Wanita bersurai pink terang itu berjalan tergagap sesaat setelah kakinya menginjak dunia luar. Mulutnya dan nafasnya yang selalu keluar masuk itu di hembuskannya kencang. Terkadang tak lain ia bersin saat angin dingin melucuti tubuhnya.

"Gomen nee, Hima chan.. aku hanya punya syal tipis itu. Lagipula semalam sama sekali aku tak melihat salju turun" tutur pria kopi di sampingnya setengah memperhatikan wanita chibi itu.

Hima menatap pria yang jauh lebih tinggi itu, lalu tersenyum pahit

"Iee, kulitku memang agak sensitif saat udara dingin seperti ini. Tunggu dulu, sesuatu berbunyi..!" Wanita itu menelusuri saku jaket tebalnya membiarkan syal tipis itu jatuh terseret.

Setelah beberapa saat mencari, asal suara yang membuat kedua insan itu terdiam, berhenti. Hima membulatkan matanya, sadar akan apa yang terjadi beberapa saat lalu

Ia menatap Dazai dengan ekspresi yang ambigu serta gerakan tubuhnya yang sama sekali tak berubah...

Dazai pun menatapnya bingung, menunggu penjelasan lebih dari wanita di depannya

"Ternyata, itu suara perutku.. hehehehe"

Pria itu sweetdrop.

Untuk kedua kalinya, ia sama sama ceroboh seperti Ranpo san.

"Donat..."

"Kepiting!"

"Donat, Dazai sensei!"

"Kepiting lebih enak di makan saat cuaca begini"

"Mou!! Pokoknya donat!! Donat itu lebih manis daripada wajahmu! Yosano san, donat 3 karung!"

"Setidaknya aku tampan! Donat kesampingkan, kepiting kaleng itu enak!!!"

"Hanya enak! Tidak bermanfaat!!!"

Pria yang dari tadi bercekcok dengan wanita yang bersamanya kemari itu merasa geram, lalu membuat wajah lucu sebisa mungkin agar siapapun mendengarkannya

Tapi, tidak ada. Semua teman di sekelilingnya, termasuk partnernya sendiri memihak kepada wanita yang tersenyum penuh kemenangan itu.

"Nee, siapapun pasti akan memihakku. Sekarang, Yosano san akan membelikanku donat, betul Yosano san?" Hima menatap seseorang di belakangnya yang berkacak pinggang, lalu menatapnya dengan malas kembali.

"Tidak. Jika kau ingin, gunakan kakimu untuk berjalan lalu membelinya. Aku akan ketoko sebelah dengan Ranpo san. Anggap saja ini hukuman karna telah membuat keributan di pagi hari"

Pria kuning di sampingnya mengangguk, "pergilah bersama Dazai. Ia tau seluk beluk kota ini dengan detail" tambahnya menimpali.

Tak lama setelah pintu ditutup dan menyisakan beberap orang saja di dalam ruangan, Hima memekik

"AHH MOU!!! TIDAK ADAKAH ORANG YANG AKAN MEMBELIKANKU HARAPAN TERBESARKU? AKU JUGA INGIN BELI DONAT, tapi Ranpo nii yang selalu menemaniku. DAN SEKARANG AKU HARUS PERGI DENGAN PENGGILA SEAFOOD INI?!!"

Ia menatap Dazai pelan, sedangkan yang ditatap hanya memunculkan raut wajah kemenangan. Merasa seperti memenangkan lotre kepiting.

"Tidak apa apa kok, Himawari san.."

"...Hima san dee iiyo"

"Hima san... Dazai san tidak akan mengigit kok" potong pemuda bersurai putih dengan poni tidak rata itu.

Bukan makin semangat, wanita bertubuh kurus itu malah semakin malas. Seketika sebuah bohlam memunculkan ide gila di kepalanya. Matanya langsung membelalak, dan mendekati Dazai yang sama sama terkejut

"Kalau begitu..."

Ia menarik tengkuk Dazai dari belakang yang mampu membuat raga itu mundur kebelakang lalu meloncat menaruh kedua kakinya cepat pinggang pria itu.

Ia tersenyum simpul melihat herannya ekspresi orang yang di jahilinya

"...gendong aku sampai ke tempat tujuan, Dazai sensei"

'Bumm bumm! Cepat sedikit'

Sebelum sampai ke toko roti, beberapa komplek dari kantor pusat agency, Dazai yang masih mengambing Himawari dibelakangnya memberhentikan langkahnya tepat di depan salah satu toko yang berjajar di samping kirinya.

Hima yang tadinya tertidur nyenyak di bahu Dazai, terbangun seketika lalu membuka matanya sesekali mengedip. Ia menoleh kesamping dan melihat alasan yang kuat sehingga lelaki ini bisa berhenti tanpa aba aba.

Restoran seafood!

Bingo! Itulah yang pria ini cari dan nantikan beberapa menit lalu. Apalagi melihat keantusiasan Dazai saat pertama kali melihatnya, semuanya bagaikan tak penting lagi baginya. Menyadari hal itu, dan juga di tambah rasa kekesalan pria bermantel coklat ini membangunkan tidurnya, Hima memberontak

"Apa yang kau lihat Dazai sensei?! Tokonya tinggal beberapa langkah dari sini! Tinggalkan kepitingmu itu, donat harus di utamakan!" Ucapnya sedikit memekik.

"Apa yang harus di tinggalkan? Keinginan sudah di depan mata, tak boleh di lewatkan. Tunggu disini ya Hima chan"

Secepat kilat tanpa memerdulikan rasa sakit yang di rasakan wanita itu yang langsung terjatuh menyentuh tanah, Dazai berlari masuk ke dalam restoran dan hilang di tengah keramaian. Tapi begitu kaki polos Himawari menyentuh daratan yang dingin sedikit bersalju,

"KACANG HIJAAUUU!! Dingin!!"

Ia memekik sangat kuat begitu telapak kaki polosnya yang tanpa ada sedikitpun alas di sana menyentuh jalan dalam keadaan dingin. Sampai sampai beberapa orang yang berlalu lalang di sekelilingnya memandang terkejut ke arahnya lalu melontarkan tatapan aneh dan ucapan kahwatir kepada gadis yang sedang heboh sendiri itu.

"Dasar Dazai Osamu sensei! Tak akan kumaafkan kau nanti, awas saja!" Rutuknya pada seorang detektif di dalam sana, seorang maniak kepiting yang sedang tertawa kecil mendengar suara teriakan dewa memanggil namanya.

"Dazai sensei, kenapa tadi tiba tiba melepaskanku hah?! Kau sudah tau kalau kulitku ini sensitif pada dingin, sedangkan kau malah mementingkan kepentinganmu daripada keselamatanku begitu?" Ucap Hima

Sebagai tambahan, dan juga funfact, Hima tak pernah sekalipun memakai sepatu atau sandal. Menurutnya memakai perlengkapan seperti itu hanya akan merepotkannya hingga ia memutuskan untuk memakai kaos kaki saja. Semua tak bisa melawannya, pihak universitas sekalipun tak akan sanggup.

Dari tadi, wanita bersurai pink pudar dengan mantel kuning khas anak sekolah itu merutuki pemuda kopi di hadapan duduknya. Seakan tak ada yang melihat mereka, lelaki itu hanya diam terkekeh menerima semua omelan wanita itu. Lalu akhirnya ia tersenyum manis dan membuka mulutnya

"Hehehe, habis tubuhmu berat sih Hina chan-mmphh!!"

Setelah Dazai mengatakan itu, sejulur tangan kanan Hima yang menggengam donat jumbo memaksa Dazai memakannya dalam satu lahapan. Dazai tampak terkejut dan kewalahan begitu sebuah donat berlapis coklat dan gula di atasnya memasuki mulutnya secara paksa. Seperti tanpa rasa bersalah, Hima kembali ke posisinya dan tersenyum bangga.

"Makanlah itu Dazai sensei. Banyak banyak ya, biar kau cepat gemuk sepertiku. Jadi, kau tak bisa menjelek jelekkanku lagi, khehehe..." tangannya bertumpu pada kedua pipinya, dan wajahnya memasang tampang bahagia. Yah, itu juga salah satu mode kesal Hima yang tampak sebagai senyuman tipis.

Begitu mengunyah dengan susah payah sampai menelannya habis habisan, Dazai mengambil sebotol Mocca latte yang di pesannya tadi lalu menegaknya terburu buru. Dengan rasa puas ia kembali memandang Hima setelah rasa aneh itu menghampiri.

"Aku tidak ada mengolokmu tadi"

"Kau berkata kalau tubuhku gemuk"

"Aku bilang tubuhmu berat hanya itu, hehehe"

"Lihat! Kau tertawa! Terbukti kalau kau sedang menjelekkanku secara tak langsung" ia memarahi pria kopi itu dengan jari telunjuk mengarah tajam ke hadapannya, Dazai. Meskipun tampaknya Dazai mengolok Himawari bahwa ia berat, tapi kenyataannya Himawari hanya mempunyai berat 47 kg dengan tinggi 165 cm.

"Apakah tertawa itu salah? Oh, jangan jangan kau adalah perempuan tsundere yang selalu memarahi lelakinya, heh?" Lengkap sudah, Dazai mengatakan itu dengan seringai tampan di wajahnya. Cukup sudah Hima merasa di rendahkan.

"Ap, apa?! Aku hanya menganggapmu sebagai guru juga sedikit meminjam kata teman, mungkin? Tidak lebih Dazai sensei! Dan aku bukan wanita tsun-de-re!..."

Selama Hima memekik mengklimaks-kan suasana saat itu, beberapa orang di sekitar mereka memandang mereka dengan penuh dugaan positif negatif. Dazai yang menyadari suasana itu hanya bisa tersenyum pahit dan menerima semua ocehan wanita debat dirinya itu. Sebelum benar benar ingin membalas balik semua perkataan Himawari, Dazai melihat suatu keanehan sedang terjadi di sekitar wanita itu. Mata hazelnya menangkap suatu benda yang tak akan seperti itu jika tidak di sentuh atau di pengaruhi sesuatu.

"...Sekarang kau mengertikan Dazai Osamu sensei! Aku bukanlah wanita Tsundere, Yandere atau apalah itu, dan aku tidak aneh! Justru kaulah yang paling aneh disini, Dazai sensei! Manusia tanpa jenis yang mesum!"

"Baik baik, aku minta maaf. Sekarang aku ingin ke toilet sebentar"

"Tunggu! Ahh, dasar Dazai sensei.." Hima sempat untuk berdiri untuk memanggil Dazai yang meninggalkannya begitu saja saat ia sedang berbicara. Lalu ia kembali duduk dengan kesal sampai sampai bersuara berdebum pada kursinya.

Hima tak pernah semarah ini dengan lelaki yang baru di temuinya kemarin. Meskipun kesannya hanya bercanda, tapi Hima hampir tak menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Semua di telitinya hingga pergerakan mulut sang lawan bicara juga di cermati. Mengambil kesimpulan lalu memprediksi semua kemungkinan, sampai menarik tindakan. Tak pernah sekalipun terlewatkan, sama sekali belum pernah. Begitulah Hima, tidak jauh dari kelakuan saudara kandungnya, Edogawa Ranpo.

Ia melipatkan tangannya di depan dada dan meneliti keadaan sekitar dengan mata yang malas sekalipun kesal. Sudah beberapa menit sensei-nya izin ke toilet, tapi tak kembali. Seakan tertinggalkan, ia ingin menyusul Dazai atau pulang kerumah. Sebuah piring kecil dengan satu buah donat di atasnya habis diludes oleh perempuan ini. Dalam satu kali gigitan. Senyumnya merekah saat ia menikmati sensasi senang manis yang di berikan donat itu begitu ia memakannya.

Heaven.. pikirnya

Tapi sebelum rencana pulang kerumah atau apalah itu, netra hijau imitasi Ranpo itu menangkap seuatu yang tak asing lagi tepat di bawah tempat duduk pria yang sedang kosong di depannya.

Sekantong plastik dengan berkaleng kaleng kepiting.

"Hehehe, kau akan menangis nanti Dazai sensei" desisnya dengan penuh licik. Kentara sekali kalau ia sedang ingin menjahili Dazai.

Sekembalinya Dazai dari toilet, ia membawa selembar kertas kecil di tangannya/pliss,bukantisutoiletya. Ia kembali duduk di tempatnya tadi dan melihat perempuan itu tersenyum mekar ke arahnya. Bukannya tak senang, tapi itu sedikit aneh jika begitu terus.

"Ano, Hima chan ada apa? Kau mengakui ketampananku?" Di wajahnya, seringai itu terpampang jelas.

Hima tak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan senyum setia menghiasi wajahnya, kedua tangannya bersetumpu di kedua pipi chabinya.

Dazai menghela nafas. Lalu menyodorkan selembar kertas yang tadi dapatkannya di kasir. Hima langsung membuka matanya besar besar dan terkejut kecil membatu di tempat.

"Ini bill ya lho Hima chan. Aku sudah membayar setengahnya, dan sisanya kuserahkan padamu. Are Hima chan..."

Dazai langsung mengubah raut wajahnya begitu melihat wanita muridnya itu sudah siap berdiri menjauhi kursi dan bersiap berlari meninggalkan toko tersebut. Dengan wajah seperti pencuri yang tertangkap basah, ia menatap Dazai malu malu

"Jika kau mau pergi keluar, kau tidak bisa keluar tampaku lho.. ingat, diluar sana dingin sekali" ucap Dazai mencairkan suasana setelah mengetahui maksud dari Ranpo tadi pagi. Hima sedikit tidak bertanggung jawab. Hanya ingin memakan tanpa harus membayar makanannya. Mungkin itulah alasan Ranpo dan Yosano sensei tadi tidak mengajak Hima.

Apa boleh buat, Hima kembali duduk ke kursi dengan rasa kesal yang kentara. Ia mengerucutkan bibirnya dan memandang area sekitar dengan kesal, sesekali melirik kertas kecil yang di serahkan Dazai itu. Matanya makin memutar malas kala melihat jumlah yang tidak sedikit harus di keluarkan dari sakunya.

Tapi sebuah ide gila menghampirinya. Sebagai rencana sebelumnya dan rasa kesal yang terpendam pada senseinya ini, Hima akan mengatakan suatu hal yang cukup membuat Dazai merasa kesal melebihi dirinya sekarang. Namun belum satu kata di keluarkannya, Dazai mendahuluinya dengan melancarkan bicaranya

"Hima chan kau tau, ada sebuah toko kue di Distrik Hadogaya yang baru bukan seminggu lalu. Di sana ada berbagai macam kue, dan menurut informasiku, toko itu sangat megah hingga mereka buka 24 jam penuh... Hima chan?" Manik chestnut Dazai yang tadi tertutup rapi membuka menghapuskan senyum di wajahnya begitu wanita sebayanya sedang terdiam terpaku di tempat. Tatapannya kosong dan wajahnya sepucat kertas, hampir menyamai salju di luar. Tak lama, salivianya sedikit keluar dari sudut bibirnya.

"Kentara sekali kalau kau ingin pergi ke sana, kapan kapan kesana juga tidak ap-"

"AKU INGIN DAZAI SENSEI!! TIDAK PERLU MENUNGGU LAGI, CEPAT AYO KITA KESANA!! Kesempatan ini tidak boleh di buang percuma. Mimpiku menjadi sweet hunter terkenal sepanjang sejarah harus TERWUJUDKAN!! AYO DAZAI SENSEI!! Rintangan menembus badai saljupun rela ku terjang!!"

Hima langsung memekik keras sekali langsung memotong perkataan Dazai dengan cepatnya. Dengan semangat yang meluap luap, ia berkata memekik keras sambil mengepalkan tangannya keudara dilengkapi matanya yang berkilau berbinar. Dazai yang memandang lurus ke sekitar perempuan itu hanya terdiam dan memasang tampang serius yang dibuat buat. Tingkah perempuan yang di hadapannya kembali lagi mendapatkan perhatian seisi toko tapi kali ini sedikit berbeda. Tidak ada pada wanitanya, tapi pada keadaan sekelilingnya.

"Jika di sana ada doubutsu doonatsu kesukaanku, AKU AKAN MEMBELI SEMUANYA!! Apalagi dengan bentuk panda yang manis, KYAAAA!!! Dazai sensei, sugu ni ikou...(ayo cepat pergi) are?"

Setelah memekik di gelombang pertama tadi, Hima menutup matanya dan melanjutkan memekik kembali seakan akan hanya ada dia di ruangan itu. Tapi beberapa saat setelah teriakan lain terdengar, dan tanpa adanya suara Dazai di pendengarannya, Hima membuka matanya dan melihat keadaan sekitar dengan heran. Wajahnya langsung terasa malu saat Dazai yang sudah beranjak dari kursinya mendekati wanita donat itu.

Beberapa barang termasuk piring, donat, gelas, kursi dan meja sekalipun terbang di udara, melayang layang seperti tiadanya gravitasi yang mengikatnya. Jari jemari Dazai yang penasaran ingin menyentuhnya, bergerak bebas menyentuh sebagian barang yang terbang di sekelilingnya. Beberapa orang yang melihat kejadian itu juga banyak yang berdecak kagum dan tak sedikit yang merasa ngeri dengan kejadian aneh itu. Takut jika salah satu barang itu mengenai mereka.

Himawari yang baru tersadar saat itu, mengedip-bukakan matanya berkali kali dan tersenyum malu setelahnya. Tanpa sadar ia telah menggunakannya dan membuat dirinya begitu bersemangat. Apalagi saat beberapa barang, termasuk setumpuk kepiting kaleng yang tadi di sembunyikan di belakang kursinya pun ikut terangkat. Namun, Dazai yang masih tetap berada di depannya, bersandar pada meja kecil yang menjadi tumpuan mereka berdua tadi, tersenyum rapi sambil tetap memainkan salah satu barang yang melayang di dekatnya.

"Jadi, ini kemampuanmu, Edogawa Himawari san" sambil berkata, ia mendekati wanita di depannya, lalu memegang tangan mungil Hima yang menegang malu dari tadi. Seperti 10 tahun lalu, Hima tak bisa berbuat apa apa selain membeku di tempat. Tepat sedetik kemudian, semua barang yang melayang tersebut jatuh kembali ke lantai meninggalkan suara bedebum. Tetap tersenyum ia meneruskan kalimatnya,

"Saat sedang bersemangat kemampuan telekenesismu bangkit, dan saat sedang malas, kau bisa dengan mudahnya menembus benda padat. Watashi wa machigatte imasu ka?(apa aku salah?)" Intonasi di mainkan, dengan wajah tampannya seringai terbentuk jelas hanya untuk Hima yang membeku merona di depannya.

すべてを読んでくれてありがとうSubete o yonde kurete arigatō(Terimakasih sudah membaca semuanya)Oh ya, doubutsu doonatsu itu adalah donat dengan varian bentuk dan karakter yang berbeda. Biasanya banyak yang berbentuk hewan imut. Kalian bisa cari di google jika ingin tahu.