Kirei Thelittlethieves: nih ada jawabannya disini :3

celindazifan: iya kasian Taotao *sad*

Firdha858: yup, si item bakal muncul tapi masih beberapa chapter lagi :D

JungSooHee: ini ketikannya udah segini ga bisa panjang2, hehe

aldif.63: nih udah lanjut!

ZhieWu68: justru begini enak(?) bikin greget :v

Ammi Gummy: klo di cuci otak ceritanya ga begini -_- ga ketemu Dokter tamvan dum :v

LVenge: kasian amat abang Naga xD udah bagus2 jadi Dokter disini masih di katain penjahat kelamin xD

HyuieYunnie: sebatang Panda(?) (ngakak parah XDD)

KrisTaoTao: hai! Salam kenal! Makasih udah baca n review ya ^^

cronos01: hai! Salam kenal~ makasih udah baca n review ^^ momennya pasti ada kok, tapi ya ga sampe skin ship, kan Tao masih ketakutan, ntar aneh malah klo udah ada skin ship di chapter2 awal -_- ga serius kok, ga banyak istilah disini, santai aja ^^

Dandeliona96: ga bisa fast up, tapi ini udah update, hehe

Aiko Michishige: nih udah lanjut :3

BangMinKi: jawabannya ada disini~

LoveHyunFamily: hai! Salam kenal~ makasih udah baca n review ^^ nih udah lanjut :3

Kim673: hai! Salam kenal~ makasih udah baca n review ^^ Baekie, Kai, Sehun, munculnya masih ntar2 hehe, klo Luhan dalam waktu dekat(?) bakal muncul, sabar ya :D

meliarisky7: nih udah lanjut, jangan lupa review lagi ya :D Tao ga gila, dia cuma Trauma hebat ^^

WHO Yizi OsHztWyf: yup, bener banget~ hehehe. Udah lanjut nih ^^

peachpetals: Dokter Yipan akan bertindak cepat, wkwkwkwk. Bagus deh klo menghibur itu scene selingannya(?) xDa

Guest: hai! Salam kenal~ makasih udah baca n review ^^ makasih lagi *bow* nih udah update, review lagi ya :3

Hai semua~ maaf baru update, hehe. Oh iya, gw bikin cerita ini sebisa mungkin mengalir sesuai dengan kondisi Tao, sesuai dengan perkembangan demi perkembangan dan usaha Yifan, jadi kalo terkesan alurnya lambat maaf ya. Gw Cuma pengen cerita ini mengalir dengan seharusnya, tanpa mempercepat atau memperlambat alur ^^ oya, kalian bisa panggil gw Otsu, occhan, sky, atau apajalah suka2 :3

Happy reading!


ADORE

By: Skylar.K

Pair: Kristao(maybe with other couple)

Cast: Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Park Chanyeol, Kim Minseok, Kim Jongdae, Do Kyungsoo.

Genre: Drama Romance, Fluff

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

Disclaimer: they are not mine, but this story its mine. Cerita ini mengandung unsur konten tertentu, dan fokus pada tema tersebut, jika merasa tidak cocok mohon segera tinggalkan cerita ini.

.

.

.

Everything looks good

All things I have are looking good

But the reason I can't be happy

You know why?

(Artificial Grass by: AKMU)


Huang Zi Tao adalah putra kedua di keluarga pebisnis sukses dan terpandang di China, setelah Kakak perempuannya Huang Victoria. Sebagai anak bungsu, Tao tumbuh di lingkungan yang hangat dan penuh cinta. Tao memiliki sifat yang lembut dan baik seperti Ibu mereka, sementara Victoria sebagai Kakak, adalah sosok yang tegas. Dan keluarga kecil Huang sama seperti keluarga-keluarga lain pada umumnya.

Meskipun Tao memiliki perawakan tinggi dan cukup semampai untuk ukuran seorang pria, Tao sangat ahli dalam bidang bela diri China, wushu. Perawakannya yang tinggi dan tak pernah kelebihan berat badan, menjelaskan semuanya, jika Tao sangat giat berlatih. Begitu pula sang Kakak yang juga menggeluti bela diri.

Sebagai anak dari keluarga Huang, Kakak beradik itu di tuntut untuk bisa melindungi diri. Bukan tanpa alasan keduanya menekuni seni bela diri, mengingat jika mereka adalah anak dari Tuan dan Nyonya Huang. Sang pria seorang pebisnis sukses, dan sang wanita adalah pengacara terpandang.

Tao bahkan tidak bisa menghitung sudah berapa kali dirinya dan sang Kakak menjadi korban penculikan, dan dirinya selalu dapat meloloskan diri. Tao tak pernah mempermasalahkan jalan hidupnya yang penuh tantangan, justru hal itu semakin memacunya untuk menjaga keluarganya. Meski sebenarnya dirinya adalah sosok yang manja, agak cengeng, dan pemalu. Tapi Tao selalu dapat di andalkan di saat-saat tertentu.

Tao ingat bagaimana kedua Orangtua serta jiejie nya memperlakukannya. Mereka selalu menganggap jika Tao adalah anak kecil yang harus di lindungi, mereka selalu memanjakan Tao, menghujani pemuda yang memiliki kantung mata seperti Panda itu dengan cinta yang tak pernah habis.

Tao juga ingat, bagaimana saat keluarganya bercengkrama di waktu santai, saling melontarkan lelucon, dan berujung pada kalimat menggoda yang selalu dapat membuatnya dan sang Kakak merona malu.

Masih segar di ingatannya, seperti ikan yang baru saja di tangkap dari laut. Tao akan selalu menjadi relawan akan curhatan panjang Kakak nya, menjadi satu-satunya yang bersedia mencicipi makanan ataupun kue yang dibuat Kakaknya, meski itu sama artinya dengan bunuh diri. Masih terbayang jelas senyum hangat dan pelukan sang Ibu ketika dirinya membuat kesalahan atau bertengkar dengan Victoria. Bahkan Ibunya selalu menyempatkan diri untuk memasak meski sedang sibuk.

Lalu Ayahnya yang tegas namun hangat. Meski sangat disiplin, pria berusia 50 tahun itu sangat baik, penyayang keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Ayahnya sangat pengertian, tak memaksakan kehendak pada anak-anaknya, memberi kebebasan yang nyata, bahwa kedua anaknya tak harus melanjutkan bisnis keluarga yang sudah di bangun dengan susah payah.

Terbukti, karena Tao lebih berminat untuk masuk ke sebuah Universitas musik, sementara Victoria memilih untuk melanjutkan pendidikannya sebagai desaigner. Hidupnya sangat sempurna, meski semua anggota keluarganya sibuk, mereka maupun dirinya selalu meluangkan waktu. Entah itu sekedar untuk mengobrol di sore hari, keluar untuk makan malam, atau yang paling sering adalah saat dirinya membantu sang Ibu untuk merawat taman di halaman depan rumah mereka.

Ibunya sangat suka bunga, Lily terutama. Banyak sekali jenis Lily di taman rumah mereka, dan hampir semuanya Ibunya lah yang menanam. Sebagai anak yang jadwalnya tidak terlalu padat, Tao sering sekali membantu dan mengurusi taman milik sang Ibu. Sambil menyiram tanaman mereka bercengkrama, membicarakan apapun, bahkan sampai menggosip perihal kekasih Victoria yang misterius.

Tao rindu Ibunya. Air matanya tak pernah mengering di saat pemandangan indah tanah lapang yang di hiasi anemone, dandelion, dan pepohonan rindang menjadi latar belakang jendela kamar rawatnya. Wajah itu hampa, kelereng Onyx nya tak bersinar, bahkan bibirnya masih pucat.

Seharusnya dirinya bangun lebih awal malam itu. Seharusnya dirinya curiga dengan bunyi pecahan kaca yang bersahutan. Seharusnya dirinya segera bergegas berlari keluar kamar untuk melihat. Seharusnya, seharusnya, dan seharusnya semua itu tak pernah terjadi.

Diantara keremangan lantai 2 rumahnya, karena hari telah malam dan hanya menyisakan beberapa lampu yang di biarkan menyala. Suara pecahan benda terdengar memecah sunyi, menyetaknya bangun dari alam mimpi, sampai suara teriakan histeris sang Ibu sampai ke telinganya.

Tao berlari keluar dari kamarnya secepat mungkin, dengan wajah panik dan tak peduli jika bisa saja ia tersandung saat menuruni tangga, ia hanya ingin secepatnya sampai di Ruang Tamu dimana suara aneh itu berasal. Dan tubuhnya mematung seketika melihat kedua Orangtuanya yang duduk terikat di lantai, mulut di bungkam, dan Victoria juga dalam keadaan yang sama.

Sekitar 4 sampai 5 orang berpakaian serba hitam mengelilingi ketiga anggota keluarganya yang tak berdaya. Baik Ayah, Ibu dan Victoria memberi gesture agar dirinya lari darisana, tapi kedua kakinya terlalu kaku untuk di gerakkan. Dan keputusan itu terlambat karena salah satu pria berbaju hitam disana melihatnya terlebih dahulu sebelum ia pergi dari ambang pintu.

Rambutnya di tarik kasar, tubuhnya di seret menuju Ruang Tengah, dengan paksa mereka mendudukkannya di sebuah sofa dengan tangan, kaki terikat dan mulut di bungkam. Tao menangis melihat kedua Orangtua nya di siksa, orang-orang berbaju hitam itu bicara dengan nada tinggi, hingga sebuah tongkat besi di ayunkan menghantam kepala kedua Orangtuanya. Mereka tersungkur dengan darah segar merembes ke lantai, mati seketika.

Tao ingin menghajar mereka, ingin berteriak sekencangnya, tapi tubuhnya terpasung diatas sofa. Hanya teriakan tanpa suara yang bisa di lakukannya, bahkan pandangan matanya telah memburam karena air mata yang semakin deras mengalir.

Tapi itu hanya awal dari penderitaannya yang sesungguhnya. Tubuh tinggi Victoria di seret paksa, bajunya di robek, dan Tao gemetar hebat di tempatnya ketika melihat keempat orang berbaju hitam disana memperkosa Kakaknya.

Ia marah, wajahnya memerah karena amarah yang sangat besar. Betapa pilunya teriakan dan tangisan sang Kakak yang menyayat hatinya. Tapi semua itu berakhir dengan terbunuhnya sang Kakak yang di jerat sebuah tali di lehernya. Dan sasaran selanjutnya pun adalah dirinya.

Tao berontak sekuat yang ia bisa. Tubuhnya yang tinggi untuk seorang pemuda berusia 19 tahun cukup merepotkan para pelaku. Tapi sayangnya hal itu tidak memberinya keuntungan, merekaorang-orang berbaju hitam itu mulai menjamah tubuhnya. Sampai tenggorokannya kering, sampai dirinya tak bisa merasakan tubuhnya lagi.

Tao ingin mati saat itu juga. Berharap dirinya akan di bunuh atau apapun yang dapat membuatnya bebas. Namun ternyata sebuah tikaman di perutnya tak membuatnya mati. Mungkin para tersangka mengira jika dirinya telah mati, karena mereka langsung meninggalkannya yang terluka parah di lantai.

Pemuda bersurai sehitam arang itu memejamkan matanya erat, mengabaikan liquid bening yang tanpa henti membasahi pipinya, tangannya mencengkram erat surainya yang sudah berantakan. Terisak hebat, menarik-narik surainya seperti orang kesetanan.

"TIDAK! PERGI DARIKU!"

Tubuh yang semula duduk tenang di pinggiran tempat tidur itu bergetar hebat, menunduk sambil terus menarik-narik rambutnya sendiri.

Kepalanya sakit, sungguh, dan dadanya seperti di hujani beribu-ribu jarum, ulu hatinya nyeri tak terkira. Tao terus berteriak memohon, karena merekaーperistiwa itu selalu berputar kembali di kepalanya tanpa henti.

"AAAHHH! PERGIII!"

Suaranya semakin serak. Dan pintu kamar pun dibuka cepat oleh seorang perawat bemata bulat, perawat laki-laki itu tampak panik dan segera berlari keluar untuk memanggil Dokter. Karena pasiennya kembali kumat. Berteriak histeris dan menyakiti diri sendiri.

"YI FAN-EUISANIM! Pasien anda!"

.

.

.

Ceroboh.

Katakanlah seperti itu. Yi Fan benar-benar ceroboh karena sejak awal tak menyelesaikan untuk membaca data riwayat hidup Huang Zi Tao, pasien barunya. Memang dirinya tidak kuat dan tidak tega jika harus melanjutkan membaca semua data yang ada. Bahkan dirinya langsung berhenti membaca saat penjelasan jika Kakak perempuan si Huang di perkosa dan di bunuh di depan mata pemuda itu.

Yi Fan pusing membaca semua itu. Pemaparan di kertas tersebut menjelma menjadi khayalan yang membuatnya semakin tak sanggup melanjutkan membaca. Ia langsung menutup map tersebut dan meletakkannya tanpa ingin membukanya lagi. Cukup tahu garis besarnya, dan dirinya sudah mengerti dan memahami penderitaan si bungsu Huang yang kini menjadi pasiennya.

"Hitam, hitam, hitam" bibir plum miliknya berkomat-kamit, dengan ujung map yang menempel di kening.

Mulai sekarang dirinya tidak boleh lupa jika Huang Zi Tao memiliki trauma dengan warna hitam. Karena di jelaskan di dalam data, jika pemuda itu memiliki ketakutan yang besar dengan warna hitam. Selain karena penyerangan itu berlangsung saat rumahnya dalam keadaan reman-remang, para pelakunya juga menggunakan pakaian serba hitam. Dan si Huang memiliki ketakutan untuk tidur, karena harus memejamkan mata yang itu artinya gelap atau hitam yang akan menghampirinya ketika menutup mata.

Terlebih sore tadi, saat tiba-tiba Do Kyungsoo masuk ke ruangannya dengan berkata panik jika si Huang kumat. Dirinya sampai berlari di sepanjang lorong Rumah Sakit, tapi lagi-lagi pemuda itu menolak dan semakin histeris. Karena Yi Fan masih memakai pakaian serba hitam tanpa jas putih Dokternya. Alhasil butuh waktu ekstra untuk menyuntikkan obat penenang pada pasiennya itu.

Yi Fan meletakkan map tersebut di meja dan meraih ponselnya yang pendiam. Ia membuka lock screen dan membuka aplikasi e-mail nya, dan segera mengunduh attachment yang di kirimkan oleh Dokter yang dulu menangani Huang Zi Tao. Hanya sebuah data tambahan medis mengenai kondisi pemuda itu, karena dirinya harus mencari tahu semua data yang ada. Ia tak mau membuat kesalahan yang malah membuat jaraknya dengan sang pasien semakin jauh.

Dengan seksama ia membaca file berupa document itu, menghafal semua garis besar dan hal-hal kecil yang di sukai si pasien. Karena bagaimana pun juga hal itu tergolong ampuh untuk mendekati semua pasien. Tapi karena si Huang pasiennya yang berbeda, maka dirinya harus bertindak tepat.

Must zero mistake.

"Jadi, Huang Zi Tao suka Panda, makanan manis, ice cream, strawberry, dan...Gucci?" dahinya berkerut dalam, suaranya pun mengecil. Menatap tak yakin pada layar ponselnya.

Yi Fan bingung. Bagaimana mungkin seorang laki-laki menyukai barang branded seperti Gucci? Brand yang identik dengan para wanita. Tidakkah seharusnya brand yang lebih mencerminkan laki-laki? Ralph Lauren misal, atau Diesel, dan mungkin Calvin Klein?

Oh, katakanlah Yi Fan itu Dokter tampan yang udik. Apakah dia tidak pernah membaca berita online? Jika Gucci dan brand terkenal lainnya seperti Dolce & Gabbana juga memiliki koleksi untuk pria?

Ya, anggap saja Yi Fan adalah Dokter yang tidak up to date. Tapi percayalah, bahkan meski tak pernah mengikuti fashion yang sedang in, nyatanya Dokter tampan itu selalu berpenampilan menarik. Karena apapun yang melekat di tubuhnya selalu membuatnya terlihat semakin mempesona.

Yi Fan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang di dudukinya, ibu jarinya bergulir indah diatas layar sentuh ponsel mahalnya. Kemudian ia terdiam, melemparkan tatapannya lurus ke depan, sedang berpikir, lalu ia pun bangkit berdiri seraya meletakkan ponselnya di meja dan berjalan kearah lemari buku yang berada di sudut kamar.

Ia mengambil sebuah buku tebal dengan sampur berwarna putih gading, membolak-balikkan buku tersebut sejenak, lalu memutuskan untuk keluar dari kamar. Mengenakkan celana training biri tua dan polo shirt coklat gelap, ia melangkahkan kaki panjangnya kearah Ruang tamu di depan.

Cottage yang di huninya ini memang terasa sepi dan hening, diluar kebiasaan Chanyeol yang suka mendengarkan musik dengan volume yang cukup keras. Tapi jika mereka sedang sibuk seperti ini, maka dirinya harus senang karena tidak akan mendengarkan suara bass Chanyeol yang ikut bernyanyi menirukan penyanyi yang lagunya sedang di putar.

Pria tampan pemilik senyum sejuta wattーkata Jongdae dan Kyungsooーitu malam ini tampak menyibukkan diri dengan beberapa berkas pasien dan laptop yang menyala diatas meja.

"Bukankah kau punya permen strawberry Chan?" tanya Yi Fan tiba-tiba. Berdiri di depan meja dengan tangan kanan membawa buku.

Chanyeol yang sedang serius mempelajari data salah satu pasien pun mendongak, menatap bingung Yi Fan yang tiba-tiba bertanya soal permen.

"Iya, kenapa?" alisnya menaut.

"Aku minta untuk besok"

"Untuk?"

"Apa kau harus tahu semuanya?"

"Bukankah kau tidak suka manis?"

"Bukan untuk ku. Kalau boneka Panda, apa kau punya?"

Chanyeol yakin jika sekarang dirinya salah dengar.

Apa? Boneka Panda? Apa teman satu profesinya itu sudah berubah haluan?

"Kepalamu baik-baik saja 'kan Fan?"

Yi Fan berdecak jengah. Pasalnya saat ini Chanyeol menatapnya dengan sangat aneh. Seperti dirinya itu sudah berubah menyimpang.

"Ck. Permen dan bonekanya bukan untuk ku Park Chanyeol. Jangan berpikir yang tidak-tidak" kata Yi Fan jengah.

"Kalau permen aku ada, tapi kalau boneka aku tidak punya Tuan Wu. Mana mungkin Park Chanyeol yang manly ini memiliki boneka? Panda pula" Dokter tampan dengan julukan Dobi itu mendengus kesal. "Tapi bisa kau tanyakan pada Jongdae" imbuhnya kemudian. Yi Fan mengangkat satu alisnya.

"Jongdae? Dia punya?" nadanya terdengar cukup terkejut. Meski wajahnya masih saja stoic.

"Kata Minseok-ah, Jongdae punya boneka teddy bear. Mungkin dia punya boneka Panda"

"Memang apa yang sedang kalian bicarakan waktu itu?" Yi Fan menatap curiga.

"Hanya menggosip untuk membunuh waktu. Tapi untuk apa permen dan boneka?"

"Aku harus melakukan pendekatan dengan Huang Zi Tao. Ini sudah 2 hari, dan aku belum melakukan apa-apa" kata Yi Fan murung. Chanyeol membulatkan bibirnya.

"Manis juga dia menyukai permen dan boneka Panda"

"Bukan permen, dia suka strawberry dan makanan manis"

"Kemari, duduklah. Ku tunjukkan sesuatu soal si bungsu Huang itu" Chanyeol menepuk pelan sisi kanan sofa yang kosong.

Yi Fan tanpa suara segera mendudukkan tubuhnya di samping teman seprofesinya itu, dan memperhatikan layar laptop Chanyeol yang kini menampilkan sebuah halaman weibo akun seseorang. Dan sebagai seseorang yang di tubuhnya juga mengalir darah dataran China, ia dapat membaca huruf China nama pemilik akun tersebut.

Huang Zi Tao

"Aku tidak sengaja menemukan blognya saat browsing. Pasien mu itu, si Huang anak yang sangat manis. Lihat lah" Chanyeol menggeser layar laptopnya menghadap Yi Fan.

Yi Fan mencondongkan tubuhnya, memperhatikan lebih seksama deretan foto yang di upload di blog tersebut. Seorang pemuda bersurai hitam yang ekspresif, mengenakkan pakaian yang up to date yang sangat menarik.

Huang Zi Tao, memiliki sepasang mata yang cemerlang, hidung mancung, senyum yang indah di bibir kissable yang kemerahan, dan kulit langsat. Tubuhnya tinggi semampai, sangat pas menjadi seorang model. Dan dari berbagai keterangan di foto itu, jika foto-foto tersebut di ambil untuk kepentingan pendidikan sang Kakak sebagai desainer.

"Sorot matanya tajam dan lugu, tapi memiliki senyum yang manis. Aku suka foto yang ini" jari panjang jari Chanyeol menunjuk pada sebuah foto.

Dimana di foto itu Huang Zi Tao mengenakkan kemeja kotak-kotak coklat-hitam, jacket hitam, rambutnya di cat coklat keemasan, dan membawa 2 buah papan seperti properti peralatan untuk ski yang di letakkan di pundak kirinya, ekspresinya sangat menggodaーmenggigit kecil bibirnya yang kemerahan, dan mengedipkan sebelah mata.

Manis dan juga menawan

"Bacalah blog nya, dia anak yang sangat ceria. Dan tugasmu sangat berat Fan" Chanyeol berkata simpati. Yi Fan mengangguk samar, kedua matanya menolak untuk berhenti memandang foto yang terpampang di layar laptop.

Entah kenapa, melihat foto itu membuat darahnya berdesir hangat.

Yi Fan sadar. Dari semua foto yang di tunjukan Chanyeol, memang menunjukkan jika si bungsu Huang itu adalah pemuda yang ceria dan ekspresif. Dan itu artinya tugasnya semakin berat. Bagaimanapun juga, baik Hyde-euisanim dan semua orang yang mengenal Huang Zi Tao menunggu hasil kerjanya. Untuk mengembalikan senyum dan keceriaan di wajah manis yang sekaligus cantik itu.

Eh, Tunggu. Apa katanya? Cantik?

.

.

.

Huang Zi Tao sudah duduk di pinggiran tempat tidur ketika pagi datang seorang perawat yang membawakan napan sarapan. Saat mengetahui ada seseorang yang masuk, seperti biasa ia akan langsung melompat ke sudut kamar. Meringkuk disana, menyembunyikan wajahnya dengan tubuh gemetar.

Tao tidak tahu siapa perawat itu, yang jelas perawat laki-laki itu selalu berkata ramah dan segera keluar dari kamar setelah meletakkan napan makan siang di meja. Setelah itu Tao akan mengangkat wajahnya perlahan dan menghela nafas lega ketika perawat itu telah pergi dan pintu kamar tertutup.

Pemuda bersurai sehitam arang itu memegangi perutnya yang semakin berisik dan meminta untuk segera diisi. Maka ia pun bangkit berdiri dari tempat 'persembunyian'nya di lekukan dinding kamar, dan menghampiri meja dimana napan berisi sarapannya di letakkan.

Tao lapar, jadi dirinya harus segera makan. Ia membawa napan tersebut dan duduk di tepian ranjang, memangku napannya dan mulai menikmati menu sarapan yang sangat di sukainya. Yaitu, omelet rice, sepiring kecil buah apel yang telah di potong-potong kecil, segelas susu, beserta air putih, dan semangkuk kecil cream sup.

Tao memakan sarapannya dengan lahap, tanpa dirinya tahu jika beberapa hidangan makanannya telah di campur dengan obat karena dirinya tidak bisa di dekati untuk minum obat. Tao suka dengan masakannya, sangat pas di lidah, dan mirip dengan omelet rice buatan Ibunya. Dirinya selalu bisa menghabiskan 2 porsi sekaligus, karena itulah Victoria sering mengejeknya.

Ia menegak habis susunya, lalu mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan kanannya. Makanan di Rumah Sakit ini enak, Tao senang karena makanannya enak-enak. Tapi ia ingat, biasanya setelah perawat mengantar makanan, Dokternya akan datang. Maka ia pun turun dengan cepat dan meletakkan napannya kembali di meja tempatnya semula.

Pemuda bertubuh semampai itu bergerak cepat ke sudut kamar seperti seekor kucing, meringkuk memeluk kedua lututnya, bersamaan dengan pintu kamar rawatnya yang dibuka, ia akan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

"Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak?" suara berat sang Dokter menyapa telinganya.

Tao mencengkram erat tangannya yang memeluk kedua lututnya.

"Kau suka makanannya?"

"..."

"Baguslah, tidak menyisakan makanan akan membuatmu cepat sembuh"

Pergi, jangan mendekat.

"Kau mengenal ku? Aku Dokter mu, Wu Yi Fan"

Tidak tidak, aku tidak mengenalmu. Kumohon pergilah.

Tao bisa mendengar suara benda yang di seret. Ia pun membuka matanya, dan mengintip di balik lututnya. Antara rasa takut yang amat sangat, ia bisa melihat jika Dokternya itu duduk di sebuah kursi yang berada di dekat pintu. Tersenyum hangat padanya.

Apa Dokternya itu bisa mendengar permintaannya? Kenapa dia duduk disana?

"Oya, makanan apa yang kau sukai? Kalau aku, aku tidak suka dengan makanan manis. Rasanya sangat aneh di mulut ku. Kau suka makanan manis 'kan?"

Tao masih mengawasi Dokter tampan itu. Sepasang Onyx nya seolah sedang merekam dengan baik sosok sang Dokter, dan bagaimana cara ia bicara.

Suaranya berat dan sedikit serak, terkesan angkuh, tapi dia selalu bicara dengan hangat padanya.

Tao tahu. Dirinya memang tidak gila, tapi ketakutannya terhadap orang asing membuatnya gemetar, ingin menangis. Bukankah tidak seharusnya dirinya menghindari berinteraksi dengan orang lain?

"Aku selalu ribut dengan salah satu teman ku di tempat ini. Dia orang yang cukup berisik, dan akan mengomel jika aku menyisakan makanan yang tidak ku sukai. Tapi dia orang yang baik"

"..."

"Teman yang berisik, tapi mungkin jika tidak ada dia, aku tidak bisa mengurus semuanya sendiri. Seperti memasak, aku tidak bisa melakukannya"

Tao melihat Dokter itu mencatat sesuatu di papan notes yang di bawanya.

"Hei, aku ada hadiah untukmu" Dokter tampan itu tersenyum lebar. Ia merogoh saku jas putihnya, menunjukkan sebuah lollipop dengan bungkus berwarna merah muda.

"Kau suka strawberry 'kan? Aku ada lollipop rasa strawberry, kau mau?"

Ya. Tao menginginkannya. Tanpa Dokter itu tahu jika saat ini ia sedang menggigit bibir, tertahan oleh rasa takutnya. Padahal ia ingin menyambar permen itu.

Dan seolah sang Dokter dapat mengerti tatapan keping Onyx Tao, ia tersenyum tipis, kemudian bangkit berdiri dan meletakkan permen tersebut diatas napan. Dokter itu melangkah mundur, dan mengembalikan kursi kayu yang di dudukinya tadi ke tempat semulaーdi sisi kiri tempat tidur.

"Beristirahat lah, aku akan kembali nanti siang" Dokter itu tersenyum lagi.

Senyum hangat yang tercetak jelas di wajah tampannya. Kemudian sosok tinggi berjas putih itu pun keluar dari kamar rawat, dan Tao masih bertahan di posisinya sampai pintu kamarnya tertutup sempurna.

Pemuda pemilik hidung mancung itu bergerak cepat, mendekati meja dimana napan kosongnya berada, dan menyambar lollipop strawberry yang di sukainya. Tak sabar ia membuka pembungkusnya, dan langsung menjejalkannya ke dalam mulut.

Tao suka makanan manis. Karena menurutnya makanan manis selalu bisa memperbaiki mood. Dan tanpa ia ketahui jika pintu kamar rawatnya kembali dibuka sangat pelan, dan menciptakan sedikit celah. Sang Dokter mengintip dengan senyum tersemat di bibirnya, melihat si pasien yang sangat menyukai lollipop pemberiannya, dan pasiennya itu kini naik ke atas ranjang. Duduk menghadap jendela kamar yang terbuka.

.

.

"Minseok-ah!"

Panggilan nyaring itu menghentikan langkah seorang pemuda bertubuh mungil yang tengah mendorong sebuah troley yang berisi tumpukan selimut bersih di lorong Rumah Sakit. Pemuda dengan julukan lain Baozi itu menengok ke belakang punggungnya, mengerjap lucu melihat seorang Dokter yang berlari kecil kearahnya.

"Ya euisanim?" sahutnya. Menunggu si Dokter bicara.

Dokter bernama Kim Jongdae.

"Ehm...kau ingat dengan boneka Panda yang ku berikan tempo hari?" Jongdae tampak agak canggung. Minseok mengangguk.

"Saya ingat. Kenapa euisanim?"

"Begini" Jongdae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Boleh aku meminjamnya?" tanyanya akhirnya. Minseok memiringkan kepalanya.

"Anda ingin mengambil lagi boneka itu?"

"Tidak-tidak! Aku hanya ingin meminjamnya sebentar, ya"

"Oh. Tapi boneka itu berada di cottage, apa anda membutuhkannya sekarang?"

"Santai saja, nanti malam aku yang akan datang. Tidak apa-apa 'kan ku pinjam?"

Minseok mengangguk. "Tentu euisa. Apa itu saja yang ingin anda tanyakan?"

Jongdae mengangguk kikuk. "Ya, hanya itu"

"Kalau begitu saya permisi" pemuda berpipi bulat itu tersrnyum tipis. Ia menundukkan kepalanya kecil, lalu kembali mendorong troley nya menyusuri lorong.

Jongdae menghela nafas pendek, sejenak menatap punggung sosok mungil Minseok yang semakin menjauh, lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali ke cafetaria Rumah Sakit. Ia melangkah panjang-panjang, tak lupa membalas sapaan para perawat yang mengenalnya.

Dan ia langsung melesat kearah meja dimana 2 teman seprofesinya duduk bersama seorang pemuda bermata bulat. Jongdae menepuk kecil pundak Yi Fan, dan sukses membuat pria tampan itu menoleh kaget. Ia berjalan memutar dan duduk di samping kanan Kyungsoo yang tengah menikmati sebungkus roti.

Hari sudah beranjak sore memang, tapi tugas mereka belum selesai. Dan disinilah mereka untuk mengisi waktu yang kosong.

"Wajahmu kenapa Chen?" tanya Chanyeol yang sibuk menikmati keripik kentangーmemanggil dengan nama julukannya. Kyungsoo pun ikut memperhatikan Dokter bersuara indah yang duduk di samping kanannya itu.

Jongdae hanya menggelengkan kepalanya, dan mencomot keripik kentang Chanyeol.

"Kau dapat bonekanya?" tanya Yi Fan, mengalihkan tatapannya dari layar ponsel mahalnya. Jongdae mengangguk dengan mulut berkomat-kamit mengunyah keripik kentang.

"Besok ku berikan padamu"

Chanyeol menatap Yi Fan dan Jongdae bergantian. "Boneka apa?" tanyanya penasaran. Jongdae hendak kembali mencomot keripik kentang sahabatnya itupun menerima tepisan kasar dari si pemilik cemilan.

Dokter dengan senyuman sejuta watt itu melotot sok garang, dan menjauhkan kemasan kripik kentangnya dari jangkauan tangan Jongdae. Dan si pemilik suara indah hanya meringis sambil mengusap tangannya, sementara Kyungsoo yang iba melihat Jongdae, menyodorkan sebungkus roti yang masih belum terjamah pada Dokter itu.

Jongdas tersenyum. "Tidak perlu Kyungsoo-ah, aku sudah makan tadi" tolaknya sedikit tak enak hati.

Mana mungkin Dokter berpenghasilan cukup seperti dirinya sampai di kasihani dan di beri roti oleh seorang perawat? Mau di taruh dimana wajahnya kalau menerima roti itu?

"Boneka apa sih?" karena tak mendapat jawaban dari mulut Jongdae, Chanyeol beralih menatap Yi Fan yang duduk di samping kanannya.

"Boneka Panda" jawab Jongdae cepat.

"Oh" Chanyeol mengangguk-angguk paham. "Jadi bagaimana perkembangannya? Tadi kau memberinya permen 'kan?"

"Rahasia" kata Yi Fan. Chanyeol mencibir.

"Lagipula itu masih rahasia perusahaan Chan" lanjut Dokter tampan itu, kembali sibuk dengan ponsel pintarnya.

"Kalian semua ada disini" suara lembut itu berasal dari sisi kanan meja.

Baik Chanyeol, Jongdae, Yi Fan dan Kyungsoo pun menoleh ke asal suara. Tersenyum pada Joonmyun yang berdiri di dekat mejaーminus Yi Fanーdengan membawa sepiring makanan di tangan kanannya dan segelas minuman di tangan kiri.

"Oh, Kyungsoo-ah, tadi Yixing mencarimu. Bukankah hari ini akan ada perawat baru?" Joonmyun beralih menatap si pemuda bermata bulat. Kyungsoo yang melupakan hal itu membulatkan matanya, dan buru-buru berdiri sambil mengumpulkan sampah miliknya di meja.

"Aku lupa euisa. Terima kasih sudah mengingatkan aku. Aku permisi euisanim sekalian" ucapnya buru-buru, ia membungkukkan tubuhnya sejenak, lalu melesat pergi dari meja tersebut.

"Yixing?" nada menggoda dari mulut Chanyeol. Tersenyum bodoh pada Joonmyun yang kini duduk di tempat Kyungsoo.

"Apa?" Dokter berwajah angelic itu menatap ketiga temannya bingung.

"Jadi kalian sudah seakrab itu?" kini Jongdae yang bersuara. Joonmyun yang sadar akan sindiran itu memilih untuk menutup mulut, dan mulai menikmati makan malamnya.

Karena saat ini sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Dan dalam hitungan menit, tugas mereka untuk hari ini akan berakhir.

"Memang benar ada perawat baru?" tanya Yi Fan, yang sudah mengantongi ponselnya kembali. Joonmyun mengangguk kecil.

"Ya, orang China tapi sudah lama tinggal di Korea"

"Ho? Jadi akan bertambah personil chinese guy kita?" celetuk Chanyeol.

"Kenapa tidak Dokter baru saja?" Jongdae mendesah kesal. Pasalnya Dokter yang bekerja saat ini tidak lebih dari 8 orang, dan mereka berempat termasuk di dalamnya.

"Mungkin lain kali. Kalian tahu Hyde-euisanim belum kembali dari Jepang" Joonmyun mengunyah makanannya dengan pelan.

"Kurasa nanti kita harus mengatakan hal ini pada Hyde-euisanim" ujar Chanyeol. Jongdae mengangguk setuju.

Tapi saat Joonmyun hendak akan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, gerakan tangannya terhenti karena tak sengaja melihat Yi Fan yang diam menopang dagu. Ia pun menyenggol pinggang Jongdae dengan siku kirinya, pria itupun menoleh, dan ia menunjuk kearah Yi Fan dengan dagu. Chanyeol yang melihat hal itupun ikut menoleh kearah yang di maksut.

Yi Fan. Pria tampan bersurai hitam itu tampaknya tengah memikirkan sesuatu, dengan aura yang sedikit lebih berwarna menguar dari tubuhnya.

Well, memang tidak biasanya Dokter blasteran dengan wajah stoic itu menunjukkan aura yang 'aneh'.

To be continue

Semoga cukup puas ya sama chapter ini, hehe :3

© Skylar.K