PART IV(My Destiny)
Menatap sekeliling halaman yang sudah sangat sepi berhasil membuat bulu kunduk gadis bersurai merah muda ini bergindik takut. "Aku tidak menyangka waktu berlalu begini cepatnya," ia berjalan ke tempat dimana biasanya ia menyimpan sepedanya, "Eh?! Kosong? Tidak ada?! Apa tadi pagi aku membawa sepedaku?" Terlihat sekali bahwa kini gadis bermata Hijau bagaikan daun yang masih muda itu kebingungan setengah mati, ia merongoh saku celana jeansnya, handphone, "Moshi-moshi, Ino-chan,"
"..."
"Ah! Enggak kok, aku hanya ingin bertanya padamu, apa tadi pagi aku datang ke kampus naik sepeda atau tidak? Ano.. Aku lupa .." terdengar suara ngakak dari seberang sana, "Kenapa? Apa itu aneh?" tanya Sakura kembali, "..."
"Eh?! Jadi aku tidak membawanya ya? Ahahahaha arigatou gozaimasu.." Klik. Sakura memutus sambungan teleponnya. Menghela napas sejenak kemudian ia meraih botoh minum di dalam ranselnya, "Nah, jalan kaki deh.." pasrahnya.
.
.
Entah sudah yang keberapa kalinya Sakura melirik jam tangannya, 1 jam 13 menit ia telah menunggu namun bis yang ditunggunya tidak kunjung datang, hujan pun semakin deras.
CRASH! Mobil yang melintas dengan kecepatan di atas rata-rata itu berhasil mencipratkan genangan air membuat seluruh tubuh Sakura basah kuyup, "HEI! BISAKAH KAU MEMBAWANYA DENGAN PELAN?!" Teriak Sakura tapi percuma saja orang yang membawa kendaraan tersebut tidak mungkin dapat mendengarnya, "Oh sialnya hari ini.." Sakura hanya bisa mengusap wajahnya yang basah.
Haripun semakim gelap, tidak ada gunanya ia terus berdiam diri di halte karena bispun juga tak kunjung datang, Sakura pun berinisiatif untuk pulang dengan berjalan kaki.
.
.
Suara longlongan serigala yang terdengar begitu menyedihkan ditelinga Sakura, ia sama sekali tidak pernah merasa takut dengan yang namanya binatang meski itu binatang buas sekalipun. Ia lebih merasa takut dengan hal hal berbau mistis, ya tahulah apa itu. Dan juga gangster.
Jalan menuju apartmentnya memang lumayan jauh, sehingga membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih untuk dapat sampai hanya dengan berjalan kaki. Beberapa persimpangan telah ia lalui.
Bangunan tua besar yang menjulang tinggi itu sering ia lihat sewaktu siang hari jika ia berjalan melewati kawasan elite tersebut, namun baru kali ini untuk pertama kalinya Sakura melihat bangunan besar nan tua itu di malam hari. Jika saat siangpun terlihat begitu menakutkan, apalagi sekarang. Pikiran pikiran aneh mulai menyerang otaknya, "Benar kata Ino, kenapa bangunan semewah itu bisa tak berpenghuni dan memiliki hawa yang berbeda?! Pasti .. Sarang hantu hiiiiii... " Batin Sakura,
KRIET-!
Deg.. "Apa itu? Pintunya terbuka? Bukannya biasanya tak pernah terbuka ya?" Sakura kembali membatin, takut-takut ia membalikan badannya, siluet hitam terlihat dengan begitu jelas dimatanya, ia tak mungkin salah lihat, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya, dengan penuh kepercayaan, Sakura berjalan dengan tenang walau sebenarnya rada degdegan juga untuk melihat siluet tersebut, Krak! Sakura tanpa sengaja menginjak ranting bambu, Shyuuuuuut—! Sebuah benda tajam melayang kearahnya, dengan gerakan refleks, Sakura menunduk sehingga benda tersebut menancap di dahan pohon besar di belakangnya, napas Sakura tercekat, "Na-nani?! Tadi itu .. Apah? .." Sakura melihat, ia melihat dengan sangat jelas mata dengan lingkaran hitam tebal di area matanya serta taring panjang dan sayap hitam dipunggung makhluk yang tadi ia lihat sebagai siluet, namun, ketika ia menunduk untuk menghindari serangan benda tajam tersebut, ia telah kehilangan sosok makhluk yang entah apa itu. "Vampir.." gumam Sakura, "Jangan ngawur, dasar cewek menyebalkan." Suara ini.. Sakura mengenalnya, "KYAAAAA!" Terikan Sakura yang tidak bisa dibilang pelan itu melengking dengan begitu nyaringnya, kedua tangan Sakura mengepal dengan erat, kemudian ia menggunakan kedua tangan yang terkepal itu untuk memukul orang yang dengan seenak jidatnya ini karena muncul dengan sangat tiba-tiba, Sasuke meringgis, ia menangkap kedua tangan Sakura dengan hanya satu tangan, "Apa yang kau lakukan bodoh?! Aku tidak tahu monster mana yang merasukimu, tapi ini sakit!" Sakura berhenti memberontak, ah laki-laki arrogant dan pemarah ini lagi, batin Sakura. "A-ano .. Gomennasai, habisnya kau membuatku kaget tadi." Sedangkan lelaki di depannya ini sama sekali tidak memberikan ekspresi apapun membuat Sakura kebingungan sendiri, ia menjadi merasa kikuk, "Kesalahan apa yang kau lakukan tadi sehingga kau merasa kaget melihatku?" Glek. Sakura menelan ludah, apa yang harus ia jawab sekarang? Kesalahan? Apa merasa penasaran dan diam diam melihat siluet aneh kemudian menginjak ranting dan hampir terkena benda tajam kemudian kehilangan sosok aneh tersebut bisa dibilang kesalahan? Sakura tidak menjawab. "I-itu .. Bisakah kau lepaskan tanganku?" takut-takut ia mendongak untuk melihat lelaki yang selalu berlaku kasar terhadapnya itu, "Ke-kenapa?" Sakura kembali bertanya, ia melihat tatapan mata Sasuke yang selalu melihatnya tajam seakan hanya dengan melihatnya saja itu bisa membunuhnya hidup-hidup kini kembali menatapnya lekat, perempuan manapun pasti akan menjerit kegirangan jika diatap oleh lelaki tampan bah pahatan patung yunani kuno, namun berbeda dengan Sakura, meskipun ia memang merasa terpukau dengan tatapan tersebut, namun disisi lain iapun merasa takut, sangat takut. Lamunan Sakura buyar ketika Sasuke melepaskan kedua tangan Sakura dan berlalu pergi begitu saja setelah menaiki motor sport besarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sakura menghela napas lega, "Dia itu kenapa? Aneh sekali. Tiba-tiba datang dan pergi begitu saja seperti jalangkung hantu dari Indonesia itu." Ucap Sakura acuh, ia kembali menatap bangunan besar tua, pintunya kembali tertutup, kapan tertutupnya? apa mungkin makhluk yang tadi dilihatnya itu yang menutupnya kembali? Jadi makhluk itu yang menempati tempat ini? Sakura lagi lagi bicara di dalam dirinya sendiri, ia meneruskan kembali perjalanan pulangnya.
.
.
.
"Tadaimaaa... "
"Okaeri, Sakura-chan. Hari ini kau pasti sibuk sekali karena baru pulang–eh? kau hujan-hujanan?" Sakura hanya bisa tersenyum menjawab semua pertanyaan yang wanita tua yang sudah Sakura anggap seperti neneknya itu, Chiyo menggambilkan handuk kering dan memberikannya pada Sakura, "Keringkanlah dengan ini. Yah, walaupun tidak akan benar benar kering, tapi setidaknya lumayan berguna kan? Dan cepat kembali ke apartment mu dan mandilah dengan air hangat agar kau tidak terserang Pneumonia." Sakura mengangguk paham, "Ha'i .. Arigatou Chiyo-baasama.."
.
.
.
Entah sudah keberapa kalinya Sakura membulak balikan badannya, ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, kemudian beberapa detik setelahnya, Sakura membuka kembali selimut tersebut, ia merasa kacau sekarang, siluet yang tadi itu benar benar kembali menghantui pikirannya. Sakurapun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tidurnya dan meraih ransel yang tergantug disisi ranjangnya, Sakura mengambil sesuatu dari dalam tas tersebut, Belati.
Belati inilah benda tajam yang tadi melayang kearahnya namun meleset karena ia tertunduk dan mengenai pohon. Entah apa yang akan terjadi padanya jika tadi ia tidak refleks menundukkan badannya, mungkinkah ia sudah R.I.P sekarang? Sakura terus saja memerhatikan belati tersebut, "Apa ini? XXOOI? Apa ini suatu merk? Hee aneh sekali." Sakura kembali memasukan belati tersebut kedalam ranselnya, tidak lupa selama memegang belati tersebut, ia menggunakan sarung tangamnya.
Waktu menunjukkan pukul 11.00pm namun kantuk sama sekali belum menyerangnya. Ia memutuskan untuk membaca buku. Biasanya itu efektif untuk membuatnya tidur.
.
.
.
FAILED DAMON
"Bagaimana hari ke-7 mu selama di bumi ini, Sasuke-otouto? Apa sudah ada perkembangan?" Sasuke menutup kedua telingannya, "Apa aku harus menjawab? Bukankah selama ini kau selalu memantauku?" Terdengar suara tawa yang benar benar berhasil membuat Sasuke muak, ia mencoba untuk memutus sambungan telepati antara dirinya dan Itachi, namun gagal. Kenapa? Batin Sasuke. "Tentu saja tidak bisa! Karena aku yang melakukan sambungan telepati lebih awal darimu."
"Kenapa begitu? Bukankah biasanya meskipun kau yang memulainya aku bisa memutusnya?"
"Khukhukhu... Aku mana tahu, Sasuke. Ini peraturan baru dari Madara-jiisama. Bagaimana dengan apartment barumu?"
"Cih! Si kakek tua bongkotan itu selalu seenaknya saja! Biasa saja. Tidak ada yang spesial. Kamarnya 10x lebih sempit dibandingkan dengan kamarku diistana."
"Berani sekali kau mengatainya seperti itu mentang-mentang ojiisama tidak mendengarnya. Tentu saja. Tempat dan alam kitapun berbeda dengan Manusia, tentu saja berbeda."
"Aku selalu berani mengatainya meskipun di depannya secara langsung tidak sepertimu! Hn. Itu aku tahu."
"Tentu saja akupun berani, tapi aku lebih mementingkan etika dan kesopanan terhadap yang lebih tua. Ingatlah Sasuke, walau bagaimanapun dia Kakek kandung kita. Hormatilah."
"Yayaya, ini kesekian kalinya kau mengatakan begitu, jadi, bisakah kau memutuskan sambungannya? Aku lelah!"
"Lelah? Ahahahahaha... Baiklah baiklah, dasar Manusia."
"Aku mendengar! Dan aku bukan Manusia!"
Suara gelak tawapun kembali terdengar, namun setelahnya berhenti karena Itachi telah memutus sambungan telepatinya.
Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Ini aneh, apa benar si kakek tua itu membuat peraturan baru? Tapi bagaimana bisa sebelumnya ia tidak dikasih tahu begini? Pikiran pikiran negatif menyerangnya.
.
.
.
FAILED DAMON
"Sakuraaaaaaa foreheaaaad~~ Ohayouuu" Hari pertama kuliahpun tiba, kedua insan berbeda warna rambut itu saling berpelukan layaknya teletubis. "Ohayou, Ino-pig." balas Sakura. "Bagaimana perasaanmu hari ini Sakura? Kalau aku sih senaaaaaang~" Mereka melepaskan acara peluk-pelukannya dan berjalan menuju kelas pertama mereka. "Lega. Aku merasa sangat lega." Ucap Sakura sambil tersenyum.
"Hey Sakura, aku tidak pernah menyangka kalau mahasiswa disini keren-keren dan ternyata banyak seleb juga yang kuliah disini. Tidak salah kita telah memilih tempat kuliah yang tepat." Ino dengan semangat menceritakan apa yang telah tersaji di depan matanya dari awal ia memasuki gerbang Univeritas sampai kini duduk di dalam kelas pertamanya. Para mahasiswa-siswipun langsung duduk dengan rapi begitu seorang dosen memasuki ruangan kelas, semua siswa tercekat, terutama kaum hawa. "Oh my god, dewaku.. Apakah seorang malaikat baru saja memasuki kelas kita dan menjabat menjadi dosen kita, Sakura?" Berbeda dengan yang lainnya, Sakura memang merasa tercekat, namun, bukan seperti kesan yang lainnya, ia merasa riwayatnya benar benar tamat, mana mungkin orang yang berdiri dengan tegak dan kacamata yang tersemat di wajahnya itu menjadi dosennya, ia bahkan tidak bisa dengan fokus mendengar celotehan kekaguman Sahabatnya pada dosen berkacamata di depannya itu.
"Baiklah, karena ini pertemuan pertama kita, perkenalkan saya Uchiha Sasuke." Ucapnya dengan memberikan sedikit senyuman diawal pertemuan mereka, para mahasiswi lainnya mulai menjerit melihat senyuman dosen baru mereka, berbeda sekali dengan Sakura, terutama ketika mata onyx yang selalu menatapnya tajam itu kini kembali berhasil menangkap mata emeraldnya.
TBC
A/N : Piyuuuuuuh... Selesai juga akhirnya ini part IV ^_^ Terimakasih untuk yang sudah meread dan mereview ini ff :D semoga chap 4 nya tidak membosankan ya! Sampai jumpa di next chapter .. Maaf kalau sebelumnya tidak bisa update kilat :( tapi chap depan insyaallah aku bisa update kilat, sekitar 3-5 hari kemudian aku bakalan update lagi ^_^
Signature,,
Merischintya97
