Entah sudah berapa lama aku dan pemuda berambut oranye tengah menindihku berada di ranjang dengan posisi begini. Berapa kalipun aku meronta, ia tak memberiku kelonggaran sedikitpun dalam dekapannya. Aroma tubuhnya, kehangatannya, suara desahannya yang memanggil namaku begitu membuatku mematung. Rasa geli menjalar tubuhku ketika ia membenamkan wajahnya dalam leherku, helai rambutnya menggesek kulitku, itu semua benar-benar mengerikan. Aku bukan wanita murahan, tapi kenapa untuk bergerak melawannya saja aku tak bisa? Seolah aku menginginkan sentuhan sang pangeran sekolah sekaligus iblis tukang cium ini, Kurosaki Ichigo!

"I-Ichigo, sekali lagi kuperingatkan… menyingkirlah dariku atau kau akan mengalami hal terburuk dalam hidupmu!" meski aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk melawannya dan ini hanyalah sebuah gertakan, kuharap Ichigo mengurungkan niatnya untuk macam-macam denganku. Jika keadaan ini semakin berjalan lebih jauh, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku malam ini juga! Sekarang bayangkan, ciuman pertama saja belum pernah, sekarang aku malah dalam keadaan berbahaya begini, dalam keadaan akan di perkaosnya! Argh, tidak mau! Aku tidak mau berbadan dua dalam usia begini! Aku belum siap punya anak! Aku masih ingin beli aksesoris anime, bukan susu bayi yang slogannya Life Is Adventure itu! Andai Nii-sama tahu aku diperlakukan seperti ini, Ichigo pasti sudah memasuki sakaratul mautnya! Aku yakin itu karena Nii-sama jago berkelahi, apalagi otot-otot tubuh Nii-sama lumayan bisa dikatakan macho! Nii-sama, aku dalam bahaya!

Ichigo mengangkat kepalanya kemudian memandangku. Meski aku tidak tahu benar apa ia memperhatikan wajahku karena kamar ini gelap, namun sepertinya begitu. Aku bisa melihat bayangan kepalanya yang semakin mendekat, dan akhirnya ia berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya dapat kurasakan, begitu membuatku merinding.

"Bukankah sudah kubilang, aku akan menjadi calon suamimu? Dan sebagai tanda pertunangan kita, ayo kita habiskan malam pertama ini dengan sedikit 'pemanasan',"

A-Apa! Apa maksudnya dengan malam pertama! Tidak, sialan! Enak saja dia memutuskan pertunangan antara aku dengannya! Dia pikir dia siapa, hah! Dasar lelaki buaya, aku tidak sudi bertunangan dengannya!

"Ichigo, sekali lagi kau- aaaah! Apa yang kau lakukan!" leherku merasakan seperti sengatan kecil, ternyata Ichigo menggigit leherku sama seperti sebelumnya, tapi kali ini lebih keras. Setelah apa yang dilakukannya selesai, lidahnya berpindah ke telingaku.

"Suara kesakitanmu ternyata sangat menyenangkan untuk di dengar yah, Kuchiki," cukup, aku tidak peduli apa yang kau katakan. Ini pelecehan dan aku tidak suka!

"Ichigo, kumohon, aku tidak mau! Lepaskan aku! Aku ini mempunyai orang yang kusukai, kau sendiri tahu kan! Renji temanmu, jangan khianati temanmu! Bukankah dulu kau pernah bilang kau tidak akan melakukan apa-apa padaku karena aku adalah teman Renji!" Ichigo akhirnya menghentikan kegiatannya setelah aku mengatakan itu barusan. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya saat ini karena kamarku gelap, tapi yang jelas, untunglah ia menghentikan kegiatan buruk yang barusan dilakukannya padaku. Dan aku sedikit bersyukur dengan keadaanku saat ini. Gelap, kalau saja tidak gelap, aku dapat melihat tatapan buas Ichigo dan itu sangat membuatku takut! Ah, tapi satu yang membuatku terkejut. Dalam keadaan gelap, Ichigo hapal dengan semua bagian-bagian tubuhku, bagaimana bisa itu terjadi? Ah, dasar Rukia bodoh! Dia kan lelaki nakal yang biasa melakukan hal seperti ini. Dia bagaikan mahkluk malam, jadi pasti sebelumnya ia sudah pernah melakukan hal seperti ini pada gadis lain. Beberapa detik berlalu, sudah tak kulihat lagi bayang samar-samar tubuh Ichigo dan berat tubuh Ichigo pun juga tak terasa. Rupanya Ichigo menggeser tubuhnya sehingga kini ia berbaring tepat di sebelahku. Suara helaan napas beratnya dapat kudengar.

"I-Ichigo?" panggilku ragu untuk memastikannya baik-baik saja karena aku cukup kaget juga dengan perubahan sikapnya. Apa? Apa dia tidak jadi menyerangku?

"Kenapa? Kau kecewa karena tidak jadi aku serang?"

"EKH! MULUTMU! Aku hanya heran saja denganmu! Hebat juga kau bisa menahan nafsumu untuk tidak menyentuhku, bukannnya kau ini lelaki mesum yang selalu menggoda setiap wanita yang ada di dekatmu tanpa ampun sampai kau mendapatkan apa yang kau inginkan dari wanita incaranmu itu!" semburku terus terang akan kelakuan Ichigo selama ini. Biarlah jika aku menyinggungnya, biar dia tahu bahwa kebiasannya itu menyebalkan untuk seorang wanita. Setan penjerumus lubang hitam!

"Kalau saja kau tidak bawa-bawa nama Renji, tentu saja aku akan memperkosamu seenakku! Kau kira aku takut, hah? Menikmati tubuh wanita itu bagiku semudah membalik telapak tangan, cebol." Sial. Nada bicaranya benar-benar menyebalkan! Dan kata-kata tabunya itu… jika di dengar semua kaum wanita yang menjunjung harga diri tinggi, bisa kupastikan ia akan mati di keroyok para wanita! Ah, tunggu dulu. Ada satu kalimat ganjil dari ucapannya barusan.

"Oh, jadi kau takut memperkaosku karena aku merupakan teman Renji yah?" tanyaku dengan nada meledek dengan posisi yang masih sama, berbaring di sebelahnya. Dalam bayang gelap, Ichigo menolehkan kepalanya ke arahku. Sayang sekali gelap, kalau tidak gelap, aku berani taruhan raut wajahnya saat ini pasti sedang kesal.

"Sebenarnya memperkaos itu apa? Norak sekali bahasamu,"

"Ekh! Enak saja! Setidaknya kata memperkaos lebih sopan daripada kata-katamu yang tadi! Kata-katamu tadi terlalu blak-blakkan! Dasar penakut!"

"Enak saja, aku bukannya takut pada Renji, tapi…" Ichigo menggantungkan perkataannya. Penuturannya tentang Renji, seseorang yang kusukai itu membuatku sedikit penasaran. Karena besarnya rasa ingin tahuku, aku menggeser badanku, mendekatkan tubuhku dengannya. Kutuntut kalimatnya yang terpotong barusan. "Tapi apa, Ichigo?"

Tangan Ichigo bergerak mengelus pipiku. Belaiannya terasa begitu lembut dan penuh kasih, ia seperti bukan Kurosaki Ichigo yang biasa kukenal. Jemari-jemari lentiknya bergerak mengusap daerah bibirku, sementara tangannya yang lain semakin mendorong tubuh mungilku sampai tak ada jarak kontak fisik di antara kami. "Karena aku me-"

CKLEEEK!

Tiba-tiba saja kamarku menjadi terang. Lampu putih yang kumiliki di kamarku ini bersinar begitu terang dan jelas, lewat penerangan ini, aku baru menyadari bahwa ternyata keadaanku dengan Ichigo ini bisa dibilang gawat. Tetapi akal kami tertuju pada satu pertanyaan, siapa yang menghidupkan lampu? Segera saja aku dan Ichigo bersamaan menoleh pada arah lampu yang ada di dekat pintu masuk. Di sana, berdiri seorang lelaki berambut biru tengah memandangi kami sampai matanya melotot. Wajahnya terlihat shock atas apa yang dilihatnya, aku dengan posisi hampir menindih Ichigo di ranjang.

"G-Grimmjow!" aku dan Ichigo tak kalah kagetnya melihat keberadaannya yang secara tak kami sadari ia telah memasuki kamar. Layaknya istri yang mengetahui suaminya berselingkuh, dengan background ber-api-api, Grimmjow mendekat ke ranjangku. Tangan besarnya menyingirkan tubuh mungilku sampai aku jatuh menggelundung dari kasur. Sedangkan Ichigo? Sepertinya nasibnya akan lebih parah dariku.

"G-Grimmjow, lepaskan aku! Mau apakau, hah! Kau- GYAAAA!"

"Ichigo-chan, kau jahat! Kenapa kau tertarik pada Rukia-chan, hah! Padahal aku selalu setia padamu! Oh, my Cinderella!"

"GYAAAA! MAHO BEJAT! LEPASKAN AKU, SIALAN! H-HEY! JANGAN ROBEK BAJUKU! HARGANYA MAHAL TA- GYAAAA!"

Grimmjow menahan Ichigo dalam kurungan tubuhnya dan ia terlihat berusaha menyerang Ichigo. Itulah peristiwa mengerikan yang berlokasi di ranjang kamarku. Haha, aku hanya tertawa masam melihat penyerangan yang dilakukan Grimmjow dan pertahanan yang dilakukan Ichigo. Dasar Grimmjow, ternyata dia maho berbahaya. Tapi... aku masih penasaran dengan apa yang akan Ichigo katakan padaku barusan.

Disclaimer :: Tite Kubo

Rate :: T

Genre :: Gado-gado XD

Warning :: OOC, AU, Typo (s), Gaje, Abal, Dll.

"Give Me Your Kiss"

Chapter 4

"Selamat berjuang, Abarai-kun!" seorang murid perempuan berseragam dengan rambut berkucir 2 memberikan sekotak bekal makanan kepada Renji. Renji yang setengah bingung akan sikap sang gadis repot-repot memberinya bekal makanan terpaksa menerima hadiah yang di terimanya daripada harus terbuang sia-sia. "Terima kasih ya," Renji tersenyum pada perempuan tersebut yang mengakibatkan wajah sang perempuan merona merah karenanya. Sigh, sudah kuduga, ia pasti menyukai Renji! Setelah urusannya dengan Renji, murid itu berlari keluar ruangan latihan kendo. Saat ia sudah sampai di para kumpulan gerombolan wanita-wanita, fans Renji, ia menjerit-jerit kegirangan. Hhh, dasar, rupanya aku terlalu meremehkan Renji. Kukira tak akan ada wanita yang menyukai atau menjadi fans seorang pemain kendo, Abarai Renji. Namun ternyata aku salah besar. Kabar tentang Renji yang mewakilkan SMA Karakura dalam lomba kendo membuat lelaki berambut merah layaknya samurai ini malah banyak di sukai para wanita. Kalau begini caranya, itu artinya aku mendapat saingan yang sangat banyak!

"Rukia, kau benar-benar ikut denganku di tempat perlombaan?" suara Renji langsung membuyarkan lamunanku tentang Renji saat ini. Tanpa tahu apa yang tadi dikatakan Renji karena aku memang tidak menyimaknya, aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala seperti orang gelagapan atau orang ling-lung. Setelahnya yang aku dapatkan adalah Renji yang tersenyum. Renji menggandeng tanganku dan menarik tubuhku untuk mengikutinya.

"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang! Sebaiknya kita berangkat lebih awal agar kau dapat tempat duduk paling depan dan bisa melihatku bertanding, Rukia!" ukh, jantungku langsung berdetak kencang. Renji memang gagah, seragam kendo yang di kenakannya sangat cocok untuknya. Semangat dan percaya diri untuk menang semakin membuatku menyukainya. Aku sangat menyukainya, sangat. Tapi yang aku sesalkan adalah hari ini pula bertepatan ketika ia menang nantinya, aku harus melepaskannya. Karena ia telah menjadi milik orang lain. Renji akan menyatakan perasaannya pada wanita yang di sukainya. Tapi… aku masih bisa berharap bukan jika akulah orang yang di sukainya? Argh! Kau bodoh, Rukia! Jangan terlalu berharap begini!

Grep!

Tiba-tiba kurasakan satu tangan menggandeng tangan kiriku yang menganggur dari belakang. Genggaman tangan besar ini… jangan-jangan,

"Ichigo?" aku melihat pemuda berambut oranye itulah yang menahanku. Kedua bola mata hazelnya menatapku dalam. Sejak kapan ia memasuki ruang kendo ini?

Renji yang sadar akan apa yang terjadi menoleh ke belakang dan terbelalak melihat kehadiran sosok yang menahanku. "Ichigo?" ucapnya tak percaya. Ichigo yang semula berwajah serius sekarang langsung berganti ceria. Ia tersenyum pada kami berdua. "Kalian tidak keberatan kan jika aku ikut bersama kalian? Aku pun ingin melihat pertandingan kendo-mu, Renji." Ahh! Dasar perusak suasana! Padahal aku ingin jalan berdua saja dengan Renji, tapi kenapa bocah mesum berambut jeruk ini malah ikut-ikut? Bukannya ia tidak tertarik dengan yang beginian? Buktinya dulu ketika aku curi-curi dengar pembicaraannya dengan Renji, Ichigo menyatakan dirinya kalau ia tak suka dengan acara semacam kendo, yudo, atau apalah! Yeah, pasti dia sengaja memisahkan jarak antara aku dengan Renji! Jeruk mandarin kusso!

Mau tak mau, Renji yang memang orangnya baik hati memperbolehkan Ichigo ikut bersamanya. Toh Ichigo pun berhak untuk menonton acara pertandingan kendo sekolahnya sendiri.

# # #

Walau siang, langit pun tetap membiarkan awan-awan hitam menyelimutinya. Langit mendung, memungkinkan akan adanya hujan turun. Hey, kenapa cuaca seburuk ini? Padahal Renji sedang mengikuti perlombaan, kalau begini, Renji bisa-bisa sakit. Sekarang saja dalam perjalanan ke lokasi pertandingan, angin berhembus mengguncang pepohonan kecil hingga melambai-lambai bagai menari. Menakutkan. Satu yang menguntungkan kami bertiga, jarak antara SMA dan lokasi pertandingan cukup dekat. Kami bertiga berangkat lebih dulu, sementara suporter dan para guru akan menyusul nanti.

"Cuacanya parah. Sepertinya akan turun hujan,"

"Eh? Jangan turun hujan dong! Doa-kan saja hanya hujan gerimis!"

Benar, jangan sampai turun hujan! Kalau hujan sampai turun, maka bagaimana cara aku pulang ke rumah? Bagaimana jemuranku? Ah, masa bodohlah dengan itu semua! Bukankah dengan turunnya hujan aku bisa lebih lama berduaan bersama Renji? Yeah, hujan dapat kujadikan alasan untuk bersamanya. Tunggu… ada satu hal yang kulupakan… iyah, ini yang kulupakan! Rambut jeruk setan mesum iblis hentai ini! Kurosaki Ichigo, dialah penghalang terbesarku! Selama masih ada tubuh haramnya yang berada di tengah antara aku dan Renji kini, acaraku bersama Renji tak akan mungkin bisa semudah itu terlaksana!

Kutarik pelan seragam Ichigo agar ia berbalik menghadapku. Untungnya Ichigo menyadari tarikan kecil yang kubuat dan menoleh kepadaku, sementara Renji masih terus berjalan di depan kami. Tanganku mengisyaratkan Ichigo untuk berjalan bersamaku di belakang Renji sambil berbicara tentang sesuatu.

"Apa, cebol? Kau tidak terima aku ikut menonton pertandingan? Protes? Maju kau!" apa-apaan ini! Ichigo jadi bersikap seolah aku musuhnya. Ia menantangku!

"Ssst, bukan begitu, Ichigo! Kau… kau bilang kau tidak akan mengganggu pendekatanku dengan Renji kan?" ah, sebenarnya aku malu berbisik begini padanya.

Ichigo mengangkat satu alisnya dan memutar bola matanya ke atas melihat langit yang semakin mendung. "Kapan aku pernah bicara begitu?"

"Kemarin saat kau habis melakukan 'itu' dengan Grimmjow di kamarku!"

"KUSSO BAKA! AKU TIDAK MELAKUKANNYA! AKU BUKAN MAHO! AKU NOR-"

Segera kubungkam mulut embernya sebelum Renji menyadari teriakan cukup keras dari Ichigo ini. "Oke, oke, aku tahu kau normal! Kau mengatakannya padaku. Kumohon Ichigo, untuk satu hari ini saja biarkan aku menghabiskan waktu lebih lama bersama Renji," pintaku. Kubuat wajahku semelas mungkin. Kalau boleh jujur, aku sedikit merasa merendahkan harga diriku sendiri dan tidak ingin melakukan hal seperti ini. Tapi apa mau di kata? Kalian tahu sendiri bukan betapa sendiri bukan betapa bahagianya jika kalian dapat menghabiskan banyak waktu bersama orang yang kalian suka? Dan itulah aku. Terlebih lagi ini adalah hari di mana aku harus melepas cinta pertamaku, Abarai Renji. Dari raut wajah Ichigo, bisa kubaca pikirannya bahwa ia keberatan dengan permintaanku ini. Tapi tak lama kemudian, akhirnya ia memberikan jawaban yang memuaskan.

"Baiklah, aku akan menyingkir dari kalian berdua. Sana jalan berdua!" Ichigo tiba-tiba saja mendorong tubuhku ke depan. Ichigo ternyata benar-benar serius dengan perkataannya. Selama dalam perjalanan menuju lokasi, lelaki yang mulai kuanggap teman itu membiarkanku dan Renji tertawa bersama, bersenang-senang. Tapi… rasanya aku jadi bersalah sendiri. Apa aku terlalu keras padanya? Ichigo tidak menoleh padaku ketika aku memanggilnya. Bahkan melirik saja tidak. Ichigo terus berjalan di belakangku dan Renji dengan tiap langkahnya menjaga jarak. Kedua mata madunya terus terpaku di tanah. Seperti tak sudi memandangku. Dan semua itu, entah kenapa sedikit membuat perasaanku jadi tak nyaman. Sebaiknya setelah semua urusanku selesai, aku harus minta maaf pada Ichigo.

# # #

Akhirnya, kami sampai pada lokasi pertandingan. Gedung mewah nan luas, dalamnya pun tak kalah luas dari penampilannya. Dengan luas seperti ini, kuharap Renji dapat bebas bergerak sehingga menguasai pertarungan dengan lawannya. Tapi masih sepi, tak ada siswa SMA lain peserta pertandingan kendo ini. Hanya ada para pekerja yang sedang membereskan barang-barang berserakan di sekitar area pertandingan.

"Ah! Bodohnya aku, aku lupa membawa minuman!" Renji menepuk dahinya begitu ingat sesuatu yang di lupakannya.

"Ano, bagaimana kalau aku belikan minuman? Kebetulan di dekat sini tadi ada toko, biar aku belikan ya?"

"A-apa tidak merepotkanmu, Rukia?"

"Tidak kok, hehe!"

"Belikan aku minuman juga, cebol! Uangnya nanti kuganti!"

Padahal tadi sikapnya dingin dan cuek, sekarang? Iblis yang bersarang dalam dirinya menguasainya! Itulah Kurosaki Ichigo! Sigh, rasanya aku jadi tidak ingin minta maaf padanya soal yang tadi. Rasa bersalahku menghilang sepenuhnya. Dasar memalukan. Baru saja tadi kebetulan bertemu dengan teman sekelasku, Dokugamine Riruka, Ichigo langsung saja menempel erat pada sang gadis berkucir 2 itu. Begitu pula dengan Riruka, tanpa mengenal malu, tangannya melingkar membalas pelukan Ichigo. Argh! Mengerikan! Manusia gantet!

Karena aku asyik memandanginya dengan death glare-ku, si bodoh yang seenaknya ini membentakku untuk segera membelikannya minuman. Menyebalkan! Kalau saja ada batu, akan kulemparkan batu itu tepat di mulutnya! Aku berangkat untuk membelikan Renji minuman. Untuk Renji aku ikhlas, tapi untuk Ichigo? Tidak ikhlas!

Berbalik arah sudut pandang, setelah Rukia berlari keluar gedung pertandingan untuk membeli minuman, Ichigo melirik sosok gadis itu yang makin lama tak lagi dalam pandangannya. Memastikan Rukia telah pergi, Ichigo melepaskan tangannya dari pinggang Riruka. Riruka mendesah manja karena Ichigo lepas dari tubuhnya dan tak mempedulikan panggilannya. Sepasang kakinya melangkah ke arah Renji berdiri. Kedua lelaki itu saling berhadapan, melempar sorot mata serius.

"Kau yakin hari ini akan menyatakan perasaanmu pada gadis itu, hah?" senyum remeh tersungging di wajah Ichigo yang menatap Renji. Renji balas tersenyum. Ia mengangkat pedang kayu yang di genggamnya kemudian menatapnya. Senyum tipis terukir sembari ia terus memperhatikan setiap bagian pedang kayu yang selalu di gunakannya berlatih.

"Tentu saja. Aku ingin segera melepaskan bebanku ini, Ichigo. Semakin lama aku memendam perasaanku ini, semakin aku akan sakit ketika melihatnya bersama lelaki lain. Kau tahu sendiri bukan rasanya cinta pertama?"

"Hah, kau sekarang belajar jadi pria romantis ya? Bawa-bawa cinta pertama segala. Jangan menangis jika kau di tolak!"

"Haha. Tenang saja, aku mungkin tak akan di tolak karena aku belajar merayu darimu kan, tuan penggoda."

Kedua remaja itu tertawa lepas. Puas tertawa, Ichigo menepuk pundak Renji. "Semoga menang, Renji!"

# # #

Arrrrggghhhh! Kenapa hidupku melelahkan begini? Jelas-jelas tadi aku melihatnya! Ada toko di sekitar sini, tapi kenapa begitu kutelusuri tidak juga ketemu? Ah, sial. Hujan semakin deras saja, bisa-bisa aku kembali dalam keadaan basah kuyup, memalukan. Entah sudah berapa lama aku menelusuri daerah yang tidak kukenal ini. Kakiku tak mau berhenti sampai aku menemukan toko yang tadi kulihat.

"Hhh, di mana sih toko ta-"

BRUUK!

Karena terlalu fokus pada kanan-kiri, tidak sadar aku menabrak seseorang yang ada di depanku. Segera aku membungkuk minta maaf padanya. "M-maaf, aku-"

"Rukia-chan?"

Eh? Orang itu memanggil namaku? Memangnya ia kenal denganku? Kudongakkan kepalaku ke atas. Seorang pemuda berambut biru memandangku terkejut. "G-Grimmjow!"

"Rukia-chan!"

Kami terdiam satu sama lain sambil tetap berpandangan. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Namun tak berapa lama, kami terkena bencana kecil. Hujan mendadak turun deras seperti sebuah air yang di guyur dari ember. Beberapa detik saja itu sudah membuatku basah kuyup. Refleks, Grimmjow menarik tanganku dan kami berlari menuju tempat berteduh. Ia membawaku berlari kecil ke sebuah gubuk yang dekat dengan tempat kami bertemu.

Sesampainya di sana, aku dan Grimmjow bernapas lega. Huah, tapi tetap saja aku kesal! Aku basah kuyup!

"Rukia, kenapa kau bisa ada di sini?" Grimmjow bertanya padaku. Ia melepaskan jaket basah yang dikenakannya. Aku sedikit tersentak merona merah pipiku melihat otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna. Tubuh impian para wanita. Sayangnya Grimmjow pecinta sesama jenis.

"Aku sedang menonton pertandingan kendo SMA-ku. Tadinya aku ingin beli minuman di toko yang ada di sekitar ini, tapi... sepertinya aku tersesat, hehe." balasku tersenyum akan kebodohanku sendiri. Kami berdua berdiri bersebelahan, memandangi hujan yang semakin deras. Langit terlihat makin gelap dan gelap. Segelap suasana hatiku ini. Ah, ayolah hujan! Redalah! Aku bisa ketinggalan pertandingannya!

"Ngomong-ngomong, apa Ichigo juga ikut menonton?"

Kumat. Bisa kutebak, pasti setelah ini Grimmjow akan memohon untuk ikut melihat pertandingannya jika ada Ichigo.

"Uhm, iya. Ichigo juga ikut menonton,"

"OH YA? KALAU BEGITU BOLEH AKU IKUT BERSAMAMU KE TEMPAT PERTANDINGAN, RUKIA?"

Benar bukan tebakanku. Hanya anggukan kecil dari kepalaku yang menjadi balasan atas permintaannya. Grimmjow terlihat senang bagaikan gadis kecil yang sedang kasmaran. Mengerikan. Horror.

# # #

"Chan-... Rukia..."

Suara siapa itu? Uh... kenapa kepalaku jadi terasa pusing? Dingin sekali...

"Rukia-chan,"

Rasanya terlalu berat untuk sekedar membuka mata... suara hujan masih terdengar deras... aromanya pun masih terasa,

"RUKIA-CHAAAANN!"

Astaga! Monster berteriak! Eh! Bukan, ternyata Grimmjow yang berteriak. Suaranya terlalu besar sampai aku terlonjak dari tempatku. Ugh, jantungku hampir melompat karenanya.

"Ggrrr! Grimmjow! Bisakah kau tidak berteriak? Mengagetkanku saja!" sambil menggeram, aku memeluk tubuhku sendiri karena kedinginan. Grimmjow hanya tertawa kecil karena tingkahku. "Habis kau tidak bangun-bangun sih!"

Apa? Tidak bangun-bangun? Oh, jangan-jangan aku tanpa sadar tertidur saat asyik menonton hujan tadi. Jangan pasang tampang heran kalian saat tahu aku asyik menonton hujan. Lebih baik menonton hujan daripada menonton kodok-kodok yang ada di dekat pohon-pohon. Hih!

"Rukia, boleh aku tanya sesuatu?"

Aku menoleh pada Grimmjow. "Uhm? Tanya apa?"

Grimmjow nampak gelisah menatapku. "Sampai jam berapa pertandingannya?"

"Empat sore. Memang kenapa?"

Grimmjow menelan ludahnya lalu menghela napas berat. Ia menggelengkan kepalanya dan tangannya bergerak menunjukkan jam tangannya. Kedua violetku langsung terpaku pada waktu yang tertera dalam benda bulat melingkar di pergelangan tangannya.

"Kita sudah melewatkan pertandingannya,"

"..."

TIDAAAAAAAAAK! RENJI! SAMURAI X-KUUUUUU! Karena shock, kaget, refleks, dan lainnya, aku langsung menerobos hujan deras tanpa peduli akan basah kuyup lagi. Suara panggilan Grimmjow tak kuhiraukan, aku sudah tidak peduli apapun lagi! Yang penting, aku ingin segera sampai di tempat pertandingan. Gara-gara aku yang ketiduran, aku jadi melewatkan pertandingan yang sangat kunantikan ini! Tidak, Kamii-sama, apa salahku! Kobayakawa Senna, karakter tokoh Eyeshield21, tidak bisakah kau meminjamkan kekuatan lari cepatmu padaku? Arrgh!

# # #

Hhhh, akhirnya sampai juga aku di lokasi empat pertandingan... sayangnya, semua penonton sudah keluar dari gedung. Wajah mereka terlihat puas dan senang. Dan aku hanya bisa berdiri memandangi mereka di bawah hujan deras yang turun mengguyurku. Kekesalanku menguasai pikiranku, aku kecewa. Rukia bodoh! Kenapa kau bisa ketiduran tadi! Kenapa kau tidak dari tadi saja menerobos hujan!

"Rukia?" sekali lagi, ada yang memanggilku dari belakang. Tak salah lagi, suara ini sangatlah aku kenal. Dia pasti...

"Ichigo?"

Ichigo berdiri di belakangku dengan payung yang dibawanya. Ia hanya diam, seakan iba dengan keadaanku yang basah kuyup. Ia mendekat padaku, memposisikan aku berada di bawah payung ungu muda yang dibawanya. Hujan... tak lagi membasahiku. Aku hanya bisa diam, masih menyesal dengan apa yang terjadi.

"Kau darimana saja? Kau melewatkan pertandingannya. Dan... Renji menang loh," Ichigo berbisik padaku dengan senyum menyindir biasanya.

"Di mana Renji? Apa dia masih ada di dalam?" tangan kecilku mencengkeram lengannya, berharap ia mau memberitahu jawabannya. Ichigo sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Ichigo menjawabnya bahwa ia tidak tahu. Bohong atau tidak, aku tidak tahu kenyataannya.

"Hey, kau tahu, Abarai-kun di halaman belakang gedung sedang menyatakan perasaannya loh!"

"Apa?"

"Iya! Romantis sekali, di bawah hujan ia menyatakan cinta pada gadis berambut pendek yang aku tidak tahu namanya!"

Tidak sengaja aku mendengar percakapan dua orang siswi pembawa payung yang berjalan melewatiku. Mereka membicarakan Renji. Tidak salah lagi. Dan tadi yang mereka bicarakan adalah pernyataan cinta Renji. Menyebalkan! Kenapa tiba-tiba saja aku jadi merasa panas. Apa aku cemburu? Yang jelas, kalau boleh jujur, aku tidak suka! Aku tidak ingin ini terjadi. Aku harus tahu seperti apa wanita yang bisa menarik hati Renji.

"O-oy, Midget!"

Aku terus berlari menuju tempat yang para siswi katakan tadi. Tidak peduli dengan Ichigo yang sepertinya menyusulku berlari menuju halaman belakang gedung.

# # #

Hujan deras masih setia mengguyur kota Karakura. Dan di balik semak-semak di halaman belakang gedung tempat pertadingan kendo, aku bisa melihat orang yang kusukai dari kecil tengah memeluk seorang gadis berambut hijau. Ia, Renji memeluknya erat. Sementara sang gadis tidak mengambil tindakan. Mereka berdiam dalam keadaan begitu tanpa peduli hujan dingin yang menusuk kulit mereka. Aku memang seorang otaku. Otaku adalah orang yang kuat, ia tak akan lemah hanya dalam masalah cinta. Ayolah, Rukia, laki-laki itu tidak hanya Renji. Masih banyak lelaki lain. Kau adalah seorang otaku yang tegar, Rukia. Tapi... seorang otaku pun juga punya perasaan sakit hati melihat seseorang yang setia ia cintai berpaling pada gadis lain meski kau pun juga dekat dengan orang yang kau cintai.

"Nozomi... aku menyukaimu!"

Teriakan pernyataan Renji semakin membuatku terdesak dan sakit. Bibirku secara tak sadar ikut berteriak sepertinya, mengatakan bagaimana perasaanku. Tidak peduli walau ada gadis yang ia sukai berada di sebelahnya.

"AKU MENYUKAIMU, RENJI!"

Mereka mendengarnya. Renji, dan wanita berambut hijau bernama Nozomi itu menoleh padaku. Kedua bola mata Renji membulat terkejut karena keberadaanku. "Rukia?" aku tahu bagaimana hancurnya keadaanku di matamu. Tapi biarlah. Sekarang aku lega karena sudah mengatakan bahwa aku menyukai Renji.

"AKU MENYUKAIMU, MIDGET!"

Eh? Tubuhku terhenyak kaget mendengar sebuah suara yang muncul dari belakang. Tak jauh dariku, seorang lelaki di bawah guyuran hujan menatapku dengan napas terengah. Bukan, aku tidak terkejut dengan kedatangannya, tapi... apa yang barusan dikatakannya?

"Apa aku harus mengulanginya sekali lagi? Aku menyukaimu!" Kurosaki Ichigo, baru kali ini aku melihatnya dengan wajah serius. Benarkah apa yang dikatakannya jujur atau si mesum ini cuma mempermainkanku di hadapan Renji. Yang jelas... jantungku berdebar melihatnya dan rasanya wajahku memanas karenanya. Perasaan apa ini?

"AKU MENYUKAIMU, ICHIGO!"

"..."

Ada lagi yang ikut menyatakan perasaannya. Ichigo yang mendengar namanya di sebutkan, menoleh ke asal suara di belakangnya. Wajah Ichigo memucat lalu memerah menahan kesal. Orang yang menyatakan perasaannya pada Ichigo memasang wajah serius. Sepertinya ia menyontek apa yang Ichigo lakukan barusan.

"Kau... MATI SAJA KAU, KUCING MAHO!"

Kalian pasti sudah tahu siapa yang menyatakan perasaannya pada Ichigo. Kesimpulannya, hujan hari ini telah membuat semua perasaan kami yang terpendam akhirnya terkatakan.

Renji yang menyukai Nozomi, aku yang menyukai Renji, Ichigo yang menyukaiku, dan Grimmjow yang menyukai Ichigo. Apa yang terakhir masuk hitungan sebagai pernyataan cinta?

To Be Continued...

Holaaaaaa para readers~! Ampun deh, aku kangen banget sama kalian! Alhamdullilah banget bisa sempatin waktu buat apdet! Hahaha, maaf ya lama apdet karena Hiru lagi dikasih amanat ama ortu buat ngajarin adek buat menghadapi UN, n mulai hari ini si adek lagi Ulangan Semester, mohon doanya yah! Hiru juga doa-kan kalian yang sedang menjalani Ulangan Semester ^^ XD

Karena lama gak ngetik fic, jadinya makin amburadul ceritanya yah? Humornya pun garing, pokoknya ancur deh, gomen ==a

Satu chapter lagi, saia usahakan satu chap lagi adalah chapter terakhir!

Yeah, waktunya bercuap-cuap membalas repiu kalian! XD

The Devil Healer :: Yupz, yang di status fb, hehe. Thanks repiunya XD

Corvusraven :: Ho'oh, Ichigo jadi Cinderella manis koq! XD

Maknae Kazuma :: Haduh? Ada typo? Duh, bandel nih typo! Makasih yah udah repiu! XD

AriadneLacie :: Waduh, benci yaoi ya, maaph deh udah ngasih sdikit yaoi di cerita ini, ==a tapi syukur masih tetep mau baca, thanks! XD

IchiRuki Lovers :: Makasih repiunya! Muah, muah, muah (?) XD

Rieka Kuchiki :: Saia terpaksa hiatus, tapi ini dah sempet apdet XD Maaf deh di selipi yaoi ==

Shia Naru :: Haha. Saia juga suka seperti yang anda katakan! Yosh, maaph gak bisa ceritain cerita sebelumny karena durasi ==v, tp thanks ya repiunya XD

Zanpaku-Nee :: Wuoaaaaaaa! ini nih manusia yang paling saia kangenin! XDD Hahae, buat fic rate M-ny nunggu, antri dlu ^^ XD

Chadeschan :: Usaha Ichigo buat dapetin first kissnya Rukia pending dulu yah, sinyalnya hilang (?) XD

Taviabeta-Primavera :: Hahae, untung deh klo bisa bkin anda tertawa! Thanks sdh repiu XD

Kurosaki OrangeBerry :: Masa lalu Ichigo knp bisa jadi tukang cium dapat di saksikan segera di fanfic kesayangan anda # halah, thanks sdh repiu XD

Sora Yasu9a 2230612 :: Rempong eto apa ya? Maklum, jowo ra dadi saia ==, thanks dah repiu deh XD

Hiru'Na' Fourthok'og :: Ini sdh apdet, maaf klo ceritanya gak memuaskan ==v

GaemDictator SparKyu YeWon :: Iya, saia jd Fujoshi! Btw, maaph gk bls smsmu, lagi hemat pulsa! #plak! Malah buka aib! XD

Nenk Rukiakate :: Hehe, Fujoshi eto percintaan sesama jenis jantan ama jantan XDD

Curio Cherry :: Saia gak ada rencana rate M koq, udah kbanyakan rate M sech XD

Nana The GreenSparkle :: Ini udah apdet XD

Nakamura Chiaki :: Nggak, aku nton Sekaiichi Hatsukoi donlut koq, XD

Ryuzaki Kuchiki :: Wuahahaha! Iyah, Grimm abnormal! #plak! Yosh, ini dah apdet XD

Luna 'Ruru' Kuchiki :: Dunia persilatan? ==a Ini udah apdet XD

Kimchi Fedeoya :: Iyap, ini dah lanjut! XD

Dark is Zero :: Hadoh, hiatus'e suwe ra opo ya #? XD

Poppyholic Uki :: Gak akan jadi rate M koq XD

Arumru-Tyasoang :: Yap, ini apdet XD

Hoah! Akhir kata, ARRIGATO UDAH REPIU! AKU SANGAT-AMAT-SUPER-EXTRA-FANTASTIC-SEXY(?)-pokoknya sangat kangen kalian, hehe. FBI sepi sech, rindu ama fic-fic kalian n repiu kalian tentunya. Yosh! Maaf klo ceritanya ancur yah ==a