BLEACH is belongs to Tite Kubo
Valentine's day
Tanggal 14 Februari adalahhari khusus dimana para gadis mengumpulkan keberanian mereka...
14 Februari. Pagi ini Ichigo sudah uring-uringan. Bukan karena tidak punya uang untuk melunasi hutangnya pada Rukia, tapi.... TODAY IS FUCKIN' VALENTINE DAY!! Biasanya sih Ichigo nggak akan memikirkan hal seperti ini, toh dia tak peduli meskipun teman-temannya selalu sibuk tebar pesona pada teman perempuan mereka menjelang hari valentine supaya bisa dapat coklat sebanyak mungkin, Ichigo sendiri merasa tak masalah kalaupun tak mendapat coklat samasekali, walau nyatanya ia selalu mendapat banyak coklat tiap tahun. Padahal ia sendiri merasa bukanlah seorang laki-laki yang begitu menarik hingga menerima coklat dengan jumlah segitu. Ia juga tak terlalu suka coklat, kalaupun ingin beli saja di minimarket. Oke, kembali ke inti permasalahan. Jadi kenapa Ichigo pusing?
Sebenarnya, kemarin sore Ichigo tak sengaja melihat Rukia bersama dengan beberapa teman sekelasnya yang entah-siapa-aja-namanya berbelanja bahan-bahan membuat coklat di department store tak jauh dari sekolah. Dan otak pentium 2 seperti Ichigo pun bisa menyimpulkan; Rukia akan membuat dan memberikan coklat pada sesorang!
Dan Ichigo benar-benar panik karena hal itu. Jika Rukia menyukai seseorang, pupus sudah harapan Ichigo untuk bisa mendapatkan Rukia. Dan coklat itu tidak mungkin diperuntukkan pada Ichigo... iya kan? Coklat itu pasti dipertuntukkan untuk seseorang diluar sana. Merasa akan telat jika tak segera berangkat, Ichigo berusaha menghapus segala kegalauannya dan bersiap pergi ke sekolah.
Di depan gerbang sekolah, Ichigo melihat sesosok gadis berambut pendek yang tak asing lagi baginya.
"Rukia? Ngapain disini?" sapa Ichigo dengan suara setenang mungkin. Padahal otaknya udah kejet-kejet ngeliat bungkusan pink berbentuk hati yang dipegang Rukia. 'Gwaah!! Itu pasti coklatnya!!' pikir Ichigo kalut.
Rukia menoleh pada Ichigo. Ia tampak sedikit malu-malu, pipnya merona. Perlahan tangannya yang sedikit gemetaran memberikan bungkusan itu pada Ichigo.
"Ah? Heh?" Ichigo bingung plus salah tingkah. Jantungnya berdebar-debar. 'Ini... masa sih?! Yang benar saja?!' pikirnya.
"Ini... untukmu..." kata Rukia terbata-bata, pandanganya menghindari kontak dengan mata Ichigo, rona wajahnya semakin tua.
"Eh? Ru... Rukia?" Ichigo bingung, otaknya terlalu ruwet untuk memproses apa yang terjadi. Tapi, bukankah ini berarti...?
"Ichigo, a... aku su... suka padamu, sejak pertama kali bertemu..." Rukia berbicara terutus-putus karena malu. Ichigo sudah tak sanggup bicara apa-apa lagi. Setengah sel otaknya rasanya melayang entah kemana akibat kata-kata Rukia tadi.
Setelah kewarasannya mulai terkumpul kembali Ichigo pun dengan gelagapan berkata, "a… aku juga, sebenarnya…".
"Yah, kalau lagi tidur begini sih memang mirip anjing, ya," mendadak suara Karin terdengar entah dari mana, membuat Ichigo membuka mata. Benar-benar membuka mata. Ia mendapati dirinya berbaring di tempat tidur di dalam kamarnya sendiri. Tak ada sekolah, tak ada Rukia, apalagi coklat.
Tunggu... yang tadi itu... mimpi? Belum habis kebingungan Ichigo, tubuhnya langsung diguncang oleh Karin yang berdiri di sebelah kasurnya. "Cepat bangun! Nanti telat lho!!" katanya. Oke, yang tadi memang cuma mimpi, Ichigo pun mengerti setelah kesadarannya terkumpul. Dengan gontai ia pun menuju kamar mandi untuk mandi. 'Menyedihkan sekali... padahal tadi aku hampir mati saking bahagianya...' pikir Ichigo. Ia melirik kalender yang digantung di dinding; 14 Februari.
Ichigo berangkat ke sekolah dengan enggan, kalau bisa sebenarnya ia ingin bolos saja... Tapi tidak mungkin kan? Suasana valentine tampak dimana-mana, di etalase tok, dan para siswi yang juga sedang berangkat sekolah kasak-kusuk dengan teman-temannya mengenai coklat valentine yang akan mereka berikan.
Di gerbang, Ichigo melihat sesuatu yang seperti deja vu... gadis bermata violet yang ia impikan tadi berdiri di depan gerbang sekolah, sepertinya sedang menunggu sesuatu...
"Hei, Rukia..." sapa Ichigo.
"Ichigo kok lemas gitu? Jangan bilang kau makan jengkol basi lagi..." kata Rukia khawatir.
"Nggak kok, tenang saja..." Ichigo mengingat-ingat apa dia memang pernah makan jengkol basi.
"Oh, ya ini untukmu" Rukia memberikan sebungkus kecil coklat. Kecil disini berarti 'kecil'. Ichigo pun menerima coklat yang ukurannya sebesar kacang kenari itu. Pikirannya tak tertuju pada coklat itu, melainkan pada apa yang akan dilakukan Rukia selanjutnya. 'Jangan-jangan, sama seperti di dalam mimpi... Jangan, jangan berharap banyak, Ichigo!' batinnya pada diri sendiri.
"Ru... Rukia... kenapa...?"
"Yah, ini hari valentine kan? Sudahlah, makan saja dulu!" suruh Rukia. Ichigo yang memang sedang tak bisa berpikir atau bebicara banyak langsung saja melahap coklat itu.
"Bagaimana rasanya? Aku buat sendiri lho!" kata Rukia. Ichigo bingung. Rasanya... sulit diungkapkan dengan kata-kata. Entah nggak enak-enak banget, atau emang nggak enak samasekali. Bahkan Ichigo merasa 'benda ini' tak layak dikonsumsi. Ichigo kembali teringat kejadian saat valentine tahun lalu, dimana anak perempuan yang memberinya coklat salah membungkus dan memberinya pencuci perut basi yang rasanya bak *****.
"Bagaimana rasanya?!" Rukia bertanya tidak sabar.
"E... enak..." Ichigo memaksakan senyum palsu menutupi rasa mualnya. Setelah otaknya jernih kembali, ia langsung bertanya ,"Kenapa kau memberiku coklat?"
Rukia menghela nafas. "Sudah jelas kan? Ini hari valentine, jadi aku ingin memberi coklat pada orang yang kusukai".
Ichigo menahan -benar sama seperti didalam mimpi! "Tu... tunggu... itu berarti..."
Raut wajah Rukia menjadi cerah seketika. "Ya! Aku mau memberikan coklat pada badut Chappy di depan stasiun! Aku takut rasa coklatnya tak enak, jadi aku memintamu mencicipi coklatnya lebih dulu". Ichigo cengo. Ternyata begitu?
"Lho? Kok kamu diam saja Ichigo?" tanya Rukia tanpa dosa.
Ichigo hanya bisa mematung.
Sambil mencuil-cuil tubuh Ichigo agar ia bergerak lagi, Rukia berkata, "Ngomong-ngomong, hutangmu belum sepenuhnya lunas lho, Ichigo".
bersambung
...Untuk kembali menagih hutang.
Hwaah... gomen nee, pendek banget… Iya, otek saya emang lagi sepet… Ripyu!! Ayo Ripyu!!
