Hai! Saya Aleunaf kembaliiii!
Setelah melawati ujian yang begitu berat akhirnya saya bisa melanjutkan fic ini *lebai
Makasih ya yang udah mau review! (peluk cium readers)
Ok deh mendingan kita mulai aja ya!
Tsumugi's Boyfriend?
Disclaimer : K-ON pastinya bukan bikinan saya…
Chapter 4
Turn into Happy People
Keesokan harinya Rima langsung mengajak Leunaf untuk berangkat menuju ke tempat yang dijanjikan oleh Rima. Sesampainya di tempat itu Leunaf langsung terkesima, karena yang telah dilihatnya adalah sebuah rumah megah.
"Hei Leu..ini adalah rumah Tsumugi."
Mendengar itu wajah Leunaf kembali pucat.
"Fuuh...aku ingin kau meminta maaf atas apa yang terjadi Leu. Aku malu sekali punya kakak seperti kau. Bagaimana? Mau kan minta maaf? Ayo kita masuk!"
Dengan wajah pucatnya Leunaf menggeleng.
"Hei Leu! Kau ini bagaimana sih! Harusnya kau kaan bertanggung jawab!"
"Bukan itu maksudku bodoh! Aku bukannya tidak mau minta maaf! Tapi aku tidak mau masuk ke rumah itu!"
"Hah? Memangnya kenapa?"
"Untuk apa masuk ke rumah itu kalau pemiliknya sedang berada di luar?"
Rima melihat ke arah gerbang rumah Tsumugi. Disitu dia dapat melihat Tsumugi yang sedang bersama seorang pria. Dan yang membuat Rima dan Leunaf menjadi kaget adalah, pria itu tiba-tiba memeluk Tsumugi. Lalu, yang lebih membuat hati Rima teriris adalah, ternyata pria yang memeluk Tsumugi adalah... Akira...
Rima dan Leunaf membanjiri jalan dengan air mata mereka.
-o0o-
"Leu... Akira memeluk Tsumugi tadi...huweee..."
"Ah! Diam kamu beruang cengeng! Kau pikir aku tidak sedih melihat Tsumugi yang dipeluk oleh temanku sendiri..?"
"Kok mereka bisa begitu ya..aku kecewa...aku cari cowok lain saja deh.."
"Hei hei..! kamu tidak boleh menyerah begitu saja! Aku juga tidak akan menyerah! Aku akan berusaha memisahkan mereka! MUAHAHHAAHHA!"
"Kau kelihatan jahat Leu...nyuu..tapi aku setuju dengan usulmu. Ayo kita pisahkan mereka! YEAH!"
"Oke! Ayo kita siapkan misi rahasia 'Adik dan Kakak yang keren'!"
"Ayoooo! Walaupun terkesan norak yang penting kita bisa memisahkan mereka! YEAH!"
TOS!
Rima dan Leunaf memeprsiapkan rencana jahat mereka semalaman. Entah setan apa yang merasuki pikiran dan hati mereka sehingga mereka mau memisahkan Akira dan Tsumugi, padahal belum tentu Akira dan Tsumugi adalah sepasang kekasih.
Keesokan harinya, Rima dan Leunaf memulai misi mereka...
Misi Pertama
Rima dan Leunaf berjanji untuk bertemu di semak-semak dekat rumah Tsumugi sepulang sekolah. Mereka membawa satu tas yang cukup besar berisi perlatan yang akan mereka pakai untuk akal licik mereka. Mereka tau Akira pasti akan datang mengunjungi Tsumugi. Mereka menunggu cukup lama di balik semak-semak tersebut. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, Akira datang menghampiri rumah Tsumugi. Akira berdiri cukup lama di depan gerbang rumah Tsumugi yang megah bagaikan istana itu dengan membawa satu keranjang buah-buahan dan setangkai bunga mawar kuning. Melihat Akira yang datang ke rumah Tsumugi tersebut, Leunaf langsung mengeluarkan peralatan canggihnya dari dalam tas..
Bedak, abu, wig putih dan juga baju lusuh. Kali ini yang menjalani misi adalah Rima. Leunaf mendandani Rima sehingga mirip dengan nenek-nenek yang lusuh. Setelah Rima selesai didandani dan selesai pula memakai wig dan baju lusuh Rima langsung berlari kecil ke arah Akira yang masih berdiri di depan gerbang rumah Tsumugi. Saat Rima semakin mendekat ke arah Akira, Rima melambatkan jalannya dan membungkukkan badannya sambil terbatuk-batuk.
"Anak muda...uhuk..uhuk..."
"Ah...nenek...ada yang bisa kubantu...? kelihatannya nenek butuh bantuan..."
"...begini anak muda..uhuk..nenek ingin membeli obat batuk...tapi, uhuk..nenek tidak punya uang..bisakah kau membantu nenek.."
"Umm...tentu saja nek. Ini. Ini sebagian uang jajanku. Pakailah nek, untuk membeli obat batuk."
"Uhuk...terimakasih ya nak..tapi..uhuk..nenek tidak tahu apotek berada. Lagipula mata nenek juga sudah mulai rabun..."
"O..begitu ya nek..sebentar aku letakan keranjang buah ini di depan pintu itu dulu. Sabar ya nek.."
Kebetulan gerbang rumah Tsumugi tidak terkunci dan Akira bisa menaruh kernjang buah itu di depan pintu Tsumugi. Saat Akira masih di dalam pekarangan itu, Rima menunjukan jempolnya ke arah Leunaf yang masih bersembunyi di semak-semak. Leunaf hanya bisa tersenyum kecil sambil menunjukan jempolnya juga.
Akhirnya Akira keluar dari pekarangan tersebut. Keranjang buah memang sudah ia letakkan di depan pintu rumah Tsumugi tapi, setangkai mawar masih ia bawa. Rima yang sedang menjadi nenek itu penasaran dan mulai bertanya kepada Akira.
"Nak..uhuk..kau tidak menaruh bunga itu bersama dengan keranjang..uhuk..buah..?"
"Haha..tidak nek..bunga ini bukan untuk temanku yang sedang sakit.."
"Lalu...uhuk..untuk siapa bunga itu nak..uhuk.."
"Ini untuk..haha! aku jadi malu menyebutkannya..ini untuk orang yang kusukai.."
"Uhuk..dasar..uhuk..anak muda jaman sekarang..uhuk..."
"Ah nenek bisa saja...aku jadi malu.. ayo nek kita ke apotek, nanti batuk nenek semakin parah.."
"Uhuk..baiklah nak..."
Saat berjalan menuju ke apotek, Akira terus memeluk bahu Rima yang sedang menyamar menjadi nenek. Otomatis muka Rima sempat memerah. Tapi, rasa malunya itu harus ia tahan agar penyamarannya tidak kacau.
Launaf yang masih dibalik semak-semak hanya bisa tersenyum melihat adiknya yang terlihat sukses menjalankan misinya. Leunaf memutuskan untuk kembali pulang, kakinya sudah pegel karena terus-terusan menunggu di situ.
Beralih ke Rima yang masih menyamar menjadi nenek. Setelah dibelikan obat batuk oleh Akira, Rima berterimakasih dan pergi meninggalkan Akira. Tentu saja masih dengan badan yang membungkuk dan juga tenggorokan yang sengaja terbatuk-batuk.
Setelah Akira cukup jauh dari Rima yang masih menjadi nenek, Rimapun mulai menegakkan badannya perlahan-lahan.
KRETEK!
"UKH! Tidak enak menjadi nenek, punggungku jadi pegal. Tapi apa boleh buat, ini demi mendapatkan cinta Akira. Hihih..maafkan aku ya Akira. Mungkin suatu saat aku akan memberitahumu tentang rencanaku ini.."
Saat sudah sore, Rima pulang ke tempat dimana ia dan Leunaf tinggal. Saat ia memasuki gerbang rumahnya dan mulai melangkah ke depan pintu rumah itu, ia melihat setangkai bunga mawar berwarna kuning tergeletak di depan pintu rumahnya itu. Rima terdiam sesaat sambil memandangi bunga itu. Rima seperti pernah melihat bunga itu. Lalu ia mengingat-ingat dimana ia pernah melihat bunga itu.
"AAAAHHH! Bunga ini kann?"
Tiba-tiba Leunaf membuka pintu.
"Hei hei! Ada apa sih? Tiba-tiba teriak begitu?"
"Ini Lho! Bunga ini yang tadi dibawa Akira saat ke rumah Tsumugi! Tadi saat aku masih menyamar, dia bilang dia ingin memberikan bunga ini kepada orang yang disukainya! YAAAY!"
"Ah, mengarang saja kamu!" Leunaf terlihat tidak percaya.
"Iih! Ini benar! Tanya saja ke Akira kalau kamu tidak percaya...!"
"Ya..ya...kamu ini..baru dapat bunga saja sudah sombong..."
"Iih! Lihat saja nanti! Aku pasti akan mendapatkan hati Akira.."
"Yah..kalau kamu sudah cantik dan langsing seperti TaeYeon*, kamu pasti bisa mendapatkan hati Akira.."
"Ah! Biarin saja aku tidak langsing..bweeek!"
-oOo-
Misi Kedua
Setalah cukup sukses dalam menjalani misi mereka yang pertama, Rima dan Leunaf kembali beraksi dengan misi kedua mereka. Kali ini yang menjalani misi kedua adalah Leunaf. Lagi-lagi markas mereka terletak di balik semak-semak. Seperti biasa, setelah pulang sekolah Rima dan Leunaf pergi ke balik semak-semak tersebut.
"Oke Rima, sekarang aku yang akan menjalani misi kedua ini. Kemarin kau sudah cukup sukses dalam menjalani misimu. Doakan aku ya agar aku berhasil, kalau aku berhasil kan kau juga senang."
"Ya ya..pasti aku doakan. Kali ini apa rencanamu?"
"Hmm…begini..pasti Akira akan datang menjenguk lagi. Kita tunggu saja."
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Akira datang ke rumah Tsumugi, dan lagi-lagi Akira hanya meninggalkan keranjang buah di depan pintu masuk rumamh Tsumugi. Rima dan Leunaf sempat bingung, mengapa Akira hanya meninggalkan keranjang buah di depan rumah Tsumugi dan tidak masuk ke dalam rumahnya. Memang ada kecurigaan di dalam pikiran mereka, tapi bunga-bunga juga muncul di dalam hati Rima, karena Akira tidak sampai masuk ke dalam rumah Tsumugi.
Saat Akira sudah pergi meninggalkan rumah Tsumugi, Leunaf mulai beraksi. Dia keluar dari dalam semak-semak tersebut, Rima memberikan semangat, "Leu! FIGHTING!"
Leunaf masuk ke dalam pekarangan, lalu menuju ke depan pintu dan mengambil keranjang buah-buahan itu. Ia melihat ada sepucuk kartu di dalam keranjang itu, Leunaf lalu membacanya.
Untuk : Tsumugi
Dari : Leunaf
Tsumugi maafkan perbuatanku ini..aku berjanji tidak akan mengulanginya.
Ini aku berikan buah-buahan yang kedua kalinya.
Cepat sembuh ya..
Leunaf kaget. Jadi kemarin Akira datang membawa buah-buahan atas nama dirinya. Leunaf merasa sangat bersalah sekaligus berterimakasih. Dengan ini dia jadi semakin percaya diri untuk menemui Tsumugi. Dengan semangat, Leunaf menekan tombol bel yang terletak di dinding.
TING TONG!
TING TONG!
Setelah menekan bel dua kali, pintu itu terbuka dan ternyata yang keluar adalah Tsumugi yang sedang duduk di atas kursi roda. Wajah Tsumugi terlihat kaget saat mengetahui Leunaf datang mengunjunginya. Saat melihat wajah Leunaf, Tsumugi langsung mendorong mundur kursi rodanya dan menutup pintu dengan perlahan. Tapi Leunaf menahan pintu itu, menaruh keranjang buah-buahan di lantai dengan perlahan lalu memeluk Tsumugi dengan erat sambil menangis.
"Maafkan aku Tsumugi…aku tahu aku salah…aku tidak akan mengulanginya lagi..aku berjanji..jadi tolong maafkan aku Tsumugi.."
Tsumugi hanya terdiam. Lalu saat Leunaf melepaskan pelukannya, perlahan-lahan air mata mengalir ke pipinya.
"A-aku memaafkanmu Reunaf.."
"Ah…terimakasih Tsumugi…"
Leunaf lalu meletakan kepalanya di atas pangkuan Tsumugi lalu Tsumugi membelai rambtu Leunaf perlahan sambil tertawa, "Haha..aku tidak menyangka kau orangnya seromantis ini Reunaf.."
Leunaf hanya diam dan tetap meletakkan kepalanya di atas pangkuan Tsumugi.
-oOo-
Leunaf pulang dengan wajah yang berseri-seri, walaupun matanya masih sedikit sembab karena terlalu banyak menangis.
Saat sampai di rumahnya Rima sedang menonton televisi, Rima melihat wajah Leunaf yang berseri-seri.
"Bagaimana Leu? Kelihatannya berhasil tuh.."
"Hehe..aku memang berhasil!"
"YAAAAAAY! Kita berdua berhasil!"
"Yaaa! HORE!"
Lalu kedua kakak adik yang sedang berbahagia itu memutuskan untuk makan di restoran.
"Ayo kita makan di restoran."
"YAAAY! Ayo Leu! Kau yang traktir ya!"
"OKE!"
Sementara kaka beradik itu merayakan keberhasilan mereka, Tsumugi di rumahnya menelfon Akira.
"Halo Akira. Terimakasih ya sudah membantuku. Kalau tidak ada kamu Reunaf pasti tidak akan datang ke rumahku. Terimakasih juga buah-buahannya. Ternyata tidak sia-sia kau memelukku waktu itu. Haha! Rencana kita berdua berhasil!"
"Haha! Sama-sama Tsumugi. Aku juga berterimakasih kepadamu, karena bantuanmu aku bisa menjalankan misiku. Hehe..aku berhasil memberikan bunga mawar kepada Rima. Haha! Kau tahu tidak..? Si Rima itu sampai menyamar menjadi nenek-nenek yang sedang sakit batuk."
"Benarkah..? Hahahah! Anak itu memang lucu ya.."
"Hahah! Dia memang gadis yang nekat. Eh, bagaimana kalau keberhasilan kita ini kita rayakan dengan makan di restoran tempat kamu bekerja dulu?"
"Wah, boleh."
"Oke, aku akan segera menjemputmu."
KLIK!
Kembali ke Rima dan Leunaf. Mereka akhirnya sampai ke restoran yang menjadi tempat mereka untuk merayakan keberhasilan mereka.
"Hei Leu…kupikir kau akan mengajakku ke restoran mewah. Ternyata kau hanya mengajakku ke restoran tempat Tsumugi bekerja dulu. UKH!"
"Haha! Kau harusnya bersyukur sudah aku traktir. Kau tahu? Uangku tidak cukup untuk membelikanmu makanan mewah. Apalagi porsi makanmu kan…."
"Sudah! Sudah! Aku sudah tau kelanjutannya. Tidak usah diteruskan. Oke lebih baik kita makan hamburger ini, nanti dingin."
"Haha! Kau ini! Padahal kau tidak suka aku ajak kesini, tapi buktinya kau pesan 3 hamburger. Dasar!"
"Ah! Terserah aku. HUH!"
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba datang dua orang masuk ke dalam restoran itu. Akira dan Tsumugi masuk ke ruangan itu dengan santai. Rima yang sedang melahap hamburgernya langsung tersedak melihat kehadiran dua orang itu. Akira berjalan dan mencari tempat duduk. Akira terus berjalan dan berjalan sampai akhirnya dia melihat Rima dan Leunaf.
"Hai kalian berdua!"
Leunaf sempat tersedak saat disapa oleh Akira.
"Uhuk! Eh hai! Kau kesini juga ya Akira? Haha! Kita bisa makan berempat dong."
Rima tertunduk malu. Entah kenapa Rima jadi malu karena 2 hamburger masih terletak di nampan miliknya. Dengan sigap Rima langsung berkata, "Hei Leu! Kau pesan hamburger banyak sekali. Ckck..ternyata kau rakus juga ya…"
Akira yang melihat tingkah Rima langsung tersenyum dan berkata, "Haha! Rima, Rima…kau tidak usah malu untuk makan 3 hamburger di depanku. Aku biasa saja kok.."
BLUSH
Apa yang diucapkan Akira barusan menembus lambung Rima yang sedang mencerna beef dan selada yang baru dia makan, dan tentu saja membuat wajahnya merah padam.
Setelah kejadian yang cukup memalukan itu akhirnya mereka berempat duduk bersama dan mengobrol.
Leunaf membuka percakapan terlebih dahulu, "Hei hei. Kalian dalam rangka apa kesini?"
Akirapun menjawabnya, "Kami mau meraya…ups..ah, kami hanya ingin makan disini. Tsumugi juga ingin makan di restoran tempat kerjanya dulu. Dia kangen tempat ini."
"Oooo…" Leunaf hanya mengiyakan.
Tsumugi hanya tertawa kecil sambil memandang Akira yang sedang mencari alasan.
Mereka hening beberapa saat, lalu Akira angkat bicara, "Hei Rima setelah makan malam ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Reu! Aku pinjam adikmu sebentar ya. Kau nanti antarkan Tsumugi pulang ke rumahnya oke?"
"Fuuh..baiklah. Jangan kau ajak ke tempat yang aneh ya. Adikku itu penakut."
"LEU! Nyuu…"
"Baiklah Reu! Ayo Rima, kita pergi sekarang saja. Dah Reu dan Tsumugi!"
Rimapun akhirnya pergi bersama Akira dan Leunaf serta Tsumugi masih berada di dalam restoran. Suasana yang hening membuat perasaan Leunaf ikut menjadi tidak enak. Akhirnya dia mulai mengajak Tsumugi mengobrol.
"Hei Tsumugi…"
"Ya?"
"Hari ini…kau mau ke rumahku tidak? Aku punya film drama yang bagus." (sebenarnya drama itu milik Rima)
"Hihi..boleh boleh..ayo…!"
Akhirnya mereka berempat menjalani kisah mereka dengan bahagia. Meskipun ada batu kerikil yang sempat membuat mereka tersandung, tapi mereka akhirnya bangkit kembali dan menjalani kehidupan dengan wajar.
The End
TaeYeon : Leader grup Korea SNSD (So Nyuh Shi Dae) atau Girl's Generation
Fuuh…bagaimana akhir cerita mereka berempat.
Rencananya saya akan membuat kisah kencan mereka setelah makan di restoran itu.
Nantikan ya!
Kritik dan saran dinanti lho!
Terimakasih sudah mau membaca….!
