ALOHOMORA
.
HarryPotter!AU Fanfiction
.
WARNING : YAOI, Typo(s)
.
.
Happy Reading!
.
.
Chapter 3 : Trouble is Friend
.
Adalah hari kedua di Kogwarts, namja bernama Luhan pergi ke lapangan Kogwarts yang berada di tengah, dikelilingi oleh bangunan kastil. Dia membawa sapu terbangnya. Jika saja ini bukan sekolah sihir, Luhan mungkin mengira mereka akan kerja bakti membersihkan lapangan sebesar ini. Karena, yah, sapu yang dikatakan bisa terbang ini sama persis dengan sapu untuk membersihkan lapangan berumput.
"Berbaris sesuai asrama kalian masing-masing!" komando seseorang dari belakang sana. Semua anak lantas menoleh ke belakang, mendapati seorang profesor dengan jubah pink, sepatu pink, kemeja pink, dan jeans pink. Yang tidak berwarna pink hanya rambutnya yang berwarna coklat tua dan anggota tubuh lainnya.
"Hei, Luhan" Luhan menoleh pada orang yang memanggilnya, Jongin, yang terlihat sedang menahan tawa. Di sampingnya ada Sehun dengan wajah terganggunya –wajahnya memang seperti itu setiap saat– dan Chanyeol dengan senyuman lebarnya –yang terlalu lebar, menurut Luhan.
"Ada apa, Jongin?"
"Kau tidak merasa kalah dengan Sungmin-saem?" Luhan memiringkan kepalanya, meminta lanjutan. "Masa' cuma rambutmu yang pink? Tidak sekalian semua pink?"
Chanyeol tertawa sambil mendekati Luhan, lalu mengambil beberapa helai rambut Luhan di tangannya. "Sudah pink, lembut pula. Yeoja sekali"
Luhan menepis tangan Chanyeol dan mencubit lengan namja yang lebih tinggi darinya itu. "Aku bukan yeojaaaa! Dan aku masih belum memaafkanmu soal kemarin!"
"Tidak usah dimaafkan juga tidak apa. Wek" Chanyeol menjulurkan lidahnya sambil kembali ke arah Jongin yang tertawa keras karena Sehun menirukan perkataan Luhan dengan suara dilengking-lengkingkan –mengejek suara cempreng Luhan.
Luhan berjalan menuju Baekhyun dan Kyungsoo yang sudah berbaris dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Kenapa pertumbuhanku lambat? Aku juga mau jadi sebesar Chanyeol! Ah tidak, aku mau sebesar Kris tapi suaranya seberat Chanyeol!
"Sudah semua? Nah. Sekarang letakkan sapu terbang kalian di samping kaki kanan kalian" semua murid serempak meletakkan sapunya. "Rentangkan tangan kalian ke depan sedikit. Dan katakan Naik! agar sapu itu berada dalam genggaman tangan kalian!"
"Naik!" "Naik?!" "Naik~"
Suara-suara saling bersahutan. Dan tidak butuh waktu yang lama, semua siswa berhasil mendapatkan sapu terbang pada genggaman masing-masing.
"Nah sekarang–" profesor Sungmin berjalan mendekati Luhan dan mengambil sapu milik anak itu. "–kalian ikuti aku terbang"
Profesor serba pink itu melihat ke arah Luhan yang menatapnya dengan kedipan-kedipan lugu. "Sapu terbangku rusak. Aku pinjam milikmu. Oke?"
Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya. Memproses perkataan gurunya. "Ng ..., itu ... la–Lalu bagaimana aku mengikuti Anda terbang, Saem?"
Sungmin melihat ke anak-anak lain. Seketika itu juga retinanya menangkap bayangan anak keluarga Oh. "Sehun! Kau membonceng Sehun saja, oke? Aku yakin dia bisa memboncengmu"
Luhan melebarkan matanya. Baekhyun dan Kyungsoo mengeluarkan pekikan tidak percaya. Chanyeol dan Jongin tertawa –menertawakan Sehun. Sedangkan Sehun, dia mengusap kasar wajahnya berulang-ulang.
Apapun yang berhubungan dengan muggle itu tidaklah bagus. Ck!
Luhan dengan takut-takut mendekati Sehun. Perlahan dia menempatkan dirinya di belakang Sehun, ikut mengapit sapu terbang di antara kaki-kakinya. "A–Aku tidak berat kok Sehun, kau tenang saja"
Sehun tidak mempedulikan ucapan Luhan. Dia mendengus keras dan mulai mengangkat sapunya untuk lebih dekat dengan pantat mereka. "Pegangan pada sapu ini dan jangan mengucapkan apapun"
Profesor Sungmin sudah melesat di udara dengan sapu terbang Luhan. Semua anak serentak mengikutinya. Luhan mencengkeram sapu Sehun dengan erat tatkala kakinya mulai tidak menginjak tanah lagi. Tubuh namja itu sedikit bergetar tapi seperti permintaan Sehun, dia diam saja.
Melihat siswa-siswanya sudah seimbang dengan sapu terbangnya, profesor Sungmin menambah kecepatan sapunya tiga kali lipat. "Ayo kita berlomba~~!"
Semua siswa berlomba-lomba menambah kecepatan sapunya. Ada dua anak dari Gryffindor yang saling bertabrakan dan jatuh. Ada yang tidak bisa mengontrol kecepatannya hingga mereka menabrak dinding kastil dan terjatuh –yang untungnya tidak terlalu tinggi.
Ada juga yang akhirnya berteriak ketakutan.
Dan itu adalah Luhan.
Jangan lupa rusa bukanlah binatang udara.
"Sehun! Jangan tinggi-tinggi!" Luhan memeluk perut Sehun ketika dirinya merasakan Sehun semakin meninggikan posisi mereka. Dia membenamkan kepalanya di punggung Sehun. Tidak mau melihat apapun karena dia takut. Luhan tidak pernah bisa berdamai dengan ketinggian. Sependek apapun tingginya. "Sehun, turunkan ketinggiannya!"
Sedangkan Sehun yang sudah tersadar dari rasa kagetnya karena Luhan, mulai meronta. Tubuhnya bergerak-gerak. Berusaha melepaskan pelukan dari Luhan. "LEPASKAN AKU DASAR MUGGLE BODOH! JANGAN MEMELUKKU!"
Jongin yang melihat kejadian itu mengeluarkan seringaiannya. Dia melesat melewati Sehun dan berhenti di depan kawannya yang berkulit pucat itu hanya untuk–
"HAHAHAHAHAHAHA. KASIHAN SEKALI KAU OH SEHUN!"
–menertawakannya. Kemudian dia melenggang pergi, masih dengan tawa khas maniak.
"Sialan kau kkamjong! Tutup mulutmu!" Sehun menambah kecepatan sapunya untuk mengejar Jongin.
Langkah yang salah karena Luhan semakin ketakutan. Dia memeluk Sehun lebih erat, membuat Sehun memelototkan matanya tanpa namja rusa itu ketahui. "AKU TAKUT SEHUN! AYO TURUN! KUMOHON!"
Kesal. Itu yang dirasakan Sehun. "TURUNLAH SAJA SENDIRI!"
Namja berambut abu-abu itu merasakan ada yang basah di punggungnya. Dia menoleh ke belakang. "Yak! Apa yang kau lakukan?! Jangan basahi jubahku!"
Luhan menengadahkan kepalanya. Menatap Sehun dengan mata berkaca-kaca dan ingus yang mengalir dari lubang hidungnya, juga bibirnya yang cemberut sekaligus bergetar. Seperti bayi. "Se–Sehun jahat! A–Aku kan tidak berani loncat setinggi ini!"
"Kalau takut ketinggian jangan terbang! Dasar muggle!"
"A–Aku kan juga ingin bisa naik sapu terbang. Su–Supaya bisa jadi penyihir" Namja bermata rusa itu semakin mencemberutkan bibirnya. "Huweeeeeeeeeeeeeeeeee"
Sehun gelagapan. Astaga suara tangisan ini ... tidak. Sehun tidak mau mendengar suara tangisan yang tidak bisa dilupakannya sampai-sampai tidurnya semalam tidak nyenyak. "Y–Yak! Be–Berhenti menangis muggle jelek!"
Wah. Usaha menghentikan tangis yang bagus, Oh Sehun.
"AKU TIDAK JELEK! HUWEEEEEE"
Mendengar tangisan yang semakin keras dan nyaring itu, Sehun mengusap wajahnya kasar. "Sudah kuduga berinteraksi terlalu lama dengan muggle cengeng sepertimu akan menambah masalah!"
"HUWEEEEE! SEHUN JAHAT!"
"Luhan" Sehun melembutkan suaranya, Luhan makin menangis kencang.
"Luhan!" Sehun menegaskan suaranya, Luhan mulai memukuli punggung Sehun dengan kepalan tangan kecilnya.
"LUHAN!" Sehun berteriak seperti orang gila, Luhan memeluk Sehun erat lagi namun tetap tidak berhenti.
Sehun yang telinganya terganggu dengan tangisan Luhan –dan tawa membahana Jongin yang makin keras, tiba-tiba merasakan pusing yang luar biasa. Belum fokusnya yang teralih untuk menggerakkan badannya sendiri agar pelukan Luhan lepas –yang malah membuat Luhan semakin memeluknya erat dan dia tidak bisa bernapas.
Dan begitulah ceritanya Oh Sehun dan Luhan jatuh ke lapangan.
Di atas rerumputan hijau bagai karpet itu Luhan menatap Sehun yang berada di bawahnya, dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Sehun, jatuh itu sakit"
"Aku tahu. Tutup mulutmu"
.
Baekhyun berbalik ke arah lapangan ketika mendengar panggilan dari profesor Sungmin yang mohon undur diri untuk mengantar Luhan dan Sehun ke unit kesehatan karena kepala mereka bertubrukan ketika jatuh dan Luhan terus menangis dan mengeluh kesakitan. Dia sedikit merasa bersalah karena tidak memperhatikan Luhan sedari tadi.
"Tahu begitu Luhan bersamaku saja tadi. Ck. Oh Sehun memang kejam" Baekhyun menatap Luhan yang digiring dengan tandu oleh beberapa sunbae, dipimpin profesor Sungmin. "Aigoo, kasihan sekali Luhan"
Kyungsoo terbang mendekati Baekhyun. "Sama. Atau setidaknya kita bisa meminta Sehun agar Luhan bersama kita, lalu menurunkan Luhan"
"Kasihan sekali Luhan. Nasibnya buruk karena bersama Sehun"
Chanyeol, yang kebetulan sedang terbang untuk melihat Sehun, tentu mendengar perkataan Baekhyun. Dan sesuai sifatnya yang setia kawan, Chanyeol menghentikan terbangnya di depan Baekhyun. "Kau salah besar. Justru Sehun yang selalu terkena musibah karena Luhan"
"Ck." Baekhyun memijat pelipisnya. "Tidak bisakah kau tidak usah ikut nimbrung? Kau suka sekali apa berdebat denganku?"
"Kalau begitu kau bisa memulai dengan mengecilkan suaramu saat berbicara. Mau tidak mau telingaku yang masih berfungsi ini mendengar"
"Ya, ya, kau dan telinga lebarmu yang bisa menangkap suara dengan baik"
"Dan kau dengan mulutmu yang tidak bisa dikontrol"
"Kata orang yang sendirinya ikut pembicaraan orang lain eh?"
"Kata orang yang suka sekali berkomentar eh?"
Kyungsoo memijat pelipisnya. Begini lagi. Tapi kali ini namja bermarga Do tidak berniat menghentikannya. Daripada dia ikut pusing dan terbawa suasana seperti kemarin.
Jongin –entah darimana asalnya– terbang melesat, dan tidak sengaja menyenggol Chanyeol. Membuat Chanyeol mendorong Baekhyun. Baekhyun yang nyaris jatuh dari sapu terbangnya tidak terima. Dia membalas mendorong Chanyeol. Untungnya namja tinggi berambut perak itu bisa menguasai diri. Dengan kesal dia membalas balik Baekhyun.
"YA! Park Yoda!"
"Yoda?! Dasar bacon!"
Jongin yang mendengar keributan segera berbalik arah. Dia terkekeh melihat Chanyeol dan Baekhyun yang saling mendorong dengan menabrakkan bahu masing-masing ke arah lawan agar jatuh dari sapu terbang. Sebenarnya dia hanya berniat mengganggu Chanyeol yang sedang berdebat. Tidak disangka, mereka sekarang malah adu fisik.
Dengan tawa yang membahana, Jongin terbang mendekati Chanbaek. Dia melayang di dekat Kyungsoo yang meliriknya tajam. "Kau berani sekali tertawa. Kau memperparah semuanya, kau tahu?"
Jongin menggendikkan bahunya acuh. "Bukan salahku. Lagipula, lihat–" Jongin menunjuk ke arah Chanbaek yang menggigit bibir masing-masing dan fokus mendorong lawan. "–mereka jadi bisa menutup mulutnya kan?"
Kyungsoo bukan tipe yang suka berdebat. Jadi namja bermata bulat dan besar itu mengiyakan saja pembelaan dari Jongin. Mereka berdua melihat Baekhyun yang kini menarik telinga Chanyeol.
"Taruhan 10.000 Won, Chanyeol akan menang" Jongin tiba-tiba bersuara. "Dia sensitif dengan telinganya"
Kyungsoo mengamati Chanyeol yang mengejar Baekhyun dengan kecepatan penuh dan Baekhyun yang menghindar sambil tertawa mengejek dengan suara menggelegar dan "Tangkap aku kalau bisa!"–nya.
"Aku terima. Baekhyun akan menang" Kyungsoo tersenyum setan. "Kau tidak boleh meremehkan kekuatan diva"
Namja berambut bubblegum itu merasakan pegal pada ujung jari-jari kakinya. Tapi tetap saja kedua tangannya tidak bisa menggapai buku yang ingin dia baca untuk mengerjakan tugas Herbologi dari profesor Ryeowook.
Luhan tidak pendek. Luhan hanya ... tidak tinggi. Dan dia bisa saja melompat dan mengambilnya –kalau tidak peduli buku-buku di sampingnya akan terjatuh seiring dengan goyangan dari proses pengambilan semacam itu. Lagipula kakinya masih sakit karena kejadian beberapa hari yang lalu. Jadi dia toh juga tidak bisa melompat.
Ujung-ujung jemarinya sudah menyentuh buku incarannya. Berlebihan memang, tapi rasanya seperti menyentuh es batu ketika terjebak di gurun. Jari-jari itu mulai merambat lebih ke tengah.
Terus.
Sampai di tengah.
Puk.
Seseorang menepuk pundaknya.
Luhan yang sedang berjinjit tentu menjadi goyah. Dia menatap jarinya yang kembali di ujung bawah buku. Dengan menggembungkan pipi karena menahan napas dan marah, dia menoleh.
Kris. Ketua Slytherin.
Luhan tidak jadi marah. Karena tidak mungkin seorang Luhan memarahi Kris. Lagipula Kris menyodorkan buku yang sama persis dengan yang diincarnya kepadanya.
"Aku hendak mengembalikan ini. Tapi kurasa kau membutuhkannya"
Luhan mengambil buku itu pelan-pelan. Dia kemudian memeluk buku besar itu. "Te–Terimakasih"
"Tidak masalah" Kris tersenyum. Wajahnya tidak menyeramkan lagi. Malahan Luhan harus mengakui kalau Kris benar-benar tampan.
Kris kemudian keluar dari lorong antar rak buku itu. Luhan mengikutinya. Dia melihat Kris duduk pada suatu meja di daerah yang sepi dengan beberapa tumpuk buku di sana. Oh, sepertinya Kris masih mengerjakan pekerjaannya. Itu berarti Luhan punya teman untuk menemaninya mengerjakan tugas juga. Baekhyun dan Kyungsoo memilih untuk mengerjakan besok. Sedangkan Luhan, home schooling membuatnya tidak pernah menerima tugas, jadi dia semangat sekali mengerjakan tugasnya saat ini juga.
"Eum, Kris" Kris menolehkan pandangannya ke arah Luhan. "Bo–Boleh aku duduk di sini?"
Kris menatap kursi kosong di sampingnya sekilas. Kemudian dia melongok ke arah pintu masuk perpustakaan –entah mengapa. Lalu namja tinggi berambut blonde itu menatap Luhan kembali sekalian menganggukkan kepalanya.
Luhan tersenyum kecil, menggumamkan terimakasih, dan duduk di kursi sebelah Kris.
.
Luhan sudah selesai dengan tugasnya. Dia melihat papernya yang sudah tertoreh tinta-tinta, merangkai tulisan sebagai tugasnya. Setelah melipat perkamen itu menjadi gulungan, namja itu mengikatnya dengan rantai kering.
Dia kemudian melirik Kris yang masih fokus membaca satu buku di tangannya. Luhan mendekatkan kepalanya ke arah buku itu. Penasaran dengan apa yang dibaca namja jangkung itu.
"Ta men yao ai"
Kris terhenyak. Dia melihat ke arah Luhan yang masih menggumamkan apa yang dia baca dari buku yang di pegangnya. Otaknya dengan cepat mencerna apa yang terjadi. Dengan segera dia menutup bukunya, cukup kasar, membuat Luhan memundurkan badannya dan menatapnya dengan tatapan ketakutan serta bersalah.
"Ng, a–aku hanya ingin tahu. Ma–Maafkan aku kalau aku–"
Kris mencengkeram kedua bahu Luhan dengan erat, membuat Luhan semakin ketakutan. "Kau orang Korea bukan?"
Meski dengan tubuh bergetar, Luhan menganggukkan kepalanya. Melihat hal ini, Kris segera sadar dan melepaskan kedua tangannya. Dia melirik Luhan yang sedang menarik napas untuk menenangkan dirinya.
"Maafkan aku" Kris merasa bersalah karena lupa wajahnya itu seram kalau sedang serius. Kris hanya ... terkejut.
Luhan mengangguk meski dirinya masih menarik dan menghembuskan napas sembari mengelus-elus dadanya sendiri.
Setelah beberapa menit dan Luhan terlihat lebih rileks, Kris membuka suara. "Kenapa kau bisa membaca hanzi ini?"
Hanzi? "Bukankah ini yang dinamakan hanja?"
"Bukan" Kris menjawab. "Karakter hanja lebih mirip kanji dibandingkan dengan karakter hanzi yang berlaku di China sekarang ini. Lagipula tidak banyak orang Korea sekarang yang bisa membaca hanja"
Luhan merenung. Memikirkan perkataan Kris. "Eum, entahlah. Aku tidak mengerti hanzi, juga tidak pernah belajar bahasa Mandarin. Aku pikir ini hanja"
"Lalu bagaimana kau bisa membacanya kalau kau tidak tahu bahasa Mandarin dan berpikir ini hanja?"
Benar. Bagaimana bisa Luhan membacanya?
"A–Aku tidak tahu" Luhan menggelengkan kepalanya dan memandang buku itu lagi. "Mungkin aku pernah belajar bahasa Mandarin. Tapi ... aku tidak pernah ingat"
Kris menyenderkan tubuhnya pada kursi. Dia memikirkan kembali semua kebetulan ini. Ketika mendengar suara Luhan yang memanggilnya dengan perlahan dan takut-takut, Kris menoleh. "Ada apa?"
"Aku, eum, a–"
"Kalau kau mau pergi, pergi saja" seolah bisa membaca keinginan Luhan, Kris memberikan senyuman dan izin untuk Luhan. Namja bersurai merah muda itu membalas senyuman Kris dan membawa pergi gulungannya keluar dari perpustakaan.
Meninggalkan Kris untuk berpikir sendirian.
Tak lama, seorang dengan rambut hitam kelam masuk dengan cukup tergesa-gesa. Dia segera mendudukkan dirinya pada kursi di samping Kris. Kris segera tersadar dari pikirannya ketika lengan orang itu dan dirinya bersenggolan.
Orang itu menampilkan senyuman kucingnya. Mata pandanya menyipit, mengikuti senyumannya. "Maafkan aku karena lama ya ge. Aku salah mengeluarkan uang dan para muggle itu mengira aku hendak menipu!"
Kris terkekeh pelan dan mengusak rambut namja di sampingnya. "Tapi kau mendapatkannya kan?"
"Tentu" namja bermata panda itu dengan senyuman lebar menampilkan tas yang dari tadi dia bawa. "Gucci limited edition version, bagaimana mungkin aku tidak mendapatkannya?"
"Kau tahu Tao?"
"Hm?" Tao masih asyik mengamati benda buatan muggle yang bisa membuatnya tergila-gila. Dia selalu berharap gucci memiliki produk tersendiri di dunia sihir. Ah, tapi tidak. Bisa-bisa gege ngambek karena uang miliknya aku habiskan untuk membeli edisi muggle dan edisi penyihir.
"Aku rasa aku menemukannya"
Tao segera menaruh atensinya secara penuh ke arah Kris. "Apa? Bagaimana? Ah tidak-tidak. Siapa ge? Apakah benar namja yang bernama Yixing itu?"
"Bukan" Kris menggelengkan kepalanya. "Namja bernama Luhan, dia siswa tahun pertama, sama sepertimu"
"Lu–" Tao membulatkan matanya. Namanya cocok "–han?"
Kris tersenyum tipis mengetahui Tao satu pendapat dengan dirinya. "Benar bukan?"
Kim Jongin berjalan dengan jauh dari kata santai. Dilihat dari dekat, mulutnya sedang komat-kamit. Memberikan sumpah serapah kepada seseorang dengan tinggi seperti menara dan bertelinga seperti elf –yang masih berbaring di ranjang unit kesehatan Kogwarts karena menabrak salah satu menara dan jatuh saat mengejar siswa Gryffindor bernama Byun Baekhyun beberapa hari yang lalu.
Aku masih tidak mengerti bagaimana mungkin Chanyeol bisa kalah dari bebek bermake-up itu?! Demi Tuhan aku malu sekali!
"Kau mau kemana, tuan Kim Jongin?"
Jongin menghentikan langkahnya dan mengerang ketika melihat siapa yang berdiri di depannya.
Do. Kyungsoo.
Orang yang mengalahkannya.
.
Kim Jongin membelalakkan matanya. Masih menolak mempercayai bahwa kawannya jatuh karena menabrak menara. Jahat memang, tapi bukan kawannya yang dia khawatirkan. Taruhannya. Demi Slytherin yang hanya berisi darah murni, seorang Kim Jongin telah kalah taruhan. Rasanya dia baru saja menaruhkan marga Kim-nya yang terhormat itu di sini.
"Aku kalah" Jongin mengusak rambutnya. Dia menoleh ke arah Do Kyungsoo yang tersenyum penuh kemenangan –dan demi apapun di dunia ini Jongin ingin menghapus senyuman itu dari sana.
"Ya kau kalah" dan Jongin tidak tahu bahwa keluarga penyihir Do mahir dalam menambah masalah. Menurutnya Do Kyungsoo bisa saja diam, kalaupun ingin mengiyakan dia tidak usah mengatakannya secara jelas di depan Jongin. Oke, memang salah Jongin sendiri telah mengatakan "Aku kalah". Tapi Jongin melakukan itu supaya bukan Kyungsoo yang mengatakannya. Perjuangan untuk mengaku kalah yang percuma.
Jongin mengambil sesuatu dari kantung celananya. Uang sejumlah 10.000 Won. "Ini uangmu"
"Tidak. Aku tidak meminta uang"
Jongin membulatkan matanya. Dia lalu bersedekap dan menatap Kyungsoo, dengan seringaian pada bibirnya. "Kalau kau tidak lupa, taruhannya adalah 10.000 Won, bukan yang lain"
"Memang 10.000 Won" Kyungsoo tersenyum kecil, membuat bibirnya membentuk hati. Jongin tidak mengatakan bibir itu lucu. Sama sekali tidak. "Tapi tidak berupa uang. Aku bisa meminta hal lain yang senilai dengan 10.000 Won"
Namja berkulit tan itu membulatkan matanya, lagi. Dan kali ini diiringi dengan mulut membuka sedikit. "Apa?!"
Kyungsoo tersenyum. "Ya. Aku meminta hal lain yang senilai dengan 10.000 Won. Dan itu masih sah karena dari awal kita tidak menyebutkan berupa apa melainkan berapa"
Satu hal yang Jongin pelajari dari seorang Do Kyungsoo, laki-laki pendek dan bermata besar ini adalah epitome dari satan.
.
"Ya ya ya. Aku tidak berniat kabur sama sekali" Jongin memutar bola matanya, malas. "Jadi kau sudah menentukan apa yang kau mau, Do Kyungsoo?"
"Aku sudah menentukannya sejak awal Kim Jongin. Kalau saja kau tidak banyak beralasan seperti ingin menjenguk Chanyeol terlebih dahulu, aku yakin kau sudah mengetahui apa yang aku mau. Sesuatu yang bernilai 10.000 Won itu"
Skakmat.
"Memang tidak ada gunanya melawan setan" gerutu Jongin, yang sayangnya terlampau pelan sehingga Kyungsoo yang berjalan di depannya untuk memandu tidak bisa mendengarnya.
Mungkin saja ada hal menarik yang terjadi kalau gerutuan Jongin itu terdengar oleh Kyungsoo, bukan?
Kyungsoo membawa Jongin keluar dari kastil, menuju ke arah hutan. Jongin gatal sekali ingin bertanya kemana setan ini –maksudnya Kyungsoo– membawanya pergi. Tapi toh kemana saja jika Kyungsoo yang membawa, pastilah itu neraka.
Setan tidak berada di surga.
Kyungsoo masuk ke dalam sebuah gubuk, yang bahkan Jongin tidak pernah tahu meski dia sudah hapal seluk beluk Kogwarts karena Ayahnya sering membawanya kemari sejak kecil ketika dia turut andil dalam urusan Kogwarts.
Namja berkulit tan itu ikut masuk, dan melihat Kyungsoo yang sedang mengobrak-abrik sebuah boks. Entah mencari apa.
Sekejap pikiran buruk menguasai namja yang lebih tinggi. Segera mungkin Jongin memeriksa di seluruh tubuhnya. Ada tongkat sihirnya. Jongin menghembuskan napas lega. Jadi apapun yang Kyungsoo rencanakan, Jongin siap melawan.
"Kau tidak memerlukan tongkat sihirmu tuan Kim Jongin" Kyungsoo menyindir. "Aku tidak hendak mengapa-apakanmu"
"Jaga-jaga itu wajar" adalah kalimat defensif dari Jongin yang merasa malu luar biasa karena kedapatan bersiap jika Kyungsoo hendak mengapa-apakan dirinya.
Kyungsoo menggendikkan bahu dan kembali mencari serta mengeluarkan beberapa benda dan alat yang dia butuhkan–yang membuat Jongin lagi-lagi gatal ingin bertanya untuk apa itu semua.
Namja bermata bulat dan besar itu kemudian membawa barang-barang itu ke sebuah meja. Dan membuka kain yang menutupi sebagian lain daripada meja tersebut. Sebuah kompor terletak di sana.
"Jadi–" Kyungsoo membuka suara setelah menghidupkan api pada kompor itu –yang membuat Jongin terkejut adalah; tanpa sihir ikut campur. "–aku akan mencoba resep makanan baruku. Namanya nasi goreng kimchi. Dan aku ingin kau mencobanya"
Mengatakan seorang Kim Jongin tidak habis pikir adalah hal yang wajar. Terutama jika dia berhadapan dengan makhluk bernama Do Kyungsoo. Sejak awal, Jongin selalu dikejutkan oleh Kyungsoo. Apapun yang namja bermata bulat itu lakukan selalu membuat Jongin terheran-heran. Jongin hendak mengejek hobi memasak Kyungsoo, tapi dia tidak ingin dicincang dengan pisau jadi dia diam saja.
Kita tidak pernah tahu apa yang setan lakukan saat kalap kan? –Selain memukulkan buku ke kepala orang.
Jongin akhirnya bersuara ketika suara pertemuan antar alat masak Kyungsoo dengan bahan-bahan makanan mulai dicerna oleh reseptor pendengarannya. Dia dengan sedikit awkward duduk di kursi yang ada di depan counter tempat Kyungsoo memotong cabai. "Jadi, ini yang kau mau? Sesuatu yang bernilai 10.000 Won itu?"
"Hm" Kyungsoo menggumam. "Karena ini pertama kali aku membuatnya, aku jadi tidak tahu apakah enak atau tidak"
"Menurutmu ini seharga dengan 10.000 Won?"
"Neeeee" Kyungsoo mulai menaruh penggorengan di atas kompor. "Kalau tidak enak atau keracunan, itu kan urusanmu jadinya. Bukan urusanku. Menurutku merusak sedikit lidah dan organmu senilai dengan 10.000 Won"
"Ap–?"
"Dan lagipula kalau hasilnya enak, kau akan mendapat keuntungan. Jadi katakanlah aku sedang berinvestasi dengan media tubuhmu. Aku bisa membuatmu baik atau buruk" Kyungsoo memasukkan margarin ke penggorengan. Membuat benda itu meleleh.
What a devil. "Aku heran bagaimana kau tidak bisa masuk Slytherin dengan kelicikanmu"
Kyungsoo menyeringai. "Oh, jadi mengakui kalau Slytherin itu tempat untuk orang-orang licik?"
What the hell. Ah, he's indeed living in hell. "Bukan. Slytherin tempat untuk orang cerdik. Sayangnya cerdik bisa berupa cerdas atau licik" bela namja berkulit gelap itu.
"Ya. Ya. Terserahmu"
Kyungsoo memasukkan nasi, bumbu-bumbu, dan kimchi di penggorengan itu dan mulai membalik-baliknya dengan spatula di tangan kanannya. Membuat Jongin tersadar akan satu hal. "Kenapa kau memasak ala muggle?"
"Karena itu hobiku" jawab namja itu, tersenyum saat aroma nasi gorengnya mulai menyebar. "Dan kau tidak akan mengerti apa bedanya melihat masakan enak hasil buatanmu sendiri, dengan seluruh energimu, dibandingkan dengan makanan yang langsung kau terima. Apalagi kalau kau memasukkan bahan, mencampur mereka, semuanya kau lakukan dengan sihir. Itu menjadi mudah dan tidak ada eum tantangannya, tak ada kepuasan"
Jongin memajukan duduknya, kemudian meletakkan kedua tangannya yang dilipat di atas counter dan dia meletakkan kepalanya di atas tangannya itu. Melihat lebih dekat bagaimana Kyungsoo memasak. "Tapi bukankah ini ironis? Muggle selalu berusaha untuk mempermudah pekerjaan agar mempersingkat waktu, sedangkan kau di sini justru memahami esensi proses"
"Ya itu masalahnya. Mereka tidak bekerja sama dengan waktu. Mereka dikejar waktu. Bisa kubayangkan betapa bahagianya mereka jika mereka bisa melakukan sihir"
Jongin menatap lebih lekat Kyungsoo yang sedang memasak. Dibandingkan seorang namja hobi memasak, lebih aneh lagi seorang penyihir suka melakukan sesuatu dengan cara muggle. Tapi ... harus Jongin akui, terlihat lebih keren ketika dia melihat Kyungsoo yang menggerakkan alat-alat masak itu daripada melihat alat-alat masak itu bergerak sendiri karena sihir.
Jongin tersenyum kecil, dan Kyungsoo melihatnya. Senyuman tulus –bukan smirk– dan manis. Mau tidak mau Kyungsoo ikut tersenyum.
"Kurasa kau benar, pendek"
Diksi yang salah. Karena kemudian Kyungsoo melempar sendok makan di dekatnya ke kepala Jongin. "SIAPA YANG KAU SEBUT PENDEK?!"
.
To Be Continued
Thanks for Reading
.
Akhirnya chapter 3 keluarrr! T.T Butuh waktu lama banget buat ngelarin ini T.T Padahal mumpung ngga sibuk sebenernya tapi kena writer's block. Daann sekarang aku udah masuk mingu sibuk karena kuliah mulai menarik-narik untuk masuk (meski mulainya secara akademik masih lama). Jadi aku ngga tau apakah Selasa depan aku bisa update sesuai jadwal atau ngga. Hiks.
Dan internetku lemot banget T.T entah mengapa. Jadinya baru malem ini bisa upload. Maafkan T.T
Btw ngga tau kenapa aku ngga bisa bikin Kyungsoo polos, lugu atau lucu. Menurutku dia itu imut tapi diam-diam setan X'D dan untuk Jongin, biasku di EXO, dia itu kadang serius dan kadang kenakan. Makanya Kaisoo jadi kayak gini. Lebih tenang dan serius gitu X3 loveable lah couple ini tuh X'3 tapi aku pribadi paling suka Hunhan karena mereka touchy-touchy banget dan ugh momennya banyakan skinship. Meski sekarang udah ngga ada lagi Q_Q
Jawaban pertanyaan :
- Semua yang murid baru (hunhanchanbaekkaisootao) umurnya 11 tahun. Kalau yang jadi ketua (krishochenmin) umurnya 13 tahun. Lay 12 tahun biar tengah-tengah gitu lucu #abaikan
- Sehun ngga ngediemin Luhan karena kepalanya masih sakit kena buku tebel dua X'D mana suaranya si Luhan ganggu proses penyembuhannya (?)
- Baekhyun bukan Ron X'D ngakak aku bayangin Baekhyun jadi Ron. Ini emang kayak HP, tiga vs tiga gitu, tapi sifatnya beda kok X'D
- Umur yang aku pakai itu menyesuaikan HP sebenernya. Di HP, murid baru berumur 11 tahun. Dan karena setahu aku bromance itu cuma brotherly –ngga bisa sampe kissu-kissuan dan ngga pake rasa cinta– (CMIIW), makanya aku putuskan yaoi XP tapi tenang ... proses kissu2nya masih lama. Malahan mungkin mendekati ending (karena aku payah dalam hal romance). Ini masih tahap pengembangan (?) rasa suka aja. Mwehehehe. Dan nanti adegan paling dewasanya cuma kissu itu kok X3 jadi ini yaoi vanilla X3
- Iya. Beberapa scene nanti sama kayak HP. Cuma beda alur. Misal ya ada pemilihan topi, pengajaran mantra Wingardium Leviosa, sama sapu terbang ini. Tapi alurnya beda karena sifat orang-orangnya juga beda gitu. Aku pake beberapa karena aku ngga tahu enaknya mereka ngapain awal-awal masuk sekolah. Mwehehehe. Dan masalah utamanya nanti beda. Beda jauhhh.
- Luhan bakalan nangis kalau ada alasan doang kok, misal kena ujung buku tebel, karena ketinggiannya, dan ya biasanya bocah 11 tahun bakalan nangis lah X'D
- Karena Kyuhyun itu evil maknae X3 jadinya ya begitu kalau jadi guru mwehehehe X3
Untuk guest ke 2: reviewmu udah masuk kok X'D malah jadi 3. Makasih deh ya X'D
Pooarie3 : ecieh, sibuk X'D
Makasih banget ya pendapat, saran, dan reviewnya X'3 makasih juga buat yang ngefollow dan ngefavorite X3 #lemparbuluangsa
Seneng banget tahu baca suara hati kalian untukku~~
BigSehun'sjunior|Potterhead|kidsrhan|ParkLaHun| |bebbyndyaaaa|exofujo12|B|Desi|FFhanwizzard|juniaangel58|hunhan|pooarie3|FLAn2910sh|Misslah|Helloo|RaraIndiraL7|Uchiharuno Rozu|Oh Luhan|Luhen|Guest|BaconieSonjay|guest who am I|Baru nemu|Aesthic|XD|gimme|tnpa nma
Love u to the Beijing and Seoul (karena di sana tempat Luhan dan Sehun berada, mwahahahaha)
Full love,
See ya~~~
Last,
Review?
