Amelo : makasih banyak untuk para reader yang sudah membaca fanfic gajetot ini. Terima kasih yang udah review, fav, dan favorite. Author senang sekali *nangis Bombay* #?

Kuroko : Amelo-san, apakah ada adegan pairing GoMxShiro disini?

Amelo : mungkin. Kalo ingin buat Sei-sama brokoro harus diharemin dulu #duash

Kuroko : wah jadi tak sabar.

Amelo : jika ga sabar… silahkan membaca!

.

.

.

.

.

Bad Girl In Teiko

Disclaimer : selamanya milik Fujimaki-sensei

Rated : T. buat jaga-jaga aja sih .-.

Genre : fren ama romance. Tapi lebih ke frennya.

Warning : OOC, abal, gajetot, alur kecepetan, TYPO, dll.

DON'T LIKE DON'T READ

NEKAD?

HAPPY READING


CHAP 4

Normal POV

Sudah 1 bulan sejak Hasami diterima sebagai manager kedua klub basket. Bukannya ia membenci klub ini, hanya saja ia merasa ingin membunuh semua pemain reguler yang ada. Gimana nggak? Kise yang selalu memeluknya, Aomine yang suka membolos dan dia harus keatap dan itu sangat melelahkan, Midorima yang membawa Lucky Item kemana-mana dan itu membuat permainan sedikit terganggu dan Hasami rasanya ingin memecahkannya. Murasakibara? Dia selalu menghabiskan cemilan Hasami. Kuroko? Mungkin Hasami tak terlalu ingin membunuhnya. Hanya saja, ia terlalu lembek bagi Hasami dan itu terkadang membuat Hasami stress sendiri. Momoi? Yah, dia tak minta macem-macem saat ia membutuhkan Hasami. Tetapi curhatnya itu lho! Bete Hasami dengernya! Dan yang paling ngeselin itu adalah si kapten Egois bin sadis.

Ia seenaknya saja menyuruh Hasami macem-macem. Dimulai dari mencuci pakaian segunung yang sebenarnya Momoi sudah menawarkan bantuan tapi dilarang Akashi. Mengikuti pemanasan neraka, menyuruh Hasami keatap untuk memanggil Aomine padahal Aomine sedang diruang ganti, dll. Dan Hasami sering kali protes kepada Akashi tapi dicuekin begitu saja. Seperti kali ini, Hasami disuruh memungut bola basket yang berceceran. Tetapi, saat sudah mau selesai, Akashi mengeluarkan semua bola tersebut dibantu dengan Murasakibara tentunya. Hasami yang geram hanya menatap sinis kearah Akashi.

"Apa lihat-lihat Hasami? Sana kerjakan. Sangat mudah bukan memunguti bola?" kata Akashi dengan entengnya.

"Mudah?! Aku sudah mengerjakannya selama 20 menit dan kau selalu merecokinnya! Memangnya tidak lelah, hah?!" Hasami mulai kehabisan kesabaran.

"itu tidak seberapa Hasami. Cepat kerjakan. Yang lain segera ganti baju dan pulang." Perintah Akashi. Hasami yang merasa diabaikan begitu saja melempar bola basket yang dengan tepat kearah kepala Akashi. Yang kena malah mengeluarkan aura-aura negative bin hitam.

"Apa ada asalan kau melakukan ini padaku Hasami?" Akashi mengeluarkan gunting keramatnya.

"ada! Dan kau bodoh sekali jika kau tak mengetahui alasannya Akashi!" Hasami menggeram kesal sambil memunguti 2 bola. Akashi hanya menatap tajam dan melempar guntingnya kearah Hasami. Tapi Hasami menghindar dan gunting itu malah mengenai Aomine yang berada dibelakang Hasami.

"Uwaaa!"

"Ahominecchi harusnya jangan disitu-ssu!"

-abaikan diatas-

"Kau berniat menyerang Hasami dengan Hasami*?" tanya Hasami sinis. Ia pun mendekati Akashi yang hanya diam.

"Aku bisa menghajarmu jika aku mau. Kau tau kan?" bisik Hasami kemudian melanjutkan pekerjaannya. Akashi hanya menatapnya sinis.

"Kalian! Cepat ganti baju! Dan Satsuki jika kau memang ingin membantu Hasami cepatlah bantu dia!" ucap –baca:perintah- Akashi. Ia pun hanya pergi keruang ganti dan disusul lainnya.

"Maaf, Hasa-chan. Akashi-kun memang seperti itu." Kata Momoi sambil membantu memungut bola.

"Tak apa. Untung aku bisa mengendalikan diri. Jika tidak kupiting kepalanya merahnya itu." Jawab Hasami sambil tersenyum.

"Ha-Hasa-chan kowai, yo…" ucap Momoi ketakutan.

Setelah membereskan semua bola, Hasami dan Momoi keluar dari Gym. Tak lupa mengunci Gym. Mereka pun berjalan dan bertemu Kisedai yang berada didepan gerbang.

"Eh, kenapa kalian tidak pulang?" tanya Momoi.

"Berterima kasihlah kepada Kise-nanodayo. Dia memaksa kami agar pulang bersama kalian berdua." Jawab Midorima sambil menaikan kacamatanya.

"Ayo pulang sebelum malam." Ujar Akashi. Hasami hanya heran, biasanya Akashi dijemput oleh supir pribadinya. Kenapa hari ini pulang sendiri? Ah. Kalau Hasami berangkatnya diantar dan kalo pulang ia akan pulang sendiri.

Selama perjalanan, mereka bercakap banyak hal. Tapi Hasami hanya diam. Ia merasakan firasat buruk. Dan biasanya firasat buruknya selalu benar. Ia pun memicingkan pandangannya kearah Aomine. Ntah ada apa. Tapi Hasami merasa Aomine berada dalam bahaya.

"Hoi Bakamine. Dimana rumahmu?" tanya Hasami tiba-tiba.

"Bisakah kau berhenti memanggil namaku seperti itu?" jawab Aomine dengan pertanyaan. Ya, Hasami sudah memberikan beberapa nama panggilan kepada Kisedai. Kuroko = Kuro-kun / lembek-kun. Kise = Kise / ahocopycat. Midorima = Mido-kun / Midorima / Aho-Asa Freak. Aomine = Ao-kun / Aomine / Bakamine. Murasakibara = Mura-kun / Abnormal Titan #?. Akashi = Akashi / emperor cebol / bocah merah. Momoi = Momo-chan / Satsu-chan

"Jangan banyak ngomong. Dimana rumahmu?" tanya Hasami dengan tajam.

"hem.. di komplek C. memangnya kenapa?" jawab Aomine seraya menatap Hasami heran. Hasami hanya bernafas lega. Rumahnya ternyata 1 komplek dengan Aomine. Jangan tanya kenapa Hasami ga tau rumah Aomine padahal 1 komplek. Itu karena Hasami sebelumnya gak pernah pulang bareng Aomine.

"Memangnya kenapa Hasami? Kau menghawatirkan Daiki?" tanya Akashi dengan nada sedikit cemburu. Oh lupa bilang. Bahwa setiap anggota Kisedai sudah punya perasaan khusus kepada Hasami. Tapi Hasami ga tau. Maklum cewe ga peka #dihajarHasami

"Tidak. Hanya saja aku merasakan kalau Aomine akan celaka." Jawab Hasami seadanya. Semua menjadi hening dan semua pandangan menuju Hasami.

"Hei! Aku hanya merasa. Bukan berarti pasti. Dan jangan menatapku seperti itu jika kalian tak ingin kupukul." Teriak Hasami. Dan semua pun jadi kembali kesemula.

Beberapa menit kemudian, semua pun bubar. Bukan bubar sih, hanya saja jalan mereka pun berbeda arah pada ujungnya. Dan disini menyisakan 1 ah 2 orang maksudnya. Yang satu lagi terlalu gelap, jadinya ga keliatan #ditabokAomine . karena situasi yang sangat canggung, akhirnya Aomine pun membuka suaranya.

"hei, Shirokawa."

"Nani?"

"Apa maksudmu dengan aku akan celaka?" tanya Aomine. Yang membuat Hasami berhenti berjalan.

"Yah, biar kujelaskan saja." Hasami berbalik menghadap Aomine. Oh ya, tadi Hasami jalan didepan Aomine.

"Hem… sebenarnya ini rahasia, agar nama baikku tidak tercoreng di Teiko. Tapi, apakah kau pernah mendengar suatu kelompok pengacau yang melakukan ulah terakhir mereka sekitar sebulan yang lalu?" tanya Hasami.

"Ya. Aku pernah mendengarnya. Mereka kelompok pengacau terkenal dikota ini. Selalu melakukan tawuran, dan menghancurkan beberapa game center. Kudengar aksi terakhir mereka adalah memberantas kelompok yang diduga Teroris dan mengirim kelompok terduga itu kepolisi. Yah, walaupun mereka pengacau tapi mereka terkadang berbuat kebaikan." Jawab Aomine.

"Aku senang kau punya penglihatan yang baik terhadap kami." Ucap Hasami sembari tersenyum kecil.

"Tunggu! 'kami'?" Aomine hanya mengerjapkan matanya.

"Ya kami. Kelompok pengacau terkenal dikota ini. Dan bisa dibilang… aku ketuanya." Tambah Hasami sembari terkekeh kecil.

"Nani?! Ketua?! Kau?!" tanya Aomine yang tidak percaya.

"Yah… karena insting-ku tajam karena sering melakukan perkelahian, aku bisa merasakan beberapa bahaya yang akan datang. Dan itu akan menimpa-" belum sempat Hasami menyelesaikan kalimatnya, seseorang dari belakang Aomine berniat memukulnya dengan tongkat Baseball.

"Awas!" teriak Hasami. Tapi naas, tongkat Baseball itu telah memukul punggung Aomine hingga Aomine pun terjatuh dan memegangi punggungnya.

"Heh? Apa ini anggota barumu Shirokawa Hasami? Lemah sekali!" tanya seseorang dengan rambut pirang pucat. Si pirang pucat itupun menginjak kepala Aomine dan membenturkannya ketanah. Sehingga Aomine tampak tengkurep (?).

"Kazu! Apa maumu?!" tanya Hasami sinis dan kejam.

"Mauku? Membalas dendam tentunya. Kalian tak pernah beraksi lagi selama sebulan ini. Dan kudengar, kau pindah ke sekolah elit. Dan posisimu itu diganti oleh Himuro Tatsuya bukan? Kami sudah menghabisinya." Jawab Kazu enteng.

"Menghabisi… Tatsuya?" tanya Hasami tak percaya.

"Benar. Juga beberapa anggota lainnya. Ternyata, mereka kuat kalau ada kau saja, ya. Tapi tenang saja, kau dan anggota barumu ini akan habis sebentar lagi." Kazu menjetikkan jarinya dan keluar sekitar 10 orang. Setengah dari mereka memegang senjata.

"Shi-Shirokawa… Lari…" ucap Aomine sedikit lirih. Karena punggungnya yang sakit dan dahinya yang sedikit mengeluarkan darah membuat ia sedikit pusing. Hasami hanya diam tak bergeming.

"tak akan kubiarkan kau lari! Habisi dia!" perintah Kazu. Mereka pun berlari kearah Hasami. Yang paling dekat dengan Hasami pun berniat memukul Hasami dengan tongkat besi.

"Hoi! lari!" teriak Aomine. Tetapi…

#BUUAKK! Besi keras itu pun menghantam kepala Hasami. Hasami hanya menunduk. Terlihat noda merah disurainya yang putih itu. Yang satu lagi pun memukul perut Hasami yang membuat Hasami jatuh terduduk.

"Heh? Kukira seorang Shirokawa Hasami itu kuat. Tetapi hanya segini saja? Kalau begitu kau akan kuhabisi sekarang!" teriak Kazu sambil mengayunkan besi kekepala Hasami lagi. Aomine hanya menutup matanya.

#BUAK!

Aomine membuka matanya dan melihat Hasami melindungi kepalanya dengan lengan kirinya. Ia merasakan bahwa Aura menyeramkan menguar dari tubuh Hasami. Dan Aomine menjamin, bahwa aura itu lebih menyeramkan dari Akashi.

"Kau pikir aku lemah? Kau pikir aku akan selesai dengan besi dikepalaku? Jangan bercanda!" Hasami memukul dagu Kazu sekuat tenaga hingga Kazu pun seperti mental dan mendarat diaspal. Besi yang dipegang Kazu pun mengelinding kearah Hasami dan Hasami pun mengambilnya.

Melihat peristiwa itu, ke-10 orang itu pun menghajar Hasami. Tapi apa daya, level bertarung ke-10 orang itu sangat jauh dengan Hasami. Ya, kejadian yang tak akan Aomine lupakan. Kejadian yang menurutnya bagaikan melihat film horror. Dengan pembunuh yang berada tepat didepan matanya. Dia bukan melihat 10 pembunuh yang menghabisi seorang gadis. Melainkan gadis yang menurutnya ternyata Shinigami + iblis sedang menari-nari. Gadis itu menghajar 10 orang itu dengan lihai, bahkan sambil tersenyum. Terlihat seperti menari bukan? Dan ceceran darah yang keluar sedikit demi sedikit menjadi penghias.

Setelah 5 menit, akhirnya selesai juga adegan horror itu. Aomine masih shock apa yang dilihatnya. Memang Hasami pernah memukul seorang cowo dan digosipkan jago bertarung. Hasami terkadang mengancam akan menghabisi seseorang jika bertingkah lebih lanjut. Dulu Aomine hanya menganggap itu hanyalah candaan biasa. Tapi setelah melihat adegan tadi, ancaman gadis berambut putih tersebut adalah nyata.

"Sampai kapan kau akan diam, hah?" tanya Hasami sambil berkacak pinggang didepan Aomine.

"Eh?"

"Jangan hanya 'eh'! kau pasti kesakitan bukan? Kuantar kau kerumahku!" ucap Hasami sambil membopong tubuh Aomine.

"Tidak perl—itte!" ringis Aomine memegangi punggungnya.

"Sudahlah jangan banyak bicara. Hanya diam dan turuti aku. Aku pernah mengalami kejadian sepertimu, kok." Hasami mulai berjalan sambil membopong Aomine.

"Dipukul tongkat Baseball?"

"Tentu saja. Awalnya sih sakitnya luar biasa. Tapi kalau sekarang hanya biasa saja." Jawab Hasami enteng.

'anak ini mengerikan' ujar Aomine dalam hati.


-kediaman rumah Hasami-

Semua pelayan dirumah Hasami langsung panik total begitu melihat Hasami yang kepalanya sudah berdarah dengan beberapa luka disekujur tubuhnya, malahan ada pakaian-nya yang robek. Dan membawa Aomine yang lesu karena kesakitan.

"Ojou-sama! Kau bertingkah lagi rupanya!" ujar Shuko. Seorang kepala pelayan. Hasami hanya mengangguk dan mendudukan Aomine di sofa ruang tengah.

"Awalnya aku lega karena Ojou-sama selama sebulan ini tak pernah mendapat luka. Ternyata Ojou-sama pulang telat karena berulah lagi." Shuko hanya menghela nafas. Hasami duduk dan menatap Shuko tajam.

"Aku pulang telat karena urusan klub! Dan aku terluka karena ada kelompok yang menyerang kami! Dan aku hanya menyerangnya balik karena lelaki sangar disebelahku ini ternyata tak bisa membantu!" jawab Hasami tegas sembari menunjuk Aomine.

"Dan… dia ini siapa Ojou-sama?" tanya Shuko.

"Aomine Daiki. Anggota klub basket. Rumahnya 1 komplek dengan kita. Jadi, besok pagi antarkan dia pulang." Jawab sekaligus perintah Hasami.

"Baiklah. Aomine-san apa terluka juga?" tanya Shuko ke Hasami yang kepalanya baru saja disterilkan lukanya dan dibersihkan darahnya.

"Ya. Punggungnya sakit akibat terhantam tongkat Baseball. Dan sepertinya kepalanya terluka juga. jadi, tolong obati dia." Jawab Hasami. Dan para pelayan itupun mengobati Aomine juga.

20 menit kemudian….

"Terima kasih telah merawatku." Ucap Aomine yang telanjang dada. Perban terikat di punggung dan dadanya. Tak lupa plester kecil dikepalanya.

"Ya.. sama-sama." Jawab Hasami. Hasami sih keadaanya bisa dibilang lebih parah dari Aomine. Kepala dan tangannya diperban. Dikakinya ada plester, dan beberapa luka jahitan yang baru saja dilaksanakan tadi dan membuat Aomine kembali shock. Pasalnya tadi Hasami lukanya dijahit dan ia tak meringis sama sekali. Hasami melihat jam yang ada di-dinding.

"Sudah larut. Sebaiknya tidur. Oh ya Ao-kun, kau tidur saja dikamar untuk tamu disebelah kamarku. Ayo." Hasami bangkit dan berjalan menuju lantai 2. Aomine mengikutinya dari belakang. Setelah sampai, Hasami mengucapkan selamat tidur ke Aomine. Aomine hanya mengangguk dan masuk kekamar sementaranya itu. Aomine tidak bisa tidur. Ia membayangkan apa yang terjadi 30 menit yang lalu, dan menyengir sendiri.

"Tadinya kupikir dia gadis cantik yang sok. Ternyata bukan, dia lebih mirip Iblis dengan tubuh malaikat." Ujar Aomine sambil menutup matanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


NB : *Hasami artinya gunting. udh pada tau kan?

Amelo = apa ini?! Kenapa ada kata-kata seperti ff horror?! Huwaaa! Amelo sendiri bingung… ini sebenarnya apa?

Kise : Amelocchi jahat-ssu! Masa disini full AoShiro sih? ( Aomine x Shirokawa Hasami maksudnya )

Amelo : yah, habis pengen dikasih aja gitu.

Hasami : aku benar-benar terluka parah. Untung besok libur

Murasakibara : he~ Shiro-chin daijoubu?

Hasami : aku baik-baik saja. Dan Amel, apa kau sudah memikirkan bagaimana si bocah merah itu patah hati? Aku tak sabar menantikannya

Amelo : nah, masalahnya itu! Aku gatau cara bikin Sei-sama sakit hati! T_T . kalo reader punya saran, lebih baik disumbangkan oke?

Kise : dan untuk chapter berikutnya reader boleh milih Shirokawacchi sama siapa-ssu. Kata Amelocchi sih full 1 chapter kalo bisa.

Hasami : kalo begitu… Mind RnR minna?

Amelo : See You Next Chapter *wink*