Believe Me © Tanaka Aira
Disclaimer : Kuroko no Basuke ©Fujimaki Tadatoshi-sensei.
Pairing : Murasakibara X Reader
Chapter 4 : My Life is Begin
.
"Love is a force of nature. However much we may want to, we can not command, demand, or disappear love, any more than we can command the moon and the stars and the wind and the rain to come and go according to our whims."
Deborah Anapol, Ph.D.
.
.
.
"Kami minta maaf karena waktu itu membuatmu takut, [Name]-chan." kata perempuan bersurai sakura yang kini duduk di sampingku.
Kami masih menatap keenam pemuda lainnya yang duduk beristirahat menikmati hangatnya cahaya matahari dengan sebuah eskrim masing-masing. Angin musim panas membuat ketenangan yang sunyi diantara kami. Sejak kata-kata itu diucapkan perempuan beriris magenta, semua mata mengarah padanya.
Satu jilatan pada selai blueberry yang menghiasi es krim vanilla, sambil melihat ke arah Momoi-san dan bertanya, "….waktu itu?"
Kepalanya mengangguk pelan, "Waktu di perkemahan, aku dan Ki-chan memaksamu untuk melakukan apa yang kami perintahkan." Tatapannya berubah menjadi sendu, "Kami tidak sadar sampai mereka mengatakan kalau kamu ketakutan saat tiba-tiba berbagai macam perintah dan tatapan intens mengarah padamu. Kami tahu kalau kamu selalu berada di dalam ruangan dan jarang berinteraksi dengan orang lain. Tapi….. kami tak menyangka kalau kamu sampai setakut itu…."
"Kami semua minta maaf-ssu….."
"Kami sebenarnya tidak bermaksud membuatmu takut, [Name]-san." Kali ini, pemuda yang ahli dalam passing itu melihat ke arahku dengan iris light-bluemiliknya.
Baru kali ini, aku merasakan hal seperti ini. Sebuah perasaan bersalah. Ya, sebuah perasaan menyesal atas apa yang sudah dilakukannya. Sebenarnya mereka bukan pihak yang bersalah. Akulah yang terlalu takut untuk berkomunikasi dengan mereka ataupun sekedar menatap mereka. Selama ini aku terus menghindari kemungkinan-kemungkinan dimana aku akan gagal. Aku selalu merasa tidak nyaman jika berada dalam situasi penuh konflik. Aku selalu menutup mata akan kata-kata dusta, kata-kata kejam, ataupun kata-kata yang membuatku merasa ditekan. Aku terlalu takut untuk merubah semua itu. Aku terlalu takut untuk menghadapi semua lidah api setiap orang. Aku selalu menghindar dari kerumunan orang banyak karena aku takut akan pandangan mereka padaku.
Takut.
Takut.
"Kalau kau tak mau bicara juga tak apa, [Name]." Pemuda bersurai navy-blue itu melirikan matanya ke arah lain, "Kalau kau takut ditatap seperti ini, kami tidak akan menatapmu lagi."
Bukan!
Bukan itu yang kuinginkan!
"Ja-jangan!" Tanganku sontak menyilang menutup mulutku yang tiba-tiba berteriak keras di depan mereka. Ah, sudahlah. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Aku tidak mungkin bisa kembali ke dunia itu. Aku sudah terhimpit pada benteng yang kubangun selama ini. Sebuah benteng yang terbuat dari beton rasa takut dan sikap diam yang kupertahankan untuk menghindari jurang kegelapan. Aku sudah tenggelam. Aku sudah tak bisa melepas rantai rasa takut yang mengikat sekujur tubuhku. Aku sudah berada pada dasar jurang yang kubuat sendiri, tak lagi bisa mendaki sisi tepi bahkan sinar matahari tak lagi menyapa mataku.
"Jangan … Sekali lagi tolong perhatikan aku."
Apa? Kenapa mulutku bergerak sendiri?
"Aku tidak ingin merasa takut lagi… dengan pedang kata-kata ataupun tatapan kejam orang lain."
Apa yang sebenarnya kukatakan?
"Aku….tidak lagi ingin berada dalam menara rasa takut."
Ah, memang benar. Aku sudah muak akan diriku sendiri. Selama ini, selama tiga belas tahun ini, aku selalu membenci diriku ini. Diri seorang manusia dengan jiwa pengecut. Diriku yang selalu takut menghadapi kenyataan. Diriku yang selalu menghindar dari semua hal nyata. Rasa kasihan, rasa marah, rasa sedih, rasa kehilangan, rasa benci, rasa iri, atau apapun itu….. yang akan kuhadapi di luar sana, di ujung perbatasan antara dunia luar. Dunia yang kejam, dunia yang penuh kegelapan, namun…
Disanalah cahaya berasal. Disanalah aku belajar akan dunia yang berkilauan, seperti permata dalam peti harta. Meskipun awalnya menyakitkan, meskipun awalnya sulit dan butuh banyak pengorbanan namun, aku selalu dapat melihat sebuah senyuman indah. Senyuman yang merekah di wajah orang-orang yang bahagia. Bukankah mereka pun pernah mengalami hal yang menyakitkan? Bagaimana sebuah senyuman bisa secerah itu? Bahkan senyuman mereka mampu membuatku ikut merasakan perasaan berbunga-bunga, perasaan yang sangat menyenangkan. Aku ingin suatu saat aku juga merasakan hal yang sama, dimana semua menjadi bercahaya.
"Ne, Kaa-san, kenapa Kaa-san tetap merawatku yang sedang sakit?"
"Apa maksudmu, sayang~?" Kurasakan lembutnya tangan Ibu yang mengusap pipiku yang memerah karena demam tinggi.
"Aku dengar…. Dokter bilang….hiks….. kalau hidupku tidak akan lama lagi….hiks…." Mataku menangkap sentakan kaget tubuh Ibu yang mendengar kata-kataku. Entah apa yang membuat air mataku meluap ke luar. Terus mengalir tanpa henti. Apakah ini perasaan sedih? Apakah ini perasaan kehilangan harapan? Sakit. Rasanya sakit sekali. Takdir seakan membutakan matanya untuk melihatku. Kenapa? Kenapa aku harus terlahir dengan fisik yang lemah? Kenapa aku selalu menyulitkan kedua orangtuaku? Namun, disaat sakit, kenapa mereka terus datang padaku, terus merawatku agar sembuh? Bukankah aku hanya seonggok manusia yang tak dapat melakukan apapun, tak dapat memberikan mereka apapun, tapi….. kenapa mereka tidak pergi meninggalkanku?
Tangan Ibu yang lembut dan besar mengangkat wajahku, menyatukan pandangan matanya yang berwarna sama denganku. Ibu jarinya mengusap air mata yang mengalir dipipiku. "Yang kuharapkan darimu bukanlah 'panjang umur', sayang~"
Eh?
"A-apa maksudmu, Kaa-san?" Jadi Ibu juga berpikir untuk menghabisi riwayat hidupku juga? Jadi….. Ibu tidak menginginkan anak bertubuh lemah yang akan menyusahkannnya sepertiku?
Dapat kurasakan dahinya menyentuh dahiku yang panas, menyelimutiku dalam kehangatan. "Bukan 'panjang umur' melainkan 'bagaimana kamu hidup',"
Bagaimana aku hidup? Hidup seperti apa yang dimaksud Ibu?
"Manusia itu saling datang dan pergi. Kita saling menerima dan juga memberi. Semua itu akan saling berhubungan. Dan suatu saat…. Semua itu akhirnya akan merubah takdirmu." Matanya menampakan sorot harapan yang sangat jelas,
"Itulah….. yang dinamakan hidup, sayang~"
Ya, seperti yang Ibu katakan. Aku ingin merasakan segala perasaan yang cerah…. maupun gelap. Aku ingin menerima rasa hangat dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Aku ingin merasakan kehidupan yang sebenarnya. Bukan di balik tembok tinggi, tetapi di dunia luas yang membentangkan langit tanpa batas.
Aku ingin merubah takdirku sendiri.
"Aku….." iris grayish-blue milikku merefleksikan bayangan ketujuh orang yang sangat berarti untukku sekarang, dan pada hari-hariku selanjutnya,
" Aku….. tidak ingin hidup… dalam penyesalan."
Ya, mulai sekarang aku akan mengahadapi hal nyata, dimana semua hal buruk dan hal baik saling terhubung membentuk sebuah tali kehidupan dan menuju takdir. Aku harus berani melangkah atau aku akan selalu hidup dalam kekosongan.
"Kalau itu keinginanmu, maka kau harus melakukannya, [Name]." Perkataannya kujawab dengan anggukan. Seijuurou-sama benar, tidak hanya kata-kata, aku harus berusaha keras membuat keinginanku menjadi nyata.
"Ja, bagaimana kalau [Name]-chan memulainya dengan belajar bermain basket? Dengan itu kamu bisa merasakan rasa senang yang kami semua rasakan. Karena kami sangat mencintai basket." Perempuan bersurai sakura itu mengambil sebuah bola yang tergulir di dekat kakinya.
"Ano….sebelum itu….." Semua menengok ke arahku yang memandang mereka secara bergantian sambil menggaruk pipiku dengan jari telunjuk, "..Aku belum tahu…. nama kalian."
Secara bersamaan semua sweatdrop di tempat.
Ya, aku mengerti kenapa mereka melakukan itu. Padahal mereka sudah mendukungku yang selalu mengurung diri, tapi aku tidak mengenal mereka, bahkan mereka sudah memanggil namaku. Tapi memang kenyataannya seperti itu bukan? Pertemuan pertama kami adalah saat mereka beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan perkemahan, dan waktu itu aku sudah langsung melesat kabur sebelum mereka sempat memperkenalkan diri. Dan, ini adalah pertemuan kedua kami. Ya, aku sedikit menyesal karena kabur saat itu. Maafkan aku, minna-san.
"Mou, [Name]-cchi, hidoi-ssu!" Eh? Tubuhku sontak melangkah mundur, "Uwaaa! Gomen, gomen. Aku tak akan marah lagi-ssu. Maaf membuatmu takut."
"Kau ini ada-ada saja, [Name]." Pemuda berkulit tan itu menunjuk dirinya sendiri, " Aku Aomine Daiki. Ace di klub basket. Dan–"
"…..A-ada apa?" Bisa kurasakan perasaan tidak nyaman saat pandangan pemuda beriris laut itu memandang ke arah tubuhku. Apa ada yang aneh denganku?
" –Yahh…. Kau memiliki ukuran dada yang cukup besar untuk anak yang berumur 13 tahun. Kalau dilatih lagi, mungkin akan seperti Mai-chan."
Sontak wajahku memerah sambil menyilangkan tangan menutup dadaku. H-Ha? A-apa yang dikatakannya? Kenapa mengatakan hal itu kepadaku?!
Syuuung… JLEB!
SRAK!
Pyaasshh!
BUK!
PRAK!
"TE-TEMEEE! Apa-apaan kalian?! Sakit, nih!" Aomine-san melihat seluruh tubuhnya yang memar dan basah kuyup. Sebuah gunting sempat memotong sedikit surai navy-blue-nya dan sekarang menancap di permukaan rumput.
"Mine-chin, akan kuhancurkan kau….." katanya dan melihat pemuda yang menjadi korban lemparan snack-nya.
"Aomine-kun, mesum." Pemuda bersurai light-blue itu menggenggam erat botol vanilla milkshake yang kosong, karena isinya sudah ditumpahkan ke arah surai navy-blue. Sedangkan pemuda bersurai hijau itu hanya menaikan kacamatanya, tapi kuyakin dialah yang melempar bola basket ke arah kepala Aomine-san tadi.
"Dai-chan/Aominecchi mesum sekali/-ssu! Mou, dasar Eromine!" Kedua manusia bersurai blonde dan sakura berteriak bersamaan. Digenggamannya terdapat potongan papan jalan yang patah karena digunakan untuk memukul Aomine-san sedangkan sebelah potongan papan itu melayang entah kemana.
"Daiki, kalau kau berani lagi mengotori telinganya dengan kata-kata itu.." Seijuurou-sama mengambil sebuah gunting merah dari sakunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, " ….. aku tidak yakin matamu akan bisa melihat hal-hal itu lagi."
Ini gawat. Aku harus menghentikan mereka sebelum terjadi bencana yang lebih menakutkan. "Su-sudahlah, Minna-san. Aomine-san mungkin…..tidak bermaksud buruk mengatakan itu…" Yahhh, aku tidak yakin dengan kata-kataku sendiri karena ini pertama kalinya ada yang mengatakan itu kepadaku.
"Mou, gangguro ini harus dicincang dan dijadikan makanan untuk anjing tetanggaku-ssu. [Name]-cchi jangan terlalu baik padanya-ssu."
"Mengomentari dadamu yang D-cup itu memang membuktikan kalau Dai-chan mesum. Kenapa [Name]-chan tidak marah?"
"…. Ya-yang lebih penting….. kalian belum melanjutkan perkenalan diri, bukan?" Kuharap permintaan ini dapat menengahi pertengkaran yang terjadi.
"Aku Momoi Satsuki. Aku teman masa kecil Dai-chan tapi jangan ingatkan aku sekarang tentang hal itu. Aku malu punya teman yang semesum dia." Perempuan bersurai sakura itu menyilangkan lengannya di depan dada dan memandang jijik ke arah pemuda tan itu.
"Midorima Shintarou. Zodiak cancer dan Golongan darahku B. Lucky-itemku hari ini adalah kamus bahasa jepang. Apa zodiak-mu?" E-eh? Siapa yang bertanya soal golongan darah sama zodiak miliknya?
"A-aku….. virgo….." Entahlah, aku jawab saja. Kemudian, dia merogoh tas yang berada di sampingnya dan memberikannya padaku.
"…untuk apa bando kelinci ini, Mi-Midorima-san?" Aku memandang bando kelinci berwarna putih yang baru saja dia berikan dengan bingung. Memang lucu, sih. Apalagi dengan pita pink yang diikat di telinga kanan bando kelinci-nya. Tapi... untuk apa dia memberikanku benda ini? Dan kenapa dia memiliki benda seperti ini? Bukankah benda ini hanya dipakai saat pesta kostum?
"Itu lucky-item virgo hari ini. Huh, kebetulan saja aku membawanya, itu lucky-itemku kemarin."
"Tapi kemarin kau bilang kalau boneka teddy bear itu lucky-itemmu, Shintarou."
Midorima-san hanya menelan ludah mendengar pernyataan Seijuurou-sama. Kalau Seijuurou-sama yang berkata begitu pasti benar adanya. Ah, senangnya kalau punya teman sebaik mereka, walaupun beberapa terlalu jaim untuk mengakuinya.
"Boku wa Kuroko Tetsuya desu. Salam kenal, [Name]-san." Pe-perkenalan yang pendek sekali.
"Ja, aku yang terakhir, ya."
Pemuda bersurai blonde itu berdiri dan memainkan sesuatu di ponselnya. Dengan cepat, ponsel itu diulurkan kepadaku yang menampilkan fotonya tengah berpose di pinggir pantai. "Lihat 'kan. Aku Kise Ryouta, model terkenal-ssu." Model? Aku tidak tahu sama sekali tentang itu. Aku belum pernah membaca majalah-majalah fashion. "Aku baru saja bergabung dengan klub basket jadi… yahh… kemampuanku masih payah-ssu. Aku selalu dimarahi Akashicchi karena sering melakukan kesalahan dan selalu kalah one-on-one sama Aominecchi."
"Eh? Ti-tidak seperti itu. Tadi….." Aku tersenyum menatapnya yang terlihat sama seperti diriku yang selalu merendahkan diri sendiri, "….kamu hebat sekali. Benar-benar….. keren..."
Aku bersumpah sedang membutuhkan tabung oksigen sekarang juga karena setelah aku mengatakan itu, Kise-san langsung memelukku dengan erat. Dia berkali-kali menyebut namaku dan mengucapkan terima kasih dengan nada riang. Aku senang dia tak menampilkan wajah suram seperti tadi tapi... aku benar-benar tidak bisa bernapas, nih.
"Lepaskan dia, Kise-chin!"
Dia berteriak sambil menarik pundak Kise-san dan melepaskan pelukan maut yang awalnya seperti akan membunuhku. Ada apa, ya? Baru kali ini aku melihatnya berteriak seperti itu. Matanya berkilat tajam dan menusuk ke arah Sang Model, yang diteriaki langsung meminta maaf.
Dia…. marah? Kenapa? Yahh… sudahlah. Yang penting aku bisa bernapas kembali. Kukira hidupku memendek karena pelukan itu.
Karena perkenalan sudah selesai, Momoi-san mulai mengajariku bermain basket. Sementara itu, keenam pemuda yang masih dalam waktu istirahat, hanya memandang kami dari teras rumah. Bola oranye itu dipantul-pantulkan oleh perempuan bersurai sakura itu sambil memberitahukanku istilah-istilah teknik permainan. Sejujurnya, aku pernah membaca buku tentang olahraga ini dan Momoi-san senang akan hal itu, karena berarti aku akan lebih mudah mengerti apa yang disampaikannya.
Ah, ngomong-ngomong bagaimana caranya aku bermain? Bukankah selama ini aku tidak pernah berolahraga selain senam atau jogging, itupun hanya dalam waktu yang singkat. Fisik lemahku tidak dapat dipaksa untuk berolahraga seperti anak normal pada umumnya.
"Tidak apa." Eh? Aku memandang Seijuurou-sama yang lagi-lagi membaca apa yang kupikirkan, "Walau demammu belum sembuh sepenuhnya, kamu dapat bertahan 10 menit lagi. Setelah itu, kembalilah ke kamar."
Sepuluh menit? Apa yang bisa kulakukan dalam waktu sesingkat itu? Momoi-san dari tadi hanya mengajarkan teori dan teknik-teknik dasar, bahkan bola itu tak diberikannya padaku. Momoi-san bilang kalau teori saja cukup dan aku tidak boleh kelelahan walaupun itu hanya memantul-mantulkan bola basket. Memang benar apa katanya, tapi aku ingin mencobanya. Aku ingin mencoba memantul-mantulkan bola itu dan ingin melakukan apa yang mereka lakukan. Bukan duduk diam dan hanya melihat.
"Ano…" Aku memberanikan diri untuk meminta permintaan ini, "Boleh aku juga mencobanya? Maksudku….. bermain seperti yang kalian lakukan."
Momoi-san yang mendengar permintaanku bertanya kepada Seijuurou-sama. Sebentar Seijuurou-sama terlihat berpikir dengan posisi tangan yang bertopang pada dagunya dan –
"Baiklah. One-on-one dengan Satsuki. Tapi batas waktumu menjadi 5 menit. Setelah itu, kau harus berbaring lagi dikamarmu."
Aku mengangguk semangat mendengar persetujuannya. Kukira Seijuurou-sama tidak akan setuju akan hal ini. Aku mengambil bola yang Momoi-san berikan dan mulai men-drible bola itu. Waahh…..aku merasa senang sekali. Kulit bola basket bergantian menyentuh telapak tanganku dan lantai semen di bawah kami.
"Santai saja, [Name]-chan. Tidak perlu terburu-buru."
Ya, benar. Aku menikmati setiap sentuhan bola ini dengan kulitku. Menimbulkan sebuah nada yang baru kudengar. Nada memantul ini irama yang sangat indah. Momoi-san berdiri di depanku dengan posisi defense menghalangiku dan masih menjelaskan teori-teori yang dimilikinya. Ya, meskipun aku menikmati drible ini, aku harus mencetak angka. Bukankah itu yang dimaksud one-on-one? Tapi, itu juga berarti aku harus melewati Momoi-san terlebih dahulu. Ring berada jauh dan posisiku di tengah lapangan sementara itu jalan depan terhalang, itu berarti aku harus melewatinya,
"Terus men-drible bola dan selanjutnya [Name]-chan bisa mempraktekkan hal-hal lain seperti–"
Langkah pertama, bola di-drible di tangan kanan dengan gerakan lambat, lalu bola dipantulkan ke tangan kiri dan tumit mengarah ke kiri. Kemudian, lakukan perubahan tempo kecepatan, bola kembali ke tangan kanan. Langkah kedua, arah kaki berputar sebaliknya ke arah kanan dan jadikan titik berat tubuh ke kanan. Langkah ketiga, dorong dengan keras tubuh ke depan dengan sedikit merendahkan tubuh dan pinggul ke depan, disamping kiri tubuh lawan.
Langkah selanjutnya, berhenti drible bola dan pastikan bola tetap berada pada tangan kanan. Lalu, lakukan lompatan tinggi sejajar dan tepat 1,2 meter di depan ring lawan. Dengan posisi masih melayang di udara sampai dengan posisi tubuh hampir sejajar dengan lantai ke belakang, Lalu dengan cepat, lempar bola basket agar berada tepat diatas ring. Dalam jarak beberapa cm diatas ring, bola pun melayang jatuh searah dengan gravitasi bumi lalu –BAK!– bola masuk ke dalam lubang dan terus jatuh ke bawah jaring-jaring putih tepat pada saat kakiku mandarat di atas lantai lapangan.
…
Lho, kenapa jadi hening? Mereka semua, termasuk Seijuurou-sama hanya memandang ke arahku.
"A…ano…" Aku menunjuk diriku sendiri, "…apa gerakanku tadi salah, ya? Ma-maaf….. aku tidak pernah bermain basket….. jadinya aneh seperti ini…"
Seijuurou-sama mengerjap matanya dan menatap ke arah yang lainnya, yang masih tercengang. Kembali lagi dia menatapku, "Coba kau ketengah lapangan lagi dan lakukan tembakan three-point Shintarou."
Tembakan tree-point milik Midorima-san? Aku mengambil bola basket yang bergulir di bawah jaring setelah formless-shoot yang kulakukan tadi. Tapi… kalau hanya berjalan ke tengah lapangan, nanti bola ini langsung bisa direbut oleh Momoi-san yang berada di sana, yang masih melihatku dari tengah lapangan. Aku melihat lantai lapangan tempatku berpijak, hmmm…. masih berada di lingkaran dalam ring lawan dan ring-ku jauh di sana. Tapi…. aku tidak bisa begitu saja ke tengah lapangan. Itu berarti cara satu-satunya,
"Ini….mustahil…."
Langkah pertama, lompat tinggi ke atas, bola dibawa ke atas menggunakan kedua tangan. Perlahan, lepaskan pegangan tangan kanan dari bola dan tangan kiri mendorong bola dan melambungkannya ke atas, melepaskan kontak antara jari-jari dengan kulit bola. Pastikan bola mencapai ketinggian yang tepat dan jarak yang lebar untuk melayangkannya ke arah ring membentuk pola parabola yang lebih tinggi, lebih lebar dan lebih jauh daripada yang tadi kulihat.
Three-point shoot pertama yang kulihat dari Midorima-san ditambah dengan gerakan dalam konteks jarak jauhnya seperti dalam video latihan tree-point shoot dari ujung lapangan oleh seorang pemain NBA.
–DRAK!– bola tidak mengarah tepat ke dalam lingkaran tetapi pada cincin merah yang melingkar –Grakk! Graakkk!– bola terus berputar mengelilingi lingkaran dan –BLUSH!– bola masuk sempurna ke dalam jaring. Hufftt… kukira tembakanku meleset tadi, yahh… bisa dibilang hampir meleset.
" Ma… maaf, ternyata tidak semulus yang kubayangkan…. Dan maaf karena aku melakukannya dari….bawah ring lawan…." Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal karena canggung. Mereka masih menatapku dengan pupil mata yang mengecil dan mata yang melebar, beberapa dengan mulut ternganga. Ada apa dengan mereka? Apa aku benar-benar terlihat seperti seorang amatiran? Yah, aku memang amatir, sih. Tapi apa gerakanku seburuk itu?
"Heh, menarik."
Pemuda bersurai navy-blue itu mendongak keatas dan menumpahkan isi botol air mineral ke kepalanya. Wajah, rambut, leher jejangnya serta kerah kemejanya menjadi basah seolah peluh akibat permainan mereka tadi masih berbekas. Dia mengacak-ngacak rambut navy-bluenya yang pendek, menimbulkan percikan air yang bertebaran kesegala arah. Jari-jarinya melepas dua kancing bagian atas kemeja merah marun yang melapisi tubuhnya.
"Darahku kembali mendidih berkatmu, [Name]." Dengan seulas senyuman menyeringai dan tatapan tajam, dia melanjukan kata-kata dengan suara khas baritone-nya, "Ayo, one-on-one denganku."
Tanpa aba-aba, Ace klub basket itu mengambil bola basketku yang masih terpantul di bawah ring dan men-driblenya melewatiku, tanpa fake. Entah kenapa aku tak suka hal itu, rasanya darahku bergejolak ingin keluar. Aku kesal karena dia melewati defense-ku tanpa fake yang berarti dia baru saja meremehkanku, padahal tadi dia menantangku. Aku sebenarnya tidak mengerti apa maunya, tapi satu hal yang kutau,
Aku harus merebut bola itu sebelum dia mencetak angka.
Dia melompat dengan jarak masih jauh dari ring, khh….. dia benar-benar membuatku kesal. Baru pertama kali aku merasa kesal seperti ini. Aku melompat dengan maksud mem-block formless-shoot yang akan dilakukannya tapi tak kusangka bukan posisi badan yang sejajar dengan lantai tapi dia bergerak ke arah samping, masih dengan tubuh melayang di udara. Eh, memangnya bisa seperti itu?
Kugerakkan tangan kiriku untuk menghalaunya tetapi dia justru menunduk dan melemparnya dari samping tubuhku ke atas ring. Ba-bagaimana caranya dia melakukan itu? Bahkan dengan tubuh masih berada di udara dia dapat melakukan gerakan sebebas-bebasnya, menerapkan ability yang dimilikinya.
Dak!
dan bolanya masuk dengan mulus bersamaan dengan kaki kami yang menyentuh lantai lapangan. Jadi inilah yang disebut dengan Ace, seorang pemain andalan di dalam kelompok yang disebut Kiseki no Sedai? Jika tidak melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri, pasti aku tak akan percaya. Ya, inilah kenapa mereka disebut generasi keajaiban yang hanya ada 10 tahun sekali. Dan masih dengan kelima anggota lainnya termasuk pemain bayangan yang mempunyai gelar itu? Pantas saja mereka tak terkalahkan.
"Jangan bengong."
Eh? Di depanku, pemuda berkulit tan itu masih men-drible bola basket. Sepertinya dia bermaksud untuk melakukan fake karena tatapannya masih serius, sepasang permata blue-sapphirenya masih menatapku tajam tetapi kali ini dengan tekanan seolah siap untuk membunuhku. Aku tidak suka ditekan tetapi tekanan ini justru membuatku tertantang. Sebelum dia melakukan perubahan tempo pada gerakannya, aku berusaha men-steal bola yang di-drible-nya tapi….
Are, Kenapa...
Kenapa tubuhku terus jatuh ke depan dan tak bisa kukendalikan?
Penglihatanku seketika berkurang dari batas kepala bersurai navy-blue itu. Kepalaku seolah menjadi beban berat dan membuat gravitasi bumi menarikku turun. Mataku….. aku tidak dapat melihat dengan jelas. Kenapa? Apa yang terjadi dengan tubuhku? Ah, ini pasti limit waktu tubuhku. Persis seperti apa yang dikatakan Seijuurou-sama, tidak lebih dari 5 menit, bahkan aku yakin kalau baru saja 3 menit 22 detik berlangsung. Ah, ya. Pasti tubuhku tak mampu menahan kerja jantungku yang tiba-tiba harus dipompa lebih kuat dan lebih cepat dari biasanya, hanya untuk sekedar berlari dan melompat.
Bodohnya, aku bahkan belum bisa melihat kemampuannya, kemampuan seorang pemuda bersurai violet yang membuat diriku bisa tertawa puas untuk pertama kalinya. Orang pertama yang membuatku ingin mengenal lebih jauh tentang dirinya. Orang yang telah menolongku berkali-kali. Seseorang yang bersifat polos dan kekanak-kanakan tetapi membuatku nyaman berada di dekatnya. Membuatku tak canggung dengannya yang baru saja bertatap muka.
Apakah setelah mataku ini menutup sempurna, aku tidak dapat melihat sosoknya lagi? Sekali lagi aku mengingkari janji yang kubuat sendiri. Aku ingin lagi bertemu dengannya. Perasaan yang sama saat kami pertama kali bertemu. Perasaan rindu akan sosoknya.
See you, next chapter…
Sign,
Tanaka Aira
