Title: Unforgotten Wish

Author: CLA

Rated: T

Genre: Romance, supernatural

Pair: Kyuhyun and Sungmin from Super Junior. Possible for slight pair.

Disclaimer: I own the story. God own the casts. I just borrow their name.

Warning: Genderswitch for Sungmin, Ooc, typos, etc. Please do remember this is just a fiction, which means, not real.

.

Kalau saja kau adalah murid baru dan melihat di balik tembok bata di sisi kanan gerbang sekolah sana, kau pasti akan mengira ada seorang maling yang sedang mencoba kabur dari sekolah.

Tapi semua berbeda ketika kau sudah menetap sekian lama di sekolah, apalagi benar-benar sangat tertarik dengan bidang kesenian. Nama Lee Sungmin tak pernah tak tersebut oleh warga sekolah mana pun. Keahliannya yang murni bakat terhadap bidang seni yang ia pelajari secara otodidak bukan lagi topik pembicaraan baru bagi warga-warga sekolah.

Dan ya, benar, gadis yang disebutkan itu lah yang sedang mengendap-ngendap di balik tembok bata.

Keadaan sekolah yang sudah sepi membuat Sungmin merasa lebih leluasa untuk bertingkah aneh. Entah ia mengendap di balik tembok, berguling di rumput, goyang itik, atau mungkin salto di depan pos satpam, tak akan ada yang membicarakannya, jadi ia tak perlu merasa malu.

Dan jika Sungmin bilang sepi, itu berarti benar-benar tidak ada lagi orang.

Oh.

Kecuali satpam, guru, atau petugas kebersihan.

Sungmin menggigit bibir dan menyembulkan kepalanya dari balik tembok, mengintip jalan raya. Tak jarang Sungmin menoleh ke belakang, atau kearah mana pun jika ia mendengar suara. Pendengarannya menjadi sangat sensitif, hingga suara angin pun dapat ia dengar. Sesekali Sungmin melihat jam tangannya dan menghela nafas.

Seperti biasa, kesenangan Sungmin terhadap seni membuatnya lupa waktu, apalagi jika ada tugas dari guru. Seharusnya tugas lukisan art nouveau berwarna yang baru diberikan guru Shin pagi ini dikumpulkan 2 minggu yang akan datang, tapi karena keasyikan, Sungmin malah menyelesaikannya hari ini.

Bagus sih, tugas Sungmin jadi berkurang.

Tapi efek sampingnya ia pulang telat.

Lagi.

Sungmin menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia ingin pulang, tapi kesulitan mencari angkutan umum agar lebih mudah untuk membawa kanvas 100x80 cm-nya. Jika ia tinggalkan kanvasnya di sekolah, kemungkinan besar hasil karya-nya di rusak walau tak sengaja, atau yang lebih parah bisa saja ada yang mencurinya dan meng-klaim lukisannya. Bukannya Sungmin merasa lukisannya memang sangat bagus atau bagaimana, tapi Sungmin memang pernah mengalaminya dan kejadian seperti itu terjadi tak hanya sekali.

Dan apa yang guru Sungmin katakan saat ia melapor?

"Biar saja orang itu mengambil lukisanmu. Kan dia yang rugi sendiri nantinya. Lagipula dengan begini kau bisa membuat karya baru yang lebih baik kan?"

Sungmin menghela nafas. Memang dasar manusia-manusia berseni. Hidupnya serba santai dan tidak terlalu peduli. Salah Sungmin juga sih, tidak bisa mempertahankan tuntutannya lebih lanjut. Padahal kalau Sungmin bisa menuntut dengan alasan hak cipta atau apalah, mungkin saja si pencuri lukisan itu akan di tangkap dan kemungkinan di drop out. Tapi ya sudahlah. Biarkan saja yang sudah berlalu.

"Oh iya! Aku harusnya mencari kendaraan!"

Untuk yang terakhir kalinya Sungmin mengecek sekelilingnya, memastikan jika lingkungan sekitarnya bersih dari keberadaan Cho Kyuhyun yang katanya akan menjemputnya hari ini. Kalau bisa, ia mendapat taksi atau bus secepatnya sebelum bayangan Kyuhyun muncul di hadapannya. Biar lah ia dibilang jahat. Dia kan tidak menyatakan janji akan pulang bersama artis tenar itu. Berarti jika ia meninggalkan Kyuhyun bukan salahnya dong?

"Ah!" Mata Sungmin berbinar saat melihat sebuah taksi yang mulai melintas dari kejauhan. Tangannya terangkat, mulutnya terbuka dengan sudut bibir yang melengkung ke atas. Harapannya untuk tidak bertemu Kyuhyun ternyata terwujud!

"Taksi! Taksi!" Tangannya melambai. Kebetulan lampu di atas taksi itu menyatakan tak ada penumpang, membuat Sungmin semakin bahagia. Tak sampai satu menit, taksi itu terparkir di dekat Sungmin. Tanpa berpikir panjang, Sungmin langsung duduk di kursi belakang taksi sambil bernyanyi.

Dan nyaris mati saat melihat Kyuhyun sedang duduk dan tersenyum di sebelahnya.

"Jalan, pak!" perintah Kyuhyun. Sungmin menganga, wajahnya syok dan sangat priceless. Apa-apaan ini? Jelas-jelas lampu di taksi itu menyatakan tidak ada penumpang!

"Y-yah! Siapa yang menyuruh jalan!?" Sungmin memukul-mukul kursi si supir. "Pak, tolong turunkan sa-"

"Jalan saja terus pak! Sepupu saya yang satu ini memang rewel kalau disuruh pulang ke rumah." Kyuhyun beralasan, membuat supir taksi yang awalnya kebingungan ingin mendengar perintah siapa, jadi percaya kepadanya.

"Hah? Siapa yang- HIYAAA BRENGSEK! LEPASSSS!" Sungmin meronta saat Kyuhyun memeluk erat dan membenamkan kepala gadis itu ke dada-nya, secara tidak langsung membekap mulut Sungmin. Etika Sungmin menguap entah kemana.

"HMPHHH! HMMPPHHH!"

"Sshtt! Kita pulang ke rumah oke? Kasian ahjumma dan ahjussi khawatir karena kau kabur."

'Sialan, dasar penipu!'

Sungmin terus meronta dan memukul-mukul Kyuhyun hingga akhirnya ia tersadar kalau ia hanya membuang-buang tenaga dan akan capek sendiri karena hingga sekarang Kyuhyun masih tidak merasa kesakitan. Pada akhirnya Sungmin menyerah dan hanya bisa terduduk pasrah dengan keadaan setengah tubuhnya dipeluk Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

.

Dijamu dengan 2 slice kue tiramisu dan sebotol besar cola tak mengubah fakta bahwa suasana hati Sungmin masih tidak berubah. Yang ada, gadis itu semakin kesal.

Sialan, dia mau membuatku gendut ya?

Dengan penuh kesal, Sungmin menusukkan garpunya dan mengambil slice terakhir dari kue tiramisu yang Kyuhyun hidangkan secara pribadi. Mulutnya terbuka lebar dan dalam 2 gigitan besar, kue itu lenyap. Garpu ia letakkan kembali dengan kasar di atas piring asal Yunani yang Kyuhyun gunakan untuk menjamunya hingga menyiptakan dentingan keras, membuat Kyuhyun mengernyit ngeri takut-takut piringnya pecah di tangan Lee Sungmin.

Sungmin menuangkan cola untuk yang kesekian kalinya dan langsung menenggaknya seperti tak ada hari esok. Hal yang sama ia lakukan berulang-ulang, hingga isi botol itu tersisa tak sampai seperenam-nya.

Peduli setan tentang gendut. Dia sedang kesal!

Kyuhyun menenggak ludah. Ia tak pernah melihat master-nya sampai seganas ini, dan ia seratus persen yakin di keluarga Sungmin tak ada yang sampai bertingkah seperti ini. Mungkin ayah Sungmin melakukan hal yang sama, tapi bedanya ayah Sungmin akan lebih memilih air putih ketimbang cola atau apapun dan tak akan berani merusak gelasnya.

"Sungmin"

"Apa?!"

"E... uh..." Kyuhyun menggaruk kepalanya gugup. "Soal tadi, aku-"

"Minta maaf?" sela Sungmin dengan nada yang menusuk. Kyuhyun menganggukkan kepalanya, matanya melirik kemanapun selain Sungmin. Kyuhyun lalu berdeham dan dengan berat hati mengangkat kepalanya, mempertemukan tatapannya dengan tatapan Sungmin yang kesal. Ia menarik nafas dalam-dalam, rasa takut akan penolakan menghantuinya.

"Iya, jadi aku mau... minta maaf. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk... ehm..."

"Menculikku?"

"E-eh? Ah iya, menculikmu seperti tadi." Kyuhyun lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, cengiran kecil terbentuk di bibirnya karena perasaan tidak enak. Matanya kembali melirik ke arah lain karena penggunaan kata yang Sungmin sarankan membuatnya merasa tidak enak.

"Kau kira memaafkan tindakanmu itu mudah? Aku bisa menuntutmu atas tindakan pelecehan dan penculikan, tau?!" sembur Sungmin. Kyuhyun lagi-lagi menghela nafas, alisnya bertaut. Entah mengapa hari ini Sungmin terdengar sangat galak, tapi di sisi lain Sungmin bisa tiba-tiba saja tersenyum sendiri. Mood swing-nya parah, lebih parah daripada biasanya. Apa jangan-jangan Sungmin mendadak gila karena masih syok atas kejadian barusan? Atau jangan-jangan diam-diam Sungmin mengidap penyakit bipolar?

"Oke, oke, aku minta maaf oke?" Kyuhyun mengucap pasrah. Sangat pasrah. "Aku tidak bermaksud untuk... yah, menculikmu. Aku memang kebetulan saja bermaksud menjemputmu menggunakan taksi karena mobilku sedang di pinjam manager. Tapi mengingat kau suka lari kalau bertemu denganku, aku jadi kepikiran untuk... membawamu paksa tanpa penolakan." Kyuhyun menggigit bibirnya. Sial. Ia berasa seperti kriminal.

"Tuh kan! Kau memang tidak bermaksud baik!" Sungmin memukul meja, refleks.

"Kau juga berniat kabur kan?"

"E-eh?"

"Rencanamu sangat terlihat Min. Dan aku tidak mau kau melepas janji-mu begitu saja!"

"Tapi aku tidak janji dengan-mu! Kau yang mengambil keputusan sendiri!"

"Tapi kemarin kau tidak keberatan!"

"Itu kan karena- Ah! Sudahlah!" Sungmin bersedekap dada, kaki kanannya bertumpu di atas kaki kiri, punggungnya menyandar di sofa dan ia membuang muka. Nafasnya cepat dan tidak beraturan, pengaruh terbawa emosi. Kelihatan sekali ia kalah telak dalam perdebatan bodoh ini. Kyuhyun sendiri menggembungkan pipinya dan berkacak pinggang. Ia benar-benar terkejut melihat tingkah Sungmin yang seperti ini, karena benar-benar sangat tak terduga. Apa pubertas membuat Sungmin yang ia kenal sangat baik dan cengeng menjadi menyebalkan seperti ini?

Diam-diam Sungmin sesekali mencuri lirik ke Kyuhyun. Ia melihat bagaimana laki-laki itu menghela nafas untuk yang kesekian kalinya dan kembali ke dapur. Sungmin kembali membuang pandangannya saat melihat Kyuhyun kembali dari dapur, membawakan semangkuk es krim dan 2 bungkus coklat batangan disertai segelas air putih. Dentingan beling beradu dengan meja kayu dapat ia dengar dengan jelas, begitu pula dengan suara Kyuhyun.

"Ini. Makanlah. Makanan manis bisa membuat mood-mu membaik."

Sungmin mengernyit. Ia menatap hidangan Kyuhyun dan mendengus. Apa Kyuhyun benar-benar ingin membuatnya jadi gemuk? Sekali dua kali Sungmin masih tidak mempermasalahkannya. Masalahnya Kyuhyun memberinya makanan manis berkali-kali terhitung sejak kemarin hingga hari ini.

But, oh well.

Tetap saja tangan Sungmin yang tak bisa menolak godaan makanan manis dengan tangkas menyambar seluruh makanan itu.

.

.

.

.

.

.

.

"Huhu..." Sungmin tak tahan untuk mengeluarkan suara dramatis. Tubuhnya meringkuk (menyebabkan rok selutut-nya tersingkap, tapi Sungmin memakai celana pendek di baliknya, jadi peduli amat), tangan kanannya mencengkeram lengan sofa sementara tangan kirinya memegang perut.

Kejadian ini telah berlangsung sekitar kurang lebih se-jam, membuat Kyuhyun mengernyit khawatir. Berkali-kali Kyuhyun menanyakan apa Sungmin tidak apa-apa dan gadis itu selalu menjawab iya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 dan langit sudah berubah menjadi hitam, Kyuhyun semakin khawatir karena seharusnya Sungmin sudah pulang sekarang.

"Min, kau benar-benar tidak apa-apa? Mau kubawa ke rumah sakit saja?" Pertanyaannya di jawab dengan gelengan Sungmin, membuat Kyuhyun semakin bingung. Setelah lama bergulat dengan batinnya sendiri, Kyuhyun akhirnya berjongkok di hadapan Sungmin, membuat tinggi wajah mereka setara.

"Min," panggilnya lembut. "Aku minta maaf kau jadi sakit begini karena aku. Padahal seharusnya kita berkeliling untuk melihat barang apa saja yang cocok sebagai dekorasi, tapi karena aku, kita malah jadi membuang waktu disini."

"T-tolong ambilkan ponselku."

Kyuhyun mengangguk dan langsung mengambil ponsel Sungmin dari dalam tas-nya lalu memberikannya pada Sungmin. Gadis itu langsung mengutak-ngatik ponselnya cepat dan menunggu sebentar (Kyuhyun yakin Sungmin sedang berkirim pesan) lalu kemudian meletakkannya kembali di lantai. Ia mengerucutkan bibirnya.

"Eomma marah karena aku pulang malam dadakan."

Kyuhyun hanya bisa mengerjap, tak tau harus menanggapi apa. Sungmin yang sepertinya baru sadar kalau ia 'laporan' juga mengerjap-ngerjap, lalu segera mengganti topik pembicaraannya. "Eh... uh..." Sungmin menatap sofa yang ditidurinya, tak berani menatap Kyuhyun. "Kau ada kompresan?"

"Hah?"

"Kompresan. Kalau bisa air hangat. Ada?"

Kyuhyun mengernyit. "Untuk apa?"

Sungmin menggigit bibirnya, rona merah terlihat sangat samar di pipinya. "Y-yah, pokoknya kalau kau punya ambilkan saja!"

"O-oke." Kyuhyun langsung berlari ke dapur dan membawa barang yang diminta Sungmin. Gadis itu langsung duduk dan dengan perasaan amat berat, ia meletakkannya di sekitar perut, membuat Kyuhyun semakin bingung.

"Kau sakit perut? Kau tidak bisa makan banyak es ya?" Kyuhyun terdiam, lalu mulutnya membulat, matanya terbelalak. "Atau jangan-jangan kue-ku sudah basi! Kau tidak keracunan kan?"

Kyuhyun bisa merasakan kepalanya di jitak. Ia memegang kepalanya dan hendak memprotes, namun malah bungkam karena melihat wajah Sungmin yang memerah.

"Kau demam? Kau kenapa sih?! Daritadi sakit tidak berhenti-henti!"

Dari apa yang Kyuhyun dengar, sepertinya Sungmin menjawab pertanyaannya, namun suaranya terdengar kecil, sangat kecil, lebih terdengar seperti bisikan, sehingga Kyuhyun tak bisa mendengar jelas apa yang diucapkannya.

"Hah? Apa?"

Sungmin mengembungkan pipinya kesal. "Monthly guest Kyuhyun, MONTHLY GUEST AAAAHHHH BRENGSEEEKKKK!" Sungmin membenamkan kepalanya ke bantalan sofa, "Aaahhhh mau ditaruh mana mukaku membicarakan hal seperti ini dengan cowoookkk!" Walau suara Sungmin teredam bantal, Kyuhyun masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Kyuhyun masih mengernyit tak mengerti. Ia terdiam beberapa saat, mencerna apa yang Sungmin maksud. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali saat mulai menangkap apa yang Sungmin maksud. Mulutnya membulat. Setidaknya, apa yang ia pikirkan seharusnya sama dengan apa yang Sungmin pikirkan.

"Oh!" Kyuhyun menjentikkan jari. "Kau sedang-"

"JANGAN DISEBUT!" Sungmin menunjuk Kyuhyun, wajahnya terangkat dan terlihat sekali lebih merah dibanding sebelumnya. "Aaahhh! Aku mau pulaaaannngg!"

Sudut bibir Kyuhyun sedikit terangkat, semakin lama semakin lebar, hingga akhirnya ia terkekeh dan tertawa.

"Oh pantas saja mood swing-mu mengerikan!"

Dan tawa Kyuhyun lenyap bersamaan dengan wajah tampannya yang terhantam bantal.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu berlalu sejak kejadian paling bersejarah Sungmin berlangsung. Malam itu Sungmin di antar pulang oleh Kyuhyun setelah manager-nya mengembalikan mobil dan gadis itu meminta Kyuhyun untuk menjaga jarak dengannya selama seminggu penuh karena rasa malu. Kebetulan jadwal Kyuhyun sedang padat, membuat mereka lebih mudah untuk tidak bertemu. Sungmin sangat senang karena tidak ada yang mengganggunya lagi walaupun sebenarnya ia juga merasa agak sedikit kesepian. Sedikit. Mungkin karena tidak ada yang mengejutkannya lagi.

Selain Ryeowook.

"Sungminnnn!" Ryeowook merengek, buku sketsa-nya di kesampingkan, "Ayolah~ jangan marah dong, aku kan cuma bercanda~ ya? Ya? Ya?" Gadis bawel itu sengaja memeluk Sungmin erat, sangat erat, sampai Sungmin akhirnya sesak nafas dan menyerah.

"Oke, oke, tapi lepasssss! Kau mau aku mati ya?"

"Sebenarnya sih iya." Ryeowook melepas pelukannya. Melihat Sungmin yang menatapnya seakan melihat UFO lewat, Ryeowook memutar bola matanya. "Oh ayolah Ming, aku kan cuma bercanda!"

Sungmin berdecih. "Kok bisa sih aku berteman denganmu."

"Bisa dong!" sahutnya semangat, "Kekuatan Ryeonggu! Muehehehe." Sungmin memutar bola matanya. "Ya, ya, terserah apa katamu."

"Oke, jadi," Ryeowook kembali duduk dan mendempetkan dirinya ke Sungmin, "tebakanku benar kan? Kan? Kan? Kaaaannn?" Ryeowook mengerucutkan bibirnya saat melihat Sungmin yang tak merespon dan memilih fokus ke sketsa pemandangannya. Tangan jahilnya memukul kepala Sungmin, cukup membuat Sungmin menanggapinya dengan pelototan mata.

"Apa?" Ryeowook berkata seakan tak bersalah.

"Apa?" Sungmin menantang balik.

"Yah! Sungmin seriuuuuus! Lama-lama aku lapor ke Yeye nih!"

"Lapor saja sana! Aku tidak takut sama kakak sister complex-mu!"

"Enak saja! Sekarang kita officially pacaran, bukan kakak adik lagi, tau!"

"HAH?!" Kali ini gantian Sungmin yang kaget dan penasaran. Buku sketsa-nya ia letakkan di samping. "Serius?"

"Iya, serius!"

"Kok bisa?"

"Bisa dong, tapi kau harus cerita juga! Kan aku yang duluan nanya! Lagian kita kan best friend masa tidak sharing sih?"

Sungmin menenggak ludah. Memang dasar Sungmin mudah di umpan, mendengar hot news dari Ryeowook, gadis itu pun tanpa berpikir panjang langsung menceritakan peristiwa mengenaskan yang dialaminya. Dan memang dasar bawaannya bawel, Ryeowook juga membabarkan cerita-nya.

"Oke, kita sama-sama impas."

Ryeowook masih memegang perutnya, kepalanya menempel dengan meja. Sungmin menatap Ryeowook bete saat gadis yang sedang mengontrol tawa-nya itu tiba-tiba tertawa lagi, bahkan lebih histeris daripada sebelumnya, hingga suaranya tawanya tak terdengar dan mengambil nafas saja terlihat sulit. Sungmin menghela nafas.

"Memang seharusnya dari awal tidak kuceritakan padamu Wook."

Ryeowook masih tak berhenti tertawa, gadis itu menunggu beberapa saat hingga tawanya mereda. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menggigit bibirnya setiap kali mulai membentuk senyuman.

"Aduh perutku sakit."

"Ketawain orang terus sih!"

"Habisnya lucu sih! Ya ampun Min, kayaknya kita harus sering-sering foto bareng deh! Kamu sudah mem- follow semua akun SNS ku belum? Jaga-jaga mana tau kamu mendadak tenar."

"Tenar karena banyak haters mungkin iya."

"Jangan pesimis begitu dong!" Ryeowook merangkul pundak Sungmin, "Tapi aku gak kebayang sih, bisa sampai begitu di depan artis tenar hahaha. Sampai sifat pemalu-mu nyaris hilang dan image anak sopan-mu juga ikutan hilang. Kalau hubungan kalian begini terus, aku rela deh kalian berteman!"

Sungmin berdecak dan menarik rambutnya frustasi. Mengingat image-nya sudah rusak di mata Kyuhyun, berarti ia bisa menolak Kyuhyun tanpa basa-basi lagi dong? Tapi nanti dia merasa tidak enak. Lagipula, dengan ia marah-marah ke Kyuhyun bukan berarti sifat pemalu-nya hilang. Sifat pemalu-nya hanya tertelan emosi saja, yang berarti-

"AHHH AKU PUSINGGGG!" Sungmin tiba-tiba menjerit, membuat Ryeowook yang baru saja menatap dramatis langit dan melamun tersentak kaget. Untung saja mereka hanya berdua di taman, kalau tidak Ryeowook yakin Sungmin bisa nangis berhari-hari karena merusakkan image sendiri di depan banyak orang.

"Jangan-jangan aku bipolar? Jangan-jangan aku ada masalah kepribadian? Jangan-jangan aku beneran sakit jiwa?" Sungmin mengoceh sendiri, membuat Ryeowook tercengang, karena tidak biasanya Sungmin se-gila ini. Tangannya yang melingkar di pundak Sungmin perlahan turun, turun, hingga akhirnya kembali ke pangkuan Ryeowook. Gadis itu menggeser tempat duduknya perlahan, menjauhi Sungmin, karena ia yakin Sungmin pasti akan-

PHAK!

"YAAAHHH!" Ryeowook setengah menjerit, tangannya mengusap-ngusap rok-nya dan menepuk-nepuknya pelan. Tidak mungkin kan Ryeowook membuka rok-nya hanya untuk mengusap paha-nya yang sakit dan sudah dipastikan merah karena pukulan bertenaga Sungmin?

"Ryeonggu~! Aku sudah mau gilaaa!"

Nafas Ryeowook memburu. Gadis ini akhirnya kehabisan kesabaran. Menarik nafas dalam-dalam, Ryeowook membuka mulutnya yang siap menyembur Sungmin kapan saja.

"AKU YANG BISA GILAAAA!"

.

.

.

.

.

.

.

Kyuhyun mengorek telinganya. Ia celingukan saat mendengar samar teriakan yang terdengar sangat frustasi dari sekolah di depannya. Alisnya bertaut. Apa ia yang salah dengar, atau memang ada yang berteriak? Karena bukan sekali saja Kyuhyun mendengar teriakan, dan ia sangat yakin teriakan itu bukan berasal dari orang yang sama.

"Hei," Choi Siwon, manager-nya menoyor kepalanya, membuat Kyuhyun hampir terjungkal ke samping. "Mau sampai kapan kau berjongkok di belakang semak-semak begitu?"

Kyuhyun mengusap kepalanya dan mendongak, menatap Siwon kesal. "Ini namanya sedang bersembunyi, Siwon."

"Etika, Kyu. Aku lebih tua dari-mu."

"Bodo."

Siwon menggeleng-gelengkan kepala. "Katakan, apa yang bisa dikatakan bersembunyi dari berjongkok di balik semak-semak yang bahkan tingginya tak lebih dari sepanjang penggaris 50 senti?"

"Badan-ku kan kecil imut-imut gitu." Kyuhyun menyengir. Siwon menatapnya jijik. Kyuhyun memutar bola mata dan berdecak, "Ayolah, aku sedang bercanda. Kalau badanku kecil, produk mana yang meminta-ku untuk jadi modelnya? Produk minuman untuk percepatan pertumbuhan?"

"Apa kata-mu lah." Siwon menenggak minuman botol yang sedari tadi ia bawa dan melirik Kyuhyun, lalu mengangkat botolnya. "Mau juga?" Ia menaikkan sebelah alis matanya.

"Ihhh, tidak ada yang baru?"

"Kyu, tolong di-ingat. Tidak ada yang bilang aku sudi sharing satu botol dengan orang asing." Siwon kembali ke mobil-nya yang terparkir jauh di dekat perempatan atas permintaan Kyuhyun. Tak lama, ia kembali deng an sebuah botol baru dan melemparnya ke Kyuhyun tanpa peringatan. Dengan instingnya, Kyuhyun menangkap botol itu dengan nafas memburu. Ia mendesis, agak kesal dengan bagaimana Siwon tidak memperingatinya. Bagaimana kalau botol itu mengenai kepalanya keras?

"Nice catch." puji Siwon, "Refleks-mu semakin membaik."

"Terima kasih. Tapi tolong lain kali berikan dengan cara yang lebih normal." Kyuhyun membuka tutupnya dan menenggak isi botol itu hingga tersisa setengah, lalu menatap Siwon. "Ehm... Kau masih ada?"

"Di mobil masih banyak."

"Oke." Kyuhyun melanjutkan minumnya hingga habis, lalu memegang botolnya yang sudah kosong. "Jam berapa sekarang?"

Berkacak pinggang, Siwon menatap langit dari balik kacamata hitam-nya. "Jam setengah 3." Lalu kembali menatap Kyuhyun. "Sepertinya."

Kyuhyun mendongak dan menatap Siwon heran. "Sepertinya?"

"Well," Siwon mengendikkan bahu. "Aku juga tidak tau tepatnya jam berapa. Lihat? Aku tidak bawa jam tangan" Siwon mengangkat kedua pergelangan tangannya sebagai bukti, "dan ponsel." Ia menepuk-nepuk kantung celana-nya yang datar.

"Ponsel-ku di mobil dan aku juga malas mengambil-nya." Kyuhyun berdiri dan memegangi punggungnya yang sakit karena terlalu lama berjongkok. Ia meregangkan otot dan tulangnya, hingga suara tulang memetek terdengar cukup keras.

"Aduh kesemutan." Kyuhyun menghentak-hentakkan kakinya, berharap kesemutannya hilang. "Aku tidak mengerti kenapa di drama orang-orang bisa menguntit seperti ini. Aku menyerah."

Ia lalu bersedekap dada, melakukan aksi yang sama seperti Siwon. "Sebentar lagi dia pasti keluar. Seharusnya."

Siwon menolehkan kepala, sedikit menurunkan kacamata dan menaikkan sebelah alisnya. "Seharusnya?"

"Ya, seharusnya. Kalau ia tidak pulang telat lagi."

Siwon membulatkan mulutnya, kacamatanya kembali di naikkan dan ia kembali menatap gedung sekolahan. "Oh."

"Oh iya Kyu."

"Hm?"

"Aku hanya ingin memperingatkan. Aku tak peduli kau mau mengejar orang untuk dijadikan pacar atau apapun, asal-"

"Jangan sampai ada skandal dan merepotkan perusahaan, iya, aku tau. Kau sudah beribu kali mengucapkannya. Nah, itulah gunanya kau disini."

Siwon menegakkan tubuhnya, kacamatanya ia lepas, matanya menatap Kyuhyun tak yakin. "Maksudmu?"

"Kau menjemputnya!"

"Lalu dia ikut dengan kita?"

"Yup!" Kyuhyun menjentikkan jari. "Kau tidak mau kan terjadi keributan karena aku menjemputnya di tengah keramaian? Dia sudah janji mau membantuku dekor rumah. Ah!" Kyuhyun memukul lengan Siwon, tersenyum lebar dan menunjuk dengan dagu-nya, "Itu dia!"

"Kau lihat satu-satunya anak yang membawa kanvas itu?" Kyuhyun menunjuk ke depan, dijawab dengan gumaman Siwon. "Nama-nya Lee Sungmin. Aku tak tau pasti dari kelas yang mana, yang jelas," Kyuhyun mendorongnya ke depan, membuat Siwon nyaris tersandung kakinya sendiri. "Jemput dia kesini." Kyuhyun tersenyum sangat lebar dan membuat gerakan tangan mengusir. "Go! Go!" ia menyemangati dengan tidak tau diri. Siwon menghela nafas dan mengurut dada, mencoba bersabar menghadapi tingkah Kyuhyun yang seenaknya.

Kyuhyun bersedekap dada dan terus mengawasi pergerakan Siwon. Ia tertawa kecil saat melihat Siwon yang kebingungan dan terus mondar-mandir, sepertinya memikirkan bagaimana cara berkomunikasi dengan Sungmin. Kyuhyun menaikkan alis matanya saat hampir semua putra dan putri menatap Siwon penuh kagum. Bukan pemandangan baru sih sebenarnya. Yah, Siwon sendiri memang tampan dan lebih cocok menjadi artis daripada manager. Dan sepertinya ada beberapa murid juga yang sadar siapa itu Siwon.

Lebih baik kau bergerak cepat, Siwon.

Kyuhyun tersenyum lebar saat Siwon bertemu dengan Sungmin dan mengajak gadis itu ikut bersamanya. Sungmin membungkuk dan tersenyum manis, perlakuan yang tidak pernah gadis itu berikan saat mereka pertama kali bertemu. Kyuhyun memanyunkan bibirnya, merasa perlakuan Sungmin tidak adil.

Sungmin mengernyit dan melihat kearah Kyuhyun 'bersembunyi'. Kyuhyun langsung menegakkan badannya saat menangkap arah pandangan Sungmin. Gadis itu terdiam sebentar, keningnya agak mengernyit. Dia pasti sedang berpikir-pikir apakah harus menerima ajakan Siwon atau tidak.

Ayo Siwon, kau harus bisa membawanya kemari!

Kyuhyun bisa melihat bagaimana Siwon terus meyakinkan Sungmin dan membuat Sungmin menggaruk lehernya ragu. Suara 'yes' dengan Kyuhyun yang berjingkrakan terdengar saat Sungmin menganggukkan kepalanya. Kyuhyun langsung membenarkan caranya berpakaian, kali saja berantakan. Tak lupa ia menyisir rambut dengan jarinya dan berdeham, lalu memasang ekspresi yang sekiranya enak dilihat dan terkesan agak elegan.

"Hai." Kyuhyun melambaikan sebelah tangannya, yang hanya dibalas dengan senyuman Sungmin. Kyuhyun mengernyit. "Kenapa kau menjadi diam lagi? Bukannya kemarin itu kau- mphh!"

Kalau saja tidak ada Siwon di belakangnya, Kyuhyun pasti sudah tertawa besar. Ia melihat bagaimana gadis itu menutup mulutnya dengan wajah memerah dan ekspresi memohon untuk tidak mengungkit perilakunya sebelumnya.

"A-aku kenapa?" Sungmin pura-pura bodoh. Kyuhyun melepas tangan Sungmin yang membekapnya dan dengan lembut menurunkannya, tapi tidak melepas pegangan tangannya pada Sungmin. Ia membuka mulut, lalu menyeringai. Mengerjai Sungmin sepertinya merupakan mainan baru-nya, karena jujur saja, asik.

"Siapa ya yang minggu lalu- UGH!" Kyuhyun membelalakkan matanya, alisnya bertaut, bibirnya ia gigit sekuat-kuatnya, tapi tak sampai berdarah. Ia menahan diri agar tangannya tak mencakar atau bisa jadi, meremukkan tangan Sungmin yang sedang ia pegang.

Sungmin tersenyum memaksa, wajahnya puas melihat reaksi Kyuhyun. Kakinya masih menginjak kaki Kyuhyun, dan ia semakin menekan kakinya agar Kyuhyun semakin menderita. Salah sendiri Kyuhyun berani macam-macam dengannya.

Di belakang Sungmin, Siwon membulatkan mulutnya. Mungkin Sungmin mengira ia sedang tak memperhatikan mereka, namun Siwon melihat dengan sangat jelas bagaimana kaki Sungmin menginjak kaki Kyuhyun dengan tenaga yang tak bisa dibilang main-main. Sebagai orang yang hobi melihat pertandingan bela diri, Siwon bisa menebak seberapa sakitnya kaki Kyuhyun yang diinjak.

Siwon berdeham, membuat Sungmin menarik kakinya dan melepas paksa genggaman Kyuhyun. Ia membalik badan dan memasang wajah polos dan senyum manis seakan ia tak pernah melakukan apa pun, sementara Kyuhyun mendesis dan mengelus kakinya yang diinjak dengan kakinya yang lain.

"M-maaf membuat menunggu lama karena ada sedikit... masalah kecil." Sungmin menggaruk tengkuknya dan menyengir. Siwon membalas senyum.

"Tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin memperingatkan kalau cuacanya masih panas. Tidak mau masuk ke mobil dulu saja? Ngomong-ngomong kau tidak apa-apa pulang malam?"

Sungmin mengangguk cepat.

"Kau tau cara membuka mobil kan?" Sungmin mengangguk. Siwon langsung mengeluarkan kunci dari kantung celananya, dan memberikannya kepada Sungmin. Gadis itu menatapnya kebingungan.

"Kau masuk duluan saja. Mobilnya ada disana, aku mau membicarakan jadwal dengan tuan muda yang satu ini dulu." Siwon menunjuk ke belakang, dimana Kyuhyun berjongkok dan menekan-nekan kakinya yang bekas diinjak. Diam-diam Sungmin mengutuk tingkah Kyuhyun yang terlalu berlebihan, hingga membuat image-nya memburuk di mata Siwon. Tak mau terlalu lama panas-panasan, Sungmin akhirnya menurut dan masuk duluan ke mobil.

Siwon berkacak pinggang dan membalikkan badannya saat dipastikan Sungmin sudah masuk ke dalam mobil. Ia menaikkan sebelah alisnya, bibirnya membentuk senyum mengejek. "Ow, ow, lihat siapa yang ditolak!"

Kyuhyun memutar bola matanya, "Oh ayolah, aku kan sudah bilang aku hanya ingin menjadi temannya."

"Aku tidak bilang kau ditolak crush-mu." Siwon lagi-lagi menaikkan alisnya. "Ngomong-ngomong, tadi itu... sepertinya sakit. Tapi kuharap kau masih bisa dance."

"Kau lihat dan sudah tau itu sakit dan berisiko, kenapa tidak menolongku?" Kyuhyun perlahan berdiri dan memegangi punggungnya yang pegal-pegal karena terlalu lama berjongkok. "Kaki-ku pasti merah."

"Atau mungkin biru." Siwon membuka ponselnya dan memfoto Kyuhyun yang sedang berjalan terpincang ke arahnya. "Wow, nice shoot!"

"Sialan kau." Kyuhyun menjitak kepala Siwon, cukup untuk membuat ponsel manager-nya nyaris jatuh. "Ayo jalan! Kita ke rumah-ku!"

"Ke rumahmu?! Kau serius?!"

"Iya lah, aku serius. Dia pernah ke rumahku kok sebelum-nya." Kyuhyun menanggapi dengan santai, kakinya yang terasa masih mati rasa ia seret paksa. Siwon menggeleng-gelengkan kepala.

"Kyu, ingat-"

"Jangan ada skandal, iya aku tau."

Siwon tersenyum lebar. "Anak pintar!" Ia mengacak-ngacak rambut Kyuhyun dan merangkul lehernya, berjalan bersama menuju mobil yang sudah menunggu di seberang sana. Kyuhyun mengerang protes.

"Aku bukan anak-anak!"

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n:

Oke, first, maaf banget aku update-nya lama QAQ jadi ceritanya kemarin itu ada beberapa masalah dan... gitu deh.

Kedua, rencananya aku mau update chapter ini abis chapter 5 selesai. Eh ternyata yang jadi duluan malah side story-nya orz

Ketiga, jangan ada yang ngerasa aneh dengan perilaku Sungmin. Kan biasanya semakin deket seseorang, sifat aslinya semakin keluar. Nah, itu sifat Sungmin udah ga bisa ditutupin lagi deh ^^

Dan yeah, Kyuhyun sekarang adalah manusia, jadi dia bisa cursing seenak jidat.

Thanks for review, follow, fav, dan menunggu story ini ^^

See U~