Author : BabyJisoo
Title : Beautiful
Cast :
Ong Seongwoo
Kang Daniel
Wanna One's member
Genre : Family, Brothership
Length : Chaptered
Note : Based on teaser and Mv movie version Wanna One "Beautiful"
Part 3
Cuaca di Kota Seoul sepertinya sedang tidak bersahabat. Sejak pagi tadi hujan telah membasahi kota. Saat mendung begini mungkin akan lebih nyaman kalau kita berada di ruangan yang nyaman, ditemani secangkir teh hangat dan kue kering. Betapa sempurnanya momen tersebut.
Tapi tidak untuk Daniel, ia sudah berada di mini market sejak pagi buta, merapikan stok barang yang baru masuk dan memeriksa produk yang telah kadaluarsa agar segera dengan diganti dengan produk baru. Sesekali ia bersenandung kecil agar lebih semangat.
Kling!
"Selamat datang, selamat berbelanja."
Daniel membungkuk sopan pada pemuda yang baru saja masuk ke mini market. Gayanya terlihat sangat keren walaupun sederhana. Pemuda itu juga terlihat seperti orang yang berpendidikan, mungkin ia mengecap bangku kuliah.
"Aku membeli ini."
Pemuda itu menyodorkan empat kaleng kopi dan beberapa bungkus cemilan. Daniel segera menghitung harganya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
"Semuanya 35.000, tuan."
Pemuda itu meletakkan buku yang ia bawa dan membuka ranselnya, mencari dompetnya yang tadi dimasukkan secara asal karena buru-buru. Daniel melirik sedikit judul buku yang dibawa oleh pemuda itu.
"Wah, anda akan mengikuti seleksi akademi kepolisian?"
"Iya. Test-nya hari ini." Pemuda itu menyerahkan selembar uang pada Daniel. Daniel segera memberikan kembaliannya.
"Ini belanjaan anda dan kembaliannya. Semoga ujianmu sukses."
"Terima kasih. Aku permisi dulu."
Daniel kembali membungkukkan badannya saat pemuda itu meninggalkan mini market. Buku yang dibawa si pemuda barusan mengingatkannya pada cita-cita Seongwoo. Kakaknya ingin menjadi polisi. Untuk sesaat, Daniel berharap kalau pemuda tadi adalah Seongwoo. Namun ia segera menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan, menganggap harapannya adalah konyol.
Seongwoo hyung, dimanapun saat ini kau berada, kau harus selalu tahu kalau aku merindukanmu. Kuharap kita bisa bertemu lagi.
oooOooo
"Ini kopinya."
Minhyun menyerahkan sekaleng kopi pada Seongwoo yang sedang membaca soal. Seongwoo menerimanya sambil tersenyum kecil. Ia membuka kopinya dan meneguk sedikit. Minhyun melakukan hal yang sama, lalu membuka sebungkus cemilan.
"Kau sudah belajar sampai mana?"
"Soal nomor 78. Aku sedikit ragu dengan jawabannya."
"Ah, aku juga begitu. Rasanya jawabannya tidak ada yang cocok."
Seongwoo mengambil cemilan dan mengunyahnya pelan. Matanya masih fokus pada buku yang ada ditangannya.
"Aku tadi bertemu dengan pemuda yang lucu di mini market."
"Kau naksir padanya?"
"Sialan! Tentu saja tidak." Minhyun menepuk bahu Seongwoo cukup keras, yang membuahkan tawa dari pemuda yang ada disampingnya. "Tapi menurutku dia menggemaskan untuk orang seusianya. Dia sangat ceria dan selalu tersenyum. Yang paling unik adalah gigi kelincinya yang selalu terlihat saat dia tersenyum."
"Tentu saja dia selalu tersenyum. Dia kan pegawai mini market. Bisa-bisa dia dipecat kalau memasang wajah cemberut."
"Benar juga, ya."
Minhyun membuka buku soalnya dan melanjutkan belajarnya yang tadi sempat tertunda karena membeli kopi dan cemilan di mini market. Ia tidak menyadari kalau Seongwoo kini terlihat melamun, seperti membayangkan sesuatu.
Pemuda yang tadi dibicarakan Minhyun, entah mengapa terasa familiar baginya. Ceria, selalu tersenyum, gigi kelinci. Semuanya mengingatkannya pada Daniel, adiknya. Daniel kecil adalah orang yang paling ceria yang pernah Seongwoo temui sepanjang hidupnya. Ditambah dengan gigi kelinci yang menggemaskan saat dia tersenyum, membuat siapapun pasti akan susah menolak pesona adiknya saat itu.
Kapan kita bisa bertemu, Daniel? Aku penasaran, seperti apa kau sekarang.
oooOooo
Hujan masih setia mengguyur kota. Walaupun hanya rintik kecil, tetap saja itu akan membuat tubuh kita basah kalau terlalu lama berada dibawah hujan. Jalanan kota terlihat sedikit lengang. Mungkin karena sebagian besar orang sudah menghangatkan diri mereka di rumah masing-masing.
Daniel menempelkan selebaran yang ia bawa di sebuah pintu kios yang tutup. Niat awalnya hanya berteduh karena sepertinya hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Tetapi kemudian ia menemukan tempat kosong di pintu kios, dan Daniel menempel selebarannya disana. Siapa tahu besok si pemilik kios membacanya dan mungkin ia akan mendapatkan informasi tentang kakaknya.
Seorang pemuda berlari kecil kearah kios. Rambut hitamnya sudah basah oleh air hujan. Kedua tangannya memeluk lembaran kertas dengan foto seorang anak kecil disana. Daniel hanya melirik sedikit lalu kembali menghadapkan wajahnya kedepan.
Sepertinya pemuda itu menyadari kalau ditatap oleh Daniel. Ia menoleh sedikit dan tertegun. Matanya tertuju pada selebaran yang dibawa oleh Daniel. Foto anak kecil yang ada di selebaran itu sepertinya tidak asing. Pemuda itu pun berjalan mendekati Daniel dan menepuk pundaknya.
"Ya?"
Daniel menoleh. Ia bingung ketika pemuda yang sedang berteduh bersamanya itu menatapnya dengan intens. Tetapi kemudian maniknya tertuju pada selebaran yang dibawa pemuda tersebut. Tangan Daniel seketika bergetar hebat, begitu juga dengan pemuda itu.
"Daniel..."
"Seongwoo hyung..."
Grep!
Mereka berdua berpelukan erat. Bahkan tanpa sadar airmata mereka menetes deras, sederas air hujan yang sedang turun. Kebahagiaan seolah-olah membuncah kedalam rongga dada masing-masing.
"Ya Tuhan, ini benar-benar kau?"
Seongwoo menangkupkan kedua tangannya ke pipi Daniel, mengamati wajah adiknya yang kini lebih dewasa walaupun tetap terlihat seperti anak kecil dimatanya. Daniel tersenyum dan mengangguk kecil.
"Aku merindukanmu, hyung."
"Aku lebih merindukanmu, Daniel."
Daniel dan Seongwoo kembali berpelukan, seolah takut akan kembali kehilangan sosok tersayang yang telah berpisah selama 14 tahun. Tidak ada kalimat yang mampu melukiskan perasaan mereka. Mereka lebih dari bahagia, karena telah menemukan separuh hidup mereka yang hilang.
Malam ini, hujan menjadi saksi bertemunya Daniel dan Seongwoo. Keduanya patut bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan mereka dengan cara yang tidak terduga. Dimulai dari malam ini, mereka berjanji akan selalu bersama dan tidak akan pernah saling meninggalkan satu sama lain untuk yang kedua kalinya.
oooOooo
Rumah minimalis itu kini sarat akan kehebohan dan kebahagiaan. Pasalnya salah satu penghuninya memang sedang berbahagia. Wajah tampannya berhias senyum lebar, sebuah senyum yang mungkin tidak semua orang beruntung melihatnya. Namun kali ini senyum itu diperlihatkan secara cuma-cuma sebagai bukti bahwa dia sedang dalam euforia kebahagiaan yang tidak ada duanya.
"Semuanya, perkenalkan ini hyung-ku, Seongwoo hyung."
Si pemilik senyum lebar, Daniel, dengan nada yang riang memperkenalkan sang kakak pada teman-temannya yang telah menemaninya selama 14 tahun ini. Seongwoo yang berdiri disamping Daniel hanya tersenyum kecil melihat tingkah adiknya. Daniel tidak pernah berubah, dia tetap adik kecilnya yang menggemaskan seperti dulu.
"Hai semuanya. Aku Seongwoo."
Seongwoo cukup menikmati tatapan takjub dari teman-teman Daniel yang seolah-olah sedang melihat sebuah keajaiban dunia. Delapan pasang manik itu terlihat senang sekaligus terharu.
"Jadi kau yang namanya Seongwoo?"
"Daniel bercerita banyak tentangmu ketika kalian kecil."
"Ya Tuhan, ini benar-benar keajaiban!"
"Usaha Daniel hyung selama ini tidak sia-sia."
"Akhirnya kalian dipertemukan lagi. Aku turut senang."
"Ah, aku mau menangis rasanya. Ini benar-benar luar biasa!"
"Bagaimana kalian bisa bertemu lagi?"
"Rasanya seperti mimpi melihat ini."
Baik Daniel maupun Seongwoo hanya terkekeh pelan melihat reaksi teman-teman Daniel. Namun mereka bisa merasakan bahwa mereka tulus ikut merasa senang dengan pertemuan kembali dua saudara itu.
"Kalian pasti tidak akan percaya kalau aku menceritakan bagaimana aku dan Seongwoo hyung bertemu. Ini benar-benar diluar dugaan kami bisa bertemu kembali."
"Terima kasih sudah menjaga Daniel selama ini. Aku berhutang budi pada kalian semua."
"Eyyy, hutang budi apanya. Kami tumbuh bersama sejak di panti asuhan hingga pindah kemari. Jadi tidak ada yang merasa berhutang budi karena kami saling menjaga satu sama lain."
Seongwoo tersenyum mendengar ucapan Jisung. Daniel sudah bercerita soal teman-temannya, dan pemuda yang dihadapannya saat ini adalah anggota tertua yang ada di rumah tersebut, yang artinya juga lebih tua darinya.
"Kalau begitu silakan nikmati waktu kalian berdua. Kurasa kalian butuh privasi untuk melapas rindu satu sama lain."
"Ah, Seungwoon hyung tidak asyik. Kami kan mau dengar cerita dari Seongwoo hyung dan Daniel hyung."
"Iya. Kami penasaran bagaimana bisa mereka bertemu lagi."
Seruan protes seketika datang dari Daehwi dan Guanlin. Dua anggota termuda di rumah tersebut tidak rela melewatkan momen manis antara Seongwoo dan Daniel begitu saja tanpa tahu cerita lengkapnya.
"Besok kalian sekolah. Aku janji akan bercerita pada kalian setelah kalian pulang sekolah besok."
Kalimat dari Daniel cukup efektif untuk membuat Daehwi dan Guanlin menurut. Sementara yang lain sudah meninggalkan ruang tengah yang tadi dijadikan tempat berkumpul. Setelah semua orang pergi, Seongwoo dan Daniel saling melempar senyum.
"Mau ke rooftop? Biasanya aku selalu menghabiskan waktu disana sebelum tidur."
"Boleh. Sudah lama kita tidak mengobrol berdua, kan?"
oooOooo
Daniel dan Seongwoo menatap langit malam yang sedikit mendung. Sisa-sisa hujan masih sedikit terasa disana. Namun hal itu tidak memudarkan senyum bahagia di wajah dua bersaudara itu.
"Kau... apa kabar?"
"Baik. Hyung sendiri apa kabar?"
"Lebih baik setelah bertemu denganmu."
Untuk beberapa saat tidak ada suara yang terdengar.
"Rasanya masih seperti mimpi aku bertemu denganmu lagi. Setiap hari aku selalu berdo'a pada Tuhan agar menjagamu dimanapun kau berada, dan Tuhan mengabulkan do'aku. Kini aku bisa melihatmu baik-baik saja dengan mataku sendiri."
"Aku juga. Bahkan setiap hari aku bermimpi kalau aku bertemu denganmu. Semua hal kecil yang aku lakukan selalu mengingatkanku padamu." Daniel mengubah posisinya menjadi tidur menyamping. "Hyung tinggal dimana selama ini?"
"Aku dulu tinggal bersama salah satu kenalan ibu. Tapi sekarang aku menyewa apartemen sendiri. Apartemen itu rencananya akan digunakan untuk tempat tinggal kita setelah aku menemukanmu."
Daniel terdiam sejenak. Ia senang bisa bertemu dengan kakaknya, bahkan lebih dari senang. Tetapi ia juga tidak rela kalau harus berpisah dari teman-temannya yang selama ini selalu bersamanya.
"Sepertinya kau betah disini, ya. Teman-temanmu kelihatannya sangat baik dan peduli padamu."
"Mereka lebih dari sekedar baik dan peduli. Mereka sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Bahkan mereka membantuku menyebarkan informasi tentangmu."
"Aku senang kau dikelilingi orang-orang yang baik." Seongwoo tersenyum kecil sambil mengusap hidungnya yang terkena tetesan air hujan yang tersisa. "Ngomong-ngomong, aku ikut seleksi akademi kepolisian."
"Wah, benarkah? Kau akan menjadi seorang polisi?"
Mata Daniel berbinar antusias. Ia bahagia karena kakaknya bisa mencapai cita-cita yang dia impikan sejak kecil.
"Aku baru saja melakukan test tadi siang. Niat awalku adalah supaya aku bisa lebih mudah untuk mencarimu. Tetapi ternyata Tuhan telah mempertemukan kita terlebih dahulu sebelum aku menjadi polisi."
"Tuhan memang selalu punya skenario yang tidak terduga untuk umatNya."
Seongwoo duduk bersila dan memutar tubuhnya menghadap Daniel. "Besok, ikutlah aku kuliah. Aku akan mengenalkanmu pada sahabatku."
"Tidak bisa. Aku harus bekerja."
"Kau... bekerja?"
"Tentu saja. Hyung pikir aku dan yang lain bisa makan dengan uang dari mana? Kami semua bekerja, kecuali Daehwi dan Guanlin. Kalau tidak begitu, mana mungkin kami bisa hidup sampai hari ini?"
Seongwoo menatap Daniel yang kini sedang memandang langit. Ia tidak menyangka kalau adiknya berjuang dengan keras agar bisa bertahan hidup. Membayangkan Daniel bekerja sudah lebih dari cukup untuk membuat hati Seongwoo berdenyut nyeri.
"Maafkan aku karena tidak berusaha dengan keras untuk mencarimu. Kalau saja aku bisa lebih cepat bertemu denganmu, kau pasti tidak akan kesusahan seperti ini."
"Tidak, ini bukan salahmu. Ini sudah takdir dari Tuhan. Yang penting sekarang kita bisa bertemu, kan?"
Daniel tersenyum lebar, menampakkan gigi kelincinya yang begitu menggemaskan. Mau tidak mau Seongwoo ikut tersenyum melihat senyum adiknya. Senyum Daniel selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk membuat orang lain ikut merasakan bahagia.
"Ngomong-ngomong, kau masih cengeng, tidak?"
"Aish, jangan membicarakan itu, hyung. Aku malu."
"Ah, lucunya adikku yang satu ini~"
Malam itu dihabiskan oleh Seongwoo dan Daniel dengan tawa dan canda. Inilah hadiah dari Tuhan atas kesabaran dan ketabahan mereka, sekarang mereka bisa kembali bertukar cerita dan tertawa bahagia seperti saat ini.
.
.
.
.
TBC
