Aku tidak peduli sekeras apapun mereka berteriak meminta, mengiba, memohon belas kasih padaku aku tetap membunuh mereka tanpa ampun.
Kedua kupingku terasa tuli, tak mendengar setiap jerit ketakutan, keputusaan asaan serta rintihan kesakitan dari mereka semua saat pedang milikku menebas, memenggal, menusuk atau menghujam dalam tubuh mereka.
Mataku-pun terasa buta karena tak pernah merasa takut, ngeri bahkan tak sekali-pun aku meneteskan air mata ketika menebaskan dan membelah tubuh mereka dan hatiku-pun terasa mati, tidak bisa merasakan perasaan sedih, bersalah terlebih berdosa ketika membunuh mereka semua.
Entah harus berapa banyak darah lagi yang harus aku tumpahkan demi memuaskan rasa sakit dan dendam dihatiku tapi sebelum aku membunuh dia, rasa sakit hatiku tidak akan pernah hilang.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : M
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Crime
Pair : Pain/Pein x Hinata. H
~ Lust For Revenge ~
WARNING : AU, Typo bertebaran dimana-mana, EYD amburadul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, Lemon, OOC, OC, Alur cepat, CRACK PAIR dan masih banyak kekurangannya.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Keringat dingin mengucur deras dari dahinya tak kala melihat kilatan tajam pedang panjang yang tengah berada dalam gengaman pria bertopeng rubah mengenakan kimono putih polos yang bagian depannya sedikit terbuka.
"A-aku mo-mohon ja-jangan bu-bu-nuh a-aku..." ibanya dengan kedua mata berlinang air mata.
Bahkan kini pria bertubuh sintal yang merupakan seorang pejabat korup daerah Iwa berlutuh menyembah pria bertopeng rubah ini agar dirinya dilepaskan dan tak dibunuh.
Namun pria bertopeng rubah ini diam dan tersenyum sinis dibalik topengnya, "Sungguh lucu sekali," diletakkannya ujung pedangnya dibawah dagu yang membuat pria bertubuh sintal ini mendongakkan wajahnya, "Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini," ucapnya dingin.
"Ti..."
SRAAKKK
Kepala pria bertubuh sintal itu terputus dari tubuhnya dan meggelinding jauh.
CRATT
Darah segar mengotori topeng serta pakaiannya. Namun ia tidak bergeming dan terlihat santai.
BRUKK
Tubuh pria sinta itu jatuh bersimbah darah dengan kepala lepas dari lehernya. Tak hanya pria gendut ini saja yang tewas, di dekatnya banyak pria berpakaian jas hitam rapih tergeletak tak bernyawa dengan kondisi serupa juga tubuhnya tertebas pedang miliknya tak hanya itu kamar pribadi yang tadi di dominasi warna kuning gading kotor dengan banyak percikan darah segar.
Sungguh berhati dingin serta sadis pria ini karena tidak merasa takut atau apapun, jika orang biasa melihat kejadian ini mereka pasti akan bergidik ngeri, takut bahkan menangis. Tapi tidak bagi pria ini, karena hatinya sudah mati dan tidak bisa lagi merasakan apapun kecuali perasaan dendam serta benci mendalam pada seseorang.
Srekk...
Dikibaskanya pedang miliknya membersihkan sisa darah diujung pedangnya. Setelah melakukan tugasnya pria ini pergi tanpa adanya rasa bersalah sama sekali. Ketika keluar kamar keadaan rumah milik pejabat Iwa ini tak jauh beda dengan didalam kamar, banyak mayat bergelimpangan bahkan para pelayan dikediaman ini tak luput dibunuh olehnya.
TAP
TAP
TAP
Pria ini berjalan santai melewatai mayat-mayat disekitarnya tanpa ada rasa bersalah sama sekali dan saat keluar dari kediaman mewah ini sebuah mobil hitam panjang sudah menunggunya, "Selamat datang, Sasuke-sama," sapa sang supir ramah seraya membukakan pintu mobil bagian belakang.
SREK
Pria bernama Sasuke ini menghempaskan tubuhnya duduk dikursi belakang mobil lalu melepaskan topengnya dan pakaiannya yang kotor terkena percikan darah, "Antarkan aku ke kediamanku karena aku ingin berisitrahat," ucapnya dingin.
"Baik, Tuan."
BRUUUMMM
Mobil ini langsung melaju cepat ditengah kegelapan malam dan sepinya jalan. Sasuke menyenderkan kepalanya lalu salah satu tangannya ia letakkan diatas dahinya. Malam ini Sasuke bekerja sendirian tidak ditemani juga dibantu oleh anak buahnya membantai satu keluarga pejabat dan orang yang menjadi targetnya adalah seorang pejabat Iwa korup yang beberapa tahun lalu ikut terlibat dalam insiden pembantaian keluarga Uchiha yang dilakukan oleh kakaknya sendiri, Itachi Uchiha. Seorang pengkhianat clan dan orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.
"Aniki..." gumamnya.
Sasuke sangat menganggumi dan menghormati sosok sang kakak walaupun jalan yang dipilih sang kakak adalah sebagai seorang Polisi yang berarti menjadi musuh keluarganya sendiri mengingat Uchiha adalah sebuah clan Yakuza ternama dan terkuat di Konoha. Tapi rasa kagum dan hormatnya berubah seketika tak kala melihat dengan kedua matanya sendiri, pria bersurai hitam panjang itu membunuh kedua orang tuanya didepan matanya. Hanya Sasuke saja yang tak dibunuh oleh Itachi karena menganggapnya lemah serta tak pantas mati ditangannya. Setelah membunuh kedua orang tuanya dan membantai clannya, Itachi terdengar masuk kedalam sebuah organisasi hitam bernama Akatsuki dan menjadi buronan kelas S oleh Negara.
"Akan kubunuh kau dengan kedua tanganku sendiri." Desis Sasuke penuh kebencian.
Walau harus jatuh terjerembab dalam jurang kegealapan sekali-pun Sasuke rela asalkan ia bisa menjadi kuat melampui sang kakak dan membunuh pria bersurai hitam panjang itu demi membalaskan dendam kedua orang tuannya juga clan Uchiha.
Selang beberapa jam setelah kepergian Sasuke, para polisi datang ke tempat kejadian dan menatap ngeri keadaan mayat serta kondisi rumah yang dipenuhi bercak darah. Tak ada satu-pun yang selamat dalam kejadian ini sama persis seperti kejadian yang menimpa salah satu pejabat Konona beberapa hari lalu.
JPRET
JPRET
Para Polisi bagian investigasi memotret setiap jenasah yang ada. Bahkan mereka harus mengambil potongan kepala dan menyatukannya dalam satu kantung jenasah agar bisa di identifikasi. Sungguh kejam dan sadis perbuatan mereka dan ini tidak bisa dibiarkan sama sekali.
Shikamaru serta Kakashi yang memang bertugas dibagian penyelidikan dibuat pusing dengan ulah para penjahat ini dan yang mereka pikir adalah perbuatan dari Akatsuki. Mengingat tak ada penjahat kelas kakap yang sesadis serta sekejam mereka.
"Gila, bahkan orang itu menebas gadis kecil tak berdosa sepertinya," Shikamaru menatap sedih jasad gadis berusia empat tahun yang kepalanya terpisah jauh dari tubuhnya.
Pria bersurai nanas ini merasa penasaran, orang berhati dingin seperti apa yang tega melakukannya. Shikamaru mengambil potongan kepala gadis itu lalu menyatukan kembali kepala gadis kecil itu dengan tubuhnya dan memasukkannya kedalam kantung jenasah.
"Semoga kau tenang di alam sana, adik kecil." Batin Shikamaru sedih.
Kedua tangan Shikamaru terlipat dua dan ia memanjatkan doa untuk para korban pembataian ini. Mengingat banyak orang tak berdosa yang ikut menjadi korban termasuk gadis malang ini.
Kejadian kali ini membuat pemerintah tidak tinggal diam dan akan membentuk tim khusus untuk menangkap pelaku pembunuhan kejam ini mengingat para korban pembunuhan memiliki hubungan juga keterikatan satu sama lain.
"Akan kutangkap dan jebloskan mereka selamanya kedalam penjara." Janji Shikamaru dalam hati.
oOoOoOoOoOo
Tumpukkan dokumen tebal berjejer rapih diatas meja kerjanya, lembar demi lembar laporan kasus dibacanya dengan teliti tanpa terlewat satu-pun. Dan sudah hampir lima jam pemuda berambut nanas ini duduk dimejanya membaca semua file kasus mengenai Akatsuki, yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan oelah berbagai pihak karena sederet kasus pembunuhan sadis dari kalangan pejabat pemerintah serta para pengusaha kaya.
Namun pemuda bernama lengkap Shikamaru Nara ini meyakini kalau dalang dari pembunuhan berantai belakangan yang terjadi bukanlah dari Akatsuki mengingat tak ada satu-pun jejak yang tertinggal setiap kali mereka melakukan tugasnya dan mereka bekerja sangat rapih tidak seperti kasus pembunuhan yang terjadi saat ini.
Sesekali Shikamaru memijit pangkal hidungnya merileksasikan kedua matanya yang terasa pegal dan perih karena terus membaca, "Sampai saat ini aku belum bisa menemukan satu petunjuk-pun,"
Shikamaru hampir merasa frustasi karena tidak bisa menemukan bukti dan petunjuk mengenai organisasi Akatsuki dan bagaimana rupa serta wajah mereka mengingat mereka selalu memakai topeng diwajah mereka dan belum bisa terpecahkan sampai saat ini.
"Haah~~" helanya cepat.
"Ternyata mereka bukan penjahat biasa," ujarnya seraya menengadahkan kepalanya keatas menatap lampu gantung yag menjadi penerang ruang kerjanya.
CKELEK
Pintu ruang kerjanya terbuka dan seorang pria bersurai putih dengan masker diwajahnya menyembul masuk kedalam, "Kau belum pulang Shikamaru?" tanya pria bernama Kakashi Hatake ini.
"Masih banyak dokumen dan file kasus yang harus aku baca juga selidiki," jawab Shikamaru tanpa menoleh atau-pun menatap Kakashi sama sekali.
Dari balik maskernya Kakashi tersenyum kecil "Kau persis seperti ayahmu," celetuk Kakashi yang tanpa sadar membuat raut wajah Shikamaru berubah sesaat menjadi sendu.
Merasa salah ucap Kakashi buru-buru meminta maaf namuan pemuda ini menanggapinya dengan santai, "Kau tidak usah bersikap seperti itu lagi pula kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku," Shikamaru memandang sendu sebuah figura foto dirinya bersama sang ayah ketika masih duduk dibangku sekolah dasar, "Bagiku, ayah mati secara terhormat dan keren karena mati saat sedang bertugas," ucapnya penuh kebanggaan walaupun tak dapat dipungkiri pandangan matanya menyimpan kesedihan yang cukup mendalam.
PUK
Kakashi menepuk pelan pundak Shikamaru, "Ayahmu adalah orang yang hebat dan aku sangat mengagumi serta menghormatinya,"
"Terima kasih," ucap Shikamaru.
"Ngomong-ngomong besok ada anak baru di divisi ini," ujar Kakashi tiba-tiba seraya duduk didepan meja Shikamaru.
Shikamaru menyeringitkan dahinya, "Anak baru?" tanyanya pada Kakashi.
"Ya, anak baru dan kudengar kalau ia adalah anak dari kepala kepolisian kota Tokyo," jawab Kakashi seraya melipat kedua tangannya didada.
"Apa yang kau maksud adalah Naruto Uzumaki? Si pemuda berandalan waktu itu yang kau tangkap karena ikut perkelahian antar sekolah," ujar Shikamaru mengingatkan kejadian lima tahun yang lalu ketika dirinya dan Kakashi baru bertugas dikepolisian.
"Begitulah," sahutnya santai.
Shikamaru mendesah cepat, "Merepotkan sekali," keluhnya karena kedatangan orang yang tak berguna menurut Shikamaru.
Kakashi melirik tumpukkan dokumen didepannya lalu mengambilnya, "Apa kau sedang menyelidiki Akatsuki?"
"Begitulah, aku penasaran dan ingin membongkar siapa mereka sebenarnya mengingat mereka selalu melakukan pekerjaan mengenakan topeng," Shikamaru kembali membaca file kasus.
"Menangkap mereka bukanlah hal mudah dan membongkor identitas mereka juga pekerjaan yang sulit," ucap Kakashi yang merasa sangsi.
"Tapi bukankah itu tugas kita sebagai seorang polisi," sambung Shikamaru santai.
Kakashi tersenyum kecil dibalik maskernya dan setuju dengan pendapat pemuda bersurai nanas itu. Shikamaru melanjutkan kembali pekerjaannya dengan ditemani Kakashi menyelidiki Akatsuki serta kasus pembunuhan seorang pejabat Konoha yang saat ini mereka tangani kasusnya. Shikmaru tidak pernah mengira dan menyangka kalau akan ada orang sekejam dan sesadis itu membantai seluruh keluarga bahkan binatang peliharaan-pun tak ada satu-pun dibiarkan hidup menandakan kalau orang-orang itu berhati dingin bak iblis.
Bagaiama-pun Shikamaru harus menangkap mereka dan membongkar identitas mereka sebenarnya karena bagaimana-pun ia memiliki dendam tersendiri dengan Akatsuki mengingat ayah meninggal ketika melakukan tugas penangkapan mereka di kota bawah tanah yang merupakan tempat tinggal serta kota mereka dan pihak kepolisia tak bisa berbuat apapun untuk menangkap mereka karena tuduhan pembunuhan ayahnya, mengingat tak ada satu-pun hukum yang mampu menjerat Akatsuki sebab hukum tidak berlaku pada kejahatan jenis apapun termasuk pembunuhan.
"Huaaammm..." Shikamaru menguap lebar hingga diujung matanya keluar setitik air mata, "Jam berapa sekarang?" tanya Shikmaru disela-sela membaca file ditangannya.
"Jam satu pagi," jawab Kakashi cepat.
"Mau menemaniku minum," ajak Shikamaru tiba-tiba.
Kakashi terdiam dan bengong mendengarnya karena tak biasanya pemuda berambut nanas itu mengajaknya minum disaat tengah bekerja, "Kenapa diam saja, apa kau tak mau menemaniku," ujar Shikamaru dengan suara agak keras.
SREEKK
Kakashi beranjak bangun dari kursinya, "Baiklah tapi kau yang traktir,"
"Itu masalah mudah, ayo kita pergi karena aku butuh merileksasikan pikiran dan otakku sejenak," ujar Shikamaru seraya melengang keluar dari ruangannya, Kakashi berjalan disamping mengikutinya.
Mereka berdua berencana untuk minum dan santai di kedai langganan Kakashi. Biasanya untuk urusan minum minuman berakolhol, Shikamaru sendiri lebih menyukai sake daripada beer, whiske, champage atau-pun wine, bagi pria berambut nanas ini arak Jepang-lah yang terbaik dan memiliki cita rasa tersendiri menurutnya walaupun tak jarang Shikamaru juga menikmati minuman beralkohol selain sake diwaktu tertentu.
X0X0X0X0X0X0X0X
Hari ini tidak ada tugas yang diberikan Pein untuk para anggota Akatsuki, namun hal ini tak lantas membuat para anggota penjahat kelas S itu untuk bermalas-malasan dan tak memiliki pekerjaan. Pein selaku ketua Akatsuki meminta semua teman-temannya untuk melihat, menonton dan memantau perkembangan Hinata ketika berlatih tanding diruang latihan bersama Konan. Hal hasil saat ini seluruh anggota Akatsuki minus Pein dan Nagato tidak ada diruangan ini.
Deidara berdiri menyender di tembok seraya menatap malas dan tak berminat melihat tontonan didepannya, sudah hampir satu jam ia berdiri bosan serta jenuh di tempat ini bersama teman-teman Akatsukinya. Lain hal dengan Tobi yang terlihat bersemangat meneriaki Hinata serta Konan bak seorang cheerleader, karena terus saja berteriak tiada henti serta lelah.
"Huaammm..." Deidara menguap lebar bahkan setetes air mata keluar dari ujung matanya karena bosan.
"Kau mengantuk, senior Deidara?" tanya Tobi pria bertopeng yang berdiri disebelah Deidara.
"Tidak," jawab Deidara keras mencoba mengelak kenyataan kalau saat ini dirinya memang tengah mengantuk.
"Apakah kau tahu senior Deidara kalau Tuhan sangat benci pada orang yang suka berbohong dan tidak jujur," ujar Tobi mencoba memberikan ceramah pada Deidara yang malah membuat pria bersurai kuning ini sebal.
BETT
Deidara langsung mencekik leher Tobi dengan salah satu tangannya, "Apa kau mencoba menceramahiku,"
"Kyaaa...ampun senior," ronta Tobi memohon pada Deidara.
"Tidak akan." Teriak Deidara kesal.
Hidan mendecih kesal dan sebal melihat kelakuan mereka berdua yang selalu bertengkar dan tak pernah bisa melihat keadaan serta waktu, "Hey, Sasori hentikanlah mereka berdua," keluh Hidan karena merasa terganggu.
"Biarkan saja, kalau lelah mereka akan diam," sahut Sasori cuek.
"Ck! Kau memang menyebalkan Sasori," seru Hidan.
"Aku tidak peduli," balas Sasori datar dan pandangan matanya masih fokus menatap adegan perkelahian didepannya yang sedikit menarik untuknya.
"Dasar pria boneka berhati dingin," sindir Hidan meluapkan perasaan kesalnya.
SIIINGGG!
Sasori melirik tajam pada Hidan, "Apa yang kau katakan tadi, Hidan," diambilnya pisau belati yang sudah dilumuri racun dari balik bajunya.
Wajah Hidan berubah sangar dan balik menatap Sasori, "Aku bilang kau adalah pria boneka berhati dingin," Hidan mengulangi kata-katanya namun kali ini dengan nada tinggi.
WHUSSSS~~
Suasana dingin dan mencekam langsung terasa dari keduanya. Hidan sudah bersiap menyerang Sasori begitu pula sebaliknya, tak ada satu-pun dari anggota Akatsuki lainnya mencoba menghentikan dan melerai perkelahian mereka berdua juga pertengkaran Deidara dan Tobi.
"Terimalah hukuman dari dewa Jashin, ma..."
TAP
"Hentikan!" teriak Pein lantang.
Seketika mereka berempat diam menghentikan aksi mereka. Deidara langsung melepaskan cengkeramannya pada Tobi dan Sasori juga Hidan dengan cepat menyembunyikan senjata mereka masing-masing.
"Ke-ketua..." ucap Tobi takut.
Pandangan mata Pein terlihat dingin dan menusuk, "Aku menyuruh kalian untuk melihat dan memantau perkembangan Hinata saat melawan Konan. Tapi, kenapa kalian berkelahi satu sama lain?" tanya Pein ketus.
SRINGGG
Pein mengeluarkan pedang hitamnya, "Apa kalian ingin aku tebas menjadi dua," ancam Pein dingin.
Tobi gemetar ketakutan dan berdiri dibelang Hidan mencari perlindungan, "Yang memulai duluan adalah senior Deidara, ketua," tunjuk Tobi pada Deidara.
"Hey, kau!" teriak Deidara protes tak terima tuduhan Tobi.
"Diamlah! Aku tidak butuh alasan dan penjelasan dari kalian semua. Sekarang berdiri dan pandangi Hinata belatih jika tak ingin pedang milikku menembus jantung kalian berempat," ancam Pein dingin.
Glek!
Deidara menelan ludahnya susah payah dan mau tak mau menuruti perintah dari Pein.
"Ba-baik ketua." Sahut mereka bersamaan.
Pein memasukkan kembali pedanganya dan pandangan matanya fokus melihat Hinata dan Konan ditengah ruangan tengah beradu pedang satu sama lain.
"Perlihatkan padaku, Hime sekuat apa dan sejauh apa kau telah berkembang." Pikir Pein.
Bau anyir darah tercium jelas dari ruang latihan, bercak-bercak darah terlihat disekitar tempat latihan yang berlapiskan kayu kualitas terbaik. Deru nafas kesakitan serta kelelahan terdengar dari dua orang gadis berbeda warna rambut serta tinggi badan. Masing-masing dari mereka berdua memegang sebilah pedang panjang yang sudah terkena bercak darah hasil pertarungan maut keduanya.
Sriinggg!
Wanita cantik bersurai biru pendek dengan hiasan bunga mawar kepalanya, mengangkat tinggi pedangnya seraya memasang kuda-kuda untuk menyerang, "Bersiaplah, Hinata. Jika kau tidak berkonsetrasi kau akan terbunuh," ancamnya tanpa main-main.
DRAAPP
DRAAPP
"Hiyaaaa!" Konan menyerang Hinata tanpa ampun.
TRANGGG
TRANGGG
Hinata menangkis serangan dari Konan semampunya. Sekujur tubuh Hinata sudah dipenuhi luka lebam dan sayatan pedang hasil latihan bersama Konan, walaupun saat ini mereka sedang berlatih tapi bagi Hinata ini bukanlah latihan karena nyawanya sendiri menjadi taruhannya dan jika saja ia tidak berkonsentrasi penuh melawan serta menghindari serangan dari Konan bisa-bisa nyawanya akan melayangan. Untung saja dulu Hinata pernah diajarkan memainkan pedang oleh sang ayah, sehingga ia bisa memiliki dasar bagaimana cara memainkan pedang dengan baik.
"Jangan terus menangkis dan menghindari seranganku! Lawan dan serang aku dengan semua kemampuanmu," teriak Konan.
"Ekh..." Hinata masih menangkis serangan Konan.
"Jika kau tidak bisa mengalahkanku, maka kau tidak mampu membunuh Neji dan bermimpi saja untuk bisa membunuhnya," cemooh Konan mencoba membuat Hinata marah.
BUUGH!
Satu pukulan mendarat diperut ramping Hinata dan tubuhnya terhuyung kebelakang.
"Aaghhh..." rintih Hinata.
DUAK!
Dada Hinata terkena tendangan keras dari Konan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai kayu ruang latihan.
BRUUKKK!
Seluruh tubuh Hinata terasa sakit, ngilu juga perih karena luka yang diterimanya selama berlatih dengan Konan.
"Bangun Hinata! Jangan lemah, luka yang kau alami tidak seberapa," teriak Konan lantang.
Dengan susah payah Hinata mencoba bangun dan melawan Konan kembali.
"Hiyaaaa..." Hinata berlari menyerang Konan tapi dengan mudahnya Konan menangkis dan menahan serangan dari Hinata yang dianggapnya lemah tak bertenaga sama sekali.
"Lemah, lemah, lemah. Keluarkan tenaga dan kekuatanmu Hinata," teriak Konan.
Tes
Tes
Tes
Bulir-bulir air mata mengalir deras dari iris bulannya, tak hanya luka fisik yang dirasakannya tapi hatinya juga terasa sakit.
"Jangan menangis, air matamu tidak menyelesaikan apapun. Berdiri lawan aku lagi, jika kau lemah seperti ini bagaimana bisa kau membalaskan dendam pada Neji. Jadi berdiri Hinata lawan aku dengan sekuat tenagamu," Konan memandang remeh Hinata.
Sruukk!
"Enghh..."Hinata bangkit dari posisinya dengan susah payah, pandangan matanya terlihat dingin dan dipenuhi perasaan benci.
Konan tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Hinata yang seperti itu berarti dia sudah terpancing perkataannya.
DRAAPPP
Hinata berlari menerjang ke arah konan.
TRANGG
TRANGG
Konan menangkis serangan dari Hinata dan membalas balik dengan memukul perut Hinata.
BAKK
"Agh!" Hinata mengelap ujung bibirnya yang mengerluarkan darah segar.
"Maju Hinata, lawan dan serang aku lagi,"
"Hyaaaa..." Hinata mencoba menyerang kembali Konan dan kali ini dia berhasil memukul perut wanita cnatik bersurai biru pendek itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Pein masih dengan posisinya berdiri gagah dan memandang diam tak berekspersi sama sekali melihat keadaan Hinata, lain hal dengan Tobi yang sedikit agak ngeri melihatnya terlebih darah segar mengalir dari luka ditubuh Hinata.
"Ketua, kenapa kau tidak menghentikannya. Bisa-bisa nanti ia mati terbunuh oleh Konan," ujar Tobi.
"Jika memang ia mati dalam pertarungan ini, itu berarti ia memang lemah dan tak berguna. Jika Hinata ingin membalaskan dendamnya, ia harus menjadi wanita yang kuat," sahut Pein dingin.
Walaupun ekspresi wajah Pein terlihat datar dan biasa saja namun jauh didalam lubuk hatinya ia berharap Hinata mampu melawan Konan.
DUAGHH
BRUUKK
"Haah~Haahh~Haah..." Nafas Hinata terengah-engah.
Konan tersenyum lebar menatap Hinata, "Kerja bagus Hinata, gerakan dan pukulannya semakin bagus,"
"Te-terima..."
BRUK
Hinata jatuh pingsan di hadapan Konan setelah berlatih selama hampir empat jam ditambah hampir seluruh tubuhnya luka terkena pukulan, tendangan, tonjokkan bahkan sebetan pedang dari Konan.
GYUT~~
Pein langsung meraih tubuh Hinata dan menggendongnya ala bridal style, "Kalian semua boleh pergi," ujarnya datar kemudian membawa tubuh Hinata keluar dari ruang latihan.
Semua orang diam dan tak bisa berkata apa-apa melihatnya apalagi melarang sang ketua menggendong Hinata. Dan seulas senyuman tipis menghiasi wajah cantik Konan karena sedikit demi sedikit ia bisa melihat sisi lembut dari Pein dan dalam hati wanita cantik bersurai biru ini berharap kalau Hinata bisa membuat Pein kembali menjadi seperti Yahiko yang dulu dikenalnya.
oOoOoOoOoOo
Tes
Tes
Tes
Rintik-rintik hujan turun membasahi kota bawah tanah di malam hari namun hal ini tak membuat surut minat orang-orang untuk datang ke kota yang dijuluki Neraka oleh sebagaian masyarakat karena berbahaya kota ini terlebih jika dimalam hari. Walaupun disebut kota Neraka namun banyak dari kalangan atas, orang-orang kaya, pejabat bahkan para bangsawan datang ke kota bawah tanah.
Itu terlihat jelas dari mobil-mobil mewah berjejer rapih didepan kasino, bar, rumah bordil dan Okiya atau bisa disebut rumah para Geisha. Tidak sedikit orang-orang kaya bahkan kalangan jetset datang ke rumah bordil atau Okiya untuk menikmati tubuh para gadis penghibur di tempat ini. Dan yang menjadi primadona di kota bawah tanah adalah Okiya milik Tsunade mantan seorang Geisha nomor satu di zamannya sedangkan rumah bordil yang paling terkenal milik Jirayai dimana Pein membeli Hinata disana seharga lima puluh juta.
Kini setelah di beli oleh Pein, Hinata tinggal di kediaman mewahnya yang merupakan markas besar Akatsuki sekaligus menjadi boneka hidup bagi pria bersurai jingg itu demi membantunya membalaskan dendam pada Neji, orang yang sudah membunuh keluarganya serta melukai sang adik, Hanabi.
"Ngh..." lenguh Hinata dalam tidurnya.
Wanita cantik bersurai indigo ini menggeliyat tak nyaman diatas kasur tak kala jari panjang milik Pein mengoleskan balsam khusus yang buatasn Sasori ke tubuh Hinata yang terluka serta biru lebam akibat pertarungannya tadi bersama Konan.
"Akh..." rintih Hinata saat Pein mengoleskan balsam ke dada Hinata yang terkena sabetan pedang dari Konan.
Perlahan-lahan Hinata membuka kedua matanya dan memperlihatkan kedua iris bulannya. Hal pertama yang dilihat Hinata adalah sosok Pein yang berada dekat dengannya, "P-Pe-Pein-sama..." panggilnya parau dan takut.
"Kau sudah bangun," ucapnya datar.
"A-apa ya.."
"Ssst...Diamlah, aku sedang mengobatimu," sela Pein melanjutkan kembali mengoleskan balsam khusus yang dibuat Sasori ketubuh Hinata.
"A-akhh..." rintih Hinata pelan.
"Tahanlah rasa sakitnya, karena ini tidak seberapa,"
Hinata menggigit bibir bawahnya kuat menahan rasa sakit ditubuhnya. Pein mengolesi balsam keseluruh tubuh Hinata yang terluka dan perlahan-lahan luka sayatan ditubuh Hinata menutup dan biru lebam diwajah, tangannya hilang. Sulit dipercaya oleh Hinata namun kini tubuhnya tak terasa sakit lagi bahkan lukanya sudah sembuh semua. Entah obat apa yang diberikan Pein namun ini sangat mujarab.
"Obat apa yang anda oleskan padaku, Pein-sama?" tanya Hinata bingung dan penasaran.
"Ini adalah balsam khusus yang dibuat oleh Sasori dengan mencampurkan sedikit darah dari Zetsu serta Hidan, karena mereka berdua memiliki regenerasi tubuh sangat cepat melebihi manusia normal juga beberapa tanaman herbal berkhasiat kedalamnya. Kami para Akatsuki selalu memakai balsam ini jika terluka," jawab Pein datar.
Wajah Hinata sedikit syok mendengarnya karena ternyata balsam yang dioleskan ketubuhnya ada campuran darah dari ke dua pria paling anah di Akatsuki. Pantas saja jika obat ini baru dilihatnya karena memakai bahan aneh serta khusus yang tak bisa didapatkan dimana-pun.
"Terima kasih karena su..."
Perkataan Hinata terhenti tak kala bibir Pein menciumnya kasar serta dalam, "Hmphhh..." erang Hinata.
Pein menjilat bibir bawah Hinata meminta wanita cantik bersurai indigo itu membuka mulutnya dan Hinata menurutinya.
"Nghh..." lenguh Hinata pelan tak kala Pein memasukkan lidahnya kedalam mulut Hinata dan mulai menjelajah didalamnya.
Setelah mencium panas dan penuh gairah, Pein melepaskan pagutannya bahkan benang tipis saliva terlihat di bibir Hinata.
"Haahh~~" Hinata terlihat terngah-engah karena hampir kehabisan nafas.
Pein mengusap bibir Hinata lembut, "Apakah tubuhmu masih terasa sakit?" tanyanya.
"Ti-tidak," jawab Hinata takut.
Pein memajukan wajahnya menatap intens wanita cantik bermata bulan ini, "Aku ingin kau melakukan tugasmu padaku," ucap Pein dengan kedua mata berkilat penuh gairah.
Tubuh Hinata kaku dan menegang mendengarnya tapi dirinya sudah menyerahkan tubuh serta jiwanya untuk Pein demi membantunya membalaskan dendam pada Neji.
"Ta-tapi a-aku..."
"Apa?" selanya dingin.
"A-aku la-lapar..." cicitnya.
Pein langsung beranjak bangun dan keluar dari kamar meninggalkan Hinata tanpa berkata sepatah kata-pun membuat gadis bermata bulan ini bengong melihatnya.
"Haah~~" Hinata mendesah cepat.
Nyut~
Kepalanya terasa sedikit sakit dan berdenyut-denyut. Direbahkan tubuhnya disandaran ranjang, tubuhnya terasa pegal dan sepertinya berendam di air panas atau di pijat oleh para pelayan akan membuat tubuhnya enak dan rileks.
Pikiran Hinata tiba-tiba melayang memikirkan sang adik, sudah dua minggu berlalu sejak dirinya tinggal di kediaman Pein dan ia tidak tahu ada berita apa diluar sana mengingat tak sekali-pun Hinata keluar dari kamar mewah ini. Pein juga tak memberikannya fasilitas ponsel, komputer bahkan tak ada satu majalah yang bisa di bacanya untuk melihat berita di luar sana.
CKELEK
Pintu kamar terbuka dan Pein berjalan masuk dengan dibelakangnya beberapa pelayan membawakan makanan lezat yang menggugah selera. Diletakkannya meja kecil diatas ranjang dan satu persatu makanan dihidangkan oleh pelayan tak lupa segelas minuman susu jahe racikan Konan untuk diminum Hinata.
"I-ini?!"
"Makanlah, bukankah tadi kau bilang, lapar,"
"Tapi ini terlalu banyak dan perutku tak muat untuk menampung semuanya,"
Pein hanya menatap tajam Hinata, raut wajahnya terlihat dingin dan sebal mendengar perkataan Hinata. Mau tidak mau ia akan menghabiskannya walaupun harus muntah nantinya agar Pein tak marah, "Selamat makan," Hinata mulai memasukkan satu persatu potongan Yakiniku kedalam mulutnya.
Pein duduk diam menatap dan menemani Hinata makan tanpa berkomentar apapun terlebih membantu wanita bermahkota indigo untuk menghabiskan makanannya.
Tiga puluh menit kemudian.
Hinata sudah selesai menghabiskan makanannya dengan perut hampir meledak karena terlalu kenyang, "Terima kasih atas hidangannya," ucap Hinata dengan mulut penuh makanan.
Akhirnya semua makanan di mejanya bisa Hinata habiskan tanpa tersisa sedikit-pun. Hinata langsung membaringkan diri seraya mengusap-usap perutnya yang terasa sedikit gendut.
Para pelayan datang setelah dipanggil Pein untuk membereskan peralatan makan Hinata.
"Apa kau sudah kenyang dan memiliki tenaga?" tanyanya dengan penuh maksud.
"Ya," Hinata mengangukkan kepalanya.
"Kalau begitu, kau bisa melakukan tugasmu padaku,"
Glek!
Hinata menelan ludahnya susah payah. Baru juga ia makan dan perutnya masih terasa kenyang serta kembung, kini pria bersurai jingga ini mengajaknya untuk berolahraga di kasur. Bisa-bisa Hinata muntah saat tubuhnya diguncang serta di hujam dalam oleh Pein. Tapi menolak keinginan serta perintah dari Pein, sama saja bunuh diri mengingat kini Hinata adalah boneka Pein dan rela melakukan apapun deminya.
"Baik, Pein-sama," sahut Hinata.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Pein langsung melumat bibir Hinata kasar dan dalam hingga membuat wanita cantik ini hampir kehilangan nafas. Yukata tidur milik Hinata sudah lepas dari tubuhya, lidah Pein bergerliya ditubuh polosnya.
Erangan dan desahan terdengar dari mulut Hinata tak kala bibir serta tangan Pein menjamah tubuhnya dari atas sampai bawah membuat Hinata hampir gila karena merasakan sensai aneh dalam tubuhnya. Pein benar-benar bisa membuat Hinata merasa bak terbang kelangit ketujuh dan menjadi wanita seutuhnya.
"Aaghhh..." lenguh Hinata panjang tak kala mencapai puncak organesmnya untuk kesekian kalinya.
Tubuh Hinata sudah lelah juga lemas tapi tidak untuk pria bersurai orange yang berada diatasnya masih terus menghujam dalam bagian tubuh bawahnya, "Lihat mataku, Hinata," Pein memegangi dagu Hinata.
Iris bulannya menatap sayu Pein tanpa sadar Hinata merentangkan kedua tangannya lalu memeluk erat Pein.
Cup'
Pein menciumnya dalam juga liar, "Hmphhh..."
"Akh...Pe-Pein-sama..." desahnya dengan mata sayu karena memang dirinya sudah lelah dengan permainan panas dari pria bersurai orange ini.
Pein semakin mempercepat gerakkannya dan tak lama Pein mencapai puncaknya. Pria bertindik ini menyemburkan benihnya kedalam rahim Hinata dan perutnya terasa hangat.
Hinata benar-benar lelah dan tak sanggup lagi membuka kedua matanya, bahkan ketika Pein masih mencium bibirnya lembut Hinata tak bergeming karena kini rasa kantuk menderanya. Pein menyelimuti tubuh polos Hinata dengan selimut, di rapihkan poni Hinata lalu dikecupnya pelan kening Hinata, "Tidurlah yang nyenyak, Hime,"
Pein beranjak turun dari ranjang lalu meraih pakaiannya yang dilemparnya sembarangan lalu memakai jubah hitam berlambang awan merah ciri khas dari Akatsuki. Lagi-lagi Pein meninggalkan Hinata setelah bergelut panas dengannya diatas ranjang.
oOoOoOoOoOo
Hinata menatap masam dirinya, seluruh tubuhnya terasa pegal juga sakit. Diraihnya selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan dipenuhi bercak merah hasil karya Pein. Satu tempat yang ingin dituju Hinata adalah kamar mandi untuk membersihkan diri yang terasa lengket serta bau.
Hinata memilih mandi dibawah guyuran shower, disaat Hinata tengah asik membersihkan diri tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka membuat Hinata kaget serta takut.
"Si-siapa itu?!" tanya Hinata dengan setengah berteriak.
"Aku, Pein," sahut Pein dingin seraya memasukkan tubuhnya kedalam bathtub yang berisiskan bunga mawar merah.
Hinata buru-buru memakai handuk untuk menutupi tubuhnya karena malu, "Kenapa kau memakainya, bukankah aku sudah melihatmu telanjang," ucap Pein frontal membuat wajah Hinata merah padam.
"Kemarilah temani aku berendam," perintah Pein.
Hinata masih berdiri dibawah guyuran shower, seakan enggan untuk mendekat lebih tepatnya takut sekaligus malu, "Apa perlu aku menyeretmu masuk kesini," ancam Pein dingin.
"Ti-tidak..." Hinata melangkahkan kakinya lalu masuk kedalam bathtub.
Hinata menundukkan wajahnya malu menatap Pein dan kedua lengannya ia taruh diatas dadanya menutupinya, "Mendekatlah padaku,"
"Hah?!" seru Hinata bingung.
"Apa perlu aku mengulanginya?" tanya Pein dengan nada sedikit mengancam.
Hinata langsung maju dan mendekat pada Pein.
GRAP
BYURR
Pein menarik tangan Hinata sehingga jatuh tepat didadanya, "Pe-Pein-sama."
Pein melingkarkan tangannya kebahu Hinata sedangkan Hinata menyadarkan kepalanya ke dada bidang Pein, mereka berdua terlihat intim juga dekat sekali. Tak ada kata atau pembicaraan dari keduanya, hanya ada keheningan sampai Hinata membuka suara.
"Pein-sama," panggilnya.
Pein menatap Hinata datar dan Hinata mendongakkan wajahnya, "Bo-bo-bolehkah a-aku me-menjenguk adikku," ucapnya penuh ketakutan.
Pria bermata rinengan ini diam dan masih menatap Hinata namun kali ini tajam serta menusuk, "Tidak," tolaknya tegas.
Hinata langsung menundukkan wajahnya sendu, ia tidak bisa berkata apa-apa terlebih melawan perkataan Pein itu sama saja menggali kuburannya sendiri. Mengerti akan raut wajah Hinata yang berubah, "Tapi aku akan meminta Zetsu dan Kakuzu untuk mencarikan informasi serta perkembangan Hanabi untukmu," ucap Pein.
Wajah Hinata langsung berseri, "Terima kasih Pein-sama, anda ba..."
"Jangan pernah mengatakan aku orang baik," sela Pein dingin.
Hinata diam dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena merasa salah berbicara.
Set
Pein memegangi dagu Hinata dan meminta gadis bermata seindah bulan itu untuk menatapnya, "Jika aku orang baik, tak mungkin aku menjerumuskanmu ke dalam lingkaran hitam ini," padangan matanya terlihat tajam.
Hinata takut akan sorot mata Pein yang begitu dingin dan dipenuhi rasa benci entah itu ditunjukkan padanya atau bukan, "Kau adalah boneka dan alat bagiku," desisnya.
Air mata sudah menganak sungai di kedua mata bulanya. Perkataan Pein sungguh kejam dan tak berperasaan sama sekali, Hinata berpikir kalau pria bersurai jingga ini masih memiliki sifat baik dan sisi kemanusiannya, ternyata ia salah besar.
Tes
Tanpa sadar liquid bening menetes dari kedua matanya.
Srup
Pein menjilati air mata Hinata, "Jangan pernah menangis atau meneteskan air mata didepanku karena aku benci melihatnya,"
Hinata menggigit bibir bawahnya kuat, berusaha menahan agar suara isak tangisnya tak keluar dari bibirnya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pelan dari depan pintu kamar mandi.
"Siapa?" tanya Pein dingin karena ke senangannya tergangu.
"Ini, aku Konan," jawab Konan tepat didepan pintu.
"Ada apa, Konan? Tak tahukan kalau kini aku sedang bersantai," teriak Pein lantang.
"Maafkan aku mengganggumu, tapi ini sudah waktunya. Kita harus pergi ke Tokyo," sahut Konan dengan suara lembut dan tenang.
Pein langsung melepaskan cengkeramannya pada Hinata lalu meraih selembar handuk kecil putih yang tersampir di samping bathtub kemudian dililitkannya di pinggang.
CKELEK
"Aku akan berganti pakaian, kau bisa menungguku diluar," ujar Pein datar didepan pintu kamar mandi.
Konan sedikit melirikkan matanya melihat kedalam dan menemukan Hinata tengah berada didalam bak mandi, dan ia tahu juga mengerti apa yang sedang dilakukan Pein tadi bersama Hinata tentunya didalam kamar mandi.
"Apa yang kau lihat Konan," Pein melirik tajam pada sahabatnya itu.
Konan terlonjak kaget karena ketahuan mencuri pandang melihat Hinata, "Ma-maafkan aku. Baiklah, aku akan menunggumu diluar,"
Tak lama Konan keluar dari kamar Hinata-pun keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk kecil putih yang menutupi sedikit bagian tubuhnya saja.
DRAP
DRAP
Hinata berjalan cepat menuju lemari pakaian untuk segera memakai Yukata-nya mengingat saat ini ada Pein juga didalam kamar tengah berganti pakaian. Wajah Hinata merah padam dan terus menutup kedua matanya karena malu pada Pein yang terlihat santai serta biasa saja berganti pakaian di depan Hinata.
"Aku akan pergi ke Tokyo karena ada pekerjaan yang harus aku urus," Pein telah berganti pakaian mengenakan Tuxedo hitam membuatnya terlihat berbeda juga tampan.
Hinata sudah memakai Yukata tidurnya dan menatap kagum serta bingung pada penampilan Pein yang bisa dibilang tak biasa, "Apakah anda ingin pergi ke pesta,"
"Ya dan selama aku pergi tetaplah berada didalam kamar jangan pergi kemana-pun, apalagi melangkah kan kakimu keluar dari mansion ini jika masih ingin hidup," ujar Pein seraya memakai dasi kupu-kupu merah di kemejanya.
"Aku mengerti, Pein-sama." Sahut Hinata patuh.
Setelah selesai berdandan serta merubah penampilannya, Pein keluar dari kamar meninggalkan Hinata yang duduk diam dipinggir ranjang menatap datar lantai kamar.
BLAMM
Pein menutup cepat pintu kamar pribadinya dan pergi bersama dengan Deidara serta beberapa anak buahnya. Pria bersurai jingga ini meminta Konan, Itachi serta Kakuzu tetap berada di mansion untuk menjaga serta mengawasi Hinata takut kalau wanita berusirai indigo itu berniat melarikan diri walaupun tak mungkin terjadi mengingat Hinata sudah memberikan jiwa dan raganya untuk Pein, demi bisa membalaskan dendam pada Neji yang merupakan musuh Akatsuki juga.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui mungkin itu yang sedang dialami oleh Pein mengingat ia bisa memiliki Hinata selamanya dan menjadikannya alat demi bisa membalaskan dendam pada Neji serta menghancurkan Danzo. Walaupun apa yang dilakukan oleh pria bertindik ini terlihat kejam dan tak berperasaan tapi jau didalam lubuk hatinya ada sedikit tempat untuk Hinata, cinta pertamanya serta penyelamat jiwanya. Walaupun saat ini yang terpenting dan tujuan utama dalam hidup Pein adalah melenyapkan Danzo beserta dan anak buahnya untuk selamanya.
"Tunggu aku pak tua akan kuberikan kau kejutan yang tak terlupakan." Desis Pein.
TBC
A/N : Apakah masih ada yang menantikan Fic ini?!
Mohon maaf baru bisa melanjutkan Fic ini# Bungkuk badan dalam-dalam.
Sebenarnya kelanjutan Fic ini akan Inoue publish tahun depan tapi kebetulan ada waktu serta otak sedang encer karena kebanyakan makan ice cream*Abaikan.
Mohon maaf kalau kelanjutannya tidak sesuai harapan serta keinginan. Maklum imajininasi saya hanya segini dan saya ngebut ngetik Fic ini mengingat ini lebih dari 5000 kata biar kalian semua puas membacanya. Untuk kelanjutannya saya akan meneruskannya di Tahun Depan berbarengan dengan Fic yang lainnya.
Akan Inoue usahakan untuk menamatkan semua Fic di Tahun Depan mengingat begitu banyaknya hutang Fic dan beberapa Fic terbengkalai karena macet otak serta ide juga jarang memiliki waktu luang. Tapi saya akan tetap bertanggung jawab dengan menyelesaikannya walaupun butuh waktu cukup lama dan selalu membuat kalian semua menunggu.
Big Thank's : bebek kuning, ookami-yan, geminisayanksayank , namika ashara, sushimakipark, Mell Hinaga Kuran, Virgo Shaka Mia, tiasiambaton, re, anitaindah777, yuu zari-himeChan, Yuki Ryota, biruvioolet, Natsumidouri, yama-yuri, nelli is my name, Riya-Hime, Hanayuki no Hime, Ade854, flo, hatake desya, Angel821, permatadian, chocolatemonsters, Cassy Dy Hime, SaSuke-chan, ROMEO, Putri, suci murni.
Makasih atas Riviewnya dan maaf ga bisa balas Riview kalian satu persatu dikarenakan keterbatasan waktu.
Inoue mengucapkan banyak terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini apalagi bersedia memberikan Riviewnya^^.
Inoue Kazeka.
