Di balik selimut yang menutupi tubuh polosnya itu Haruka meringkuk. Isaknya yang masih belum berhenti membawa tubuhnya bergetar bersama perasaannya. Sakit dan ngilu ia rasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian kewanitaannya. Sedikit saja ia melakukan pergerakan kecil, pedih itu kembali menjalar. Sebuah tangan kekar merengkuhnya dalam pelukan. Ia menegang begitu punggungnya menyentuh dada bidang polos di belakangnya. Sakit semakin menguasai perasaannya.
Ren semakin membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Tubuh itu bergetar hebat, ia bisa merasakannya. Ia juga tahu gadis itu semakin ketakutan. Meski begitu ia tetap mempererat dekapannya. Tak peduli bahwa hati Haruka menolak dengan keras. Dekapannya yang begitu erat seolah mempertegas bahwa Haruka adalah miliknya, ia tidak akan melepaskannya dan tidak akan pernah membiarkan gadis itu pergi.
Ren mengecup kepala Haruka lalu ia bangun untuk melihat wajah samping gadis itu. Dipandanginya sesaat wajah yang masih dialiri air mata itu kemudian diusapnya cairan itu. "Berhenti menangis," suara datar nan dingin itu memerintah. "Aku sudah bilang, kan, tidak akan menyakitimu jika kau mau menurut padaku. Kau yang memilih bermain kasar denganku, Lady ..."
Ketakutan, Haruka menggigit bibir bawahnya untuk meredam isakannya. Takut, ia takut jika semakin menangis akan membuat Ren marah dan membuat pemuda itu kehilangan kendali lagi seperti tadi malam. Berubah menjadi sosok mengerikan yang merenggut kesuciannya dengan paksa. Hatinya terus menggumamkan nama Masato, berharap Masato datang sebelum semuanya terlambat. Tapi pada kenyataannya, berapa kalipun Haruka menggumamkan nama sosok biru tersebut, Masato tidak kunjung datang.
"Ssshh … hiks … hiks … Masato …" lirih Haruka di sela tangisnya. Hanya nama itu yang berada dipikirannya meski ada laki-laki lain yang sedang berkuasa atas tubuhnya.
Mata Ren membesar, bisa-bisanya Haruka menyebut nama itu meski dirinya sedang melakukan hal itu. "Cih, JANGAN SEBUT NAMA LAKI-LAKI LAIN KETIKA SEDANG BERCINTA DENGANKU!" amarah Ren meluap.
"Akkkhhh …" pekik Haruka. Ia semakin merasakan sakit di area kewanitaannya.
Pikiran Haruka kembali ke satu kesalahan fatal yang dilakukannya semalam. Maka dari itu sekarang ia hanya berani menggumamkan nama kekasihnya dalam hati. Di mana ponselnya? Ia ingin tahu apakah Masato menghubunginya. Apakah ada pesan dari Masato yang belum dibalasnya? Di mana Masato? Apakah laki-laki itu mengkhawatirkannya?
Ren mengelus kening Haruka yang lengket karena keringat sambil menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah itu. "Bahkan, kau masih tidak mau memandangku ketika aku melakukan itu padamu," gumam Ren.
Ren merengkuh wajah Haruka yang dipalingkan ke samping oleh pemiliknya. "Tatap aku!" datar dan dingin. Mata Haruka berkaca-kaca, tubuhnya semakin bergetar ketakutan dan hal yang dilakukannya adalah memejamkan mata. Sungguh ia tak mau melihat sosok di atasnya itu. Berdecih kesal, dengan nafsu yang sudah mengalahkan akal sehatnya Ren akhirnya melanjutkan aktivitasnya menjadi-jadi.
Ren kembali membuat Haruka terlentang lalu menindihnya hati-hati, gadis itu sudah tidak punya tenaga untuk melawan apa yang Ren lakukan pada tubuhnya. Ia merengkuh wajah Haruka lalu mendekatkan bibirnya kepada bibir gadis itu. Tapi sekali lagi, dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya Haruka memalingkan wajah.
"Jangan tolak apa yang aku inginkan," dengan nada dingin yang menusuk Ren menunjukkan otoritasnya. Haruka terdiam. Pelan-pelan ia menghadapkan wajah Haruka agar berhadapan dengannya. Satu kecupan. Lalu satu lumatan selama kurang lebih 5 detik. Ren melepas pagutannya. "Tidurlah. Kau pasti lelah," lalu ia bangkit dan beranjak dari tubuh Haruka, memunguti pakaiannya yang berserakan dan segera memakai celananya.
"Gomen ne … Masato-kun," lirihan itu akhirnya lolos dari bibir Haruka. Tangannya kemudian menutup mulutnya, lalu air mata kembali mengalir.
Ren mendengarnya, kesal tentu saja. "Cih!"
~Only Me~
DISCLAIMER
Uta no Prince-sama is belong to Broccoli
Story is mine
CAST
Nanami Haruka
STARISH member
Kurusu Syo as Nanami Syo
Quartet Night Member
WARNING
AR, gaje, abal, amatiran, OOC
.
^^ Happy Reading! ^^
.
.
.
.
.
"Wow! Lihat itu!" seru Cecil begitu Ren muncul di ruang tengah.
"Heee ... sepertinya ada yang sudah bersenang-senang semalam," goda Ranmaru.
"Kau berkeringat, Ren!" seru Natsuki mengomentari tubuh bagian atas Ren yang topless.
Ketiga manusia itu terus-terusan menggoda Ren.
Ren menarik sudut bibirnya lalu terkekeh. "Cepatlah cari pacar. Kalian juga bisa merasakan apa yang kurasakan," ia berlalu menuju kamar mandi.
Cecil bersiul.
"Dia, kan, juga bukan pacarmu," Ranmaru sinis.
Ren terhenti di depan kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya. Ia menoleh dengan alis yang terangkat sebelah. "Dengan aku melakukan itu sudah berarti dia menjadi milikku," dengan angkuhnya ia mengatakan itu lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
.
Ren menenggelamkan diri sesaat di dalam bathtube yang berisi air hangat. Merelaksasikan tubuhnya setelah aktifitas yang cukup melelahkan semalam. Jika saja Haruka tidak melakukan perlawanan dan dengan patuh menjadi gadis baik yang menurutinya, mungkin ia tidak harus mengeluarkan tenaga lebih. Dan gadis itu juga tidak akan merasakan sakit yang berlebih. Tapi apa boleh buat, lagipula ia juga menyukai ekspresi Haruka ketika ketakutan dan tak berdaya, memohon kemurahan hatinya untuk berhenti dari menyakiti gadis itu.
Kepala Ren muncul dari dalam air, ia terkekeh. "Kau milikku, Kohitsuji-chan ..."
.
.
.
Ren memutar kunci kamar Haruka dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memegang nampan berisi sepiring makanan utama dan segelas coklat hangat serta sebuah desert berupa puding coklat dengan fla putih melumurinya. Tentu hanya Natsuki yang bisa diandalkan membuat itu semua. Mereka hanya berlima di villa ini. Begitu masuk, ia menyimpan nampan tersebut di meja kecil dekat sofa panjang. Ia menghampiri Haruka yang meringkuk dalam selimut. Ternyata gadis itu tertidur. Ren mengelus pipi Haruka lalu mengecupnya. Setelah merekatkan selimut sebatas dagu Haruka, Ren memunguti pakaian Haruka yang telah ia rusak dengan brutalnya semalam. Ia pun memutuskan akan menyuruh Natsuki membeli pakaian baru untuk Haruka nanti.
Saat ia ingin mengambil saxophone yang berada di single sofa di dekat jendela, ia tertarik dengan tas Haruka yang juga berada di sana. Ren mencari sesuatu di tas itu, tapi ia tidak menemukan apa yang dicarinya. Ia memutuskan menemui teman-temannya.
"Hoi, kalian menyimpan ponsel Haruka?" Ren menemukan teman-temannya itu di halaman belakang sedang asyik menikmati panorama alam pantai.
Ranmaru merogoh sesuatu dari sakunya lalu mengacungkan benda itu tanpa repot-repot membalikan badan bahkan menoleh dari kursi santainya. Ren bergegas meraih benda itu kemudian memeriksa daftar pesan dan panggilan masuk.
"Hanya kabar-kabar dari Syo yang sedang berlibur di tempat orang tuanya bersama neneknya," Ranmaru menginfokan.
"Kau tenang saja, kami sudah membalas pesan-pesan itu seolah Haruka yang membalasnya. Dan sejauh ini tidak ada pesan dari Masato," tambah Cecil.
"Hh, bagus," Ren memasukkan ponsel Haruka ke dalam sakunya. "Hei, Shinomiya, pergilah ke toko pakaian terdekat. Beli satu atau dua untuk Kohitsuji-chan," titahnya kemudian.
"He? Memangnya pakaian Haru-chan kenapa?"
"Ahahahaha!" tawa Ranmaru meledak. "Sudah kuduga, kau pasti merusaknya," nadanya mengejek.
"Ck, mau bagaimana lagi. Dia melawan dan mencoba kabur," Ren garuk-garuk tengkuk. "Cepatlah, Shinomiya. Aku tidak mau dia masuk angin."
"Ne ne ... Cecil, ayo antar aku! Kita beli pakaian yang lucu dan imut untuk Haru-chan!" Natsuki begitu bersemangat.
.
.
.
Haruka terbangun dari tidurnya, saat mencoba mendudukkan diri tiba-tiba sekujur tubuhnya merasakan sakit kembali. Ia menyender sambil melekatkan selimut sebatas leher. Jam menunjukkan pukul sepuluh. Matanya mecari-cari pakaiannya yang entah semalam di buang asal ke mana oleh Ren. Tidak ketemu. Ia mencoba turun dari ranjang sambil masih memegangi selimut di tubuhnya, ingin mencari lebih jauh. Tapi baru kakinya menyentuh lantai, pintu kamar terbuka membuat gadis, tepatnya wanita itu mengurungkan niatnya.
Ren menemukan Haruka dalam keadaan sudah bangun. Ia tersenyum. Pemuda itu mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Haruka menolak menatapnya. Wanita itu semakin menggenggam erat selimut yang membalut tubuhnya. Ketakutan.
Ren membelai rambut orange itu. "Kau sudah bangun."
Gerakan tubuh Haruka menolak sentuhan itu. "Di-di mana pakaianku?" tanyanya masih dalam keadaan ketakutan.
Ren mengelus punggung Haruka sambil mendekatkan penciumannya ke leher wanita itu, menghirup aromanya dalam-dalam.
"Jangan sentuh aku!"
Ren terkekeh. "Kau pikir, meski kau bilang begitu, aku akan berhenti? Berapa kalipun kau mengatakannya, aku tidak akan berhenti menyentuhmu, Kohitsuji-chan," tangan Ren masih nyaman bertengger di punggung Haruka, merasakan kelembutan kulit itu persentinya.
Haruka menggigit bibir bawahnya. Berusaha agar perasaan takut yang menyeruak itu tak kembali membuatnya menangis. Ia takut, sangat takut untuk melawan. Terakhir kali ia mencoba melawan, yang terjadi adalah ia berakhir di atas ranjang dengan Ren yang menguasai tubuhnya.
"Hh, kalau kau mencarinya sudah kubuang. Lagipula aku sudah merusaknya, tidak layak pakai. Ini, tadi aku menyuruh Shinomiya untuk membelikan yang baru untukmu," Ren menyodorkan bungkusan yang sedari tadi dibawanya. "Semoga cocok."
Ragu-ragu Haruka menerimanya. Ren beralih ke sofa panjang, pada meja di depannya nampan yang tadi disimpannya di tempat itu masih tampak belum tersentuh sedikitpun. Hanya saja makanan utama dan cokelat panas sudah mendingin. "Mandilah, setelah itu makan."
Haruka tidak berani membantah perkataan Ren. "Ha-hai," takut-takut ia menjawab dan segera ke kamar mandi. Trauma. Itulah tepatnya yang dapat menggambarkan keadaan Haruka.
Nanami Haruka trauma terhadap Jinguji Ren.
.
Di bawah air shower itu Haruka menggigit bibir bawahnya. Ia hanya meredam tangisannya yang sedang menjadi-jadi agar tak terdengar sampai keluar, apa lagi sampai terdengar oleh Ren. Bisa-bisa pemuda itu mendobrak masuk pintu kamar mandi ini dan bersikap protektif yang menurut Haruka sangat menjijikan. Ia menggosok-gosok tubuhnya kasar, mencoba menghilangkan kissmark yang diberikan Ren. Tapi percuma. Ren melakukannya dengan sangat kasar. Sehingga bekas itu masih tampak.
.
.
.
"Kau mau kubawakan yang masih hangat?"
Haruka menggeleng. Saat ini ia sedang duduk di sofa, bersebelahan dengan Ren, lengkap dengan pakaian yang dibeli Ren lewat Natsuki untuknya, sebuah rok di atas lutut dan kaos lengan panjang dengan motif lucu khas pilihan Natsuki. Sejujurnya, Haruka sangat ingin melawan Ren. Tapi menurut pengalamannya, kemungkinan hal itu tak akan berhasil. Jadilah ia hanya mampu mengurungkan niatnya dan menahan amarahnya. Dengan kepalan tangan di pangkuannya, Haruka masih belum ingin menyentuh makanan yang sudah dingin itu. Pandangan kebenciannya tak sanggup ia tunjukkan pada Ren, alhasil makanan di hadapannyalah yang menjadi pelampiasan.
"Kau mau kusuapi lagi?" goda Ren.
Haruka tersadar kemudian menggeleng cepat. Ia segera meraih piring berisi hidangan utama dan makan dalam diam. Entah kerasukan iblis apa yang Ren lakukan selama itu hanyalah memandangi Haruka tanpa jengah. Haruka? Jujur saja ia merasa jijik dengan pemuda itu.
"Aku selesai," Haruka menghabiskan semua hidangan itu dalam 30 menit.
"Bagaimana jika kita jalan-jalan di pantai?"
"Di mana tasku?" Bukannya menjawab, Haruka malah mengalihkan pembicaraan. Belum sempat Ren menjawab, ia sudah menemukannya. "Di mana ponselku?" tanyanya lagi begitu tidak menemukan barang pribadi tersebut.
"Aku akan mengembalikannya jika kau mau jalan-jalan di pantai denganku," Ren tersenyum miring penuh kemenangan.
.
.
.
Sejujurnya, digenggam tangannya seperti ini membuat Haruka risih. Ren menggenggamnya begitu kuat sampai-sampai jika Haruka mencoba kabur dengan berlari, bisa-bisa tangan kanannya itu tertinggal bersama Ren. Posesif.
Villa Jinguji berada di atas sebuah tebing yang jauh dari keramaian wisatawan pantai. Bisa dibilang tempat tersebut merupakan area pribadi. Saat ini Haruka sedang menemani Ren jalan-jalan di pantai yang sepi.
"Huaaaaa mereka manis sekali," Natsuki berbinar-binar melihat ke arah Haruka dan Ren di bawah sana. Dari halaman belakang villa siapapun dapat melihat jelas sesuatu yang berada di pantai itu.
"Aku penasaran akan seperti apa jika kau memiliki seorang kekasih," celetuk Ranmaru lalu menyedot es kelapa mudanya.
"Heee?" Natsuki menunjukkan wajah innocent-nya.
"BUAAHAHAHAHAHA," tawa Cecil meledak. "Masaka!"
"Menurutmu Shibuya bagaimana?"
"Kau menaksirnya, Ranmaru?"
"Maksudku untuk Natsuki, baka!" empat siku-siku muncul di kepala bersurai perak itu.
"Heee ... dibanding untuk Natsuki, ia lebih layak bersamaku."
Merasakan aura bicara yang berbeda, Ranmaru dan Cecil menoleh. Tak kuasa mereka terbelalak. "MEGANE WAAAAAAA ...!"
.
.
.
Ren bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi di antara mereka semalam. Dan hal ini membuat Haruka kesal. Ia menghentikan langkahnya. Ren yang merasa apa yang digenggamnya berhenti bergerak pun menoleh. Ia melihat Haruka sedang tertunduk dengan badan yang bergetar. Saat ia mau bertanya, Haruka sudah mendahului bersuara.
"Kenapa ...?"
"Lady ...?"
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Jinguji-san?! Kenapa ...?!" haruka mengangkat wajahnya. Ren dapat melihat dengan jelas air mata yang megalir.
Ren kaget. Kemudian ia mencengkram lengan Haruka lalu menatapnya lekat. "Setelah apa yang ku lakukan padamu, apa kau masih tidak mengerti juga?" pemuda itu menatap ke dalam manik milik Haruka. Mencari-cari sesuatu yang belum juga ditemukannya. "Aku mencintaimu! Aku begitu mencintaimu karenanya aku melakukan itu!"
Haruka menggeleng lemah. "Kau menyakitiku."
Sedetik kemudian Ren membungkam bibir Haruka dengan miliknya. Haruka yang tidak siap pun kaget dan tidak bisa menghindar.
.
.
.
Cecil yang baru berhasil memakaian kembali kacamata Natsuki kepada orangnya bernafas lega.
"He? Are? Waaaa mite! mite! mereka berciuman!"
Ranmaru melirik waspada Natsuki yang sedang berbunga-bunga.
"Nah, dapat! Tidak buruk juga jika dijadikan foto pre wedding," Cecil melihat hasil jepretannya pada kamera DSLR yang sedari tadi sedang diutak-atik olehnya.
Ranmaru terkekeh. "Si Jinguji itu boleh juga caranya."
"Ne, bagaimana jika kukirimkan ini pada Masato?"
"Ne, ne, hubungan Ren dan Haru-chan akan jadi lebih mudah!"
"Jangan, baka! Kita tidak perlu melakukan tindakan tanpa perintah. Kita hanya membantu jika diperlukan, tak usah buang tenaga untuk mengacau. Jika kau beralasan melakukannya untuk kebaikan mereka, Jinguji bisa-bisa membunuhmu."
"Hn, baiklah. Akan kutunjukkan ini pada Ren nanti."
~Only Me~
Matahari sudah berada di ufuk barat ketika mobil hitam itu berhenti di pekarangan rumah bergaya sederhana. Haruka cepat-cepat keluar dari kursi penumpang, ingin segera menjauh dari seseorang yang duduk di balik kemudi. Baru saat ia sampai di depan pintu, ia menyadari sesuatu. Dengan menahan malu Haruka berbalik menuju pintu kemudi. Lelaki itu membuka kaca pintunya dan tersenyum penuh rasa kemenangan melihat orang yang dicintainya akan meminta sesuatu padanya. Yah, meskipun sesuatu tersebut bukan hal besar. Tapi setidaknya kini Haruka dengan sendirinya berjalan kepadanya.
"Ponselku."
Ren terkekeh gemas lalu mengeluarkan benda itu dan memberikannya lewat jendela. Haruka menyambarnya kilat. Secepat langkahnya menuju pintu rumah. Ren menunggu pujaan hatinya itu masuk. Baru setelah itu ia memundurkan mobilnya.
Setelah dipastikannya mobil Ren sudah tak tampak lagi, Haruka segera berlari menuju kamarnya. Sampai di sana, ia meluapkan segala emosinya yang selalu tertahan selama bersama Ren. Tiba-tiba getaran dari ponselnya menginterupsi.
Haruka, maaf baru sempat menghubungimu. Apakah liburanmu menyenangkan? Aku menghabiskan waktuku dengan membantu Otou-sama di perusahaan. Begitu sibuk akhir-akhir ini.
Aku merindukanmu ...
Satu pesan dari Masato sukses membuat mata Haruka memanas. Cairan bening itu semakin tumpah ruah. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasib yang menimpanya dan kemungkinan terburuk yang akan datang. "Gomen ne ... gomen ne, Masato-kun. Gomen ne ..."
.
.
.
=To Be Continued=
A/N: ||_./ Halloooo Renma kembali dengan chapter 4! Dari semua update yang sudah Renma lakukan mungkin ini yang terlama ... Hahaha akhirnya ... Tampaknya untuk ke depan Renma belum tentu bisa update kilat seperti sebelum-sebelumya. Soalnya Renma mau mulai fokus sama novel yang lagi Renma buat. Kalo benar-benar stuck, baru Renma beralih ke cerita ini hehe ... :'v
Omong-omong apa itu? Kemunculan kilat Satsuki?! *facepalm* entah kenapa Renma pikir Satsuki x Tomochika akan serasi bila dipasangkan xD Masato telaaaaatt Haruka keburu Renma bikin habis(?) oleh Ren ahahahaha... Oh iya Natsuki itu di cerita ini dia memang pintar masak kalau ada yang bingung dan punya pertanyaan apakah-masakan-Natsuki-enak? atau kok-mereka-mau-makan-itu?
Sekarang Renma mau nyapa reviewers dulu :3v
Fujoshi janai desu yo ne: Saat baca komenmu Renma cuma bisa "pffftt =w=" "ahahaha" "ngehehe" hohoho entah kenapa Renma jadi gemas sendiri karena menyembunyikan kejelasan status Ai xD /plak. Ren begitu karena skenario dan arahan dari Renma itu ngahaha x'D /sutradarastress
Haru Kirie: Kalau dirimu ikut nanti laut bisa pasang karena ada makhluk yang bukan bagian dari UtaPri x3 /ampun. Yaahh itu sebenarnya eksistensi jiwa Satsuki yang secara tidak sadar ada di kepribadian Natsuki. Tapi karena itu kesadaran Natsuki, jadi tidak begitu disadari bahwa itu adalah sisi lain dia yang tersimpan dalam bentuk jiwa Satsuki. Mengerti tidak? Renma juga bingung jelasinnya. Pokoknya gitu deh xD /plak
Hime Hasukawa: HUAHAHAHAHA karena Renma sendiri memang suka dengan tipikal cowok psikopat :'D Berarti Renma berhasil menggambarkan karakter tersebut yes! *peluk Satsuki* Yaahh sebenarnya karakter Ren di sini cuma pengembangan dari karakter aslinya di anime. Menurut Renma dibalik karakter Ren yang playboynya itu sebenarnya dia rapuh dan haus akan kasih sayang *sini Renma sayangi xD /digampar*. Terus juga kayaknya dia tipikal yang bakal sakit hati+benci banget kalo dapat penolakan. Makanya di sini dia takut disakiti, jadi menyakiti. Takut kehilangan, makanya dia yang menghilangkan(?) /salah xD Takut kehilangan makanya dia jadi posesif + protektif + psycho gitu x3 Yaaahh pokoknya jadi mengeluarkan sisi aku-bisa-melakukan-apapun-yang-kumau-untuk-mendapatkan-yang-kuinginkan-dan-jangan-pikir-aku-akan-berhenti-sebelum-mendapatkannya /halahapaini karena ketakutannya itu.
Mind to RnR? Arigatou~
