Promise
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Out Of Character, Typo (yang bertebaran), GaJe, Dll.
.
.
.
HAPPY READING!
.
.
Chapter 4 : For You
Sakura malam itu juga meninggalkan asrama dengan dua buah koper besar dan sebuah ransel. Gadis itu sama sekali tidak menemui Sasuke untuk sekedar berpamitan. Namun ia bertemu dengan Hinata di ruang depan dan menyampaikan kalau ia akan pulang.
"Sa-Sakura-chan? M-mau kemana?" tanya Hinata gugup.
"Aku mau pulang ke rumah orangtuaku Hinata-chan," jawab Sakura sambil tersenyum tipis. "Bisa bantu aku memesan taksi?"
Hinata mengangguk dan mengambil telepon dari saku baju terusannya, sesaat ia bicara dan menunjukkan alamat ia tersenyum manis, "A-apa Sakura-chan tidak akan di a-asrama lagi?"
"Aku belum tahu sih. Hari ini aku ingin pulang saja," kata Sakura seraya menggeret kopernya, dibantu oleh Hinata.
"Se-selamat jalan Sakura-chan. Ha-hati-hati ya..." Hinata melambaikan tangan saat Sakura sudah menaiki taksinya. Sakura tersenyum dan balik melambai, kemudian taksi itu melaju.
"A-apa ada masalah ya?" kata Hinata pelan. Ia hendak berbalik masuk saat...
"Hinata-chan?"
"E-eh?"
.
.
Sasuke terbangun dengan wajah yang kusut. Ia memandang jam di dinding dengan malas, kemudian beranjak ke kamar mandi. Di sela-sela kegiatannya membersihkan diri, ia teringat akan kejadian tadi malam.
"Apa maksudmu? Jangan-jangan sejak awal kau hanya menganggapku seperti maid pribadimu?"
"Sudahlah, sekarang sesuai janjimu aku sementara tidak akan mengurusimu. Jadi tolong anggap saja besok aku sebagai 'teman sekelas' saja dan bukan sebagai 'pelayan pribadi' mu Uchiha-san,"
"Ya, anggap saja begitu. Aku sudah terbiasa diperlakukan begitu sejak bersamamu dan kepergian Karin. Jadi bukan masalah kau menganggapku apa. Tapi aku juga butuh jadi diriku yang bebas, biarkan aku mengambil liburku."
Sasuke menggeram diantara kegiatan mandinya. Harus berbaikan dengan Sakura sekarang, secepatnya, tekad lelaki itu.
.
.
.
"Sakura, kau belum menjelaskan apa alasanmu pulang," kata ayahnya tegas sekaligus bijak pada anak gadisnya. "Sebenarnya kenapa, sayang?" tanya ayahnya lembut seraya menghirup kopinya pelan.
"Maaf papa. Aku hanya tidak betah saja tinggal di asrama," jawab Sakura seraya mengoleskan roti dengan selai. Ia tidak ingin papa-nya khawatir lebih jauh lagi.
"Nee-chan ada masalah dengan Sasuke?" tanya adik laki-laki Sakura, Mamoru. Bocah itu turut mengambil sarapannya dan segera melahapnya.
Sakura menggeleng dan mengacak rambut adiknya gemas, "Sudah Nee-chan bilang, kau harus panggil Sasuke dengan sopan Mamoru!" Ia selalu mengajarkan pada asiknya untuk berlaku sopan pada orang yang lebih tua.
Mamoru menggembungkan pipinya, "Gak keren ah!" Bocah itu tidak setuju harus memanggil pemuda berambut raven itu dengan sebutan 'Nii-san' ataupun yang lainnya.
Sakura hanya mampu menggelengkan kepalanya dan beranjak berdiri, "Aku berangkat dulu, papa!"
Ayah Sakura mengangguk, "Bawa adikmu sekalian ya. Hati-hati."
"Ya, papa," Sakura mengalihkan pandangannya pada adik tercintanya, "Ayo, keburu terlambat!"
Mamoru dengan mulut penuh dan tangan masih memegang rotinya, "Akhu berangkat Phapha!"
Sang ayah dari keluarga Haruno tersenyum dan mengacak rambut anak bungsunya, "Ya, belajar yang rajin ya."
Sakura segera merampas tas ranselnya dan memasangkan sepatu adiknya yang masih TK, kemudian berangkat untuk mengantar adiknya itu. Sang adik sendiri masih sibuk memakan sarapannya yang belum sempat habis. Sesekali gadis itu menengok jam di pergelangan tangannya sambil membenarkan seragam adiknya.
"Ayo cepat, Mamoru. Nee-chan bisa terlambat!" kata Sakura menarik tangan kecil adiknya. Lembut, tapi memaksa.
"Sebentar Nee-chan," kata adiknya setelah menghabiskan sarapan yang berada di dalam mulutnya. "Bukannya, Nee-chan masuk masih setengah jam lagi?"
"Nee-chan harus mengurus Sa—" Sakura menghentikan kalimatnya dan menutup mulutnya. 'Ck, aku 'kan sudah tidak sama ayam itu!'
"?" Mamoru memandang wajah kakaknya dengan polos dan penuh tanya. "Maksudnya?"
"Ti-tidak, bukan apa-apa, hehehehehe..." Sakura menggaruk belakang kepalanya dan bergegas menarik adiknya, "Sudah, ayo cepat!"
.
.
.
Sementara itu, si bungsu Uchiha sedang berjalan menuju kamar si Sulung Haruno. Ia tidak tahu kalau gadis itu telah pulang dan tidak ada disana. Ia memencet tombol intercom milik kamar Sakura dan menanti.
'Mana dia?' batin Sasuke saat tidak mendapat balasan apapun. Hanya keheningan yang ada.
"Sa-Sasuke-kun?"
Sasuke berbalik menghadap gadis yang terbata memanggil namanya.
"A-apakah Sasuke-kun me-mencari Sakura-chan?" tanya gadis Hyuuga itu hati-hati. Ia takut akan terjadi 'bom' yang sangat besar.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
"Sa-Sakura-chan sudah pe-pergi sejak tadi malam..."
Sasuke mengangkat alisnya bingung.
"D-dia pulang kerumah orang tuanya..." jawab gadis manis itu hati-hati dan pelan. "A-apa ada sesuatu dengan Sakura-chan? A-aku mengkhawatirkannya..." katanya lirih.
"Dia akan baik-baik saja," kata Sasuke datar dan berlalu pergi. Meninggalkan gadis itu dengan wajah merona merah dan kaki yang bergetar.
"Hinata-chan?"
"Na-Naruto-kun? Ke-kenapa ada disini?" tanya Hinata dengan wajah yang masih merah. Setau gadis itu, Naruto tidak tinggal di asrama, seperti pertemuan mereka tadi malam.
"Hehehehe... Aku datang menjemputmu!" jawab Naruto seraya menggaruk pipinya dan nyengir lebar.
Blushh
Wajah Hinata berubah merah dua kali lipat dari sebelumnya. "T-Terima k-kasih, Naruto-kun..." jika disana ada rumah sakit terdekat, rasanya Hinata ingin pingsan saja.
"Hehehehe... Bagaimana? Bisa?" tanya lelaki berkulit tan itu lagi. Ia mencoba menyakinkan diri.
"Y-ya, sepertinya begitu..." Hinata tersenyum malu dan memainkan kedua telunjuknya.
"Hinata-chan memang yang paling hebat!" Naruto menggenggam tangan kanan Hinata dan mengangkatnya keatas seperti orang yang memenangkan pertandingan tinju.
Hinata tidak kuat lagi menahan rona dan malunya... dan akhirnya dia pingsan. Untungnya ia ditangkap dengan sigap –walaupun bingung- oleh Naruto.
"Lho, lho? Hinata-chan?" ucap Naruto sesekali menepuk pipi gadis itu dengan panik. Ia menoleh kiri dan kanan bergantian dengan wajah kebingungan.
.
.
.
Sasuke yang baru mengetahui Sakura sudah pulang kerumahnya langsung tanjap gas menuju rumah Sakura. Bukan dengan mobil mewah ataupun sepeda motor, tapi dengan sepeda ontel! Itupun ia pinjam dari penjaga sekolah yang kebetulan menggiring sepedanya.
Sekolah tidak mengijinkan siswanya yang tinggal di asrama untuk membawa kendaraan bermotor. Hal itu membuat Sasuke tidak membawa motor kesayangannya di sekolah. Lelaki itu terus menggenjot sepedanya sekuat tenaga, sekedar untuk mengetahui dan menanyakan alasan pada gadis tersebut.
Belum sampai garis akhir –emangnya pertandingan- Sasuke menemukan sosok yang dicarinya. Gadis berambut soft pink sepunggung, bermata giok, dan sedang menggandeng anak kecil.
'Pasti adiknya,' batin Sasuke kemudian secepat kilat menyusul langkah Sakura dan Mamoru. Tapi ketika nyaris sampai, entah kenapa ia diam dan tidak memanggil nama gadis itu. Hanya mengamati dan melihat punggung gadis yang menemaninya selama beberapa tahun ini dari jarak beberapa puluh meter.
Sayup-sayup ia mendengar suara Sakura memberi nasehat pada adiknya, kemudian mencium pipi adiknya kiri-kanan –dalam hati, Sasuke sedikit iri akan hal itu- kemudian melambaikan tangannya pada adik satu-satunya.
Saat bocah itu balas melambai, ia melihat sosok Sasuke dari jauh. Ia tersenyum pongah –yang tidak Sasuke mengerti maksudnya- kemudian masuk ke sekolahnya. Setelah itu Sakura berbalik, melanjutkan jalannya untuk mencari bus.
Saat yang tepat. Hampir saja Sasuke akan memanggil Sakura, tapi tiba-tiba muncul sebuah motor berwarna cokelat menghadang langkah Sakura. pengemudinya mengangkat helm, dan menyapa Sakura singkat.
Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Yang ia tahu hanya seragam yang sama seperti seragam sekolahnya. Lelaki itu berbicara sejenak pada Sakura. sedangkan gadis itu menjawabnya dan menggeleng pelan sambil tersenyum.
Deg
Rasanya, hati Sasuke sedikit mencelos saat senyum Sakura ditujukan pada oarng lain selain dirinya. Lidahnya kelu untuk sekedar memanggil nama gadis itu. Ia mengamati. Beberapa lama, Sakura sudah menaiki boncengan belakang dan melaju.
"Tch," decak Sasuke kesal.
.
.
.
"Arigatou, Neji-kun," kata Sakura sambil tersenyum pada lelaki yang telah memboncengnya.
"Aa. Sama-sama. Anggap saja permintaan maaf yang kemarin," ucap Neji sambil menunjuk dahi Sakura yang benjol.
Sakura meringis. Ia ingat ayah dan adiknya bertanya kenapa dahinya benjol sebesar itu. "Kau 'kan sudah memberi ini kemarin, sebagai permintaan maaf!" Sakura mengangkat gantungann kunci di tasnya.
"Menolong tidak ada salahnya, kan?" balas Neji tak mau kalah. "Aku masuk duluan."
Sakura mengendikkan bahu saat Neji berlalu, kemudian akan meneruskan jalannya. Hatinya mulai diliputi rasa cemas akan Sasuke.
'Apa dia sudah makan ya?' batinnya. Beberapa detik kemudian ia menggeleng cepat, "Cih, siapa peduli!"
"Apanya?" tanya suara di belakang Sakura dengan latar ngos-ngosan.
"Sasuke?" ucap Sakura tidak percaya. Tapi ia segera mengatasinya dengan merajuk, "Mau apa kau disini?"
"Aku diberitahu si Hyuuga kalau kau pulang ke rumah," kata Sasuke seraya memarkirkan sepeda ontel.
"Lalu kenapa?"
"Aku mau mengambil makananku," sergah Sasuke. "Mana?"
"Heh?" Sakura mengangkat sebelah alis dan memiringkan bibir bawahnya ke kanan. "Kau lupa kalau aku dua minggu ini tidak akan mengurusimu lagi?"
"..." Sasuke terdiam. Ia tidak bisa berkutik lagi dengan alasan Sakura. jelas-jelas kemarin Sasuke bilang kalau Sakura boleh libur mengurusnya. Uchiha tidak mungkin membatalkan janjinya sendiri.
Sakura tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Sasuke, "Bagaimana?"
"Tch, terserahmu saja!" decak Sasuke kemudian melewati Sakura yang tersenyum bahkan menyeringai penuh kemenangan. "Tapi, aku tidak akan maafkan soal kau membonceng dengan lelaki rambut iklan tadi pagi," ganti Sasuke menggertak Sakura plus seringai tipisnya.
"Eh? Kau lihat?" tanya Sakura.
Sasuke diam saja dengan wajah stoic –padahal hatinya panas-, secepat kolat menempelkan perekat luka di dahi Sakura pelan dan berlalu pergi. Meninggalkan Sakura dengan ringisan kecil dan tangannya yang menggapai dahinya sendiri.
Blushh
Tanpa Sasuke ketahui, si sulung Haruno sedang merona menatapnya dari belakang seraya mengelus perekat luka pemberian Sasuke tadi.
'Sasuke-kun...' batinnya lirih. Dirinya yang selama ini selalu membantu Sasuke kapan saja, jadi tidak tega kalau lelaki itu akan kerepotan akan ulahnya sendiri. 'Akan kubantu...' ia bertekad. 'Tapi diam-diam...'
.
.
.
Istirahat, perus Sasuke keroncongan. Perutnya lapar sekali. Ingian beli makanan, tapi kantin sedang penuh sesak. Ia tidak suka keramaian, karena setiap ada keramaian, disitu ada perempuan.
Pernah sekali Sasuke memaksa membeli makanan di kantin –karena Sakura jatuh sakit dan tidak membuat makan siang, ia nyaris diterkam oleh kumpulan fans girl-nya. Awalnya hendak ingin beli roti, tapi kembali ia hanya pulang membawa blazernya yang compang-camping dan sedikit sobek. Serta kemejanya yang lengannya sobek pula. Membuat Sakura yang sakit harus menjahitkan pakaiannya dengan susah payah.
Sejak itu, Sasuke Uchiha benci kantin dan tempat ramai lainnya. Ia juga sebal dengan perempuan. Kecuali Ibunya, dan Sakura tentunya.
Ia mengacak-ngacak rambutnya kesal, dan mengobrak-abrik tas juga lacinya. Barangkali ada makanan di sana. Ah, benar saja. ia menemukan sebuah tempat makan berwarna merah muda tergeletak di laci mejanya.
'Punya Sakura,' batinnya. Ia yakin itu milik Sakura, melihat tempat makan itu selalu digunakan Sakura tiap hari. Ia membuka tutupnya, dan tampaklah beberapa onigiri tersaji disana.
Dengan secepat mungkin Sasuke mencomot satu dan memakannya. Ia bersyukur dalam hati, ternyata Sakura masih perhatian padanya.
"Hei, itu bekal makananku!" kata Sakura sebal. "Huweee! Kenapa tinggal dua buah?" pandangan Sakura berubah tajam. "Kau, kenapa makan bekalku?"
"Aku lapar," jawab Sasuke tanpa dosa.
"Tapi itu makanan milikku! Sekarang aku harus antri ke kantin!" kata Sakura memasang wajah sebal. Padahal Sakura sendiri yang sebenarnya meletakkan bekal itu di laci Sasuke, untuk lelaki itu makan. Ia tahu, Sasuke kelaparan dan lelaki itu pasti tidak mau ke kantin. Ia hanya berpura-pura marah.
"Berisik," ucap pemuda rambut raven cuek. "Bagi dua saja." ia mengambil satu onigiri dan menyumpalkannya pada mulut Sakura.
Serangan buru-buru itu berakibat Sakura tersedak dan memukul-mukul dadanya sendiri. napasnya sesak, padahal Sasuke tidak keras menyumpalkan makanan tadi. Ia hanya kaget dan sontak menelannya bulat-bulat.
"Uhkh, umpp..." Sakura terus berusaha menepuk dadanya, agar onigiri tadi keluar.
Uchiha bungsu sendiri kaget dan segera mencari botol minum Sakura. dengan sigap ia meminumkannya pada Sakura.
Akhirnya makanan itu tertelan dengan susah payah, dan Sakura dapat bernapas lega. "Puah! Hampir saja aku kehabisan napas! Haaah..."
"Hn," gumam Sasuke paham. Ia kembali melahap makanannya santai, seolah kejadian tadi tidak ada.
Dahi Sakura langsung berkedut melihat sikap santai Uchiha di depannya. Ia membatin sabar dalam hatinya, padahal tangan kanannya sudah mengepal kuat saking kesalnya. Tapi melihat mata Sasuke menatapnya lekat, ia urung.
Karena mata itu memandanganya seolah menunjukkan kelegaan.
Sakura sedikit tercengang dan terus menatapi mata Sasuke balik dengan rekat. Lagi-lagi perasaan hangat yang aneh menyelusuri sekujur tubuhnya. Pipinya langsung memerah dan terasa panas.
Lelaki yang sedari tadi dipandanginya dan memandanginya balik segera memajukan wajahnya mendekati wajah Sakura. Kemudian ia meniup wajah Sakura pelan, membuat gadis itu tersadar dan mengerjapkan mata.
Tidak lama, wajah Sakura memerah dalam hitungan detik saat sadar kalau Sasuke meniup wajahnya. Jujur, napas Sasuke sangat hangat dan masih berbau mint, pasta gigi kesukaan lelaki itu. Dan tiupan itu sebenarnya mengenai bibirnya sendiri.
Apa itu indirect kiss?
Wajah Sakura langsung makin memerah dan ia cepat berlari kabur. Lari secepat mungkin, dan meninggalkan Sasuke dengan wajah tampan dan siratan tanya dalam dirinya.
'Kenapa?' batin Sasuke dalam hati, kemudian beranjak makan lagi.
.
.
.
Sementara itu, seorang gadis berambut merah panjang dengan mata ruby miliknya menelusur bandara yang dijajaki saat ini. ia tersenyum tipis sambil memegang paspor juga tiket pesawat yang akan berangkat setengah jam lagi.
"Sakura, Sasuke-kun... Aku akan segera sampai..."
-TBC-
Special thanks:
Aika Yuki-chan, Sindi 'Kucing Pink, Rosdin Always Sasusaku, Trancy Anafeloz, Mey Hanazaki, BlueHaruchi Uchiha, momijy-kun, Lucy Uchino, Reivany UchiHaruno, Lhylia Kiryu, Luthfiyyah Zahra
(maaf jika ada kesalahan nama maupun yang terlewat)
Hai semua.. ini salah satu fic terakhir sebelum saya hiatus… Bulan Juli pasti udah balik… Mau UAS dan akan ada liburan sebulan.. jadi gak bakal bisa ke warnet lagi… hehehehee…
Tapi kalau sempat, akan saya update waktu libura… Gak janji juga tapinya… #dilempar
Terima kasih banayk ya semuanya.. kalian semangatku mengetik.. :D
Review?
Karikazuka
