Kekasih?

Disclaimer: Masashi Khisimoto

Rated: T

Pair: Sasuke U-Sakura H

Summary:

Bagaimana jadinya kalau Ino meminta Sakura untuk menjadi kekasihnya semata-mata hanya untuk membuat mantannya cemburu? Padahal Sakura sendiri adalah seorang wanita?

Warming:

Alur kecepetan, OOC, no yuri, cerita gak jelas, dan laih-lain.

.

.

.

~OoO~

.

.

.

Hinata POV

Aku terdiam dalam kelasku sambil menatap hujan. Aku lupa membawa payung sehingga sekarang aku terjebak hujan. Kalau begini, bisa-bisa aku harus diam di sekolah hingga 1 atau 2 jam lagi, mengingat hujan kali ini yang sangat deras. Aku mengalihkan perhatianku menuju koridor kelasku.

Kosong.

Sama sekali tidak ada murid yang berlalu-lalang. Terang saja, bel pertanda pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu, jadi mana mungkin ada murid yang masih diam di sekolah sambil menatap hujan sepertiku. Ahh~ Andai saja Naruto-kun ada di sini, paling tidak dia pasti mau menemaniku. Sayangnya sekarang dia ada urusan keluarga, jadi tidak bisa menemani atau pun mengantarku pulang.

"Sepertinya aku memang harus menunggu," kataku lemah. Sekali lagi aku memperhatikan koridor, masih sama seperti tadi. Koso— eh? Tidak! Sekilas aku melihat seorang pemuda berambut pink melewati koridor ini.

"Pink? Apa itu Saki-kun?" dengan cepat aku mengambil tasku dan berlari keluar kelas. Yah~ setidaknya dengan ada Saki-kun, aku tidak kesepian lagi.

Aku melihatnya. Saki-kun sedang berdiri di parkiran dekat motor Kawasaki Ninja berwarna merah, yang aku tau itu adalah miliknya. Aku semakin mempercepat lariku, karena tentunya aku tidak lebih basah dari yang sekarang ini dan juga ingin segera menemui Saki-kun.

"Saki—" baru saja aku hendak memanggilnya, seorang gadis cantik berambut pirang panjang sudah lebih dulu menghampiri Saki-kun. Tanpa sadar, tiba-tiba aku menghentikan lariku.

Deg.

Aku membelalakkan mataku saat melihat gadis berambut pirang— yang aku tau namanya Yamanaka Ino, mencium pipi Saki-kun. Sakit sekali melihatnya. Rasanya seperti melihat pacar yang sedang berselingkuh didepan matamu. Padahal Saki-kun bukanlah pacarku, kenal saja baru kemarin. Mataku rasanya sangat panas, dan siap menumpahkan isinya. Dengan cepat aku meninggalkan parkiran sebelum Saki-kun melihatku menangis tanpa sebab.

.

.

~OoO~

.

.

Saat aku sadar, aku sudah berada di taman dimana aku pertama kali bertemu dengan Saki-kun. Dengan lemah aku berjalan menuju pohon apel yang ada didekatku. Saat sampai, aku langsung menjatuhkan diriku, dan menangis sekencang-kencangnya.

Mengapa aku harus menangis? Apa sebabnya aku menangis? Aku tidak tau. Yang aku rasakan hanyalah rasa sakit yang memenuhi rongga dadaku.

"Hikss.. hikss.. Saki-kun~" aku terus menangis, menumpahkan segala rasa sesak di dadaku. Aku tak habis pikir, mengapa aku harus merasa sesak? Mengapa? Dan kenapa cinta pertamaku harus kepada seseorang yang bahkan sudah memiliki kekasih. Aku benar-benar manusia hina.

"Kenapa.. hikss.. kenapa semua ini harus terjadi?!" air mataku masih tetap menetes. Aku menundukkan kepalaku, entah apa yang harus aku lakukan sekarang, " Aku bahkan tega menyakiti Naruto-kun.. hikss.. Naruto-kun~ dia begitu baik padaku. Meskipun dia tau aku tidak pernah mencintainya, tapi dia tetap mau menerimaku apa adanya. Dan sekarang, aku malah membalas kebaikkannya dengan kepahitan. Hikkss, Kami-sama,, apa yang harus aku lakukan?"

End Hinata POV

Hinata masih tetap menangis, bahkan untuk sekedar mendengar pun rasanya dia sudah tidak sanggup lagi. Sampai Hinata tak menyadari, bahwa sedari tadi Naruto mendengar semua yang ia ucapkan. Semuanya.

Tapi Naruto hanya diam, menunggu hingga Hinata menyelesaikan perkataannya. Tentu saja Naruto merasa sakit hati, tapi dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Hinata. Semua ini juga salahnya yang dari dulu mencintai Hinata, sahabatnya sejak kecil. Bahkan Narutolah yang memaksa Hinata untuk menjadi kekasihnya, meskipun Naruto tau bahwa Hinata tidak mencintainya. Dia mendua bahwa suatu saat nanti Hinata akan membalas perasaannya. Namun ternyata Naruto salah, Hinata sama sekali tidak mencintainya. Perhatian yang selama ini Hinata berikan untuknya semata-mata hanyalah rasa sayang Hinata kepada Naruto sebagai sahabat, tidak lebih.

Dan sekarang, Naruto harus menelan kekecewaan yang mendalam, cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak mau berlama-lama bersembunyi, akhirnya Naruto berjalan menghampiri Hinata. Tentunya dengan wajah ceria seperti biasa, meskipun dalam hati dia sudah menangis.

"Hinata…" panggil Naruto mengejutkan Hinata. Dengan cepat Hinata menoleh kearah suara, dan langsung terkejut mendapati Naruto ada di taman ini juga.

"N-naruto-kun?" tanya Hinata kaget. Dia tidak menyangka bahwa Naruto ada disini. 'Apa Naruto-kun mendengar apa yang aku ucapkan tadi? Kami-sama~ semoga saja tidak.. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dari ini..' batin Hinata khawatir.

Naruto tentu saja menyadari kekhawatiran Hinata akan dirinya, namun ia sudah memutuskan, apapun yang terjadi Naruto sudah siap untuk…..

"Aku sudah tau semua Hinata, dan sebaiknya kita akhiri saja kepalsuan ini"

… merelakan Hinata.

"T-tapi N-naruto-kun.."

"Tidak apa Hinata, aku tidak apa-apa. Percuma jika kau bersamaku tetapi hatimu tidak memilihku. Sebaiknya aku melepaskanmu dari jeratanku ini. Aku- aku membiarkanmu bebas sekarang, Hinata.."

"Naruto-kun~" ujar Hinata memandang Naruto sendu. Naruto, pemuda baik hati yang rela berkorban untuknya. Jika memang Sakura sudah tidak bisa jadi miliknya, mengapa tidak mencoba merlakannya seperti apa yang dilakukan oleh Naruto. Ya, Hinata akan mencobanya.

"Ya, aku memang tidak mencintai Naruto-kun. Aku memang mencintai Saki-kun. Tapi kau harus tau satu hal Naruto-kun, bahwa Saki-kun tidak akan pernah bisa menjadi milikku. Dia sudah dimiliki oleh Yamanaka-san, dan aku tidak akan merusak hubungan mereka." tiba-tiba Hinata merasakan sesak didadanya, namun ini memang sudah keputusannya dan Hinata tidak akan menyakiti Naruto lagi. Dengan tegas, Hinata menatap Naruto,"Jika Naruto-kun bisa merelakan perasaan Naruto-kun padaku, mengapa aku tidak? Naruto-kun, a-aku memang tidak mencintaimu, t-tapi aku ak-akan berusaha untuk mencintaimu," Naruto terkejut mendengar perkataan Hinata. Sungguh ini diluar dugaannya, dan ini sangat membahagiakan. Maka dengan cepat Naruto memeluk Hinata erat.

"Hinata~"

.

.

~OoO~

.

.

Hari senin memang hari yang sibuk bagi Sakura, tapi itu sudah biasa. Juga dengan teriakan para gadis-gadis di sekolah juga biasa. Gangguan dari seorang Yamanaka Ino juga sudah biasa, bahkan melihat seseorang dari masa lalu juga sudah bia—

Tunggu? Seorang dari masa lalu?

Tiba-tiba saja Sakura menghentikan langkahnya menuju kelas dan malah mengucek matanya yang sama sekali tidak gatal, berusaha mempertajam pandangannya. Sakura tidak salah lihat kan, baru saja dia melihat seorang berambut hitam klimis berjalan santai menuju ke arahnya. 'D-dia… Kenapa bisa ada di sini? Kami-sama, semoga dia tidak melihatku~' doa Sakura dalam hati. Namun sepertinya doa Sakura tidak terkabul, buktinya seseorang tadi berjalan kearahnya sambil tersenyum.

"Yo, Saki!" ujar orang itu sambil melambaikan tangannya pada Sakura. Sakura? Dia masih setia dengan bengongnya, berusaha menerima kenyataan bahwa dewi Fortuna sekarang tidak memihak padanya. Tapi, tunggu sebentar? Dia memanggil Sakura apa?

'Hhhhh, beruntung dia tidak mengenaliku. Ternyata sifat tidak pekanya masih juga ternyata, baguslah..' batin Sakura senang. Bahkan sekarang dia sudah tersenyum lega, yang membuat laki-laki di depannya mengernyit bingung.

"Halooo, ada orang disana?" tanyanya sambil melambaikan tangan di depan wajah Sakura. Namun sama sekali tidak ada respon yang berarti. Duhh~ Niatnya kesini kan untuk menyapa Sakura dan sedikit berbasa-basi, tapi kenapa yang didapatnya sekarang malah wajah Sakura yang bengong dengan senyum aneh di wajahnya? Apa dunia sudah mulai kiamat?

Dengan berani dia menepuk bahu Sakura, dan ternyata Sakura akhirnya sadar dari alam imajinasi (lamunan), sodara-sodara!

"Ah- ahh iyaa, ada apa?" tanya Sakura kaget. Namun saat ia memalingkan wajahnya, yang ia lihat sekarang adalah tatapan mengintimidasi dari seseorang didepannya. Gawat! Kalau sampai ini terjadi lebih lama, maka hancurnya segalanya.

"Sakiiiiii-kunnnnn!" dan untuk pertama kalinya, Sakura bersyukur dengan teriakan dari seorang Yamanaka Ino yang sudah menyelamatkannya. Dengan segera dia menggandeng Ino lalu pergi dari tempat laknat itu.

Sedangkan Ino dan orang itu hanya bisa mengernyit bingung dengan tingkah aneh Sakura.

'Kenapa dengan anak ini?' batin keduanya bersamaan.

.

.

~OoO~

.

.

Setelah kejadian aneh bin langka tadi, Sakura segera pergi menuju kelasnya, setelah mengantar Ino ke kelasnya sendiri tentunya. Segera saja Sakura menuju bangkunya yang letaknya tak jauh dari pintu, hanya beda dua bangku saja. Kebetulan juga tempatnya duduk dekat dengan jendela yang menghadap taman, jadi sekalian bisa sambil rilex sejenak. Namun apa yang diharapkannya tidak berjalan dengan mulus. Saat akan melewati bangku didepan tempat duduknya, dimana seorang Uchiha Sasuke duduk disana, sebuah kaki menghalangi jalannya. Untunglah Sakura memiliki reflek yang bagus sehingga dia tidak jatuh terjebab.

Sakura melirik si pelaku dengan tajam. Sedangkan si pelaku yang tak lain adalah Sasuke sendiri hanya bisa mendecih kesal. Usahanya untuk mempermalukan Sakura gagal total. Hmm, sepertinya kau harus mengambil rencana B, Sasuke hahaha.

"Ku kira seorang Uchiha adalah keluarga yang sangat menjaga sopan santunnya, tapi ternyata, ckckckck. Bahkan Uchiha satu ini tidak tau bagaimana caranya duduk dengan benar, sampai-sampai kakinya 'berseliweran' kemana-mana!" kata Sakura sambil kembali berjalan menuju bangkunya. Ia merasa puas sekali bisa mengerjai Sasuke kali ini, bahkan mempermalukannya. Rencananya yang mau mempermalukan Sakura, malah Sasuke yang dipermalukan. Senjata maan tuan, eh?

Beberapa siswa— atau semua (?) terkikik geli mendengar perkataan Sakura. Dan ini membuat Sasuke naik pitam. Namun saat kesabarannya sudah diambang batas, ingatan tentang membersihan toilet kembali menghantuinya. Sasuke mengurungkan niatnya untuk membalas perkataan Sakura. Tentunya Sasuke tidak mau membersihkan toilet yang jorok itu sekali lagi. Tidak, terimakasih! Sudah cukup saat itu saja dia mempermalukan dirinya sendiri dengan membersihkan toilet. Enak saja si Haruno itu mau mempermalukannya sekali lagi, meskipun kenyataanya sekarang dia sudah dipermalukan sih.

Sakura yang melihat wajah Sasuke seperti menahan pipis itu, hanya bisa menyeringai. Sungguh ini hari yang menyebalkan sekaligus menyenangkan untuknya. Mungkin lain kali dia akan kembali mengerjai Sasuke, hmm tidak biruk juga, haha.

Selang beberapa menit, seorang guru tampan tapi bermasker datang dan memulai pelajaran yang membosankan yakni sejarah. Bahkan seorang yang sangat rajin seperti Sakura pun juga bosan. Bayangkan saja, pelajaran sejarah ini sudah dihafalnya sejak dulu berkat otak encernya, dan sekarang dia harus mengulang mendengarnya kembali?! Yang benar saja! Tidak mengherankan jika Nara Shikamaru, seorang jenius di kelas sebelah selalu tidur setiap mata pelajaran sejarah atau bahkan di semua mata pelajaran. Yah, mungkin saja begitu.

Hampir saja Sakura tertidur jika saja bel penyelamat jiwa (?) itu berkumandang. Dengan penuh suka cita, Sakura menyambut jam istirahatnya dengan baik. Seolah ini adalah hari kebebasannya. Dengan cepat Sakura berjalan keluar kelas dan menuju tempat persembunyiannya, yakni taman belakang sekolah.

Sasuke sejak tadi terus memperhatikan tingkah Sakura. Yah~ memang terkesan dingin dan tidak bersahabat, tapi hal itu lebih menjerumus ke sifatnya yang terkesan kekanakan dan tertekan? Entahlah, Sasuke tidak mau tau. Buat apa? Dapat uang juga tidak, dan jikalau iya Sasuke sama sekali tidak butuh. Maka Sasuke hanya mendecih lalu berlalu meninggalkan kelas menuju tempatnya orang-orang lapar, tidak lain dan tidak bukan adalah kantin.

"Sebaiknya aku makan, daripada memikirkan bocah pink banci itu! Cihh, " dan Sasuke pun benar-benar pergi menuju kantin.

.

.

~OoO~

.

.

Di waktu yang sama, seseorang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Seseorang yang sama yang ditemui Sakura tadi pagi, dan kali ini orang ini pun juga melihat Sakura yang sedang berjalan ke suatu tempat. Karena penasaran, maka ia pun mengikuti Sakura.

Ternyata tempat yang dituju Sakura adalah taman. Namun taman ini terlihat sangat sepi dan sedikit kumuh, meskipun juga terlihat indah. Apalagi tempatnya tepat di belakang sekolah. Terlihat Sakura menuju sebuah bangku di tengah taman dan mendudukkan dirinya di sana. Dengan segera, ia menghampiri Sakura dan langsung menepuk pundak Sakura.

"Hey, Saki." sapanya pada Sakura. Namun anehnya, Sakura sama sekali tidak kaget. Mungkin ini karena faktor seringnya ia mendapat kejutan hari ini, makanya Sakura sudah kebal dengan kejutan (?)

"Kau lagi!" tuding Sakura pada seseorang di depannya. Orang itu hanya terkekeh pelan dan langsung mendudukkan diri disebelah Sakura. Sakura yang melihatnyapun merasa kesal.

"Ehm, aku Shimura Sai, kau Haruno Saki kan?" tanya orang itu yang ternyata bernama Sai kepada Sakura. Sedangkan Sakura hanya menganggukkan kepalanya. Lalu segera mengeluarkan headsetnya dan langsung memakainya. Tanpa Sakura sadari, sedari tadi Sai memperhatikannya setiap gerak-geriknya, seolah-olah sedang berusaha memastikan sesuatu.

'Orang ini mirib dengan Sakura. Apa jangan-jangan dia Sakura? Tapi masa Sakura cowo? Kau ini ada-ada saja,' batin Sai sambil menggeleng-gelenggkan kepalanya. Kembali Sai memperhatikan Sakura, seolah belum puas dengan pikirannya sendiri. Saat itulah dia melihat headset yang digunakan Sakura. Headset itu hanya ada satu di Jepang, atau mungkin di dunia. Karena yang membuatnya adalah Sai sendiri, dan Sai memberikannya pada sahabat karibnya bernama 'Sakura', sebagai hadiah kenang-kenangan atas kepindahan sahabatnya itu. Dan Sai tidak mungkin tidak mengenali headset hitam dengan lambang awan merah di tengahnya, headset yang sudah dibuatnya dengan susah payah khusus untuk sahabat tersayang.

'Tidak salah lagi, dia memang Sakura. Tapi kenapa Sakura menyamar menjadi laki-laki?' batin Sai lagi. Dengan penasaran yang sudah diujung tanduk, akhirnya Sai bertanya pada Sakura.

"Emm, kau… Sakura?"

Dan Sakura hanya bisa terkejut mendengar pertanyaan Sai.

.

.

~OoO~

.

.

Sedari tadi Ino mencari Sakura tapi tidak menemukannya. Padahal Ino sudah mencarinya ke seluruh sekolah. Mulai dari kelas Sakura, kantin, bahkan perpustakaan juga toilet. Tapi tidak juga menemukan Sakura. Justru ia malah bertemu dengan Sasuke di kantin, orang yang paling dihindarinya. Maka dari itu, Ino dengan cepat menuju kelasnya yang berada di sebelah kelas Sakura. Ia sudah lelah mencari Sakura. Namun saat berjalan menuju kelasnya, Ino melihat Sakura sedang bersama seorang laki-laki berkulit pucat dan mereka tertawa? Wah~ tumben sekali Sakura tertawa, mengingat kepribadian Sakura yang biasanya sangat dingin.

Tidak hanya Ino saja yang heran, bahkan murid lain pun juga sama. Bahkan lebih parah dari Ino yang hanya sekedar bengong saja, siswi lain bahkan ada yang pingsan hanya dengan melihat tawa dari seorang Sakura Haruno yang dikenal sebagai Saki Haruno. Benar-benar parah pesona Sakura ini.

Dengan cepat Ino segera sadar dari lamunannya, dan segera menghampiri Sakura, "Saki-kun~" panggil Ino manja. Sedangkan Sakura hanya bisa memutar matanya bosan, membuat Sai yang berada disebelahnya pun terkikik geli.

"Itulah resiko menjadi cewek tampan, jidat." Bisik Sai mengejek Sakura.

"Urusai, mayat!" balas Sakura tajam. Sedangkan Ino menatap heran kedekatan Sakura dengan laki-laki yang tidak dikenalnya ini.

"Emm, Saki-kun, dia siapa?" tanya Ino masih dengan nada manjanya. Mendengar pertanyaan Ino, Sakurapun memandang Ino heran. Lalu Sakura melirik Sai, seolah memastikan sesuatu, namun wajah Sai masih tetap seperti tadi, tersenyum dengan wajah sok polosnya itu.

"Kau tidak mengenalnya, Pig?" bisik Sakura pada Ino. Kenapa berbisik? Tentu saja agar tidak diketahui orang lain. Mengingat ini merupakan koridor yang cukup ramai dilewati murid-murid.

Ino hanya menggeleng sebagai jawaban. Sakura kembali memandang heran dua orang di depannya ini, "Sama sekali tidak ingat? Sungguh?" Sakura kembali mengulang pertanyaannya.

"Iya, Saki-kun. Aku tidak mengingatnya, tapi….. wajahnya seperti tidak asing. Emm, aa kita pernah bertemu?" tanya Ino yang langsung membuat Sakura kaget. Sedangkan Sai hanya berwajah datar dengan senyum anehnya seperti biasa.

.

.

~OoO~

.

.

TBC

A/N :

Wahhh~ Akhirnya jadi juga. Hahahahaha,,, Ok balai review dulu..

Kazama Sakura : Wahh~ Tidak bisaa dongg, ini kan fic straight, bukan Yuri. Hahahahha, tapi ide bagus kalau aku baut fic Yuri SakuHina, hahaha. Yahh~ memang belum, Sasu aja masih benci gitu ama Saku.. Emm, gimana ya? Tebak-tebak aja deh, hahaha. Review lagi~

Choi Shina : Makasih udah dibilang keren. Hehehehe, soal itu, akan diberitau di chap depan. Hahaha, dan ini endingnya emang sasusaku kok. Persaan Hinata? Hmm, baca aja deh ya, hahahaha. Review lagi~

Luca Marvell : Iya, bener tuhh.. Tapi Hinata kan gak tau Sakura itu cewe, jadi wajarlahh dia bilang gitu, hahaha. Kira-kira siapa yaa? Hahahaha. Emmm, saingan yaa? Kurasa tidak. Karena sasuke suka ama saku aja masih lama kok, gimana nanti ada saingannya? Hahaha

Dhezthy UchihAruno : Nanti liatt aja.. Giamana nanti Inonya, hahahhaha, review lagi~

.3914 : Wahhh~ itu sih masih lama,, tapi gak lama banget kok, ahahahhaaha. Kayaknya kamu terobsesi sama Sakura yang rambut panjang ya? Hahahaha, review lagi~

Eysha CherryBlossom : Hehehehe, makasih udah penasaran, hahaha. Kapan yaaa? Baca aja teruss, hehehehe. Review lagi~

: Ini udah update, :D Review lagiii~

KazuRin shippers : Hmm, kapann yaa? Hahaha, penasarann? Baca aja teruss, hehehe, review lagi~ makasih semangatnya..

miura-chan : Sama, aku juga suka Saku disini.. Hehehe, iya salam kenal juga, Miura-chan.. Review lagi~

Sunny : yep, kamu betul. Dan disini udah dibahaskan tentang Hinatanya, hehehe. Review lagii~

Kumada Chiyu : sayangnya ShikaIno disini gak ada.. Maaf bangett ya. Hehehe gak apa kok, buat ramein nih fic abal .. Hahaha, review lagi~

hanazono yuri : Karena Sakura sangat tampan dan kerenn.. kyaaaa,, Hehehehe, kapann yaa? Baca aja dehh.. Kalau dibilangin, nanti gak seru lagi.. Yang pasti gak lama kok, review lagi~

Hanna Hoshiko : Makasih udah penasaran, hahahahaha. Nanti juga akan tau, yang jelas gak lama lagi kok. Review lagi~

Febri Feven : ini udah lanjut, review lagi~

Imahkakoeni : Di chap selanjutnya akan ketahuan siapa dia.. Hmm, sebenarnya masih bingung sih sama endingnya, tapi idenya sih udah dapet.. Cuma mengembangkannya aja yang sedikit bikin aku bingung, hahaha, review lagi~

Mia Rinuza : Pastinya dongg, review lagi~

Harulisnachan : Suka SakuHina? Sama saya juga suka.. Hhahaha, kapan yaa? Baca aja deh,, kalau dikasih tau, nanti gak seru lagi dong.. Hahaha review lagi,

Haruchan : Patinyaa.. Kan sakura cewe, tentu dia risih disukai oleh sesama jenisnya sendiri, hahaha. Review lagi~

Waw, banyak banget yah? Hahahaha, buat semuanya makasih banyk yaaa.. Tanpa kalian, saya gak akan bisa sampai begini. Heheehehe,

Salam,

Uchiha Ratih,