To Have You

Pair: FangxBBB

BoBoiBoy belongs to Animonsta Studios

Preambule:
Eh, mah gerd/alay/
Sorry banget chapter kemaren sooper dooper boring!
Bahkan setelah nulis chapter 4 ini nampaknya saya kena writer's block, padahal sebetulnya ini udah ada plot bulan lalu tapi, yaaaah~ Sorry for the loooooong delay, here's your another quite boring chapter. I still hope you'd like it, though.

4. Yaya's Part of The Story Begins

Oh! Kau! Ah, tak sabar aku berbagi cerita! Aku akan mengenalkan sedikit padamu orang-orang berjasa lainnya. Walaupun kita masih berfokus pada perbuatan Yaya serta bagaimana uniknya semesta memperlakukan dua pemuda yang ceritanya makin kemari makin memusingkan di dalam kesederhanaan.

"Ehem, semuanya, perhatikan!" ucap seorang gadis berjilbab pink, Yaya. Ia adalah pengurus kelas. Diberikan padanya posisi itu sebab-

"PERHATIKAAAAAAAAAN!"

Nah, sebab ketegasannya. Ia disegani, bahkan oleh beberapa orang yang lebih tua darinya.

Kelas yang sempat riuh itu terdiam. BoBoiBoy menelan ludah. Dia punya firasat buruk pagi ini, dan seruan Yaya tadi seperti sebuah pertanda bahwa suatu hal akan kacau.

Ia melirik kebelakang, refleks. Matanya menangkap wajah seorang pemuda berambut biru gelap berkacamata yang tahunan sudah dikenal olehnya, tapi yang dilirik malah menatap langit. BoBoiBoy tak sempat memikirkan bahwa pemuda itu, Fang, dalam diam memperhatikan gerak-geriknya, menyadari lirikannya tadi, sebab sekarang dia dan mata beningnya terlalu sibuk memperhatikan kata-kata gadis berjilbab didepan sana.

"'Kan, bagus kalau senyap begini." ujar Yaya. Teman-temannya hanya bisa memasang ekspresi yang sukar kujelaskan. Pahit dan masam. "Teman-teman, sekolah kita akan merayakan ulang tahunnya tanggal 13 April nanti..." Yaya lalu membuka catatan hasil rapatnya dengan seluruh pengurus kelas 2 hari lalu, dan rapatnya dengan diri sendiri. Apa isi rapat Yaya dan dirinya sendiri?

/flashback/

Yaya memasuki ruangan berpendingin udara itu, sudah hapal akan posisi furnitur disana; kursi yang tidak begitu empuk beserta meja yang diatur sehingga membentuk lingkaran, tembok kuning gading beserta tempelan yang tidak perlu, pot tanaman hijau yang enggan berbunga di pojok-pojok ruangan, lantai putih itu, ia sudah hapal. Inilah ruang rapat pengurus-pengurus kelas seperti dirinya. Deskripsi penulis sungguh suram tapi sebenarnya ruangan itu lumayan bagus.

"Berdasarkan hasil penilaian kemampuan kelas yang saya observasi dengan guru-guru, berikut adalah tugas-tugas kalian untuk acara ulang tahun ke-14 SMA Pulau Rintis: Kelas X A bertugas untuk pertunjukan musik,
Kelas X B bertugas untuk pertunjukan drama,
Kelas X C bertugas menampilkan paduan suara, sampai disini ada yang keberatan?" ucap ketua rapat, pengurus kelas XII A.

'Memangnya kelas kami dramatis banget apa?' benak Yaya.

"Jika tidak, selanjutnya..."

Keesokan harinya, mereka mengadakan rapat lagi, tetapi membahas pendanaan, seusai rapat...

"Ada apa diantara mereka?" si gadis yang ternyata kakak kelas Yaya melempar pertanyaan lagi.

Mendengar pertanyaan kakak kelasnya yang agak absurd itu, senyuman mengembang di wajah Yaya.

"Banyak hal, Kak."

Para gadis itu saling tersenyum.

"Pertunjukan drama belum ditentukan pemerannya, 'kan?"

/end of flashback/

Jadi yang dirapatkan Yaya dengan Yaya: pertunjukan drama.

"...jadi, kelas kita, X B ditugaskan untuk menampilkan drama, bagaimana menurut kalian kalau kita menampilkan dongeng ini..." Yaya menulis di whiteboard.

Di papan tulis itu tertera:

Pertunjukan Drama: Red Riding Hood

BoBoiBoy menangkap judul itu sebagai hal asing. Ia menoleh pada Fang. Refleks lagi. Apapun yang berbahasa Inggris yang tak ia pahami, ditanyakan pada Fang. Ckckck.*heh!*

"Pst, Fang, red-riding-hod itu ceritanya apa?"

"Bacaannya 'red-raiding-hud', bodoh, masa' kau tak tau cerita gadis yang pergi ke hutan dan mau dimakan serigala itu?"

"Oh, itu! Aku suka!"

"Oh?"

BoBoiBoy mengangguk. Fang mengangkat alis. Obrolan tanpa suara mereka bisa terus berlangsung kalau saja tidak dipotong oleh-

"Oi, Yaya, itu dongeng anak-anak, 'lah!" Protes sebuah suara. Rupanya suara itu berasal dari seorang lelaki bertubuh gempal, berkulit gelap yang mengenakan jaket hijau-kuning. Namanya Gopal. Oh, dia adalah orang yang berjasa juga.

"Haiya, kamu ini Gopal, kita ambil basic ceritanya saja, kita bisa improvisasi lagi nanti! 'Kan, Yaya?" suara lain menyahut omongan Gopal barusan. Dari bunyinya, dapat disimpulkan pemilik suara itu dongkol dengan kependek-akalan Gopal, dan dia keturunan Chinese. Nama empunya suara itu: Ying, seorang gadis berambut hitam legam diikat dua yang mengenakan kacamata bundar berwarna biru. Penampilannya didominasi warna kuning dan biru. Dia juga termasuk tiga orang berjasa yang kubilang itu, maka sekarang kamu sudah mengenal mereka semua. Sabarlah, disini aku ingin fokus pada Yaya.

"Betul, itu, Ying. Jangan cerewet, Gopal. Apakah teman-teman semua setuju?"

"Setuju..." jawab satu kelas kompak, mereka tidak mau mendapatkan tatapan maut Yaya seperti yang ditujukan pada Gopal tadi, dan Yaya kelihatan sangat yakin dengan pilihannya. Siapa yang berani melawan? 0 orang.

"Bagus! Aku sudah membuat kertas undian peran dan tugas, silahkan diambil bergantian, ya!" ujar Yaya ceria sambil menyodorkan sebuah kotak berisi gulungan-gulungan kertas. Tuh, kan, dia sudah menyiapkan semuanya. Tak terbayang apabila mereka menolak tadi.

Yaya memanggil nama teman-temannya satu per satu, melarang mereka membuka gulungan kertasnya sampai semua sudah mendapat satu ditangan masing-masing.

"BoBoiBoy!" seru Yaya. Firasat buruk kembali menggelayuti hati pemuda bertopi oranye itu saat ia meraih gulungan kertasnya. Ia menepis firasat itu.

"Baik, semua sudah dapat? Sekarang buka!"

Gopal membuka gulungannya, tertulis disana 'Penata Panggung 2'.

BoBoiBoy membuka juga miliknya, tertulis disana: 'Huntsman'

Ying: 'Penata Kostum 2'

Sedangkan yang mendapat peran Red Riding Hood sendiri adalah seorang gadis berambut hitam sedikit dibawah bahu. Tak pentinglah sebenarnya perananya dalam cerita yang coba kuungkapkan padamu ini*author dijambak*, tapi bagaimana lagi? Dia yang mendapat peran utama, tak etis juga bila tak kuceritakan. Lagipula, didalam hatinya gadis ini mengharapkan yang mendapat kertas bertuliskan Red Riding Hood itu BoBoiBoy saja. Nama gadis itu Venn. Bukan, bukan diagram venn! Namanya memang begitu!

Sudah cukup perihal Venn.

Semua yang mendapat tugas perihal diluar pertokohan, seperti punya Gopal, tertera dikertasnya '2'. Begini penjelasan Yaya:

"Karena kalian semua adalah asistenku, tapi aku juga akan tampil sebentar sebagai Ibu dari Little Red Riding Hood, lalu narator cerita."

Terima kasih Gopal sudah bertanya. Keterlaluan rajin memang Yaya itu.

Fang membuka gulungannya dengan malas. Disana tertera: "Wolf/Serigala". Dia menghela napas. Serigala itu tokoh yang menurutnya menyedihkan. Dia tak berniat komplain dan memulai rutukan soal nasibnya yang terus sial sejak dia jatuh cinta. Cinta agaknya membuatmu jadi self-centered.

"Latihan akan dimulai besok, satu jam setiap hari, sepulang sekolah! Yang membolos tanpa alasan yang bagus akan dapat hukuman!"

"Ugh..."

Rasanya, firasat buruk BoBoiBoy masih belum hilang.

*
Akhirnya mereka latihan juga. Mengesalkan buat BoBoiBoy, terpaksa tak ikut eskul sepak bola. Dengan tak berniat pemuda manis itu membolak-balik halaman buku berisi dialog miliknya, kalimat-kalimat tokoh 'Huntsman' hanya sedikit, jadi sekarang tak ada yang perlu repot melatih BoBoiBoy. Ia malah pesimis sempat membaca dialognya, menilai kondisi latihan mereka sekarang. Yaya sibuk mengkritik cara Fang memerankan sang 'Serigala', tidak niatlah, akan membuat penonton ketiduran dan semacamnya, sementara teman-temannya pengurus panggung dan kostum juga sedang tenggelam dalam diskusi bagaimana seharusnya mereka akan tampil.

Semua sibuk kecuali BoBoiBoy.

BoBoiBoy bosan.

Ia menguap dan meraih ranselnya, dengan buku dialog di tangan, ia perlahan menghilang dari ruangan itu. Ia yakin tidak akan ada yang menyadari kepergiannya, dan tidak akan mendapat semburan Yaya karena ia sudah menyiapkan banyak alasan. Ia hanya ingin pulang. Sekarang.

Benar saja, tak ada yang sadar bahwa figur manis bertopi kadal raksasa oranye dan berjaket merah sudah keluar dari ruangan yang mulai diselimuti tumpahan cahaya jingga dari langit sore itu, tidak seorang pun, kecuali Fang.

Perginya figur itu membuat usaha Fang menguasai perannya semakin berantakan.

"Hahaha, tapi sekolah kita ini setahun lebih muda darimu, ya, 'Serigala'?"

"Kau ingat, eh?"

"Tentu saja."

TBC!

NOTE:
I'M SO SORRY FOR THE REAAAALLY LATE UPDATE, MY DEAR FELLAS!

Chap ini rada banyakan dialognya ya ^q^ Venn itu ocku eheheheh salahkan pelajaran matematika kelas 7 persoalan himpunan yang pake diagram Venn. Doi asal nyempil aja /ming/

UGH gak nemu mood buat nulis lately, guys, sorry! Lelah dengan segala tugas sekolah dan aku lagi into fandom Naruto, ship-ku GaaNaru btw. UvU)" /gapenting

Aku berusaha ngewujudkan karakter BBB yang gak terlalu girly disini, karena pada dasarnya dia itu kuat, aku pengen Fang kita jatuh cinta sama dia yang demikian dan aku juga pengen Fang melihat dimana sisi fragile-nya BBB secara perlahan soooo~ maaf, ya, kalau 'itu'nya belum nampak.

Btw, BBB itu kuasanya macam Multiple Personality/Character Disorder, ya?
Episode 17 gila sakit banget! Tapi banyak hints FBBBnya aku jadi bingung mesti senang apa sedih LOL.

Well, see you on the next chapter!