Because I Love You Chapter 3
Jihoon mendengar suara ketukan di jendela kamarnya pada pukul setengah tiga subuh. Awalnya Jihoon mengira itu angin atau ranting pohon. Kamar Jihoon dekat dengan taman belakang rumah yang banyak pohonnya. Tapi, Jihoon juga mendengar suara Soonyoung memanggil-manggil namanya. Membuat gadis itu bergegas ke jendela dan membukanya.
"Jihoon-ie," senyum lebar Soonyoung yang menyambut Jihoon saat jendela kamarnya sudah terbuka. Jihoon hanya mengerutkan keningnya melihat Soonyoung berdiri di depan jendela dengan tas ransel dipunggungnya dan memakai jaket tebal.
"Soonyoung-ie, kau mau pergi ke mana?" Jihoon bertanya dengan lemah. Gadis manis itu bergeser, ketika melihat Soonyoung yang bersiap untuk memasuki kamarnya melalui jendela.
"Kita akan pergi jauh berdua. Kau cukup percaya padaku. Mau kan?" Soonyoung balas bertanya setelah masuk ke dalam kamar Jihoon dan kini berdiri di depan gadis manis itu. Kedua tangannya mencengkram lembut bahu Jihoon. Jihoon menganggukkan kepalanya pelan. "Sekarang kau cukup duduk diam, biar aku yang menyiapkannya." Soonyoung membawa Jihoon ke kasur, lalu mendudukannya. Setelah itu, Soonyoung langsung mengambil tas selempang besar di lemari Jihoon.
"Tapi, Soonyoung-ie, apa akan baik-baik saja?" Jihoon bertanya dengan nada keraguan yang kentara sekali, melihat Soonyoung yang begitu gesit memasukan beberapa pakaian miliknya dan keperluannya. Setelah selesai, Soonyoung berlutut di depan Jihoon. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan kekasihnya yang terasa panas.
"Cukup percaya padaku, mengerti?" Soonyoung mengusap lembut pipi bulat Jihoon yang juga terasa panas. Keningnya menyirit heran. "Kau sakit, Jihoon-ie?" Soonyoung bertanya setelah menangkup kedua pipi Jihoon dan terasa panas. Jihoon hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Wajah Soonyoung berubah panik. Laki-laki itu langsung mengambil mantel musim dingin milik Jihoon di lemari gadis itu, lalu memakaikannya pada Jihoon. "Dengarkan aku! Kita melakukannya dengan cepat dan jangan membunyikan suara, supaya tidak ketahuan! Kau mengerti?" Soonyoung kembali menangkup kedua pipi bulat Jihoon yang terasa panas ditangannya. "Kita akan pergi ketempat yang jauh. Kalau sudah sampai di sana kita akan menikah dan hidup bahagia di sana. Aku sudah menyiapkan semuanya."
"Ehmm, Soonyoung-ie," Jihoon memanggil Soonyoung yang kini sedang memasang ranselnya di depan badannya, lalu menyampirkan tas milik Jihoon di bahunya. Suaranya terdengar lemah dan ragu. Soonyoung hanya menatap Jihoon dengan pandangan bertanya tanpa mengeluarkan suara. "Apa boleh aku membawa Chan-ie? Dia selama ini sud-"
Ucapan Jihoon terpotong karena Soonyoung membungkam mulut Jihoon dengan bibirnya. Soonyoung mencium Jihoon dalam dan cukup lama. "Maafkan aku, Jihoon-ie. Kalau bisa aku juga ingin membawa Chan-ie. Kita pergi bersama, tapi maaf tidak bisa." Soonyoung kembali menangkup kedua pipi bulat Jihoon. Menatap dalam kekasihnya dengan sorot mata bersalahnya.
Jihoon hanya menganggukkan kepalanya lemah dengan senyum manis. Gadis itu lalu mencium pipi tirus kekasihnya. "Aku mengerti." Soonyoung hanya dapat memasang senyum tipisnya. "Ayo cepat nanti kita bisa ketahuan."
Soonyoung buru-buru melompati dinding kamar Jihoon. Laki-laki bermata sipit itu keluar melalui jendela kamar kekasihnya yang cukup besar. Soonyoung membantu Jihoon memanjat dinding, setelah itu sedikit membungkuk membelakangi Jihoon. Bermaksud untuk menggendong kekasihnya di punggung. Tidak mungkin Soonyoung membawa Jihoon berlari dalam keadaan Jihoon yang sedang lemas karena panas tinggi.
Jihoon langsung melompat ke punggung Soonyoung dalam diam, lalu memeluk erat leher kekasihnya. Setelah menyamankan Jihoon di punggungnya, Soonyoung langsung menutup jendela kamar Jihoon dengan hati-hati. Mencoba tidak menimbulkan suara sedikitpun. Kemudian, Soonyoung berlari kebelakang rumah Jihoon. Ada mobil yang terparkir di sana.
"Jihoon kau masih bisa memanjatkan?" Soonyoung berhenti di depan dinding pembatas rumah keluarga Lee dengan jalanan. Soonyoung merasa Jihoon menganggukkan kepalanya. "Kurasa."
Soonyoung menurunkan Jihoon dan bergegas berjongkok di depan kekasihnya. Dindingnya memang tidak tinggi hanya sebatas leher Soonyoung, tapi tetap saja dengan keadaan Jihoon yang lemas, Soonyoung tidak yakin Jihoon bisa melaluinya dengan mudah.
"Maaf ya, Soonyoung-ie." Jihoon menginjak punggung Soonyoung dan langsung melompat ke atas dinding. "Jangan melompat dulu! Tunggu aku!" Soonyoung berucap dengan suara yang sedikit lebih keras, lalu segera melompati dinding itu tanpa kesulitan. Setelah kakinya memijak tanah Soonyoung kembali memunggungi Jihoon. Bermaksud supaya Jihoon jatuhnya lasung digendongannya. Jihoon yang mengerti langsung menjatuhkan dirinya menubruk punggung Soonyoung sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali. Lalu memeluk leher kekasih begitu Soonyoung berlari menuju mobil yang terparkir cukup jauh di depan sana.
"Bertahan sebentar lagi, Jihoon-ie, kita sudah dekat dengan kebahagiaan."
~soonhoon~
Pagi itu, sekitar pukul delapan, bel rumah keluarga Lee sudah berbunyi nyaring. Jisoo yang baru saja keluarga dari kamar mandi bergegas ke jendela dan mendapati mobil keluaran terbaru berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. Tak berapa lama keluarlah seorang laki-laki berbadan tegap dengan rambut blondenya lalu disusul seorang wanita yang menggendong balita. Membuat wajah Jisoo yang semula datar langsung berubah cerah. Bahkan laki-laki dingin itu tersenyum lebar.
Jisoo sedikit berlari keluar dari kamarnya menghampiri tamu yang dapat membuatnya bahagia di ruang tamu. Sebelum sampai di ruang tamu, Jisoo mengetuk pintu kamar Chan dengan terburu-buru. "Chan-ie, palli irona! Namjoon Hyung datang. Cepatlah bersiap!"
Tak berapa lama kemudian, pintu kamar Chan terbuka sedikit dan kepala adiknya yang basah menyembul menyapanya. "Sudah hyung." Suara Chan terdengar datar, tapi tidak mengubah senyum di wajah cerah Jisoo. Membuat adik laki-lakinya itu mengerutkan keningnya.
Jisoo merogoh saku celana trainingnya. Mengambil kunci kemudian menyerahkannya pada Chan. Membuat adik laki-lakinya itu makin mengerutkan keningnya. "Bangunkan Jihoon! Suruh nunamu bersiap dengan cepat!" Jisoo berlalu meninggalkan Chan yang kebingungan.
"Annyeonghaseyo Namjoon Hyung, Jin Nuna." Jisoo langsung memberi salam begitu sampai di ruang tamu dan berdiri di depan tamunya. Kedua tamunya langsung berdiri dan ikut membungkuk.
"Yo Jisoo-ya, bagaimana kabarmu?" laki-laki berambut blonde itu langsung maju mendekati Jisoo, kemudian memeluknya. Jisoo balas memeluk laki-laki itu dengan senyum lebar. Jisoo melepas pelukannya begitu kedua mata sipitnya melihat wanita di belakang laki-laki berambut blonde yang sedang menggendong seorang balita yang sedang tertidur. "Aku selalu baik, hyung."
"Jin Nuna, bagaimana kabarmu? Itu anak kalian?" wanita yang dipanggil Jin Nuna itu hanya mengangguk dan memepersilahkan Jisoo untuk melihat balita digendongannya. "Wah lucu sekali. Siapa namanya?"
"Kim Jooni." Laki-laki blonde bernama Namjoon yang menjawab. "Jin ingin sekali memakai namaku, padahal anak kami perempuan." Namjoon mengomel dengan wajah kesalnya. Mampu membuat Jisoo dan Jin tertawa geli.
"Hyung dan nuna tinggal dengan kami di sini?" Jisoo bertanya setelah melihat dua koper besar di dekat Jin. Namjoon dan Jin ikut melihat koper besar milik mereka, lalu kembali melihat Jisoo.
"Ah iya, Jisoo-ya. Yah, pekerjaanku kan-kau tau berbahaya sekali, jadi ya aku titip Jin dan Jooni di sini. Ada Jihoon dan Chan juga kan, jadi Jin dan Jooni tidak kesepian." Namjoon menjelaskan yang hanya mendapat anggukan kepala dari Jisoo.
"Hyung! Jisoo Hyung! Nuna hilang! Jihoon-ie Nuna hilang! Hyung!"
Jisoo langsung bergegas ke kamar Jihoon setelah mendengar pekikan histeris Chan. Namjoon dan Jin ikut di belakangnya.
"Kenapa bisa Chan?" bentakkan Jisoo yang pertama kali di dengar suami-istri Kim, begitu mereka sampai di kamar Jihoon.
"Mana kutahu, hyung. Hyung kan memisahkanku dari nuna semalam." Chan balas berteriak dengan wajahnya yang kesal. Membuat Jisoo mengacak rambutnya frustasi.
"Son Ahjumma! Son Ahjumma!" Selagi Jisoo berteriak memanggil Son Ahjumma, Namjoon mengecek kamar mandi, sedangkan Chan membuka lemari pakaian nunanya. Membulatkan mata sipitnya kemudian, begitu melihat lemari yang nyaris kosong.
"Nuna pergi dari rumah, hyung. Pakaiannya tidak ada." Jisoo langsung membuka seluruh lemari yang ada di kamar Jihoon lalu menggeram marah. "Kwon Soonyoung sialan."
"Kau jangan kemana-mana, Chan! Diam di sini!" Jisoo membentak Chan dengan wajahnya yang merah karena marah. Tangan kanannya menunjuk tepat di wajah adik laki-lakinya. "Hyung ikut aku! Pekerjaanmu dimulai dari sekarang." Jisoo berjalan keluar dari kamar Jihoon dan diikuti Namjoon di belakang, setelah laki-laki berambut blonde itu mengecup kening istri dan anaknya. Namun di depan pintu kamar, Jisoo berpapasan dengan Son Ahjumma. "Ahjumma, jangan biarkan Chan keluar dari rumah ini! Jaga dia!" Jisoo berlalu dengan langkah lebar-lebar keluar rumah.
Setelah Jisoo dan Namjoon menghilang dari rumah, Chan jatuh terduduk dengan pipinya yang terbentuk jejak anak sungai. Membuat Jin menatapnya dengan bingung, sedangkan Son Ahjumma memeluk Chan dengan pipinya yang basah oleh air mata.
"Chan, Ahjumma, ada masalah apa?" Jin bertanya sambil menimang-nimang anaknya yang mulai rewel. Chan hanya menatap sebentar Jin dan kembali terisak kencang. "Cerita saja, Chan-ie, supaya hatimu tenang."
Chan menimang sebentar, dan memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Jin yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Chan bercerita tentang kelakuan Jisoo yang berubah, pertentangan Jisoo dengan hubungan Jihoon dan Soonyoung, hingga Jihoon yang pingsan semalam karena Jisoo. Chan sudah menganggap Jin beserta Namjoon keluarga sendiri. Bukan hanya Chan, kedua kakaknya juga. Namjoon bekerja sebagai tangan kanan ayahnya sejak dulu dan juga merupakan sahabat dekat kedua orang tua mereka. Namjoon sekarang juga bekerja sebagai tangan kanan Jisoo. Selain itu Namjoon dan Jin juga diminta kedua orang tua mereka sebagai wali kakak-beradik Lee yang selalu melindungi ketiga anak itu. Jadi sudah sangat percaya Chan pada Jin. Terlebih Jin selalu menganggap Chan sebagai anak kesayangannya.
Setelah selesai bercerita, ponsel milik Chan berbunyi, sebelum Jin membuka suaranya. Chan langsung menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau, lalu menempelkan layar ponselnya ke telinga, setelah melihat nama yang menelpon.
"Nuna," Chan kembali terisak keras. Membuat Jin hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Son Ahjumma mengusap lembut rambut tuan mudanya. "Jihoon-ie Nuna hilang. Nunaku hilang. Nuna pergi meninggalkanku menderita sendirian disini. Jihoon-ie Nuna hilang, Seungkwan-ie Nuna."
"Chan-ie, apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti." Lawan bicara Chan terdengar bingung. "Kau tarik nafas, lalu buang secara perlahan. Ikuti ucapanku pelan-pelan, mengerti?" Chan mengikuti secara perlahan. Menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Beberapa kali Chan lakukan hingga merasa tenang.
"Kau sudah tenang?" lawannya bertanya setelah beberapa menit kemudian. Chan hanya menganggukkan kepalanya. Yah walaupun, lawan bicaranya yang dipanggil Seungkwan-ie Nuna tidak dapat melihat. Chan takut terisak lagi kalau mengeluarkan suara. "Coba sekarang ceritakan. Jangan terburu-buru! Pelan-pelan saja! Tenang nuna tidak akan pergi kemana-mana kok."
"Jihoon Nuna dan Jisoo Hyung bertengkar kemarin karena hyung tidak merestui hubungan Jihoon Nuna dengan Soonyoung Hyung. Hyung mengunci nuna di kamar dan pagi ini, waktu aku cek, nuna sudah tidak ada. Lemarinya hampir kosong. Nuna pergi tanpa mengajakku. Padahal kan aku juga ingin ikut, Seungkwan-ie Nuna. Nuna melupakanku."
~Soonhoon~
Mobil hitam milik Jisoo melaju kencang di jalanan kota. Menyalip beberapa mobil yang menurutnya lambat sekali. Di samping Jisoo, Namjoon memegang erat tali sit belt dengan wajah garangnya yang was-was. Sungguh, namja yang sudah lebih dari 20 tahun bekerja dengan keluarga Lee itu, merasa jantungnya berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya. Sudah dua tahun Namjoon tidak terlibat dalam pekerjaannya dengan Jisoo, dan mengetahui bagaimana gilanya Jisoo saat menyetir membuat Namjoon merasa khawatir.
"Jisoo-ya," Namjoon memanggil Jisoo dengan suara pelan. Jisoo hanya bergumam sebagai balasannya. Laki-laki itu sedang fokus menyalip kendaraan di depan mobil mereka. "Bisa pelankan sedikit? Kau kan tau sekarang aku sudah punya keluarga. Jooni dan Jin menungguku di rumah. Aku-"
"Shut up hyung!" Namjoon tersentak setelah mendapat geraman marah dari Jisoo. Wajah laki-laki itu berubah datar dan dingin. Pegangan pada sit bel dilepasnya. Kedua matanya kini fokus pada jalanan di depannya.
"Aku sedang pusing karena Kwon sialan itu membawa kabur Jihoon. Pasti Wen mengetahuinya." Suara Jisoo terdengar pelan namun masih terdengar jelas di telinga Namjoon. Namjoon langsung menatap Jisoo setelah mendengar nama Wen disebut.
"Wen Junhui?" Jisoo menganggukkan kepalanya. "Ada apa lagi?" suara Namjoon terdengar malas. Laki-laki itu tahu masalah apa saja yang terjadi antara keluarga Lee dengan keluarga Wen.
"Lupakan Si Wen itu! Sebenarnya aku tertarik dengan Si Kwon-whatever itu. Kenapa dia bisa membawa kabur Jihoon-ie?" Namjoon merasa tertarik dengan masalah antara Jisoo dengan Soonyoung. Namjoon menghadap Jisoo yang masih fokus menyetir. Salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Hyung kan tau masalah eomma dengan Byun Baekhyun." Jisoo melirik Namjoon yang terlihat berpikir.
"Ah yang bertengkar di ruang meeting itu ya? Yang nuna minta Baekhyun untuk memasukkan nama appamu di albumnya." Jisoo bergumam seraya menganggukkan kepalanya. Jelas mereka berdua mengetahuinya. Saat itu Jisoo datang ke gedung entertainment ayahnya untuk menyerahkan berkas-berkas yang ketinggalan, sekalian menyerahkan surat sekolah pada ibunya yang memang selalu menemani ayahnya di kantor. Lalu mendengar suara ribut-ribut pegawai ayahnya yang mengatakan kalau ibunya sedang bertengkar dengan penyanyi asuhan manajemen ayahnya.
"Ya, eomma minta supaya Baekhyun Ahjumma memasukkan nama appa di album. Padahal yang buat lagu appa tapi yang dimasukkan malah nama suaminya." Jisoo mengurangi laju mobilnya saat tikungan mulai terlihat. Setelah melewati tikungan dengan bunyi yang mampu membuat kuping sakit, laju mobil yang Jisoo kendarain kembali cepat.
"Setauku itu suruhan Luxury Entertainment. Kan waktu itu Baekhyun Ahjumma dan appamu sedang bekerjasama dengan perusahaan itu. Itu juga yang membuat eommamu marah malam itu. Nuna sudah tau kalau akan ada masalah seperti itu, tapi appamu malah tidak mendengarkan. Jadi ya seperti itu." Jisoo hanya mengangguk pelan, setelah menginjak rem. Mobil mereka kini berhenti di depan gedung entertainment milik keluarga Kwon. Jisoo bergegas melepas sit belt yang dipakainya, kemudian membuka pintu mobil. Jisoo hendak keluar dari mobil, namun gerakannya dihentikan oleh tangan Namjoon.
"Ingat pesanku! Jangan bertindak gegabah! Perusahaan milik Kwon masih jadi perusahan kerabat kita. Mengerti?" Suara rendah milik Namjoon terdengar mengintimidasi, tapi tidak mempengaruhi raut wajah datar milik Jisoo. Laki-laki itu malah memutar bola matanya malas, sebelum menganggukan kepalanya cepat. Keduanya kini keluar dari mobil dan berjalan cepat memasuki gedung bercat abu-abu itu.
~soonhoon~
"Tidak, Hao-er, ini bukan salahmu sungguh." Jun masih menenangkan Minghao di sofa ruang kerjanya. Laki-laki Cina itu membawa Minghao ke kantor, karena sejak semalam Minghao terus saja meracau menyalahkan dirinya. Tidak tega Jun, kalau harus meninggalkan Minghao di rumah dengan keadaan seperti ini. Takut-takut, Minghao malah berbuat nekat.
"Tapi, Soonyoung mengikuti ucapanku, gege." Minghao makin terisak. Membuat Jun melepas pelukannya, lalu menangkup kedua pipi bulat istrinya dan mengusapnya lembut. Menghapus jejak anak sungai dipipi berisi istrinya.
"Itu sudah keputusannya Soonyoung, Hao-er. Sudah jangan menyalahkan diri sendiri!" suara Jun terdengar lembut dengan kedua matanya yang menatap lembut istrinya. Namun, Minghao masih terisak. Minghao menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Gadis berambut coklat ikal bergelombang itu masih menyalahkan dirinya.
Brak!
Suara debumam pintu dengan dinding terdengar keras, berhasil membuat Minghao mengehentikan racauannya. Tak berapa lama Jisoo masuk dengan wajahnya yang memerah karena amarah dan langsung menghampiri Jun. Hingga membuat Minghao memekik ketakutan.
"Kau bawa kabur kemana adikku?" Jisoo membentak dengan tangannya yang mencengkram kerah Jun. Sedangkan Jun hanya memasang wajah tak mengertinya. "Jawab, Wen Junhui!"
"Aku tidak tau." Jun menjawab dengan matanya yang balas menatap tajam Jisoo. Setelah mengerti arah pembicaraan mereka, Jun langsung memasang senyum meremehkan. "Kau pikir aku pengasuhnya, eoh?"
"Sialan kau, Wen!" Jisoo berteriak keras, lalu menghempaskan tubuh Jun dengan kasar ke lantai. Membuat Minghao langsung menghampiri suaminya dengan wajahnya yang basah oleh air mata. Jisoo hanya diam memperhatikan. Jisoo sedang mencoba mengendalikan emosinya.
"Maaf tuan, ini bukan salah suamiku. Suamiku tidak tau apa-apa." Minghao mengeluarkan suaranya yang terdengar sedikit bergetar menatap tajam salah satu perusahan kerabat milik suaminya itu. Jun menggenggam erat tangan Minghao. Mencoba menguatkan istrinya itu.
Jisoo menatap datar Minghao dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas. "Lalu salah siapa kalau bukan suamimu?" Jisoo melangkah mendekati pasangan suami istri di depannya. "Kalian kan yang mengurus Soonyoung selama ini. Apa yang kalian ajarkan, eoh? Menculik anak orang kalau tidak direstui?"
Jun mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Sedangkan Jisoo masih saja berseru dengan nada merehkan. "Oh, apa kalian juga yang menyuruh Soonyoung membawa kabur Jihoon?" Jisoo kembali berseru marah. Kedua mata sipitnya dipenuhi kilatan amarah. "Katakan yang sebenarnya, dimana kalian sembunyikan Jihoon?"
Jun berdiri berhadapan dengan Jisoo. Menatap balik laki-laki sipit dihadapannya dengan menusuk. Kesabaranya sudah habis. "Sudah kukatan, aku tidak tau. Soonyoung yang membawa pergi, harusnya kau tanyakan pada Soonyoung, bukan padaku. Kau itu bodoh atau apa?"
Ucapan Jun berhasil membuat Jisoo melayangkan pukulannya di wajah tampan laki-laki Cina itu hingga tersungkur. Minghao langsung saja menghampiri suaminya, setelah memekik kaget. "Kau benar-benar menghabiskan kesabaranku, Wen." Namjoon langsung menarik tangan Jisoo begitu melihat pergerakan laki-laki sipit itu yang hendak memukul Jun lagi.
"Akan kucari sepupu sialanmu itu dan membuat perhitungan dengannya." Jisoo menghempaskan tangan Namjoon dengan kasar tanpa mengalihkan matanya dari Jun dan Minghao. "Dengar, aku tidak akan pernah melepaskan siapapun yang membawa pergi Jihoon dari jangkauanku." Seruan terakhir Jisoo sebelum laki-laki sipit itu keluar dari ruangan Jun dengan langkah lebar-lebar yang diikuti Namjoon dibelakangnya.
"Ge, gwenchana?" Minghao bertanya dengan khawatir selepas Jisoo dan Namjoon menghilang dari ruang kerja suaminya. Jun hanya mengangguk seraya menegakkan punggungnya. Tangannya langsung merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya, setelah itu mendial nomor yang sudah lama tidak dihubunginya. Lalu menempelkan layar ponselnya pada telinga.
"Yeoboseyo Dokyum-ah," pada dering ke tiga baru lah terdengar suara dari lawan bicaranya. Jun langsung saja menyapa dengan senyum tipisnya. "Bisa ke kantorku sekarang? Aku perlu bantuanmu."
~soonhoon~
Pukul setengah delapan lewat tujuh menit, kapal laut yang ditupangi Soonyoung dan Jihoon sudah sampai di sebuah pulau. "Yeoso-do. Siapa yang turun di Yeoso-do?" terdengar teriakan dari seorang pria setengah baya dari depan.
"Jihoon-ie, irona! Kita sudah sampai." Soonyoung menepuk-nepuk pelan pipi bulat milik Jihoon. Sejak mereka menaiki kapal, Jihoon langsung tertidur di pelukan Soonyoung. Menjadikan dada bidang Soonyoung sebagai bantal. Sedangkan Soonyoung hanya duduk menyender dinding dengan tangannya yang mengusap rambut atau menepuk lengan Jihoon.
Jihoon mengucek matanya. Mencoba untuk membuka kedua matanya yang terasa berat karena kepalanya pusing sekali. "Kepalaku pusing." Jihoon bergumam dengan suaranya yang serak. Membuat Soonyoung langsung memasang wajah khawatir dan bersalahnya.
"Mianhae Jihoon-ie. Setelah kita sampai di rumah Seungcheol Hyung, kau bisa beristirahat. Tahan sebentar lagi ya." Jihoon hanya mengangguk dengan senyum lemasnya. "Aku akan minta Jeonghan Nuna memasak sup." Soonyoung mulai bersiap dengan tas milik mereka, lalu menggendong Jihoon di punggungnya begitu kapal berhenti bergerak. Setelah mendengar suara pria paruh baya yang menyuruh penumpang tujuan Yeoso-do turun, Soonyoung mulai melangkahkan kakinya keluar dari kapal diiringi dengan suara Jihoon yang bercerita bagaimana bahagiannya dia bersama Soonyoung saat ini. Soonyoung hanya memasang senyumnya dan sesekali membalas ocehan kekasihnya.
"Welcome to Yeoso-do, Jihoon-ie."
hai hai /lambai lambaiin tangan dengan wajah polos/
udh berp lama ga update ya hmmm
maafkeun yaaaa
kusedang menikmati menjadi seorang mahasiswi yang sok sibuk wkwkwkwk
alesannya sih tugas numpuk padahal sih ya males ngelanjutin wkwkwkwwkk
duh malah buka aib
aku juga ikutan lomba dan dibukuin yaahhh walaupun ga menang tapi ya gapap yg penting ada bukunya
udh ah mau lanjut bikin tugas untung keingetan ini ff ditengah tengah frustasinya tugas komunikasi kelompok
jangan lupa review yaaa
kusedih liat review sedikit tapi yg baca lumayan hmmm \
oh iya kupunya banyak ide di otak ini
kuada ide mau buat ff yg terinpirasi dari lagunya btob yg i'll be your man kusuka sekali itu lagu, ini ff ttg gangsta gangsta gitu deh dan bakalan angst, menurut kalian mau couple siapa yg main udh pasti sih ada soonhoon di sini bikos i love soonhoon so much yaahhh walaup[un kusuka uji dipasangin sama siapa aja.. ayo yg mau req couplenya kusudah ada coretan alurnya..
kujuga sedang proses bikin ff seokhoon sama junhoon entah kenapa lagi demen junhoon... ditunggu aja \
beneran udahan ah cuap cuapnya
oke last review juseyong /buing buing bareng chan/
