Diantara temaram nya lampu, dan diantara suasana hiruk pikuk yang terasa kian mencekik. Dengan aroma alkohol juga kepulan asap yang menguar di udara bersamaan dengan membaurnya tubuh yang meliuk-liuk mengikuti irama musik yang bergema. Terdapat dua pemuda berambut merah sedang berjalan bersamaan.

"Bagaimana? Apa kau tak keberatan dengan hal ini?" Seseorang dengan surai merah dengan raut datar, yang memiliki mata hazel besar bertanya pada sosok merah lain disampingnya.

"Hm. Terserah Kau saja."

"Dan mengenai kepindahan mu, kau akan ku tempatkan di Konoha High School. " Sementara itu, pemuda merah bertatokan kanji 'ai' hanya bergumam pelan. Mata hijau tanpa alis itu, menyapu sekitar mencoba mengeksvansi seluruh ruangan.

"Baiklah, kita akan bertemu Nagato, pengelola sekaligus pemilik bar ini. Kita akan bicarakan tentang jadwal, juga lainnya." Mereka berdua berjalan mendekati pintu yang memang agak memisah dari suasana ramai ini. Meraih kenop pintu dan memutar nya.

Keduanya terdiam saat ia melihat sesosok pirang yang berdiri tepat di depan pintu yang ia buka.

"Oh. Ohayou, Kitsune. Lama tak jumpa." Kali ini pria dengan manik hijau zamrud ini, membuka suara. Saat kedua kepingan hijau itu menangkap satu bayangan indah berwarna emas dihiasi kilauan biru yang terpancar. Anggun memikat.

Pria dengan hiasan hitam mengelilingi kedua matanya lalu menyeringai saat tatapan matanya melihat bulatan sejernih samudera itu nampak membulat. Ia Berbisik pelan.

"Miss me?"

That Nerd Girl Whom I Love

Disclamer:

Naruto just belong to Masashi Kishimoto.

Warn:

Eyd berantakan, typo(s) dimana mana, gaje, GS, AU, School Life, ide pasaran, cerita layaknya sinetron ABG labil, dan semua ketidak sempurnaan dalam cerita saya.

Pair:

SasuFemNaru and the other.

.

.

.

Chapter : 4

" Ohh... rupanya kalian sudah tiba!" Nagato berseru keras dari dalam ruangan. " Baiklah, karena kalian sudah datang kita bisa memulainya sekarang."

Naruto hanya mengerutkan dahinya. Oh, sepertinya bos merah nya tak kasihan padanya. Yang benar saja. Apakah Naruto mampu bertahan bekerja dengan cobaan yang kian menimpanya. Tak cukupkah ia harus bertahan dengan 'teman' panggung barunya yang teramat baik hati, tapi mengapa ia harus disatukan kembali dengan sosok merah itu.

"Jadi Kitsune?"

"Ahn.. Ya?" Ia kembali tersadar dari lamunannya saat Nagato bertanya padanya.

"Kita akan tampil sebentar lagi. Jadi Kitsune, apa kau akan berlatih terlebih dahulu atau kau akan bermain langsung?"

Naruto melihat kini semua orang memandangnya. Kyubi, wanita oranye itu menatap meremehkan kearahnya. Ia kemudian melirik kearah tempat dimana Gaara berada. Laki-laki itu melemparkan senyum anehnya, dan menatapnya secara intens.

Naruto kemudian memandang Nagato. Menatap memelas kepada pria merah itu, ia bergidig ngeri saat membayangkan tubuhnya akan habis dicincang, melihat dari bagaimana kilat ruby itu begitu tajam menikam. Naruto kemudian beralih menatap pria merah bermata hijau. Tengkuknya meremang saat melihat seringaian yang tercetak jelas bersamaan dengan kilatan zamrud yang menatapnya sungguh. Ia kembali menatap Nagato.

"Tak usah. Kita langsung saja."

Dan disini lah ia, berdiri diantara manusia yang benar benar berniat menyiksa lahir batin kepadanya.

Sementara itu, disisi lain Gaara yang sudah siap dengan peralatan nya. Ia memasang head phone nya sembari memandangi sosok Kitsune yang terlihat begitu muram. Ia tersenyum tipis melihat tingkah laku dari gadis pujaan hatinya.

Ia bertemu dengan Kitsune pada saat sepupunya Sasori mengajak ia untuk bertemu dengan teman-teman satu hati satu jiwanya. Ia jujur terpesona dengan apa yang ada dalam diri gadis itu.

Ia pernah bertanya mengapa gadis yang tergolong belia itu, bekerja di tempat yang bisa di bilang tak layak bagi gadis sepertinya. Tapi apa jawabnya, dia menjawab jika ia mempunyai pilihan, ia akan memilih untuk tak pernah merasakan apa yang namanya hidup, karena tak ada sedikitpun kebahagiaan yang pernah ia kecap. Namun ia kembali berkata dengan senyum getir terhias di wajahnya. Hidupnya sudah menyedihkan untuk dijalani, bukankah akan semakin menyedihkan jika ia terus meratap dan mengakhirinya secara sia sia. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus melangkah menjalankan apa yang harus ia lakukan, mencoba memperbaiki apa yang salah dengan hidupnya, membuktikan kepada setiap orang bahwa ia mampu. Ia mampu untuk menaklukkan hidup yang tak pernah bersahabat dengannya.

Gaara tersentak dengan apa yang di lontarkan oleh sosok cantik itu, dan dari sanalah ia belajar untuk tetap bertahan walau rentetan masalah terus menerjangnya.

Dari sanalah ia menyukai; ah atau mungkinkah mengagumi, rasa kagum yang beralih kepada rasa ingin memiliki. Rasa ingin memiliki yang kian berkembang menjadi sebuah obsesi, obsesi yang mungkin akan mengikis sisi rasionalnya secara perlahan.

Juga sebuah obsesi yang mungkin akan menghancurkan apa yang kini ia telah genggam.

.

.

.

.

0o0o0o0

.

.

.

Naruto merasa waktu terhenti. Tertahan sejenak menusuk nya secara tak kasap mata, melalui tiap celah yang merongga dari sisian pori pori kulit yang membalut tiap inci bagian tubuhnya, saat sebuah tangan putih kekar mencengkeram erat tangan putih miliknya, dan menarik kasar tanpa memberi kesempatan untuk terlepas.

Begitu dingin, melekat. Hingga ia tak sanggup untuk berdiri tegak dengan kepala terangkat memandang menantang si pelaku penyeretan.

"Pelan pelan, teme! Tangan ku akan lepas, jika kau begitu sungguh menariknya."

Percuma gadis itu bersua, nyatanya pria itu tak ter pengaruh barang sedikitpun. Ia hanya terus berjalan, menatap kedepan. Memacu langkahnya tak memperdulikan rintihan serta umpatan pilu sosok yang kini tengah ditawan nya.

"Lepaskan aku. Teme!"

Tapi sosok itu tetap tak terpengaruh.

"Lepaskan!.. Ahh..." akhirnya, ia bisa terlepas juga. Gadis pirang itu, menghentakan tangannya dengan keras. Ia kini hanya mengusap pergela tangannya yang terasa perih dan memerah.

Mata sejernih lautan itu, menyipit tak suka membalas tatapan tajam pria surai suram ini. Namun, ia merasa beruntung juga bisa terbebas dari terkaman maut sang rakun juga sergapan ganas sang rubah induk.

Haah... Kalau di pikir-pikir, disini ia juga sih yang menjadi tersangka atas apa yang menimpanya.

Pertama. Ia telah mengibarkan bendera perang kepada nona oranye yang kini mungkin berperan sebagai guru barunya. Ya, walau sebagian besar hati kecilnya berharap ia tak akan mencicipi pengajaran yang entah itu seperti apa, dari sosok buas ini.

Kedua. Ia tengah bersembunyi juga berlari dari terkaman mahluk liar dengan mata panda dan tanda cinta yang tercetak jelas di dahinya. Ya, walaupun dalam kasus ini ia bukanlah pelaku utamanya. Tapi ia masih tetap merasakan imbasnya.

Ketiga. Untuk permasalahan yang ia anggap fatal ini. Ia lah yang menjadi tersangka utama sekaligus korban dari apa yang terjadi. Persis nya ia hanya tak ingin Sasuke teme Uchiha itu tahu tentang siapa dirinya, karena ia berani bersumpah bahwa hal itu sangatlah teramat tidak baik bagi keberlanjutan hidup damai yang telah ia bangun selama ini.

"Kau tau. Apa kesalahan mu kali ini, hn?" Naruto hanya diam dan menunduk memandangi kedua ujung kakinya, saat merasakan tatapan tajam dari manik hitam yang melesak masuk bersamaan dengan suara berat yang mengalun begitu pelan namun menekan. Naruto terdiam makin menciut, saat merasakan hembusan nafas menyapu tengkuknya.

Naruto memejamkan matanya, menutupnya membiarkan kedua kelopak putih itu tertutup saat sebuah tangan mengangkat dagu nya memaksanya untuk mendongak.

" Kau takan membuat ini semakin sulit kan, dobe?" Sasuke semakin merapatkan kedua tubuhnya. Menghapus jarak yang tercipta diantara mereka. Mata kelamnya begitu gencar menelusuri apa yang ada di hadapannya.

Sementara itu, Naruto yang selaku objek peng-intimidasi-an dari Uchiha bungsu ini hanya semakin mengerutkan tubuh mungilnya yang tenggelam dalam balutan baju kebesaran miliknya. Tangan ranting miliknya menggapai - gapai sekitaran nya, mencoba mencari pegangan karena jujur seberapa pun bengalnya ia terhadap Uchiha satu ini, ia tetap tak kuat jika ada dalam dark zone glare intimidation pemilik rambut unggas ini.

Lengan kurus itu meraba-raba menelusuri dingding yang berada di belakangnya. Ia merapatkan tubuhnya pada tembok itu, seolah olah dengan hal itu ia akan selamat dan terhindar dari dark prince yang menyebalkan yang siap menyantap nya.

"Dengar."

Sasuke kembali mendekati tubuh yang kini merapat pada tembok. Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma citrus yang menerpa indra penciumannya.

"Kau, tau kan apa yang harus kau lakukan sekarang ?"

Sasuke berbisik, tepat di sebelah telinga pemilik tanda kucing di masing-masing pipinya. Ia lalu kembali menatap kepingan jernih biru yang tetap berkilau dan memukau walau terhalang terpenjara lempengan tipis kaca yang membelenggu, mata kelam hitam miliknya menatap dalam kilauan biru jernih itu, mencoba menyampaikan apa yang saat ini tengah ia rasakan, mencoba menyalurkan gejolak perasaan yang kian bergolak dan meluap melumuri sisian akal sehatnya.

"I...I.. iya. Aku tau." Naruto menjawab dengan pelan dan tergagap. Kami-sama tolonglah ia. Ia tak sanggup jika harus bersamaan dengan mahluk jejadian ini walau untuk waktu yang sebentar.

"Bagus." Pria bersurai legam itu mengangguk paham.

"Jadi."

"Jangan coba coba untuk pergi menghindar." Sasuke kembali berucap datar dan memandang tajam si pirang yang kini berada begitu dekat dengan dirinya.

Naruto kemudian bernafas lega saat sosok kekar kini tak ada lagi menempeli tubuhnya. Hah, bisa bisa habis dirinya jika terus berdekatan dengan si dingin yang sok tampan ini. Dan hal itu tak baik pula bagi kesehatan jantungnya, yang memang agak tak sinkorn bila berdekatan dengan si teme aho ini. Ia merasa degupan jantungnya meledak ledak, ribuan kupu kupu seolah bersarang dalam perutnya dan terbang bergemuruh dalam satu sentakan menciptakan rasa geli yang mengelitik. Dan ia tak tau menau mengenai hal itu.

Ia kali ini hanya bisa berdoa dan berharap semoga tuannya ini takan menerkamnya hidup hidup atas semua kesalahan baik yang disadari maupun yang tak pernah di sadarinya. Ya tetap berharap.

.

.

.

.

0o0o0o0

.

.

.

Sasuke duduk dengan manis di sebuah sofa juga ditemani dengan beberapa kudapan dengan suatu jenis; entah itu sayur ataupun buah, berwarna merah menggiurkan yang mendominasi.

Laki-laki itu, duduk bersantai. Menikmati suasana tenang yang begitu menyejukkan hati. Di hias hamparan biru dengan selipan kapas putih yang menggantung, semilir angin yang membuai lembut, memaparkan pelan kedalam damai yang melambai memanggil manggil.

Tangannya bergerak mengambil satu potongan buah yang telah terkupas, memakannya dengan anggun dan damai.

Ahh sempurna.

Sempurna, jika saja tak ada sosok lain yang memandang tajam serta tak rela dari sisian pojok. Uh,,, kasihan. Ha, tapi inilah hukumannya jika melanggar dari apa yang telah Uchiha gariskan.

"Apa?!" Sosok itu membentak ketus, saat Sasuke menatap tepat di wajahnya. "Kau ingin aku apa lagi? Tidak cukupkah dengan apa yang ada di hadapanmu? Jadi, makanlah apa yang ada. Jangan mengganggu ku."

Sungguh gadis itu benar-benar kesal atas apa yang di lakukan Uchiha Sasuke kepadanya.

Pertama. Ia di seret pergi menuju atap dan dipaksa untuk membolos.

Kedua. Si kepala rancu itu, dengan seenak hati menyuruhnya membereskan atap yang begitu sempurna semrawutnya menjadi singgah sana yang tampak begitu nyaman. Membuat Naruto semakin ingin memangkas habis rambut lebat yang berdiri melawan gravitasi yang seolah olah mengejeknya. Memang nya mudah apa? Menyulapnya menjadi tempat kebesaran tuan agung dadakannya. Ia harus bulak balik menata ini itu, membawa barang-barang dari gudang. Menyeretnya naik keatas.

Ketiga. Setelah menatanya, ia juga harus mempersiapkan suatu hidangan yang kesemuanya haruslah berjenis tomat, tak peduli itu campuran, bahan utama maupun sebagai hiasan yang terpenting haruslah tomat.

Dan apa yang Sasuke Uchiha-sama lakukan setelahnya? Ia hanya duduk manis, tersenyum simpul dan melahap apa yang telah ada untuknya. Tak memperdulikan seperti apa ia berusaha. Cih, menyebalkan.

Heck! Matilah kau Uchiha, bersama dengan kursi sialan juga sekumpulan tomat tomat mu.

"Kemari lah dobe." Sasuke hanya berujar santai. Menanggapi apa yang ditujukan padanya.

Laki-laki itu, kemudian menepuk tempat kosong di sampingnya.

"Bersantai lah sedikit, jangan terlalu tegang. Duduklah disini."

"Aku tak mau!" Naruto memalingkan wajahnya, jelas ia masih kesal dengan kesemena-menaan yang Sasuke Uchiha-sama berikan untuknya.

"Ekhm"

Sasuke berdehem pelan, matanya masih sama datar, namun kentara ada kilatan berbeda dalam kilau kelamnya.

"Kau, harus." Pria itu berkata halus, pelan dan tersenyum tenang di bumbui gurat imajiner guguran bunga yang nampak indah mematikan.

"Baik...baik! Apa yang tidak untuk tuan teme sepertimu?" Naruto dengan ketus membalas Sasuke yang nampak halus memaksa.

'Set'

"App.."

"Kau lambat, dobe."

Sasuke memotong ucapan Naruto, saat gadis itu akan memprotes perihal yang di lakukan dirinya.

Sementara itu, Naruto yang terkejut dengan tindakan Sasuke; yang menarik dan mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan Uchiha, hanya diam mematung. Jantungnya berdegup cepat, meluruh letup siap meledak dengan luapan gejolak yang bergemuruh di dalam dadanya. Kedua pipi tembam berhiaskan gurat tipis, merona merah.

Sesaat kemudian, ia pun sadar dan meronta mencoba melepaskan tubuhnya dari kekangan tangan kekar putih yang membelenggu pinggang ramping miliknya.

"Diamlah, dobe."

Sasuke berbisik pelan, ia sandaran dagu tegasnya pada bahu sempit itu. Mata kelamnya tang biasa berkilat tajam, kini memandang teduh.

Naruto yang merasakan alunan bariton yang mengalun berat tepat di telinganya, hanya terdiam. Tubuh kaku nya, mencoba rileks dalam dekapannya; menyadarkan kepalanya pada dada bidang sang Uchiha.

Sasuke tersenyum tipis, merasakan tubuh si pirang yang tak kaku lagi. Tangannya kemudian menggapai satu hidangan di meja, kemudian mengambil satu sumpitan omelet dan menyuapkannya pada si pirang.

"Makanlah dobe. Aku tau kau lapar." Ia berujar datar, saat mendapati si pirang yang memalingkan wajahnya guna menolak apa yang di lakukan oleh Uchiha.

"Hm, makan dobe."

Naruto yang merasa tak ada pilihan lain, ia akhirnya memakan apa yang Sasuke berikan padanya. Mengunyah dengan pelan.

Sasuke tersenyum, ia lalu menyodorkan kembali makanan yang ia ambil. Memaksa memasukan pada bibir tipis si pirang, memakannya sampai habis.

Tangan nya kemudian bergerak mengambil satu gelas jus tomat dingin.

"Minum?"

Sasuke bertanya singkat, dan di balas oleh anggukan dari sosok mungilnya. Sasuke lalu memberikan gelas itu pada Naruto.

Setelah selesai dengan cepat Naruto bangkit, namun gerakannya tertahan saat tangan kekar itu mencengkeram nya.

"Biarkanlah seperti ini, dobe."

Naruto tersentak pelan. Wajahnya kian memanas merasakan apa yang Sasuke lakukan kepadanya. Ia kembali terdiam, menyadarkan tubuhnya pada orang ia cap sebagai rival nya.

Angin berhembus pelan. Membelai keduanya, memberikan ketenangan.

Naruto mengerjap kan kedua matanya, saat kantuk datang menghampirinya. Namun ia tetap tak sanggup untuk melepas kan buaian itu. Terlalu indah, dan terlalu sayang untuk di lewatkan.

Sasuke tersenyum lembut, saat merasakan deruan nafas yang berhembus teratur. Tangannya bergerak membelai surai pirang yang yang bergerak pelan tertiup hembusan angin.

Sasuke kembali tersenyum, sungguh ia tak mengharap lebih atas apa yang ia rasakan. Untuk terus bersama dengan sosok nya Saja itu sudah cukup baginya. Ya, sudahlah cukup.

.

.

.

.

0o0o0o0

.

.

.

Naruto kini berada di dalam restroom. Ia dengan cepat membasuh wajahnya.

Tadi ia terbangun oleh terpaan angin yang berhembus kencang. Tanpa ada rasa nyaman yang menyelimuti nya, tanpa dekapan hangat yang mengukungnya. Ia terbangun tanpa sosoknya. Ia terbangun tanpa Sasuke bersamanya.

Kemudian gadis itu bangkit, saat merasakan mual yang memenuhi rongga mulutnya. Ia berlari menuruni tangga dengan membekap mulut dan berhenti tepat di belokan pertama. Memasuki rest room, menghampiri wastafel dan membuang isi perutnya.

Dan disini lah ia, berdiri dengan nafas memburu. Tangannya yang gemetar, mencengkeram tepian wastafel dengan erat. Mata biru jernihnya memandang sayu pantulan wajahnya yang begitu pucat pasi.

Naruto merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, ia kemudian merosot, tak kuat dengan topangan tubuhnya. Ia terduduk dan menyandarkan tubuhnya pada tembok. Kedua tangan nya kemudian bergerak mencengkeram erat rambutnya, saat merasakan sakit yang menghantam hebat kepalanya.

"Arrgh."

"Hah.. hah.. hah..."

Nafas nya kian memberat, peluh kini bercucuran dari pelipisnya. Dan rasa sakit di kepalanya semakin menjadi. Tangannya kini kembali mencengkeram kepalanya, saat sakit itu terus menghantam.

"Arrrgghhtt"

Sungguh Naruto tak tahan dengan ini. Matanya mengabur, tangan nya melemas. Tubuhnya terasa ringan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mempertahankan kesadarannya.

Di tengah kesadarannya yang makin menipis, ia melihat sesosok wanita berambut oranye menghampirinya. Mata ruby sosok itu menatap penuh khawatir padanya. Hingga ia merasakan sentuhan hangat pada bahunya, sebelum semuanya menggelap.

.

.

.

.

0o0o0o0

.

.

.

Kyubi saat ini tengah berjalan di dalam koridor. Saat ini kegiatan belajar masih berlangsung. Namun jam mengajar dirinya sudah usai beberapa saat tadi. Dari jadwal yang ia dapat, ia hanyalah mengajar pada murid tingkat pertama, dan membantu sedikit untuk murid di tahun akhir.

Ia terus berjalan, keadaan kali ini tampak sunyi. Ia menatap jalanan yang akan ia lalui. Pendengarannya menangkap samar suara erangan kesakitan dan dilanjutkan dengan deru nafas yang memburu.

Ia kemudian melihat kearah ruang rest room yang terbuka, dan dengan cepat memasukinya. Ia terkejut saat melihat siswi yang tengah meringkuk memepetkannya tubuhnya pada tembok. Peluh jelas memenuhi wajah yang begitu pucat.

Ia menghampiri gadis itu, tangannya meraih bahu gadis itu. Kyubi makin panik, saat mendapati sosok dihadapannya nampak kehilangan kesadarannya.

"Hei..."

Kyubi mengguncangkan bahu si gadis.

"Hei..sadarlah... hei.."

Ia kini menepuk nepi kedua pipi gadis itu, berharap gadis itu akan sadar.

Ia kemudian berjalan keluar, mencari bantuan. Matanya memincing saat melihat dua orang siswa yang sedang melintas di ujung koridor.

"Hei kalian!"

Mereka menoleh, dan menunjuk diri mereka sendiri dengan alis tertaut heran.

"Ya kalian. Kemari lah. Cepat!"

"Ada apa, Sensei?"

"Bantu aku. Di dalam ada seseorang yang pingsan. Dan kalian, cepat bawalah dia ke ruang kesehatan."

"Ha'i. Sensei" kedua laki-laki itu, kemudian masuk dan membawa gadis tak sadarkan diri menuju ruangan kesehatan.

Kyubi berjalan mengikuti mereka. Ia masuk ke dalam ruangan kesehatan. Ia kemudian duduk di kursi yang berada di pojok ruangan.

Duduk terdiam, memandang sosok yang terbaring tak sadarkan diri. Alisnya tertaut, ia berfikir bahwa gadis itu serasa tak asing baginya. Tapi apa? Ia sama sekali tidak mengingatnya. Ia belum pernah Sekalipun bertemu dengannya.

Perawakan gadis itu kecil; terbilang imut sebenarnya, di tambah baju kebesaran yang gadis itu pakai, menambah kesan tersendiri. Wajahnya bisa dibilang Yah lumayan lah, walau kaca yang lumayan tebal terpasang apik di wajahnya.

Kyubi duduk di kursi itu, dengan diam memandang selama hampir dua jam. Bel tanda akhir pelajaran sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Dan nampaknya gadis ini tetap betah juga dalam bawah sadarnya. Ia kemudian melihat arloji miliknya. Hah.. hari memang sudah mulai sore. Kyubi juga bisa mendengar sayup sayup beberapa anak yang nampaknya masih betah.

Ia lalu menatap kembali sosok yang masih berbaring. Kyubi segera bangkit saat melihat adanya pergerakan dari sosok itu.

Ia melihat kelopak mata itu terbuka perlahan, mengerjap pelan.

"Kau sudah bangun, baguslah."

Kyubi lalu berjalan pelan menghampiri sosok itu, gadis itu mencoba bangkit dari tidurnya.

"Pelajaran telah usai beberapa menit yang lalu. Aku tadi menemukanmu pingsan di kamar mandi. Siapa namamu?"

"Naruto."

"Baiklah Naruto, apa kau akan pulang ,atau tetap diam disini."

"Aku akan pulang." Naruto menjawab pelan, tak memperdulikan sindiran halus lawan biaranya.

"Baiklah. Mari berangkat, kau perlu bantuan?"

"Hm.. tak usah, terima kasih. Aku bisa sendiri."

Mereka berjalan beriringan berjalan pelan. Lalu keduanya berhenti didekat parkiran.

"Tunggu. Kau akan pulang dengan apa?"

"Aku akan pulang sendiri. Dengan bus." Lanjutnya pelan.

"Pulang saja dengan ku. Bagaimana? "

"Tidak Sensei, terima kasih. Aku sudah banyak merepotkan mu. Tak apa, aku bisa pulang sendirian. "

"Tidak. Kau harus pulang denganku. Aku juga sekalian akan pulang. Jadi, itu bukanlah hal merepotkan."

"Tapi, Sensei."

"Kau. Harus." Kyubi berkata menekan. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Ia juga takan tega membiarkan gadis kurus ini pulang sendirian dengan keadaan yang menyedihkan.

"Baiklah, aku ikut. "

"Hn. Ayo."

Naruto memasuki mobil audi berwarna putih. Ia duduk terdiam. Kepalanya masih pening, walau tak separah tadi. Badannya masih terasa lemas. Mereka berdua sama tenggelam dalam keheningan. Mereka sama terdiam. Kyubi dengan konsentrasi nya, Naruto yang hanya memandang jalanan luar tanpa ada biaranya untuk bicara.

"Di mana rumah mu, Naruto?"

Naruto terdiam, ia bingung. Pasalnya, antara rumah, Caffè dan bar tempatnya bekerja jarak nya berjauhan satu sama lain. Dan biasanya juga, ia langsung pergi ke Caffè dan berlanjut ke bar. Ia memang lelah. Tapi, jika ia tak bekerja dari mana ia akan mendapatkan uang. Ingat. Bahwa ia hidup sendirian tanpa topangan siapapun, jadi yang bertanggung jawab atas kehidupannya kini adalah dirinya. Jadi, bagai mana pun kerasnya, dan walaupun ia lelah. Ia harus tetap berjuang. Ya, berjuang. Demi dirinya, juga kaasannya.

"Aku akan berhenti di pertiga sebelah utara saja. "

"Kau yakin?" Kyubi bertanya heran.

"Ya." Jawab Naruto yakin.

Kyubi dengan cekatan mengoper persnelingnya, ia berhenti tepat di halte, yang nampak agak sepi.

Naruto lalu bangkit, keluar dari mobil. Ia kemudian memandang Kyubi dan tersenyum kepadanya. Lalu ia membungkukan badannya empatpuluh lima derajat.

"Arigatou ne, Sensei."

"Hn. Sama-sama, hati hatilah."

"Ne." Naruto mengangguk kecil dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya.

Setelah mobil itu pergi melaju, Naruto lalu berjalan menuju Caffè tempat ia bekerja. Dalam perjalanannya pikirannya melayang pada kejadian tadi.

Ternyata, Kyubi tidaklah seburuk itu. Ya walau Naruto akui, Kyubi teramat kejam terhadap Kitsune. Namun wanita itu, begitu baik pada sosoknya. Sosok aslinya. Tanpa topeng dan tanpa kepalsuan. Ia merasa tak asing dengan sosok itu. Ya walau pun ia telah bertemu dengannya tadi malam, tapi bukanlah itu.

Ia merasa, pernah merasakn ini. Ia tak tau pasti itu kapan. Tapi ia seolah-olah sudah cukup banyak mengenal tentang nya.

Langkahnya terhenti. Jantungnya bergemuruh cepat. Ia tertegun saat mengingat satu kilatan ruby yang menatap khawatir padanya. Ia baru sadar satu kilatan itu sama. Kilatan ruby itu memiliki kesamaan. Kilatan yang sama dengan apa yang di miliki kaasannya.

TBC

Akhirnya update juga, ya walau masih pendek.. Haaah...

Saya mau ucapan Makasih buat yang review, maaf gak bisa bales satu persatu. Dan sekali lagi saya mohon bimbingannya, karena saya masihkah terlalu awam untuk dunia tulis menulis ini.

Tak bosan dan tak lupa saya ucapakan terima kasih bagi yang memfav, follow, review and thanks too for reading.

See you!