HIS

Disclaimer : Masashi Kishimotto

Rated : T

Genre : Romantiv, Humor, Friendship

Warning : AU, ooc, Typo, ide pasaran dan lain-lain. fic ini jauh dari kata sempurna

.

.

.

Don't like, Dont Read !

.

.

Happy reading

.


'Apa arti dari sahabat? menemani mereka walau berada dijalan yang salah sekalipun'


Pagi itu seluruh siswa KHG Selatan nampak serius memandang selembar kertas putih diatas meja. Saat ini suasana dikelas begitu hening sejak satu jam terakhir ulangan dilaksanakan.

Salah satu siswa yang mempunyai gaya rambut mencuat keatas sedang menopang dagu seraya memandang jendela dengan tatapan kosong dengan sebelah tangannya dan tangan yang lainnya sibuk memainkan pensil.

Tidak seperti siswa lainnya yang sedang mengerjakan ulangan, Sasuke malah sibuk dengan dunianya sendiri.

'Kuso, Naruto dobe sialan. Aku tak akan diam saja seperti ini, Sakura akan menjadi milikku'. Inner Sasuke kesal.

Entah dirinya yang serakah atau emang doyan sama perempuan, Sasuke begitu bertekad mendapatkan Sakura walau dirinya baru pertama kali bertemu.

Mungkin memang semua keturunan Uchiha egonya yang tinggi, Sasuke sangat gengsi mengungkapkan perasaan pribadinya. Tidak seperti dua sahabatnya yang terbuka dan blak-blakan.

"Baiklah waktunya habis. Letakan pensilnya dan kumpulkan dari belakang". Perintah sang guru. Suara baritone milik Kakashi memecah keheningan disana.

Itu berefek pada pemuda yang sedang asik melamun. Sasuke terperanjat kaget dan langsung bergelut dengan tugasnya yang sempat tertunda beberapa menit yang lalu.

Waktu ulangan ia habiskan untuk melamun.

'Kuso... kuso .. kuso' lagi-lagi innernya yang bicara.

Sebisa mungkin ia menutupi raut mukanya yang cemas, dasar Uchiha gengsian.

"Letakan pensilnya". Ucap Kakashi lagi mengulangi kalimatnya. Sudah jelas ia bicara pada Sasuke yang sedang ngebut menulis jawaban.

Sasuke sibuk menulis jawaban dengan asal dan cepat. Masa bodo benar atau salah yang penting ulangannya selesai-fikirnya.

"Letakan pensilnya". Perintah sang guru sambil memperhatikan Sasuke.

"Hoy Sasuke cepat kumpulkan kertasnya". Naruto menyentuh pundak Sasuke dari belakang karena posisi duduknya berada dibelakang Sasuke.

"Diam kau !". Ujar Sasuke menghindari sentuhan Naruto dengan menggerak-gerakan bahunya.

"Uchiha , letakan pensilnya".

Dengan pasrah Sasuke akhirnya mau melepaskan pensil dari genggamannya.

.

.

.

Teng teng teng ...

Bel istirahat berbunyi. Semua para siswa berhamburan keluar dengan hati yang gembira. Anak-anak itu seperti keluar dari penjara saja, saking bosannya belajar.

"Baru kali ini melihat Sasuke diomelin Kakashi sensei". Kata Sai sambil berjalan keluar kelas bersama kedua sohibnya.

"Ya benar, kau selalu melamun Sasuke. Apa kau sedang sakit?". Naruto menempelkan punggung tangannya di dahi Sasuke. Lagi-lagi ia bicara tidak nyambung.

Dengan cepat tangan kekar milik Sasuke menepis sentuhan Naruto dengan kasar.

"Tch, aku tidak sakit sepertimu dobe. Cepat kita ke kantin".

.

.

" ... hahaha perempuan itu katanya suka nangis Sai, jadi kau jangan membuat masalah". Ucap Naruto sambil berjalan berjalan menuju kantin bersama Sasuke dan Sai.

Kedua pemuda itu sedang asyik berdebat seputar perempuan, dan tidak ada satupun kalimat mereka yang bermutu. Benar-benar butuh pencerahan.

"Iya benar. Tapi aku belum pernah melihat ibuku menangis. Yang ada mereka itu suka menggosip. Ada satu fakta lagi, katanya mereka sangat cerewet". Balas Sai.

"Kau malah bicara tentang ibumu, baka". Naruto kesal. Ia kembali menatap Sasuke yang berjalan mendahuluinya.

"Hey teme, yang benar perempuan itu cerewet atau suka nangis?". Ujar Naruto sambil berlari-lari kecil supaya langkahnya sejajar.

"Hm". Hanya dua kalimat konsonan membosankan yang keluar dari bibir Sasuke.

"Hm itu artinya apa teme?".

"Hm".

"Arghhh sungguh aku ingin muntah mendengar kalimat itu". Naruto mengacak rambutnya kesal.

.

.

.

((((HIS))))

.

.

.

"Sakura, Shion, Tenten, Ino dan Hinata ikut saya ke kantor". Ucap sang guru berperawakan molek dengan rambut hitam lebatnya.

Siswi yang barusan dipanggil langsung berdiri dari bangkunya dan mengikuti guru Kurenai dari belakang.

"Pstt sepertinya ulah kita ketahuan oleh pihak guru. Sial itu semua gara-gara kau Shion mengajak aku kabur". Tenten mencak-mencak pada Shion. Sementara si empu sudah gemetar hebat sejak dipanggil barusan.

"Hey kenapa kalian berdua bisik-bisik". Sakura ikut bicara pada kedua temannya itu yang errr sedikit bengal.

"Diam kau jidat, bukan urusanmu". Shion menunjuk muka Sakura dengan nista. Sakura memutar bola matanya bosan.

.

.

Sesampai diruang guru. kelima murid tadi duduk dikursi yang sudah disediakan.

Disana ada beberapa guru lain ditambah ketua osis dan wakilnya.

Wajah Shion dan Tenten berubah menjadi pucat kala melihat raut wajah mereka yang menyeramkan.

Sedangkan geng HIS damai-damai saja karena mereka tidak melakukan kesalahan apapun.

"Psst Sakura, ada apa sebenarnya kita dipanggil kesini. Apa jangan-jangan kita ketahuan menyelinap masuk ke KHG Selatan?". Bisik Ino yang hanya terdengar oleh Sakura.

Sakura menyenggol pelan tubuh Ino seraya mendelik tajam. Tatapannya seolah berkata 'mana mungkin Pig'.

Ino membalas tatapan Sakura 'Lalu kenapa kita dipanggil kemari jidat' balas Ino.

'Mana kutahu pig'

Dan terjadilah perdebatan inner antara Sakura dan Ino.

.

.

"Baiklah kita mulai saja. Saya sebagai ketua Osis akan mengumumkan-"

Kalimat si ketua Osis yang mempunyai rambut pirang diikat empat sudah melegakan hati mereka berlima. Fikiran negative mereka membuat dirinya menjadi sibuk sendiri, dan itu sangat mencolok didepan sang Osis.

'Fyiuuuuhhhh' . mereka menghela nafas lega.

"-mengumumkan sebuah acara Bunkasai di musim semi ini. Tsunade-sama ingin kita melaksanakannya bersama SMA KHG Selatan. Aku sebagai Osis menyuruh kalian untuk mewakili sekolah kita datang kesana mendiskusikan acara ini". Ucap Temari sang Osis. Disusul dengan anggukan kepala guru lain.

"Ano Temari senpai, bukankah sekolah itu khusus laki-laki. Kita dilarang masuk kesana kan".

"Kita datang kesana karena ada alasan, bukan karena main-main. Tenang saja aku dan Konan juga akan ikut bersama kalian". Jelas Temari pada adik kelasnya yang bercepol dua.

Ino Sakura dan Hinata telah meruntuki dirinya sendiri. Si ketua Osis tanpa sadar sudah melukai hati ketiga gadis itu. Apa yang dimaksud dengan main-main.

"Senpai-". Sakura mengangkat tangannya sebelah. Temari melirik Sakura disusul dengan anggukan.

"-kapan kita datang kesana nya?".

"Sekarang. Karena lebih cepat lebih baik, Bunkasai dilaksanakan dua tahun sekali jadi aku ingin festifal ini berjalan sesuai rencana dan butuh persiapan yang matang. Baiklah ayo berangkat".

'DEG'

Jantung Sakura Ino dan Hinata bedetak begitu cepat. Ini sebuah keburuntungan bagi mereka untuk masuk ke sekolah khusus untuk laki-laki. Dan kali ini malah disuruh untuk datang, bagaimana tidak senang. Otak mereka kembali berfantasi ria memikirkan para pria-pria itu.

"Ayo kita bergegas anak buah". Bisik Konan saat melangkah melewati grup HIS.

"S-senpai !". Ucap Sakura, Ino Hinata serempak.

"Heheh , ini kesempatan bagus untuk kalian".

.

.

.

"Aku tahu kau yang memilih kami untuk datang ke KHG selatan kan? Kenapa tidak bilang dulu pada kami".

"Heh jidat setidaknya bilang terimakasih. Kalian bisa masuk kesana itu karena aku, kau lupa apa jabatanku disekolah ini hah". Konan berkacak pinggang kesal pada Sakura.

Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju KHG selatan, jaraknya yang dekat cukup dengan berjalan kaki saja.

'Plakkk'. Ino menepuk jidatnya "Sial aku lupa kalau kau wakil osis".

"Hahaha dasar anak buah tidak bermutu. Apa apaan mengintip itu hal yang rendahan sekali. Kita harus bersikap keren didepan para pria. Aku saja tidak berani datang ke emmmphh..". belum selesai Konan bicara mulutnya sudah dibekap oleh ketiga gadis yang bersangkutan.

"Kau jangan bicara keras-keras nanti kami ketahuan oleh Temari senpai". Ino membekap mulut Konan secara tidak elit.

"Hey yang dibelakang, ada apa ribut-ribut?". Temari membalikan badannya kebelakang melihat tingkah aneh dari partnernya. Mereka pun melepaskan cengkramannya dari Konan dan berlagak normal kembali.

"T-tidak ada Taichou heheh". Konan menggelengkan kepalanya kasar.

"Cepatlah kalian ini sangat lamban". Perintah Temari tegas.

"Wai wakarimasen". Konan tersenyum, lalu ia kembali memandang garang ketiga anak buahnya.

"Awas kalian ya".

.

.

.

"Sasuke ... Sasukeee". Siswa bertubuh tambun lengkap dengan kripik singkong ditangannya sedang berlarian panik menuju si empu sambil teriak-teriak.

"Ada apa Chouji kau seperti melihat hantu". Balas Sasuke sambil menghampiri Chouji dengan wajah datarnya.

"I-ini lebih menyeramkan dari hantu. Dibawah ada banyak perempuan masuk ke sekolah kita". Ucapan Chouji yang cukup keras membuat seluruh penghuni kelas memperthatikannya.

Mereka serempak menatap Chouji.

"Apa ? disekolah kita banyak perempuan?". Ucap laki-laki bertato merah dipipinya, Kiba.

"Heee dia pasti sedang bercanda, jangan percaya sama si bocah gendut itu". Kini laki-laki berambut putih yang dipanggil Suigetsu buka suara.

"Masa sih, apa mereka buta. Atau pengumuman itu kurang besar tulisannya?". Lanjut Sasori.

Demi menjawab semua rasa penasaran mereka, para siswa itu berhamburan keluar dari kelasnya, bahkan yang sedang belajar pun mendadak keluar.

Memang mereka begitu heboh kala melihat perempuan, karena disini hanya terdapat laki-laki saja. Kecuali mereka bisa melihat perempuan seperti guru mereka atau ibu-ibu penjaga kantin. Sungguh malang sekali nasib mereka. :D

Sasuke segera turun ketangga dengan langkah yang cepat. Ia harus berdesakan melewatinya karena banyak siswa lain yang ingin turun kebawah juga demi melihat para gadis cantik yang jarang mereka temui.

"Sasuke tunggu". Naruto dan Sai berlari mengikuti langkah Sasuke.

.

.

.

Sakura, Ino dan Hinata sibuk melihat-lihat pemandangan indah itu. Begitu banyak para laki-laki yang sedang bergumul menyambut kedatangan mereka.

Sekilas mereka mendengar bisik-bisik pria ganjen itu.

"Whoaahh cantik sekali mereka".

"Hey cewek".

"Lihat yang rambutnya pink, sangat manis sekali ya".

"Aaaa cewek itu mirip Barbie".

Laki-laki itu sibuk mengerlingkan pandangannya pada mereka. Tapi semua itu tidak digubris sama sekali oleh para wanita cantik itu.

Mereka berjalan sangat gemulai bak model berjalan catwalk.

"Jangan tunjukan wajah polosmu. Bertingkah anggun, ingat". Bisik Konan pada grup HIS.

Mereka bertiga mengangguk pelan.

Wajahnya dibuat se anggun mungkin, padahal dalam hati mereka sedang menari ria dan ingin berteriak. Betapa senangnya dipuji oleh para pria-pria tampan.

Para wanita itu masuk keruang OSIS. Saking antusiasnya pintu ruangan OSIS sampai penuh dikelilingi para siswa laki-laki yang ingin melihat.

Tiba-tiba Sasuke dan kedua temannya sampai disana, ia langsung menghampiri tempat yang banyak orang.

"Hey kalian sedang melihat apa?". Kata Sasuke sarkastik.

"Didalam sana ada banyak cewek cantik, lihat Sasuke kau pasti langsung menyukai mereka". Ujar laki-laki berambut putih ikal , Toneri.

"Oh". Sasuke menjawab seolah tak penting.

.

"Ahhh aku mau yang dikuncir empat"

"Lihat-lihat yang bercepol dua itu juga cukup manis".

"Minggir Sakon aku juga ingin melihat mereka".

"Jangan dorong aku Ukon, kau mengganggu kesenangan orang lain saja".

"Dasar sikembar gila, kalian berdua menghalangi pemandangan saja. Aku tak bisa melihat si pinky itu".

Telinga Sasuke mendadak lebar saat mendengar kata 'Pink' barusan. Dengan cepat ia langsung menerobos gerombolan anak laki-laki dan ikutan melihat. Bahkan ia sempat lupa dengan jiwa Uchiha-nya yang jaim.

"Dasar Sasuke itu aneh sekali". Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

.

.

.

"S-Se-selamat da-datang di Konoha High School Selatan". Pria berkuncir longgar itu bicara terbata-bata saat berhadapan dengan para gadis cantik nan molek.

"Perkenalkan saya U-Uchiha I-Itachi , ketua Osis KHG Selatan". Itachi sedikit membungkukan kepalanya. Sungguh ia mendadak ciut dihadapan wanita-wanita itu.

"Saya Sabaku Temari, Ketua Osis KHG Utara, dia Konan wakil Osis kami". Temari menatap Konan disusul dengan anggukan dan memberikan senyuman termanisnya.

Batin Ino dan Sakura ingin sekali tertawa keras melihat tingkah manis Konan yang dibuat-buat.

'Sangat menjijikan' Inner Sakura.

"Saya Yahiko, wakil Osis KHG Selatan". Yahiko menjulurkan tangannya pada Konan, dengan cepat Itachi menepis tangannya dan memberikan deathglare pada Yahiko.

.

.

.

Berlangsungnya acara rapat tersebut yang hampir memakan waktu satu jam, cukup bagi mereka. Kembali pada Sasuke yang masih setia melihat mereka dibalik pintu.

'Tch baka aniki, dia benar-benar beruntung'. Bisiknya pada diri sendiri.

"Terimakasih atas kerja samanya, semoga acara Bunkasai ini terlaksana sesuai rencana, kami permisi, Itachi-san".

Samar-samar terdengar percakapan mereka. Dengan secepat kilat, orang-orang yang bergumul dipintu langsung menghindar terutama Sasuke, ia langsung berlari entah kemana.

"Yeyy akan ada Bunkasai disekolah kita bersama para gadis-gadis cantik itu".

"Aaaa aku tak akan melewatkan hari yang berharga itu".

"Lihat-lihat mereka semua keluar".

Temari berjalan angkuh dan gagah diikuti teman-temannya dibelakang.

"H-Hinata aku tak tahan ingin ke toilet". Bisik Sakura pada Hinata sambil memegang perutnya.

"Sakura chan kau bisa tahan sebentar kan. Sekarang juga kita akan pulang".

"Tapi aku sudah tak bisa menahannya lagi". Sakura menggeliat tak tahan lagi, ia meringis.

"Yasudah kau ke toilet saja kami tunggu kau digerbang". Titah Hinata. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya bersama Ino dan yang lainnya.

Lihat Sakura sekarang, ia jadi bahan perhatian bagi siswa laki-laki disana. Bak seorang putri, Sakura berjalan di apit oleh para laki-laki yang memandang kagum padanya.

Namun ia tak menghiraukannya, karena saat ini keadaannya berbeda. Ia sudah berada di ujung tanduk.

Sakura berlari-lari kecil mencari toilet namun nihil tempat itu belum ia temukan. Sakura mengigit bibir bawahnya menahan rasa tak nyaman itu.

Ia memasuki sebuah lorong kecil yang menurutnya itu adalah jalan menuju Toilet.

Mata Emerald itu menyimpit memperhatikan seorang laki-laki yang sedang membelakanginya. Ia mencoba menyapa laki-laki tersebut.

"Permisi, bisa antar aku ke toilet?". Tanyanya dengan nada se lembut mungkin. Ia masih ingat kata-kata Konan rupanya. 'bersikaplah anggun'.

Laki-laki emo itu berbalik menghadap gadis bubble gum yang sedang berdiri tegak didepannya.

Onyx bertemu Emerald. Mata mereka saling menatap lekat satu sama lain. Betapa kagetnya Sakura, ia sudah salah orang.

"Hm, iya ..."

'Gawat, bukankah dia laki-laki yang digerbang itu. Sial , apa aku benar-benar akan dimakan olehnya'. Batin Sakura menjerit ketakutan.

Rasa takut itu disusul dengan detakan jantung yang tak beraturan. Ia merasakan sensai aneh disana. Sakura masih belum paham betul , perasaan apa ini?- batinnya.

Ia kembali meneliti pria bersurai hitam legam itu dengan seksama. Dibalik wajahnya yang datar, dia cukup tampan oh salah dia sangat tampan sekali.

Baru sadar kau Sakura?

"-Hey nona ..". Panggil Sasuke sehingga menarik Sakura dari lamunannya.

"Ahh i-iya". Jawabnya dengan sangat gugup.

"Dari tadi aku bicara tidak didengar, eh". Sahut Sasuke. Ia berjalan medahului Sakura. "Ayo ikut aku". Lanjutnya.

"Kemana?" Tanya Sakura mendadak kikuk

"Kemana? Kau kan yang menyuruhku mengantar kau ke toilet, masa lupa?"

"E-eh iya ya maaf". Sakura menggaruk kepala pink nya yang tak gatal.


TBC