Otanjoubi Omedetaou Naru-kun ^^*
Walau agak kecepetan...hehehe
Gomen gak bisa buat fic khusus Naruto's brithday, coz aku gak punya inspirasi jadinya nglanjutin Coppia aja...ya,ya,ya ...
Let's go! ^^ß
Tidakkah di chapter 3 kalian bisa menebak siapa musuh Naru cs?
Siapa dia? Siapa mereka?
Mungkin kalian akan temukan salah satunya di sini^^d
.
.
Coppia
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu
Genre : Romance & Drama
Warning : BL, Shounen ai, Supernatural, OOC, AU, dll
.
.
Don't Like don't read
Happy Reading!
.
.
'mind'
"talk"
.
.
.
.
.
Pagi datang kembali. Membawa suasana cerah meski kota Konoha tertutup awan tebal. Berbeda bagi seorang pemuda raven yang masih terbaring nyaman di atas ranjang. Dia terbangun dari tidurnya dengan berat hati. Matanya agak memerah ditambah kantung hitam tipis yang tampak di bawahnya. Sasuke mengerang lirih sambil mengerjapkan matanya agar bangun sepenuhnya. Tapi begitu sadar dia terdiam.
Sasuke masih teringat ketika membaca isi website yang menjelaskan mahkluk tidak lazim itu kemarin. Merasa belum puas, dia bahkan mencari artikel-artikel dari website lain yang memuat Tvar semalaman. Dan hasil yang didapatnya sama. Penjelasan Tvar, Coppia, ciri-ciri Tvar dan lainnya, semuanya hampir sama. Yang artinya tidak menutup kemungkinan jika pemuda pirang kekasihnya adalah Tvar.
Sasuke mendesah panjang, letih dengan informasi baru yang sekarang memenuhi otaknya. Apalagi diperburuk dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya kini. Perasaan gelisah, takut, dan bingung bercampur jadi satu. Sasuke merasa gelisah dan takut bila hal itu adalah kenyataan. Kenyataan jika Naruto terlibat dengan kasus yang terjadi di kotanya akhir-akhir ini. Tapi dia juga tidak mau jika harus melepas Naruto karena ketidaksiapannya. Bingung.
'Apakah ini takdir yang sudah disusun untukku?'
Pemuda raven itu menghentikan lamunannya kala pintu kamarnya diketuk.
"Sasuke, kau sudah bangun?" panggil Itachi dari luar kamar.
"Ya Nii-san, masuk saja," jawab Sasuke membangunkan diri.
Itachi memasuki kamar Sasuke dengan membawa nampan berisi jatah sarapannya. Dia melayangkan tatapan heran ketika bertemu muka adiknya yang kusut. Bisa dilihat jelas gurat kelelahan yang menghiasi wajah putih tanpa cela Sasuke. "Kau kenapa? Tumben bangun kesiangan. Capek?"
Sasuke hanya menatap diam kakaknya yang meletakkan nampan di atas meja sisi ranjang. Itachi menaikkan sebelah alisnya tanya sambil mendudukkan diri di tepi ranjang yang ditempati Sasuke.
"Sedikit..." jawab Sasuke parau.
"...Ada masalah?" kata Itachi menyadari sorot mata Onyx Sasuke yang agak berbeda.
Sasuke tidak menjawab. Masih tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"Jangan terlalu memikirkan hal berat. Kau ingat pesan dokter, 'kan?" ingat Itachi seraya menyentuh tangan Sasuke.
Uchiha bungsu itu ingat betul. Dokter memang melarangnya untuk berpikir berat atau melamun terlalu lama. Jika terlanjur, itu akan membuat otaknya tertekan dan terbebani hingga mempercepat sel kanker berkembang biak. Akibatnya ingatannya akan terkikis dan syaraf pun terganggu. Dokternya bahkan menyarankan Sasuke untuk tidak usah menjadi peringkat satu di sekolahnya. Berpikir tentang ujian dan belajar saja, sudah mampu membuat otaknya lelah. Tapi Sasuke menolak karena ingin membanggakan Itachi.
Setelah lama terdiam, Sasuke mendesah. Dia mengambil segelas air dari nampan dan meneguknya berlahan, "...hanya berpikir saja Nii-san," ucapnya selepas minum.
Pria muda berambut hitam panjang terikat itu memandang selidik, "...soal Naruto-kun?"
Melihat adik kesayangannya yang menunduk diam tidak menjawab, berarti benar ada masalah dan itu menyangkut pemuda pirang teman sekelasnya. Itachi sudah menduga ada sesuatu di antara mereka berdua bila diperhatikan dari sorot matanya. Saat saling bertatapan, mata mereka seakan menunjukkan suatu yang lebih. Bukan tatapan sahabat atau teman. Mungkin Itachi benar, Sasuke sudah dewasa.
"Mau bercerita?" tanya sang kakak kembali tersenyum tipis.
Sasuke masih membisu. Dia tidak mungkin menceritakan masalah yang di luar nalar manusia pada orang biasa. Apalagi Itachi tipe orang yang tidak percaya bila tidak melihatnya sendiri. Mungkin dia akan menganggapnya gila. Namun, Sasuke juga perlu saran untuk memecahkan masalah ini.
"...ya sudah, sarapanlah dulu. Nanti keburu dingin," ucap Itachi mengambil sepiring omelet untuk Sasuke.
Lama membisu, akhirnya Sasuke bersuara pelan, "...Nii-san,"
"Hn?"
Pemuda raven itu menatap dalam, "Apa yang akan kau lakukan, bila orang yang cintai ternyata penjahat?"
Itachi tercengang kecil, "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"..., aku hanya ingin minta pendapatku," gumam Sasuke pelan.
Itachi terdiam sejenak, dia mencoba mengartikan iris Onyx adiknya yang menatapnya dalam. Terukir keingintahuan dan kegelisahan di sana. Kembali Itachi tersenyum memantapkan dugaannya.
"...Apa kau takut?"
Sasuke terkejut, wajahnya menegang ketika Itachi menanyakan hal itu.
"Kau takut dengannya?"
Wajah Sasuke menunduk. Onyxnya terpaku melihat sepiring omelet dalam pangkuan yang belum di sentuhnya. "...,"
Itachi mendengus pelan, "Jika itu terjadi pada orang yang kucintai, aku tidak masalah,"
Seketika Sasuke mengangkat wajahnya. Menatap Itachi kaget. Itachi hanya tersenyum simpul membalasnya.
"Kenapa...?"
"Karena dia adalah tempatku bersandar..."
Sasuke semakin tidak mengerti.
Itachi memandang menerawang ke sembarang arah, "Aku tidak peduli bila kekasihku seorang penjahat atau pembunuh sekalipun. Bagiku dia adalah tempatku bergantung. Dia ada bila aku sendiri. Dia akan mendukungku bila aku berjuang, dan ada untuk membantuku bila aku terjatuh."
Sasuke menatap tajam, "Kata-katamu seolah kau pernah mengalaminya, Nii-san,"
"...Entah," Itachi terkekeh lirih. "Makanya, aku tidak akan melepasnya. Karena aku tidak mau kehilangan tempatku bersandar. Aku akan mencintainya tanpa peduli apa yang telah diperbuatnya,"
Sasuke terdiam. Bungkam mendengar opini panjang lebar dari Itachi. Itachi mengusap kepala ravennya lembut.
"Cari jawaban itu di hatimu sendiri..." sarannya. "Habiskan sarapanmu dan cepat bersiap. Kau tidak mau terlambat masuk sekolah, 'kan?" Itachi beranjak menuju pintu, hendak keluar kamar.
Sasuke menggeleng, "Hari ini aku ingin ijin,"
"Mengapa?" tanya Itachi agak cemas.
"Aku baik Nii-san, aku hanya ingin bolos saja sekali ini," terang Sasuke meyakinkan kakaknya.
Itachi menghela nafas, "Baiklah, aku buatkan absen. Hubungi aku jika ada apa-apa, aku berangkat kerja dulu," setelah mendapat anggukan dari Sasuke, Uchiha sulung itu keluar untuk bersiap kerja.
Sasuke termangu sambil menyuap omeletnya berlahan, masih teringat dengan ucapan Itachi tadi. 'Tempat bersandar...,'
'Aku merasa kosong selama ini, tapi setelah ada kau, aku merasa terisi,'
Jantung Sasuke berdegub saat ucapan Naruto kala di atap waktu makan siang bersama muncul di benaknya. Ya, dan dia juga menjawab ketika merasakan hal sama dan ingin selalu bersama pemuda pirang. Hingga mereka bisa mengatakan ini cinta. Apakah itu artinya Sasuke tanpa sadar telah bergantung pada Naruto? Dan sebaliknya?
Apakah itu cinta yang sesungguhnya bagi mereka?
Sasuke segera mengambil ponselnya yang terletak di samping bantal. Dengan cepat, dia mencari nama kontak Naruto dan menghubunginya.
'Inikah arti keberadaanmu bagiku, Naruto?'
Sasuke menunggu nada sambung di ponselnya dengan gelisah. Perasaannya belum tentu bila dia tidak memastikannya sendiri. Begitu nada sambung berganti sapa, Sasuke segera menjawab.
"Hallo?"
"Naruto..."
"Sasuke, kau dimana?! Kenapa kau tidak masuk sekolah?!" tanya Naruto cepat. "Kau baik-baik saja?!"
Pemuda raven itu agak terkejut mendengar nada panik berselip khawatir di seberang sana. Segitu cemaskah Naruto padanya? Padahal hanya ijin sehari saja. "Aku baik, Dobe. Aku hanya bolos,"
"Haah, bikin kaget saja kau Teme. Paling tidak kabari aku, lah!" Naruto merengut kekanakan. "Itachi-san datang ke sini tiba-tiba sambil bawa surat ijin, kukira kau sakit,".
Sasuke mendengus geli, "Hn, kau di sekolah sekarang?"
"Hm, Aku di halaman parkir dengan Neji dan Gaara, Kenapa?"
Sasuke menelan ludah gugup, "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ya, aku juga,"
Sasuke menaikkan alis, "Kau ada waktu?"
"Sekarang?"
"Ha? Kau 'kan sekolah, Dobe? Maksudku setelah pulang!" kaget Sasuke. Mana mungkin dia membuat Naruto bolos sementara pemuda itu sudah masuk dalam lingkungan sekolah.
"Tidak masalah. Aku ikutan bolos saja denganmu. Itu tidak akan membuat kita turun peringkat, Teme," ujar Naruto enteng. "Lagian masuk sekolah tanpa kau tidak asyik nanti,"
Sasuke mendesah merona tipis, "Baka, aku tidak mau tahu jika kau diskor saat ketahuan nanti,"
"Kau meremahkanku?"
Sasuke yakin jika Naruto menyeringai sekarang, "Hn,"
"Lebih baik jangan atau aku akan menciummu nanti,"
"Dobe mesum!" wajah Sasuke memerah seketika. "Sudahlah. Kita ketemu di danau buatan dekat rumahku 2 jam lagi! Kau tahu tempatnya, 'kan?"
"Okay, baby. See ya,"
Secepatnya Sasuke mematikan hubungannya dengan paksa. Wajahnya masih memerah malu, "Dasar Dobe, tidak ada gunanya aku gugup tadi,"
Sasuke segera menghabiskan sarapannya dan meminum obatnya sebelum beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, Sasuke keluar rumah setelah sebelumnya mengirim pesan jika dia pergi keluar pada Itachi lewat hpnya. Dia sudah menyiapkan mental apa yang akan terjadi nanti. Walau dia belum yakin jika harus terpisah dengan Naruto.
.
.
.
.
.
Naruto berdiri bersandar di mobil sambil menutup hp flip hitamnya, sebelum memandangnya terdiam. Dia tersenyum hangat. Mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaan sesungguhnya pada Sasuke. orang yang menduduki tahta sebagai belahan jiwa di hatinya. Dia memasukkan kembali hpnya ke saku, lalu berbalik membuka pintu kemudi di mobilnya. Neji dan Gaara yang menunggunya malah terkejut melihat tindakan Naruto.
"Kau mau kemana?" tanya Gaara heran.
Naruto nyengir, "Ada urusan, absenkan aku ya,"
"Baka, kau mau bolos saat sudah di sekolah? Bentar lagi bel masuk," Neji mendengus, "Apa pentingnya sih urusanmu?"
Naruto tersenyum menatap mereka tajam, "Sangat penting dibandingkan nyawaku,"
"Ha?" Neji memandang ganjil.
"Kyuubi-san akan pulang, usahakan jangan pulang telat," tambah Gaara.
Naruto nyengir lebar, "Okay," katanya sebelum masuk ke mobil dan menjalankan mesinnya.
Pemuda jangkung bersurai coklat gelap panjang itu mendengus kesal melihat mobil mewah saudaranya yang melesat keluar halaman sekolah diiringi tatapan heran para murid. 'Mau kemana prince berambut pirang itu, bolos sekolahkah?' pikir mereka.
"Dasar, seenaknya saja," dengus Neji berjalan menuju gedung sekolah diikuti Gaara di belakangnya.
"Mungkin ada kaitannya dengan Sasuke,"
Neji menoleh pada pemuda berambut merah bata, "Sasuke?"
Gaara mengangguk, "Bukannya dia tidak masuk hari ini?"
"Ya, aku melihat kakaknya kesini tadi,"
"Samalam aku berkata pada Naruto agar segera mengikat Sasuke sebagai Coppianya. Tapi dia bimbang dengan perasaannya sendiri. Saat aku mengatakan jika mungkin Naruto menganggap Sasuke 'Ivy', dia tersenyum. Lalu menjawab 'Mungkin benar'," cerita Gaara mengingat.
"Jadi maksudmu, Naruto bermaksud menemui Sasuke untuk mengikatnya sebagai Coppia sekarang?" Neji berpikir.
"Mungkin..."
Neji terdiam menghela nafas, "'Ivy'...seorang belahan jiwa." Dia menerawang menatap langit biru di atas sana. "Kalau benar, aku berharap Naruto berhasil mengikat Sasuke. Aku tidak mau melihatnya melajang terus. Apalagi tanpa pendukung saat bertarung nanti,"
Gaara mengangguk, "Ya, aku juga,"
Di lain tempat, Sasuke melangkahkan kakinya di jalan deretan toko perumahan yang agak lenggang. Banyak orang berbelanja di sini. Sesekali dia berkelit menghindari pejalan kaki yang membawa banyak barang belanjaan saat melewatinya. Apalagi jalan raya khusus kendaraan pun agak ramai. Mendesah, Sasuke terus bejalan hingga sampai di belokan gang yang dituju. Malangnya selagi mau berbelok, malah bertabrakan dengan orang dari arah berlawanan. Jadilah Sasuke limbung terjatuh.
Namun, sebelum Sasuke benar-benar menyentuh tanah, ada orang yang menarik lengannya kuat, "Kau tak apa?"
Sasuke melihat siapa penolongnya sekarang. Onyxnya menangkap seorang pemuda tinggi terbalut mantel hitam, memiliki tubuh kekar dan berkulit tan. Rambutnya hitam jabrik. Wajahnya tampan dengan hiasan 3 garis seperti kumis kucing di masing-masing pipinya. Mata Shappire birunya menatap datar. Sasuke terpaku melihatnya, benar-benar replika Naruto walau berbeda warna rambut.
"Hey, kau tak apa?" tanya pemuda itu sekali lagi.
Sasuke mengerjap tersadar, "Aah, ya,"
Pemuda itu menghela nafas. "Maaf, aku tidak melihatmu tadi,"
"Hn, aku juga tidak berhati-hati," Sasuke mengangguk.
"Ok, aku pergi dulu," ujar si pemuda seraya melepas lengan Sasuke. Tapi ketika di lepas, tubuh Sasuke mendadak terhuyung ke arahnya hingga kembali di tangkap olehnya. "Hey, kau kenapa?"
Sasuke menegang. Lagi, kakinya lemas tidak bisa bergerak. 'Kenapa terjadi di saat begini, sih?' batinnya menggigit bibir resah.
Pemuda bersurai malam itu yang menopang Sasuke terdiam ketika mengendus sesuatu, 'Bau ini...'
"Err, maaf bisa kau membantuku?" ucap Sasuke risau..
Pemuda asing itu menatapnya tanya, "Apa?"
"Kakiku mendadak kram, bisakah kau membawaku ke bangku sana?" tanya Sasuke menunjuk bangku panjang di bawah lindungan pohon lebat sisi jalan.
Pemuda itu melihat kaki Sasuke, tidak ada keanehan karena tertutup celana panjang. Tapi dia bisa merasakan berat Sasuke yang makin bersandar padanya, makanya dia tidak menolak. "Baiklah..."
Pemuda itu melingkarkan sebelah lengan Sasuke di pundaknya, sementara tangannya meraih pinggang Sasuke merapat padanya. Dia membimbing pemuda raven untuk duduk di bangku. Sasuke agak merona ketika posisinya diperhatikan orang-orang yang melewati mereka.
"Arigato..." ucap Sasuke setelah didudukan di bangku.
"Masih sakit?" kata Pemuda tan yang berdiri di hadapannya.
Sasuke menggeleng, "...Sedikit, maaf merepotkan,"
"Tidak masalah, toh aku juga menabrakmu tadi," sanggah pemuda itu tersenyum.
Sasuke kembali terpaku melihat senyumannya. Wajah maskulin yang khas, mata yang menatap ramah namun berkilat dingin. Yah, mirip dengan Naruto pertama kali bertemu.
"Kenapa?" tanya pemuda itu sadar jika diperhatikan sedari tadi.
Sasuke terkejut, "Aah, tidak, wajahmu mirip dengan temanku," jawab Sasuke separuh bohong.
Sesaat pemuda berparas seperti Naruto itu terdiam, sebelum tersenyum misterius, "Oh ya, sungguh kebetulan," dia mendudukkan diri di sebelah Sasuke. "Aku Menma, boleh kutahu namamu?"
"Sasuke," jawab Sasuke balas tersenyum tipis.
"Kau tinggal di sekitar sini?"
"Hn, tidak jauh." Sasuke menjawab. "Aku tidak pernah melihatmu, baru pertama kemari?"
"Hmm, begitulah," gumam pemuda bernama Menma.
"Sendiri?"
"Bersama teman, tapi terpisah. Aku sedang mencarinya sekarang," jelas Menma.
"Hn," balas Sasuke mengerti.
"Oh ya, kakimu sudah baikkan?" Shappire Menma melirik kaki Sasuke.
Sasuke mengusap kakinya pelan, "Tidak apa, ini memang sering terjadi..." lirihnya.
Menma menaikkan sebelah alis tidak dengar, "Kau bilang apa?"
Sasuke menggeleng, "Tidak, Arigato sudah menolongku,"
Menma membisu sejenak sebelum tersenyum ganjil, "...Kau seperti 'Carnation', ya"
Sasuke menatap tidak paham. Menma terkekeh singkat, sebelum menyingkirkan daun kering yang jatuh di surai raven Sasuke. Dia terpaku melihat iris Onyx pemuda yang lebih pendek darinya. Ditambah wajah putih tanpa cela seperti perempuan. 'Cantik...' batinnya tertarik.
"Menma...!"
Merasa dipanggil, Menma menoleh ke asal suara diikuti Sasuke. terlihat seorang pemuda berrambut hitam klimis berkulit pucat yang melambai ke arah mereka –ke Menma tepatnya—. Ketika pemuda itu sampai di hadapan mereka, Sasuke terkejut.
"...Sai?" panggil Sasuke tanya.
Orang itu terkejut. Rupanya dia memang Sai, teman sekelasnya Sasuke. "Lho, Sasuke? tak kusangka kita ketemu di sini," balas Sai.
"Aku juga, kau bolos sekolah?"
"Yah, begitulah." Sai menggarukkan jari telujuk ke pipinya gugup, "Kau juga, tidak kusangka bolos." Sasuke mendengus kecil mendengar ejekannya.
"Kalian saling kenal?" tanya Menama yang sedari tadi dia memperhatikan.
"Yah, dia Sasuke. teman sekelasku," Sai menjawab.
Lagi, Menma tersenyum misterius, "Waah, kebetulan sekali,"
"...Ayo kita harus kembali. Nee-san memanggil," ajak Sai menyadari arti senyuman pemuda berkulit tan itu.
"Baiklah," ujar Menma berdiri dari duduknya, "Kau tidak apa ditinggal?" tanyanya pada Sasuke.
"Hn, aku sudah tidak apa," jawab Sasuke akhirnya bisa menggerakkan kakinya.
Menma menepuk bahu Sasuke pelan, "Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa,"
Sasuke membalas lambaian tangan Sai saat kedua pemuda itu memasuki keramaian. Sepeninggalan mereka, Sasuke menghela nafas. Masih tidak percaya bila bertemu orang yang berparas seperti Naruto. Mungkin benar katanya jika ada seseorang yang memiliki 3 wajah sama di dunia ini walau beda warna rambut. Sasuke kembali berjalan setelah dirasa yakin kakinya sudah kuat melangkah dan menopang tubuhnya. Dia pergi menuju tempat tujuannya semula.
Sai terdiam masih menatap Menma yang tersenyum sendiri di sepanjang perjalanan mereka. Dia tidak pernah melihatnya begini jika tidak ada yang menarik hati pemuda bersurai malam itu.
"Kau kelihatan senang? Ada sesuatu, ya..." tanya Sai menduga.
Menma makin tersenyum lebar, "Hmm, benar,"
"Apa ada kaitannya dengan Sasuke?"
Menma menaikkan sebelah alis, "Kau tidak menyadarinya?"
"...Menyadari apa?" kata Sai heran.
Seringaian tampak di wajah sang pemuda berkulit tan, "...padahal sedekat itu, hidungmu berlubang tidak, sih?"
Urat jengkel nampak di pelipis Sai, "HAAH?!"
"Tubuh anak itu berbau Kitsune..."
Mendengar itu, Sai tercengang. Mata hitamnya membelalak kaget. "Kitsune?"
Menma menjilat bibir bawahnya, menyeringai setan. "Semakin menarik, bukan?"
.
.
.
.
.
Naruto memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus sebelum memasuki gang menuju danau buatan. Dia keluar dari mobil sambil memeriksa saku celananya. Begitu tangannya menemukan benda itu, pemuda pirang menghela nafas tersenyum. Dia berjalan menyusuri gang dengan perasaan tegang.
'Apakah Sasuke akan menerima kenyataanku?' ujarnya kalut di dalam hati.
Sesampai di ujung gang, Shappire Naruto segera memutar sekeliling mencari keberadaan pemuda raven. Dan di sana, Sasuke berdiri menghadap pemandangan danau membelakanginya. Tempat hijau itu sepi, tidak ada seorang pun selain mereka berdua. Mungkin karena ini jam kerja sehingga tidak ada yang datang. Memang danau buatan ini khusus untuk para pemilik rumah di perumahan Sasuke tinggal.
"...Sasuke,"
Merasa ada yang memanggil, pemuda Uchiha berbalik menoleh. Dia melihat Naruto yang masih terbalut gakuran berjalan mendekatinya. Naruto melayangkan tatapan heran saat Onyx Sasuke memandangnya dalam. Berbeda dari biasanya, seolah apa yang akan dibicarakannya terdengar serius.
"Maaf, membuatmu menunggu," kata Naruto berhenti sekitar semeter di hadapan Sasuke.
Pemuda berkulit pucat itu menggeleng kecil. Dia melangkahkan kakinya menuju arah pepepohonan lebat di samping danau. "...ikutlah," ajak Sasuke pada pemuda pirang.
Naruto menurut meski dalam hati masih bertanya-tanya. Tapi dia diam saja menunggu Sasuke berbicara. Mereka berdua memasuki hutan kecil beralaskan alang-alang dengan Sasuke di depannya. Makin lama makin dalam, hingga danau tidak terlihat lagi. Ketika sampai di tempat yang agak lenggang dengan beberapa pohon tumbang, bunga-bunga kecil bermekaran, dan sejumlah capung berterbangan, pemuda raven itu menghentikan langkahnya. Otomatis Naruto yang di belakangnya pun berhenti.
Hening menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara kicauan burung yang bersembunyi di balik dahan pepohonan. Naruto menyerngitkan alisnya karena dilanda rasa penasaran. Bahkan, sekarangpun dia tidak bisa melihat wajah Sasuke yang berdiri sekitar 2 meter di depannya. Karena pemuda itu masih memunggunginya.
"...Naru,"
Mendengar nada serak dari Sasuke, Naruto semakin dalam mengerutkan alisnya. 'Ada apa?'
"...Berapa umurmu?"
Iris Shappire pemuda tan membulat seketika. Jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Tangannya terkepal jika seandainya dugaanya benar. "...17 tahun," jawab Naruto agak tercekat.
Sasuke menghela nafas, berusaha tenang, "...bohong,"
Naruto mengeratkan kepalan kedua tangannya. Berusaha menenangkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Onyx Sasuke berkabut tipis. Jantungnya berdegup kencang. Resah dan bingung memenuhi kepalanya. "...bagaimana kau bisa tahu danau ini?"
Naruto terkejut. "...aku tahu karena bertanya,"
Tubuh Sasuke bergetar terkekeh lirih, "...bohong lagi,"
Pemuda pirang jabrik itu menundukkan kepala, menatap alang-alang yang diinjaknya. Dia menggigit bibir bawahnya gelisah.
"...waktu di atap aku cerita jika aku di serang monster," masih membelakangi Naruto, Sasuke memulai, "...Saat itu kau hanya menanyakan keadaanku saja. Umumnya jika orang diberitahu hal itu, pasti mereka akan bertanya lebih rinci kejadiannya, tapi kau tidak."
Kembali Naruto makin mengeratkan kepalan tangannya hingga kuku-kukunya menembus kulit, perih.
Sasuke menggenggam erat ujung sisi jaketnya, "...Lalu, saat aku memintamu datang setelah kejadian itu, kau langsung bertanya aku di mana. Padahal harusnya yang kau tahu aku ada di rumah, 'kan?"
Pemuda raven itu menarik nafas.
"...itu seolah kau sudah tahu semuanya,"
Bungkam. Tidak ada jawaban dari pemuda bermarga Uzumaki.
"...pertama kali bertemu kau selalu membatasi pribadimu dengan orang lain." Sasuke mendesah lirih. "Kau bahkan memintaku agar kau berada disisiku tanpa tahu perasaanmu sendiri."
Atmosfer di sekitar mereka berdua memberat.
"Kau punya suhu tubuh tak lazim. Saat bersamaku pun kau protektif."
Naruto berlahan mengangkat wajahnya. Shappirenya terpaku melihat bahu Sasuke yang bergetar dari belakang.
"...aku bertanya sekali lagi, ...Berapa umurmu yang sebenarnya?" kata Sasuke pelan tapi masih terdengar oleh Naruto.
"...117 tahun,"
Sasuke menggigit bibir bawahnya sebelum kembali bersuara cekat, "...apakah kau 'Tvar'?"
Burung-burung yang awalnya hinggap di dahan pepohonan sekitar mereka, bertebangan menjauh. Menimbulkan suara kepakan sayap yang mengisi keheningan kedua pemuda. Angin berhembus pelan menggerakkan anak rambut berbeda warna. Mencoba mencairkan suasana berat di sekitar mereka.
"Kau takut?"
Mata Onyx Sasuke melebar ketika mendengar suara khas Naruto berbisik di dekat telinganya. Dia bisa merasakan jika pemuda pirang itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Bukannya jarak mereka jauh tadi? Bagaimana bisa Naruto sampai di dekatnya tanpa suara gesekan ilalang yang harusnya mengiringi langkahnya? Mengapa Sasuke tidak bisa mendengarnya?
Tangan Naruto meraih bahu kanan Sasuke. Membalikkan tubuh kurus pemuda raven untuk menghadapnya. Membuatnya bertemu dengan wajah pucat Sasuke yang menunduk. Jemari tan Naruto mengangkat dagunya. Hingga Onyx getir Sasuke bertemu dengan Shappire redup Naruto.
"Apakah kau takut padaku, Sasuke?" tanya Naruto lirih.
Sasuke memandang lekat pemuda kekar di depannya. Wajah berkumis Naruto nampak datar tapi sinar luka dan pilu terukir di iris matanya. Awalnya Sasuke takut menerima kenyataan. Tapi dia lebih takut lagi jika harus berpisah dengan Naruto. Sasuke tidak mau kehilangan tempat bersandarnya. Dia tidak mau kehilangan senyum sehangat mentarinya. Tapi bagaimana dengan reaksi Naruto sendiri bila tahu penyakitnya?
Dengan ragu, jemari Sasuke menyentuh pipi kekasihnya. Mengusapnya lembut mencoba menghilangkan ekspresi datar di wajah Naruto.
"...Tidak," kata Sasuke meyakinkan diri. "Aku tidak takut,"
"Bohong..." ucap pemuda pirang tersenyum dingin.
Naruto tahu Sasuke mencoba bersikap agar tidak melukai hatinya. Memaksakan diri untuk menerima dirinya yang sebenarnya. Dan dia bisa melihat sorot resah juga getir di Onyx pemuda raven.
"Kau hanya mencoba menyangkal..."
Sasuke menggeleng pelan, kembali mengusap wajah tan yang masih setia terlihat datar.
"...Aku menerimamu apa adanya," kata Sasuke tersenyum tipis. "Aku tidak mau kehilanganmu, Naruto,"
Naruto menurunkan tangan Sasuke menjauh dari wajahnya. Dia menggenggamnya erat, sangat menyukai kehangatan dari tubuh kurus pemuda di hadapannya. Kepala pirangnya menunduk mengalihkan pandangan. Tidak mampu menatap Onyx indah yang mungkin berbohong sekarang.
Sasuke memandang tangannya yang digenggam oleh Naruto. Hangat menjalar ke tubuhnya berlahan. Hangat yang melindungi. Dia merasa jika Naruto belum mempercayai dirinya sepenuhnya. Dengan menarik nafas panjang, ia memantapkan diri.
"...Aku ingin melihat wujudmu,"
Shappire Naruto terbelalak lebar, segera mengangkat wajahnya. Dia melihat ekspresi kesungguhan yang memeta di wajah pucat Sasuke. Onyxnya berkilat tajam namun penuh keyakinan.
"...Biarkan aku melihatnya, Naruto," ujar Sasuke membalas genggaman tangan Naruto.
Naruto terdiam gundah. Tapi melihat keseriusan pemuda di hadapannya, dia tidak bisa menolak. Biarlah Sasuke tahu wujudnya. Biarlah Sasuke memutuskan sendiri. Jika Sasuke takut dan mengatakan dirinya monster, bahkan berniat berpisah darinya, Naruto rela.
Berlahan pemuda pirang itu melepas genggamannya di tangan Sasuke dan berjalan mundur. Membuat jarak sekitar 2 meter di depannya. Naruto menatap Sasuke intens serambi melepaskan gakurannya hingga telanjang dada. Dia memejamkan iris Shappirenya. Berusaha memusatkan energi kekuatan di satu titik dalam tubuhnya, jantung.
Seiring perubahan hawa di sekitarnya, Onyx Sasuke tidak lepas memandang perubahan tubuh si pemuda pirang. Mulai dari rambut pirangnya yang memanjang, 3 gurat di masing-masing pipinya yang menebal dan kupingnya meruncing. Lalu Naruto berjongkok bertumpu pada kedua tangan dan kakinya yang berubah berlahan membentuk kaki rubah. Tubuhnya membungkuk dalam, bulu-bulu orange panjang menyeruak keluar dari kulitnya, menyeluruh ke bagian tubuh lain. Badannya membesar secara bertahap hingga keluar sembilan ekor dari belakangnya. Wajahnya berubah layaknya rubah dengan kumis panjang dan telinga runcing berbulu besar.
"HAARRGGGHHH!"
Erangan layaknya binatang buas keluar dari mulut Naruto yang mengakhiri perubahan bentuk tubuhnya. Menjadi rubah Kitsune seutuhnya.
Sasuke memandang takjub perubahan Tvar Kitsune seutuhnya dengan Onyxnya yang membulat. Tubuhnya terpaku di tanah tidak mampu bergerak. Benar, ini Kitsune yang telah menyalamatkannya kala itu. Shappire Kitsune menatap si pemuda raven yang lebih kecil darinya lekat. Duduk di hadapannya serambi mengibaskan sembilan ekornya berlahan.
Manusia satu-satunya itu berjalan pelan, mulai mendekati Tvar rubah. Semakin dekat dengan tangan pucatnya yang terulur. Ketika sampai di hadapannya, Kitsune merendahkan wajahnya hingga tangan Sasuke mampu menyentuh dirinya. Ragu-ragu Sasuke mengusap bulu orange terang sang rubah pelan. Halus. Tatapan Sasuke berubah melembut.
"...Kau luar biasa, Naru," lirih Sasuke tersenyum.
Naruto, sang Kitsune, melebarkan Shappirenya terkejut.
"...Aku bersyukur memilikimu," ungkap Sasuke bahagia.
Sang Kitsune meredupkan sinar matanya. Bukan redup sedih tapi redup bahagia. Bahagia diterima oleh orang yang dicintainya. Dia kembali merendahkan wajahnya, mengosokkan bulunya ke leher dan wajah Sasuke hingga membuatnya tertawa kegelian. Naruto melingkarkan sembilan ekornya mengelilingi mereka berdua. Sasuke membalas pelukan Naruto dengan melingkarkan lengannya di leher berbulu Kitsune, kekasihnya. Dia memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh Naruto. Tanpa sadar sebutir air menetes di sudut matanya.
"...Aku bersyukur memiliku, Sasuke,"
.
.
.
.
.
Matahari turun meninggalkan antariksa mengakhiri tugasnya. Membuat langit berubah jingga dengan gurat ungu sebagai penghiasnya. Awan-awan yang semula putih menjadi orange memudar. Burung-burung berterbangan jauh di langit hingga tampak seperti garis hitam di mata manusia. Tapi tidak dengan Naruto. Shappirenya bisa melihat bentuknya dengan jelas. Itu karena dia Tvar yang memiliki keunggulan lebih dibanding manusia biasa.
Saat ini Naruto –sudah kembali ke tubuh manusianya— berbaring beralaskan ilalang dengan Sasuke yang tertidur di sampingnya. Mereka menikmati kasur alam tanpa peduli dengan pakaian mereka yang bisa kotor kapan saja. Angin sejuk berbau alam membelai tubuh keduanya. Pepohonan yang tidak terlalu lebat, bunga-bunga kecil bermekaran dan capung berterbangan, mengiringi kesunyian tenang di dalam hutan kecil itu.
Naruto mengalihkan perhatiannya yang semula memandang langit ke wajah tidur milik kekasihnya. Sasuke terlelap di sisinya berbantalkan sebelah lengan tannya. Pemuda pirang jabrik itu menatapnya lekat seraya membelai wajah putih Sasuke dengan tangannya yang bebas. Pucat. Naruto mendekatkan kepalanya mengecup kening pemuda raven lembut penuh kasih. Namun, tindakannya malah membuat Sasuke bangun.
"...sejak kapan aku tertidur?" tanya Sasuke parau mengerjapkan matanya yang setengah terbuka.
Naruto tersenyum kecil. "Setelah kita berpelukan..."
"...Hn?" gumam si pemuda raven tidak mengerti.
Naruto terdiam sejenak sebelum menatap Sasuke intens, "...Kau jatuh tertidur setelah melihat wujudku beberapa saat kemudian,"
Sasuke membisu mendengarnya. Onyxnya melebar sedikit sebelum mengalihkannya ke sekeliling mereka. Melihat suasana langit yang jingga dan hutan agak menggelap, pasti sekarang sudah sore.
"...Sudah berapa lama?" Sasuke bangkit duduk berlahan, memegang pelipisnya yang berdenyut.
Naruto bangun menyusul kemudian, "...sekitar 4 jam,"
Kembali Sasuke termangu. Terjadi lagi. Tadi pagi kakinya tak bisa digerakkan, sekarang jatuh tertidur tiba-tiba. Padahal sudah minum obat tapi kenapa masih berulang? Bahkan sering, apalagi di hadapan Naruto.
Naruto memandang Sasuke yang masih termenung. Dia merasa ada sesuatu yang dialami pemuda raven. Tangannya menarik lengan kurus Sasuke, mengembalikan perhatiannya padanya. "...Boleh aku bertanya?"
Onyx Sasuke beralih ke Shappire Naruto.
"...Kenapa kau tiba-tiba jatuh tidur?"
Tubuh Sasuke menegang.
"Apakah ini sering terjadi?" tanya Naruto merasakan reaksi tubuh Sasuke.
Kembali Sasuke membeku, mungkinkah ini saatnya menceritakan rahasianya? Tapi dia belum siap. Bagaimana reaksi Naruto jika tahu? Bagaimana pendapatnya bila sudah terungkap? Apakah Naruto akan terluka atau meninggalkannya? Namun, Sasuke sudah menyerah. Biarlah sang pemuda pirang yang memutuskannya sendiri.
Sasuke menegakkan badannya menghadap Naruto di depannya. Tangannya melepas tangan Naruto di lengannya hanya untuk menautkannya di jemarinya sendiri. Sasuke memandang Naruto dalam serambi mengeratkan tautan jemarinya, meminta perhatian penuh. Naruto yang melihat ekspresi itu, membalas tautan Sasuke.
"Naru, aku pernah bilang jika aku akan menceritakan rahasiaku padamu minggu nanti..." kata Sasuke memulai.
Naruto mengangguk mengiyakan.
Sasuke menunduk sambil mengeratkan tautan jemari kurusnya. "...Aku juga bilang, jika aku ingin kau membuat keputusan sendiri setelahnya,"
Naruto yang merasa ganjil, hanya diam menunggu. Membiarkan jemarinya diremas Sasuke kuat.
"...tapi aku lebih baik memberitahumu sekarang," lirih Sasuke tercekat.
"...Apa itu, Suke?" balas Naruto pelan.
Sasuke terdiam. Mencoba menenangkan perasaan takut dan gelisah yang melanda dirinya. Tapi dia harus yakin, memantapkan hati menghadapi kenyataan nanti.
Dengan itu, sang pemuda raven mengangkat wajahnya kembali. Menatap penuh perhatian pada pemuda pirang di hadapannya. Naruto telah menunggu.
"...Aku mengidap kanker otak,"
Kedua permata biru langit itu membulat.
"...Sudah stadium 3,"
Bersamaan dengan pengakuan itu, Sasuke mencoba memasang senyum. Senyum pahit yang menyesakkan di dada Naruto. Naruto masih membelalakkan mata tidak percaya. Melihatnya, manik malam itu meredup.
"...kata dokter, hidupku hanya bertahan setengah tahun dari sekarang,"
Suara parau Sasuke, menggema di telinga Naruto. Langsung menusuk di dadanya, bagai pisau yang sanggup membunuhnya detik itu juga. Kekasihnya berada di ambang maut?
Sasuke kembali menatap sayu, tapi senyum tidak luntur di wajahnya. "...maaf, Naruto,"
Tidak sanggup lagi, Naruto langsung memeluk tubuh pucat Sasuke erat. Membuatnya menempel tanpa berniat melepaskannya. Dia melesakkan wajahnya di ceruk leher putih itu. Menutup mata sambil mengalirkan kehangatan tubuhnya pada tubuh Sasuke yang agak dingin. Wangi mint dari tubuh yang dipeluknya semakin membuatnya mencengkram jaket biru tuanya erat. Sasuke bisa merasakan bahu Naruto yang bergetar saat merengkuhnya. Dia membalas pelukan hangatnya berlahan. Matanya berkabut menahan air mata yang mulai menyeruak keluar.
"...Maaf, inilah rahasiaku,"
Tangan pucat Sasuke menggenggam gakuran hitam Naruto erat.
"...Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?"
Setelah lama terdiam, suara baritone lirih berbisik di telinga Sasuke. Dari nadanya, Sasuke tahu jika Naruto menahan marah dan nyeri karena pengakuannya barusan.
"...Aku belum siap," Sasuke pun merasa perih di dada, "...Sama kau yang belum siap menerima kenyataan tadi,"
Pedih, kenapa di saat kita mulai mencintai seseorang, takdir harus memainkan kita?
"...Aku rela jika kita harus berpisah,"
"TIDAAKK!"
Sasuke terperanggah saat Naruto melepas pelukan dan berteriak tiba-tiba. Shappirenya menatap Onyx miliknya tajam. Kilat marah dan luka terlukis di sana bersamaan dengan wajahnya yang mengeras. Rahangnya bergetar menahan gejolak yang memenuhi dada pemuda pirang.
"Jangan—pernah—kau—ucapkan—kata-kata—itu padaku," desis Naruto menuntut.
Sasuke mengernyit alis, merasakan sakit dari kedua bahunya yang dicengkram tangan Naruto kuat. Tapi dia membiarkannya, Sasuke hanya ingin memaku matanya untuk meminta kejelasan Naruto padanya.
"...Aku pun... ingin menerimamu apa adanya," Naruto menundukkan wajahnya sedikit tanpa melepas pegangannya yang menguat di bahu Sasuke, "...Aku ingin selalu bersamamu, di sisimu, melindungimu..."
Sasuke menunggu.
"...Aku membutuhkanmu, Suke," Naruto mengangkat wajahnya, menatap Sasuke kukuh dengan kesungguhan yang dalam.
"...Aku tidak mau terpisah dari orang yang kucintai,"
Manik hitam itu kembali menurunkan hujan. Membasahi pipi pucat Sasuke berlahan. Naruto kembali memeluknya erat.
"Biarkan aku di sisimu. Mencintaimu, Sasuke,"
Sasuke membalas pelukan pemuda kekar itu tidak kalah erat. Memejamkan mata seraya menyembunyikan wajah basahnya di bahu lebar kekasihnya. Terisak lirih. Naruto makin mengeratkan pelukannya. Membiarkan gakurannya besah oleh tangisan Sasuke. Dia tak sanggup melihat kekasihnya yang menangis untuk pertama kalinya di hadapannya. dia tidak mau melihat kekasihnya menderita.
"...Biarkan aku menjadi kekuatanmu,"
Di antara isakan lirihnya, Sasuke berusaha bersuara.
"...Aku mencintaimu,"
.
.
.
.
.
Kota Konoha kembali disuguhi malam. Namun, dengan bulan yang tidak tampak menghiasi langit hitamnya. Mambuat malam ini lebih pekat dari yang sebelumnya. Di salah satu ruangan dalam gedung tinggi kota Konoha, seorang pria muda duduk di meja kerja sambil mambaca kertas di tangannya. Kertas itu berisi tentang sesuatu yang mampu membuatnya mendesah panjang. Seperti sekarang. Dia menghela nafas berat serambi meletakkan kertas itu di atas mejanya. Kemudian dia menyandarkan punggungnya sepenuhnya di kursi jabatan asisten sekretaris direktur miliknya.
Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai di punggung. Kemeja putihnya tampak lusuh karena sudah seharian dipakainya bekerja. Wajah putih dengan garis tanda lahir di samping hidungnya nampak lesu. Mata Onyxnya menerawang lelah. Bahkan pintu ruangannya yang mulai terbuka pun tidak mampu membuatnya merubah posisi.
"Kau nampak menyedihkan hari ini, Itachi," sindir pria muda yang berjalan mendekati tersenyum.
Itachi melirik orang di hadapannya sekilas sebelum memejamkan mata. Pria muda jangkung berambut merah jabrik itu masih tersenyum diiringi dengusan. Keneja merah dengan dasi hitam dan celana jeans tampak pas di tubuhnya. Dia berhenti di samping kursi pemilik ruangan hanya untuk bersandar di meja kerja menghadap Itachi.
"...Ada masalah?" tanyanya saat mata crimsonnya melihat selembar kertas di atas meja Itachi.
Itachi terdiam tidak menjawab. Masih menutup mata berpikir.
"...Tentang adikmu?" kembali si pria muda berkulit putih bertanya.
"...Jika sudah tahu tidak usah bertanya, Kyuubi," dengus Itachi.
Pria muda yang dikenal bernama Kyuubi itu tersenyum memandang Itachi yang masih setia memejamkan mata. "...dingin sekali tanggapanmu," sebelah tangannya terulur menyentuh wajah pucat rekannya.
Merasakan sentuhan itu, Onyx hitam Itachi mulai menampakkan diri. Lengsung bertemu dengan wajah Kyuubi yang tersenyum ramah namun terkesan dingin. "...sama sepertimu yang memasang wajah dingin," balasnya.
Kyuubi terkekeh kecil sebelum meluluhkan ekspresi dinginnya berubah menjadi bersahabat, "Kalau begini kau suka?"
"Hn," jawab Itachi ambigu menggenggam tangan Kyuubi, menjauh dari pipinya.
"...ada masalah apa dengan Sasuke?" tanya Kyuubi lagi. Dia mengenal Sasuke sebagai adik kesayangan rekannya yang selalu diceritakan olehnya.
Itachi mendesah berat menegakkan badannya, "...Dokter mengirimiku surat," ujarnya lirih.
Kyuubi terdiam mendengarnya seksama. Dia memang sudah diberitahu jika Sasuke mengidap penyakit dari mulut kakaknya sendiri.
"Keadaan Sasuke semakin menjadi dari hasil pemeriksaan terakhir," lanjut Itachi menunduk menatap kertasnya tadi.
"...Apa katanya?" Kyuubi mengeratkan genggaman tangan Itachi.
Itachi menghela nafas, meredam rasa kalutnya.
"...penyakit Sasuke memasuki stadium 4. Akhir dari kanker otaknya,"
Kyuubi menegakkan tubuhnya mendekati Itachi. Dia membungkuk, memeluk tubuh kekarnya mencoba mengerti akan keadaanya. Itachi melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Kyuubi serambi menyandarkan kepalanya di dada si pria muda berambut merah.
"...Aku takut Kyuubi,"
Kyuubi memeluknya lebih erat, menenangkan Itachi.
Itachi memejamkan mata, menyembunyikan wajah sedihnya sepenuhnya di dada Kyuubi.
"...Aku takut kehilangan Sasuke,"
.
.
.
.
.
~~~~~Tsudzuku~~~~~
.
.
.
.
Haah, kalian tahu, susah menemukan feel yang pas buat reaksi Naru dan Sasu saat terbongkarnya rahasia mereka...
Tolong jangan protes jika aku bikin Sasuke lemah di sini, coz aku memang ngebikin dia OOC,^^
Arigatou buat review kalian yang mendukungku, aku jadi semangat update buat chapter ini...
Jangan lupa terus ikutin ficnya ya...*) bungkuk-bungkuk
And last, Happy Brithday Naruto-kun!
.
.
.
