Seperti yang diduga oleh Akashi dan Kuroko, Haizaki terlambat masuk sekolah. Kuroko menunggu di kelas Akashi dan ketika bel masuk berbunyi, mereka melihat dari jendela kelas di lantai dua Haizaki yang sedang berlarian untuk masuk ke gerbang sekolah. Namun sayang, Haizaki tidak beruntung ia dinyatakan telat oleh guru kedisiplinan yang berjaga di gerbang sekolah. Berbeda dengan Aomine yang hanya berbeda beberapa detik darinya namun berhasil masuk ke gerbang sekolah dan dinyatakan tidak terlambat.
"Tetsuya, sebaiknya kau masuk ke kelasmu. Bel sudah berbunyi dan kelasmu berada di lantai tiga"
"Aku akan menemuimu lagi saat jam istirahat pelajaran pertama, kau jangan kemana-mana yah Sei-kun"
"Aku gak akan kemana-mana kok, aku 'kan selalu ada di hati Tetsuya"
Akashi gak ada bosen-bosennya buat menggombali si manis Cuya ini. Lagian salah Cuya sendiri kenapa jadi cowok itu terlalu manis. Akashi yang gak suka manis aja kalo punya Cuya kayaknya bakal tetep kena diabetes karena Cuya itu manis banget~
Kuroko pergi ke kelasnya dan lima menit kemudian, guru mulai masuk ke tiap kelas. Beruntung Kuroko yang dapat masuk ke kelasnya sebelum guru Bahasa Jepangnya datang ke kelasnya. Walau sebenarnya ia bisa saja memanfaatkan hawa keberadaannya dan jurus missdirectionnya untuk masuk ke dalam kelas jika ia terlambat. Tapi Kuroko 'kan anak baik dan rajin, mana mungkin ia memakai cara licik seperti itu.
Jam pelajaran pertama terasa cepat berakhir bagi Kuroko. Maklum, ia sangat menyukai pelajaran bahasa. Waktu terasa lebih cepat jika kita merasa senang.
Waktu jam istirahat pelajaran pertama adalah 15 menit. Waktu tersebut cukup untuk sekedar buang air kecil di toilet, menemui Akashi dan Haizaki. Setelah itu ia harus masuk kembali ke kelasnya.
Kuroko tentu tidak mau membuang waktu, ia berjalan santai menuju kelas Akashi. Tidak perlu buru-buru, lagipula ini bukan tagihan hutang yang sudah lama tidak kau bayar.
"Sei-kun"
Belum sampai di kelas Akashi, Kuroko menemui kekashinya di koridor menuju kelasnya. Mungkin mereka memang sudah ditakdirkan berjodoh.
"Aku baru akan menjemputmu ke kelasmu karena kau begitu lama, kau mau menemui Haizaki 'kan? Tadi aku lihat ia sedang tidur di kelasnya"
Akashi dan Kuroko langsung pergi ke kelas Haizaki. Haizaki berada di kelas 1-2. Yah bingung juga kenapa anak itu bisa masuk ke kelas unggulan seperti itu. Yah tiga kelas unggulan adalah kelas 1-1 adalah kelas Akashi, kelas 1-2 kelas Haizaki, dan kelas 1-3 adalah kelas Midorima dan Aomine. Walau Aomine masuk kelas unggulan, tapi sepertinya ia tidak begitu peduli masuk kelas mana. Toh ia lebih sering tidur di kelas daripada memperhatikan pelajaran. Itu kalau masih ada sedikit niat, kalau gak ada niat sama sekali mungkin Aomine akan bolos pelajaran. Yang penting Aomine bisa lulus, tinggal pinjam catatan pelajaran milik Satsuki ketika ulangan dan urusan selesai.
"Haizaki-kun"
Kuroko membangunkan Haizaki yang sedang tidur di bangkunya. Haizaki bangun dan melihat rekan satu timnya di depannya.
"Oh Akashi, ada apa kau membangunkanku dengan suara lembut seperti itu?"
"Aku yang membangunkanmu, Haizaki-kun"
"Eh kau tidak berbicara tapi terdengar suara"
"Itu suara Tetsuya"
"Aku di sampingmu Haizaki-kun"
"Uwah!"
Haizaki kaget dengan sosok Kuroko yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Kuroko merupakan anggota baru di grup satu tim basket Teiko. Mereka belum terbiasa dengan hawa keberadaan Kuroko yang tipis.
"Maaf maaf, aku belum terbiasa dengan hawa keberadaanmu yang tipis itu. Kemarin aku mengirim e-mail kepada Kuroko dan apa benar ini ponsel milikmu, Akashi?"
Akashi melihat ponsel flip merahnya dengan pandangan berbinar-binar. Tetsuyanya kembali. Ah bukan Tetsuya, foto-foto Tetsuya. Apalagi foto Tetsuya yang lagi mimisan kemarin, itu imut sekali.
"Coba aku lihat"
Haizaki menyerahkan ponsel yang sepertinya milik Akashi. Warna dan tipe handphonenya memang sama, tapi siapa tahu saja ada orang yang handphonenya sama persis dengan handphone milik Akashi.
Akashi menyalakan handphone tersebut. Handphone tersebut meminta Akashi untuk memasukan empat digit password. Akashi memasukkan empat digit password yang ia hapal di luar kepala dan ternyata berhasil. Kemudian terlihat wallpaper handphonenya yang merupakan foto Tetsuyanya. Baterai ponselnya masih tersisa kurang dari 30% sepertinya sehingga masih bisa menyala. Akashi mengecek seluruh data kontak, pesan, dan galerinya guna memastikan bahwa handphone tersebut benar-benar miliknya yang kemarin hilang. Handphone tersebut memang punya Akashi.
"Yah ini handphone milikku, darimana kau mendapatkannya?"
"Panjang ceritanya, aku malas untuk menceritakannya. Semalam aku sudah menceritakannya kepada Kuroko, tanya saja sama dia"
Haizaki berdiri dari kursinya dan keluar dari kelasnya. Akashi dan Kuroko keluar dari kelas Haizaki. Ngapain nangkring di kelas orang, gak ada kerjaan banget.
Akashi dan Kuroko berjalan-jalan di sekitar koridor kelas Akashi. Kuroko menatap sendu ke arah jendela tempatnya bersandar.
CEKREK
Kuroko diam, menatap sendu pemandangan sekolah dari jendela di lantai dua. Pemandangan yang indah bagi Akashi namun Akashi cukup peka dengan keadaan Kuroko. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kuroko.
Dan saat ini bukanlah saat yang tepat buat Akashi untuk modus atau bercanda dengan Kuroko.
"Maafkan aku Tetsuya. Kau kenapa? Memikirkan sesuatu? Ada yang mengganggu di dalam pikiranmu?"
"Yah sedikit, tapi tidak usah dipikirkan juga"
"Ngomong-ngomong kenapa ponselku bisa berada di tangan Haizaki? Lalu apa hubungangannya denganmu?"
"Semalam dia mengirim e-mail padaku, menanyakan apakah Sei-kun kehilangan ponselnya. Aku jawab saja iya dan dia mengirim sebuah foto yang merupakan foto ponselmu yang hilang"
Kuroko menyandarkan dagunya di bahu Akashi sambil memeluk Akashi dari belakang. Ia berharap tidak akan ada masalah yang akan melanda hubungan mereka sebentar lagi.
Waktu sore sudah habis dan malam segera datang, Haizaki hendak pulang dari game center. Dia bertemu dengan beberapa pemain basket dengan jaket dan jersey yang sama dengan yang biasa Haizaki pakai dan beberapa orang lagi yang memakai seragam sekolah yang berbeda. Sebenarnya Haizaki tidak peduli dengan mereka, kenal saja tidak. Namun apa yang sedang mereka bicarakan membuat sakit pendengaran Haizaki.
"Hey ini bukankah ponsel milik si Akashialan itu"
"Si orang sok sempurna itu? Orang homo mana bisa disebut sempurna"
"Dia berada di grup satu. Pacar homo dia juga ada di grup satu walau dulunya dia ada di grup tiga. Pasti Kuroko hanya memanfaatkan Akashi agar bisa bergabung di grup satu. Lagipula Akashi itu merupakan salah satu calon kapten untuk tahun depan, jadi kontribusi dan pengaruhnya untuk tim basket pastilah besar. Hal seperti itu pasti wajar"
"Kau manfaatkan saja ponselnya agar bisa masuk ke grup satu. Kau bisa mencari sesuatu yang bisa kau jadikan skandal misalnya"
BUGH!
"Aku tidak sudi berada di grup yang sama dengan kalian"
Haizaki menghajar semua orang yang berada di gerombolan anak-anak gak jelas itu hingga babak belur dan mengambil ponsel milik Akashi.
TBC
