Disclaimer: Aku hanya meminjam karakter manga saja, bahkan tanpa ijin.
Genre: Adventure and hurt/comfrot.
Rate: M
Jika tidak suka jangan dibaca, ok?
Aku tidak pernah meminta lebih dari ini. Aku hanya meminta sebuah kebebasan dan sedikit biaya untuk hidup. Tapi ini sedikit berlebihan dia -Sirzechs- memberikan uang terlalu banyak, bahkan dengan uang ini aku mungkin bisa membeli tujuh gedung apartemen sekaligus. Tapi aku tak perduli dengan hal itu yang penting dia sudah membayarku dan sedikit menepati kesepakatan. Sedikit? Ya, hanya sedikit. Dia tak mampu memenuhi beberapa keinginanku, seperti mengembalikan aku menjadi manusia lagi. Dia bilang hal tersebut mustahil dan tidak mungkin bisa.
"Jika begitu aku ingin sebuah ke bebasan."
Sirzechs melihat ku dari tempatnya duduknya. Saat ini aku berada di ruangan kerja Sirzechs di kediaman Gremory. Ini sudah dua hari pasca aku mengalahkan Raizer dalam acara pertungan Rias.
"Kebebasan? Kebebasan seperti apa yang kau inginkan?"
Aku menatapnya datar.
"Aku tidak ingin terikat dengan kelompok Rias."
Sirzech menggelengkan kepalanya. Kenapa lagi dia?
"Itu tidak bisa, seorang bidak memang harus terikat dengan kingnya dan menuruti perintah kingnya. Jika seorang bidak tidak menuruti atau membangkang dari kingnya maka akan di anggap iblis liar."
"Jadi pada intinya kau tidak bisa menyanggupi permintaanku. Ck, kau bahkan sebagai seorang pemimpin tidak bisa melakukan apapun."
Dia tersenyum mendengar ucapan atau lebih tepatnya ejekkan dari ku. Dia benar-benar menyebalkan.
"Maafkan aku itu sudah menjadi aturan dari sistem evil piece. Aku tidak dapat merubah sesuatu yang sudah di tentukan, jika aku melakukan hal itu maka akan ada ke kacauan di sistem evil piece dan aku tidak ingin hal itu terjadi."
"Jadi kau lebih mementingkan hal itu di bandingkan kesepakatan yang telah kita buat. Ternyata benar, iblis memiliki sifat yang licik."
Aku mengeluarkan KI milikku di ruangan ini. Sirzechs masih terlihat tenang di tempatnya duduk, tapi walaupun begitu aku tau jika dia sedikit bergetar merasakan KI milikku namun masih bisa di imbangi dengan aura demonicnya. Ruangan ini jadi terasa berat saja.
Brakk!
Pintu terbuka dengan sedikit paksaan dari luar, para penjaga memasuki ruangan yang ku tempati saat ini. Grayfia muncul dari belakang para penjaga dengan raut wajah datarnya, tapi ada sedikit rasa kuatir di sana. Dia memandangku dan Sirzechs.
"Maaf jika saya mengganggu, tapi kami merasakan hawa mengancam dari sini. Kami pikir ada yang ingin menyerang Maou-Sama."
Grayfia berbicara dengan tenang, tapi dia menatap ku tajam.
Sirzech tersenyum kearah Grayfia.
"Ah Grayfia, tak perlu bersikap seperti itu dengan suamimu ini dan kau tenang saja kami tadi hanya sedikit mengalami gangguan."
Grayfia memandang kami sekali lagi.
"Kalau begitu kami pergi dulu dan maaf telah mengganggu anda."
Grayfia menunduk sekilas dan pergi bersama para penjaga tak lupa menutup pintu.
Senyum di wajah Sirzechs menghilang dalam sekejap. Dia lalu menatapku dengan pandangan datar.
"Bisakah kau menurunkan KI mu, Naruto-san."
Aku tak lantas menuruti perintah Sirzechs dan masih mengumbar KI milikku.
"Jika kau tak menghilankan KI milikmu, kau akan mengundang banyak iblis lagi."
Aku mendengus kesal dan segera menghilangkan KI milikku.
Sirzechs kembali memasang ekspresi tenang dan tersenyum kearah ku lagi.
"Begitu lebih baik."
Sirzechs memperbaiki posisi duduknya.
"Sebenarnya ada satu cara agar kau bisa bebas dari Rias-chan, yaitu kau harus menjadi iblis kelas atas terlebih dahulu dan memiliki evil piece sendiri."
Aku hanya diam dan mendengar kan penjelasannya.
"Aku yakin dengan kemampuanmu saat ini kau bisa menjadi iblis kelas atas dengan mudah."
"Lalu, bagaimana caranya aku bisa menjadi iblis kelas atas?"
"Cukup mudah, kau hanya perlu membuat kontrak dengan banyak manusia dan aktif mengikuti rating game dengan kelompok Rias."
Mudah dia bilang? Itu hal yang sangat merepotkan bagiku.
"Itu terlalu merepotkan, apa kau tak bisa saja langsung memberikan evil piece padaku."
Dia menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak bisa, karena itu akan menyalahi aturan."
Ck, pembicaraan ini tidak menemukan titik jalan keluarnya. Dia hanya memutar-mutar pembicaraan ini saja.
"Kalau aku mempunyai evil piece, apa aku sepenuhnya bebas dari Rias?"
"Tidak juga, kau masih terikat pada Rias karena dia adalah kingmu. Walaupun kau menjadi king tapi kau tetaplah pion dari Rias."
Jadi pada dasarnya aku akan tetap menjadi budaknya Rias? Lalu buat apa aku memiliki eviel piece? Apa dia hanya mempermainkanku saja?
Aku berdiri dari tempat ku duduk dan menatap Sirzechs dengan pandangan datar. Dan dalam waktu satu detik sebuah Rasengan sudah tercipta di tanganku.
Blarrr!
Ku hantamkan Rasengan buatanku kemeja tepat di hadapan Sirzechs hingga meja itu hancur berkeping-keping. Dia masih duduk tenang di tempatnya, hal itu membuat aku semakin muak dengannya.
"Bagaimana jika aku membunuh seorang Maou? Apa aku bisa langsung mendapatkan kebebasan?"
Aku mengatakan hal itu dengan KI yang ku keluarkan lagi. Persetan jika para iblis datang ke sini lagi.
"Kau akan selalu di kejar para iblis di seluruh Underword ini dan kau tak akan pernah mendapat kebebasan yang kau inginkan."
Sirzechs mengucapkannya dengan tenang, seolah perkataanku tadi hanya sebuah lelucon buatnya.
Ku tatap wajah Sirzechs dengan kedua mataku yang telah berubah menjadi Sharingan dan Sharinnegan. Dapat ku lihat tubuhnya sedikit menegang.
"Kau harus tahu berurusan dengan siapa Sirzechs. Aku tak akan segan jika kau mempermainkan aku lagi."
Ku ucapkan itu semua dengan nada dingin. Aku tak perduli jika dia seorang pemimpin, aku tak peduli harus menjadi buronan para iblis, yang aku inginkan hanya sebuah kebebasan bukan di permainkan seperti ini.
Sekarang bukan hanya Grayfia dan para penjaga, tapi juga ke tiga Maou ikut datang ke dalam ruangan ini. Aku mendengus sesaat dan berjalan melewati mereka meninggalkan pertanyaan yang mungkin ada di kepala mereka.
.
Aku mengendari mobil porche dengan kecepatan sedang. Setelah insiden pengancamanku pada Sirzechs beberapa hari lalu, kini aku kembali menjalani hidup yang membosankan ini. Ku hentikan mobilku saat lampu merah, pandanganku beralih menatap keluar kaca mobilku tanpa sengaja aku melihat seorang anak kecil yang di marahi oleh seorang penjual karena di anggap pengganggu para pelanggan padahal anak itu hanya berdiri di depan kios buah itu sambil memegang perutnya, sepertinya dia kelaparan.
Sebuah ingatan terlintas di kepalaku, ingatan yang mengungkit masa kecilku, masa yang sangat kejam untuk seorang anak yang hidup tanpa kedua orang tuanya, dibenci oleh banyak orang, dianggap monster dan diperlakukan selayaknya sampah. Aku memejamkan mataku dan aku tersenyum saat sebuah ingatan melintas di kepalaku. Tapi walaupun kehidupanku buruk aku tetap senang, karena ada kakek Hiruzen, paman Teuchi dan kak Ayame. Tapi semakin aku tumbuh besar semakin banyak juga yang mulai mengakui keberadaanku. Sasuke, Sakura, Kakashi-sensei, Ero-sennin, nenek Tsunade dan pada akhirnya semua orang menerima dan mengakui keberadaanku diantara mereka.
Tin tiiin...
Suara klakson menyadarkanku, aku segera memacu mobilku menuju sekolah yang sudah ku masuki beberapa minggu lalu. Sebenarnya aku bingung, kenapa juga aku sekolah? Tapi mengingat tidak ada hal ku lakukan akhirnya aku mengisi waktuku dengan sekolah, siapa tahu dengan kesibukan sekolah aku bisa sedikit menghilangkan beban pikiranku dan melupakan sejenak semua masalah yang selama ini menimpaku.
Aku menatap kelompok iblis yang saat ini menghadangku. Setelah memarkir mobil tadinya aku hendak langsung pergi ke kelas tapi, karena ada beberapa iblis menghadangku jadilah aku di sini sekarang.
Sona maju lebih depan dari yang lainnya, dia membenarkan kaca matanya.
"Naruto-san bisakah kau mengikutiku keruangan klub penelitian ilmu gaib?"
Aku memandang Rias yang juga memandangku. Pandangan kami bertemu dan dia langsung menundukkan kepalanya. Tatapanku beralih ke Sona yang masih menatapku datar.
"Aku tidak mau."
Aku berjalan melewatinya, langkahku terhenti lagi karena Rias mencekal pergelangan tanganku. Aku menatap Rias dengan tatapan dinginku. Dia balas menatap ku dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"A-aku mau mengucapkan terima kasih, karena kamu telah menggagalkan pertunganku dengan Raizer."
Dia lalu tersenyum manis kearahku, senyum yang terlihat tulus tidak seperti senyum sebelumnya.
"Jadi aku ingin melakukan sedikit perayaan dan aku ingin kau hadir."
"Aku tidak ingin hadir."
Aku melepas pegangan tangan Rias secara paksa.
"Tapi Bochou memaksa."
Kiba menghadang jalanku dengan senyum yang selalu menempel di wajahnya. Kenapa banyak orang yang suka sekali tersenyum palsu? Hal itu membuatku mengingat seseorang. Seorang pemuda yang memiliki kulit pucat, suka bicara ceplas ceplos tanpa memikirkan suasana di sekitarnya, dan seorang pemuda yang selalu tersenyum. Sai, pemuda mantan anggota Root dan teman sekaligus anggota kelompok tim tujuh pengganti kekosongan Sasuke.
Aku menatap mata pemuda pirang di depanku dan aku tau bahwa pemuda di depanku ini menyimpan sebuah masalah yang cukup mendalam. Tanpa di sadari oleh semua orang aku mengatifkan mata sharingan ku dan memasuki ingatan kiba tanpa di ketahuinya. Begitu rupanya, sekarang aku tahu masalah Kiba.
Aku menepuk pundak Kiba dan mensejajarkan kepalaku di samping kepalanya. Ku bisikkan kata-kata yang cukup kasar padanya.
"Apa yang bisa kau lakukan hmm? Kau bahkan tak bisa melindungi teman-temanmu sehingga mereka mati. Kau lemah, kau begitu lemah sampai tak bisa melindungi teman mu." Kata-kata ini juga barlaku untukku sendiri yang tidak bisa melindungi teman-temanku di medan pertempuran. "Kau seharusnya mengikuti teman-teman mu. Seharusnya kau malu dengan dirimu sendiri." Seharusnya aku juga bersama dengan teman-temanku tapi karena Rias aku berakhir hidup sebagai iblis.
Dapat kurasakan bahunya menegang, mungkin dia merasakan gejolak emosi berat. Aku menjauhkan kepalaku dan melihat Kiba yang berdiri mematung dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Dan tanpa mereka sadari aku sudah berada jauh dari mereka.
.
Ah, ini hangat sekali. Aku memejamkan mataku saat merasakan air hangat menerpa seluruh tubuhku. Sudah lama sekali aku tidak melakukan hal ini semenjak perang dunia Shinobi ke 4. Aku jadi ingat waktu mengembara bersama Ero-Sennin, aku sering di ajak ke Onsen dan mengintip para wanita yang sedang berendam. Dan pada akhirnya kami keluar dengan wajah babak belur di hajar oleh para wanita karena ketahuan mengintip. Hahaha... Sebuah hal yang sangat konyol. Apapun bisa terjadi jika bersama Ero-Sennin, Gamma Sennin yang memiliki sifat sangat mesum. AKu tersenyum saat mengingatnya.
"Hmm, di sini benar-benar nyaman."
Aku tersentak ketika mendengar suara yang cukup familiar di telingaku. Aku segera membuka mataku dan yang kulihat pertama adalah seorang gadis berparas cantik memiliki rambut berwarna pink dan mata emerald sedang nyengir kearahku. Untuk sesaat otak ku mengalami blank, hingga...
"Huaa! Apa yang kau lakukan di sini?" Aku memundurkan tubuhku hingga menyentuh pinggiran bak mandi yang aku tempati ini. Kenapa dia bisa berada di sini? Seperti itulah isi pikiranku saat ini.
Moka menaruh telunjuknya di bawah bibirnya sambil memasang pose berpikir. Dia terlihat err... entahlah aku sulit untuk mendeskripsikannya.
"Tadinya aku sedang nonton tv, tapi karena bosan jadi aku mencarimu dan di sinilah aku sekarang."
Dia mengakhiri penjelasan anehnya dengan senyum lebar.
"Bukankah aku sudah memberimu apartemen, kenapa kau masih saja mengikutiku?"
Sungguh, aku merasa sangat terganggu dengan kehadirannya. Dia sudah merusak suasana tenangku. Tapi, walaupun begitu aku merasa sedikit senang dengan kehadirannya. Apa yang aku pikirkan? Aku menggelengkan kepalaku pelan. Aku sudah menyakinkan diriku sendiri untuk tidak terikat hubungan dengan semua orang.
Aku kembali melihat Moka yang mengerucutkan bibirnya, untuk sesaat aku menahan napasku dia terlihat benar-benar... Menyebalkan.
"Mou, kau tidak asik Naruto-kun. Aku kan sudah jauh-jauh datang kesini dan kau menyambutku seperti ini."
Aku merasa ada kedutan di keningku. Jauh dia bilang? Dia hanya terpisah tiga ruangan dariku dan dia bilang jauh.
"Lagi pula aku kangen dengan Naruto-kun. Aku tidak bisa jauh dengan Naruto-kun."
Dia mendekat ke arahku dan memandang ku dengan pandangan sayu. Apa-apaan pandanganmu itu?
"Dan aku sangat menyukai darah Naruto-kun."
Dia menggigit leherku dan dapat kurasakan darah ku sedikit demi sedikit terhisap, rasanya benar-benar enak. Eh, apa yang aku pikirkan? Aku mendorong tubuh Moka menjauh dariku.
"Ah..."
Aku mengerjapkan mataku saat merasakan sensasi lembut di ke dua tanganku, karena aku penasaran akhirnya aku meremas benda lembut itu lagi.
"Ah..."
Moka kembali mendesah, aku menunduk melihat ke dua tangan ku. Aku merasa semua darahku mengalir ke wajahku. Aku kembali menatap wajah Moka, dia terlihat mengigit bibir bawahnya dan wajahnya terlihat memerah. Sadar akan posisi yang cukup erotis ini aku melepaskan tanganku pelan-pelan. Aku melihat wajah Moka yang masih memerah, namun ada yang berbeda sedikit dengan rambutnya. Rambutnya berubah menjadi putih, ada apa dengan rambutnya?
"He-hentai!"
Buakh!
Boom!
.
Aku mengusap pipiku yang masih terasa nyeri akibat pukulan Moka tadi sore. Ku tatap dia yang sedang memakan ramen dengan lahap, tatapanku beralih ke payudara Moka dan wajahku entah mengapa terasa memanas. Sensasi itu masih dengan jelas terasa saat ini benar lembut dan...
Shit! Aku mengumpat di dalam hati, kenapa pikiranku jadi seperti ini. Aku menggelengkan kepalaku agar fantasi liar tadi menghilang dari otakku. Moka mendongak dan menatapku dengan cengiran lebar di wajahnya.
"Hehehee... Maaf atas kejadian tadi sore. Aku tidak sengaja."
Aku menatapnya datar. Tidak sengaja dia bilang, bahkan pukulannya seperti monster tembok apartemenku saja sampai jebol.
"Lagi pula kenapa kau meremas payudaraku."
Apa dia tidak bisa menjaga mulutnya? Beberapa orang menghentikan acara makannya dan beralih melihat kami berdua. Aku menutup sebelah wajahku dan menundukkan kepalaku. Aku sudah pusing dengan sifat Moka ini.
"Eh... Kenapa kau seperti itu? Jika kau mau, kamu boleh kok meremasnya lagi. Tapi biarkan aku tinggal denganmu."
Crroot... Croott...
"Uwoohhh!"
Sekarang kedai ramen ini penuh darah dan teriakan histeris dari semua pelanggan laki-laki. Aku menjedukkan kepalaku di meja dan menenggelamkan wajahku di kedua lipatan wajahku.
"A-apa kau ingin kita melakukannya di sini?"
Aku segera mengangkat kepalaku dan menatap wajah Moka yang bersemu merah. Entah kenapa aku jadi merinding mengingat pukulan Moka, dia benar-benar mirip Sakura. Aku memandang kesekeliling dan ku lihat para laki-laki menatap kami dengan hidung kembang kempis dan sesekali mengusap darah yang terus menetes dari hidung. Aku mendengus sesaat dan berdiri dari tempat dudukku. Ku tarik tangan Moka agar dia mengikutiku berdiri. Aku merogoh beberapa lembar uang dan ku taruh di atas meja.
"E-eh aku belum selesai makan Naruto-kun."
Aku menghiraukan pekikan kaget Moka dan terus menariknya keluar dari kedai. Setelah cukup jauh dari kedai ramen aku melepas pegangan tangan ku pada Moka. Aku menatap Moka dengan pandangan datar.
"Kenapa kau menarikku keluar dari kedai, kan aku belum selesai makan."
Moka menyedikapkan tangannya di bawah pa-payudaranya. Sial, ingatan itu muncul lagi saat aku menyangkut payudara. Dia memasang ekspresi sebal dan menolehkan kepalanya kesamping menghindari tatapanku. Hmm... Apa dia marah padaku? Aku mengendikan bahuku tak perduli dan berbalik meninggalkannya yang masih ngambek.
"Eh!"
Moka berlari mengejarku dan berjalan di sampingku. Dia mengatur napasnya dan memandang ku dengan ekspresi sebal.
"Kenapa kau suka sekali meninggalkanku?"
Aku tak menjawab pertanyaannya dan terus berjalan kedepan. Tiba-tiba Moka menarik tanganku dan memasuki sebuah kedai yang menjual Sushi. Sebelum sempat aku protes Moka sudah mengajakku duduk dan memesan makanan. Aku hanya menghela napasku lelah dan mengikuti permintaan Moka.
Hari sudah larut malam dan kami berdua belum juga kembali ke apartemen.
"Hah... Hari ini benar-benar melelahkan."
Moka berjalan dengan lesu di sampingku. Sesekali dia menghela napas dan hal itu membuatku sebal.
"Bisa tidak kau berhenti melakukan hal itu."
Moka memandang ku dengan ekspresi sangat buruk di wajahnya.
"Aku lelah Naruto-kun. Aku ingin cepat sampai di apartemen dan segera tidur."
Salahkan dirimu yang sejak tadi terlalu lama menonton bioskop.
"Aha!"
Aku menatap Moka yang memasang ekspresi ceria, haahh... Moodnya mudah sekali berubah-ubah.
"Bagaimana jika Naruto-kun menggendongku?"
Dia menatap ku berbinar-binar.
"Tidak."
"Ayolah..."
"Tidak."
"Ayolah Naruto-kun."
Dia menatap ku dengan wajah berharap dan mata berkaca-kaca. Aku tidak akan tertipu lagi.
"Tidak."
"Hiks.."
"Itu tidak akan mempan lagi denganku."
"Mou, ayolah Naruto-kun."
Dia menarik-narik tanganku dan menguncang tubuhku.
"Sekali tidak, ya tidak."
Dan selama perjalanan pulang kami di warnai perdebatan yang tidak penting.
Aku menghentikan langkahku saat merasakan perasaan tidak asing ini. Hal itu juga membuat Moka menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
Aku tak menjawab pertanyaan Moka dan lebih memfokuskan instingku untuk mencari aura yang cukup familiar untukku ini. Tidak salah lagi ini pasti dia. Tanpa sadar aku tersenyum. Aku berlari menuju tempat aura itu berasal.
"Eh, mau kemana kau Naruto-kun?"
Aku berhenti sejenak dan mengambil kunai cabang tiga peninggalan ayahku dari fuin di lengan kiriku dan melemparkannya ke Moka.
"Bawa itu."
Sebelum Moka bertanya lagi aku sudah berlari menjauh keasal aura yang kurasakan ini. Bolehkah aku berharap? Aku menambahkan Chakra ke kakiku dan mempercepat laju lariku. Sekali ini saja, bolehkah aku berharap lagi? Aku berlari melewati gedung-gedung yang menjulang tinggi. Aku terus berlari hingga memasuki area hutan. Bolehkah aku berharap jika ini adalah temanku, teman yang sejak lahir telah menemaniku, teman yang selalu ada untukku...
"Kurama."
TBC
Apa? Ngegantung? Wordnya sedikit?
Maaf maaf, saya sudah bilang bukan. Saya tidak janji bisa bikin fict yang sesuai harapan kalian. Saya hanya menuangkan ide yang ada di pikiran saya dan semoga ini cukup untuk menghibur kalian. Lagi pula saya ini author yang baru-baru ini membuat fict alias newbie.
Saya ucapkan terima kasih sudah mau memberi Review, saran dan membenarkan beberapa typo yang bertebaran. Kadang memang pembaca lebih teliti di bandingkan dengan penulis itu sendiri, saya memaklumi hal itu.
Hmm, kemarin ada yang bertanya apa Naruto sudah menerima menjadi iblis? Jawabannya tidak, tapi mengingat dirinya sudah terlanjur menjadi iblis jadi Naruto hanya mengikuti jalan hidupnya. Kalian pasti berpikir Naruto mata duitan, hahahaa... Bukan begitu, Naruto itu pendatang baru di dunia dxd dan tidak memiliki apa-apa jadi wajar saja jika Naruto meminta bayaran toh Ninja juga seperti itu. Tidak ada misi tanpa bayaran.
Yah, hanya itu saja yang mau saya sampaikan. Oh ya, NJH akan up hari rabu.
.
.
.
.
Sampai jumpa lagi...
