for KaiHun lovers
Chapter 4
Sehun merasa lebih baik setelah meluapkan semua pada Kris. Kris memang terlihat idiot, tapi ketika dihadapkan pada suatu kondisi yang serius ia bisa berubah menjadi Kris yang memiliki sisi dewasa. Sehun mendengarkan semua nasehat-nasehat dari Kris dan melakukan persis seperti yang disarankan pria berdarah Kanada itu. Berbicara tentang Kai, Kai selalu menghubungi Sehun tiap malam. Itu membuat Sehun merasa baik. Ucapan manis Kai sebelum tidur adalah hal yang paling disukai Sehun. Dan Sehun akan berakhir dengan bayang-banyang Kai sampai ia tertidur.
"Aku merindukanmu Sehun." Kai membuka Suaranya setelah Sehun menceritakan tentang bagaimana melelahkannya operasi hari ini. Sehun bungkam, ia mati kutu tak tau harus menjawab bagaimana.
"Cepatlah pulang jika kau merindukanku." Tidak mungkin Sehun membalas ucapan rindu Kai secara langsung. Ia masih merasa canggung dengan status hubungan mereka. Teman biasa yang sering berciuman? Sangat tidak lucu.
"Kau tidak merindukanku?" Kai menghela nafas panjang agar Sehun merasa bersalah.
"Untuk apa aku merindukan orang sepertimu? Dasar pencuri ciuman." Sehun membalas ucapan itu dengan senyuman malu-malu.
"Kau merindukan ciumanku dan tidak merindukanku?" Kai menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
"Tidak bukan begitu!" Sehun tentu saja kalang kabut karena obrolan yang ia ciptakan berbalik menggigitnya.
"Tidak usah malu, aku senang paling tidak ada sesuatu yang kau rindukan dariku." Kai terus menggoda Sehun.
"Kaiii.. bukan begitu.. terus menggodaku dan aku tak akan pernah mengangkat panggilanmu."
"Baiklah nona Oh, aku akan berhenti menggodamu. Tunggu sampai hari Minggu dan aku akan mengabulkan keinginanmu." Kai menyeringai di sebrang sana.
"Aku tidak menginginkan apa-apa." Sehun ada di mode merajuknya kali ini.
"Bukannya kau minta dicium?"
"KKKAAAIIII..." Sehun menggeliat di atas ranjangnya karena Kai tak mau berhenti mengerjainya.
"Baiklah baiklah Sehunn.. Menggodamu ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi sangat ingin menemuimu sekarang juga." Kai terkekeh mendengar teriakan Sehun.
"Jangan temui aku, aku membencimu." Bibir Sehun memang mengatakan benci tapi senyuman setelahnya membuat perkataan Sehun barusan seperti bualan.
"Ohh ayolah dokter Oh.. Kirimi aku fotomu." Sehun menegang, ia sudah menghapus semua riasannya dan hanya mengenakan piama.
"Aku tidak mau, aku sedang tidak cantik."
"Aku sangat merindukanmu, ayo lahh." Kai masih memohon.
"Baiklah, tapi hanya satu." Sehun langsung berdiri dari ranjangnya dan bergegas menuju meja riasnya lalu menata rambutnya agar terlihat rapi.
"Akhirnya. Kalau begitu kirimi aku segera kemudian tidurlah." Suara rendah Kai selalu meluluhkan Sehun.
"Aiyai kapten, Selamat malam Kai." Sehun mendengar tawaan kecil Kai dari sebrang sana.
"Selamat malam Sehun." Sehun menata rambutnya agar terlihat natural, ia tak membubuhkan riasan apapun di wajahnya. Beberapa kali mengambil foto membuatnya merasa aneh. Karena jujur saja, Sehun bukan tipe wanita yang senang berfoto. Ia memilih foto yang menurutnya terbaik. Dan mengirimkannya pada Kai. Tak lama setelah itu Kai membalas pesan Sehun.
From: Kai Kim
Kau cantik seperti biasanya Sehun.
Sehun tersenyum karena balasan Kai. Ia memegang pipinya yang memanas lalu kembali menubrukkan diri pada ranjang empuknya.
To: Kai Kim
Thanks, aku tau aku cantik. Tidurlah sambil memikirkanku.
Sehun tertawa melihat balasannya.
From: Kai Kim
Aku melakukannya tiap hari;) tidurlah, selamat malam Sehun.
Sehun meleleh karena kata-kata manis Kai. Ia merasa sikapnya hari ini pada Kai sangat berbeda dengan sikapnya minggu lalu. Ia yakin ini pasti karena Kai sering menciumnya.
To: Kai Kim
Selamat malam Kai.
Sehun mematikan ponselnya dan menarik selimutnya. Ia tau bahwa berbincang dengan Kai pasti akan berakhir dengan senyum-senyum sendiri. Sehun tak memungkiri bahwa kemungkinan jatuh cinta pada seorang Kai Kim sangat besar. Secara penampilan, Kai memang memiliki banyak poin positif. Dan secara kepribadian, Kai yang Sehun kenal dulu adalah Kai yang menyebalkan dan kekanank-kanakan. Sehun hanya akan mengikuti permainan yang telah disusun tuhan untuk mereka.
Hari Sabtu kali ini sangat berbeda dengan hari-hari Sabtu biasanya. Sehun sudah menghafal betul kondisi pasien dan telah memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi dalam operasi besar kali ini. transplantasi usus bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus serba teliti dalam setiap langkah yang ia ambil. Ditambah lagi, kali ini ia ditemani seorang dokter senior yang sangat ia benci.
"Selamat pagi, saya dokter Oh. Saya yang menggantikan dokter Hillary pada operasi ini." Sehun memperkenalkan diri pada tim dokter Barner.
"Tidak usah terlalu formal dokter Oh. Kami mengenal anda." Seorang asisten dokter lain mengatakan itu sambil memberikan sebuah baju operasi untuk Sehun. Ia melihat Barner. Mereka bertatapan untuk beberapa waktu, tapi Sehun segera mengalihkan pandangannya.
"Tidak usah tegang Sehun. Kau sudah biasa menghadapi situasi ini." Barner berbicara pada Sehun seolah-olah tidak ada hal aneh yang terjadi pada mereka sebelumnya.
"Saya tidak tegang dokter. Saya hanya bersikap profesional." Sehun tersenyum dan segera mengganti pakaiannya.
Operasi berjalan hingga 6 jam. Barner memang dokter bedah yang handal. Faktor kecerdasan dan pengalamannya di bidang perbedahan memang patut diacungi jempol. Ia tau persis apa yang akan terjadi jika ia salah langkah. Dan Sehun sangat kagum dengan kemampuan dokter tua itu. Meskipun pria ini bisa menjelma menjadi pria yang sangat kurang ajar. Tapi Sehun berusaha bersikap profesional. Ia tak ingin membawa urusan pribadi dalam urusan pekerjaan.
"Kau bekerja dengan baik Sehun." Barner mengelus rambut Sehun di depan anggota tim Barner lainnya. Tentu saja tindakan Barner barusan memberikan kesan bahwa mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.
"Terima kasih." Sehun mundur beberapa langkah. Dan berusaha menghindar dari tangan Barner.
"Kembalilah ke ruanganmu, kau pasti lelah." Barner bertingkah aneh. Ia sengaja mengatakan hal-hal manis pada Sehun didepan anggota timnya yang lain. Sehun yakin setelah ini gosip-gosip miring akan langsung menyebar ke penjuru rumah sakit.
Sehun POV.
Aku tak menjawab omongan Barner. Ia sangat bajingan, aku yakin setelah ini akan tersebar gosip bahwa kami menghabiskan malam bersama. Aku sangat lelah tentu saja. Operasi berjalan lancar memang, tapi kali ini bukan operasi biasa. Aku menuju ruanganku dengan langkah yang malas-malasan. Karena hari ini bukan jadwalku sebenarnya, jadi aku memutuskan untuk langsung mengemasi barang-barangku dan bergegas pulang.
"Sehun kau akan langsung pulang?" aku menoleh pada sumber suara. Sungguh betapa aku ingin menampar wajah lelaki tua ini. Dengan tak tau malunya ia kembali muncul di hadapanku.
"Maaf, saya tidak ingin berurusan dengan anda di luar jam kerja." Aku dengan tergesa-gesa mengemasi barang-barangku.
"Kau sangat keras kepala Sehun. Turutilah kemauanku sekali saja dan aku tak akan pernah mengejarmu." Mulut tua itu berusaha bernegosiasi denganku. Tapi sayangnya aku bukan wanita gampangan.
"Saya adalah dokter yang profesional. Dan saya jelas menolak ajakan anda. Maaf, sampai kapanpun saya tak akan pernah menuruti keinginan anda. Selamat sore dokter Barner yang terhormat." Aku berjalan melewati pria tua dengan rambut putih itu. Aku berjalan mendahuluinya ke depan pintu, tapi ketika aku lewat di depannya, aku merasa pantatku diremas dengan sangat kuat hingga aku memekik. Sungguh aku tak kuat dengan perlakuannya padaku.
"Saya ingatkan sekali lagi dokter. Jangan pernah menyentuh saya seenaknya! Saya bukan wanita murahan! Dan saya tak menyangka, dokter senior seperti anda ternyata sangat tidak sopan pada wanita! Saya akan pulang, anda sebaiknya kembali ke ruangan anda!" aku mengatakan itu dengan sedikit membentak. Ia membalasnya dengan seringaaian yang membuatku ingin muntah. Ia keluar dari ruanganku tanpa sepatah katapun. Aku mengunci ruanganku dan berjalan menuju tempat parkir. Hari yang memuakkan, suasana hatiku sangat buruk. Rasanya aku tak sanggup kembali ke rumah sakit jika keadaannya seperti ini.
"Dokter sialan!" rasanya aku sangat ingin membunuh seseorang untuk melampiaskan kemarahanku. Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Emosiku meletup-letup, aku tak peduli dengan peraturan lalu lintas. Aku tau aku melanggar batas kecepatan yang berlaku di negara ini, aku tak ambil pusing. Mereka akan mendendaku dengan memotong langsung dari rekeningku. Aku tiba di rumah pukul 14.30 sore. Rasanya sangat malas memasak, aku hanya memanggang beberapa lembar roti dan memakannya dengan keju. Hari yang memuakkan!
"Sehun aku tidak tau kau bisa sangat semenyebalkan ini saat merasa kesal." Baekhyun adalah tempatku bercerita tiap kali ada masalah.
"Aku dilecehkan tiga kali Bee, tiga kali! Tentu saja aku kesal!" aku meledak-ledak sambil mengunyah popcorn di ruang tamu.
"Aku tau kau kesal, tapi aku sedang dalam perjalanan kencan bersama Chanyeol! Sangat sulit menyesuaikan jadwalku dan jadwal Chanyeol dan aku tak mau hari ini kau ganggu. Aku tidak dalam keadaan akan mendengarkanmu dengan seksama." Baekhyun benar, tapi aku sedang sangat marah dan kesal.
"Ya sudah lah kalau kau tak mau mendengarkan!" aku memutuskan sambungan kami dulu. Sebenarnya Baekhyun benar. Tapi aku sedang dalam mode tidak mau dibantah. Aku mendengar ponselku berbunyi lagi. Dari Baekhyun.
"Bukankah kau bilang akan berkencan? Pergi sana!" aku membentak Baekhyun sebagai salam pembukaan.
"Kau ini! aku hampir tuli mendengar suaramu. Ahh telingakuu.." aku hanya diam saja mendengar kalimat-kalimatnya.
"Kau tadi bilang 3 kali dilecehkan? Oleh siapa?" nah sekarang ia mulai tertarik dengan ceritaku, tapi terlambat aku sudah terlanjur muak.
"Bukan urusanmu!" aku kembali membentak Baekhyun.
"Puddin' listen, aku sedang tidak ada waktu dan tidak bisa mendengar ceritamu secara mendetail. Tapi jawab saja pertanyaanku, aku akan menelponmu balik saat kami selesai. Kau tidak salah jika membentakku, aku tau bagaimana keadaanmu sayang." Kadang jika Baekhyun sedikit normal, ia bisa menjelma menjadi sosok yang sangat dewasa.
"Dokter senior di rumah sakitku. Sudah aku tak mau cerita lagi. Bersenang-senanglah!" aku kembali menutup sambungan telepon Baekhyun. Suasana hatiku sedang sangat buruk. Tiap kali aku berusaha mengalihkan pikiranku pasti aku akan berakhir dengan memikirkan kejadian-kejadian tak menyenangkan akhir-akhir ini. Hari Sabtu ini adalah hari yang sangat tak produktif bagiku, aku hanya menonton film lalu mandi lalu menonton film lagi sambil mengunyah stroberi.
Aku bahkan tak memikirkan rencana hari minggu. Malam ini akan ada badai besar, setidaknya itulah yang aku dengar di ramalan cuaca hari ini, jadi aku pikir hari Minggu akan berakhir dengan di rumah seharian. Bukan rencana buruk sebenarnya, aku bisa menonton tv sambil makan stroberi. Lagi. Aku doakan kencan Baekhyun dan Chanyeol gagal. Itulah akibat karena menolak orang yang ingin mencurahkan isi hati.
Aku menjalani hari dengan uring-uringan tak jelas. Rasanya sangat ingin marah, tapi tak tau harus melampiaskannya dengan bagaimana. Aku berusaha melakukan yoga, tapi sungguh itu tak berhasil. Yoga harus dilakukan dengan perasaan yang tenang dan keadaan yang mendukung. Aku berakhir seperti orang bodoh yang berusaha mencari ketenangan tapi tak menemukannya. Aku buru-buru mandi dan mengganti pakaianku dengan baju tidur pemberian Baekhyun pada ulang tahunku tahun lalu. baju tidur dengan celana pendek tepat dibawah pantat berwarna merah wine dan sebuah atasan singlet berwarna senada yang terbuat dari sutra. Baekhyun memang berselera tinggi.
Bbeeepppp...
Bel pintu rumahku berbunyi, siapa lagi yang berkunjung jam 7 malam begini. Aku turun dan langsung bergeges menuju pintu. Seorang pria membelakangi kamera interkomku. Siapa dia?
"Who is there?" karena aku tak yakin akan membukakan pintu, aku hanya membuka suara lewan interkom.
"Kai. ini aku Sehun." Pria itu berbalik, tentu aku kaget. Bukankah ia bilang akan kembali ke New York hari Minggu? Kenapa ia tiba-tiba di sini? Mati aku, aku bahkan sudah menghapus riasan dan mengenakan baju tidur.
"Kai?! kau bilang akan kembali hari Minggu?" aku berkata sambil membukakan pintu dan mempersilahkan Kai masuk.
"Aku bisa pulang kapan saja sebenarnya." Kai masuk ke dalam sambil memperhatikan tampilanku. Mau ditaruh dimana mukaku kali ini.
"Duduklah aku akan mengganti pakaianku." Aku menyuruh Kai duduk di ruang tamu kemudian berlari menaiki tangga menuju kamarku. Dengan cepat aku meraih sebuah mini dress santai bercorak floral berwarna perpaduan hijau tua dan biru tua dan mengenakannya.
"Ada apa kau kemari?" aku langsung menanyainya tanpa menawari minum, aku sudah sangat penasaran sebenarnya. Ia bisa saja langsung pulang ke rumahnya dan istirahat. Bukannya menemuiku.
"Sebenarnya kau terlihat sangat seksi dengan baju tidurmu tadi." Gila! Ia masih memikirkan baju tidurku.
Author POV.
"Kau ini ya!" Sehun memutar matanya dan Kaipun tertawa.
"Kau cantik dengan pakaian ini." Kai terpaku dengan penampilan Sehun, meskipun Sehun tak mengenakan riasan apapun.
"Kau selalu mengatakan aku cantik, sebenarnya kenapa sih." Sehun berjalan menuju dapur.
"Kopi? Teh? Wine?"
"Kopi saja Sehun, terima kasih." Sehun membuat kopi dengan cekatan lalu segera membawa dua cangkir kopi dengan sekaleng kremer dan gula dengan sebuah nampan.
"Nahh, jadi bisa kau jelaskan maksudmu datang kesini?" Sehun mendudukkan dirinya di sebelah Kai sambil mengambil cangkir kopinya.
"Aku mendengar bahwa ada seorang wanita cantik yang sedang uring-uringan seharian. Ia bahkan nekat mengebut di jalan tol." Kai meneguk kopinya dan Sehun terbelalak.
"Bagaimana kau tau?" Sehun menatap Kai seolah ia adalah manusia purba.
"Kau tau jawabanku Sehun percayalah." Kai masih tenang dan meminum kopinya.
"Yang ada di kepalaku saat ini adalah, Baekhyun, dan kemungkinan karena kau tau aku mengebut, kau menyuruh orang menguntitku?" Kai hanya menjawab dengan senyuman, Sehun memang pintar dalam teka-teki.
"Tidak mungkin. Aku bukan putri presinden yang harus dikawal Kai. Kita bahkan bukan siapa-siapa." Sehun mulai menunjukkan ekspresi-ekspresi ketidak percayaan.
"Aku menyukaimu, dan itu caraku untuk melindungimu. Oiya Sehun, apa kau mantan pembalap? Anak buahku sampai kehilangan jejakmu tadi." Kai berhenti tersenyum dan memasang wajah seriusnya kemudian suara Sehun yang tersedak ludahnya juga terdengar.
"Anak buah? Yang kau suruh lebih dari satu?" Kai hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Berapa?" Sehun penasaran tentu saja.
"Tujuh."
"WHAATT? Kau pikir aku narapidana?" Sehun mengeluarkan sungutnya, tapi Kai malah tertawa melihat reaksi Sehun.
"Kai dengar, aku tidak menyukai ini." Sehun menarik nafas dalam dan mengeluarkannya.
"Aku tau kau tidak akan menyukai ini. Tapi ini membuatku tenang. Untuk menghargai kebebasanmu, aku menyuruh mereka mengawasimu dari jauh." Kai menarik senyumnya kembali. Sehun menegak habis isi cangkirnya.
"Kau menyebalkan. Terserah kau sajalah. Selama mereka tak menggangguku aku rasa aku baik." Sehun menjawab Kai cuek, ia meletakkan cangkir kosongnya di atas meja dan memalingakan wajahnya menghadap depan.
"Kau merajuk?" Kai setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sehun duduk bersendekap dengan wajah merengut.
"Kemarilah, aku melakukan ini karena aku menyukaimu Sehun." Kai menarik Sehun agar bersandar pada dadanya. Sehun masih mempertahankan wajah merengutnya.
"Aku peduli padamu, aku sadar aku tak bisa selalu menemanimu. Dan dengan ini aku merasa kau aman." Kai memeluk tubuh Sehun dari belakang dan menciumi pelipis Sehun.
"Alasanmu masuk akal. Tapi aku belum sepenuhnya bisa menerima fakta bahwa aku akan dimata-matai setiap hari."
"Kau masih merajuk?" Kai merasa bahwa Sehun sangat menggemaskan karena suara merajuknya.
"Rasakan ini.." kai menggelitiki Sehun dan Sehunpun menggeliat dan tertawa karena gelitikan Kai. Sehun ingin membalas tapi karena posisinya yang membelakangi Kai, ia jadi sulit untuk melakukannya.
"Kai! ampun.. tolong.. berhentiii.. hahahaha.." Sehun masih berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya agar terlepas dari kukungan Kai. Ia berusaha menjauh tapi selalu ditarik kembali oleh Kai.
"Rasakan ini, dasar perajuk!" Kai tidak berhenti, Sehun berdiri untuk menghindari Kai tapi Kai malah ikut-ikutan berdiri dan tetap menggelitiki Sehun. Karena tinggi Sehun yang sepantaran dengan dagu Kai, Sehun tak membuang kesempatan ia langsung menggigit kuat leher Kai.
"Aahh Sehun!" Kai berhenti menggelitikinya dan terjatuh menindih Sehun di atas sofa. Ia mengaduh kesakitan sambil mengusap bekas gigitan Sehun. Sedangkan Sehun masih terpaku dengan posisi mereka. Sehun terbaring diatas sofa dengan salah satu kakinya memijak lantai dan kaki lainnya membujur searah sofa dan Kai yang mengukung Sehun dengan tubuhnya dan kaki kanan bertumpu pada lutut di atas sofa sedangkan kaki kiri memijak lantai.
"Kau menggigitku? Akan kubalas!" Kai tanpa aba-aba langsung menggigit bibir Sehun pelan. Sehun meringis kecil. Kai mengamati ekspresi Sehu, ia terkikik karena wajah Sehun yang memerah. Tapi ia kembali menggiti bibir Sehun. Kali ini lebih lembut dan disertai sapuan lidah. Tangannya beralih ke balik punggung Sehun untuk mendorong agar mereka semakin dekat. Kai masih menjilati bibir itu dan sesekali menghisapnya. Sehun terlena dan ikut membuka bibirnya.
Sehun mengikuti permainan Kai. Ketika Kai memasukkan lidahnya makin dalam, ia akan membelitkan lidahnya pada lidah Kai. Sehun melingkarkan tangan kirinya pada leher Kai dan tangan kanannya memeluk pinggang pria tampan itu. Sehun membelai pinggang itu pelan. Permainan Kai sungguh hebat. Mereka saling mencumbu satu sama lain, menghisap, menjilat, mengecup, melumat. Mereka berusaha merasakan rasa satu sama lain.
Tempo cumbuan yang tidak tergesa-gesa dan menyenangkan. Kai menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan lambat. Mereka terlihat sangat menikmati permainan yang mereka ciptakan. nafas berat Sehun terdengar karena terbawa suasana. Sehun terkesan sedikit pasif, karena hanya membalas cumbuan Kai dan tidak berinisiatif untuk memperdalam karena posisi lehernya yang menekan pada sofa. Sedangkan Kai, ia mengatur jalan permainan dengan baik karena lehernya tak menyandar pada apapun hingga ia bisa bergerak leluasa.
Kai mengubah permainan. Ia mengangkat tubuh Sehun dan membaringkannya di atas tubuhnya. Posisi mereka kini bertukar. Kai berbaring di sofa dengan tubuh Sehun diatasnya. Sehun sedikit kaget, tapi ia dapat menguasai dirinya setelahnya. Ia menyelipkan kedua tangannya di balik tubuh Kai, sedangkan Kai menaruk kedua tangannya dipinggang Sehun sambil mengelusnya keatas dan kebawah. Mereka masih saling bercumbu. Karena posisi mereka tertukar, kini Sehun yang memegang permainan.
"mmhhh.." Sehun mendesah kecil.
Ia melakuka persis seperti yang Kai lakukan. Bergerak pelan, ke kiri dan ke kanan. Hanya saja ia tak bermain dengan lidah Kai. Ia berulang kali menghisap bibir Kai lembut dan memberinya belaian-belaian dengan lidah. Kai menikmati permainan lembut Sehun. Ia memberi Sehun dukungan dengan membelai pinggang Sehun. Karena Sehun terus menggerakkan kepalanya, secara tak sengaja tubuh Sehun juga membelai kejantanan Kai. Karena Kai pria normal, tentu saja ia terangsang oleh gerakan pelan Sehun yang menekan-nekan kejantanannya.
Tangan Kai merambat ke pantat Sehun. Sehun merasakannya, tapi ia diam saja. ia sangat menikmati kegiatan mereka kali ini. Kedua tangan itu menangkup pantat sintal Sehun dan meremasnya dengan lembut. Kai meremas dengan gerakan ke atas, ke bawah dan memutar berlawanan arah, Sehun terangsang karena Kai. Ia merasa ada sesuatu keras yang menusuk-nusuk perutnya kala tubuhnya bergerak. Ia tidak bodoh untuk mengetahui bagian tubuh Kai yang mana itu. Nafas keduanya memberat.
DDOOORRRR...!
Suara petir yang kencang membuat keduanya kaget dan menghentikan kegiatan mereka. Mereka terkekeh karena saling melihat reaksi satu sama lain ketika kaget. Sehun bangkit dari atas tubuh Kai, dan Kaipun juga. Hanya saja sekarang Sehun mendudukkan dirinya dalam pangkuan Kai dengan kedua kakinya melingakari pinggang pria dalam pelukannya itu.
"Aku rasa akan terjadi badai. Untung saja aku sudah mendarat." Kai menatap arah jendela apartemen Sehun.
"Ya, hari ini akan ada badai besar. Aku yakin Chanyeol dan Baekhyun sedang mati kutu di dalam restoran karena terjebak badai." Sehun masih kesal dengan Baekhyun rupanya.
"Tidak, mereka memesan sebuah vila dan koki exclusive yang melayani mereka langsung. Aku yakin mereka memiliki malam yang menyenangkan meskipun badai begini." Kai membantah omongan Sehun.
"Kau? Bagaimana kau tau?" Sehun memasang wajah tak percayanya.
"Ahh.. tentu saja Baekhyun." Sehun memutar matanya. Sehun hendak turun dari pangkuan Kai.
"Jangan turun! Mau kemana? Biar ku gendong." Kai menghentikan gerakan Sehun dan langsung berdiri dengan Sehun digendongan koalanya.
"Jendela." Sehun memeluk leher Kai. Kaipun berjalan menuruti Sehun.
"Badainya kencang sekali." Sehun berkata sambil mengamati pemandangan di luar kaca. Angin bercampur hujan deras berhembus sangat kencang. Pepohonan membentuk sebuah kurva melengkung karenanya. Tidak ada kendaraan satu pun yang melintas di jalanan.
"Sebaikknya kita menonton berita tv Sehun. Badai kali ini kencang sekali." Kai berjalan menjauhi jendela dengan Sehun yang masih di gendongannya. Kai mendudukkan Sehun di sofa depan tv dan menyalakan saluran berita.
"Badai kali ini merupakan badai terkuat yang pernah terjadi di New York. Kecepatan angin mencapai 67 kilo meter perjam dengan temperatur 9 drajat celcius. Jalanan ditutup karena kabut tebal. Diperkirakan badai ini akan berlangsung hingga besok siang. Penduduk kota dimohon untuk tetap tinggal di rumah." Pembawa berita membacakan berita dengan cuplikan vidio live keadaan yang terjadi di luar sana.
"Sepertinya aku akan terjebak disini." Kai bergumam sambil mengeluarkan ponselnya.
To: Wiliam Carter
Wil, aku tidak mau tau. Dengan adanya badai atau tidak, aku tetap ingin kau mengirimkan seluruh informasi tentang Barner. Kirimkan secepat mungkin melalui e-mail. Lalu hari Senin aku menginginkannya dalam bentuk berkas.
Kai mengetikkannya dengan cepat dan segera mengirimnya.
"Kau meminta ijin pada pacarmu dulu?" Sehun mengangkat satu alisnya.
"Pacar masa depanku sedang berada di hadapanku." Kai mengecilkan suara tv dan duduk bergeser pada Sehun.
"Kau tidak perlu malu Kai. Aku tau kau memiliki banyak wanita di luar sana." Sehun mengatakannya dengan wajah malas.
"Aku tidak memiliki wanita manapun Sehun." Kai menarik tangan Sehun dan mengecupnya lembut.
"Aku sempat mendengar perbincanganmu dengan Chanyeol waktu itu. Kau tak perlu mengelak." Sehun merasa kesal karena jawaban Kai.
"Kau tau Sehun. Sebagai pria dewasa aku memerlukannya. Aku menyebutnya sebagai kebutuhan. Dan selama hidupku, aku tak pernah berlari kesana-kemari demi menarik perhatian seorang wanita. Tapi kali ini berbeda. Kau, membuatku menjadi bukan seperti Kai Kim yang biasanya. Yang selalu berperilaku dingin pada wanita manapun. Kau dengan seenaknya mengambil alih pikiranku. Aku tak pernah memikirkan kebutuhan biologisku sejak pertemuan kita di kantor Chanyeol. Yang ku butuhkan hanya kau. Berada di sisimu membuat pikiranku tenang." Secara tak langsung Kai membenarkan bahwa ia sering berhubungan dengan wanita-wanita lain.
"Kau sangat pintar dengan kata-kata manis Kai." Sehun sedikit senang sebenarnya karena pengakuan Kai, tapi tetap saja Kai sering bermain wanita.
"Ini dinamakan berkata jujur Sehun." Kai merangkul pinggang Sehun dan menariknya mendekat.
"Apa kau sudah makan malam?" Sehun teringat sesuatu.
"Sudah." Kai tersenyum dan mencium pipi Sehun. Sehun masih tidak memandang Kai, pandangannya lurus menatap tv.
"Aku lapar. Aku akan membuat salad buah saja." Sehun berdiri dan berjalan kearah dapur. Kai mengikutinya dari belakang. Tapi langkah Kai terhenti di depan sebuah grand piano. Sehun masih tak memperhatikan Kai dan berjalan lurus menuju kulkas.
Kai duduk di depan piano itu. Ia menekan tuts piano untuk mengetesnya.
"Mainkan aku sebuah lagu dan aku akan membuatkanmu sepiring salad buah." Sehun membuka suara dari arah dapur. Kai tersenyum sambil memberi acungan jempol. Sebuah lagu manis menemani Sehun ketika ia sibuk menyiapkan bahan-bahan. Lagu dengan melodi indah yang terkesan sedih. Sehun mengamati Kai ketika ia menekan tuts demi tuts piano untuk menciptakan sebuah nada yang berirama.
Mata dengan tatapan tajam itu terpejam, seolah mengikuti permainan nadanya. Melodi pelan dengan serat kesedihan jelas terdengar di penjuru ruangan itu. Kai menaikkan tempo permainannya hingga membuat emosi pendengarnya ikut memuncak. Ia memainkannya dengan sangat profesional, tubuhnya bergoyang seirama dengan tempo lagu. Sungguh pemandangan yang indah.
Sehun berhenti membuat dressing untuk saladnya karena pemandangan indah yang ada di tengah ruangannya. Sehun terpesona. Aura yang dipancarkan Kai sangat berbeda, ia terlihat menjiwai lagu itu. Dengan segera ia menuangkan dressingnya pada potongan-potongan buah itu. Ia membawanya ke meja makan lalu menghampiri Kai.
"Kenapa lagumu sedih sekali?" Sehun memberanikan diri menyisirkan tangannya pada rambut pria tampan itu. Kai berhenti dan membuka matanya.
"Entahlah, mungkin karena suasana di luar sangat cocok dengan lagu sedih." Sehun menuntun Kai ke meja makan.
"Salad buah? Apa kau sudah makan makanan berat?" Kai duduk di hadapan Sehun.
"Sudah, tapi suasana hatiku hari ini sangat buruk. Jadi aku hanya makan toasty." Sehun menyendok anggur dari mangkuknya.
"Terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan?" Kai berusaha memancing Sehun, ia ingin tau apakah Sehun akan jujur atau mengelak.
"Hanya jadwal operasi yang padat. Menjadi dokter sangat melelahkan hehe.." Sehun menyengir ringan kearah Kai. Kai tersenyum mendengar jawaban Sehun. Tentu Kai tau sebab sebenarnya. Mereka melanjutkan acara makan dengan obrolan-obrolan kecil. Mereka mengobrol hingga larut. Mulai dari pekerjaan, hingga ke hobi. Kai tau banyak tenang Sehun begitupun sebaliknya. Udara di luar sana memang dingin, tapi tidak dengan suasana di ruangan ini. Sesekali mereka saling melemparkan lelucon.
23.22 am.
"Aku akan mencarikan baju untukmu." Sehun meraih tangan Kai dan mengajaknya ke lantai dua.
"Aku tidak yakin memiliki ukuranmu." Sehun dan Kai memasuki walk in closet dan Sehun langsung berjalan menuju lemari khusus atasan. Ia masih mencari, ada beberapa kaos yang ia temukan untuk Kai. tapi ia tak yakin ukurannya akan muat. Bahu Kai sungguh lebar, sedangkan bahunya sangat sempit.
"Kai aku takut tak memiliki ukuranmu." Sehun berlari ke arah lemari khusu celana.
"Berati kau harus menyaksikanku bertelanjang." Kai dengan sintingnya mengatakan itu.
"Kau gila, aku akan menendangmu dari apartemenku jika kau melakukannya." Sehun masih fokus mencari.
"Apa kau tak memiliki pakaian Chanyeol?"
"Sudah kukatakan kan kalau di rumahku hanya ada satu kamar. Tentu saja Chanyeol tak pernah menginap disini."
"Nahhh.. coba ini! kamar mandinya di ujung sana. Oiya, di laci wastafel kau akan menemukan sikat gigi baru. Gunakan saja." Sehun menarik sebuah celana piama panjang kain berwarna birumuda dengan titik-titik putih.
"Aku akan mencari atasan untukmu. Masalahnya adalah bahumu sangat lebar. " Sehun berlari menuju lemari lain. Ia tak mendengar jawaban Kai. Ia yakin Kai pasti sudah di dalam kamar mandi.
"Sehun lupakan atasan. Seperti ini saja aku tidak apa." Sehun membalik badan. Matanya disuguhi pemandangan yang menggiurkan. Tubuh pria ini sangat indah. Ototnya menonjol sempurna, otot perut, otot bisep trisep, bahkan ia memiliki V shape yang jelas. Urat-urat tangan yang kentara membuatnya terlihat sangat jantan. Ditambah lagi kulit coklatnya seolah mengundang para wanita untuk menjilatinya.
"Sehun aku tau aku tampan, tapi tidak usah sampai begitu memandanginya." Kai terkikik geli melihat reaksi Sehun.
"A..aku hanya terkejut melihatmu tanpa atasan." Sehun membalikkan badannya dan merapikan lemari yang tadi ia acak-acak.
"Dimana baju kotormu?" Sehun masih tak menatap Kai, ia sibuk melipat-lipat bajunya.
"Aku menggantungnya di kamar mandi. Besok ingatkan aku." Kai berjalan menghampiri Sehun.
"Jawab aku Sehun, berhenti melipati bajumu yang sudah terlipat rapi." Kai menyadari apa yang dilakukan Sehun dari tadi. Wanita itu terus melipati pakaiannya hanya karena ia tak tau harus melakukan apa.
"Ehh iya. Baiklah kalau begitu aku akan ke kamar mandi." Sehun menyambar baju tidurnya tadi dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Kai, ia masih menunggu di kamar Sehun. Ia tak tau harus tidur di mana, jika memang di sofa maka ia membutuhkan selimut dan bantal paling tidak. Sehun keluar sudah dengan piamanya, tanpa bra. Putingnya mencuat ke permukaan kain atasannya.
"Kau masih disini?" Kai berbalik, pria mana yang kuat melihat wanita cantik dengan baju tidur seksi seperti itu? Sehun menyilangkan tangannya ke dadanya.
"Kau mungkin bosan mendengarkannya, tapi kau sungguh cantik." Kai berjalan kearah Sehun, ia membelai pipinya. Ia mendekatkan bibir itu pada bibirnya. Sehun tidak bergerak, jujur saja ciuman Kai memang menakjubkan.
Bibir itu menyatu, saling bergerak. Tak ada yang berperan pasif saat ini. Keduanya sudah dilanda nafsu. Kai masih bergerak lembut ke kanan dan ke kiri. Sehunpun juga begitu, ia mengimbangi permainan Kai. lidah mereka saling terkait, dan saling membelai. Tangan kai berjalan menuju pantat Sehun dan meremasnya pelan. Sehun menegang tapi kemudian kembali rileks. Satu tangan Sehun membelai-belai punggung telanjang Kai. Sedangkan yang lainnya mengalung ke leher Kai.
Bibir mereka masih saling menyatu, tangan kiri Kai kini berpindah tempat. Ia meremas dada kanan Sehun dengan lembut.
"Mmhhh.." Sehun mendesah pelan saat Kai mengencangkan cengkramannya pada pantat dan dadanya. Sehun mengangkat satu kakinya melingkari tubuh Kai. Kejantanan Kai yang mulai menegang menusuk-nusuk perut Sehun. Sehun menarik Kai lebih dalam, dan Kai tak ingin melepaskannya. Kai mengangkat tubuh Sehun dan menidurkannya di atas ranjang king size itu. Mereka masih saling mencumbu satu sama lain.
Kai melepas ciumannya dan beralih menciumi rahang Sehun. Nafas Sehun memberat. Tangan Kai tak mau diam, ia memainkan payudara Sehun sedangkan bibir dan lidahnya sibuk menjilati kulit leher Sehun. Sehun hanya bisa memandang punggung berotot Kai yang melengkung mengukungi tubuhnya. Pemandangan itu membuat Sehun makin terangsang. Kai menghisap putingnya, nafas Sehun tersenggal. Ia memeluk leher Kai agar memperdalam lumatannya.
"Eemmhhh.. Kai.." Nama pria itu secara otomatis Sehun sebut. Kai melepas atasan Sehun dengan sekali hentak dan kembali menjilati payudara Sehun yang satunya. Sedangkan jarinya memainkan puting Sehun. Jilatan itu turun, melalui perut Sehun. Sehun merasa geli, tapi ia tak ingin berhenti. Kai mencium kewanitaan Sehun dari luar celananya. ia menghirup dalam aroma wanita itu. Sehun membenamkan kepala Kai makin dalam. Sungguh ia tak ingin berhenti.
"Sehun, aku memberimu kesempatan untuk menolakku sekarang. Sebelum terlambat, karena aku tidak akan berhenti saat tengah melakukan sesuatu." Kai menarik tubuhnya ke atas dan memperhatikan Sehun dengan seksama.
"Aku tidak mengkonsumsi obat, dan aku yakin kau tak memiliki pelindung. Selama kau tak mengeluarkannya di dalam aku tak masalah." Mendengar jawaban Sehun Kai langsung mencium bibir itu lagi. Menghisap, menjilat, dan melumat. Tangannya sibuk melepas celana dan celana dalam Sehun. Begitu sudah terlepas ia menatap tubuh Sehun lekat. Perut datar, dada yang berisi, kulit halus, dan aroma Sehun sangat mengagumkan.
"Kau sungguh cantik Sehun." kai menekuk kaki Sehun lalu menunduk di sela-selanya. Nafas Sehun kembali memberat saat ia merasakan sapuan lidah Kai pada area kewanitaannya. Ia sudah sangat terangsang, Kai meraih tangan Sehun untuk digenggam agar ia tau saat Sehun mulai orgasme. Kai menggerakkannya dengan lambat. Kemudian ia mulai mengubah tempo jilatan pada klitoris Sehun menjadi lebih cepat saat ia merasa genggaman Sehun mengerat, ia tak berhenti. Sehun mencapai orgasme pertamanya, ia melengkungkan tubuhnya dalam.
Kai berdiri dengan lututnya lalu menarik keluar sesuatu kebanggaannya. Sehun merasa sangat malu, milik Kai terlihat sangat kuat. Ia tak pernah melihat bagian privasi pria secara langsung. Wajahnya memerah. Apalagi saat ia ketahuan sedang memandangi milik Kai oleh pemiliknya. Sehun mengalihkan pandangannya.
"Sehun lihat aku!" Kai memerintah Sehun untuk menatapnya. Kai meletakkan ujung miliknya didepan lubang Sehun. Sehun bisa merasakannya. Sungguh besar dan tebal. Kai memeluk Sehun karena ia tau Sehun akan kesakitan. Ia mendorong miliknya pelan.
"Akkhh.." Sehun menjerit dan meringis karenanya.
"Sshh Sehun tenang, jika kau melawan rasanya akan makin sakit." Kai mengecup pipi Sehun lembut.
"Ahhh.." milik Kai tertanam sepenuhnya dalam Sehun. Aroma Kai membuat Sehun tenang. Kai bergerak pelan, Sehun tentu saja kesakitan. Tapi ia berusaha menahannya. Sehun memang perawan, dan Kai tidak bodoh akan hal itu. Ia bergerak dengan lembut sambil mencium Sehun. Sehun menghisap bibir Kai kuat demi menyalurkan rasa sakitnya.
Kai bergerak dengan cepat, ia menggenggam tangan Sehun di samping kepala wanita itu. Nafas Sehun tersenggal, ia memejamkan matanya karena nikmat yang menyerang bagian bawahnya secara perlahan.
"Kaiiihhh.." Sehun ingin menyampaikan sesuatu, namun mulut dan pikirannya bekerja secara terpisah. Kai memandang Sehun, sangat indah. Ia mengerti apa yang ingin Sehun sampaikan. Ia mempercepat gerakannya agar Sehun segera mencapai puncak.
"Lepaskan Sehun!" Kai memerintah Sehun karena ia yakin Sehun akan segera menemukannya.
"Ahhh.." Sehun mendesah panjang saat ia mencapai puncak. Kai menciumnya lagi.
"Kau masih sangat keras Kai." Sehun mengatakannya sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk Kai.
"Ya, bisa kita ganti posisi?" Kai memindahkan satu kaki Sehun agar menungging tanpa melepas ikatan mereka. Ia mulai bergerak lagi. Ia bisa melihat pemandangan tubuh Sehun dari belakang. Sungguh sempurna. Pinggang yang kecil dengan pantat yang bundar. Ia sangat beruntung mendapatkan Sehun.
Kai bergerak dengan cepat, desahan Sehun membuat nafsunya terbakar. Nafas berat mereka bersahut sahutan. Geraman-geraman rendah Kai terdengar oleh Sehun. Kai masih bergerak di dalam Sehun hingga ia merasa akan meledak. Ia keluarkan kejantanannya dan mengurutnya cepat. Sehun ambruk dari tempatnya berdiri.
"Aarrgghh.." Kai menggeram ketika cairannya tumpah di atas pantat Sehun. Ia membaringkan badannya di samping Sehun dan memeluk wanita itu erat.
"Terima kasih Sehun." Kai membalikkan tubuh Sehun dan mengecup lama bibirnya. Hal yang tak pernah ia lakukan pada wanita manapun.
"Aku lelah.." Sehun memejamkan matanya sambil memeluk dada bidang Kai.
"Tidurlah sayang." Kai mengelus rambut Sehun. Ia memperhatikan wajah wanita cantik di depannya.
"Kemungkinan besar aku akan jatuh cinta padamu Sehun." dan Kaipun ikut memejamkan matanya.
11.00 am
Badai di luar sudah mereda. Banyak infrastruktur kota yang rusak akibat badai kemarin. Pohon-pohonpun banyak yang tumbang. Bagaikan pepatah, setelah badai munculah pelangi. Jika kemarin suasana sangat mencekam, hari ini kebalikannya. Mata hari bersinar, meskipun masih ada rintik-rintik hujan. Kabut tebal yang menyelimuti New York sudah menghilang, udara segar berhembus di luar sana.
Kai menggeliat dalam tidurnya. Ia tak menemukan Sehun di manapun. Ada bercak darah di selimutnya. Pengalaman pertama selalu seperti ini. Kai langsung mengenakan celana dalamnya dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana Sehun berdiri dengan bathrobe abu-abu tuanya.
"Kau sudah bangun?" Sehun melihat pantulan Kai dari cermin. Kai menghampiri Sehun dan memeluknya dari belakang.
"Baru kali ini aku ditinggalkan saat aku tidur. Biasanya aku selalu yang meninggalkan lebih dulu."Kai menciumi tengkuk Sehun.
"Ohh benarkah.. kau terlihat kecewa." Sehun memasang wajah masamnya.
"Kau tidak menangkap maksudku Sehun. Kau berbeda. Aku bahkan tak pernah mencium partner seksku, itu sudah jadi hukum tak tertulis yang melekat di kepalaku." Kai masih mengecupi tengkuk dan bahu Sehun.
"Kau mengambil sesuatu yang belum pernah ku berikan pada orang lain Kai." Sehun memutar badannya.
"Aku tau, terima kasih. Aku akan selalu menjagamu Sehun." Kai melumat bibir Sehun sebentar.
"Mandilah, akan ku siapkan sarapanmu."
"Aku akan menjemputmu jam enam Sehun." Kai mengatakannya lalu mengecup bibir Sehun. kecupan yang dilanjutkan dengan lumatan manis.
"Aku akan mengingat bahwa sebaiknya tiap pagi aku tidak memakai lipstik dulu." Sehun mengatakannya setelah Kai berhenti. Mereka berdua terkekeh.
"Lebih baik seperti itu. Sekarang sepertinya aku yang memakai lipstikmu." Sehun tertawa karena lipstiknya berpindah pada area bibir dan dagu Kai. Sehun membawa tangannya untuk membersihkan sisa-sisa lipstik itu.
"Bersih." Ia mengambil sebuah lipsstik dari balik tasnya dan memakainya.
"Sampai nanti Kai." sehun mengusap tangan Kai.
"Sampai nanti Sehun." dan mobil Kai melaju menuju kantornya.
"Selamat pagi tuan Kim." Seorang wanita cantik menyapa Kai.
"Pagi Andrea, aku ingin kau membuatkanku daftar nama pegawai yang telat kurun waktu 2 bulan kebelakang." Kai memberi perintah pada salah satu pegawainya. Suaranya sengaja ia keraskan agar pegawai-pegawai lain mendengar.
"Baik tuan." Kai berjalan menuju ruangannya. Di depan mejanya sudahh terletak sebuah map hijau dengan tulisan 'David Barner' pada sampulnya.
"Wil, bisa kau ke ruanganku?" setelah mendapat jawaban Wil, Kai duduk di kursinya sambil membaca dokumen itu.
"Anda memanggil saya?" Wil masuk setelah mengetuk pintu tiga kali.
"Wil, apa aku memiliki rapat penting hari ini?" Kai tak memindahkan pandangannya dari dokumennya.
"Hari ini jadwal anda mengontrol semua berkas yang masuk, dan meeting direksi yang minggu lalu anda batalkan."
"Apa Barner sudah menerima surat pindahnya?" Kai memandang Wil dengan tatapan angkuhnya.
"Sudah tuan. Hari ini secara resmi dokter Barner dipindahkan ke Jepang."
"Bagus, dan apakah surat kepemilikan rumah sakit telah ada padamu?" Kai mengembil cangkir kopinya.
"Hari ini dokumen itu akan ditanda tangani oleh Barner saya akan memberikannya pada anda."
"Bagus. Kembalilah bekerja." Ia meletakkan cangkirnya.
13.00 p.m
From: Kim Kai
Sehun aku menunggumu di lobi depan.
Sehun mengerutkan alisnya, tidak biasanya ia mendapat sms dari Kai siang hari begini. Apa lagi jadwal istrirahatnya tidak sama dengan jadwal pegawai lain. Ia memiliki banyak operasi, dan istirahatnya sangat kondisional. Sehun berjalan menuju lobi depan rumah sakit, ia melihat Kai berdiri disana dengan setelan jas berwarna biru tua yang membuatnya terlihat sangat berwibawa.
Sehun POV
"Hai Sehun." Kai tersenyum otomatis lalu mencium bibirku sebagai salam.
"Emm hai Kai. Ada hal penting?" aku kaget karena Kai menciumku di tempat umum, tapi aku bisa mengendalikan ekspresiku.
"Tidak ada, aku hanya ingin menanyakan apakah suasana hatimu sedang baik hari ini?" Kai menatapku dengan senyuman yang lebar.
"Sangat bohong. Ayo kita ke kafetaria saja." Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Tentu saja ini menjadi tontonan yang langka bagi pegawai-pegawai rumah sakit. Seorang dokter bedah yang digosipkan dekat dengan dokter bedah lain bernama Kris Wu, lalu beberapa hari lalu dokter bedah ini terlihat sangat mesra dengan dokter senior sekaligus pemilik rumah sakit bernama David Barner, dan sekarang ia terlihat sedang menggandeng pria berbeda yang sangat tampan.
"Aku membencimu." Aku mengatakannya ketika kami duduk di sudut ruangan, Kai meletakkan nampan berisi dua potong roti isi salad tuna dan dua jus mangga di atas meja.
"I'm sorry, what?" Kai tak percaya aku mengatakan itu padanya.
"Kau meninggalkan jejak di leherku, lalu dokter seniorku tiba-tiba pindah dan orang-orang menatapku seolah aku telah mengalami malam perpisahan yang panjang dengannya." Kai tersenyum, aku bahkan kelepasan memceritakan tentang Barner secara tak langsung.
"Kau memang mengalami malam yang panjang. Dan bukan dengan Barner, tapi denganku." Kai terkekeh.
"Tunggu! Kau tau namanya?" Kai terkekeh karena ekspresi yang kutunjukkan.
"Bukankah aku bilang akan selalu menjagamu?" Kai menampilkan seringaiannya.
"Kau?! Jangan bilang kau juga yang membeli rumah sakit ini!" suaraku makin tinggi, dan Kai tak bisa berkata apapun kecuali tertawa.
"Wait! You have, or have not?" aku ingin membuat ini jelas.
"Have." Kai menatapku dengan pandangan innocentnya.
"Gosh! Kai, why? you don't have to!" aku memekik tak percaya.
"Cause i can Sehun. Dan aku ingin kau aman."
"Jangan ikut campur urusanku pekerjaanku Kai, kumohon."
"Aku tidak. Aku hanya ingin mengembangkan bisnisku." Kai meminum jusnya. Aku kehabisan kata-kata. Aku menarik nafas dalam, dan membuangnya dengan cepat.
"Kau marah padaku?"
"Tentu saja aku marah padamu. What kind of responsible bussines executive makes decisions based on who he is currently fucking?"
"Aku melakukannya untukmu Sehun. Kau pikir aku senang milikku disentuh orang lain?" Kai tau? Tentu saja dia tau. Baguslah aku tak perlu merahasiakannya ini darinya.
"Jadi sekarang kau atasanku?" Membicarakan kejadian itu membuatku muak, dan aku ingin membicarakan hal lain.
"Secara teknik, aku adalah atasan dari atasanmu. Aku tidak mengontrol rumah sakit ini secara langsung."
"Dan secara teknik, ini adalah perbuatan tercela karen faktanya adalah i'm fucking my boss's boss?" aku memutar mataku karena Kai sangat pintar berdebat.
"Secara harfiah, kau sedang berargumen denganku, bukan bercinta." Kai masih memasang wajah tenangnya.
"I'ts because you are such an ass!" aku mendesis padanya. Kai tersentak kecil karena kaget dengan perkataanku, shit, aku terlalu jauh menyikapinya.
"An ass?" ekspresinya berubah menjadi ekspresi geli. Gosh, aku sedang marah padamu jangan buat aku tertawa!
"Sebuah bokong Sehun?" Kai mengatakannya lagi, kali ini bibirnya membuat lengkungan senyum. Aku ingin tertawa karena melihat ekspresinya.
"Jangan buat aku tertawa ketika sedang marah padamu!" nada cetusku malah membuat Kai semakin tersenyum lebar.
"Hanya karena aku memiliki senyuman bodoh di wajahku bukan berati aku sudah tidak marah padamu." Tawaan rendahnya menggagalkan ekspresi marahku.
"You are unexpected Sehun." Kai kembali meneguk jusnya.
"Hai, kalian di sana?" itu suara Kris. Aku yakin kesialan akan datang padaku.
"Hai Kai, how you doing?" Kris dan Kai saling memberi salam dengan mengepalkan tangan mereka, gaya khas anak muda. Tunggu, sejak kapan?
"Doing fine dude! Im pretty sure you re doing well too!" whaatt..?
"Kalian saling kenal?!" aku memasang wajah skiptisku untuk yang kesekian kali pagi ini.
TBC
Hallo readers..
akhirnya Kaihun bisa ena ena wkwkwk.. oiya, kalo kalian ada waktu, mohon tengokin ff kedua aku ya. hehe promosi dikit, maklum lah penulis baru:) apalagi kalo berkenan untuk review, waahh pasti aku bakal seneng banget.
mohon reviewnya teman-teman.. review kalian bikin aku semangat nulis;)
First Story of Redaddict
