ANGEL n DEVIL
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pairing:
Garaa x Ino ; Itachi x Ino
Rated: T
Genre: Romance, Hurt
Terinspirasi dari Film
'Kurosaki kun no Iinari ni Nante Naranai'
WARNING:
Typo(s), AU, OOC, Alur berantakan, EYD amburadul, Garing. dilema joness dll.
Don't like don't read!
Summary:
Yamanaka Ino ingin merasakan indahnya jatuh cinta di SMA. Waktu SMP dia gadis yang cupu dan sering dibully karena itulah pas SMA, Ino ingin berubah dari belajar make up, mempelajari fashion kekinian, lebih percaya diri dan tidak pemalu, segala macam dia lakukan untuk berubah. Tapi impiannya kandas ketika dia bertemu dengan Sabaku Garaa, Akankah masa SMPnya terulang kembali?
Happy reading ~~~
xXxXx
Part 4 - Misunderstand
.
Terlihat seorang gadis bersurai pirang tengah duduk seorang diri di bangku taman. Matanya menerawang jauh memandang langit di kala sore itu. Sesekali ia mengalihkan pandangannya, meneliti hasil kerjanya sore itu. Rehat sejenak setelah mengerjakan tugas rutinnya membersihkan halaman belakang asrama.
Ketika gadis itu kembali fokus menatap langit, seorang pemuda bersurai gelap tengah berjalan ke arahnya.
"Ino-chan.. kau sudah selesai? Ayo kita pulang bersama" Gadis yang di panggil ino itu segera mengalihkan pandangannya untuk menatap pemuda tampan yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
Dengan cepat ino menganggukan kepalanya menyetujui perkataan pemuda tampan tersebut dan mulai bangkit berdiri dari bangku taman. Pemuda tampan tersebut mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Ino.
Sepanjang perjalanan pulang, Ino mendengarkan cerita Itachi -pemuda tampan tersebut- tentang teman-temannya. Sesekali tampak Ino tersenyum mendengarnya.
"Ino.. Apa kau tahu? Guru Lee menyebalkan hari ini. Aku dihukum hanya karena aku terlambat saat jam pelajarannya. Dan apa kau tahu? Aku diberi banyak tugas olehnya" Itachi mengerut, tampak kesal. Sedangkan Ino, hanya tersenyum melihat kelakuan pemuda yang lebih tua 3 tahun darinya tersebut.
Sosok Uchiha Itachi si Angel yang sangat ia kagumi secara diam-diam, kenapa saat ini jadi terasa biasa saja? Bahkan yang ada dibenaknya sekarang hanya ada bayang-bayang rival sejatinya si Devil Sabaku Garaa.
"Aku tahu kau pasti sangat kesal pada Garaa, Sabar ya Ino-chan. Dia pemuda yang baik cuma tertutup sikap kerasnya. Sebentar lagi kau terbebas darinya.." Ino menatap Itachi dan mengerucutkan bibirnya. Dan mau tak mau membuat Itachi mengembangkan senyumnya.
'Kau benar itachi senpai, Tapi kenapa rasanya aku ingin tetap seperti ini. Selalu didekat Garaa apapun yang terjadi... Mungkinkah aku jadi... ' pikir Ino resah.
"Kau memang tahu cara membuat moodku membaik Ino-chan." Itachi tertawa dan mengacak rambut Ino.
Keadaan kembali hening. Mereka berdua terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Ah.. Kau tahu Ino-chan... Aku eumm.." Suara bass itu memecah keheningan yang sedari tadi tercipta diantara mereka.
Ino yang melihat tingkah Itachi hanya mampu memiringkan kepalanya, bingung.
"Ada apa?" Ino menatap Itachi dan mengerjapkan kedua mata indahnya.
Tampak Itachi begitu ragu. Namun, sedetik kemudian sebuah kalimat yang tidak pernah terlintas di pikiran Ino terlontar begitu saja dari bibir Itachi.
"Aku rasa.. Aku menyukaimu Ino-chan, Jadilah pacarku!."
Ino hanya mampu terdiam terpaku mendengar kalimat tersebut. Entah mengapa kata-kata yang ia nantikan selama ini dimimpikannya hari ini terasa biasa terdengar ditelinganya. Tak ada hiforia seperti yang ada dikomik-komik yang ia baca, tak ada rasa berbunga-bunga seperti yang biasa sakura katakan ketika dia curhat tentang pacarnya.. perasaan sesak menghampiri dirinya.
'W-Whatttt...!!! Benarkah Itachi senpai menyukaiku?' Batin Ino. Pikiran serta hatinya berkecamuk, menerka-nerka apakah ini lelucon yang dibuat oleh pemuda itu. Raut wajah Ino berubah seketika. Entah menyadari atau tidak, pemuda itu malah melanjutkan pernyataannya tersebut.
"Ah, ini terlalu mendadak ya? Tapi aku memang menyukaimu Ino-chan." Wajah Itachi tampak merah ketika mengatakannya kembali. Binar matanya begitu terlihat cerah, hingga membuat Ino kembali terdiam.
Ingin sekali dia berlari meninggalkan pemuda tampan itu seorang diri. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia bukan orang seperti itu. Ia menghargai perasaan pemuda tersebut.
'Dia sangat manis.' pikir Itachi kembali menggerakan tangannya -bahasa isyarat dan tersenyum dengan manis.
"Anno itachi-kun.. kurasa.. ini terlalu cepat. A-Aaku.. belum bisa menjawabnya sekarang" kata Ino ragu.
Itachi hanya mampu tersenyum mendengar penuturan dari Ino. Walaupun dalam hatinya, ada rasa sesak yang teramat sangat. Namun ia mengabaikan semua rasa sesak itu. Ia harus tersenyum.
"Tapi.." Seketika ekspresi wajah pemuda itu berubah cerah. Itachi kembali memiringkan kepalanya, mengerjapkan kedua matanya. Menatap bingung ke arah Ino. "Tapi apa?"
"Tapi aku rasa.. tidak ada salahnya kalau kita lebih dulu saling mengenal sebelum kau menyukaiku, Itachi-kun.." Ekspresi wajah Itachi kembali terlihat bersemangat.
"Baiklah Ino-chan, Aku akan mulai menjadi sahabatmu agar kau bisa mengenalku lebih jauh. Dan.. kalau kau sudah mulai menyukaiku, katakanlah.. aku akan dengan senang hati menjadi milikmu" Itachi menepuk pelan pundaknya dan tersenyum menggoda.
-000-
Garaa menikmati tiap hisapan rokoknya. Sesekali diliriknya arloji di pergelangan tangannya. Sudah hampir 10 menit, tapi orang yang mengajaknya bertemu di tempat ini belum juga muncul. Si pelayan sedari tadi telah menawarkan makanan, namun ia hanya memesan secangkir kopi. Dan ketika akhirnya orang yang ditunggu terlihat di pintu masuk, ia mematikan rokoknya.
"Aku pikir kau tidak jadi datang?" Garaa langsung menyindir begitu Itachi menghampirinya. Pemuda itu memilih duduk berhadap-hadapan dengan Garaa.
"Ada hal yang ingin ku bicarakan…" Itachi menatap dingin ke arah Garaa.
"Baiklah…apa alasanmu mau bertemu denganku di sini?" Garaa enggan berbasa-basi lagi.
"Aku minta kau jauhi Yamanaka Ino. Aku menyukainya!"
Garaa terdiam.
"Dari kecil kita sudah ditakdirkan bersaing. Masih ingat, kan?"
"Aku tak akan pernah melupakan itu." kata Garaa.
"Nah, Bagaimana kalau saat ini kita juga bersaing? Bersaing secara sehat."
"Kau orangnya licik. Aku tahu itu. Kata bersaing secara sehat tidak pernah ada dalam kamusmu." sela Garaa berupaya bersikap tenang. Walaupun sebenarnya ingin sekali menonjok wajah Itachi saat ini juga.
"Aku sudah berubah." Itachi membela diri.
"Ciiih…" Cibir Garaa
"sekali pencuri, tetap punya niat untuk kembali mencuri."
Wajah Itachi berubah tegang.
"Kali ini aku tak akan mengalah lagi. Mari kita bersaing untuk memiliki cinta Yamanaka Ino. Tapi aku yakin kali ini bisa merebut dia dari sisimu dengan mudah. Dan, kau… aku tidak perlu lagi mengalah padamu seperti dulu"
Itachi akhirnya tak bisa menahan emosi. Tak pelak lagi, sebuah bogem mentah mendarat di wajah Garaa. Garaa yang tidak siap menerima serangan itu, ambruk seketika di lantai. Itachi tak berhenti memukulinya, namun sesaat ia mulai berhenti dan membiarkan Garaa yang sudah tersungkur di lantai untuk membalas.
BUGHH..
Satu pukulan telak dilepaskan mengenai pemuda itu, sudut bibirnya berdarah. Namun terlihat pemuda itu tersenyum menyeringai, Itachi tersenyum..
Para pengunjung lain terkejut dengan perkelahian itu, beberapa di antaranya dibantu dengan para pelayan berusaha menahan Garaa untuk berhenti memukuli Itachi yang mulai terbaring di lantai.
Saat terlerai, Garaa baru sadar bahwa di antara kerumunan itu, ada Yamanaka Ino.
Ino segera mendekati mereka berdua.
"HENTIKAAANNN!!!!"
Ino menatap marah ke arah Garaa yang masih ngos-ngosan.
Sebuah tamparan keras melayang di pipinya.
"Kau pikir kau hebat? Kau jagoan? Ini kekanak-kanakan, tahu tidak!"
Gadis itu menahan tangis dan emosinya.
Dia tak menyangka akan mendapati peristiwa ini.
Ketika ia mendapat sms dari Itachi yang menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan Garaa, ia sudah merasa tidak tenang.
Ino merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. Dan ternyata dugaannya tidak meleset. Yang lebih menyakitkan lagi adalah, karena Garaa yang terlihat memulai semua ini.
Ia tidak menyangka Garaa berani mencelakai sahabatnya sendiri. Ino jadi merasa bersalah terhadap Itachi.
Dihampirinya Itachi yang sedang berusaha berdiri dengan dibantu beberapa orang satpam.
"Ini salah paham…"
Garaa meraih tangan Ino. Namun Ino menepis dengan kasar.
"Semua sudah jelas, senpai. Aku melihat dengan mata kepala-ku sendiri siapa yang memulai duluan."
Ino menghampiri Itachi. Ia meraih tangannya dan mengajaknya keluar.
Walau berjalan tertatih-tatih Itachi berusaha mengimbangi langkah-langkah cepat Ino. Garaa hanya memandangi kepergian mereka dengan hati kesal.
'Dasarr.. Malaikat berhati Iblis!' Garaa semakin geram dengan Itachi.
Ia semakin merasa ini jebakan. Garaa semakin merasa Itachi semakin licik.
-000-
"Aduh…duh… pelan sedikit…"
Itachi merintih, saat Ino mengobati luka-luka di wajahnya.
Setelah perkelahian itu, Ino mengajak Itachi ke Klinik sekolah untuk mengobati sendiri luka memar Itachi.
"Maafkan aku Itachi-kun, gara-gara membelaku... kau terluka. Aku tidak menyangka dia bisa senekat ini padamu."
"Kukira dia baik karena kemarin telah menolongku, ternyata.."
Ino menempelkan plaster, di pelipis kiri dan sudut bibir Itachi yang terdapat luka.
Saat Ino hendak mengembalikan perlengkapan P3K ke tempatnya, Itachi menahannya. Langkahnya terhenti.
"Ada yang ingin aku jelaskan padamu, Ino chan."
Ino urung beranjak. Ia kembali duduk di samping pemuda itu.
"Ada yang harus kau tahu tentang aku dan Garaa"
"Jelaskanlah."
"Sebenarnya kami sudah bersahabat lama... jauh sebelum kau mengenal kami beberapa bulan yang lalu."
"Begitu ya?" wajah Ino menyiratkan keterkejutan. Seolah tak percaya.
"Dulu kami bersahabat baik. Aku dan Garaa selalu bersaing. Aku sejak kecil selalu bisa mendapatkan semua yang dia sukai. Tidak hanya prestasi, tapi juga masalah wanita. Aku lebih tahu bagaimana menghargai perempuan dibandingkan dia. Aku selalu merebut hati gadis yang sudah lama dia sukai. Dia marah besar saat tahu semua itu. Dan aku yakin sampai sekarang dia masih menyimpan dendam padaku."
Ino belum berkomentar. Ia terlihat bingung.
Itachi kembali melanjutkan ceritanya.
"Dan sekarang, aku menyukaimu dan aku memintanya menjauhimu. Pemukulan tadi adalah bukti bahwa dia masih membenciku. Setelah ini, kau boleh menganggap aku licik, curang atau apalah terserah kau saja. Tapi satu hal yang harus kau tahu, dan ini jujur, aku sudah menyesali semua tindakan jahat yang pernah kulakukan pada Garaa. Aku benar-benar menyesal."
"Lalu, apa maksudmu menceritakan semua ini?" Ino kelihatan curiga.
Itachi tertawa kecil sebelum menjawab.
"Kenapa? Mulai berpikir kalau aku licik, bukan?"
Ino menajamkan tatapannya.
"Ayolah. Tenang saja. Aku tidak punya maksud menarik simpatimu atau apalah. Aku hanya ingin bercerita yang sebenarnya. Kau berhak menilai, siapa yang salah dalam hal ini…"
Itachi tersenyum dan meninggalkan Ino yang masih tertegun di kursi saat pemuda itu beranjak pergi.
"Itachi kun, tunggu!" seru Ino tiba-tiba.
Itachi yang telah berada di depan pintu, berbalik menoleh ke arahnya.
"Kau tulus mengatakannya? Kurasa aku bisa membantumu agar kalian bisa bersahabat lagi seperti dulu..." ucap Ino dengan ragu-ragu.
Itachi terdiam sejenak, lalu menggeleng.
"Dulu aku memang tidak suka padanya. Tapi tidak pernah ada rencana untuk mengambil semua yang dia sukai. Aku yakin bisa menyelesaikan masalahku . Percayalah padaku…"
"Benarkah?" Ino masih terlihat sangsi dengan pengakuan Itachi.
"Dengarkan saja kata hatimu."
Itachi berlalu. Meninggalkan Ino yang masih tertegun di tempat duduknya.
Itachi berharap Ino mempercayainya. Pemuda itu menyadari, ada suatu perasaan yang lain. Perasaan itu muncul begitu saja. Untuk pertama kalinya ia begitu menginginkan seorang gadis dan gadis itu adalah Ino. Itachi tidak tega melihat Ino bersedih. Perasaan ini aneh terasa, bagi pemuda itu.
.
-TBC-
.
Jangan lupa review ya!
biar semangat ngetik lanjutannya..
