Disclaimer : Semua punya Masashi Kishimoto. Tapi chara tambahannya punya author.

Aloha!! Akhirnya setelah sekian lama Kuchi pikir-pikir, Kuchi mutusin untuk nerusin fic ini. Mungkin bentar lagi tamat.

Read and review untuk mengurangi efek rumah kaca! (Nggak ada hubungannya!).

WARNING : OOC, bahasa tidak baku

Chapter 4 : Festival Kembang Api dan Petak Umpet

Malam itu, di rumah tempat mereka ngelaksanain misi, Neji dan Tenten sedang duduk di ruang TV. Kurosaki udah tidur dari tadi.

"Hey, Neji. Kamu pernah ngebayangin gak kalo misalnya misi ini selesai?" Tanya Tenten tiba-tiba. Neji langsung menoleh kearah Tenten.

"Pernah sih. Aku pikir kegembiraan tinggal di rumah ini pasti segera berakhir." Jawab Neji.

"Neji! Bahasanya jangan puitis gitu dong! Bikin sedih aja!" Gerutu Tenten sambil memukul pundak Neji.

"Orang kamu yang nanya duluan. Ya, itu jawaban aku." Jawab Neji lagi. Tenten cemberut. Tiba-tiba Naruto dan Hinata bergabung dengan mereka.

"Hey, lagi pada ngapain nih? Berduaan mulu!" Teriak Naruto sambil meloncat (??) ke sofa.

"Lagi mikirin gimana jadinya kalo misi ini udah selesai." Jawab Tenten.

"Wah, kalo misi ini selesai aku udah nggak bisa deket-deket lagi ama Hinata dong. Hinata, aku sayang kamu!!!!" Teriak Naruto sambil peluk-peluk Hinata.

"Naruto, jaga sikap lo! Gue laporin ke babehnya Hinata baru tau lo!" Ancam Neji. Refleks Naruto langsung melepaskan pelukannya. Hinata tersenyum.

"Tenang aja, Naruto-kun. Kita kan masih bisa ketemu," Hibur Hinata. Naruto nyengir.

"Asuka udah tidur ya?" Tanya Tenten.

"Udah kok." Jawab Hinata.

"Kok yang lainnya nggak pada kesini sih? Masa mereka udah tidur? Ini kan baru jam tujuh!" Naruto teriak-teriak.

"Mana gue tau! Pelanin suara lo dong!" Gerutu Neji. Lalu Sasuke dan Sakura bergabung dengan mereka.

"Woy, Teme! Gimana kabar lo?" Tanya Naruto.

"Payah lo, Dobe! Nggak penting banget nanyain kabar. Tau gue serumah sama elo! Udah kelihatan kan gue baik-baik aja?" Jawab Sasuke dengan panjang lebar dan nada yang keras. Naruto mencibir.

"Sakura-chan, Haruka udah tidur ya?" Tanya Hinata. Sakura mengangguk.

"Tinggal siapa nih yang belum kesini?" Tanya Naruto lagi.

"Shikamaru-kun sama Temari-san, terus Sai-kun sama Ino-chan" Jawab Hinata.

"Emang nidurin tu anak dua susah banget, ya?" Tanya Tenten.

"Tau, kalo anaknya Ino sih kayaknya susah." Jawab Sakura. Tak lama kemudian, Shikamaru, Temari, Sai, dan Ino bergabung dengan mereka.

"Kalian lama banget. Ngapain aja sih?" Tanya Naruto.

"Mau tau aja!" Jawab Ino.

"Eh, hari ini katanya ada festival kembang api. Kalian mau liat?" Usul Neji.

"Ayo! Kan bisa sekalian mesra-mesraan gitu," Jawab Ino dengan cepat.

"Ngarep!" Komentar yang lainnya.

"Heh, ngerepotin. Kan enakan di rumah, tidur." Gerutu Shikamaru.

"Tidur mulu kerjaan lo. Jalan-jalan kali-kali napa?" Semprot Sasuke. Shikamaru cuma tersenyum kecut.

"Yu, lebih cepet lebih baik" Seru Tenten. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera berhamburan keluar. Jalannya tentu berdampingan sama pasangannya masing-masing dong. Sesampainya di tempat festival, mereka ketemu Kiba, Chouji, dan Rocklee.

"Woy, enak banget nih jalan-jalan bareng pujaan hati!" Goda Kiba.

"Iya. Inilah yang dinamakan SEMANGAT MASA MUDA!!!!!!" Teriak siapa lagi kalo bukan Lee.

"Eh, mumpung kita rame-rame gini, gimana kalo kita main petak umpet?" usul Sakura.

"Wuah. setuju banget!! Ayo!" Kiba langsung setuju.

"Ah, ngerepotin!" ujar Shikamaru.

"Gimana peraturannya?" Tanya Chouji.

"Gini, ngumpetnya berpasangan aja. Kita kan udah sama pasangan kecuali kalian bertiga. Jadi, Lee sama Chouji. Kiba ama Akamaru. Gitu aja biar gampang!" Seru Sakura. Mereka bertiga langsung ngangguk-ngangguk.(Plus Akamaru!)

"Yang kalah harus traktir kita semua makan ramen! Trus yang menang boleh ngasih hukuman apa aja ke pasangan lain." Naruto memberitahukan hukumannya.

"Jadi kita harus ngumpet bareng pasangan kita masing-masing?" Tanya Tenten. Naruto mengangguk.

"Trus yang jadi setannya siapa dong kalo kita semua ngumpet?" Tanya Sai yang daritadi diem.

"Itu gampang! Gue pergi dulu bentar ya!" Seru Naruto sambil berlari pergi. Yang lainnya heran. Tak lama kemudian, Naruto datang bersama Konohamaru.

"Nah, Konohamaru! Aku minta tolong padamu, ya!" Seru Naruto.

"Tentu. Asalkan nanti traktir aku ramen ya!" Seru Konohamaru. Naruto mengangguk.

"Baiklah, aku akan menghitung sampai 100. Aku mulai ya! Satu…Dua…Tiga…" Seru Konohamaru sambil memejamkan matanya. Yang lainnya langsung berlari.

Seperti biasa, dalam fic ini saya pasti akan menceritakannya satu persatu. Kita mulai dari…

INO-SAI :

"Sai! Kita mau ngumpet dimana nih?" Bisik Ino.

"Aku juga nggak tahu. Gimana kalo kita ngumpet ke atas pohon aja? Kayaknya nggak bakal ketemu tuh!" Usul Sai. (Sai mau ngumpet di atas pohon? Emang nggak dikira Kunti apa? Warna kulit dia kan mirip ama Kunti!).

"Wah, boleh juga tuh! Kita pilih pohon yang paling lebat aja. Biar kita nggak keliatan!" Tanggap Ino. Sai mengangguk. Mereka lalu memilih pohon yang ada di deket kantor Hokage.(Eh, ada pohon nggak sih? Udahlah! Ada-adain aja!). Ino dan Sai lalu naik ke pohon yang cukup lebat sehingga menyembunyikan mereka.

"Nah, disini kan Konohamaru nggak bakal nemuin kita!" Bisik Ino sambil duduk di cabang pohon. Sai lalu duduk di sebelahnya.

"Ehm..Ino? Pemandangan dari sini indah ya? Wajah kamu yang kena sinar bulan jadi tambah cantik deh!" Sai mulai ngegombal.

"Sai, kalo mau muji yang pinter dikit dong! Orang hari ini mendung kok! Bulan darimana!" Semprot Ino. Sai cuma mesem-mesem.

"Ehm, Sai! Kalo misi ini udah berakhir kita udah nggak bisa bareng lagi dong?" Bisik Ino sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sai.

"Tenang aja. Kita pasti tetep bisa ketemu, kok! Aku pasti bakalan dateng ke toko bunga kamu tiap hari. Aku janji!" Kata Sai sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Ino tersenyum.

"Ehm… Ino? Aku tau ini masih terlalu cepet, tapi aku cuma mau bilang, aishiteru!" Bisik Sai di telinga Ino. Ino terkejut.

"Tapi…Sai…Kamu yakin?" Tanya Ino tidak percaya.

"Kenapa Ino? Kamu nggak suka, ya?" Tanya Sai dengan roman muka kecewa. Ino cepat-cepat berkata, "Bukan gitu, Sai! Aku cuma kaget aja. Kalo aku itu orang yang kamu cintai!" Seru Ino.

"Sssttt!!! Ino, jangan keras-keras! Nanti ketauan dong!" Bisik Sai. Ino cuma tersenyum.

X~X

Naruto-Hinata :

Naruto dan Hinata sedang berlari-lari dengan tangan Hinata yang diseret oleh Naruto.

"Naruto-kun. Kita mau kemana?" Tanya Hinata.

"Kita ke rumah kosong yang ada di pinggir desa saja. Kita pasti nggak akan ditemuin disana!" Teriak Naruto sambil terus berlari. Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah kosong tersebut.

"Na—Naruto-kun…Tempatnya serem banget," bisik Hinata dengan wajah ketakutan.

"Iya sih. Tempatnya kan kosong. Apalagi ini di pinggir desa" sahut Naruto. Hinata terlihat ketakutan. Naruto dan Hinata lalu masuk ke rumah kosong tersebut. Tangan Hinata menggenggam erat tangan Naruto. Mereka lalu duduk di lantai.

"Ehm…Hinata? Kamu takut ya?" Bisik Naruto. Hinata mengangguk pelan.

"Tenang aja Hinata! Aku pasti bakalan ngelindungin kamu, kok. Aku nggak bakal ninggalin kamu sendiri." Bisik Naruto sambil menggenggam erat tangan Hinata. Hinata tersenyum dan mukanya merah banget.

"Makasih Naruto-kun." Bisik Hinata pelan. Tanpa hujan maupun badai, Naruto meluk Hinata. Muka Hinata langsung semerah kepiting.

"Hinata?" Tanya Naruto. "Ya?" Jawab Hinata.

"Jangan pingsan ya!" Kata Naruto sambil tertawa. Hinata tersenyum. Baginya, asalkan bersama Naruto, menunggu di tempat yang gelapnya puluhan kali lipat pun ia sanggup…

X~X

Shikamaru-Temari :

"Hey, Shikamaru! Kita mau kemana?" Tanya Temari sambil berjalan di samping Shikamaru.

"Ke hutan keluarga Naara aja. Kalo kita kalah kan kita harus nraktir ramen. Apalagi ada Naruto ama Chouji. Mereka pasti makannya banyak." Dumel Shikamaru. Temari tersenyum.

"Kenapa sih lo nggak pernah berubah? Setiap hari adaaaa aja omelan lo!" Seru Temari.

"Bawaan lahir tau!" Jawab Shikamaru. Kini Temari malah tertawa. Shikamaru mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa ketawa? Nggak lucu!" Seru Shikamaru dengan sedikit kesal. Temari menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di hutan keluarga Naara.

"Shikamaru! Apa nggak papa kalo kita ngumpet di hutan?" Tanya Temari sedikit cemas.

"Kenapa? Malah bagus nggak bakal ditemuin ama mereka" Jawab Shikamaru.

"Iya sih…Tapi…" Temari masih merasa ragu.

"Kenapa? Tenang aja. Gue nggak bakalan macem-macem kok. Bisa di Sabaku ama Gaara kalo gue macem-macem ama lo!" Jawab Shikamaru sambil tersenyum. Temari sedikit tenang. Mereka lalu duduk di bawah pohon yang cukup rindang.

"Ehm…Temari! Kalo lo misi ini udah selesai lo bakalan balik ke Suna?" Tanya Shikamaru sambil memandangi langit.

"Iyalah. Nggak ada alasan lagi gue tetep disini" Jawab Temari.

"Ooohhh…" Gumam Shikamaru pelan.

"Hey, kenapa?" Tanya Temari dengan wajah keheranan.

"Nggak papa sih. Cuma…Udah deh! Lupain aja!" Seru Shikamaru dengan wajah yang sedikit memerah. Temari tersenyum.

"Gue nggak bakalan lupa sama misi ini" Kata Temari.

"Dan gue nggak bakalan ngelupai elo!" Tambah Shikamaru. Muka Temari bersemu. Kalo aja gue bisa disini selamanya….

X~X

NEJI-TENTEN :

"Neji, kita ngumpet di semak-semak yang ada di deket sungai aja." Usul Tenten.

"Semak-semak?" Ulang Neji.

"Iya. Kan pemandangan disana cukup bagus," Jawab Tenten. Neji cuma geleng-geleng.

Perasaan disana pemandangannya biasa aja deh. Pikir Neji.

Tanpa menunggu persetujuan Neji, Tenten segera meraih pergelangan tangan Neji dan berlari menuju sungai. Yang ditarik pasrah aja tuh.

Sesampainya di sungai, Tenten langsung nyeletuk, "Tuh kan, bagus banget pemandangannya,"

Neji mulai memperhatikan sekelilingnya. Yah, Tenten ada benarnya juga. Pemandangan disini cukup bagus.

"Neji, semak-semak disana cukup lebat tuh! Kesana aja yuk!" Ajak Tenten sambil menarik lengan Neji.

"Eh, nggak apa-apa nih ngumpet di semak-semak?" Neji sedikit ragu.

"Nggak papa. Ayo!" Tenten tambah sadis narik lengan Neji. Yah, mau nggak mau Neji akhirnya ngumpet juga di semak-semak.

"Kenapa nggak milih tempat lain aja sih?" Tanya Neji.

"Emang kamu punya usul yang lebih baik?" Tanya Tenten balik. Neji menggeleng, "Nggak."

"Tuh kan! Keburu Konohamaru selesai ngitung." Sahut Tenten.

"Iya iya. Terserah deh!" Neji akhirnya mengalah.

Yah, nggak apa-apa lah. Toh aku seneng juga ngumpet bareng dia. Pikir Neji sambil tersenyum.

"Neji, jangan senyum-senyum sendiri ah! Nakutin tau!" Tegur Tenten. Neji yang sadar akan kebodohannya blushing. Dia lalu memasang tampang cool-nya lagi.

"Ah, aku nggak senyum-senyum sendiri kok. Kamu salah liat kali, Ten!" Jawab Neji tenang.

"Dasar orang aneh!" Gumam Tenten sambil memandang langit…

Kiba-Akamaru :

"Akamaru! Kita ngumpet dimana nih?" Tanya Kiba sambil berlari.

"Wooff! (terserah lo deh!)" Yah, kira-kira begitulah jawaban Akamaru.

"Oh iya! Kita ke gudang yang dipinggir hutan aja, Akamaru! Disana kita pasti nggak akan ketauan." Usul Kiba.

"Wooff!" Jawab Akamaru. Tanpa basa-basi lagi, Kiba langsung berlari ke gudang tersebut. Dan tanpa pikir panjang lagi, dia dan Akamaru langsung masuk ke gudang yang cukup gelap. Kiba dan Akamaru langsung duduk di pojok gudang.

"Huh, bisa parah kalo ketauan duluan." Gumam Kiba. Akamaru hanya mengangguk saja.

"Eh, Akamaru! Kok ada bau yang nggak enak ya?" Tanya Kiba.

"Wooff!"

"Kamu nggak poop kan, Akamaru?" Tanya Kiba lagi.

"Wooff! (Enggak lah!)"

Kok perasaan gue jadi nggak enak gini, ya? Pikir Kiba. Tangan Kiba lalu meraba-raba sesuatu yang, bisa dibilang lembek dan berbau menyengat. Akamaru langsung lompat dari pangkuan Kiba.

Oh, jeez. Apaan nih? Gue nggak bisa ngeliat. Tapi dari baunya ini kok kaya…kaya…duh, mudah-mudahan gue salah! Insting Kiba mulai enggak enak.

Akamaru yang nggak tahan sama bau itu, mulai berusaha buat nyari kenop pintu. Tapi Akamaru malah menekan satu tombol yang ternyata tombol lampu. Lampu pun menyala. Sialnya Kiba, dia pikir gudang itu cuma berisi jerami doang. Muka Kiba udah nggak karuan waktu ngeliat apa yang dia pegang.

"OH JEEZ! GUE MEGANG KOTORAN KUDA!!!!" Teriak Kiba histeris.

Teriakan Kiba tadi cukup keras untuk membangunkan 'penghuni' perternakan itu.

PETOK! PETOK! PETOK! WOOFF! KOMPRANG! GEDEBUK! (Duh, bunyi apaan nih?)

Gak disangka, gudang itu isinya Kuda, Ayam, Sapi, Domba, Tikus, Beruang, Singa, Macan, (Lho? Cuma lima hewan pertama aja kok!).

"OH JEEZ!!!!!! GIMANA NIH!!!!!" Teriak Kiba lagi.

Teriakan Kiba kali ini mampu untuk membangunkan pemilik gudang.

"Ya ampun, ada apa ini?" Tanya seorang nenek-nenek sambil membawa cangkul.(?)

"Nek! Ikut cuci tangan dong!" Sahut Kiba.

"Wooff!" Bantu Akamaru.

"Kamu siapa? Kamu mau mencuri?" Tanya nenek itu lagi.

"Enggak nek! Sumpah! Saya cuma ikut ngumpet doang! Suer!" Jawab Kiba.

"Oh, lagi ngumpet dari kejaran massa?" Tanya nenek itu. –lagi-

"Enggak nek! Saya lagi main petak umpet kok!" Jawab Kiba rada kesel.

Susah banget ngomong sama ni nenek satu ya? Pikir Kiba.

"Ya udah. Kamu mau cuci tangan kan? Sini ikut nenek!" Perintah Nenek itu sambil beranjak pergi.

"Arigatou nek!" Kiba langsung ngikutin nenek itu, diikuti oleh Akamaru.

Poor Kiba…

Sementara itu, Rocklee, Chouji, Sasuke, dan Sakura belum menemukan tempat untuk bersembunyi. Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Tunggu di chapter depan ya! –dibantai-

TBC

Gomen. Tenang aja, chapter selanjutnya bakal diapdet dengan lebih cepat kok. Setidaknya nggak nyampe sebulan. –dirajam-

Review, please?