.

.

.

.

SELADORE

.

.

.

.

My lovely Sorachi Hideaki (空知英秋) is the original author of the Gintama (銀魂) manga, I definitely don't own anything.

.

.

.

Note: OOC keras demi keperluan plot.

.

Card 3: KING PROTEA PART 1

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hiraga Gengai menyesal membukakan pintu untuk tamu tak diundang hari ini. Jika tahu tamunya adalah Hijikata Toshiro dan Okita Sougo, dia akan pura-pura tidak ada di rumah dan terus menonton TV sambil mengorek hidungnya. Hijikata Toshiro memberikan surat penahanan dari satuan kepolisian Shinsengumi yang menyatakan dia bersalah atas pencobaan pembunuhan Shogun. Dalam hati Gengai mencaci maki Hijikata seorang Wakil Komandan Shinsengumi yang tidak tahu terima kasih karena menangkapnya setelah Gengai menolong jiwanya yang masuk ke dalam tubuh suram Gintoki Sakata. Lagipula Gengai ingin tahu kenapa Shinsengumi baru menangkapnya atas kejahatan yang dia lakukan dulu, setelah ratusan episode berlalu sejak dia mencoba mencelakai Shogun di episode 17 season pertama, seharusnya kejahatannya sudah terlupakan.

"S-sebelum aku masuk penjara, a-aku ingin membuat kenang-kenangan!"Gengai berkata terbata-bata ketika Sougo mengeluarkan borgol dari saku celananya. Sougo menghentikan gerakannya, penasaran dengan tindakan Gengai, sebetulnya Sougo tahu kalau pria tua itu mengulur waktu, tapi dia tertarik akan permainannya.

"Apapun itu cepatlah, Kakek." Hijikata memejamkan matanya lalu mengembuskan kepulan asap rokok.

Gengai berbalik membelakangi kedua polisi muda yang tampak ogah-ogahan bertugas mengambil bola kecil seukuran buah ceri berwarna biru, sebelum berbalik lagi dia menyeringai penuh kemenangan. Gengai menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan kiri, sementara tangan kanannya melemparkan bola biru itu ke tanah, asap segera memenuhi garasi kerja Gengai yang penuh barang rongsokan dan bau oli.

"Keparat—uhuk…" Hijikata menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya, lalu terbatuk-batuk. Sougo melakukan hal yang sama.

Gengai mengambil kesempatan untuk kabur selama Hijikata dan Sougo tidak dapat melihat, tergopoh-gopoh pria tua itu lari lewat pintu belakang, dia juga menyempatkan diri mengunci pintu belakang itu.

Di luar kediaman Gengai, Shinsengumi divisi satu sudah datang mengepung. Kamiyama bersiap-siap memberikan komando kalau-kalau diperlukan. Yamazaki berdiri di samping Kamiyama, tampak cemas karena Wakil Komandan dan Kapten Divisi Satu mereka belum kembali setelah lebih dari satu jam.

Kamiyama dan Yamazaki lalu bertatapan, saling paham apa yang ada di pikiran satu sama lain, mereka berdua berbarengan mengangguk, kemudian mendobrak pintu dan berjalan masuk ke bengkel Gengai dengan hati-hati.

"Fukuchou!"Yamazaki berseru sambil mengitari bengkel bobrok itu, "Okita-taichou!"

"Yamazaki-san, lihat itu!" Kamiyama menunjuk ke bagian dalam bengkel, di dekat tumpukan rongsokan besi terlihat dua orang pria yang tergeletak.

"Tidak mungkin!" Pikiran buruk mulai memenuhi kepala Yamazaki, walaupun sebetulnya dia yakin orang seperti Gengai tidak mungkin sampai hati mencelakai mereka berdua, namun siapa tahu terjadi kecelakaan, "Fukuchou! Okita-taichou!"

Yamazaki dan Kamiyama mendekat, berusaha agar tidak panik, namun sebelum disentuh Yamazaki dan Kamiyama, kedua pemuda itu menggeliat bangun.

"Syukurlah, Okita-taichou!"Kamiyama berseru, dia kelepasan memeluk Sougo, tetapi kemudian buru-buru melepaskan pelukannya ketika melihat tatapan tajam si Wakil Komandan. Hijikata memang tidak peduli jika anggota Shinsengumi punya hubungan asmara, seksual, dan sejenisnya baik dengan lawan jenis, sesama jenis, bahkan beda spesies. Namun dia tidak akan mentolerir anggota yang mesra-mesraan saat bertugas. Menurut Hijikata itu tidak profesional dan berkesan meledeknya.

"M-maaf Fukuchou, a-aku..." Kamiyama tergagap, dia yakin dirinya pasti dihukum.

"Ha? Kenapa minta maaf? Kau mau homo kek apa kek... Kaupikir aku peduli? Kalau wanita cantik, baru aku pikirin... " kata Hijikata, dia mengupil, lalu berbaring menyamping. Perilaku Hijikata mengingatkan Yamazaki dan Kamiyama pada seseorang yang berambut perak, namun sebelum mereka bertindak lagi, suara Sougo mengalihkan mereka.

"Kamiyama, kau ini sedang apa?" tanya Sougo.

"M-maaf, Taichou... Aku kelepasan, m-maaf!"

Sougo memijat keningnya, "Tidak masalah sih tapi... Ya ampun, aku begitu mempesona sehingga baik laki-laki atau pun wanita menyukaiku... I'm so beautiful, menjadi tampan adalah dosa berat….."

"O-okita-taichou?" Yamazaki dan Kamiyama mulai berkeringat dingin.

"Tampan itu memang dosa ya, Zaki-pyon, Kami-chin..." Sougo mengibaskan poninya yang halus, dan dalam pandangan Kamiyama dan Yamazaki rambut itu halusnya bagaikan helaian sutra. Efek merah muda seolah terlihat, wangi bunga mawar menyentuh indra penciuman, dan lagu Piano Concerto No. 1 in E flat major, S. 124 (LW H4) ciptaan Franz Liszt tiba-tiba terdengar mengalun.

"Oi, kalian berdua, cepat bawa tandu, aku ingin pergi dari tempat pengap ini tapi kakiku tidak mau bergerak lagi. Aku lelah sekali. Ck, benar-benar merepotkan." Hijikata masih berbaring di tempat semula, bahkan enggan menggerakkan jarinya.

"GYAAAAAAAAAAA!"

Suara jeritan Yamazaki dan Kamiyama itu mengakhiri aksi penangkapan mereka hari ini.

.

.

.

.

.

.

"Kondo-san, Hijikata-san bilang dia sedang tidak enak badan, makanya dia tidak bisa ikut rapat." Yamazaki melapor, dia tampak gelisah. Di ruangan rapat markas Shinsengumi, seluruh anggota Shinsengumi sudah berkumpul untuk merencanakan penangkapan sekelompok kriminal yang kabarnya belakangan ini beraksi di Chōfu.

"Tidak biasanya Toshi bolos rapat karena alasan seperti itu," kata Kondo, dia tampak terkejut, "Malahan, dia tetap bekerja saat sedang mencret bulan lalu,"

Kemudian pintu shoji bergeser, Okita Sougo muncul di ambang pintu. Senyum lebar mengembang di wajahnya, kilat riang terlihat di mata besarnya. Ekspresi yang hanya pernah dia tunjukkan di depan Okita Mitsuba kini dapat dilihat semua orang di markas.

"Kondo-chama, Toshi-rin sedang istirahat di kamar, tidak perlu diganggu, kita lanjutkan saja rapatnya," kata Sougo, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasa. Seisi ruangan menatap Sougo dengan mata terbelalak dan mulut terbuka.

"Okita-taichou... A-anda tidak melakukan hal aneh-aneh kan padanya?" Yamazaki tergagap, bayangan bagaimana Sougo mungkin sudah membunuh Hijikata membuatnya bergidik takut.

Sougo memejamkan matanya, "Apa maksudmu Zaki-pyon? Aku hanya membuatkan zenzai untuknya dan menyuapinya, tentu saja perbuatanku belum seberapa jika dibandingkan dengan kebaikan Toshi-rin selama ini, oh my poor brother."

Kondo, Yamazaki, dan seluruh anggota Shinsengumi merinding. Sougo duduk bersimpuh di sebelah Kondo, senyuman ramah masih terpanjang di wajahnya.

Kondo mengalihkan pandangannya dari Sougo, lalu mendekatkan wajahnya ke Yamazaki, berbisik, "Ada yang tidak beres di sini, kita harus berbuat sesuatu,"

"Kemungkinan ini ulah Gengai, apa kita harus mencari dia?" usul Yamazaki cepat.

"Betul juga, ini akan sulit, tetapi kita harus melakukannya demi Toshi dan Sougo, Yamazaki... Cepat kerahkan seluruh anggota untuk mencari Gengai," perintah Kondo.

"Kondo-chama, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Sougo, masih tersenyum.

Dengan panik Kondo menggeleng, "T-tidak apa-apa, Sougo,"

"Teganya kalian menyembunyikan sesuatu dariku..." Sougo berkata lirih.

"B-bukan begitu Sougo, kami tidak menyembunyikan apa-apa kok, namun memang ada beberapa hal yang harus kami sembunyikan, he, he, he," jawab Kondo tidak jelas, dia melirik Yamazaki untuk minta bantuan, namun Yamazaki hanya ikut terkekeh karena tidak punya ide untuk membantu menjawab.

Sougo memperlihatkan senyuman lebar—memamerkan deretan giginya yang putih, "Baiklah kalau begitu," kemudian tertawa kecil, kini cara tertawanya lebih sesuai dengan wajahnya—dia jadi terlihat manis. Aura gelap yang biasa ditebar Sougo juga menjadi lebih ramah dan menenangkan. Kondo dan Yamazaki tanpa sadar terhanyut dalam sosok baru Okita Sougo, jantung mereka berdebar dan wajah mereka bersemu merah.

Rasanya Sougo yang seperti ini tidak buruk juga. Pikir keduanya dalam hati.

.

.

.

.

.

"Paket! Ding dong! Ding dong!"

Gintoki terbangun dari tidurnya karena suara seruan dari seorang pria pengantar paket. Sambil menggerutu tidak jelas dia berjalan malas untuk membukakan pintu. Gintoki segera menemukan seorang pria muda dengan rambut mohawk yang dicat ungu dan beranting bibir berdiri di depan pintu.

"Paket nih," Pria yang kelihatannya malas itu memberikan kardus besar yang kira-kira cukup untuk ditiduri bayi berumur setahun pada Gintoki, sebelum sempat mendengar pertanyaan dari Gintoki, pemuda itu pergi.

"Oi, tunggu!" Gintoki mencoba memanggilnya, namun pria malas itu lari dan menghilang di tikungan.

"Gin-chan, ada apa, aru?"

Di belakang Gintoki sudah berdiri Kagura yang masih berpiyama—mengucek matanya. Kemudian Gintoki melihat ke depan lagi ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, ternyata Shinpachi.

"Selamat pagi, Gin-san, Kagura-chan," sapa Shinpachi, kemudian matanya tertuju ke kardus besar yang dipegang Gintoki, "Apa itu Gin-san?"

"Cepat dibuka, Gin-chan, siapa tahu isinya makanan!" seru Kagura riang, dia hendak merebut kardus itu, tapi Gintoki mengelak, dia menahan tubuh Kagura dengan kaki kirinya.

"Ini punyaku! Jangan macam-macam, Kagura!"

"Curang! Aku tidak akan membiarkanmu memakannya sendiri Gin-chan!" balas Kagura.

Kagura menendang betis Gintoki, membuatnya menjerit kesakitan, lalu pria dewasa yang kurang tahu malu itu menjitak Kagura, Kagura gagal mengelak. Kardus itu berpindah-pindah dari Gintoki ke Kagura dan sebaliknya, beriringan dengan pukulan dan tendangan.

Mengembuskan napas maklum, Shinpachi menggeleng-geleng, dia dengan santai mengambil selembar kertas yang terjatuh dari paket yang sedang diperebutkan.

"Kalian, lihatlah, ada pesan di kertas ini." Shinpachi memberitahu. Gintoki dan Kagura berhenti berkelahi, tertarik dengan isi pesan itu.

Bulan di langit sendu menjadi redup ketika matamu yang bercahaya itu hadir.

Berputar, berputar bagai angin.

Aku adalah pangeranmu.

Matahari yang cerah dan riang tidak sebanding dengan senyumanmu yang menyegarkan jiwa.

Kau seindah kelopak bunga mawar, begitu merah dan menakjubkan. Kau begitu cantik dan bersahaja.

Kau, wanita bersurai jingga. Aku harap kau suka dengan cokelat yang secoklat dan semanis dirimu ini.

Tertanda,

Pangeran Berjubah Merah

Shinpachi dengan reflek membuang kertas itu setelah membacakan isinya. Bergidik jijik. Shinpachi pikir dirinya sudah tergolong kampungan dan sok romantis, tapi sepertinya lelaki ini lebih buruk darinya, Shinpachi mulai berpikir kalau di zaman porak poranda begini, sepertinya presentase probabilitasnya mendapatkan pacar akan jadi lebih besar. Senyuman cabul mengembang di wajah pemuda itu.

"Kau sedang mikir apa Patsuan? Biarpun ada lelaki menjijikkan seperti yang memberikan paket ini, kau tetap tidak akan laku!" kata Gintoki merusak suasana.

"Jangan sembarangan baca pikiranku!" seru Shinpachi.

"Ngomong-ngomong, aku tidak paham dengan selera menamai pria norak ini, memangnya ada manusia seperti dia di Kabukichou?" Gintoki sok menyelidik, dia menggosok-gosok dagunya yang sedikit kasar karena bekas cukuran, "Dia menujukan surat ini ke siapa sih? Kagura?"

"Tentu saja untukku, aru! Ternyata masih banyak pria yang tidak bisa menolak pesonaku," Kagura bangga, sambil mengunyah cokelat pemberian orang tak dikenal tadi.

"Ya, memang," Suara lain selain suara ketiga anggota Yorozuya terdengar. Suara yang begitu familier sekaligus begitu asing.

Bersandar di depan pintu geser yang terbuka, Okita Sougo yang memegang sekuntum bunga mawar putih, dia mengenakan setelan jas merah anggur dengan sepatu pantofel putih berujung lancip, di punggungnya tergantung jubah merah api. Senyuman tulus yang tampak tidak lazim terlihat di sana, mencolok dan janggal seperti daifuku mochi di tengah tumpukan edamame.

Trio Yorozuya melongo dengan mulut terbuka dan bola mata yang nyaris keluar dari ceruknya, berpikir keras apakah mereka mengenal pria berambut warna pasir tersebut. Apakah ini mimpi? Jangan-jangan orang ini adalah doppelganger dari pria sadis yang biasa mereka kenal, atau bisa juga ini adalah salah satu perangkap busuk Shinsengumi untuk mengkriminalisasi Yorozuya.

Okita Sougo berjalan mendekat, membuat tiga orang itu ingin mundur tapi entah kenapa tidak bisa. Ada aura kuat dari pemuda itu yang membuat mereka enggan beranjak.

"Lady," Sougo menarik tangan Kagura yang dingin, "Will you date me?" tanyanya dengan bahasa Inggris medok Jepang.

Shinpachi yang paham sedikit bahasa Inggris berkat hobi barunya, menonton film porno Amerika, membelalak terkejut. Sementara Gintoki dan Kagura yang tidak paham bahasa Inggris masih termangu. Gintoki masih menyukai film cabul lokal ternyata.

Sougo berdehem, memegang lebih erat tangan Kagura, jika ini Sougo yang biasanya, Kagura pasti sudah meng-uppercut-nya, tapi pria seram ini sama sekali bukan si Sadis yang biasanya. Berkebalikan dengan Sadis yang biasanya menyebar aura kegelapan nan suram, pria ini menyebar aura merah muda kembang-kembang yang membuat Kagura merasa asing, sehingga tidak dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya. Kagura kadang-kadang memang bisa jadi *uchibenkei juga.

"Aku ulangi tawaranku," kata Sougo lagi, "Maukah kau kencan denganku?"

Semua masih membeku.

"Tentu saja akan ada banyak makanan,"

"Baiklah!" Kagura menyalami keras Sougo, pemuda itu meringis menahan sakit ketika mendengar suara 'krek' di lengannya.

.

.

.

.

Untuk pertama kalinya Kagura menjejakkan kaki mungilnya di lantai marmer berkualitas tinggi, Kagura mengamati sekelilingnya dengan kagum. Dia baru pertama kali masuk ke restoran Itali di Ginza. Kagura terpukau dengan ruangan bergaya eropa yang beratap tinggi. Lampu kandelar yang besar dan berkilau menghiasi atap yang tinggi itu, masing-masing meja terdapat vas biru berisi bunga anyelir merah muda yang ditata rapi bersama bunga krisan putih. Gadis pada umumnya akan cemas dengan penampilannya sendiri, namun Kagura justru menebak-nebak makanan menakjubkan seperti apa yang akan dia makan nanti.

Seorang pelayan muda tampan yang wajahnya sedikit mirip Sebastian Michaelis mempersilakan Kagura dan Sougo ke meja kosong di dekat jendela, Sougo berjalan duluan, menarik kursi dan membantu Kagura duduk sebelum dia duduk dengan anggun, lalu mengangkat tangan pada pelayan untuk berterimakasih. Pelayan lain yang sama tampannya dengan pelayan berwajah Sebastian tadi menghampiri mereka untuk memberikan buku menu tebal bersampul ungu.

"My Dear, mau mamam apa?" tanya Sougo lembut. Dia menyodorkan buku menu pada Kagura.

"Hah! Karena kesempatan seperti ini mungkin tidak akan pernah datang lagi padaku, maka aku ingin memesan seluruh menu di sini masing-masing 10 porsi!" seru Kagura, seisi restoran menoleh.

"Baiklah, apa sih yang tidak untukmu," Sougo mengedipkan sebelah matanya, Kagura merinding tapi kata-kata makian yang biasa dengan mudah dia keluarkan rasanya tertahan di perut.

Tidak ada pembicaraan setelah itu, namun Kagura dapat merasakan tatapan Sougo menjelajahi penampilannya.

"Kau membolos lagi ya hari ini?" Kagura tidak dapat bertahan dalam keheningan.

Sougo menghela napas panjang, kemudian menatap jauh keluar jendela, "Aku berhenti jadi polisi. Mungkin sebaiknya aku menjadi komikus komik romantis."

Mulut Kagura terbuka.

"Kau terkejut? Tidakkah menurutmu profesi itu lebih cocok denganku? Aku suka yang indah-indah, aku cinta damai dan benci kekerasan."

"Tunggu Sadis, kau serius?"

"Ya, kenapa tidak? Membuat komik romantis tidak sulit, tidak perlu membuat cerita bagus. Biarpun ceritanya membosankan, cukup ciptakan saja karakter pria yang tampan dan cool, banyak wanita pasti tergila-gila, kalau masih kurang laku, bunuh saja karakter yang paling populer."

"Kalau kata Gin-chan yang seperti itu cuma akan menarik pembaca wanita bodoh, wanita zaman sekarang, misalnya sepertiku ini sudah realistis aru." kata Kagura.

"Tapi cerita seperti itu lebih mudah diadaptasi menjadi live action, mungkin saja malah akan populer seperti *Baka Yori Dango, yah walaupun agak bermasalah kalau aktor live actionnya secara visual tidak sesuai dengan harapan gadis-gadis menyedihkan yang penuh delusi, maka para mereka yang perkembangan otaknya kurang optimal seperti yang kau sebutkan tadi bakal mengeluh." terang Sougo, kemudian seorang pelayan datang membawakan sebotol Gaja Barbaresco, gelas wine, dan jus kranberi organik.

"Bilang saja 'bodoh' kenapa kau jadi sopan begini? Kau itu makan sesuatu yang aneh ya?" tanya Kagura.

Sougo mengibaskan poninya, terdengar Die schöne Müllerin (Op. 25, D. 795) karya Franz Schubert sebagai musik latar gerakan dramatis Sougo. "Dari dulu kan aku sudah indah begini."

Kagura merinding lagi.

"Rasanya Sadis yang biasanya lebih mendingan aru." Kata-kata itu diucapkan Kagura tanpa sadar.

"Begitukah..." Terdapat kekecewaan pada suara Sougo, Kagura tidak menyadarinya.

.

.

.

.

"Fukuchou, kami mendapat laporan dari warga kalau mafia pengedar senjata ilegal akan beraksi nanti malam." Lapor Yamazaki.

"Legalkan saja kalau gitu." Hijikata menjawab asal, dia membalik lembaran majalah gravure-nya sambil menyeringai cabul.

"Fukuchou!" seru Yamazaki.

"Apaan sih? Suruh saja Gorilla liar itu menangkap mereka! Aku lagi nungguin drama *Unko no Sensou!"

Menghela napas, Yamazaki bertekad segera mencari Gengai untuk mengembalikan kepribadian Hijikata...dan Sougo.

.

.

.

.

Kondo Isao sedang melakukan pengintaian terhadap Tae Shimura, kegiatan pengintaian atau yang sebenarnya bisa dibilang menguntit ini dilakukan Kondo ketika sedang tidak bertugas, walau pun sebetulnya pria ini jarang bertugas karena dia punya wakil yang sangat bisa diandalkan. Mendadak Kondo nyaris kehilangan pandangan terhadap intaiannya ketika Tae Shimura hendak berjalan belok di tikungan, seseorang menepuk pundaknya dengan perlahan, Kondo terkejut ketika melihat Sougo berdiri di belakangnya. Kepalanya tertunduk, wajahnya tertutupi poni yang terjatuh.

"Aku ingin kembali seperti semula," gumamnya lemah.

.

.

つづく

to be continued

dictionary:

-Uchibenkei = yang garangnya sama orang terdekat saja, diluar sopan dan unyu

-Baka Yori Dango = parodi J-drama Hana Yori Dango

-Unko no Sensou = parodi J-drama Uso no Sensou