Chapter 3,

Two Roads


Gilbert menyalakan pemutar musiknya. Ia menyambungkannya pada speaker dan menaikkan volumenya hingga maksimal.

Beberapa saat kemudian, ponsel Gilbert berdering, dan ia mengangkatnya.

"Hei pak penulis,"

"Matikan musik itu sekarang. Oh, God. Paling tidak kecilkan suaranya! Aku benar-benar butuh teh sekarang!"

"Datanglah kemari, kubuatkan teh"

"Nope. Rumahmu di seberang jalan. Aku tidak mau"

"Oh come on, Arthur! Rumahku hanya di seberang jalan!" ujar Gilbert sambil menekankan kata 'hanya'

Arthur adalah orang yang tinggal di seberang rumah Gilbert. Ya, pria berdarah British itulah yang barusan dilihat Ivan lewat jendela Gilbert. Tetangganya adalah seorang penulis yang suka mengurung diri. Sudah dua tahun Arthur tidak keluar rumah, selain ke halaman depannya hanya untuk mengambil koran atau menyiram bunga.

"Jadi, apa keperluanmu, cepat!" perintah Arthur

"keperluanku? Kau yang meneleponku, Sir!"

"Pardon me? Aku kenal kau! Kau selalu sengaja memutar musik keras agar aku meneleponmu terlebih dahulu supaya kau bisa curhat padaku tanpa harus menghabiskan pulsa!"

"Oke. You win," ujar Gilbert pasrah

"Huh, jadi apa masalahmu kali ini?"

"Aku ditolak."

Mendadak, Arthur terdiam.

"Oh, Um.. I'm sorry to hear that. Are you ok?"

"Aku baik-baik saja," Gilbert tertawa getir

Gilbert dapat merasakan air mata turun mengalir melalui pipinya. "Oh, dan sekarang aku menangis. Sungguh payah!" ia tertawa, "aku sungguh tidak awesome.."

"Kenapa kau tidak awesome?" Arthur memotong.

"karena kau menangis? Oh, god, please! Kau adalah orang yang berhasil membobol masuk ke rumahmu sendiri saat kuncimu hilang, kau mampu membuat 10 piring pancake dalam sehari dan memakannya sendirian, kau begadang saat malam tahun baru sambil memutar lagu rock, dan membersihkan rumahmu dalam waktu singkat dengan sangat bersih hingga aku iri! Kau aweosme!"

Gilbert terdiam, sementara Arthur melanjutkan bicaranya,

"Semua orang menangis Gilbert! Itu tandanya kau manusia! Semua bayi menangis ketika baru dilahirkan, menangis adalah hal yang sungguh manusiawi! Itu bukti kau punya hati! Lalu soal ditolak dan patah hati? Ya, menangislah sekarang, itu tak apa. Aku akan ada di sini, aku takkan mematikan teleponnya, aku tak peduli dengan sisa pulsaku, jadi menangislah, luapkan semuanya sampai kau puas"

"Kau tahu, Arthur? Aku beruntung punya tetangga sepertimu" Gilbert tertawa kecil.

Senyum di wajah pria itu mulai memudar, seiring dengan air mata yang turun perlahan dari wajahnya

"Sial,"

Arthur dapat mendengar Gilbert mulai menangis dengan keras.

Arthur melirik ponselnya yang satunya, mungkin ini saatnya ia menelepon editornya dan memintanya membelikan pulsa lagi..


Antonio berbaring menatap langit-langit kamarnya.

Ia memeluk bantalnya, dan memejamkan mata, berusaha masuk ke dalam dunia mimpi, namun tiap kali ia berusaha meninggalkan kenyataan, sesosok 'hantu' selalu muncul dalam kegelapan.

Tentu, 'hantu' yang dimaksud bukanlah sosok berbaju putih yang kakinya tidak menapak itu.

Hantu yang menghantui Antonio ini tampan, pemalu, tsundere dan membuatnya rindu, namun di saat yang bersamaan, juga membuatnya tersiksa.

Antonio kembali membuka matanya, "damn" ia mengumpat, kemudian bangkit duduk. Ia melirik sebuah bingkai foto yang terletak dalam posisi telengkup di atas mejanya. Ia meraih bingkai itu dan melihat foto di dalamnya.

Foto Lovino Vargas.

Antonio harusnya membakarnya saja.

Antonio tak bisa mengerti pikiran logisnya sendiri. Apa logikanya sudah mati?

Bila menyimpan semua ini begitu menyiksanya, kenapa ia harus terus menyimpannya? Bila terus menerus mengenang Lovi hanya membuat kondisinya semakin mengenaskan, kenapa tak ia hentikan?

Kenapa ia lebih memilih terus terikat pada Lovi, yang jelas-jelas menelantarkannya, daripada Gilbert, yang terus mencurahkan perhatian padanya?

Pria itu tidak bisa tidur.

Tidak dengan pikiran yang terus berkecamuk itu.

Ia bangkit dari kasurnya dan berjalan turun ke lantai satu. Ia menoleh ke arah jam di dinding. Jam 7 : 15. Biasanya ia belum tidur jam segini.

Mendadak, perut Antonio berbunyi, menandakan minta diberi makan.

Ah, iya, dia belum makan malam. Ia berjalan menuju dapur, dan menyalakan lampu.

Mendadak, kekosongan menimpa hatinya.

Antonio terdiam sejenak, merenung.

Sekilas ia melihat bayangan Lovino duduk di meja makannya, menyuruhnya bergabung makan malam, kemudian bayangan itu menghilang, berganti Gilbert yang tersenyum lebar padanya.

Kini, dadanya terasa sesak.

Bibirnya bergetar, air mata turun dari pelupuk matanya

"Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?"


Gilbert terlambat bangun.

"Fu-! Aku terlambat ke kantor! Ivan akan membunuhku!" Gilbert berlari mengambil pakaiannya, dan mengenakannya, kemudian berlari ke dapur untuk membuat pancake dengan adonan sisa kemarin.

Mendadak, ponselnya berbunyi.

Ia menghambur dan menyambar ponsel itu dan segera mengangkatnya

"Beilschmidt here!"

"Gil? Kau di mana, da? Rapatnya akan mulai! Katanya kau sudah tidak akan mengunjungi Antonio.."

"No, Ivan, Aku terlambat bangun! Aku sedang sarapan, er.. aku akan ke sana dalam 10 atau 15 menit!"

"Gilbert, kau sadar jarak kantor dan rumahmu itu tidak dekat, kan, da?"

"Aku tahu, aku janji aku akan datang secepatnya! Ouch!" Gilbert mengibaskan tangannya yang tak sengaja terkena panas.

"Oke, aku tunggu 15 menit lagi, da.. kalau kau belum datang.."

Gilbert menelan ludah.

"pipaku baru kubersihkan kemarin.. kolkolkol.. aku tidak mau mengotorinya lagi, da.."

Telepon diputus oleh Ivan.

Gilbert bahkan tak perlu ada di kantor untuk bisa merasakan aura keunguan Ivan.

Dengan tergesa-gesa, Gilbert membuat pancake, melahapnya hingga habis, dan meninggalkan rumahnya secepat mungkin.

Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran di taxi. Ia melihat jalanan Hetatown yang ramai penuh kemacetan.

Sudah lama ia tak melewati jalan besar ini, karena terlebih dahulu pergi ke rumah Antonio. Rasanya ia seperti kembali ke keseharian normalnya.

Gilbert tersenyum, "saatnya menutup lembar lama.."

Namun, entah mengapa, Gilbert merasa ia melupakan sesuatu..


Gilbert tiba di kantor, dan segera berlari ke arah Ivan "Ivan, aku pinjam ponselmu!"

"Eh, untuk apa, da?"

"Aku harus menelepon seseorang tetangga, aku lupa kompor rumahku belum di matikan, tapi aku sudah terlanjur sampai di tengah jalan tadi, macet pula! Aku ngga punya pulsa, please!"

"Kedengarannya gawat, da.. Ini,"

"Danke."

Dada Gilbert berdebar kencang, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila rumahnya terbakar. Beberapa kali ia menelepon, namun tidak ada yang mengangkat. Gilbert menelepon berulang kali, hingga seseorang mengangkatnya dan bersedia mematikan kompornya.

Gilbert menghela nafas, "Oh, Meinn Gott, untung saja."

Pria itu mengembalikan ponsel Ivan, "Ini ponselmu. Nanti pulsanya aku ganti."

Sang bos hanya menghela nafas panjang, "kau ceroboh sekali. Berhati-hatilah lain kali, da!"

Gilbert hanya tersenyum getir, "well, dengan segala hal yang terjadi.. aku benar-benar kelelahan.."

"Berhentilah memikirkan segalanya sendirian." Elizaveta memukul pipi Gilbert pelan dengan fryingpan miliknya.

"Berhentilah membawa fryingpan ke kantor. Kau bukan koki di sini." canda Gilbert.

"Haha. Lucu, sekali Mr. Beilschmidt!" Elizaveta tertawa datar, "makan siang denganku, nanti aku traktir makan siang!"

"Wait, kenapa kau mendadak baik padaku?"

"Aku menghibur temanku yang patah hati, apa lagi?"

Gilbert melirik Ivan

"Mulut ember,"

"Eh.. aku hanya memberi tahu Elizaveta karena diminta, da.."

"Huh, fine. Paling tidak aku dapat traktiran makan siang! Kesesesese!"

Ivan tersenyum, "bagus, kan? Kalau sudah puas, lanjutkan bekerja, hari ini dan besok kau dan kau harus lembur!"

"Lem-"

"Banyak pekerjaanmu yang terlantar akhir-akhir ini, itu semua harus selesai besok, dan aku tidak tega meninggalkanmu sendiri, jadi aku juga ikut lembur, haah.. Kau merepotkan, da.."

"Maaf.."

"tak apa, kita bisa melalui semuanya, yang terpenting sekarang kau baik-baik saja,"

"Yeah, thanks."


Gilbert duduk berhadapan dengan Elizaveta, ia menatap daftar menu di tangannya dengan sangat serius

Elizaveta mengeluh, "Hei, cepatlah memilih. Kenapa lama sekali, sih?"

"Shh.. aku butuh konsentrasi, aku harus memanfaatkan momen ditraktir olehmu ini sebaik mungkin!"

"Ya sudah, pilih saja yang paling mahal,"

"Tidak suka,"

"Kalau begitu pilih yang kau suka! Ada pancake, kok!"

"Terlalu biasa!"

"hah.." Elizaveta menghela nafas, "baiklah, terserah kau.."

Gilbert nampak menatap menu itu untuk beberapa saat, kemudian memutuskan pesanannya,

"Pancake satu,"

Elizaveta rasanya ingin sekali menonjok muka Gilbert sekarang...

Setelah makanan datang, Gilbert langsung menyantap pesanannya setelah berterimakasih pada teman masa kecilnya yang mentraktir makan siangnya itu.

"Bukannya tadi pagi kau juga makan pancake? Kau tidak bosan?"

"Tidak juga, sejak pertamakali Matthew membuatkannya untukku, aku agak adiktif pada pancake,"

"Oh.."

Elizaveta mendadak terdiam, membuat Gilbert kebingungan.

"Kau diam," Gilbert nampak bingung, "apa ada sesuatu?"

"Well, ini soal Matthew.."

"Mattie? Ada apa dengannya?"

"Hm.. lebih baik kau bicara sendiri dengannya,"

"Hah?"

Elizaveta menoleh ke belakang, dan dari pintu masuk restoran itu, Matthew berjalan masuk. Ia tersenyum pada Elizaveta dan wanita itu langsung berdiri, berjalan ke arahnya. Mereka nampak berbincang sejenak, sebelum Elizaveta akhirnya pergi, dan kini Matthew-lah yang duduk di hadapan Gilbert.

"Hei," sapa pria Kanada itu

"Hai," Gilbert membalas.

Suatu kesunyian yang canggung menyelimuti mereka

"Jadi, kau meminta Elizaveta mengantarku kemari untuk menemuimu?

"Ya, kurang lebih begitu.."

"Apa ada yang mau kau bicarakan denganku?"

"E-err.. Itu.. besok malam, apa kau ada acara?"

"Hum? T-Tidak, sih.."

"Kalau begitu, mau menonton bersamaku?"

Gilbert menatap Matthew dengan tatapan agak kaget, jarang-jarang Matthew mengajaknya keluar

"Menonton apa?"

"F-Film! Horror, sih, tapi kata sepupuku filmnya cukup bagus.."

"Oh.."

"Well, aku hanya penasaran karena sepupuku bercerita dengan sangat bersemangat, tapi dia tak mau memberi spoiler.. Aku ingin nonton tapi.. aku takut,"

"Jadi kau mau aku menemanimu?"

Matthew mengangguk keras.

Gilbert menatapnya sejenak, kemudian tertawa, "ya ampun, Mattie! Kau harusnya bilang langsung padaku saja di kantor, tak perlu sampai meminta Elizaveta begini!"

"Hehe.. aku hanya tidak biasa.."

"Oke, kapan kita pergi? pulang kantor? Ah, aku ada lembur!"

"Filmnya mulai jam 9, kok"

"Begitukah? Kalau begitu aku akan berusaha menyelesaikan lembur paling tidak sebelum jam 8!" ujar Gilbert riang.

Matthew tersenyum tipis, ia lega melihat Gilbert yang sudah tersenyum dan tertawa seperti dulu.


Di luar jendela kafe, Elizaveta dan Kiku mengamati keduanya dengan senyum lebar di wajah mereka.

"Matthew-san lebih pintar modus daripada yang aku bayangkan.."

"Betul sekali, Kiku" Elizaveta tertawa kecil, "Matthew tidak takut nonton film horror! Itu hanya modusnya agar bisa nonton berdua dengan Gilbert!"

"Jadi sekarang kita dukung mereka?"

"Sekuat tenaga, kalau perlu!"

Kiku menatap Elizaveta sejenak, "lalu, makan siang ini.. kau benar-benar mentraktir Gilbert demi Matthew-san?"

"Huh? Jelas tidak, dong! Aku baru beli frying pan baru! Aku tidak punya uang!"

"Oh ya? tapi tadi kau mendatangi kasir, Elizaveta-san.."

Wajah Elizaveta memerah, "su-sudah kubilang aku tidak mentraktirnya! Aku tidak peduli Gilbert sedih dan butuh hiburan atau semacamnya, kok.. Sudahlah, ayo kembali!"

Elizaveta berbalik pergi, sementara Kiku hanya berdiri dan memandang wanita itu pergi, "Ternyata di dalam diri Elizaveta-san ada sedikit tsundere.."


"Aku mau pulang!" Gilbert mengeluh sambil membaringkan kepalanya di atas meja.

Ivan memukulkan sebuah gulungan kertas pelan ke arah kepala Gilbert, "kalau begitu bekerja lebih cepat! Aku tidak melihat tanganmu mengetik!"

"Iya, pak.."jawab Gilbert lesu.

Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 9 malam, kemudian melirik Ivan yang duduk di hadapannya.

Ivan menyadari bahwa dirinya sedang ditatap, iapun melirik Gilbert, "ada apa?"

"Maaf kau jadi harus pulang malam juga,"

"Hah, lupakan saja, aku tidak apa, kok.. Lanjutkan kerjamu, aku mau ke kantin sebentar," Ivan berdiri dari kursinya

"Kantin kan sudah tutup, mau ngapain?"

"Kompornya masih ada, kan? Aku mau masak kare," ujar Ivan sambil berjalan keluar dari ruangan itu.

Kini, hanya tinggal Gilbert di ruang yang sunyi dan bercahaya remang itu.

Suasana ini mengingatkannya akan film-film horror yang sering ditontonnya bersama Elizaveta, Kiku dan Kirana dulu.

Seram.

Keringat Gilbert mulai bercucuran, dan jantungnya mulai berdegup kencang.

Suara dering handphonenya sendiri membuatnya kaget setengah mati, hingga ia nyaris terjatuh dari kursinya

"Meinn Gott! Kukira apa.." Ia meraih ponselnya, dan melihat nama yang tertera di layar dengan tatapan kaget

'Antonio Fernandez Carriedo'

Gilbert terdiam sejenak membaca nama itu, dengan ragu, diangkatnya telepon itu.

"Gilbert?"

"Hei,"

"Er.. apa kau bisa datang kemari sekarang, aku tahu ini sudah malam dan mungkin kau sudah mau bersiap untuk tidur.."

"Aku sedang di kantor. Lembur, dan kurasa aku masih belum boleh pulang."

"Oke.. bisa kau datang kemari besok malam?"

"Aku masih lembur, sampai jam 8,"

"Er.. Oke, aku akan tunggu hingga jam 9.."

"Antonio, aku tidak-"

"Sampai jumpa besok" Antonio memotong perkataan Gilbert dan menutup teleponnya.

Gilbert menatap layar ponselnya, kemudian melempar benda malang itu ke meja kerjanya, "Meinn Gott!"

Ia bersandar pada kursinya, menengadah menatap langit-langit ruangan.

Besok ia akan pergi menonton film bersama Matthew.

Besok ia akan pergi ke rumah Antonio.

Besok ia akan... yang mana?


To be continued...


A/N :

Terimakasih sudah membaca Wild Grass ^^

Di Chapter ini Gilbert dihadapkan oleh dua pilihan super berat! Keputusan yang akan diambil Gilbert akan muncul di chapter depan yang mungkin akan Ryuu update minggu depan ^^

Maaf bila Ryuu hanya bisa mengupdate setiap seminggu sekali.. ;_;

Balasan Review :

Youri-chan :

Terimakasih atas Fav, Follow dan Reviewnya! ^^ Ryuu akan berusaha mengerjakan cerita ini sebaik mungkin. Soal penyakit Gilbert, Ryuu minta maaf.. Ryuu masih belum bisa memutuskannya.. Mungkin di beberapa chapter berikutnya Ryuu baru bisa memutuskannya.. sekali lagi, terimakasih sudah membaca fanfic ini ^^

Eqa Skylight :

Terimakasih atas dukungannya ^^ Ryuu akan terus bersemangat dalam mengerjakan fanfic ini

Number 00 :

Terimakasih sudah membaca dan memberi saran pada fanfic ini :) Ryuu sudah berusaha membetulkan penulisannya, tapi mungkin masih ada beberapa yang salah ^^; Ryuu minta maaf. Ryuu akan berusaha memperbaikinya lagi di chapter-chapter berikutnya ^^

Lalu, kepada semua orang yang sudah membaca fanfiction ini, Ryuu ungkapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya!

Sampai jumpa di chapter depan!


Orijima Ryuu, 2016