Copyright Mayonice08

2013

Someday in July

Haehyuk

Suatu hari di bulan Juli…

a/n: rewriting. ditulis ulang dengan tambahan beberapa scene.

cerita banyak deskripsinya dan alurnya lambat. Semoga enggak bosan yaa… hoho

.

Part 4

A fairy with golden spark

.

.

Seharian, Donghae tak fokus dengan pekerjaannya. Memang, pikirannya yang tengah kacau tak membuatnya mengabaikan tumpukan proposal dan laporan yang menunggu untuk ia pelajari. Namun, ia sadar, dirinya waswas dan beberapa kali melirik ponsel serta arlojinya. Berulang kali melihat waktu telah bergulir menunjuk pukul berapa, dan menyalakan layar iPhone yang tak menampilkan satu pun pesan yang ia tunggu dari seseorang.

Sungmin menatap Donghae bingung. Tapi untungnya, lelaki itu tak bertanya sedikitpun. Membiarkan Boss-nya itu merenung dalam keterdiamannya.

"Pekerjaan hari ini semua sudah terselesaikan, Boss," lapornya setelah mengecek jadwal untuk hari ini.

Donghae tak memberi jawaban. Menatap nanar lurus ke depan.

"Boss..." Sungmin berseru agak kencang. Ia menghela nafas lega ketika Donghae menoleh padanya.

"Semua pekerjaan sudah selesai," ulangnya.

Donghae mengangguk. "Kau boleh pulang," balasnya. Ia memainkan ponselnya dengan memutar-mutarkannya.

"Oke, apa kau tak pulang, Boss?" tanya Sungmin.

Donghae mengedikkan bahu. "Aku masih ingin disini," jawabnya singkat.

"Oke," Sungmin menata barang-barangnya cepat. Kembali mengamati Boss-nya yang terlihat berbeda hari ini. Lesu dan murung.

"Boss," panggil Sungmin sebelum ia keluar dari ruangan. Donghae tak menoleh ataupun membalas panggilannya, tipikal Boss-nya.

"Jika ada apa-apa, jangan sungkan menghubungiku," pesan Sungmin. Membungkukkan badannya memberi hormat, sebelum berlalu keluar. "Selamat malam," tambahnya ketika menutup pintu ruangan dari luar.

Donghae mendengus. Apa begitu tampak sekali jika ia sedang ada masalah? Hingga Sungmin terlihat khawatir sampai meninggalkan pesan seperti itu?

Memijit pelipisnya yang terasa pening. Donghae meringis kesal. Hyukjae dan Hyukjae. Sosok itu sudah memasuki mesin otak dan perasaannya. Apa ia tak mengerti jika Donghae mengkhawatirkannya?

Saat ini, bagaimana perasaan Hyukjae pada Donghae sepertinya tak begitu penting. Yang lebih terpenting adalah apa Hyukjae baik-baik saja? Kenapa tak memberi kabar sekalipun pada Donghae?

"Hyukjae, kau benar-benar membuatku khawatir," ucapnya sendu. Hyukjae sungguh membuatnya cemas.

.

.

Semalaman Hyukjae tak bisa tertidur. Selama kelopak matanya terpejam, di benaknya muncul berbagai hal. Tentang ucapan Ryeowook, tentang kedua orang tuanya, juga tentang Donghae.

Panggilan dan pesan dari Donghae memenuhi ponsel Hyukjae. Ia tak tahu harus berbuat apa pada lelaki tampan itu. Hyukjae memilih menghindar. Tak menjawab ataupun membalasnya.

Ia masih tercenung ketika mengingat pertengkarannya dengan Ryeowook kemarin malam. Adik kecilnya itu sudah melukai hati Hyukjae. Ia menyadari hal itu. Ucapan Ryeowook bagai bisa ular yang menyebar ke seleuruh tubuh Hyukjae.

Menyadarkan Hyukjae untuk berkaca, siapa sebenarnya dirinya? Tak pantas dicintai. Tak pantas bahagia.

Tapi, hidup terus berlanjut kan?

Setelah menghapus jejak air matanya yang telah mengering. Hyukjae turun dari ranjangnya. Ia menatap wajahnya yang tampak kacau. Mata bengkak dengan lingkar hitam. Puncak hidung memerah. Kulit wajahnya terlihat pucat.

Mengusap-usap wajahnya, Hyukjae menghela nafas. Merutuki dirinya sendiri, jika apapun yang gerakan tangannya lakukan, takkan mampu menutupi kenyataan jika Hyukjae habis menangis semalaman.

Langkah kakinya pelan ketika keluar kamar. Suasana rumah begitu hening. Televisi tak menyala. Lalu, dapur dan ruang tamu sepi tanpa seseorang pun. Hyukjae terkadang merindukan masa lalunya. Saat Ibunya berisik di dapur dengan peralatan memasak. Serta Ayahnya yang sibuk meneriaki Televisi saat menyiarkan pertandingan sepak bola.

Ryeowook, adik lelakinya itu pasti duduk di sudut ruangan. Di dekat Ayah, sambil membaca buku tentang musik. Ia kadang berlatih not-not lagu di ruang itu. Tanding dengan Ayahnya tentang siapa yang paling keras bersuara.

Hyukjae suka pusing ketika melihat mereka berdua. Ayah dan Ryeowook takkan berhenti berteriak sampai Ibu datang dengan satu nampan berisi camilan. Biasanya makanan hasil percobaan resep Ibu.

Lalu, dimana Hyukjae ketika semua terjadi? Hyukjae akan sibuk berdiri di samping Ibunya. Membantu wanita itu mengaduk adonan masakan ataupun membersihkan peralatan yang dibuat kotor oleh Ibunya.

Berbeda dengan sekarang. Hanya keheningan yang Hyukjae dapatkan ketika ia menginjakkan kaki di rumah.

Sayangnya, hidup terus berlanjut, kan? Entah kau bahagia atau kau bersedih. Waktu terus bergulir. Hyukjae harus melewatinya dengan ikhlas. Meski di dalam hatinya ia merasakan pedih.

Menuju dapur, Hyukjae mengecek kulkas. Ia berniat menyiapkan sarapan untuk Ryeowook sebelum adiknya itu berangkat ke sekolah. Jarak usia mereka terpaut lima tahun. Kini Ryeowok tengah duduk di kelas kedua sekolah menengah atas.

Meski canggung dan tak sehangat dulu. Ryeowok tetaplah adik kecil yang sangat Hyukjae sayang. Karena, ia satu-satunya yang masih Hyukjae miliki. Sekalipun Ryeowook tak hanya satu kali saja menyakiti perasaannya.

.

.

Saat ini sudah empat hari berlalu semenjak acara kencan itu. Donghae dibuat pusing oleh Hyukjae. Lelaki muda itu tak sekalipun meninggalkan pesan ataupun muncul ke apartemennya. Dia menghilang begitu saja. Seolah lenyap dan menghilang bagai hembusan angin.

Apa ia tak paham, jika Donghae khawatir?

Hyukjae, cukup sekali saja. Meninggalkan memo pun tak apa. Donghae ingin memastikan jika lelaki itu baik-baik saja.

.

.

Sungmin mengerutkan kening ketika Bossnya memanggilnya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kubikal-nya untuk memasuki ruangan Donghae. Lelaki irit omong dan pendiam itu tampak murung. Jauh lebih murung dibanding beberapa hari yang lalu. Sungmin bisa menyimpulkan, jika Donghae sedang ada masalah.

"Kau memanggilku, Boss?" ujarnya setelah berdiri di depan meja Donghae.

Boss-nya tampak berantakan. Wajahnya masih rupawan, namun bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu dan atas bibirnya itu tampak menjadi indikator jika Donghae sedang ada sesuatu. Sungmin tahu pasti, Donghae bukan tipikal lelaki yang suka memanjangkan kumisnya. Tapi, melihat Donghae tak bercukur selama beberapa hari membuat Sungmin di dalam hati dilanda panik.

Apa Boss-nya baik-baik saja? Ia harap demikian.

"Aku membutuhkan bantuanmu," tukas Donghae menatap Sungmin penuh harap.

"Bantuan apa?"

"Sungmin-ah, ambil alih perusahaan beberapa hari. Aku ingin menyelesaikan sesuatu hal," tandas lelaki itu.

Sungmin mengerjapkan mata saat mendengarnya. Terlalu kaget dengan permintaan Donghae. Seserius inikah masalah yang tengah Donghae hadapi?

"Apa kau bisa?" Ia tampak begitu serius.

Sungmin mengangguk. "Nde, Boss. Aku akan berusaha semampuku untuk membantumu, Boss," jawabnya yakin.

Donghae menghela nafas. "Satu lagi, tolong cari tahu tentang seseorang. Dia Kim Hyukjae. Cari semua data yang berkaitan tentangnya. Tak ada yang terlewat sekecil apapun. Secepatnya, berikan padaku," titah Donghae. Ia menahan diri untuk tidak menampilkan kesedihannya ketika menyebut nama 'Hyukjae'. Tapi, entahlah. Untuk apa ia pura-pura baik-baik saja? Jika Hyukjae usdah berhasil menyihirnya untuk begitu peduli pada lelaki itu.

"Baik Boss." Sungmin undur diri, dengan bayang-bayang nama 'Hyukjae' di dalam benaknya. Kenapa ia merasa familiar dengan nama itu? Saat ini, ia harus segera bertindak. Sepertinya, bantuan Sungmin sangat-sangat dibutuhkan Donghae.

.

.

Hyukjae tetap muncul ke toko bunga milik Heechul. Ia bersyukur Heechul tak ada untuk beberapa hari. Sehingga selama ia menjaga toko tersebut, Hyukjae hanya bertemu dengan Hangeng. Lelaki China itu sosok yang pendiam dan tak banyak bicara, mengingatkan Hyukjae pada Donghae.

Ia memutuskan untuk tak datang bekerja ke tempat Donghae hari ini. Hyukjae masih butuh berpikir. Melihat Donghae bukanlah hal yang bagus untuk otaknya. Ia harus jauh-jauh dari lelaki itu. Selagi ia masih bisa.

Di perjalanan pulang, Hyukjae mampir berbelanja. Tangannya tak kosong selama ia berjalan menuju rumah. Dua kantong plastik cukup besar berisi perlengkapan dan stok makanan untuk beberapa minggu.

Selama berbelanja, Hyukjae ingat tentang pengalamannya belanja untuk kebutuhan Donghae. Tak bisa dipungkiri, lelaki itu sudah melekat dengan jelas di hati Hyukjae. Donghae menjadi bayang-bayang yang mengikuti Hyukjae kemanapun. Selalu ada disitu, dimana pun Hyukjae berada.

Rumah yang sunyi kembali menyapa Hyukjae ketika ia membuka pintu. Ryeowook tak mau berbicara apalagi menatap matanya selama beberapa hari. Terus-terusan Hyukjae mendesah gelisah.

Ia bergegas ke dapur ketika mendapati waktu berulir pukul tujuh malam. Hyukjae cepat-cepat memasukan barang-barangnya ke dalam kulkas. Setelah itu, ia menyiapkan sayur dan daging yang akan dimasak untuk makan malam.

Hyukjae memotong sayuran kecil-kecil. Ia tahu, Donghae lebih suka masakan dengan sayuran yang dipotong rapi dan kecil. Lelaki itu agak mengeluh ketika sayuran di piringnya berukuran besar, sehingga ia meminggirkannya dan meninggalkannya kala ia selesai makan.

Karena itu, selama memasak untuknya. Hyukjae selalu memotong sayuran rapi. Daging yang Donghae suka juga Hyukjae potong kecil, agar lelaki tampan itu tak mengeluh saat mengunyahnya.

Benar, bukan?

Sejauh apapun Hyukjae menghindar. Lagi-lagi lelaki itu menghinggapi otaknya. Hyukjae merasakan rindu untuk lelaki itu. Rasanya sakit, kan? Ketika kamu rindu dan mencintai seseorang. Tapi, di dalam hatimu juga kau ingin berteriak berhenti. Berhenti menemui dan mengharapkannya. Meski, kau tahu pasti kau tak mampu menghapus perasaan cintamu begitu saja.

Cinta? Apa Hyukjae mencintai Donghae? Biarlah itu terjawab oleh waktu.

"Apa Donghae sudah makan?' gumam Hyukjae cemas ketika mengaduk sup kimchi. Aroma masakan Hyukjae begitu sedap. Menggugah selera makan, tapi Hyukjae merasa tak bernafsu.

Lelaki itu, apakah sudah makan? Apa ada yang menyiapkan air untuknya mandi? Apa ada yang menaruh sepatu kerjanya di rak? Apa ada yang mencuci pakaian kotornya? Apa ada yang menyapu dan membereskan barang-barangnya?

Hyukjae semakin rindu.

"Jangan bodoh, Hyukjae. Kau harus melupakannya, kau harus melupakannya. Kau tak pantas untuk dia, Hyukjae. Kau tak pantas," rutuknya sendu.

Ekspresi Hyukjae jauh lebih murung dari sebelumnya. Tatapannya nanar ketika mengulang kata-kata itu. Seolah menanamkan kalimat itu pada otak dan hatinya untuk mengerti.

"Ryeowook-ah..." panggil Hyukjae setelah selesai menyiapkan makan malam.

Adiknya itu melengos pergi. Dia mendiamkan Hyukjae kembali. Hyukjae rindu Ryeowook yang cerewet dan bermulut pedas. Ia rindu adiknya yang dulu.

"Hyung buat makan malam. Ayo makan dengan hyung," Hyukjae tak putus asa. Ia menyusul Ryeowook yang berjalan kembali ke kamarnya. Sayangnya hal itu dibalas dengan pelototan.

"Tidak usah, aku tak ingin makan," Ryeowook membalas. Membanting pintu kamarnya di depan wajah Hyukjae.

Seketika, Hyukjae semakin merasakan sakit.

.

.

Donghae mengunyah paha ayam dengan lesu. Layanan pesan antar makanan menjadi favorit Donghae beberapa hari ini. Semenjak Hyukjae tak muncul di rumahnya. Donghae terpaksa harus menikmati makanan cepat saji tersebut.

Suara Televisi riuh menampilkan sebuah acara variety show. Donghae mengabaikannya saja. Tak mengikuti sedikitpun acara yang ditayangkan.

Ketika melirik kulkas, tak ada satupun memo yang menempel pada benda tersebut. Donghae tergelitik untuk berdiri mendekatinya. Menjatuhkan paha ayam yang tengah ia makan pada kardusnya.

Ia berdiri dengan termangu di depan kulkas. Tangannya menggelitiki sisi pint kulkas tempat memo itu biasanya di tempel. Serta magnet berbentuk binatang yang mneghiasi kulkas.

Donghae menatap kertas memo yang belum ditulisi. Ia menyobeknya. Mengambil pulpen yang berada di sisi kertas.

Donghae mendekat ke arah konter dapur yang kering. Menaiki kuris tinggi yang disediakan di dapurnya.

Letak konter dapur Donghae lurus dengan balkon apartemen tersebut. Ia bisa melihat gemerlap Seoul dimalam hari dari balkon itu.

Ujung pulpen Donghae terarah di atas kertas memo. Sembari memandang malam yang gelap. Donghae tertawa geli ketika sadar bagaimana tingkahnya saat ini. Seperti lelaki yang dicampakkan kekasihnya. Sangat emosional dan benarbenar hopeless. Mungkin, jika sebelum mengenal Hyukjae. Donghae takkan sudi bertingkah seperti ini.

Sedang sekarang?

"Kenapa kau pergi? Menghindariku, huh?" ucapnya pada keheningan.

Donghae kembali mengoceh, meski jelas-jelas tak ada orang yang akan menjawabnya.

"Kau sudah berhasil menjadi softspot dihidupku. Lantas sekarang?"

Tak akan ada yang menjawab.

"Apa kau meninggalkanku Hyukjae? Mengapa kau melakukannya? Bicaralah padaku alasannya. Akan kupatahkan semua alasan itu, agar kau tetap di sisiku," gumamnya pilu.

Donghae kemudian tertawa lagi. Ia terdengar seperti lelaki abnormal sekarang. Bicara sendiri dan tertawa sendiri. Ia menulis dengan pulpennya cepat. Mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya. Sebelum meletakkan pulpen tersebut di atas meja konter.

Donghae mengacak rambutnya kasar. Hyukjae membuatnya benar-benar gila. Ia meletakkan memo tersebut di pintu kulkas. Sebelum berlalu meninggalkan dapur yang pernah menjadi ruangan terhangat di apartemen Donghae.

Menempelkan secarik kertas memo berwarnakan kuning itu dengan dua baris kalimat yang tertulis jelas.

' Aku merindukanmu. Jangan pergi. D'

.

.

Punggung tangan Hyukjae terangkat menutupi mulutnya ketika ia menguap lebar. Semalaman ia tak bisa tertidur lagi. Sekalipun ia terlelap, itu pukul tiga pagi dan karena tubuhnya kelelahan minta istirahat. Lalu, ketika bangun kepalanya begitu pusing.

Ia melewati kamar Ryeowook. Adiknya tak keluar kamar semalam. Tidak makan malam. Hyukjae khawatir Ryeowook jatuh sakit jika membolos makan seperti itu.

Hyukjae mengambil obat pereda sakit kepala dan menelannya dengan segelas air putih. Ia melirik jam dinding. Seharusnya Ryeowook sudah berangkat ke sekolah. Ini sudah lewat pukul delapan lebih. Apa adiknya tak sarapan juga?

Memandang sekeliling, Hyukjae tercenung melihat sepatu sekolah Ryeowook yang masih ada di rak sepatu. Kemungkinan adiknya tak berangkat dan mengurung diri di kamar.

Hyukjae semakin khawatir. Bagaimana jika Ryeowook kelaparan? Ia tak mau adiknya sakit.

Cepat-cepat, Hyukjae mengetuk pintu kamar Ryeowook menunggu adiknya itu membuka pintu. Ia sadar, adiknya menyahut pun Hyukjae takkan mampu mendengarnya.

"Wookkie-yah, buka pintunya..."

Masih tak ada jawaban.

Hyukjae menggedornya lagi. "Ryeowook, buka pintunya. Apa kau di dalam?" Hyukjae mengoceh terus-terusan. Membujuk Ryeowook untuk membuka pintu.

"Ryeowook jawab aku," pinta Hyukjae. Meski ia tahu, jawaban Ryeowook takkan mampu ia dengar.

Hyukjae mulai panik. Ia tahu tipikal adiknya. Jika diganggu, Ryeowook akan keluar dan mengamuk. Tapi, dia tak memunculkan batang hidungnya sekalipun untuk membanting pintu di depan wajah Hyukjae seperti semalam.

Panik menguasai Hyukjae. Ia mencoba membuka pintu kamar adiknya. Tapi tak bisa. Pintu tersebut di kunci dari dalam. Hyukjae mendorong pintu tersebut. Mencoba mendobraknya dengan tubuhnya. Tapi, pintu tersebut tetap kokoh berdiri.

Ia mulai berlari mengelilingi rumahnya. Mencari sesuatu benda yang bisa dia gunakan untuk mendobrak pintu. Hyukjae menemukan sebuah meja kecil yang cukup berat. Ia menarik meja tersebut ke arah pintu kamar Ryeowook.

Hyukjae pun mendorongnya agar menabrak pintu kamar tersebut. Suara dobrakan keras terdengar, tapi belum mampu membuat pintu terbuka. Hyukjae mencobanya sekali lagi, berdoa dalam hatinya agar berhasil.

Ia menghela nafas lega ketika pintu itu terpelanting ke belakang. Terbuka begitu saja. Hyukjae bergegas menggeser meja tersebut agar tak menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam kamar. Kaki Hyukjae segara melangkah masuk. Ia memandang ruangan Ryeowook yang hening. Mencari ke beradaan adiknya.

Di sudut ruangan. Seseorang tengah duduk meringkuk disana. Hyukjae tahu itu adiknya. Dengan langkah cepat Hyukjae menghambur ke arah Ryeowook. Hyukjae berlutut mendekati adiknya. Ia was-was untuk menyentuh Ryeowook. Takut, jika adiknya tak suka disentuh oleh Hyukjae.

"Ryeowook-ah," gumam Hyukjae. Perlahan-lahan, tangan Hyukjae ia letakkan di atas kepala Ryeowook.

Setelah itu pandangan Hyukjae mulai mengabur. Bola matanya membulat pun berkaca-kaca. Sebuah jeritan lolos dari mulut Hyukjae. Ia membekap mulutnya yang terkesiap. Rasanya, perut Hyukjae bergejolak menahan mual.

Entah kenapa, dadanya begitu sesak. Membuat derai air mata menjatuhi pipinya di pagi itu.

.

.

Sungmin muncul pagi-pagi, menekan bel pintu apartemen Donghae. Ketika itu, Donghae tengah menyeruput tehnya. Hyukjae mengganti stok kopi Donghae dengan tumpukan kantung teh. Lelaki itu bilang, jika mengkonsumsi kopi tak baik bagi kesehatan. Mengingat Donghae bisa menghabiskan lebih dari tiga kopi dalam sehari.

Lelaki itu meracik tehnya sendiri mengganti gula dengan madu. Itu racikan teh kesukaan Hyukjae. Donghae suka aroma dan rasa manis teh di cangkirnya. Membuat dia mengingat kebiasaan kecil yang Hyukjae lakukan.

Ketika ia membuka pintu. Sungmin sudah berpakaian lengkap seperti akan berangkat bekerja. Dia membawa sebuah map di tangannya.

"Segala hal tentang Kim Hyukjae, semuanya ada di map tersebut," ucap Sungmin saat Donghae menerimanya.

Donghae memandang map berwarnakan biru itu. Menimbang-nimbang haruskah ia membukanya saat ini ketika masih ada Sungmin di depannya.

"Terima kasih," ucapnya.

Donghae mengalihkan pandangannya dari map. "Apa kau ingin teh?" ia menawari Sungmin.

Sungmin menggeleng. Menyadari jika Boss-nya ingin privasi dan sendiri. "Tidak usah, Boss. Aku akan kembali ke perusahaan. Banyak hal yang harus diurus hari ini," tolaknya sekaligus berpamitan.

Donghae mengangguk ketika Sungmin membungkuk memberi hormat. Personal asisten-nya itu berjalan menuju pintu.

"Sungmin-ah, terima kasih," seru Donghae. Sungmin mengacungkan jempolnya. Mengganti sandal rumah dengan sepatu kerjanya. Lalu, menutup pintu apartemen Donghae.

Map ini adalah kunci menemukan Hyukjae. Jika ia ingin mendapatkan Hyukjae, ingin menemukan lelaki itu. Di dalam map ini semua tentang Hyukjae dapat ia lacak. Dimana tempat tinggalnya, background keluarganya, dan hal lain.

Donghae merasa dirinya telah membajak privasi orang lain ketika ia mencari tahu Hyukjae lebih dalam. Tapi, perasaan rindu yang meluap dan rasa cemas pada diri Donghae sudah tak terbendung lagi. Cepat atau lambat, ia harus bertemu dengan Hyukjae. Suka ataupun tidak suka lelaki itu.

Donghae membuka halaman pertama. Tentang data lengkap Hyukjae. Dimana ia tinggal. Tanggal berapa ia lahir. Bahkan sampai ukuran sepatunya. Donghae bisa mengunjungi rumah lelaki itu.

Satu halaman. Dua halaman. Donghae membalik kertas tersebut.

Iris gelapnya terhenti pada satu baris. Donghae mengulangi bacaannya. Membaca ulang baris sebelumnya. Memastikan. Kalimat itu tak berubah. Meski Donghae menutup mata, lalu membukanya untuk ia baca lagi. Kalimat it masih sama.

Tenggorokan Donghae tercekat ketika sebaris kalimat itu ia ulang-ulang dalam pikirannya.

Tidak mungkin, kan? Ini semua tidak mungkin, kan?

Dalam beberapa hari, air mata yang Donghae tahan untuk tak terjatuh. Akhirnya lolos juga. Meluncuri pipi Donghae yang kini basah. Jemarinya gemetar menggenggam pinggiran meja. Menahan emosinya yang ingin meletup.

Entah kenapa, Donghae merasakan dadanya sesak.

Hyukjae, peri dengan serbuk keemasan yang ia cintai. Tidak mungkin, kan?

.

.

Tebece

.

.

Maaf jika apdet terlambat, beberapa hari lagi sibuk untuk penelitian. Oh, untuk chapter selanjutnya, kalau laptop masih ada batre bakal aku post hari jumat. Saya lupa bawa pulang charger laptop soalnya, ketinggalan di kost temen TT

Thanks ya guys:

Eunhyukuke, isroie106, Wonhaesung Love, Jiae-haehyuk, Haehyuk Cho, LeeDHKyu, EunhyukJinyoung02, Lee Haerieun, lilyputih, nurul. P. Putri, cho. W. Lee. 794, nyukkunyuk, haehyuk86, elfrida

Review?