Ini adalah cerita AU dengan ide cerita yang diambil dari komik karya Omyo yang berjudul The Stories of Those around Me. Jika di webtoon ini berpairingkan straight, disini saya mengubahnya menjadi BL sesuai dengan imajinasi saya. Disclaimer Naruto yaitu Masashi Kishimoto. Ketikan cerita ini milik saya. Menggunakan Naruto POV dan orang ketiga (maaf, jika POV dan timeline rancu *nyengir*) beware dengan kata-kata yang agak kasar ya.

'talking' = bicara dalam hati

"talking" = percakapan

"talking" = masa lalu


.

.

.

Apa yang membuat kita tetap mempertahankan hubungan yang semu ini?

Perasaan?

Ataukah waktu?

.

.

.


"Kutebak, dia tak mengangkatnya –lagi?" wajah Gaara begitu datar saat mengatakannya, seolah hal itu biasa –pattern. Aku menatapnya sengit. "Kau mengatakannya seolah kau sudah tau saja, apa kau ini seorang cenayang, huh?"

Pria berambut merah dengan tatto di dahi itu menaikkan alis miliknya yang begitu tipis dan tak terlihat "Tak perlu menjadi seorang cenayang pun, bukankah hal itu sudah biasa terjadi? Setiap hari selalu terjadi skenario yang sama. Tidakkah kau bosan?"

"Tak bisakah kau menyemangatiku? Kenapa selalu sarkasme saja yang keluar dari mulutmu?" Naruto muak. Dirinya tahu, hal ini selalu terjadi –setiap hari tapi bukan berarti dirinya menginginkan hal tersebut.

"Bukan aku tak mau menyemangatimu. Jika aku saja yang melihatmu lelah, bagaimana kau bisa tetap bertahan seperti ini? Ah— aku lupa, kau dan kepala batumu itu sudah tak bisa ditolong."

"Aku juga tak mau seperti ini Gaara. Kuakui, ini menjengkelkan tapi kau harus mengerti. Sai sibuk dan aku tak mau terlihat seperti seorang gadis yang merengek, hanya karena kekasihnya tak menjawab telepon." Ku seruput teh milik Gaara dengan kesal dan penuh nafsu. 'Akan kuhabiskan es miliknya, biar Gaara tahu rasa! Menyebalkan.'

"Kenapa kau tak menyudahi saja hubungan kalian?" Kalimat yang keluar dari mulut Gaara sukses membuatku berhenti menyeruput dan melihatnya –terkejut sulit mengatakan apakah Gaara sedang menghiburnya dengan memberikan lelucon. Jika ya, hal tersebut sama sekali tak lucu. Berteman dengan Gaara sejak sekolah dasar membuat dirinya dapat membaca ekspresi sahabatnya. Perlahan ia menaruh gelas teh, –bingung ia tak tahu harus mengatakan apa namun—

"Aku mengenal Sai sejak menengah pertama, kau tahu itu bukan? Memutuskan tuk bersama saat kami menengah atas, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menjalani kebersamaan hingga saat ini. Aku menyukai dirinya karena dirinya, dengan segala kekurangan yang ada, dan kurasa kau mengerti kenapa aku tak menyudahi hubungan kami."

Gaara dapat melihat kelembutan di mata sahabatnya, namun ia juga dapat melihatnya –kekecewaan sesuatu yang ingin ia katakan, namun tak ingin ia utarakan. Tak ingin dikatakan sebagai orang yang jahat karena mengatakan kebenaran dan tak mau menabur garam pada luka sahabatnya. Ia memutuskan tuk diam seolah menyudahi percakapan diantara keduanya.

.

.

.


[POV orang ketiga]

Sasuke sedang berada di perpustakaan kampus, megerjakan tugas yang tak kunjung selesai bagaikan jamur. Matanya yang sejak awal terfokus pada tugasnya kini teralihkan pada smartphone miliknya yang berkedip-kedip. Sakura. Layar smartphone miliknya menunjukkan nama sang pemanggil yang tak lelah menelpon meski ia tak mengangkatnya. Lelah. Gadis ini tak memiliki kata menyerah di kamusnya –pikirnya.

Ia segera membereskan tugas-tugas miliknya dan keluar dari tempat yang menurutnya paling nyaman. Menatap kembali pada layar smatphonenya yang masih bergetar—

"Hn."

"Sasuke! Aku menelponmu berkali-kali kau sampai lumutan, kau tahu? Kenapa kau tak mengangkatnya huh?" memijit keningnya perlahan, berusaha meredakan suara Sakura yang terdengar nyaring ditelinganya.

"Apa maumu?"

"Kita kumpul di cafe biasa, Fangs! Neji sudah kembali, hehe."

"Hn." Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya dan seakan penelpon di seberang sudah mengetahui jawabannya, percakapan itupun berakhir. Sasuke melangkahkan kakinya ke tempat dimana ia dan teman-temannya berkumpul, cafe yang dimaksud Sakura tak jauh hanya perlu menaiki bus sekali dan jalan beberapa belas langkah iapun sampai.

[garis]

Seorang waiter perempuan menghamipirinya saat Sasuke berdiri di dalam cafe

"Untuk berapa orang tuan?" senyumnya ramah dan mungkin kelewat ramah, dengan badan yang sedikit dicondongkan agar belahannya terlihat. 'menjijikan' pikir Sasuke.

"Tak perlu, temanku sudah berada disini." Tak ingin berlama-lama bicara dengan waiter, ia melangkahkan kakinya menjauh. Ia yakin melihat ujung kepala milik Sakura di ujung meja, dengan yang lainnya.

"Kau datang." Ucap seorang pria berambut panjang kecoklatan dengan iris mata perak.

"Hn. Neji."

"Seperti biasa, kau begitu irit kata ya Sasuke." Neji, pria tersebut hanya tersenyum kecil. Sasuke tak berniat menjawab ucapan Neji, merasa malas. Sementara yang lainnya hanya memilih untuk mendengus dan tertawa.

Obrolan bergulir tak tentu, membicarakan pengalaman Neji yang mendapatkan kesempatan dalam pertukaran pelajar. Sasuke tak menanggapi tapi ia mendengarkan sembari meminum jus yang dipesannya.

"Bukankah Sasuke juga termasuk ke dalam daftar pertukaran mahasiswa?" pertanyaan yang keluar dari seorang perempuan berambut coklat yang digulung membentuk seperti bola membuat kegiatan Sasuke yang sedang menyeruput jusnya terhenti. Sementara yang lainnya melihat ke arahnya, saat itu juga Sasuke merasa teman-temannya memiliki satu lagi kepala yang tumbuh secara mendadak.

Sakura berdeham "Jadi, kau tak tahu Tenten? Ada alasan kenapa Sasuke tak ikut dalam pertukaran mahasiswa?" ia mengatakannya dengan senyum jahil dan mata yang melirik-lirik Sasuke bermaksud menggoda.

"Apa itu Sakura?"

"Sunshine. Seseorang yang berhasil merebut perhatian Sasukeku dan berhasil membuatku benar-benar cemburu." Neji menaikkan alis mendengarnya "Sunshine?" –beonya.

"Jadi Sasuke berselingkuh darimu Sakura?" Tenten menatap Sakura dan Sasuke bergantian, tak percaya. Dengan senyum kecil dan biasa, "Begitulah." Sakura menjawabnya sembari menghendikkan bahu miliknya.

Neji tertarik, "Kau tak mau memberi pembelaan Sas?" seraya menatap Sasuke. Neji tahu, Sasuke tak menyukai apapun dan siapapun yang berusaha mengorek kehidupan pribadinya, tapi ia penasaran akan sunshine yang dibicarakan oleh Sakura.

Sasuke hanya bergeming ditempatnya, dengan posisi yang sama sembari menyeruput jus miliknya. Seorang gadis pirang yang juga sama penasarannya dengan Neji akhirnya berceletuk "Sudahlah, kita bicarakan hal yang lain saja. Percuma menayakannya pada Sasuke, ia takkan menjawabnya. Lagipula seseorang yang tahu tentang sunshine juga tak mau membeberkannya, benar kan jidat lebar?"

"Hei Ino-babi, mana mungkin aku mau membeberkan sesuatu yang hanya menambah garam pada lukaku huh?" Sakura adalah sahabatnya sejak kecil. Meski nada yang dilontarkan terkesan biasa tanpa ada kata sinis maupun sarkasme dalam kata-katanya, namun Ino tahu Sakura serius akan ucapannya. Dirinya dan yang lainnya memang tak tahu kelanjutan akan hubungan Sasuke dan Sakura, tapi satu hal yang mereka sadari saat ini adalah –buruk. Seakan menjadi clue bagi semuanya kecuali Sasuke, mereka berusaha mencari topik lain yang sekiranya tak bersinggungan dengan sunshine.

.

.


.

.

[Tbc]

[Note:]

Cenayang itu seperti peramal kalau di Indonesiakan.. seseorang yang dapat melihat masa depan.

maaf jika ada typo, ini non edit karena beneran kuota tinggal 46mb, hahahahhaha /sedih

Terima kasih untuk review serta semangat yang telah kalian berikan, saya bahagia— sungguh! Maaf tak bisa balas satu-satu reviewnya, kuota sekarat /sobs/.. Btw, entah kenapa saya pingin menjadikan endingnya angst deh /uhuk/ dan tangan gatal ingin buat cerita baru, hiks.

Kritik, saran di persilahkaan.. boleh flame asal pakai akun.. :* Oh! Panggil yan aja, ngga usah senpai, merasa tua (ngga sadar umur) /ketjup