau tahu…pertama kali kumelihatmu, kukira kau sama dneganku. Matamu…," dia menatapku lekat sekarang, lalu lanjut lagi, "Matamu, caramu bertarung, semuanya. Dan itu membuatku bahwa aku tida sendirian. Aku selalu ingin berada di dekatmu. A-aku… aku tidak keberatan kalau kau dekat dengan orang lain," terdengar nada cemburu dari suaranya. Ia menatapku dengan fokus. Iris jade-nya berpendar di aquamarine-ku. Lalu, ia melanjutkan,
"Tapi kalau kau pergi dengan pria lain tanpaku, I wanted to kill them! Aku merasa kau adalah milikku. Dan aku tak bisa berhenti memikirkanmu," katanya. Ia bicara dengan sangat cepat denga satu tarikan nafas, seakan-akan mengeluarkan gumpalan emosi yang tertahan bertahun-tahun. Aku hanya bisa menaikkan alis, menatapnya dengan nanar. Aku mengepalkan selimutku. Apakah ini….?
"So, Ino," lanjutnya lagi, "Prasaan apakah ini?" tanyanya, ia sama sekali tak menatapku. Semburat merah tipis terpampang di wajah tegasnya. Jujur, aku baru melihat Gaara-kun seperti ini. Aku hanya bisa tersenyum kecil.
"Mungkin, kau sedang merasakan cinta." Eh, apa yang kukatakan barusan? Geer sekali kau, Ino! Tapi aku tak bisa menahannya, terlontar begitu saja! Ego payah! Hal ini membuatnya sukses terbinar walaupun sekilas.
"Eh…err…Kalau begitu, apakah cinta ini darimu?" tanyanya lagi dengan polosnya. Aku terenyuh, apakah ini genjutsu? Aku…aku ingin sekali bersamanya. Walaupun…
"Ehm, kalau kau menginginkannya, kau bisa…" mulutku berbicara lagi, kali ini berasal dari hatiku yang paling dalam yang membuncah tak tertahankan. Namun perkataanku terpotong.
"Aku mau," katanya, tiba-tiba.
"Apa?"
"Aku menginginkannya…. Cinta darimu, aku menginginkannya, Ino," jawabnya. Mata jade-nya menatapku sendu. Semua dikatakannya dengan jelas. Andai saja tubuhku sudah kuat, kau ingin sekali memeluknya. Aku agak lama terperanjat, terlalu senang untuk dikatakan. Dan akhirnya aku menjawab…
"Kalau kau menghendakinya, baiklah…" jawabku, dengan senyum terbaikku. Gaara tersenyum, dan kali ini dari lubuk hatinya, aku tahu itu. Lalu ia menggenggam tanganku erat. Ia sedikit memajukan wajahnya dan meraih keningku dengan bibirnya. Ia mengecup keningku! Saat itu, hanya desir-desir nagin yang menemani kami. Akhirnya aku bisa bersamanya, walaupun aku tahu….ini hanya untuk sesaat.
.
.
.
Hampir tiap empat hari sekali Gaara-kun datang menjengukku, dan menemaniku. Walaupun itu hanya sebentar dan itu pun hanya bunshin-nya saja. Maklumlah, dia Kazekage. Namun, itu sudah membuatku semangat.
Hingga tiba pada suatu malam, ketika semua orang terlelap, Gaara datang padaku. Langsung aku lempar kunai ke arahnya, namun pasir berhasil menangkisnya.
"Kali ini bukan bunshin," kataku, "Gaara-kun, apa yang kau…" ia lalu memebekap mulutku.
"Sssst….jangan keras-keras! Aku hanya ingin menemuimu. Maaf kalau kau datang malam-malam begini, inilah waktu yang tepat," katanya, dengan volume suara yang nyaris berbisik. Aku melepaskan bekapan tangannya dari mulutnya. Aku pun tertunduk.
"Baiklah, aku mengerti, walaupun sebentar aku sangat senang, kok," kataku. Gaara tersenyum kecil, wajahnya tertimpa sinar bulan sehingga memperlihatkan rahang khas laki-lakinya terlihat jelas, wajah yang senantiasa tegas itu sedikit membingkai sebuah senyuman tipis yang hanya bisa dilihat oleh pencahayaan bulan itu. Mata iris jade-nya menembus mataku, seakan melihat semua hatiku dengan jelas. Hatiku langsung luluh. Tiba-tiba ia melingkarkan tangannya di pinggangku, menarik tubuhku sehingga bersentuhan dengan tubuhnya. Ia mendekapku dengan erat.
"Aku tak bisa tenang jika malam ini tak melihatmu," katanya.
Aku bisa merasakan dadanya bergerak naik turun, merasakan panas nafasnya di pundakku. Aku pun membalas mendekapnya. Makin lama, aku merasakan hangat nafasnya menderu di leherku. Ia lalu menelusuri lekuk leherku dengan ujung bibirnya, yang membuatku mendesah tertahan. Lalu, menyadari wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku, ia mencium bibirku. Dekapannya makin erat dan tak mengizinkan aku untuk menjauh lebih dari ini. Hangat segera menjalar di sekujur tubuhku, membius akal sehat dengan sempurna. Aku bisa merasakan detak jantungnya kian menderu. Tanpa diperintah, pasir menyelubungi kami dan membiarkan hanya cahaya bulan yang diizinkan menerangi kami. Tangan kekar Gaara sekarang menelusuri lekuk tubuhku dan aku dibawah pengaruh dia sepenuhnya. Seperti genjutsu, aku tak bisa menolak. Dan semoga tak aka nada yang membangunkan kami.
Aku berharap aku bisa menggunakan Shintenshin sekarang juga untuk mengetahui dasar hatinya sekarang juga, namun tubuhku terlalu terhanyut untuk melakukannya.
End of Ino POV
.
.
.
To be continued
Update singkat yang berisi tentang kedalaman dan pengakuan hati dari sang Kazekage…Fiuh…selesey juga.
Tapi sebelum ngasih REVIEW (kepedean mode: on. *BLETAK!*), Nes mo ngucapin
GONG XI FAT CHOI dulu aaaah! Wkwkwkwkwk..
Oke, sekarang silakan baca…kalo udah baca…silakan Review…
Hiks..hiks..
See you next chap, minna! Because next chap is…Chapter FINALE!
