"INOOOO!"

Sebuah suara yang memekakkan telinga telah berhasil menarik perhatian seorang gadis berambut pirang yang baru saja memasuki gerbang Konoha High. Ia melihat sosok merah muda yang sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan.

"Oi, Sakuraaaaa."

Gadis berambut merah muda itu—sebut saja Haruno Sakura—menepuk bahu Ino pelan. Ia tersenyum, "Ohayou."

"Ohayou juga, forehead." Canda Ino.

Mendengar sebutan yang dilontarkan Ino padanya, kontan membuat Sakura menggembungkan pipinya kesal. Ia menatap tajam ke arah temannya itu. "Jangan memanggilku begitu, Pig. Itu memalukan."

Ino terkekeh mendengar perkataan Sakura, "Jangan ngambek begitu, Sakura. Salah sendiri punya jidat lebar." Sahut Ino seraya menyentil dahi Sakura pelan.

"Ittai." Sakura mengusap-usap dahinya yang baru saja disentil oleh Ino. Meskipun sentilan gadis bermata biru itu bisa dikatakan cukup pelan, tetapi kuku jari Ino yang panjang dan lentik membuat dahinya terasa sedikit kebas. "Sakit tahu."

Ino mengangkat bahunya enteng, mengacuhkan ocehan Sakura dan melanjutkan langkahnya kembali menuju gedung KHS.

Gadis bermata emerald itu menghentakkan kakinya dengan kesal. Kenapa semua orang pagi ini bertingkah menyebalkan padanya? Pertama Sasuke dan sekarang Ino? Orang kota memang suka bertingkah aneh, pikirnya.

"Sakura. Kenapa kau berdiri saja di situ?" suara Ino membuyarkan lamunan Sakura. Gadis pirang itu tampak berdiri di tengah tangga seraya melambaikan tangan ke arahnya.

Sakura tersenyum—sepertinya ia sudah melupakan ejekan Ino terhadapnya—dan berjalan menuju sahabatnya itu. Matanya tak sengaja menangkap kedua sosok yang menghilang di balik gedung belakang sekolah. Meskipun tak terlihat jelas, tapi Sakura yakin kalau mereka adalah Sasuke dan Hinata.

Ada setitik rasa penasaran dalam diri Sakura. Apalagi mengingat ekspresi Hinata yang tampak agak tegang ketika berpapasan dengannya di gerbang tadi. Baru saja Sakura ingin melangkahkan kaki mengikuti kedua muda-mudi itu jika teriakan Ino tak mencegahnya.

"Sakura. Kenapa kau hanya diam di situ saja? Cepat kemari!"

Seakan tersadar akan sesuatu, Sakura mengerjapkan matanya. Ia merutuki dirinya sendiri yang hampir mengikuti rasa penasarannya itu. Menguping pembicaaan orang lain, sepertinya bukan dirinya saja. Untuk apa ia mengikuti bocah Uchiha itu?

"Ya, Inooooo. Aku datang!"

.

.

Tsukiatte Kudasai

Naruto © Masashi Kishimoto

Rating : T

Genre : Romance/Friendship/Drama

Warning : AU, OOC (But I'm trying so hard not to make it)

.

Don't Like, Don't Read

.

Suasana koridor pagi itu terlihat ramai daripada biasanya. Padahal sekarang baru saja memasuki hari kedua sejak tahun ajaran baru dimulai, tetapi murid-murid sepertinya sangat bersemangat untuk menyambut tahun ini. Apalagi sebabnya kalau bukan karena masuknya seorang pewaris Uchiha ke sekolah mereka ini. Tampan, pintar, kaya, membuat gadis-gadis di sekolah rela berdesak-desakkan di koridor hanya untuk melihat sang pujaan hati. Tak diragukan lagi, titel 'Pangeran Sekolah' akan segera disandang oleh pemuda es ini.

Dimana-mana terdengar bunyi kikikan gadis-gadis yang membuat kuping Sakura terasa panas. Setelah memasukkan sepatunya ke dalam loker dan menggantinya dengan uwabaki, ia membanting pintu lokernya itu keras. Membuat Ino yang berada di samping Sakura terheran-heran.

"Ne, apa ada yang menganggumu?" tanya Ino.

"Tidak." Jawab Sakura. Ia berjalan cepat menuju kelasnya yang berada di lantai tiga.

Ino menyusul Sakura. "Lalu kenapa wajahmu terlihat kesal?"

"Aku tidak menunjukkan ekspresi kesal!" Bantah Sakura, ia tetap melanjutkan langkahnya menaiki tangga.

"Ayolah, ceritakan. Aku tahu ada sesuatu yang menganggumu." Desak Ino.

Ino benar-benar keras kepala, pikir Sakura. Tahu kalau Ino pasti tidak akan menyerah untuk berhenti menganggunya, ia lalu memutuskan untuk meladeni sahabat pirangnya itu.

"Aku muak pada gadis-gadis di sekolah ini." bisik Sakura pelan agar tidak terdengar oleh gerombolan klub cheers yang berdiri di koridor Mereka sedari tadi saling kikik dan sikut sambil menyebutkan nama Sasuke.

"Memangnya kenapa?"

Sakura mendengus. "Aku tak suka cara mereka menyebutkan nama bocah Uchiha itu."

Tiba-tiba saja Ino tersenyum lebar. Ia menatap jahil ke arah gadis berambut merah muda itu dan merangkul lengannya. "Ne, kau cemburu?"

Sakura hampir saja terjungkal mendengar perkataan Ino. "A-apa? Tentu saja tidak!"

"Mengaku sajalah. Aku tidak lupa wajah merahmu kemarin saat menyebutkan nama Uchiha. Kau menyukainya bukan?"

Wajah Sakura memerah. "Tidak. Aku tidak menyukainya, pig!"

Ino terkekeh-kekeh mendengar jawaban Sakura. Ia mengibaskan tangannya enteng, seakan memaklumi. "Tidak perlu malu, forehead."

Sakura memutar bola matanya bosan. Ia merasa Ino sepertinya bersemangat sekali jika mereka sedang membahas tentang Uchiha Sasuke. "Lupakan saja perkataanku kemarin. Aku beritahu kau, aku sama sekali tak menyukai pemuda pantat ayam itu."

Ino sedikit kaget mendengar jawaban Sakura. Ia mengingat dengan sangat jelas saat pulang sekolah kemarin, Sakura menyebutkan nama Sasuke dengan wajah yang sangat merah. Ino bukanlah orang bodoh yang tidak tahu ciri-ciri orang jatuh cinta. Gadis itu baru saja akan membuka mulutnya jika saja ia tak sadar kalau mereka ternyata sudah sampai di depan pintu kelas.

Sakura menggeser pintu kelasnya, tak banyak orang yang berada di dalam. Hanya sekitar lima orang termasuk dirinya dan Ino. Jelas saja keterlambatan Kakashi-sensei sudah sangat terkenal bahkan di luar KHS, membuat sebagian murid memilih untuk berangkat lebih siang daripada bosan menunggu sang guru di kelas.

Sakura melengos pergi menuju bangkunya yang terletak di belakang kelas. Ino mengikutinya—setelah meletakkan tas di mejanya sendiri—dan duduk di depan bangku Sakura.

"Sakura, kau berhutang penjelasan padaku."

Sakura mengangkat alisnya heran, "Penjelasan apa?"

"Tentang hubunganmu dengan Uchiha Sasuke. Sebenarnya apa yang terjadi?" desak Ino tak sabar.

"Tak ada apa-apa."

"Bohong."

"Terserah."

Gadis berambut merah muda itu sedikit bimbang dengan pikirannya. Di satu sisi, ia ingin sekali menceritakan masalahnya yang harus tinggal satu atap dengan Sasuke. Tapi di sisi lain, otaknya berpikir kalau ia memberitahunya pasti satu sekolah akan tahu berita tersebut dan itulah hal terakhir yang diinginkan Sakura.

Melihat Sakura yang diam—seakan sedang mempertimbangkan sesuatu—membuat Ino berdecak kesal. "Apa ini ada hubungannya dengan kau tinggal bersama Uchiha?"

Mata Sakura melotot lebar, "Bagaimana kau ta—" Sakura langsung menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya yang sering keceplosan itu.

"Kau menyebutkan alamatmu kemarin. Dan aku tinggal hanya berjarak beberapa blok dari kediaman Uchiha." Jelas Ino panjang lebar. "Jadi?"

Sakura menghela nafas pasrah, ia tahu kalau dirinya tak bisa menghindar dari pertanyaan Ino kali ini. Lalu ia menceritakan tentang kerabat ayahnya yang ternyata adalah kepala keluarga Uchiha. Bagaimana awalnya ia merasa sangat gugup harus tinggal satu atap bersama pemuda dingin itu. Kemarahannya saat Sasuke tiba-tiba saja membentaknya kasar sehingga kekaguman Sakura pada pemuda raven itu lenyap. Meninggalkan rasa sakit hati yang sedikit masih terasa dalam diri Sakura hingga sekarang.

Tetapi di sisi lain, Sakura tahu kalau Sasuke tidaklah sedingin yang biasanya orang-orang bayangkan. Ia tak akan lupa bagaimana Sasuke semalam melindunginya dari kerumunan manusia di kereta dan cara pemuda itu memegang tangannya.

Sakura terus menceritakan semuanya yang ia tahu tentang Sasuke kepada Ino—kecuali pada bagian Sasuke menyimpan gambar Hinata dan diam-diam pemuda itu menyukai gadis tersebut. Sakura tahu tak seharusnya ia membicarakan keburukan orang lain. Tapi tak ada salahnya bukan berbagi masalah dengan sahabat yang mungkin saja bisa meringankan bebanmu?

"Rumit juga ternyata." Komentar Ino setelah Sakura mengakhiri ceritanya. "Tapi itu tak menjawab pertanyaanku."

Sakura mengerutkan dahi bingung.

"Kenapa kau begitu kesal saat tahu gadis-gadis di sekolah membicarakannya?"

Sakura mematung. Ia sedikit bingung dengan jawaban pertanyaan Ino barusan. "A-aku… um… tidak suka cara mereka memuja Sasuke. Dia tidak sesempurna seperti yang orang lain bayangkan. Ia tidak pantas digilai seperti itu. Memang apa bagusnya dia?"

"Tapi kau bilang dia juga punya sisi baiknya. Dia melindungimu saat di kereta semalam kan?"

"Aku tahu." Sahut Sakura cepat. "Tapi aku juga tak lupa dengan hinaan yang dia keluarkan. Rasanya begitu sakit saat dia menghina keluargaku."

"Jadi…" Ino menghentikan perkataannya sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Kau akan melupakan rasa bencimu padanya jika dia minta maaf?"

"…"

"Sakura?"

"Mungkin saja."

Ino menghela nafas lelah, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku pikir yang kau rasakan itu bukanlah kebencian, Sakura." Ino menatap gadis di hadapannya. "Tapi kekecewaan karena pemuda yang diam-diam kau kagumi ternyata tak seperti yang kau harapkan."

Gadis bermata emerald itu tertegun. Ia merasa disadarkan oleh sesuatu. Semua yang dikatakan Ino memang benar. Jika dirinya memang membenci pemuda itu, pastinya Sakura tak akan mau berjalan di samping Sasuke, berdebat tentang hal-hal tidak penting bahkan sampai memegang tangannya.

Ino memerhatikan raut wajah Sakura yang mendadak berubah setelah mendengar perkataannya tadi. Dan Ino tahu kalau dirinya benar. Diam-diam gadis bermata aquamarine itu sedikit merasa simpati pada Sakura.

"So…" Ino mengantungkan kata-katanya. "How do you feel about him?"

"A-aku…" Sakura berpikir, sebelum akhirnya menjawab. "Aku tidak tahu."

Ino baru saja akan membuka mulutnya jika saja tak disela oleh Sakura.

"Aku bingung, Ino. Semua yang kau katakan benar. Aku memang tak membenci pemuda Uchiha itu." Sakura meluapkan segala perasaannya. "Tapi aku tak mungkin menyukainya. Kami baru sehari saling mengenal."

Ino terdiam. Ia bisa merasakan, nada frustasi dari perkataan Sakura. Jelas sekali jika Sakura memang sedang dilanda kebingungan dengan perasaannya. "Apa kau percaya istilah 'Love at First Sight'?"

Sakura menggeleng. "Cinta itu butuh proses. Tak ada istilah cinta pandangan pertama. Ini bukanlah negeri dongeng, asal kau tahu!"

"Tapi, apa kau tertarik padanya?" desak Ino.

Ya. Ingin sekali Sakura mengatakan hal itu pada Ino. Tapi sifat keras kepalanya menghalangi gadis itu untuk mengungkapkannya. Sejak awal Sakura dan Sasuke bertemu, sosok pemuda itu selalu membayangi pikirannya. Bukan karena ketampanannya, tetapi melainkan karena kedekatan emosional yang Sakura sendiri pun bingung untuk menjelaskannya. Seperti ada sesuatu yang menghubungkannya dengan pemuda tampan itu.

Melihat Sakura yang sepertinya tidak ingin menjawab, membuat Ino berhenti mendesaknya lebih jauh. "Daijobou, Sakura. Kau tak perlu menjawabnya."

Sakura tersenyum kecil. "Nah, Ino. Aku akan mengatakannya sekali lagi dan kau tak boleh memotong perkataanku." Sakura menghela nafas perlahan. "Aku tak mungkin dan tak akan jatuh cinta pada Uchiha Sasuke."

Ino terlihat seperti akan mengatakan sesuatu sebelum Sakura meletakkan telunjuknya di bibir Ino—menyuruhnya untuk diam.

"Dan aku mohon, kita tak usah membahasnya lagi."

Ino mengangguk.

Ya, ia tak boleh jatuh cinta.

Tiba-tiba saja kepala Sakura berdenyut menyakitkan. Sosok pemuda berambut merah tampak jelas di pikirannya.

Damn

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Ino panik melihat Sakura memegang kepalanya—tampak kesakitan.

Gadis berambut merah muda itu meringis, ingatan yang ingin dilupakannya malah muncuk secara mendadak di pikirannya . "Aaaaah."

"Hei, apakah kau percaya, jika kita melihat bintang jatuh maka permintaan kita akan terkabul?"

Pemuda itu tersenyum kecil mendengar pertanyaan gadis berambut merah muda di sampingnya. "Terkabul atau tidak itu semua tergantung Tuhan, yang terpenting Tuhan mendengar permintaanmu itu."

Sakura berdiri dari bangkunya. Kepalanya masih terasa sakit, ia bisa melihat sosok Ino yang menatapnya cemas. Sakura memaksakan diri untuk tersenyum agar sahabatnya itu tidak terlalu khawatir.

Tapi kumpulan memori itu tetap mendesak memasuki pikiran Sakura, bahkan kali ini lebih keras. Tanpa sadar air mata keluar dari iris emerald-nya.

"Kau punya mimpi?"

"Ya."

"Apa mimpimu?"

"Mimpiku adalah bisa selalu bersamamu."

Tiba-tiba saja Sakura menangis keras. Kedua tangannya digunakan untuk menutup telinga, seakan semua suara-suara di pikirannya berasal dari luar. Kepalanya sangat sakit, tolong.

"Aku bingung. Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita?"

"Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah yang disebut Cinta."

"AAAAHHHH!"

Mendengar teriakan Sakura, kontan membuat semua siswa di kelas bergegas mengerumuni gadis itu. Terlihat Sakura yang berteriak kesakitan sambil menangis, hal itu tentu saja membuat semua orang panik.

"Aku menyukaimu, Sakura."

Sasori-kun?

Tepat ketika nama itu terlintas di benaknya, tubuh Sakura mulai limbung. Ia tentu akan jatuh ke lantai jika saja tidak ada lengan kokoh seorang pemuda berambut raven yang menahannya.

.

.

Sungguh, sekarang Sasuke sama sekali tak mengerti akan dirinya sendiri. Pertama, ketika ia disuruh ibunya untuk berangkat bersama Sakura, ia sama sekali tak membantahnya. Kedua, pemuda itu telah menolak pernyataan cinta seorang gadis—meskipun sebenarnya hal itu sudah sering ia lakukan—yang dianggapnya 'sedikit' istimewa. Dan sekarang pemuda itu malah menolong seorang gadis berambut aneh dan cerewet, menggendongnya menuju UKS, ditambah menungguinya pula.

Sangat bukan Uchiha sekali. Mudah-mudahan nenek moyangnya tak menangis mengetahui pewarisnya bersikap seperti ini.

Bukan tanpa alasan Sasuke sedang duduk di samping ranjang yang ditiduri Sakura sekarang. Ia hanya dipaksa oleh Shizune-sensei untuk menjaga ruangan ini karena wanita itu harus mengajar di kelas lain. Dan jika pemuda itu tidak mau, Shizune-sensei mengancamnya akan memberikan nilai merah pada mata pelajaran Biologi di raport untuknya nanti. Cih, benar-benar menyebalkan.

Sakura membuka matanya perlahan. Gadis itu mengerjap menatap Sasuke yang memandang dingin padanya. "S-Sasuke?"

"Hn."

Pandangannya lalu berpindah, ia memandang berkeliling ruangan yang didominasi warna putih itu. Sakura tampak bingung sesaat, sebelum tiba-tiba ia teringat apa yang terjadi. Mendadak ia bangun ke posisi duduk—membuat Sasuke terkaget.

"AAAHHH, APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, BAKAAA?" Tiba-tiba saja Sakura berteriak histeris. Ia mengambil bantal besar dan melemparkannya ke arah Sasuke

"A-apa? Hei—" Sasuke berhasil menangkap bantal yang dilempar Sakura. Tapi ternyata bantal kedua sudah mengarah ke pemuda itu, membuatnya terkena lemparan tepat di wajah.

Sakura terus melemparkan benda apapun di sekelilingnya ke arah Sasuke, termasuk sebuah tongkat baseball di samping kasur.

Sasuke yang melihat hal itu membelalakkan matanya. "Kau ingin membunuhku? Hah?" Tapi tongkat itu sudah terlanjur dilempar Sakura, membuat pemuda Uchiha itu harus menunduk agar benda itu tak mengenai kepalanya.

Karena tak tahan lagi, akhirnya Sasuke mencengkeram kedua tangan Sakura, menahannya untuk tidak melemparkan benda apapun lagi. "Berhenti melempariku, pink!"

Sakura balas menatap Sasuke sebal. "Menjauh dariku, ayam! Kau benar-benar tak pun—"

Sakura tiba-tiba diam. Ia tidak bisa membuka mulutnya karena Sasuke sudah memekapkan tangannya di mulut Sakura sehingga celotehannya teredam. "Geez, kau cerewet sekali." Desis Sasuke jengkel.

Sakura benar-benar kesal. Ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang karena kedua tangan dan mulutnya ditahan oleh Sasuke. Tapi gadis itu tidak mau menyerah begitu saja, ia berusaha menendang Sasuke dengan kedua kakinya yang bebas.

Sasuke menggeram frustasi. Ia heran mengapa ada gadis yang berusaha menendangnya untuk menjauh. Padahal ia yakin hampir semua perempuan di sekolah pasti akan merelakan segalanya hanya untuk menggantikan posisi Sakura saat ini.

Tanpa pikir panjang, Sasuke membanting tubuh Sakura ke atas kasur dan menindihnya. Sehingga posisi mereka sekarang Sasuke berada di atas sedangkan Sakura di bawahnya.

Muka mereka sudah sangat memerah karena menahan kesal dan malu. Keduanya bisa merasakan nafas masing-masing, hidung mereka saling bergesekan.

Sakura menatap wajah pemuda di atasnya itu. Ekspresi serius di wajah Sasuke entah mengapa membuat Sakura sedikit salah tingkah.

Damn, he looks so hot.

Sedangkan Sasuke sendiri, ia berusaha bersikap tenang. Sasuke tak tahu apa yang mendorong dirinya untuk tetap dalam posisi itu dan tidak segera beranjak dari atas kasur. Sesaat kemudian ia menemukan dirinya tenggelam ke dalam kolam hijau bening yang adalah bola mata Sakura.

"Ehem!"

Keduanya refleks saling melepaskan diri dan menoleh, mendapati Shizune-sensei yang sedang memandangi mereka. Wanita itu memasang ekspresi geli di wajahnya. Sasuke beranjak dari posisinya di atas kasur, berusaha terlihat tak peduli karena dipergoki seperti itu.

Sementara Sakura, ia bisa merasakan wajahnya sangat memerah sekarang. Jantungnya berdetak dengan kencang dan gadis itu sama sekali tak bisa menyembunyikan ekspresi malu di wajahnya.

Tetapi sebuah suara lembut yang berasal dari belakang Shizune berhasil memecah keheningan canggung di ruangan itu.

"Ne, Shizune-sensei. Apa tidak apa-apa aku beristirahat di sini?"

Wajah Sasuke terlihat menegang ketika mendengar suara itu.

Hyuuga Hinata sedang berdiri di belakang Shizune. Matanya tampak sembab seperti habis menangis.

Tak ingin satu ruangan dengan gadis berambut indigo itu, Sasuke memutuskan untuk beranjak pergi, menghiraukan panggilan Shizune terhadapnya, dan menghilang di balik koridor.

Hinata memandang punggung Sasuke dengan tatapan nanar, ia bisa merasakan matanya kembali memanas. Ternyata cinta pertamanya telah pergi dan memang tak akan kembali lagi.

Sakura menatap Hinata simpati, ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Bukannya ia ingin mencampuri masalah orang lain, tetapi entah mengapa hatinya bisa merasakan sakit yang dialami gadis bermata lavender itu.

Sakura berdiri dari kasurnya. Ia melangkah menuju pintu keluar, melewati Hinata dan Shizune yang berdiri di sana.

Sakura sedikit membungkuk, "Arigatou sensei atas bantuannya. Aku ingin kembali ke kelas saja."

Wanita berambut pendek itu menatap Sakura dengan khawatir. "Apa benar kau sudah sehat, Sakura-chan? Lebih baik kau berisitirahat di sini saja."

Sakura tersenyum menenangkan. "Daijobou. Aku sehat kok."

Tampaknya Shizune kurang percaya dengan pernyataan Sakura, mengingat teman-teman sekelasnya mengatakan jika Sakura menangis dan berteriak histeris sambil memegang kepalanya sebelum dibawa ke UKS. Tapi ia tak memaksa Sakura lebih jauh lagi. Shizune tersenyum lembut. "Kalau ada apa-apa, kau bisa bilang padaku."

"Hai, arigatou sensei."

.

.

Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menatap sebal pada Kakashi-sensei yang sedang mengajarkan trigonometri di depan kelas. Seberapa kalipun ia berusaha memperhatikan penjelasan gurunya, tetap saja kepalanya tak bisa diajak berkerjasama. Naruto menduga, mungkin kapasitas memori di otaknya sudah terlalu penuh dan perlu diformat ulang.

Pemuda pirang itu melirik bangku kosong di belakangnya, tempat duduk Haruno Sakura. Menurut informasi dari Ino, tadi pagi Sakura berteriak kesakitan dan langsung dibawa ke UKS. Mendengar berita ini tentu membuat Naruto sangat cemas. Jika saja ia tak dilarang Kakashi untuk pergi menjenguk Sakura, sudah pasti sekarang dirinya sedang berada di samping gadis itu.

Dan kemana si Sasuke-teme itu? Kenapa dia ikut-ikutan menghilang? Batin Naruto jengkel.

Matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berambut indigo yang duduk di bangkunya—persis di sebelah Naruto. Kedua mata lavendernya terlihat merah dan sesekali terdengar suara isakan kecil dari bibirnya. Mau tak mau hal ini membuat Naruto sedikit jengah juga. Pasalnya, gadis ini pernah mengisi hatinya dan Naruto tentu tak semudah itu melupakannya. Ia ingin sekali menenangkan Hinata dan membuat gadis itu selalu tersenyum.

Sial, apa yang sebenarnya kupikirkan?

"S-sensei,"

Suara serak Hinata membuat Kakashi menghentikan penjelasannya. "Ya, ada apa Hyuuga?"

"B-boleh aku ke UKS? A-aku merasa tak enak badan."

Kakashi mengangguk. "Silakan."

Hinata berdiri dari kursinya, sedikit membungkuk ke arah Kakashi. "Arigatou." Dan berjalan pelan menuju pintu kelas.

Naruto menatap punggung Hinata dengan perasaan khawatir. Tidak seperti biasanya gadis itu bersikap seperti ini. Meskipun Hinata sedih, ia selalu berusaha tersenyum dan tidak pernah terlihat menangis. Sekarang Naruto benar-benar cemas.

"Kakashi-sensei." Naruto mengangkat salah satu tangannya. "Boleh aku ke UKS?"

Kakashi terlihat berpikir sebentar, "Memangnya apa yang terjadi sampai membuatmu ingin ke UKS?"

"A-aku…" Naruto menggaruk-garukkan. Ia berusaha memikirkan alasan yang bagus agar gurunya itu mengijinkan Naruto pergi. Jika ia mengatakan ingin menemani Hinata, pasti Kakashi tak akan mengijinkan—sama seperti saat ia meminta ijin untuk menemui Sakura. "A-aku… um… merasa tidak sehat, sensei." Seru Naruto berpura-pura kesakitan sambil memegang perutnya.

Kakashi menatap Naruto sejenak sebelum berkata tegas. "Tidak."

"A-apa? T-tapi sensei—" Naruto berdiri dari bangkunya,tampak hendak memprotes.

Kakashi menyela, "Tidak, Namikaze."

"Tapi perutku sakit."

"Bertahanlah, kau itu laki-laki."

Naruto cemberut. "Tapi sensei, ini tidak adil. Kenapa Hinata di—"

"Aku tidak menerima protes. Duduklah kembali."

"Tapi…"

"Tidak."

Kakashi kembali menerangkan materi yang sempat tertunda tadi. Naruto kembali mendudukkan dirinya di bangku. Terdengar tawa kecil dari beberapa siswa di kelas, merasa simpati melihat nasib Naruto yang tidak diijinkan Kakashi-sensei keluar.

Naruto mendengus sebal. Ia menyenderkan tubuhnya ke bangku dan melipat tangannya. Pemuda itu menatap Kakashi jengkel, membayangkan kedua tanduk terpasang di kepala gurunya itu.

"Namikaze."

Panggilan dari gurunya membuat wajah Naruto tiba-tiba berubah menjadi cerah. Ia menatap antusias ke arah Kakashi. Apa mungkin sensei akan membiarkanku pergi?

"Ya, sensei?" seru Naruto semangat.

"Kuperhatikan dari tadi kau melamun terus. Mengapa kau tidak maju ke depan dan mengerjakan soal yang kubuat?"

Naruto melotot.

Kakashi tersenyum.

Yang lain tertawa.

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang saaaaanngat panjang.

.

.

Sakura menelusuri koridor yang cukup luas itu. Bertanya-tanya dalam hati kemana Sasuke pergi. Sedari awal dirinya memang sama sekali tak berniat ke kelas. Ia hanya berniat mencari Sasuke dan ingin memarahinya habis-habisan.

Sungguh, Sakura tak berniat untuk menghibur Sasuke atau macam tindakan lain seperti itu. Gadis itu hanya merasa kalau ia belum cukup puas memarahi Sasuke. Pertama, karena Sasuke telah membuat seorang gadis yang menangis. Kedua, karena pemuda itu sudah berani membantingnya. Dan parahnya, mengapa Sakura tampak tak berkutik saat bocah Uchiha itu ada di atasnya?

Menyebalkan.

Hampir semua tempat sudah dikunjungi Sakura, dan ia tak berhasil menemukan pemuda sialan itu. Sempat terlintas di benaknya mungkin saja Sasuke membolos dan sekarang sedang berada di rumah. Tapi segera ditepisnya pikiran itu, karena menurut Sakura pengamanan di sekolah ini cukup ketat untuk tidak membiarkan satu pun siswanya untuk kabur. Eww, terdengar seperti penjara, eh?

Saat ini Sakura sedang berada di halaman belakang sekolah. Ia bisa melihat kelopak bunga sakura yang berguguran dari pohon-pohon besar. Angin berhembus perlahan memainkan kelopak-kelopak itu, menerbangkannya kemudian menghempaskannya perlahan ke tanah.

"Sugoi," bisik Sakura. Ia bisa merasakan aroma bunga yang semerbak. Gadis itu mencoba menyentuh kelopak sakura yang gugur di udara.

Pohon-pohon Sakura berbaris berderet seperti pilar-pilar merah muda yang mempercantik halaman, seolah menemani siapapun yang sedang menikmati keindahan di sana.

Dan Sakura bisa menangkap sosok pemuda yang sedang bersender pada sebuah pohon. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang membelai lembut rambutnya.

Sakura merasa déjà vu akan pemandangan ini. Mengingatkannya pada sosok Sasuke yang dilihatnya kemarin di balik jendela kelas. Padahal peristiwa itu baru terjadi kemarin, tapi kenapa rasanya sudah lama sekali?

Gadis bermata emerald itu berjalan pelan menuju Sasuke, berusaha tidak menimbulkan suara apapun yang bisa membuat Sasuke terbangun. Aneh sekali, padahal sebelumnya ia berniat untuk memarahi pemuda itu, bahkan memukulnya. Tapi kenapa saat dirinya melihat wajah itu keyakinannya menjadi goyah?

Sakura berjongkok di depan Sasuke. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah pemuda Uchiha itu tapi ternyata tidak ada reaksi apapun. Sepertinya Sasuke benar-benar tertidur.

Tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat helai rambut depan Sasuke berantakan menutupi wajahnya. Hal tersebut membuat Sakura tersenyum geli, ia dengan lembut merapikan helai rambut Sasuke. Jarinya tak sengaja menyentuh pipi pemuda tampan itu, menelusuri garis rahangnya yang tegas dan mendadak matanya terpaku pada bibir sang pemuda.

Sial, apa yang kulakukan?

Sakura langsung menjauhkan tangannya dari wajah Sasuke. Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa terbawa suasana seperti itu. Sungguh, Sakura tak mengerti kenapa pemuda tampan itu begitu membiusnya untuk mendekat. Ini benar-benar berbahaya.

Gadis itu berniat kembali ke kelas sebelum sebuah tangan menahannya.

Emerald bertemu onyx.

Sakura menelan ludah gugup.

"Kau mau kemana?"

"A-aku…" Sakura berusaha meminimalisir degup jantungnya. Situasi ini mengingatkannya pada saat gadis itu masih menggilai paras tampan pemuda itu. "Aku ingin kembali ke kelas." Sakura berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang.

Sasuke melepaskan pegangannya dari tangan Sakura, lalu berkata datar. "Duduklah."

Sakura mendudukkan dirinya di samping Sasuke. Gadis itu menekuk lututnya dan menopangkan dagunya di sana.

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Tampaknya tak ada satu pun yang ingin memulai pembicaraan. Keduanya berkutat dengan pikiran masing-masing.

Angin kembali berhembus menemani mereka, seperti mengajak keduanya untuk bermain dan bersenang-senang menyambut sakura di musim semi.

Tak tahan akan situasi ini, Sakura memberanikan diri untuk membuka pembicaraan. Mengingat sepertinya mustahil jika berharap Sasuke lah yang akan membuka mulutnya duluan. Ia menatap pemuda di sebelahnya. "Sejak kapan kau terbangun?"

Sasuke menjawab tanpa menoleh ke arah Sakura. "Sejak kau ingin pergi."

Diam-diam Sakura menghela nafas lega. Berarti Sasuke tidak tahu kalau tadi ia diam-diam menyentuh wajah pemuda itu sehingga dirinya tak perlu bersikap canggung saat berhadapan dengan Sasuke. "Mengapa kau di sini?"

Sasuke mendengus. "Pertanyaan itu juga berlaku untukmu, nona."

Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. "Itu tidak menjawab pertanyaanku."

"Memangnya kau ingin jawaban seperti apa?"

Pemuda ini benar-benar menyebalkan, pikirnya. "Lalu kenapa kau tadi menahanku pergi?"

"Agar aku bukan satu-satunya orang yang akan dimarahi jika ketahuan membolos." Jawab Sasuke enteng. Ia masih tidak menatap gadis di sebelahnya tetapi melihat pohon Sakura di depannya.

"Jadi kau ingin membuatku dalam masalah, begitu?"

"Hn."

Dahi Sakura berkedut jengkel, ia melotot sebal pada pemuda di sampingnya. Ia sudah siap melontarkan segala cacian yang sudah dipersiapkannya saat sedang mencari bocah Uchiha itu. Tapi tiba-tiba saja yang keluar malah sebuah pertanyaan yang tak sempat dipikirnya. "Apa yang terjadi antara kau dan Hinata?"

Sakura membekap mulutnya sendiri. Ia tampak kaget mendengar perkataan itu keluar dari mulutnya. Baka Sakura, ia merutuki dirinya sendiri. Gadis berambut merah muda itu melirik takut pada Sasuke.

Melihat Sasuke yang tak merespon, membuat perasaan Sakura menjadi tidak enak. Ia sadar sudah melanggar batas privasi orang lain. "Gomen ne, kalau kau tak mau menjawabnya juga tidak ap—"

"Aku sudah menolak Hinata."

Kedua mata Sakura membelalak lebar. Sasuke menatap gadis itu heran dengan alis terangkat, tidak ada ekspresi yang berarti di wajahnya.

Butuh sepersekian detik lamanya bagi Sakura untuk mencerna perkataan Sasuke tadi. "APA?"

"Geez, kau berisik sekali." Sasuke menutup sebelah telinganya.

Gadis berambut merah muda itu menatap Sasuke heran. Ia mengoyang-goyangkan bahu Sasuke kencang, memaksanya untuk bercerita. "Apa yang terjadi? Mengapa kau menolaknya Baka?"

Sasuke merasa sedikit pusing karena tubuhnya didorong-dorong oleh seorang gadis yang tak disangka ternyata mempunyai tenaga badak. Ia berusaha melepaskan cengkeraman Sakura pada pundaknya dan menatap gadis itu jengkel. "Kau cerewet sekali. Apa kau memang perempuan?"

Sakura tak menghiraukan ejekan Sasuke padanya. Ia tetap memaksa Sasuke untuk menceritakan perihal masalah cintanya itu. "Ayolah, ceritakan padaku. Kalau tidak akan kubuat satu sekolah mengetahui jika kau sudah menolak Hinata."

Sasuke benar-benar menyesal sudah memberitahu Sakura. Ia sama sekali tak menyangka bahwa gadis itu akan memaksanya seperti ini.

"Baiklah, akan kuceritakan." Sahut Sasuke sambil menggerutu pelan.

Sakura mengangguk antusias. Ia sudah melepaskan cengkeramannya dari bahu Sasuke.

"Aku menolaknya…" Sasuke menghentikan perkatannya. Ia tidak menoleh ke arah Sakura melainkan menatap lurus ke depan. "…karena Naruto."

Sakura melotot kaget. Tiba-tiba sebuah memori terlintas di pikirannya. Semalam dirinya tak sengaja menguping pembicaraan Sasuke dan Naruto. Seingatnya pemuda pirang itu mengatakan kalau ia sudah rela melepaskan gadis yang disukainya itu pada Sasuke.

Sasuke melanjutkan perkataannya. "Naruto juga menyukai Hinata, asal kau tahu."

"T-tapi bukannya Naruto sudah merelakannya padamu?" tanya Sakura heran.

Sasuke mengerutkan dahi bingung, lalu ia menatap tajam pada gadis di sampingnya. "Kau menguping?"

Sakura meringgis tidak enak. "Gomen."

Sasuke mendengus sebal. "Kau benar. Naruto memang mengatakan seperti itu padaku."

"Lalu kenapa kau menolaknya?"

Pemuda itu berpikir sebentar, "Naruto itu sahabatku."

Sakura terdiam.

"Aku tidak ingin bersenang-senang dengan gadis yang disukai sahabatku sendiri." Sasuke menghela nafas. "Itu membuatku merasa seperti… pengkhianat."

Sakura menatap nanar ke arah Sasuke. "Jadi, kau lebih memilih merelakannya?"

"Ya."

Sakura mengigit bibir bawahnya, menahan isakan yang mungkin saja akan keluar. "Hari ini kau berbicara sangat banyak Sasuke."

Pemuda Uchiha itu memutar kedua bola matanya bosan. "Bukankah itu semua karena kau yang memaksaku?"

Sakura tersenyum lembut. "Naruto pasti sangat beruntung memiliki teman sepertimu."

"Jangan memujiku seperti itu. Seperti bukan kau saja." Sahut Sasuke sinis.

Sakura tertawa kecil, ia menatap Sasuke langsung ke arah kedua onyx milik pemuda itu. Mata emerald-nya berkilat jenaka. "Ne, Sasuke. Aku yakin, masih banyak gadis di luar sana yang menyukaimu."

Sakura menghela nafas pelan sebelum melanjutkan "Dan kau tak perlu merelakannya lagi pada sahabatmu."

Sasuke tersenyum tipis.

.

.

TBC

.

.

A/N : Sesuai janji, aku apdet fic ini seminggu kemudian, hehehe :p Gomen kalau Sasukenya OOC, gomen lagi kalau alurnya terasa dipaksakan. Kurang bisa buat romanceee soalnya, huweeee, maaf kalo feelnya kurang dapettt T-T. Aku benar-benar berusaha kok. Entah kenapa aku ngerasa kemampuan nulis aku nurun Padahal ini udah banyak aku edit loh tadi. XD

Dan seperti biasanya, aku udah bikin chapter limanya. Dan makin banyak yang review, makin cepet aku apdetnya. Hehehe :p Oh ya, kalo bisaaaa, setiap review isinya jangan apdet kilat doang ya *dikepruks* Aku pengen tau komentar kalian, bukannya langsung nyuruh aku apdet. Hehe :p gomen kalau ada yang tersinggung *bungkukbungkuk*

Bales review non login dulu ya, yang login silakan cek PM XD

Guest (1) : Updated

Hidan cantik : Makasih reviewnya. Beneran makin menarik? Waaa, aku jadi seneng. XD Aku juga nggak suka buat Saku menderita kok. Kan kasihaaannnn Makasih semangatnya XDD Btw, aku manggil kamu apa nih? :*

Ucucubi : Oke, ini udah dilanjutin kok. Panggil aku Shi aja ya. XD Jangan panggil senpai. Okeee?

Paypaypayah : Makasih reviewnya. Ini udah apdet kok. Udah cepet kaannnn? Hehehe :p Tapi maaf, Hinata masih nongol tuh. Maklum lah, dia kan pasangannya Naruto ntar #spoiler

Fishy ELF : Makasih reviewnyaaaa. Makin keceee? Authornya kali yang kece, bukan fanficnya *dikepruks* hahaha XD Ini udah kilat kaaannn? Kamu panggil aku Shi aja yaaa. Oke Fishy-chaaannnn?

Sora kamamichi : Makasih reviewnya, makasih juga udah dibilang keren, hehehe :p Maaf telah menunggu, ini udah kilat kan Sora-chan?

Guest (2) : Updated

Merin-chan : Makasih reviewnya, makasih juga concritnya. XD Iya niihh, aku lupa nambahin subjek She hehehe :p Ini udah kilat kan, merin-chan?

Alsharf : Updated

Iez ashiya : Wah, makasih reviewnya XD makasih juga udah suka, hehehe :p jadi malu :p Ini udah aku apdet kok.

Makasiiihhhh, banget yang udah review chapter lalu. Aku seneng bacanyaaa, soalnya bikin aku semangat bikin fic, hahaha XD Tolong kasih pendapat kalian di review ya XDD

.

Thanks for reading

.

Shisylia-chan

Minggu, 21 Oktober 2012