Chapter 4
Main Cast :
Chanyeol: Raja dari kerajaan Viering
Baekhyun: Putri satu satunya dari bangsawan Earl of Hielfinberg
Grand Duke / Duke of Krievickie / Jungsoo: Penasehat Raja, ayah kandung dari Luhan & Sehun
Luhan & Sehun
Jongin / Duke of Binkley: Sepupu dari Chanyeol, putra mahkota Viering
Kyungsoo / Duchess of Binkley
Earl of Hielfinberg / Kyuhyun
*Duke/Duchess itu adalah tingkatan dari pemimpin bangsawan, Earl/Count juga bangsawan tetapi lebih rendah dari Duke/Duchess.
.
.
.
Jongin membalik-balik koran di tangannya dengan tidak percaya.
"Kau masih tidak percaya?" tanya Kyungsoo kesal.
"Bagaimana mungkin?" kata Jongin, "Ia sudah bersumpah tidak akan menikah. Aku mengenal wataknya. Ia tidak suka terikat."
"KAU MASIH TIDAK PERCAYA JUGA!?" seru Kyungsoo marah.
Pagi ini ia dibuat shock oleh berita tentang pernikahan Raja Kerajaan Viering yang terkenal oleh keteguhannya untuk tidak menikah. Ia langsung memberitahu suaminya yang juga langsung membelalak melihat judul besar yang terpampang di halaman depan koran itu.
Koran itu membahas tuntas berita yang paling mengejutkan dari kerajaan yang indah itu setelah berita pernikahan orang pertama yang berada di urutan tahta Viering setelah Chanyeol.
"Aku sudah tahu ia akan melakukan ini! Aku sudah dapat menebak ini akan begini jadinya. Ia pasti akan melakukan sesuatu untuk menghalangi jalanmu!"
"Baekhyun, putri Earl of Hielfinberg," gumam Jongin melihat nama sang calon mempelai. Ia merasa pernah melihat nama ini.
"Memang apa bagusnya putri keluarga Hielfinberg!?" Kyungsoo terus mengomel, "Ia tidak lebih terkenal dari aku. Mengapa mereka mengeluelukannya seakan-akan ia adalah seorang pahlawan?"
Jongin mengabaikan istrinya yang terus mengomel itu. Ia menuntaskan berita yang sedang diberitakan dengan hangat baik di dalam maupun di luar Viering.
Pernikahan kerajaan ini akan diselenggarakan secara besar-besaran di Cathedral Soyoz sebelum akhir musim panas ini. Diperkirakan tamu yang hadir sekitar 1500 orang meliputi undangan dari negara sekitar Viering dan bangsawan dari dalam dan luar Viering.
Demi memastikan segalanya berlangsung dengan lancar, berbagai persiapan sudah mulai dikerjakan dengan penuh perhitungan semenjak Raja Chanyeol memutuskan calon mempelainya.
Bahkan sebelum mengikat tali pernikahan dengan Lady Baekhyun, sebuah pesta pertunangan akan diadakan di Schewicvic dalam waktu dekat.
Tidak jelas apakah Duke of Binkley juga diundang dalam pesta pernikahan ini. Pihak Istana Fyzool menolak untuk memberi komentar.
Tentunya setiap orang ingin tahu apa yang akan dilakukan sang Duke. Apakah dia berani muncul pada pernikahan orang yang telah dibuatnya malu?
"Kita harus segera kembali," Jongin memutuskan.
Kyungsoo terkejut.
"Siapkan barang-barangmu. Kita akan kembali ke Viering saat ini juga."
"Apa aku tidak salah dengar!?" pekik Kyungsoo, "Siapa yang mau kembali? Aku tidak mau hadir dalam pernikahan mereka. Kalau kau mau pergi, pergi saja seorang diri. Aku tetap tinggal di sini."
"Kyungsoo sayang," Jongin langsung berdiri memeluk pundak istrinya,
"Kita harus menunjukkan pada mereka bahwa pernikahan mereka tidak mempengaruhi kita."
"Kau berjanji untuk membawaku keliling Eropa!" rujuk Kyungsoo.
"Kita masih bisa datang ke sini sewaktu-waktu," bujuk Jongin.
"Aku mau sekarang!" Kyungsoo menegaskan. Kyungsoo membalik badannya – melingkarkan tangan di sekeliling leher Jongin. "Kau sudah berjanji padaku. Kau tidak akan mengingkarinya, bukan?" ia berkata dengan manjanya.
"Tentu, sayang," Jongin memeluk Kyungsoo dan mulai mencumbunya.
"Aku akan melakukan semua keinginanmu."
.
.
.
"Tuan Muda Sehun," panggil Nicci.
Sehun langsung berhenti.
"Apakah Anda melihat Tuan Puteri Baekhyun?"
"Tidak," jawab Sehun, "Aku tidak melihatnya sejak semalam."
Guratan cemas terlukis jelas di wajah wanita itu. "Ke manakah dia," gumam wanita itu panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Luhan yang kebetulan berada di sekitar lorong itu.
"Tuan Puteri Baekhyun tidak ada di tempat tidurnya ketika saya membangunkannya pagi ini," jawab Nicci, "Saya tidak tahu ke mana Tuan Puteri pergi."
"Apa kau telah mencarinya?" Luhan ikut panik.
"Saya telah berusaha mencarinya di sekitar Mangstone tetapi saya tidak dapat menemukannya."
"Ke mana anak itu pergi?" Luhan bertanya-tanya cemas, "Besok lusa adalah pesta pertunangannya. Apa ia berniat kabur dari pernikahannya?"
"Ia bukan gadis yang seperti itu," Sehun menenangkan keduanya, "Aku akan menjemputnya."
"Kau tahu ia ada di mana?" tanya Luhan heran.
"Ini adalah hari Kamis bukan?" Sehun berteka-teki.
Nicci langsung tersenyum mendengarnya. "Benar," katanya, "Tuan Puteri pasti ada di sana."
"Di mana?" tanya Luhan bingung.
"Jangan khawatir," kata Sehun, "Aku akan menjemputnya sekarang juga."
Tanpa berbasa-basi lagi, Sehun langsung meninggalkan kedua wanita itu. Dalam waktu sekejap ia telah berada di atas punggung kudanya dan menuju ke Loudline.
Seperti yang telah diduga Sehun, Baekhyun tengah berada di tengah kota Loudline. Namun tidak seperti biasanya, kali ini ia tengah berdebat dengan Fauston, sang kepala rumah tangga Hielfinberg.
"Maafkan saya, Tuan Puteri," Fauston menegaskan, "Kami tidak bisa membawa pulang Anda hari ini. Ini adalah perintah dari Yang Mulia Earl."
"Schewicvic adalah rumahku!" tegas Baekhyun, "Kalian tidak bias melarangku pulang! Aku hanya ingin pulang sebentar untuk melihat ayahku. Mengapa kalian melarangku!?'"
"Kami juga ingin membawa Anda pulang, tetapi ini adalah perintah dari Yang Mulia. Kami tidak bisa melanggarnya. Ini semua demi kebaikan Anda."
Baekhyun geram. Semenjak ia dipaksa menikah dengan Chanyeol, hidupnya diatur orang lain dan ia dikekang seperti seekor binatang buas yang harus dijauhkan dari keramaian. Semua ini hanya karena KYUNGSOO!
"Ah, Baekhyun," seseorang memanggil, "Engkau datang lagi."
Baekhyun langsung membalik badan.
Daehyun tersenyum lebar. "Hari ini kau tampak cantik seperti biasanya," mulutnya yang manis memuji Baekhyun sebelum ia meletakkan karung besar di pundaknya ke atas kereta.
"Terima kasih," jawab Baekhyun sekenannya. Ia sedang tidak dalam suasana hati untuk berbincang-bincang dengan seorang pun!
"Ke mana saja kau selama ini?" tanya Daehyun, "Mengapa minggu lalu kau tidak datang? Kukira engkau sudah berhenti."
Ke mana lagi Baekhyun berada selama dua minggu ini selain dikurung di dalam Mangstone? Earl Hielfinberg tidak mengijinkannya pulang. Luhan mengekangnya dengan pelajaran tata krama yang katanya untuk membentuk dirinya menjadi seorang lady yang anggun.
Sehun juga tidak lebih baik dari seorang penjaga pintu. Ialah yang memastikan Baekhyun tidak kabur ke Schewicvic.
Sungguh lucu. Schewicvic adalah rumahnya dan Mangstone adalah tempat ia menginap selama beberapa hari terakhir ini. Tetapi sekarang Mangstone sudah menjadi seperti penjaranya dan Schewicvic adalah tempat berbahaya yang harus dia jauhi.
Hari Kamis lalu Baekhyun sudah berniat pulang ke Hielfinberg tetapi ia terlalu lelah untuh bangun pagi. Luhan telah membuatnya lelah dengan pelajaran tata-kramanya yang serba sulit dan merepotkan itu.
Sehun juga tidak mau kalah. Ia benar-benar membuat Baekhyun kelelahan dengan bentakan-bentakannya selama ia mengajarinya berdansa.
Bukan sifat Baekhyun untuk berdiam diri dalam siksaan seperti ini. Bukan watak Baekhyun menuruti perintah yang tidak disukainya. Satu-satunya hal yang membuat Baekhyun masih bertahan di Mangstone adalah Earl-ayahnya.
Baekhyun tahu ayahnya melakukan semua ini demi melindunginya.
Ayahnya mencemaskannya. Namun Earl tidak sadar bahwa Baekhyun pun mencemaskannya.
Baekhyun tahu benar bagaimana kesepiannya ayahnya bila ia pergi. Earl memang tidak pernah mengatakannya dengan terus terang tetapi Baekhyun mempunyai banyak mata untuk mengetahui ayahnya terus melamun seorang diri ketika ia tidak ada di Schewicvic.
Di sisi lain Baekhyun tidak dapat pulang ke Schewicvic tanpa bantuan orang lain.
Inilah yang paling konyol dan tidak masuk akal! Schewicvic adalah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Sekarang ia membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelundupkannya ke dalam Schewicvic! Benar-benar konyol. Tidak masuk akal!
Hanya karena satu berita dan satu pernikahan, ia harus menanggung semua ini.
Baekhyun tidak keberatan ia dijadikan bahan tertawaan orang lain. Ia tidak mau ambil pusing dengan kenyataan ia menjadi bahan gossip yang paling hangat di seluruh Viering. Tetapi Earl…
Andai saja ini semua bukan untuk Earl, Baekhyun pasti sudah kehilangan kendalinya.
"Apa kau sudah mendengar itu?" tanya Daehyun. "Paduka Raja akan menikah!"
Baekhyun menyembunyikan senyum kecutnya.
"Menariknya, nama sang calon mempelai sama denganmu!" Daehyun berkata penuh semangat. "Aku yakin kau akan lebih cantik dari calon Ratu."
Dalam hati Baekhyun berpikir apakah pria ini benar-benar tolol. Tidak mungkin ia tidak tahu mereka berasal dari keluarga Hielfinberg.
Setidaknya, ia pasti tahu Fauston adalah Kepala Rumah Tangga Hielfinberg. Apakah ia tidak dapat memikirkan kemungkinan ia dan sang calon ratu itu adalah orang yang sama?
Kemudian ketika Baekhyun berpikir lebih panjang, ia mensyukuri kebodohan pria itu.
Andai Daehyun sadar siapa gadis yang berdiri di depannya ini, Baekhyun pasti akan berada dalam masalah besar dan tidak mungkin ayahnya tidak marah besar karenanya.
"Orang-orang membicarakannya," Daehyun kembali memberitahunya, "Lady Baekhyun tidak pernah muncul pasti karena suatu alasan. Ibunya telah meninggal ketika ia masih kecil, bukan? Dan setelah itu ia diasuh Earl seorang diri. Memangnya Earl bisa mendidiknya menjadi seorang lady yang anggun?"
Baekhyun terpaku.
"Semua mengatakan Grand Duke memilihnya karena hubungan dekatnya dengan Earl Hielfinberg. Earl pasti mendengar berita ini sebelum orang lain tahu dan ia memanfaatkan hubungan dekatnya dengan Grand Duke untuk membuat putrinya terpilih menjadi calon mempelai Paduka raja."
Mata Baekhyun langsung melotot.
"Kali ini Grand Duke membuat keputusan yang dengan gegabah. Ia pasti telah termakan bujukan Earl sehingga ia tidak berpikir panjang. Di luar sana masih banyak wanita cantik yang lebih pantas menjadi Ratu Kerajaan Viering. Memangnya Viering kekurangan gadis yang anggun
sehingga Grand Duke harus memilih wanita yang tidak jelas adat istiadatnya?"
Fauston terperanjat. "Cukup. Cukup," ia cepat-cepat menghentikan pemuda itu sebelum ia berkata lebih banyak.
"Kami tidak punya cukup waktu untuk mendengar gosipmu. Kami sudah kesiangan!" Kemudian
Fauston menggiring Baekhyun ke kereta.
"Kau sudah mau pergi?" tanya Daehyun kecewa, "Sayang sekali. Aku masih punya banyak cerita untuk kudengarkan padamu."
"Terima kasih," Baekhyun mencoba untuk tetap bersikap sopan walaupun hatinya sudah mendidih, "Kami harus mengejar waktu."
Fauston juga tidak membuang waktu. Ia cepat-cepat duduk di sisi Baekhyun dan menjalankan kereta.
"Terima kasih atas ceritamu," Baekhyun melambaikan tangan pada pemuda itu ketika kereta bergerak menjauh. Senyum yang sedetik lalu mengembang di wajahnya menghilang. "Fauston," kata Baekhyun,
"Turunkan aku di depan tikungan sana."
"Baik, Tuan Puteri," kata Fauston tanpa berani bertanya lebih banyak.
Fauston menghentikan kereta di tempat yang ditunjuk Baekhyun.
Baekhyun langsung melompat turun tanpa menanti Fauston membantunya turun dari kereta. "Fauston," ia berkata tenang. Matanya memandang Fauston dengan serius.
Melihat sinar mata yang jarang dilihatnya itu, Fauston tahu Baekhyun tidak dalam suasana hati untuk beramah tamah. Ocehan Daehyun pasti telah membangkitkan kemarahan gadis periang itu.
"Katakan pada ayahku untuk tidak mengkhawatirkanku. Aku tidak akan mengecewakannya."
"Baik, Tuan Puteri," kata Fauston tegas.
"Cepatlah pergi sebelum seorang pun melihat kita."
"Baik, Tuan Puteri," kata Fauston lagi dan ia melajukan kereta meninggalkan Loudline.
Baekhyun langsung membaurkan diri dalam keramaian. Ia sudah pernah mendengar gosip semacam ini sebelumnya.
Walaupun Luhan maupun Sehun telah menyembunyikan koran dari jangkauannya, Baekhyun tahu setiap hari mereka membicarakan dirinya ramai-ramai.
Baekhyun sudah tahu sejak detik ia dipaksa menikah dengan Chanyeol. Ia sudah tahu ia akan
menjadi umpan paling hangat untuk seisi Viering! Daya tariknya cukup untuk mengalahkan daya tarik Kyungsoo.
Namun, satu hal yang tidak pernah diperhitungkan Baekhyun adalah parahnya gosip itu. Ia tidak pernah menduga mereka akan mulai mengungkit-ungkit hubungan dekat antara ayahnya dan Grand Duke.
Ia tidak sedikitpun berpikir mereka akan menuduh ayahnya membujuk Grand Duke untuk memilihnya. Ia pernah mendengar mereka menuduh Grand Duke memilihnya karena ia adalah putri sahabatnya.
Ini sudah benar-benar di luar batas!
"Besok lusa adalah pesta pertunangan mereka, bukan?"
"Kudengar pesta itu akan diadakan di Schewicvic."
"Sudah lama Schewicvic tidak mengadakan pesta."
"Aku benar-benar tidak sabar menanti esok lusa."
"Aku juga. Aku ingin tahu rupa Lady Baekhyun."
"Kudengar akhir-akhir ini ia mendapat pelajaran khusus untuk mempersiapkannya menjadi seorang ratu."
Seorang dari wanita itu tertawa. "Ia pasti membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi seorang lady. Memangnya Earl bisa mendidiknya menjadi seorang lady? Malah kudengar setiap hari ia berkumpul dengan pria."
"Aku jadi ingin tahu apa yang membuat Grand Duke memilihnya."
"Pasti Earl. Memangnya ada kemungkinan yang lain?"
"Grand Duke pasti sudah pikun. Sudah saatnya ia digantikan."
Baekhyun langsung melotot ke arah wanita yang sedang mengucapkan kalimat itu. Ia tidak peduli orang-orang itu meragukannya. Ia tidak peduli seisi Viering menggosipkannya.
Tetapi ia tidak dapat menerima komentar mereka tentang ayahnya dan Jungsoo! Ia tidak dapat memaafkan mereka untuk itu!
Seseorang menepuk pundak Baekhyun. "Jangan kauhiraukan mereka," suara yang dikenal baik oleh Baekhyun berkata.
"Sehun," kata Baekhyun serius, "Akan kuperlihatkan pada mereka siapa Baekhyun. Akan kubuktikan Jungsoo dan Papa bukan orang seperti itu."
Sehun tersenyum dan mengangguk. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Baekhyun saat ini.
"Lekas pergi dari tempat ini sebelum seorang pun melihat kita," Baekhyun menjauhi Sehun.
Untuk sesaat Sehun terperangah. Ia tidak mengharapkan Baekhyun akan segera pulang. Tidak setiap saat Sehun memberikan kelonggaran kepada Baekhyun.
Ini adalah kesempatan yang langka untuk melepaskan penat dari aktivitas akhir-akhir ini yang kata Baekhyun, menyiksa dirinya. Sehun tidak menduga Baekhyun akan langsung pulang ke Mangstone.
Ia tidak dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
Bukan hanya Sehun saja yang kebingungan melihat keseriusan Baekhyun hari ini. Luhan juga dibuat bingung semenjak Baekhyun menginjakkan kaki di Mangstone.
Begitu mendengar derap kuda mendekat, Luhan tahu Sehun membawa pulang Baekhyun. Ia langsung menyambut mereka dan bersiap-siap memarahi Baekhyun. Ia baru saja akan membuka mulut ketika Baekhyun berkata,
"Luhan, apa saja yang harus kita lakukan hari ini? Aku tidak ingin membuang waktu. Banyak yang harus kita siapkan untuk pesta besok lusa." Dan Baekhyun berjalan melalui Luhan yang kebingungan.
Ia lantas berkata pada Nicci, pelayan pribadinya,
"Nicci, siapkan air mandi untukku. Aku ingin mandi sebelum memulai pelajaranku hari ini."
Bukan hanya keseriusan Baekhyun pagi ini yang membuat Luhan keheranan.
Ia juga heran oleh lancarnya pelajaran tata krama mereka hari ini.
"Sehun, apa yang terjadi padanya?" bisik Luhan ketika Baekhyun berlatih berjalan anggun. "Apa yang terjadi di kota?"
"Aku tidak tahu," jawab Sehun.
Luhan pun semakin tidak mengerti melihat Baekhyun untuk pertama kalinya tidak mengomel. Untuk pertama kalinya pula Baekhyun tidak berusaha kabur.
Luhan maupun Sehun juga tidak perlu memanjat pohon untuk menemukan gadis itu. Luhan tidak perlu berseru memanggil Baekhyun untuk muncul di kelas yang sudah disiapkannya.
Sehun tidak perlu mengawasi setiap pintu Mangstone. Dan yang terutama adalah untuk pertama kalinya Baekhyun melakukan semua tugasnya dengan lancar tanpa sebuah kesalahan pun!
Ia tidak menjatuhkan sebuah buku pun dari atas kepalanya ketika berjalan. Ia tidak menginjak kaki Sehun ketika berlatih berdansa. Ia tidak mengeluarkan sebuah suara pun ketika makan. Ia bersikap santun sepanjang hari ini.
Tidak sesaat pun ia mengeluarkan sikap kelaki lakiannya. Baekhyun seakan-akan terlahir kembali menjadi sebuah sosok yang tidak mereka kenali lagi.
"Bukankah ini bagus?" tanya Sehun ketika Luhan tidak henti-hentinya mengomentari perubahan Baekhyun yang mendadak ini, "Ia sudah menjadi seorang lady yang anggun seperti keinginanmu."
Luhan juga tidak dapat memberi pendapat selain mengomentari dan berpikir.
.
.
.
Perlahan-lahan halaman Schewicvic dipenuhi oleh kereta para tamu undangan.
Para wanita tampak cantik dan anggun dalam balutan gaun mereka yang berwarna-warni. Para pria tampak gagah dalam baju resmi mereka. Senyum tersungging di setiap wajah yang meramaikan Schewicvic.
Berbagai macam bunga yang berwarna-warni tertata rapi di setiap sudut Schewicvic. Taman Schewicvic yang telah ditata cantik sejak seminggu lalu, siap menampung setiap hadirin yang ingin menikmati keindahan Schewicvic.
Setiap orang berkumpul dan berbincang-bincang dengan teman-teman mereka.
Ada yang tengah membicarakan pacuan kuda yang akan berlangsung. Ada yang membicarakan masalah politik dan ada pula yang tengah membicarakan pesta pertunangan ini.
Keheningan dan ketenangan Schewicvic selama sepuluh tahun ini tersibak oleh keceriaan setiap orang yang memenuhi Hall utama Schewicvic.
"Sudah lama Schewicvic tidak seramai ini," komentar Sehun.
"Ya," guman Grand Duke Jungsoo, "Kyuhyun tidak suka mengadakan pesta. Ia lebih banyak mengurung diri di Ruang Perpustakaan Schewicvic semenjak kepergian Virgie."
"Hari ini Earl tampak bahagia," Sehun melihat Earl yang tidak henti-hentinya menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Grand Duke tidak menanggapi. Ia sibuk memperhatikan gerbang belakang Schewicvic.
Dari pintu belakang itulah sang Paduka Raja Chanyeol akan masuk.
Menurut skenario yang mereka buat, Chanyeol akan dibawa menemui Baekhyun. Mereka akan diberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain.
Kemudian mereka berdua akan muncul bersama-sama di Hall utama tempat pesta diselenggarakan.
Berdasarkan skenario yang telah mereka sepakati pula, Baekhyun akan diperkenalkan sebagai kekasih Chanyeol yang tidak pernah muncul.
Detik-detik menjelang pesta pertunangan ini, semakin banyak orang yang meragukan Baekhyun. Semakin banyak yang mempertanyakan keputusan Duke of Krievickie.
Earl tidak menyukainya. Ia tidak mau seorang pun berpikir Baekhyun terpilih karena hubungan dekatnya dengan sang Grand Duke. Earl tidak mau putrinya menikah di bawah olok-olok orang lain.
Ketika ia mengeluhkan gencarnya gosip yang terus berkembang ini kepada Grand Duke Jungsoo, Luhan secara tidak sengaja mendengarnya. Dan ialah yang kemudian memikirkan skenario ini.
Chanyeol yang sudah tidak suka kehidupan pribadinya menjadi sarapan setiap orang, langsung menyetujui scenario mendadak ini. Satu-satunya orang yang tidak setuju adalah Baekhyun.
Ia sempat memberontak kemarin malam hingga Luhan khawatir Baekhyun akan kembali ke sifat lamanya setelah semenjak hari Kamis ia bersikap sangat anggun dan lemah lembut.
Namun sayangnya Baekhyun tidak mempunyai suara. Ia sudah tidak mempunyai suara semenjak ia ditetapkan menjadi calon pengantin Chanyeol, sang Ratu terpilih Viering.
Pagi ini ketika Baekhyun dipulangkan ke Schewicvic, ia masih memasang wajah cemberutnya. Satu-satunya yang membuat Luhan berlega hati adalah Baekhyun masih menjaga tata kramanya.
Earl juga seisi Schewicvic sempat dibuat terperangah oleh perubahan sikap Baekhyun setelah dua minggu lebih berada di Mangstone.
"Paduka Raja sudah datang," Grand Duke Jungsoo memberitahu.
Sehun melihat kereta kerajaan yang bergerak mendekati gerbang belakang Schewicvic.
"Aku akan segera menyambutnya," Sehun langsung bergerak. Tugasnya hari ini adalah mengawal Chanyeol ke kamar Baekhyun dan ayahnya bertugas memastikan Paduka Raja Chanyeol telah datang dari gerbang belakang Schewicvic.
Pasukan pengawal Raja langsung membentuk barikade di pintu belakang Schewicvic. Sementara itu seorang prajurit membuka pintu kereta.
Seorang pemuda berambut kuning kecoklatan turun. Sinar mata abu-abu yang tegas menatap langsung Sehun.
"Selamat datang, Paduka," Sehun membungkuk memberi hormat, "Kami telah menantikan kedatangan Anda."
"Tunjukkan jalannya padaku," suara berat Raja muda itu berkata penuh wibawa.
Dengan langkahnya yang anggun dan penuh wibawa, ia memasuki pintu belakang Schewicvic.
Sehun langsung membawa Chanyeol ke kamar Baekhyun.
Sementara itu Luhan tengah mengagumi hasil karyanya.
"Kau benar-benar cantik," gumamnya tiada henti.
Nicci menangis gembira. "Countess pasti akan gembira melihat Anda saat ini."
Baekhyun berdiri dengan tenangnya di hadapan kedua wanita yang sepanjang pagi ini terus sibuk mendadaninya. Matanya memandang keduanya tanpa rasa tertarik.
Mentari sore yang mengintip dari balik gunung, menyinari rambut kecoklatan Baekhyun yang tertata rapi layaknya seorang putri negeri dongeng.
Gaun hijau cerahnya membuatnya semakin cantik dan menyegarkan di puncak musim yang menyengat ini. Lekuk-lekuk kain sifon yang lembut menonjolkan bentuk tubuhnya yang sempurna.
"Kau akan menjadi pusat perhatian malam ini," Luhan terus mengagumi Baekhyun,
"Kau akan membawa pulang hati setiap pria di Viering."
Baekhyun tertawa sinis. "Terima kasih," katanya tidak senang, "Aku tidak ingin menjadi saingan Chanyeol."
"Kalian akan menjadi pasangan yang serasi malam ini," Luhan tersenyum bahagia. Matanya tidak pernah lepas dari Baekhyun.
"Hanya malam ini," Baekhyun menegaskan pada dirinya sendiri.
"Mengapa Paduka Raja belum tiba?" tanya Nicci cemas.
"Aku tidak tahu," Baekhyun duduk di depan meja riasnya untuk menegaskan ketidaktertarikannya atas kehadiran Chanyeol.
Ia menatap tajam bayangan dirinya di dalam cermin. Seumur hidup tidak pernah ia merasa kepalanya seberat ini.
Ia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa ia harus mengenakan permata berwarna-warni di atas kepalanya. Kata Luhan itu untuk membuatnya tampil semakin cantik tetapi bagi Baekhyun itu hanya membuatnya semakin pendek.
"Kurasa tak lama lagi ia akan segera datang," Luhan berkomentar.
Baekhyun juga berharap pria itu akan segera datang. Ia sudah tidak sabar memberi pelajaran pada orang-orang yang bermulut usil itu. Ia tidak sabar menunjukkan dirinya pada orang-orang yang sedang menanti kemunculannya itu.
Seseorang mengetuk pintu.
"Itu pasti mereka," kata Luhan gembira.
Nicci langsung beranjak membuka pintu.
"Kalian sudah siap?" Sehun melihat ke dalam ruangan. Matanya terpaku pada sosok Baekhyun yang duduk manis di depan meja rias. Ia terpesona.
Tidak pernah ia melihat Baekhyun secantik ini. Gadis yang tengah duduk di sisi Luhan itu bukan
Baekhyun yang dikenalnya. Ia adalah seorang gadis yang terlahir dari sebuah bunga musim semi di musim yang panas menyengat ini.
"Sebaiknya kita tidak menganggu mereka," Luhan mendorong adiknya menjauh.
Nicci menangkap maksud Luhan. Dari posisinya berdiri, ia juga dapat melihat Raja Chanyeol yang terpaku melihat Tuan Puterinya yang cantik. Ia pun mengundurkan diri dari dalam ruangan itu. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar Baekhyun.
Baekhyun menatap pemuda di depannya lekat-lekat. Seperti dugaan Baekhyun, ia sama sekali tidak tampak seperti seorang Raja.
Baekhyun lebih mudah mempercayai pemuda di depannya ini adalah seorang playboy kelas atas dari pada seorang Raja dari kerajaan besar seperti Viering. Dengan reputasinya yang panjang, ia lebih tepat disebut seorang ladykiller.
Mata abu-abunya menatap Baekhyun lekat-lekat seolah olah ia adalah satu-satunya wanita ia yang pernah ia temui di dunia ini. Sebuah senyum ramah tersungging di wajahnya yang tampan. Kemeja malam resminya membalut tubuhnya yang gagah tegap. Rambut kuning kecoklatannya tertata rapi.
Chanyeol melangkah anggun dan penuh wibawa ke arah Baekhyun. Langkah langkahnya yang penuh percaya diri membawa suatu pesona yang membuat mata setiap orang terpaku padanya.
Dalam hatinya Baekhyun tersenyum sinis. 'Tak heran setiap wanita di Viering bertekuk lutut di hadapannya,' pikirnya sinis.
Chanyeol berlutut di depan Baekhyun. Tangannya terulur meraih tangan Baekhyun yang berada di pangkuannya.
"Senang berjumpa dengan Anda, M'lady," katanya sopan, "Anda sungguh cantik seperti sekuntum bunga segar di padang pasir." Dan ia pun mencium tangan Baekhyun.
Baekhyun terperanjat. Dadanya berdegup kencang.
"S-senang berjumpa dengan Anda, Yang Mulia."
Chanyeol tersenyum melihat rona memerah di wajah cantik itu.
Baekhyun mengumpat dirinya sendiri. Ia tidak dapat menerima reaksi dirinya sendiri atas sikap Chanyeol yang mendadak ini. Mengapa ia harus malu!? Mengapa ia harus tersipu-sipu!?
'Ah,' ia membela dirinya sendiri. Seumur hidupnya, ia hanya berkumpul dengan tiga orang pria, ayahnya, Grand Duke Jungsoo, dan Sehun.
Mereka tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Yang terutama, pria di hadapannya ini adalah seorang ladykiller yang ahli dalam menaklukan wanita!
Baekhyun bersumpah ia tidak akan jatuh dalam jerat pria ini! Sekali lagi ia menegaskan, ia tidak akan menjadi Echo kedua! Ia adalah seorang Narcissus.
"Saya ingin menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan Anda tetapi para undangan telah menanti," Chanyeol kembali berdiri tegak.
'Dan pria ini mempunyai mulut yang manis!' Baekhyun memberitahu dirinya sendiri.
"Apakah Anda berkenan menunjukan jalan pada saya?" pria itu mengulurkan tangan.
"Tentu," Baekhyun menyambut uluran tangan itu.
Chanyeol menyembunyikan senyum puasnya. 'Jungsoo memang dapat dipercaya,' pikirnya puas. Gadis ini benar-benar seperti keinginannya. Cantik, mempesona, lugu, penurut, dan tidak bertele-tele.
Baekhyun kembali memarahi dirinya sendiri ketika ia menyadari betapa lugunya dirinya sendiri. Ia pasti terlihat seperti seorang gadis lugu yang tengah terpesona oleh daya tarik pria tidak berhati ini!
Namun Baekhyun masih dapat menahan dirinya sendiri untuk tidak merusak rencananya sendiri. Ia masih ingin membuktikan pada dunia siapa Baekhyun dan mengapa sang Grand Duke
kepercayaan Yang Mulia Paduka Raja Chanyeol memilihnya!
Dengan langkah-langkahnya yang penuh keyakinan, Baekhyun membawa Chanyeol ke Hall Utama. Baekhyun tidak ingin membuang waktu berbasa-basi dengan Chanyeol. Ia sudah cukup tahu tentang Chanyeol.
Dan ia tidak peduli apakah pria itu cukup mengenalnya atau tidak. Ia yakin masa lalunya tidak penting untuk pria ini. Bagi pria ini, yang terpenting adalah ia bersedia memberinya seorang keturunan!
Sikap diam Baekhyun benar-benar membuat Chanyeol puas. Ia benar-benar senang dengan pilihan Jungsoo ini.
Gadis ini benar-benar memenuhi segala kriteria yang diberikannya pada Jungsoo. Tidak rugi ia mengikuti skenario 'kekasih yang disembunyikan' Luhan.
Pasukan pengawal Chanyeol langsung membentuk barikade di tangga yang menuju Hall Utama.
Setiap undangan langsung tahu Chanyeol telah tiba.
"Yang Mulia Paduka Raja Chanyeol dan Lady Baekhyun of Hielfinberg tiba," Fauston – sang Kepala Rumah Tangga Hielfinberg mengumumkan.
Baekhyun langsung menegakkan kepala dan memasang senyum bahagia.
Chanyeol mengapit lengan kanan Baekhyun di sikunya dan ia melangkah dengan penuh wibawa di sisi Baekhyun.
Untuk sesaat setiap undangan sore ini terperangah. Mata mereka tidak lepas dari sepasang insan yang menuruni tangga dengan penuh percaya diri itu.
Senyum di wajah mereka melukiskan kebahagiaan mereka hari ini.
Gaun hijau Baekhyun menyapu lembut lantai tangga. Lekukan-lekukan gaunnya melambai seirama dengan gerakannya yang lemah gemulai. Mata coklatnya sungguh memberikan kesegaran yang tak terlukiskan di hari yang menyengat ini. Rambut yang cerah sungguh tampak serasi dengan kulit putihnya yang halus.
"Baekhyun benar-benar cantik," gumam Sehun.
"Apakah kau menyesal tidak merebutnya dari Paduka?" goda Luhan.
"Kurasa ia lebih cocok menjadi pendamping Paduka," kata Sehun lagi, "Lihatlah. Semua orang pasti sependapat denganku."
Luhan menatap wajah-wajah terpesona para tamu. Hampir setiap orang menunjukkan raut terpesona mereka dan tidak sedikit yang iri melihat pasangan yang serasi itu.
Baekhyun yang cantik memesona dan Chanyeol yang gagah tampan.
Luhan tersenyum melihat mereka berdua.
"Baekhyun benar-benar luar biasa," gumam Duke of Krievickie kepada sahabatnya.
"Ia benar-benar mirip Virgie."
Grand Duke dapat melihat air mata menggenangi sepasang mata Earl Kyuhyun.
"Ia benar-benar cantik seperti Virgie," ia merangkul pundak Earl, "Virgie pasti tersenyum bahagia di alam sana."
Dengan penuh percaya diri, Baekhyun melangkah di antara para undangan yang memberi jalan kepada mereka. Ia sedikit pun tidak tampak seperti seorang gadis yang telah dipingit selama sepuluh tahun lebih.
Fauston langsung memberi tanda kepada para pemain musik untuk mulai memainkan lagu.
Raja Chanyeol berlutut di depan Baekhyun. Tangannya terulur – mengundang Baekhyun.
"Apakah Anda bersedia berdansa dengan saya, M'lady?"
'Ia benar-benar tahu bagaimana mengambil hati wanita,' Baekhyun berkata sinis pada dirinya sendiri.
"Dengan senang hati," Baekhyun menyambut uluran tangan Chanyeol.
Chanyeol meletakkan tangannya yang lain di pinggang Baekhyun dan mulai berdansa bersama gadis itu.
"Semoga Baekhyun tidak melakukan kesalahan," gumam Luhan.
"Tidak akan," kata Sehun, "Hari ini Baekhyun bukan Baekhyun yang kita kenal."
Sehun mempunyai alasan tersendiri untuk mengatakan hal itu. Ia tidak pernah melihat Baekhyun seserius ini. Pandangan mata gadis itu tidak pernah lepas dari keceriaan. Ia juga tidak pernah bersikap seangkuh dan seanggun ini.
Sekalipun Luhan telah berusaha keras membentuk Baekhyun menjadi apa yang dilihatnya saat
ini, Sehun tahu Baekhyun tidak akan pernah bisa menjadi seorang lady yang angkuh dan anggun seperti para lady pada umumnya.
Baekhyun adalah seorang gadis yang ramah.
TBC –c-
Waaaa makasi buat yang fav follow review , jadi semakin semangat buat lanjutin ^o^~
