Author: Athiya064/Kyung064
Title:
Mind if I Knock In?
Cast: Lee Taeyong, Jung Jaehyun, Johnny Seo, Ten Chittaphon
Leechaiyapornkul
Other Cast: NCT, SM, YG, JYP artists & other.
Genre: Romance, hurt,
Hogwarts!AU
Language: Indonesian.
Desclaimer: I do not own the characters.
Words:
Contacts:
athiya064 on line/twitter/ig

"Aku bersumpah akan merubahmu menjadi katak rawa di kelas transfigurasi nanti, Jung! Lihat saja!"

. . .

Pukul tujuh, jam makan malam di aula besar. Sudah mulai sepi karena sebagian anak akan pulang untuk liburan natal bersama keluarga mereka. Tapi beberapa siswa kelas akhir memilih tetap tinggal dan hanya kembali di hari natal dan akan kembali lagi ke hogwarts pada tahun baru.

"Oh, dingin sekali disini." Yuta mengeluh, entah merupakan sindiran atau bukan. Orang-orang di meja Slytherin selalu diam sesuai adab yang baik ketika makan, biasanya ia, Johnny, dan Jaehyun adalah pengecualian. Mereka sering bersenda gurau atau sekedar membicarakan olahraga yang sedang populer. Tapi kali ini mereka ikut-ikutan diam. "Kau benar, ah, aku akan makan di meja Gryffindor."

Belum sempat kedua temannya merespon Johnny sudah berpindah ke meja Gryffindor yang letaknya tepat di seberang mereka, mengabaikan betapa mencoloknya jubah hijau diantara warna merah dan kuning disana. Yuta mengumpat dalam hati, semenjak di hogsmeade akhir pekan lalu mood Jaehyun berubah buruk. Ia diam sepanjang hari, kadang bahkan menolak bermain, hanya keluar untuk pelajaran dan quidditch, bahkan ia tidak memperdulikan Yeri yang membuntutinya setiap saat dan menganggap perempuan itu angin lalu.

Baik Yuta maupun Johnny sendiri sebenarnya sudah mulai wajar dengan sahabat mereka dan tidak mendesaknya untuk bicara, mereka memutuskan meninggalkan Jaehyun, seperti Johnny yang berbicara dengan Ten dan Yuta dengan Hansol. Dan sekarang dengan kurangajarnya Johnny berlalu lebih dulu bersama Ten, meninggalkan Yuta dengan Jaehyun.

Sudah beberapa menit dan Jaehyun masih mengaduk makanannya, membuat Yuta mau tidak mau jengah sendiri. Ia baru saja akan berdiri sebelum Jaehyun menoleh, "Mau kemana? Ke meja Hufflepuff?" Jaehyun tidak menahannya, tapi suaranya menandakan seseorang yang sedang tidak ingin ditinggal sendirian. "Kenapa? Kau masih membutuhkanku?" sindir Yuta, tidak perduli nanti Jaehyun akan ngambek atau bagaimana. Mulutnya memang benar-benar tidak bisa dikendalikan.

Tapi tatapan memelas Jaehyun membuat Yuta memutar bola matanya sebal, "Ba—ik, aku akan duduk. Kutendang pantat Johnny nanti karena meninggalkanku bersamamu," Jaehyun mau tak mau tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Yuta mulai lega, sepertinya mood Jaehyun membaik, yup thanks to him. "Memang kau benar-benar serius dengan prefect Hufflepuff itu?"

Pertanyaan Jaehyun membuat Yuta diam, "Menurutmu aku pernah main-main tidak?" tanya Yuta balik, tapi Jaehyun hanya memberi tatapan kosong, tidak menjawab dengan verbal. "He's playing hard to get, well I don't blame him though. Dia tampan, tinggi, sifatnya ramah, pintar, dan seorang prefect. Sementara aku.. membuat ramuan saja harus remidi bersama Henry berkali-kali, mungkin aku tidak sepadan baginya,"

Baru kali ini Yuta mencurahkan isi hatinya, biasanya dia sok tangguh. Biar bawaannya congkak, banyak tingkah, bermulut tajam, dan jago olahraga. Sebenarnya dia lumayan manis, asal dia mau mengendalikan mulutnya saja. "Kau bilang Hansol tidak jadi ditunangkan dengan Jonghyun-ssi bukan? Padahal kabarnya Hansol sangat menyukai lelaki itu, tapi harus kecewa di akhir karena Jonghyun yang sudah menjalin hubungan dengan orang lain?"

Jaehyun ingat suatu hari Yuta pernah uring-uringan dan hanya Johnny yang menanggapi hal itu, sementara ia hanya diam—bukan berarti tidak mendengarkan. Kalau tidak salah itu selepas Yuta pernah jalan dengan Hansol, jadi dia merasa dibohongi karena mengira Hansol masih menyukai Jonghyun.

"Duh, bisa tidak sih tidak membahas hal itu?" jengkel pemuda asal Jepang itu. "Nah, kau yang tidak mengerti, Bakamoto." Yuta mendelik, benci sekali panggilan itu ditujukan padanya, sekalipun ia memang tidak sepintar Jaehyun dan Johnny. "Apa maksudmu Jung?!"

Tuhkan, baru digoda sedikit saja sudah berapi-api. "Kau pikirkan lagi, Hansol menyukai orang lain, ia adalah sosok yang tertutup walaupun ramah, tapi mengapa ia membiarkanmu dekat dengannya sepanjang waktu?" Jaehyun menatap Yuta gemas, "Kenapa memang?" tanya pemuda itu balik. "For god's sake, you're worse than Johnny. Of course dia pasti tertarik padamu, baka! Artinya dia memberimu kesempatan dekat dengannya, kalau kau benar-benar tulus, mungkin suatu saat Hansol juga membuka hatinya untukmu,"

"Oh.. begitu—"

Jaehyun mengangguk.

"—WAH BENARKAH?!"

Bodoh, sekali bakamoto juga tetap bakamoto. Dia bodoh bukan hanya masalah pelajaran, membaca sikap orang lain saja tidak bisa. Hah sudah takdirnya kalau dia pasti tidak bakal diterima ikut N.E.W.T. "Kau pikir saja sendiri," Jaehyun mengernyit sebal. Yuta malah terkekeh seperti orang gila, kemudian ia menatap Jaehyun kembali. "Sebenarnya, kenapa kau badmood setiap saat akhir-akhir ini? Lelaki tidak mungkin mengalami PMS bukan?"

Tanpa ampun Jaehyun menoyor kepala Yuta, tidak perduli sebenarnya pemuda itu lebih tua darinya. "Jangan dibahas, aku tidak mau membahasnya!" kali ini Yuta sudah kembali dari mode berbunga-bunganya jadi mode menyebalkan lagi, "Hei! Aku ini temanmu, hargai aku dengan membagi perasaanmu juga!"

Bleh, teman katanya?

Yuta menunggu, tapi bahkan sampai makanannya sendiri habis Jaehyun tidak segera membuka mulut. Gitu sok-sokan menceramahinya tentang Hansol, 'Ah ngomong-ngomong sedang apa Hansol sekarang? Apa makanannya sudah habis? Apa tidak berniat mendatangiku?' batin Yuta dalam hati. "Kalau kau tak buka mulut juga, aku benar-benar akan pergi," ancam Yuta.

Namun Jaehyun tampaknya tak perduli lagi kalau Yuta akan pergi, Yuta mendelik sebal, tahu gitu daritadi ia benar-benar ngobrol bersama Hansol. "Jangan bilang ini gara-gara Lee Taeyong?" entah dapat pemikiran darimana Yuta mengeluarkan pendapat seperti itu, namun reaksi Jaehyun sungguh di luar dugaan, pemuda itu menatap Yuta berapi-api.

"Jangan sebut nama itu di depanku!" Jaehyun berkata dengan penuh penekanan, Yuta sampai bergidik sendiri. Kalau Jaehyun sampai bereaksi seperti itu, sudah pasti seratus persen Lee Taeyong-lah penyebab perubahan sifatnya. Heol, tidak disangka sekali. Lee Taeyong yang kutu buku, pintar, tapi bersifat dingin dan aneh itu bisa merubah Jaehyun sebegininya.

"Iya iya, tidak kusebut lagi. Memang kenapa? Kau masih dendam gara-gara insiden kecoa itu? Tapi di malam pesta Henry itu kayanya kalian baik-baik saja deh,"

Trang!

Suara sendok dan garpu yang sengaja dipukulkan ke piring terdengar begitu nyaring, membuat beberapa siswa menoleh ke arah mereka. Jaehyun benar-benar sudah melanggar perintah ayahnya untuk menjaga etika ketika sedang makan. "Dad benar, seorang pure-blood memang sebaiknya hanya bergaul dengan pure-blood lainnya. Mudblood dan half-blood adalah kelompok yang menjijikan,"

Bersamaan dengan itu Jaehyun bangkit dan meninggalkan Yuta, padahal makanan di piringnya belum berkurang banyak. Yuta melongo, pertama sejak kapan Jaehyun jadi tidak sopan ketika makan? Keluarganya menjunjung tinggi etika sopan meskipun mereka kadang sedikit menyebalkan. Kedua, biarpun Jaehyun pure-blood dan seorang Slytherin dia jarang membawa masalah soal perbedaan status darah, ayahnya juga tidak sebenci itu kok dengan mudblood apalagi dengan half-blood, Junhui kawan Slytherin mereka yang seorang half-blood bahkan pernah numpang di manor keluarga Jung ketika penerbangan dari London ke Beijing ditutup semua karena masalah bencana alam. Dan terakhir, Jaehyun itu food-fighter mustahil baginya menyia-nyiakan makanan, sumpah apa yang dilakukan Lee Taeyong?!

. . .

"Tae, aku akan keluar sebentar, jangan kunci pintu kamarnya."

Taeyong menaikkan sebelah alisnya, seingatnya sekarang sudah pukul delapan malam. "Mau kemana kau?" tanya Taeyong curiga, "Tidak kemana-mana, aish, baiklah aku menemani Johnny."

Jawaban cepat Ten mau tidak mau makin membuat Taeyong curiga, ada apa dengan anak itu? Biasanya juga ia segera kembali ke asrama Gryffindor selepas makan malam, entah bercanda, bermain, menari, atau bahkan sekedar tidur-tiduran menemani Taeyong. "Yasudah kalau bersama Johnny, ingat kau masih tetap punya jam malam walaupun kau sudah tingkat akhir, dan jangan sampai aku menemukanmu di hutan terlarang,"

Ten yang awalnya takut-takut Taeyong akan mengunci dirinya di kamar dan melarangnya pergi malah terkejut sendiri, "Kau—mengizinkanku?" tanya Ten bingung, "Ya memang kau kira aku akan melarangmu? Kau kan bukan pacarku Ten," canda Taeyong, Ten mencebik sebal. "Sudah jangan dramatis, kalau kau bersama Johnny aku yakin kau baik-baik saja." Taeyong menepuk pundak Ten lembut.

Memang benar, Taeyong bisa dibilang percaya dengan Johnny. Tidak perduli kedua orang itu mengawali hubungan mereka dengan paksaan. Lagipula, kalau Ten sudah membuka hatinya ya mau bagaimana lagi? "Jangan bersikap mom-ish, kau tidak pantas, bye!" dan Ten pergi meninggalkan rommatenya yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.

Tapi ditinggalkan Ten di saat belum waktunya tidur membuat ia merasa tidak nyaman juga, keluar ke common room tapi yang ada disana hanya anak-anak tingkat awal. Harus kemana dia? Ke perpustakaan? Lagi? Sekutu buku apapun dirinya, ia bukan library-maniac jadi harus cari tempat lain.

Mungkin mengunjungi Doyoung di asramanya adalah ide yang baik!

Langkahnya ia percepat dan dalam beberapa menit saja ia sudah sampai di luar asrama Gryffindor, letak asrama Hufflepuff yang berada di dekat dapur membuat Taeyong harus berpapasan dengan siswa-siswi lain. Ia hanya menyapa mereka sekilas dan mempercepat langkahnya lagi. Baru saja ia akan menuruni tangga menuju basement dimana pintu menara asrama Hufflepuff dapat ditemukan tapi ia malah berhenti tepat di depan aula besar.

Holy moly..

Mata bulat Taeyong mendapati Taeil dan Doyoung bercengkrama di tempat latihan Hogwart's Choir, well, memang sih mereka termasuk anggota paduan suaranya. Tapi tidak ingat waktu sekali. Kalau saja Filch dan kucingnya melihat kedua siswa itu berciuman, mungkin mereka sudah diberi detensi ibu kepala sekolah. "Ugh, I think I'm gonna vomit,"

Gagal sudah rencananya bermain dengan Doyoung, kenapa teman-temannya jadi menyebalkan ketika mereka sudah punya pasangan? Memang begini apa nasib seorang jomblo? Ditinggalkan, sendirian, bingung harus melakukan apa.

Karena merasa tidak punya tujuan lagi, Taeyong melangkah ke asramanya lagi. Ia berhenti sejenak di toilet dekat aula depan, sebenarnya Taeyong hanya ingin membasuh muka dan menyelesaikan 'urusan' di toilet. Tapi tubuhnya terhadang oleh badan bidang sosok yang dikenalnya di pintu.

Jung Jaehyun.

Dengan wajah yang semakin pucat dan menunjukkan kalau ia kurang tidur, rambut blonde yang sedikit basah dan poni yang disibakkan ke belakang. "Oh hei Jaehyun, tumben menggunakan toilet siswa lantai dasar?" tanyanya berbasa-basi.

Tapi bukan balasan atas pertanyaannya yang Taeyong dapat, Jaehyun malah melewatinya begitu saja. Wajahnya datar, seolah tidak menganggap Taeyong ada. Padahal tidak mungkin, Taeyong jelas-jelas berdiri di hadapannya! Dan lebih parahnya lagi, Jaehyun seolah dengan sengaja menubrukkan bahunya ke bahu Taeyong.

"A—apa-apaan itu?!" Jerit Taeyong tidak terima. Rasa-rasanya ia tidak pernah berbuat jahat pada putera keluarga Jung tapi mengapa ia dibalas dengan sedemikian rupa? Bukannya mereka teman ya beberapa hari yang lalu? "Dia kira dia bisa seenaknya pada semua orang? Dasar, benar-benar licin seperti ular!"

Entah perasaannya saja atau memang Jaehyun jadi menghindarinya akhir-akhir ini? Itu membuat Taeyong makin kesal, rasanya ia benar-benar tidak punya teman lagi. Ia merapikan jubahnya ketika selesai menggunakan toilet dan melangkah keluar.

Taeyong memutuskan melangkah ke lapangan memanah saja, setidaknya disana udaranya sejuk dan mungkin berhasil menghilangkan kepenatannya. Ia duduk di rumput yang kering, memperhatikan masih saja ada anak-anak yang berlatih memanah di malam hari. Bukan latihan serius, lebih kepada latihan individual saja.

Ia mengenali beberapa di antara mereka, Mark Lee. Terlepas dari perbedaan umur dan tingkat kelas, Mark adalah salah satu kawan dekat yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Kadang Taeyong tak malu bertukar pikiran dengan adik kelas yang jenius itu. Namun dibalik segala kesempurnaan Mark, ia masih seorang manusia biasa. Lihatlah betapa lucunya Mark ketika anak panahnya bahkan tidak menyentuh papan bidik sama sekali.

"Yaa! Mark hyung! Anak panahmu melenceng jauh!" suara melengking seseorang dengan atribut hufflepuff itu memecah keheningan namanya Haechan, Taeyong tahu karena Mark dan ketiga kawannya itu kemana-mana selalu bersama. Mark menggaruk tengkuknya canggung. "Jeno, kau tunjukkan caranya, aku lelah mengajarinya terus-menerus," kali ini si Hufflepuff mengadu pada sosok dengan mata sipit berwajah rupawan disana, seorang Slytherin bernama Jeno.

Jeno yang pembawaannya tenang memposisikan dirinya, ia menarik busur dan melesatkan anak panahnya, dan anak panah itu menyentuh papan bidik. Tidak sempurna, tapi nilai 9 jelas bukan nilai yang rendah. Jauh lebih baik daripada Mark yang menghasilkan nilai 0. "I'm doomed," gerutu Mark.

"Jangan loyo, badanmu harus tegap dan sikumu dibuat sejajar. Juga jangan terlalu kaku, kalau kau terlalu lemah anak panahnya tidak akan bisa sampai ke papan bidik, kalau kaku dia akan melenceng," jelas yang beratribut Ravenclaw, suaranya lembut—dibandingkan Haechan yang melengking, Mark yang tidak berhenti mengeluh, dan Jeno yang senantiasa diam— Jaemin mengatur postur badannya di sebelah Mark, mengisyaratkan Mark untuk menirukannya.

Mereka menunggu sampai angin tidak berhembus terlalu kuat, dan Jaemin melepaskan anak panahnya ke bidik lain diikuti dengan Mark yang melakukan hal serupa. Jaemin mampu menghasilkan poin 8 sementara Mark mengalami kemajuan dan menghasilkan angka 6. "Nah, setidaknya kau tidak off-side lagi." Jaemin tersenyum ramah.

Mark mengangguk-angguk paham, "Sepertinya postur memang menentukan, thanks Nana." Ia mengacungkan kedua ibu jarinya, dibalas Jaemin dengan senyuman. "Kau tidak berterima kasih padaku dan Jeno?!" Haechan menyalak kembali, Mark mendengus, sudah terbiasa dengan mood swing anak itu.

"Jeno tidak meminta, lagipula, kamu tidak berhenti marah-marah sedari tadi Haechan. Beda dengan Jaemin yang mengajari dengan lembut," ledek Mark setengah bercanda, namun langsung diakhiri dengan erangan sakit karena Haechan menginjak kakinya. Hampir saja Mark melontarkan sebuah mantra ke anak itu, namun ia buru-buru mengatur emosinya 'dilarang menyerang sesama teman dengan sengaja' larangan ibu kepala sekolah itu berputar-putar di benak Mark.

"Good job, kids!" Taeyong ikut-ikutan menoleh mendengar suara berat dari arah belakangnya, begitupula dengan keempat anak di lapangan itu. "Senior?" panggil Mark sedikit heran, mereka langsung mendekat ke tepi lapangan.

Membuat Taeyong berdiri juga, "Um hai, aku menonton kalian berlatih," Taeyong menjelaskan alasan keberadaannya. Senior Chanyeol yang entah muncul darimana masih tersenyum lebar, "Aku memperhatikan dari jendela ruang rapat guru tadi, kalian benar-benar berbakat, dan Mark.. kau hanya perlu latihan maka kau akan sama berbakat dengan mereka,"

"Senior sedang apa disini?" tanya Jeno yang sedari tadi menutup mulut, "Ah, aku.. aku sedang libur dari kementrian, hanya sebulan. Berhubung aku bingung, jadi aku memutuskan membantu di Hogwarts. Semacam magang, hitung-hitung menyalurkan mimpiku dulu karena aku sempat ingin sekali jadi seorang profesor,"

Mereka berlima mengangguk-angguk, apalagi Taeyong, matanya memancarkan kebahagiaan. Artinya, dia bisa bertanya-tanya mengenai urusan auror lebih dalam. "Kenapa senior menghabiskan liburan di Hogwarts, bukannya membosankan? Kalau aku sih lebih baik jalan-jalan," celetuk Haechan, Chanyeol hanya membalas dengan senyuman, tapi ada ekspresi pedih disana.

"Disini, sumber kebahagiaanku. Tidak ada tempat lain seindah Hogwarts," mata bening Chanyeol memandang ke sekeliling, "Kami akan datang ke peringatan kematian senior Byun Baekhyun," Chanyeol menunduk memandang Jaemin yang berkata dengan pelan.

Ya, benar, selain karena alasan libur, Chanyeol tentu datang ke Hogwarts demi memperingati hari kematian mantan kekasihnya. Dan yang rutin menyelenggarakan tentu saja asrama Ravenclaw, asrama kekasihnya dulu. Mereka mengadakannya di awal bulan Januari, yang artinya sebentar lagi.

Mengapa hari kematian Baekhyun diperingati di Hogwarts? Tentu saja, karena tidak akan ada yang memperingatinya selain Hogwarts. Baekhyun adalah muggleborn, dan kedua orangtuanya membuang anak mereka sesaat ketika mereka tahu identitas Baekhyun yang seorang penyihir. Lagipula jasa Baekhyun sebagai mantan prefect Ravenclaw, murid yang menyenangkan dan mudah bersosialisasi, sekaligus salah satu murid terjenius kala itu akan selalu dikenang Hogwarts.

Baekhyun sudah berulangkali mencatatkan namanya di lemari piala Hogwarts, tidak ada yang tidak mengenalnya. Oleh karena itu, peringatan kematiannya akan selalu dilakukan. Setidaknya setahun dua kali, di hari kematiannya dan di hari ulangtahunnya. "He's an amazing person," puji Mark tulus, yang lain mengangguk-angguk. "I know, seandainya saja aku masih bisa melihatnya melayang-layang seperti yang dilakukan si hantu nearly headless itu." Canda Chanyeol mencoba membangkitkan suasana.

"Dia adalah satu-satunya hal yang membuatku ingin pulang ketika pertama kali sampai di Hogwarts," Jeno bergidik, ternyata tampang dingin hanyalah cover, ia benci hantu-hantu yang gemar melayang-layang apalagi ketika makan malam. "Kau akan mengajar pelajaran apa senior?" tanya Taeyong penasaran.

Chanyeol tertawa kecil, "Membantu madame Min untuk mengajar pelajaran terbang," tentu saja, Chanyeol adalah salah satu penerbang terbaik Hogwarts. Tapi hal itu membuat Taeyong sedih, ia sudah tidak mengambil pelajaran itu lagi karena kemampuan terbangnya tentu sudah jauh lebih baik sekarang, bahkan keempat anak di depannya pun sudah tidak mengambil pelajaran itu. Itu hanya diperuntukkan untuk siswa tingkat awal.

"Sudah mendekati jam malam, sebaiknya kalian segera kembali ke asrama masing-masing." Yang lain mengangguk, kemudian berpamitan pada Chanyeol dan memasuki kastil Hogwarts menuju asrama masing-masing.

Taeyong berjalan bersisian dengan Mark, "Hyung, kau apa kau sudah menetapkan pilihan menjadi apa ketika lulus nanti? Kudengar batas pengumpulan form aplikasinya dipercepat?" tanya adik kelasnya itu berbasa-basi, ia sudah dengar cerita Taeyong dan keraguannya menjadi seorang Auror karena ayahnya yang tidak menyukai pekerjaan itu—meski Mark tidak tahu alasan mengapa ayah Taeyong membenci auror.

"Aku tetap akan memilih auror Mark, lagipula profesor bilang formnya tidak mutlak. Bisa diubah kalau memang alasannya kuat," jelas Taeyong, "Cool, kau mungkin bisa menjadi the next senior Chanyeol." Taeyong mengacak rambut Mark yang sekarang jadi lebih tinggi darinya, dulu ketika mereka pertama kali dekat sepertinya Mark masih se-lengannya. "Itu sebabnya aku senang senior menghabiskan waktu di Hogwarts, aku ingin belajar banyak darinya. Doakan ya,"

Mark mengangguk-angguk riang, "Kau juga jangan lengah dengan O.W.L mu Mark, itu penting tahu," nasihat Taeyong, tiba-tiba Mark berhenti di koridor, Taeyong ikut-ikutan berhenti. Mark menoleh, padahal koridor sedang sepi-sepinya. "Ada apa Mark?" tanya Taeyong penasaran.

"Kenapa aku merasa ada yang mengikuti kita hyung? Ah, lupakan, mungkin perasaanku saja." Buru-buru Mark menghapus pikiran bodohnya, tapi hal itu membuat Taeyong mencengkram sisi jubah Mark erat-erat, adik kelasnya itu menatapnya penuh tanda tanya. "Hyung.. takut hantu?"

Yang lebih tua mengangguk berkali-kali dengan ekspresi setengah tegang, Mark menahan diri untuk tidak tertawa. "Hahaha, bukan, aku yakin bukan hantu. Aish, orang-orang, kenapa masih takut hantu padahal di Hogwarts banyak hantu berkeliaran. Ayo hyung, kujamin tidak ada apa-apa."

Mereka tidak sadar saja, sosok dengan rambut pirang menyembunyikan dirinya di balik pilar koridor.

. . .

"Tell me, kau bertengkar dengan Jung Jaehyun?!" adalah pertanyaan pertama yang Taeyong terima sesaat ketika ia baru membuka mata, Ten sudah berdiri lengkap dengan seragamnya. Taeyong mendecih, "Jam berapa kau kembali ke kamar dini hari tadi Ten?"

Ten nyengir, "Aku dengar kau membuka pintu diam-diam," ia merutuki kesensitifan Taeyong bahkan ketika ia tidur. Sebenarnya, tadi malam ia dan Johnny pergi main quidditch sebentar, lalu mereka main di kamar Johnny—dan itu jadi kala pertama ia masuk asrama Slytherin, Ten hampir memekik seperti perempuan ketika mendapati gurita besar menempel di kaca asrama, ia lupa asrama Slytherin ada di bawah danau—

Mereka mempelajari ramuan veritaserum yang menjadi pekerjaan rumah mereka, tapi berakhir Ten yang ketiduran di ranjang Johnny. Sumpah, ia iri sekali dengan kamar Johnny yang besar dan hanya dihuni seorang diri. Saking empuknya kasur Johnny, Ten malah terbuai ke alam mimpi.

Bangun-bangun ia terkejut mendapati Johnny yang hanya menempati sebagian kecil dari ranjang itu lantaran kebiasaan Ten yang tidur berputar-putar membuatnya menginvasi kasur lelaki itu. Ten merasa tidak enak, karena bisa saja Johnny terjatuh. Jadi ia membangunkan Johnny dan berpamitan kembali ke asramanya, tapi lelaki itu malah mengantarnya sampai asrama Gryffindor, padahal itu sudah dini hari.

Untunglah mereka tidak dipergoki penjaga sekolah, jadi Ten melanjutkan tidurnya, tapi tidak bisa karena ia terus terbayang-bayang wajah Johnny makanya ia bangun dan siap lebih pagi dari Taeyong.

Ia terkejut menyadari betapa baik hatinya lelaki yang kini berstatus sebagai pacarnya itu, hah, seandainya ia lupa kalau mereka hanya berhubungan 'palsu' maksudnya hanya didasari paksaan, bukan ketulusan. Taeyong melangkahkan kaki rampingnya ke kamar mandi dan mandi kemudian mengganti pakaiannya.

Bicara mengenai Taeyong, ia jadi ingat bagaimana Yuta tiba-tiba masuk ke kamar Johnny ketika ia dan kekasihnya itu sedang mempelajari ramuan. Jadi ia memutuskan bertanya saja langsung kepada sang teman sekamar, ia memperhatikan Taeyong keluar dari kamar mandi sudah dengan jubah seragamnya. Air masih menetes dari rambut hitam kecokelatan pemuda itu diikuti aroma sampo vanila yang menguar.

Ten mengayunkan tongkatnya dengan mantra pengering, "Thanks," balas Taeyong singkat. "Apa kau bertengkar dengan Jung Jaehyun?" tanya Ten, Taeyong mendelik sebal. "A good morning will be nice, Ten." Sindirnya, tentu saja masa dari baru membuka mata Ten sudah menanyai hal itu padanya?

"Um, oke, maaf. Good morning, Tae." Ten kembali nyengir, "Good morning," Taeyong menjawab sambil memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.

"So, apa kau bertengkar dengan Jung Jaehyun?" Ten kembali menanyakan hal yang sama. Taeyong menatapnya tidak percaya, mungkin kerutan segi empat imajiner terbentuk di dahinya saat ini. Berapa kali dia menanyakan 'Apa-kau-bertengkar-dengan-Jung-Jaehyun?' tumben sekali Ten perduli dengan lelaki itu?

Dengan langkah yang diperlebar Taeyong berjalan mendahului Ten keluar kamar, mereka harus sarapan sebelum pergi ke kelas pertahanan akan ilmu hitam. "Tae! Kau tidak menjawabku!" ia mengejar Taeyong dan mengunci kamar tidur mereka. "Berhenti menanyakan hal itu Ten, memang kau kira aku tipe yang akan menyulut pertengkaran dengan orang aneh semacam dia? Aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan hingga membuat dia bersikap begitu,"

Lelaki asal Thailand itu mengangguk mengiyakan, memang sih, selama ini juga selalu Jaehyun dan kawanannya yang bikin onar. Ia juga heran, mengapa ia bisa sedekat ini dengan Johnny yang dulu ia anggap semenyebalkan Jaehyun. Tapi mungkin benar, Jaehyun lah yang paling menyebalkan. "Memang kenapa kau tanya hal itu?"

Kali ini Taeyong mengalah dan menyamai langkahnya dengan Ten, "Yuta bilang Jaehyun uring-uringan sejak beberapa hari lalu ketika mereka main ke hogsmeade, ketika dia tanya apa ada hubungannya denganmu Jaehyun jadi lebih uring-uringan. Tapi semalam ia bilang Jaehyun datang ke asrama dengan raut wajah campur aduk, Yuta melihatnya berkeliaran di sekitar asrama Gryffindor dari peta perompak dan kau juga ada disana. Makanya ia kira kalian bertengkar, kau tahu peta perompak hanya menampilkan posisi bukannya apa yang kalian lakukan," jelas Ten panjang lebar.

Tunggu dulu, hogsmeade? Kenapa rasanya ada yang janggal ya? Dan apa pula maksud Yuta? Semalam ia dan Jaehyun tidak bertemu kecuali di kamar mandi siswa, mungkin hanya kebetulan ia dan Jaehyun ada di tempat yang berdekatan. Tapi ada urusan apa ia berada di sekitar asrama Gryffindor? "Mungkin aku melakukan kesalahan, nanti aku akan minta maaf." Taeyong mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagu imut.

Ten membola, "Ya! Jangan! Dia yang salah kenapa kau yang minta maaf Tae? Sudah abaikan saja dia, aku hanya bertanya."

Mereka memasuki kelas profesor Leo, seperti biasa Taeyong tanpa canggung duduk di area depan. Tidak paling depan sebenarnya, ia duduk di bangku nomor dua, tepat di belakang beberapa perempuan Ravenclaw—sebenarnya ia mau saja duduk paling depan, tapi Ten selalu menahannya karena ia sedikit takut dengan profesor Leo, jadilah mereka duduk di barisan nomor dua—

Nah ada yang aneh, Ten saja sampai hampir memekik, Johnny dan kedua temannya duduk di seberang mereka. Biasanya juga mereka duduk di belakang kan? Ten sesekali mencuri pandang, Johnny terlihat mengantuk, tapi menahannya sekeras tenaga. Profesor Leo kan tegas sekali, sekali dia memergoki ada yang tidak memperhatikan sudah pasti detensi ada di depan mata. Ia jadi merasa bersalah, Johnny pasti kurang tidur karena dirinya.

Hal yang aneh adalah, sepanjang pelajaran, Jaehyun tidak sepenuhnya memperhatikan profesor Leo. Padahal, bisa dibilang Jaehyun yang jago pada semua mata pelajaran merupakan murid kesayangan profesor dingin tersebut—meski sang professor tidak menunjukkan afeksinya dengan jelas—. Lelaki berambut pirang itu duduk di tengah Johnny dan Yuta, dan berulangkali menatap ke arah tempat duduk Ten dan Taeyong. Tentu Taeyong tidak sadar, ia kalau sudah berkonsentrasi akan susah untuk diganggu.

Namun untuk Ten yang jelas tidak menyukai pelajaran sesusah pertahanan akan ilmu hitam, hal itu menjadi kentara. Bahkan untuk beberapa detik pandangan Ten dan Jaehyun bertabrakan, namun Jaehyun segera mengalihkan pandangannya. Mencurigakan.. apa mereka benar-benar bertengkar sungguhan? Apa yang sebenarnya terjadi selepas pesta dansa itu?

Ketika kelas berakhir, seperti biasa Taeyong adalah salah satu siswa yang akan keluar kelas paling akhir. Kebetulan setelah ini mereka tidak ada pelajaran lagi. Si ravenclaw nyasar—begitu kata Ten— merapikan barang-barangnya, termasuk buku-buku 800 halaman dengan kertas yang sudah mulai menguning akibat usia. Pantas saja Taeyong tidak bertambah tinggi, ia membawa beban yang sangat berat setiap hari.

Ia bersyukur Johnny dan kedua temannya pergi untuk latihan quidditch karena Slytherin sepertinya melakukan seleksi pemain baru. Sudah biasa jika mereka sering meminjam lapangan quidditch untuk berlatih antar asrama sendiri. "Kau sadar tidak, sepanjang pelajaran Jaehyun menatap ke arahmu terus, mengerikan. Tatapan matanya setajam mata elang yang akan memangsa buruan,"

"Tidak, dan aku tidak perduli," balas Taeyong, Ten terkekeh. "Ah, Ten kau tahu tidak Chanyeol sunbae mengajar di Hogwarts untuk sementara waktu." Ia mengalihkan pembicaraan, Ten menatapnya sedikit terkejut. Mereka akhirnya keluar dari kelas, Ten membuntuti Taeyong yang sepertinya berniat pergi ke ruang greenhouse tree. Nampaknya Taeyong juga akan mulai menyelesaikan veritaserumnya mengingat semakin dekatnya purnama. "Benarkah? Mengajar apa dia?"

Mereka masuk ke dalam ruangan yang sedang tidak digunakan itu, "Pelajaran terbang, kukira dia akan mengajar angkatan kita." Nada Taeyong terdengar kecewa, "Wae? Kau masih menyukainya, huh?" Taeyong tentu saja menggeleng keras, "Aish, tidak! Aku hanya ingin belajar menjadi auror yang baik padanya. Seperti tidak ada yang tidak tahu saja seberapa besar cinta senior Chanyeol pada senior Baekhyun," Ten tertawa kecil.

Taeyong mengeluarkan gunting kecil dari tasnya dan memotong beberapa tumbuhan yang akan ia pakai, ia sudah mengantongi izin dari madame Grace selaku guru herbologi mereka. Ten sendiri hanya memperhatikan dari belakang, ia sudah janji akan mengerjakan bersama Johnny jadi ia membiarkan Taeyong bekerja lebih dulu.

Ngomong-ngomong.. "Damn! Aku lupa!"

Pekikan Ten membuat Taeyong menoleh bingung, "Tern menitipkan sesuatu, pasti Churris sudah menunggu di jendela kamar." Ten hampir melupakan keberadaan burung hantu posnya itu, Churris itu mudah sekali marah, kalau Ten telat biasanya burung hantu itu akan menggigitnya. "Heol, kau harus segera pergi Ten. Jangan sampai terluka lagi,"

Buru-buru Ten berlari keluar ruangan penuh tanaman itu, pasti adik Ten mengiriminya kiriman aneh-aneh lagi. Saat tingkat empat dulu Tern mengirimi Ten iPad, lalu Ten terkena detensi dan burung hantunya ditahan oleh pihak sekolah. Untung saja sekarang Tern sudah lebih berperi-kepenyihiran, dan hanya mengirimi Ten poster idola, makanan, pakaian gaul, dan lain-lain. Keluarga Ten memang selalu nyeleneh.

Suara deritan pintu membuat Taeyong mengira Ten telah kembali, tapi yang tidak ia sangka adalah menemukan sosok Jung Jaehyun disana. Masih mengingat mengenai betapa menyebalkannya Jaehyun, Taeyong memutuskan untuk tidak menyapa. Lagipula, Jaehyun juga tidak menyapanya.

Setelah merasa cukup dengan beberapa tanaman yang akan ia pergunakan, Taeyong berinisiatif keluar. Kemana saja asal tidak terjebak bersama Jaehyun dalam satu ruangan. Ia paham sedari tadi Jaehyun bahkan tidak melakukan apa-apa, lantas mengapa ia ada di rumah tanaman?!

Namun ketika ia akan keluar, Jaehyun menghadangnya. Tapi ia tidak berbicara apa-apa, Taeyong jengkel. Ketika ia melangkah ke kanan maka Jaehyun juga bergeser ke kanan, ketika ia melangkah ke kiri maka Jaehyun juga ikut ke kiri. "Pergi sebelum aku memantraimu dengan Stupefy!" Taeyong makin kesal.

Lawan bicaranya hanya diam, bahkan bergerak seinchi pun tidak. "Aku bersumpah akan merubahmu menjadi katak rawa di kelas transfigurasi nanti, Jung! Lihat saja!" ancam Taeyong lagi.

"Aku.. mau minta maaf,"

Pupil Taeyong melebar mendengarkan hal itu, suara berat Jaehyun tiba-tiba bergema dalam kepalanya. Minta maaf? Untuk apa? "Lupakan!" tiba-tiba lelaki itu berkata demikian, Taeyong makin bingung. Apalagi setelah Jaehyun pergi lebih awal meninggalkannya seorang diri.

"Aish, aku terlambat ke kelas transfigurasi gara-gara dia!"

. . .

Beruntunglah Taeyong tidak terlalu terlambat, tapi Ten sudah menunggunya disana. Ia terlihat berbincang dengan Johnny sebentar, sebelum melambaikan tangannya ke Taeyong. Ternyata professor Victoria belum datang. Ten kembali ke tempat duduknya, setelah menyadari bahwa Taeyong dan Jaehyun tidak mungkin duduk berdekatan.

"Johnny masuk ke tim inti Quidditch lagi!" ia memberitahu dengan semangat, Taeyong membuka bukunya. Ia melirik ke arah Jaehyun, sebenarnya ia sudah siap untuk benar-benar merubah anak itu menjadi katak rawa sungguhan. "Baguslah," jawabnya tidak bersemangat. "Hm, besok mereka akan melawan Ravenclaw."

Taeyong melirik Ten curiga, "Jangan bilang kau mengajakku menonton?" senyum di wajah Ten semakin cerah. "Ten! Aish, aku tidak ingin jadi merah yang terjebak di antara hijau dan biru, kau tahu maksudku." Tapi sahabatnya itu cemberut, dan ia pasti tidak akan berhenti merengek sebelum Taeyong berkata 'iya'.

Jadi daripada ribut sampai hari berakhir, Taeyong terpaksa setuju. Mereka menyapa professor Victoria yang datang dan mendengarkan pelajaran sampai akhir.

Dan niatan Taeyong menjadikan Jaehyun sebagai mangsa percobaan gagal, tentu saja, ia tidak mungkin sekejam itu—walau tidak menuntut kemungkinan ia akan melakukannya di masa depan—. Namun begitu mendapati trio Slytherin di depan pintu kelas yang sepertinya sedang menunggui ia dan Ten, Taeyong jadi makin kesal.

Dia tidak punya ide mengapa Jaehyun membuntutinya sedari tadi, "Emm.. Ten, bagaimana kalau kau ikut bersamaku dan Yuta?" Johnny nampaknya mengerti suasana yang terjadi. Ten mengangguk lalu melambaikan tangannya pada Taeyong. Mereka bertiga meninggalkannya berdua bersama Jaehyun.

"Jadi.. kau mau bicara apa?" Jaehyun terlihat kaku sekali ditanya hal seperti itu oleh Taeyong. "Uh—bisa tidak kalau di tempat lain?" tanya Jaehyun akhirnya bersuara. "Kalau begitu ikut denganku,"

Jaehyun membuntuti Taeyong, mereka melangkah ke arah sisi koridor yang tidak terlalu ramai, beberapa siswa hendak menyapa Taeyong namun mereka terkejut mendapati Jaehyun ada di dekatnya. Jaehyun memandang berkeliling, ada beberapa pilar rendah dengan api menyala di atasnya, seingatnya selama di Hogwarts ia jarang ada di tempat ini.

Taeyong berhenti di depan tembok, Jaehyun mengernyit heran. Namun tembok itu perlahan memunculkan sebuah pintu, "Ayo masuk!" ajak Taeyong. Ah, kamar kebutuhan. Jaehyun baru kali ini menggunakan fasilitas tersembunyi Hogwarts, ia bukan pelanggar aturan atau anak yang suka dengan hal-hal ekstrim. Lagipula kamar tidurnya sudah cukup memenuhi kebutuhan tanpa harus pergi ke kamar ini.

Namanya saja kamar, tapi Jaehyun mendapati beberapa kuali beserta peralatan meramu juga buku-buku panduan di sana. Hampir tidak ada bedanya dengan kelas Henry, yang membedakan hanya ada sebuah sofa panjang dan toilet. Oh iya ia ingat, kamar ini akan mewujudkan kebutuhan dari yang memasukinya. Dan sekarang yang memasukinya adalah Taeyong, si kutu buku yang jenius.

Pemuda yang lebih pendek menyusun peralatannya di atas meja, lalu mengeluarkan tanaman yang ia ambil tadi. "Sudah sampai mana veritaserummu?" tanyanya. "Belum, aku belum mulai bahkan." Jawabnya jujur, Taeyong lega, ternyata ia tidak sendiri.

"Sudah siap memberi tahu alasan menghindariku dan bersifat menyebalkan?" tanya Taeyong ringan, fokusnya hanya pada alat meramunya saja. Jaehyun menghembuskan nafas berat, "Kau melupakan janjimu,"

Perlahan Taeyong berbalik, "Janji?" tanyanya. "Aku tidak pernah berjanji apa-apa denganmu, Jung." Jawabnya tidak yakin, Jaehyun menampilkan ekspresi datar. Tampaknya pemuda itu berusaha keras mengingat-ingat, "Tidak mungkin.. mengenai rencana mentraktirku bukan?"

"Nah itu kau tahu,"

Yang bermarga Lee mengusap wajahnya kasar, "Aish! Gara-gara itu kau bersikap menyebalkan hah? Aku kira aku melakukan kesalahan apa!" hampir saja Taeyong memukul Jaehyun dengan pengaduk ramuannya. "Aku tidak sempat ke hogsmeade,"

"Tidak, kau sempat kesana. Bahkan kau.. berbincang akrab dengan senior Park," Jaehyun menggeram kesal sedikit.

Taeyong memutar bola matanya kesal, omong kosong macam apa lagi kali ini? "Oh, waktu itu aku dipaksa Ten pergi ke hogsmeade. Bukan keinginanku sendiri tau, dan senior Chanyeol hanya kebetulan disana. Jadi itu alasan Johnny dan Yuta bilang kau tiba-tiba kabur dari three broomsticks? Yaampun kau membesar-besarkan masalah saja,"

Mata Jaehyun menatap Taeyong dalam-dalam, "Aku tidak suka ketika sebuah janji dilanggar, apalagi ketika mereka mementingkan orang lain daripada aku." Sepertinya Taeyong lupa Jaehyun adalah keluarga bangsawan, dimanja, dituruti, dipatuhi, dan disegani adalah perilaku yang biasa ia dapatkan. "Aku lupa kau adalah bangsawan berdarah murni, tapi sungguh, aku tidak berniat melupakannya. Dan kenapa kau menyudutkanku dan senior Park? Padahal disana ada Ten, dan kedua temanmu itu,"

"Karena kau terlihat akrab dengannya, kau bahkan membiarkan dia mengelus kepalamu seperti tuan menepuk kepala anjingnya!" Taeyong mendelik, "Jangan berani-berani kau bandingkan aku dengan anjing ya! Dia itu menganggapku adik, heol, padahal orang yang berbicara mencium dahiku tanpa izin," sindirnya balik. "Lupakan masalah bodoh ini, aku mengkhawatirkan hal yang tidak penting. Mana kata maaf seperti tadi siang?"

Jaehyun mengalah, "Maaf, aku hanya.. terganggu dengan kedekatan kalian," ucapnya pelan, "Kau kan bukan pacarku, dan senior Park juga bukan pacarku. Aku hanya sangat mengaguminya oke, sudah sekarang pergilah, aku mau mengerjakan tugas dari Henry. Kuharap kau berhenti bersikap menyebalkan setelah ini," jelas Taeyong. "Aku tahu, makanya aku minta maaf karena mencurigaimu punya hubungan khusus dengan senior Park, tapi syukurlah aku tahu kau tidak ada hubungan apa-apa," Taeyong mengabaikan pernyataan Jaehyun yang membuatnya terdengar seperti penguntit.

Si lelaki berkulit pucat mau tak mau menampilkan senyum tipis, ia sudah tidak badmood lagi. "Kau akan datang di duel quidditch slytherin dengan ravenclaw bukan?" tanyanya semangat, entah mengapa dan sejak kapan, Jaehyun merasa senang mendekati seseorang. Biasanya ia selalu didekati, dan dulu Taeyong adalah objek bullyannya. Tapi semua seakan berubah sekejap mata. "Tergantung, kalau aku tidak sibuk meramu atau menyelesaikan tugas lain."

Jawaban itu membuat Jaehyun tidak puas, "Kenapa? Ten saja datang! Lagipula ini adalah turnamen quidditch terakhir sebelum natal dan turnamen triwizard dilaksanakan," oh iya, setelah bertahun-tahun tidak pernah menyelenggarakan turnamen itu lagi, triwizard mulai dilaksanakan kembali selama dua puluh tahun terakhir. Tentu dengan pengamanan lebih ekstra agar hal buruk seperti pada tahun kejayaan Harry Potter dan kau-tahu-itu-siapa tidak terulang kembali.

"Itu karena Ten adalah kekasih Johnny, sedangkan aku tidak punya alasan untuk datang. Karena pertama, aku tidak punya siapa-siapa untuk ditonton. Dan kedua, aku tidak menggilai quidditch," Jaehyun menampilkan raut memelas yang jarang sekali ditemukan karena biasanya ia hanya bersikap datar saja. "Hah, kau sama saja seperti Ten. Baiklah aku akan datang,"

Dan sebuah senyuman lebar terlukis di wajah tampan Jaehyun, membuat Taeyong sampai harus menepuk pipinya sendiri, sejak kapan ia mengakui Jaehyun rupawan?!

. . .

Hari ini pelajaran diliburkan karena ada pertandingan quidditch, persiapan perayaan natal, sekaligus beberapa guru melakukan persiapan penyambutan sekolah sihir lain untuk acara triwizard. Setelah delapan tahun menunggu akhirnya Hogwarts kembali menjadi tuan rumah acara tersebut.

Taeyong yang baru selesai meramu dini hari tampak sedikit lemas, ia bahkan melewatkan makan malam di aula besar dan hanya makan cokelat kodok. Dia memang begitu kalau sudah konsentrasi. Ia bahkan baru bangun setelah Ten mengguncangkan badannya beberapa kali.

Ten memandang ke arah jendela, mendung, bukan pertanda yang baik untuk memulai hari. Jadi Ten mengepak dua buah jas hujan, dua buah syal, beberapa makanan, serta minuman ginseng hangat untuk Taeyong. Bukan berarti ia tidak menyadari teman sekamarnya itu sedang tidak baik-baik saja, namun mereka harus tetap pergi bukan?

"Kita sarapan, oke?" ajak Ten, namun sesampainya di aula besar bahkan Taeyong hanya menyentuh sedikit sarapannya, padahal hidangan spesial natal berupa sup ayam ginseng, kalkun panggang, roti manis, dan berbagai hidangan lain sangat menggugah selera. Mereka mulai melangkah ke lapangan quidditch.

Taeyong merapalkan tempus, muncul pemberitahuan waktu saat ini yaitu pukul 9 pagi, jarang sekali pertandingan diadakan sepagi ini. "Aku tidur jam 3, berarti aku harus kembali pukul sebelas. Ramuannya harus diaduk delapan jam sekali," gumam Taeyong, Ten mendengus masih sempatnya ia memikirkan ramuan.

"Welcome to Hogwarts's Quidditch Battle, Slytherin melawan Ravenclaw. Slytherin yang unggul di peringkat satu setelah mengalahkan Gryffindor tempo hari dan Ravenclaw yang ada di posisi empat, apabila Ravenclaw memenangkan pertandingan maka Ravenclaw akan mendapatkan medali perunggu! Namun apabila Slytherin menang maka Slytherin akan semakin unggul di puncak klasemen,"

Pertandingan sudah akan dimulai, Ten membeli roti kismis dari Chenle yang hobi sekali berjualan disaat pertandingan. "Halo Ten! Aneh rasanya menemuimu di tengah para Slytherins," sapa Chenle riang, "Hai didi, ya ini pertama kalinya." Chenle tidak bertanya lagi, ia menerima beberapa koin galleons dari Ten dan melangkah ke penonton lain.

Di depan mereka ada Jaemin, dia malah lebih absurd lagi. Jaemin adalah seorang ravenclaw tapi duduk di tribun Slytherin, tidak takut dicap pengkhianat asrama atau bagaimana? "Jaeminnie!" Ten menepuk pundaknya, "Oh hai, hyung!" sapanya balik dengan riang, "Mendukung Jeno, eh?"

Rona muncul di wajah manis Jaemin, "Iya, aku kalah taruhan dengannya. Jeno bilang kalau kalah aku harus duduk di tengah para Slytherin, untung ada kalian." Hari ini Haechan dan Mark absen, mereka katanya punya suatu urusan diluar sekolah. Jadi itu alasan kenapa Jaemin nyasar di tengah musuh seperti ini?

Tiba-tiba petir menyambar, dan hujan deras mengikuti. Jaemin dengan santai merapal mantra yang membentuk sebuah perisai, persis payung kasat mata. Sementara Ten buru-buru mengulurkan jas hujan kepada Taeyong, "Ya! Pakailah! Kau sedang sakit!" Taeyong buru-buru memakainya.

Hujan di musim dingin memang yang terburuk, Taeyong makin menggigil. Matanya berkunang-kunang dan perih karena air hujan. Ia memperhatikan Jaehyun yang mengejar snitcher kesana-kemari dengan tangkas, namun fokusnya teralihkan. Tiba-tiba saja kepalanya sedikit pening.

Ia berusaha mengabaikannya dan tetap memperhatikan Jaehyun, bagaimana Jaehyun dibantu Jeno menghadapi Yugyeom dan Hoseok dari Ravenclaw. Tapi pening tetap menyerangnya, kepalanya seolah dipukul dengan batu. Taeyong mencengkram lengan Ten pelan, "Tae? Tae?! Taeyong! Ya!"

"150 poin untuk Slytherin! Selamat! Dan tetap semangat untuk ravenclaw—"

Jaehyun yang beru saja melakukan selebrasi untuk kemenangannya tak sengaja menangkap bayangan Ten yang membopong Taeyong keluar dari tribun. 'Apa yang terjadi?!' pikirnya panik.

Namun ia harus menahan keinginan untuk berlari menyusul mereka karena evaluasi rutin dari kapten selepas pertandingan. 'Astaga, merlin, semoga dia baik-baik saja.' Doa Jaehyun dalam hati.

TBC

Cukup panjang ya hehe, mian kukebut jdnya no edit:( sudah mulai ada kemajuan untuk Jaeyong, momentnya kuberikan chapt depan^^

Review please?^^