Kalau mau ngeflame, flame ajah kekurangan fic saya, tapi jangan flame karakternya okeh? Deal? Kalau bisa sih kritik saya aja ^^-
.This Is My Turn To Unleash My Imagination.
~^^ SAYA BUTUH KRITIK YANG MEMBANGUN ^^~
^^ Peace ^^
Ya udahlah daripada mendengarkan ocehan saya yang nggak penting langsung aja lah baca, dan jangan lupa RNR~ *Maksa* *Dilempar Kompor*
Bales Anonimous dolo yaaa XDD
Mokochange : Hehehe makasih udah ripyu XD, wah mau lihat Gaara topless? Silakan lihat gratis kok *disabaku ampe remuk* XDDD, wah makasihXD ini udah apdet loh XD
Untuk 2 orang no name: Udah apdet XDD
Ok Ripyu anonimous selesai XD
Silakan dinikmati, XD kasi ripyu kalau bersedia hahahaha... *disumpel sambel* HUaaaaa pedaaasssss!
Enjoy XD...
.
.
Dia melihat Gaara berdiri mematung di tengah derasnya hujan dengan hanya berbekal baju hangat yang sudah sangat basah, rambut merahnya sudah lepek terkena hujan deras.
Sakura tidak ingat dia sedang marah dengan Gaara, dia berlari menerjang angin menuju ke pertigaan itu, seragamnya sudah sangat basah sekarang..
"GA-GAARA?" Jeritnya yang terdengar sayup-sayup di tengah hujan. Sakura menghampiri Gaara, dia menurunkan kecepatan larinya, lalu dia melihat sosok Gaara saat itu, sangat kaku. Sakura jadi khawatir Gaara kenapa-napa.
Gaara mengangkat kepalanya perlahan. Sakura menghela napas lega, setidaknya Gaara masih sadar. Sakura melihat tubuh Gaara menggigil hebat, sampai-sampai bibirnya yang biasanya merah kini biru pucat. Matanya setengah terpejam, tangannya memeluk tubuhnya yang kehujanan. Tidak ada kaca mata terpasang di wajahnya, mata torquise-nya sayu seperti kehilangan energi stoic-nya.
"Kamu ngapain hujan-hujanan begini?" Tanya Sakura yang kini memayungi mereka berdua dengan jarak yang sangat dekat sampai-sampai Sakura dapat merasakan deru napas Gaara di wajahnya.
"Ka-kamu ba-baru pulang? Lama banget sih? Aku udah nunggu dari t-tadi..." Gaara berhenti berkata tubuhnya bergerak namun kehilangan keseimbangan karena terlalu kaku, lalu tubuhnya tumbang ke depan, untung Sakura bisa sigap, dia lempar payungnya entah kemana. Tubuh Gaara yang terbalut pakaian basah ditahan Sakura dengan sekuat tenaga. Tangannya dilingkarkan ke tubuh Gaara agar tidak jatuh kedepan.
Dan Mereka beruda berpelukan dalam hujan deras. Tangan Gaara terjulur ke bawah dengan lemas, Sakura merasakan debaran jantung Gaara yang berdetak sangat cepat, tubuh Gaara yang panas karena sakit juga terasa padahal sekarang hujan lebat.
"Ga-Gaara?" Sakura mencoba memanggil Gaara.
"A-apa?" Jawab Gaara.
"Oh untung kamu masih sadar." Kata Sakura, "Aku antar pulang, kamu pegangan sama aku sini..." Sakura merangkulkan tangan kiri Gaara pada pundaknya.
"Ja-jangan nanti kamu dipecat... kerja sambilan..." Gumam Gaara pelan.
"Jangan pikirin dulu, kamu mau aku tinggalin di tengah hujan begini?" Kata Sakura agak keras, soalnya bersaing sama suara hujan.
"Hhh... nggak apa-apa aku bisa pulang sendiri kok..." Ucap Gaara, walau terlihat seluruh tubuhnya gemetaran.
"Jangan sok kuat deh, pokoknya aku akan antar kamu pulang..." Sakura bersikeras mengantar Gaara.
"Sakura-chan?" Suara berat terdengar dari arah belakang.
Sakura menoleh sedikit, soalnya dia lagi menggandeng Gaara jadi sulit menengok ke belakang.
"Eh Iruka-san..."
Orang yang dipanggil Iruka itu langsung memayungi Sakura dan Gaara.
"Kamu kenapa? Kok hujan-hujanan?" Tanya Iruka dengan nada khawatir.
"Nggak kenapa-napa kok boss, hanya ada sedikit masalah, temanku satu ini pingsan di tengah jalan, oh iya boss kebetulan ada disini... aku boleh libur hari ini? Aku mau antar teman ku pulang..." Tanya Sakura pada Iruka yang ternyata adalah Boss-nya.
"Ah iya-iya nggak apa-apa kelihatannya temanmu juga lagi nggak sadar, aku antar kalian ya," Ucap Iruka.
"Jangan nanti di toko siapa yang melayani tamu?" Tanya Sakura, dia tahu pegawai malam hanya dirinya seorang.
"Itu sih..."
"Ya sudah boss ke toko saja, aku libur hari ini ya boss..."
"Ok... Tapi nggak apa-apa nih?"
"Nggak apa-apa, deket kok dari sini rumahnya. Oh iya boss, buat libur hari ini, potong dari gaji ku saja."
Sakura bergegas pergi sambil menopang Gaara, walau terlihat tidak sadar Gaara masih kuat jalan.
"Maaf... aku berat ya?" Gaara bicara dengan lirih ucap Gaara, sepertinya kondisi tubuhnya membaik karena tidak diam mematung di bawah hujan lagi..
"BANGET!" Jawab Sakura dengan napas memburu.
"Lagian kamu ini ngapain juga hujan-hujanan! Kayak anak kecil aja! Mana kamu lagi sakit juga!" Sakura mengomeli Gaara padahal hujan lagi mengguyur tubuh mereka berdua, sempet-sempet aja tu anak ngomel.
"Ngapain sih kamu di pertigaan tadi?"
"A-aku lagi nungguin kamu..."
Mereka melewati sekelompok ibu-ibu yang nekat keluar hujan-hujan begini, sekelompok ibu-ibu itu melihat Gaara dan Sakura yang hujan-hujanan berdua.
"E-eh? Ngapain nungguin aku di sana? Bukannya bisa langsung ke lab?" Tanya Sakura yang dengan susah payah menghalangi air masuk ke mulutnya.
"Kalau a-aku ke l-lab, kamu pasti langsung pergi dan nggak mau ngomong dengan ku..."
"Terus kamu nunggu di tengah hujan begini?"
"I-ya, kupikir cara ini akan berhasil, dan memang berhasil..." Gaara bicara dengan bibir menggigil di sudut bibirnya seulas senyum jahil masih dapat diperlihatkannya dalam kodisi seperti ini.
"Ah, kamu segitu ingin bicara denganku? Dan jangan coba-coba nyengir nyebelin begitu!"
"I-ya... soal t-tadi si-siang... dan aku sedang tidak nyengir." Ucap Gaara membela diri, Sakura yakin kondisi Gaara sekang sudah baik, buktinya dia sudah bisa membantah Sakura.
"Nanti aja ngobrolnya! Kita udah di depan rumah kamu!"
Mereka tiba di depan rumah Gaara.
"Nggak ada orang di rumah, i-ini kuncinya," Gaara merogoh kantong celananya, lalu memberikan kunci rumah pada Sakura. Lalu Sakura membuka pintunya.
"Kamu cepat mandi pakai air hangat, buka dulu bajumu. Kamar mandinya di mana? Biar kusiapkan air hangat."
"Disana..." Gaara menunjukkan arah kamar mandi.
Sakura segera menuju ke sana, "Buka dulu atasannya, bawahannya kau buka di kamar mandi saja!"
Sakura melihat ada bath tube, lalu dia mengisinya dengan air panas yang langsung keluar lewat keran pemanas air.
"Gaara! Kemari!" Sakura memanggil Gaara, namun Gaara sudah ada di depan pintu kamar mandi, setengah berhasil membuka bajunya namun dia kesulitan menanggalkan sweter, dengan kata lain, dia sedang terjebak dalam sweternya.
"Sa-ku-ra... tolong..." Kata Gaara yang kini dengan susah payah membuka sweternya yang basah tubuhnya ambruk ke dekat pintu, Sakura malah ketawa geli.
"Jwangan ngwatawawin owrrwang (Jangan ngetawain orang)" Gaara bicara kayak berkumur.
"Ah... payah..." Sakura menarik Sweeter Gaara, dan untuk yang kedua kali dalam satu hari ini dia melihat tubuh bagian atas Gaara, walau malu tapi Sakura kini fokus melepaskan sweeternya.
"Nah udah selesai, mandi sana, handuknya udah ku siapkan," Sakura keluar kamar mandi dengan wajah blusing.
Selang satu menit kemudian.
"Sakura?" Tiba-tiba Gaara keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Ya pakai handuk to', tanpa embel-embel lain, wajahnya yang tadi pucat sekarang sedikit memerah, muingkin dia agak baikan.
"Kyaa! Kamu mau apa?" Sakura mundur beberapa langkah sambil menyilangakan tangannya ke dadanya, wajahnya ngeri.
"Apaan sih? Aku Cuma mau bilang, kamu bisa mandi di kamar kakak perempuanku, di lantai dua, kamarnya nggak dikunci, kamu mau basah-basah begitu," Gaara bicara tanpa malu dia hanya memakai handuk, padahal di depannya ada cewek.
"Kamu kenapa sih, Flu ya?" Gaara mendekati Sakura, yang didekali tambah ngeri.
"I-iya aku mandi! Kamu masuk lagi sana! Dasar mesum!"
"Eh? Mesum apanya?" Tanya Gaara untuk dirinya sendiri. Nggak ngerti.
Sakura berlari ke lantai dua. Wajahnya kini sudah semerah apel.
"Oh iya, pinjam saja baju kakaku!" Ucap Gaara dari bawah.
"IYA BAWEL AH!"
.
.
Empat puluh menit kemudian.
Sakura selesai mandi duluan, dia meminjam kaos kakak perempuan Gaara, juga celana training hitam. Sakura duduk di ruang tamu menunggu Gaara. Meja didepannya tertata bebagai macam pot bunga kecil-kecil, salah satunya berisikan tanaman kaktus.
"Bused, ampe ke ruang tamu begini ada kaktus..." Sakura menggumam dengan geli.
Sakura menyandarkan tubuhnya ke sofa, diperhatikannya lagi interior ruang tamu ini. Ada beberapa vas ukuran jumbo, hanya untuk pajangan, tanaman-tanaman hias tidak luput dari pandangan Sakura, menilik tanggapannya tadi siang bahwa keluarga Gaara itu maniak tanaman sepertinya benar.
"Ih Gaara ternyata mandinya lebih lama dariku... Dasar perawan panjang." Gumam Sakura geli, dia mengambil satu pot ukuran kecil, seukuran genggaman tangan anak kecil yang berisi kaktus. Diangkatnya pot mungil yang berisikan kaktus mungil juga.
Dipandangnya lama kaktus itu, bentuknya lucu, dengan duri-duri jarum yang masih lentur dan tidak tajam.
Akhirnya Gaara keluar dari kamarnya, dia sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dan sekali lagi sodara-sodara, Gaara topless. Seneng banget sih dia telanjang dada. Dan sama dengan Sakura dia hanya memakai celana training hitam dengan garis-garis merah.
"Ah... mandi air hangat bikin keringat keluar, panasku kok jadi turun drastis ya..." UCapnya sambil terus mengelap rambutnya dengan handuk, lalu handuknya dikalungkan ke bagian belakang lehernya.
Gaara duduk di sebelah Sakura. Ditegaskan sekali lagi di sebelah Sakura. Padahal sofa yang kosong nggak Cuma satu tapi ada empat, eh dia duduk di samping Sakura.
Dan hal itu membuat Sakura blushing, bukan karena ada Gaara, tapi Gaara yang telanjang dada bikin Sakura risih.
"Ih! Pakai baju kenapa sih!" Kata Sakura. Dia meletakkan lagi pot mini itu ke meja.
"Nggak enak, gerah aku habis minum obat flu, kalo pake baju nanti bajunya basah, malah bikin masuk angin nanti," Ucap Gaara.
Dan benar saja, tubuhnya kini agak berkeringat.
"Ta-tapi tetap aja setidaknya pake kaos dalem kek!"
"Ogah!" Gaara tetap kekeuh.
"Tapi aku risih!" Sakura memukul Gaara dengan bantal duduk.
"Kenapa musti risih?" Gaara menangkis pukulan Sakura dengan tangan kiri.
"Kamu nggak pake baju! Di samping kamu ada cewek, kamu nggak risih?" Sakura terus melakukan pukulan bantal.
"Memangnya harus risih yah?" Gaara malah makin nggak tanggap, cowok macam apa kau ini? *di-smack Gaara*
"Kamu nggak risih , aku risih!" Kini Sakura menjauh dari Gaara bersiap pindah sofa, tapi tangan Sakura dipegang Gaara.
"Duduk di sini..." Kalimat Gaara yang terdengar seperti perintah ini terdengar lebih lembut saat itu.
"E-eh.. tapi..."
"Kan aku mau ngomong sama kamu Sakura!" Kata Gaara maksa.
"Eh iya, tapi jangan pegang-pegang ah!" Sakura melepaskan genggaman tangan Gaara lalu duduk di samping Gaara, tapi agak renggang.
Teng...teng...teng...teng...teng...teng...teng...
Suara jam berdentang 7 kali, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sedangkan hujan belum berhenti. Malah sekarang petir menyambar dengan ganas.
"Kamu nginap aja di sini... kayaknya hujannya deras deh..." Gaara bicara dengan nada santai kayak ngajak teman makan di kantin.
"EH? NGINAP?" Jerit Sakura. "Yang benar aja?"
"Kenapa, nggak mau?"
"JELASLAH!"
"Loh kenapa?" Tanya Gaara bingung.
"Kok make nanya sih? Masa kita Cuma berdua di rumah ini terus kamu ngajak nginap?"
"Kenapa? Aku nggak bahaya juga," Gaara bicara bagaikan perihal menginap ini adalah hal biasa.
"Kalau kamu nggak normal atau homo sih aku tenang tenang aja..." Batin Sakura, "Tapi dia kan cowok! Cowok nggak bisa dipercaya! Buas!" Inner Sakura jejeritan minta pulang.
"Aku pulang saja, orang tua ku nanti pasti khawatir." Ucap Sakura bersiap beranjak dari sofa.
"Orang tua? Kamu kan ngekos..." Kata Gaara.
"Iya juga... eh darimana kamu tahu?" Sakura gagal untuk membuat alasan.
"Udah pokoknya kamu hari ini nginap. Titik." Semakin maksa, Gaara makin terlihat punya niat nggak baik (menurut Sakura loh).
"Ih makasa banget si-"
BLAR!
Petir menyambar, lalu gelap gulita.
"Kyaaaaaaaaaaa!" Sakura menerjang Gaara yang ada di depannya, sampai Sakura jatuh terguling ke lantai.
Tak sampai selang dua detik lampu menyala kembali.
"Aduh..." Sakura memegang kepalanya yang terantuk lantai.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Gaara.
"Ya... aku nggak..." Sakura tersentak, dia sedang terbaring di lantai.
"Apa-apa..." Sedangkan Gaara berada tepat di atasnya.
Mereka terdiam beberapa saat.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
3. detik...
"OH TUHAN! APA YANG AKAN TERJADI!" Inner Sakura menjerit meronta minta pulang.
Pinky in Danger!
Mad Proffesor Turn To ERO Tennager? In One Minute?
That Fast?
OMG!
God Must Be CrazY!
-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-TBC-
Urgggh... Chap ini nggak ada isinya selain kemesuman yang mulai terlihat...
Ah udah ah, yang berniat ripyu silakken XD
