Annyeoooooong *tebar bunga bangke*

Kenapa D lama apdet? Tampaknya dunia tak mengizinkan D untuk melanjutkan efef ini hikshikshiks.

TAU GA SIHH D GA BISA BUKA FFN KARENA INTERNET POSITIF! (lol curhat gapapa kan hohoho)

Jadi D kerepotan BANGET. Pake BANGET loh ya, kalo bisa pake Z dibelakangnya. Rasanya pengen nonjok keyboard pas ngeliat tulisan internet positif muncul di layar monitor.

Mungkin D sudah membuat ffn berbau kurang sedap karena bunga bangke yang bertebaran. Jadi diblokir deh.

Lebih ngeselin daripada nonton sinetron perselingkuhan yang ga tamat-tamat.

Rasanya D pengen buat Catatan Hati Seorang Dead Hands.

.

.

.

.

Warning : YAOI, typo(s), OOC, alur maju-mundur-maju-mundur tak jelas dan memaksa, EYD terabaikan, kosakata miskin, absurd tingkat dewa, gaje menembus batas, author gila, dan blahblahblah

DAEJAE DAEHYUN X YOUNGJAE

.

DLDR!

.

Italic= Flashback

.

.

.

Hujan sudah berhenti. Sinar matahari memaksa keluar di belakang awan putih raksasa. Terlihat ada gradasi di pinggiran awan. Warna biru cerah mengusai langit-langit bumi. Aku harus bersyukur karena bisa melihat gumpalan-gumpalan dacron putih yang sudah kurindukan. Meskipun silau dan aku harus menggunakan tangan sebagai pelindung, senyumku secara tidak sengaja menampakkan diri. Lalu senyumku menghilang secepat kerikil jatuh ke dalam sumur.

Berhati-hati melangkah agar genangan air yang bersembunyi di sela-sela rumput tidak menciprati jeansku yang sudah kotor dan lecek. Mungkin nanti aku harus membeli jeans baru. Dan t-shirt baru. Dan aku butuh mandi. Baru kusadari kalau aku sudah tidak mandi berhari-hari. Jujur saja, aku jijik pada diriku sendiri. Oh aku selalu jijik pada si buruk rupa.

Aku tak tahu siapa yang mendesain taman ini, tapi yang pasti ini taman paling suram yang pernah kujejaki. Ya ya ya, taman ini penuh dengan pohon tinggi menjulang yang tidak terlalu rimbun, kayunya kehitam-hitaman dihiasi lumut hijau dan lembab. Biasanya orang-orang bilang kalau taman penuh dengan canda tawa anak-anak, tapi yang ini berbeda. Karena sepi. Hanya ada 2 makhluk kasat mata disini, aku dan Jung Daehyun. Bahkan suara burung berkicau pun tak tertangkap oleh daun telinga.

Puncak pohon terlihat lancip dan tajam seakan ditempa oleh palu. Menancap pada langit-langit berwarna biru dengan dacron putih menempel. Beberapa menit yang lalu, aku bertanya pada Jung Daehyun jam berapa sekarang, dia melirik arloji di tangan kirinya. Jam 3 sore. Wajar saja jam segini aku kepanasan. Oh. Aku ingin buka baju rasanya. T-shirtku terasa basah-lengket-lembab menjijikan. Ukh.

Tak kusangka, taman ini luas. Luas sekali. Taman ini berada di samping gerbang megah berukiran rumit, gerbang masuk ke komplek rumah lamaku. Hei kenapa kita harus melewati area berumput basah? Padahal kita bisa lewat jalan beraspal yang meskipun becek tapi permukaannya tidak selembek tempat berpijak kakiku sekarang.

Dan ya, saat kutanya tentang hal ini, Jung Daehyun bahkan tidak menoleh. Dia jawab, jalan di rerumputan itu sehat. Dan tampaknya dia sedikit kerepotan berjalan. Hahahay! Kenapa kau sendiri tidak bisa jalan dengan anggun, Tuan Muda? Kau itu seorang Tuan Muda kan? Seharusnya Tuan Muda berjalan dengan aura luar biasa, punggung tegap dan langkah mantap. Tidak seperti namja di depanku ini.

Suasananya mengingatkanku akan jurang tempat Jung Daehyun dan aku beristirahat. Sepi, penuh pohon menjulang tinggi mencakar langit, rumput basah dan langit sebagai atap. Hanya saja, saat ini sore hari terang-benderang. Dan tak ada laut. Hanya itu perbedaannya.

Jung Daehyun berhenti di samping pohon besar yang bisa dipeluk kurang lebih 4 orang. Ada motif abstrak di kulitnya karena bayangan daun rimbun. Dadanya naik turun teratur. Dia tidak kecapekan. Sedangkan aku? Hoh. Jangan bertanya. Kalian sudah tahu kalau tubuhku lemah kan? Untungnya aku membawa botol air mineral. Dan obat hijau-putih sialan.

Tangannya menyusuri permukaan batang pohon yang sudah dimakan usia. Banyak rongga menganga, mungkin ada hewan tinggal di dalamnya. Warna batangnya coklat-kelabu-hitam-hijau bercampur dengan sempurna. Saat kudekatkan telinga ke batang pohon, kudengar aliran air dan denyut nadinya –meskipun aku agak susah mendengarnya kerena detak jantungku yang cepat. Pohon ini hidup. Pohon ini sudah hidup puluhan–tidak–ratusan tahun. Hidup di tengah-tengah taman suram tanpa suara.

"Kau masih ingat?"

Jung Daehyun masih mengobservasi pohon raksasa. Dia tidak melihatku, tapi aku tahu beberapa saat lagi dia akan melihatku. Dia memberiku waktu untuk berpikir. Dia tahu aku ini anak anti-social yang tak bisa berpikir kalau ada yang melihat. Tapi bagaimana dia tahu?

Dia menoleh, dan aku menggeleng. Jujur saja, aku agak tidak enak hati. Setiap kali Jung Daehyun bertanya 'apa kau mengingatnya?' aku selalu menjawab tidak. Tapi aku benar-benar tidak ingat! Sungguh! Mungkin Jung Daehyun benar, aku amnesia. Jung Daehyun sudah memberikan banyak bukti bahwa dia adalah tetangga baru, tapi tetap saja aku tidak mengingatnya.

"Boleh aku bercerita sedikit?"

"Cerita?"

Jung Daehyun menghela napas, memasukkan tangannya ke dalam saku hoodie, lalu mendekatiku. "Tapi syaratnya, kau tak boleh bicara sampai aku selesai."

Syarat yang aneh, aku merasa seperti anak kecil. Tapi aku mencoba untuk bersikap baik sekarang, jadi aku mengangguk. "Arraseo, Tuan Muda."

Dia tersenyum. Oh. Rasanya aku tak perlu mengomentarinya. Kata-kata tak akan sanggup untuk menggambarkan senyuman Jung Daehyun. Iya kan?

"Aku sudah bilang kan, dulu kita itu tetangga. Kalau tak salah, kau berumur 5 tahun, atau 4? Maaf aku lupa."

Ingin rasanya aku berdebat saat ini, dan sialnya aku sudah berjanji untuk tidak bicara. Aku hanya bisa meremas tanganku diam-diam. Memaksa telingaku untuk mendengar suaranya. Tapi sebetulnya telinga Yoo Youngjae dengan senang hati mendengarkan suara indah Jung Daehyun. Ukh stop.

"Kita seperti anak laki-laki 5 tahun biasa, tertawa, bermain, menangis... Sering kali saat aku bangun pagi-pagi, kau sudah ada di depan rumahku membawa mainan. Bahkan saat musim dingin. Kau lucu sekali saat memakai syal kuning kebesaran dan mantel tebal emerald itu."

Perutku terasa ngilu saat mendengar kata syal kuning dan mantel emerald. Aku punya mantel emerald dengan bulu putih peninggalan appa. Aku pernah mimpi tentang anak kecil bersyal kuning. Dia menangis dan ada anak berambut coklat yang memanggilnya Youngjae-ya. Anak bersyal kuning itu aku. Suara Jung Daehyun kecil menggema. Youngjae-ya Youngjae-ya Youngjae-ya Youngjae-ya Youngjae-ya Youngjae-ya Youngjae-ya.

"Maaf kalau kukatakan ini.. Kau termasuk anak yang –kau tahu– anti-social. Kau jarang membaur dengan murid lain di sekolah. Masa kecilmu kau habiskan tanpa teman, well, yeah, kecuali aku. Temanmu hanya aku. Karena itu aku mengenalmu luar-dalam. Aku sangat, sangat mengenalmu. Karena itu aku tidak ragu untuk menyapamu di taman seminggu lalu."

Rasa sakit di otak sialanku bertambah. Jung Daehyun membuatnya terasa semakin sakit. Semua perkataan Jung Daehyun membuat otakku memvisualisasikannya menjadi kenyataan. Aku merasa pernah berteman dengan Jung Daehyun. Aku merasa pernah bertetangga dengan Jung Daehyun. Aku merasa pernah kenal dengan Jung Daehyun.

Kucengkram kuat-kuat kepalaku. Suara Jung Daehyun tak terdengar, yang kali ini terdengar hanyalah suara otakku yang berdetak. Dadaku sesak. Jung Daehyun Jung Daehyun Jung Daehyun Jung Daehyun. Namanya tercetak jelas di permukaan otakku yang bergelombang. Kakiku lemas, kurasa darah tak mengalir di sana. Ada bayangan berwarna ungu yang mengganggu pandangan, kelopak mataku terasa berat.

Susah mengatur napas, aku menunduk. Jari-jemariku menyusup disela-sela rambut hitam. Sakit. Oh obat. Aku butuh obat hijau-putih sialan. Ah tanganku kesemutan. Aku ingin berteriak, sungguh. Berteriak sampai daging leherku terkoyak, dan tulang di dalamnya retak. Dan mati.

Aku tak boleh pingsan di sini. Aku tidak boleh pingsan lagi di hadapan Jung Daehyun. Aku harus melawan rasa kesemutan di tanganku, kalau tidak, otakku akan meledak. Saat mengambil bungkus obat dari saku celana, tanganku seperti dibalut sarung tangan berduri. Menyobek, memasukkan obat kemulut, lalu kutelan. Tanpa air mineral. Aku membawanya, tapi aku tidak meminumnya. Tidak sempat.

Kerongkonganku agak sakit, tapi aku bisa bernapas lebih lega sekarang. Kupejamkan mata sebentar. Aku tak mendengar apa-apa. Rasanya tenang. Kubuka mata, retina menerima bayangan Jung Daehyun yang diterpa sinar matahari sore. Alisnya bertautan. Bibirnya terkatup rapat. Dia khawatir? Dia tahu kalau aku kesakitan? Dia seperti bukan Tuan Muda Jung Daehyun yang kukenal.

"Kemudian aku pindah. Di musim gugur." Jung Daehyun mendekatiku, suaranya pelan dan santai. "Dan kita berpisah di sini. Di taman ini."

Otakku menyatakan bahwa semua perkataannya benar. Mimpi itu benar. Dan tanpa menunggu perintah, otakku memutar kembali mimpi itu. Mimpi dimana aku melihat Yoo Youngjae kecil yang menangis dan Jung Daehyun kecil yang menenangkan Yoo Youngjae kecil. Aku tak mau kesakitan lagi. Dadaku sesak. Otakku berputar ke galaxi lain dan kembali dengan kecepatan tinggi.

Aku menatapnya dengan mata menyipit menahan sakit dan dahi yang berkerut. "Oh ya? Sungguh?"

Jung Daehyun menghela napas, tersenyum. Bagian belakang mataku terbakar.

Dia merogoh-rogoh saku. Mengeluarkan kunci kecil berkarat. Kunci seukuran jari kelingkingnya, memiliki ukiran bintang di tengah-tengah. Lalu tangannya yang satu lagi masuk ke dalam rongga besar di permukaan pohon. Aku agak kaget sekaligus bergidik, tapi sedetik kemudian aku melihatnya mengeluarkan box bergembok. Kunci berkarat bermotif bintang itu untuk membuka gembok box berwarna hitam pekat. Motif bintang yang terbentuk sempurna tanpa retak meskipun teroksidasi.

Tanpa perubahan ekspresi, dia menyerahkan box dan kunci padaku. Dia mengangkat alis dan melirik box. Isyarat agar aku membukanya. Hei, bagaimana aku bisa mengerti semua kode yang dia berikan? Aku terhubung dengannya? Oh, ya. Mungkin aku memang terhubung dengan tetangga lama, yang bertemu lagi setelah 15 tahun, dan menjadi tetangga lagi. Hebat. Sudah berkali-kali dunia memberikan kejutan untukku.

Aku menghela napas. Berpikir, mungkin aku harus memulainya dari awal. Aku berusaha untuk mengakuinya, jadi aku harus berusaha merasa kalau aku sudah lama kenal Tuan Muda Jung Daehyun. Sulit, sulit sekali. Tapi ada bagian dari diriku yang mendorongku untuk melakukannya. Ada bagian dari diriku yang membantuku untuk mengingat. Otakku. Otakku yang sudah menjadi tempat tinggal bagi para sel-sel sialan tak diundang. Dan mungkin otakku sudah tidak berfungsi.

Box seukuran telapak tanganku terasa lembut meski dinodai kulit pohon yang terkelupas. Tak ada motif atau pun gambar di permukaannya. Hanya hitam. Yah, hitam. Kosong. Yang menarik perhatianku ialah gembok berwarna emas berkilauan. Kotras sekali. Terkesan simpel, elegan. Detak jantungku semakin cepat saat memasukkan kunci ke lubang gembok. Lalu memutarnya perlahan.

Suara gembok terbuka membuatku menahan napas. Jari-jariku yang pucat membuka box hitam, agak bergetar. Entahlah, aku semakin lemah, aku memang lemah. Ups, box terbuka.

Pupilku membesar. Terkejut melihat isi box hitam pekat yang berasal dari rongga pohon raksasa di pusat taman.

Kertas.

Lebih tepatnya, kertas berwarna biru tosca. Persis kertas tosca milik Jung Daehyun. Ada gambar bintang jatuh kecil berwarna kuning.

Kertas itu terlipat rapi, tanpa lecek dan tanpa noda. Box hitam ini melindunginya dari dunia luar. Tapi kenapa harus dilindungi? Seberapa pentingkah kertas ini sampai harus dilindungi?

Menyelipkan kertas itu diantara jari telunjuk dan jari tengah, aku menoleh. Dan Jung Daehyun tersenyum. Dia tahu kenapa aku menatapnya.

Saat kucoba membuka lipatan, Jung Daehyun tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku. Dia menggeleng. Matanya lurus dan dalam. Dan kau tahu kan apa yang kurasakan setiap kali dia menyentuhku? Hah, aku tak perlu mendeskripsikannya kalau begitu. Capek.

"Jangan membukanya sekarang."

Aku memutar bola mata. Lihat? Sifat menyebalkannya muncul lagi. Aneh-aneh saja. Apa aku akan menjadi manula seperti kisah 'Urashima' kalau aku membukanya sekarang? Atau sebetulnya dibalik kertas ini ada mini nuclear bomb yang jika dibuka akan meledak? Karena itu aku tak boleh membukanya sekarang, agar Jung Daehyun tak terluka karena efek ledakan? Wow.

"Kenapa, Tuan Muda Jung Daehyun?"

"Kita harus ke rumah sakit." Dia melirik arloji, kemudian menekuk leher, "Jadi kita harus pulang sekarang."

Si buruk rupa menghela napas, "Denied."

Alisnya naik sebelah. "Kenapa? Kau harus berobat kan?"

"Aku sudah.." Aku menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. "Aku malas. Aku tak mau."

Dia mendengus. Sekejap tanganku sudah dicengkramnya.

Oh aku lupa kalau aku masih membenci Jung Daehyun sampai detik ini.

Tuan Muda itu menyebalkan.

.

.

Tawa mengejek menggetarkan koklea. Tanganku mencengkram rambut hitam lepek. Mataku tertutup rapat-rapat. Tubuhku menggigil, baru saja disiram air entah asalnya dari mana. Jantungku berdegup kencang. Adrenalin bergejolak. Napasku pendek. Dan aku meringkuk di lantai, seperti bola yang kempes, benyek.

Tak bisa kudengar mereka mengucapkan apa, indra pendengaranku memudar. Tubuhku di lempar benda entahlah aku juga tidak tahu pasti. Yang pasti keras, persegi, dan tebal. Kemungkinan besar itu buku kamus, tapi aku tak merasakan adanya kertas. Mungkin sapu, atau bata. Entahlah aku tak mau tahu. Itu hanya membuatku makin panik.

Aku mengerang. Antara kesal dan kesakitan. Aku sampai bingung untuk mengungkapkannya dengan kata yang tepat. Air mata mengalir. Darah keluar dari mulut. Mereka menendang-nendang perut, punggung, bahu, pelipis, seluruh tubuhku. Dingin, panas, gatal, pedih, greget dan sakit bercampur aduk di dalam. Jaringan kulit sekitar lenganku mungkin robek, aku me rasakan perih di sana. Membuat bibirku tergigit menahan sakit.

"Oooohh... Jadi Yoo Youngjae... Apa kau sudah menyerah?"

Yeoja. Berambut panjang ikal. Seragam dia kenakan asal-asalan, ukurannya dikecilkan. Dan ada banyak orang di belakangnya yang tak bisa kukatakan bergender apa. Tampaknya yeoja ini sang boss. Kelopak mataku lecet, dan aku tak bisa melihat dengan jelas karena itu. Mereka mengucapkan banyak kalimat, terdengar seperti suara roh di film-film horror.

Kecewa karena tak bisa menjawab pertanyaan darinya, dia menginjak dadaku seperti menginjak kecoak. Aku langsung terbatuk keras, cipratan darah keluar dari tenggorokan. Eritrosit berbau besi tercium. Dan ekspresi yeoja itu tak berubah. Matanya tajam menusuk tengkorakku, bahkan menembus lantai. Aku berharap tubuhku sudah menjadi abu sekarang.

"Kenapa? Apa menurutmu, darah akan membuatku berhenti? Justru itu membuatku makin bersemangat!"

Dia mendekatkan wajahnya. Wajahku terlalu sakit untuk mengeluarkan ekspresi ketakutan, jadi aku menatapnya kosong. Penglihatanku makin kabur. Suara napasku semakin pelan. Bahkan aku hampir tak bisa merasakan dada yang kembang-kempis. Aku babak belur. Hancur total. Darah mengotori seragam kotor hasil karya yeoja ini dan teman-temannya. Aku seperti samsat tinju. Aku seperti lalat. Dan mereka manusia. Manusia-manusia ini sudah meremukkanku, mengejekku, menghancurkanku, merusakku. Tanpa rasa bersalah.

"Dengar, kau tak pantas di sini Yoo Youngjae. Enyahlah, buruk rupa."

Yeoja itu tertawa, suaranya terdistorsi entah kenapa. Mungkin aku akan mati.

"Enyahlah, buruk rupa."

.

.

Napasku teratur. Menukar oksigen dengan karbon dioksida di alveolus paru-paru membuat dadaku naik-turun. Mataku terus menatap garis putih di aspal. Monoton. Aku tak ingin tidur. Mataku sakit, sungguh. Tapi aku tak ingin tidur. Kepalaku terlalu sakit memutar ulang semua perkataan Jung Daehyun.

Tangan Jung Daehyun memutar stir. Aku memejamkan mata. Panas. Rasanya sakit mengingat kembali masa lalu yang berusaha kita lupakan. Rasanya aku lebih baik mati. Kenyataan itu menyakitkan, aku sudah bilang kan? Kadang aku berharap dunia yang ada di dalam kepalaku itu nyata. Seperti membuat parralel universe yang baru.

Sekarang aku membayangkan ada pisau di tanganku, dan aku menusukkannya ke pelipis Jung Daehyun lalu merobek kulitnya. Dan aku membayangkan ada jarum dan benang di tanganku, jadi aku bisa menjahit seluruh permukaan kulit tan Jung Daehyun, memecahkan kepalanya, mengeluarkan organ dalamnya, dan memasukkan dacron ke dalam. Oh itu akan menjadi boneka yang cantik. Lihat, bahkan khayalan Yoo Youngjae pun tak bisa diterima akal sehat.

Sigh.

Hari yang luar biasa.

Jung Daehyun menceritakan masa lalu Yoo Youngjae. Membuka semua hal yang diketahuinya tentangku. Dan membuat rasa sakit di kepala bertambah. Dan membuatku makin membencinya.

Uukh jujur saja aku masih ragu. Oh ayolah, memang apa yang diinginkan Jung Daehyun sampai dia ingin sekali aku mengingat masa laluku? Apa dia ingin membunuhku perlahan? Wow. Nice try. Padahal tanpa mengingat masa laluku saja, aku sudah sekarat sekarang. Dia hanya membutuhkan gunting atau palu atau gergaji atau handgun untuk menerbangkan nyawa Yoo Youngjae si buruk rupa.

"Yoo Youngjae-ya."

Aku tidak menoleh, mataku terbuka perlahan. "Ja."

"Apa kau lapar?"

"Nein."

"Kalau begitu boleh aku ke rest area dulu?"

Aku menaikkan alis dan memiringkan kepala, "Silakan."

"Danke."

Suara roda beradu dengan aspal terdengar. Garis-garis putih di tengah jalan menghilang satu per satu. Cahaya lampu jalan menembus kaca, memantul dashboard dan menerpa wajah si buruk rupa. Aku butuh waktu untuk menahan kagum sekaligus kaget. Aku harus menyembunyikan ekspresi, poker face.

"Kau mengerti bahasa Jerman?"

Dia terkekeh. "Aku tinggal di sana 2 tahun. Orang tuaku hobi keliling dunia, kau tahu?"

Aku membulatkan mulut tanpa suara. Wow. Sebetulnya aku tidak kagum karena dia sering keluar negeri karena banyak uang. Aku kagum karena keluarga Jung sangatlah rajin menyiapkan pakaian, pasport, dan blahblahblah untuk kebutuhan sehari-hari di negara yang akan dipijak mereka. "Lalu apa kau bisa bahasa lainnya?"

"Bukannya aku yang harus bertanya padamu? Kau bisa bahasa Jerman?" Jung Daehyun menaikkan sebelah alisnya.

"Uhm.." Aku menaikkan bahu. "Aku hanya iseng. Jadi aku tidak terlalu menguasainya."

Senyumnya melebar. Aku menatap matanya sekilas. Bayangan wajahku berada di kornea matanya. Rasanya pupil mata Jung Daehyun menghisapku masuk dan aku berusaha menemukan parralel universe yang ia ciptakan. Tapi tidak. Aku hanya melihatnya sekilas karena dia harus fokus ke jalanan. Dan kau tahu apa? Sekarang saraf sensori dalam tubuhku mengatakan ini ke otak, "Ayo, buat wajah Yoo Youngjae memerah!"

Hening lagi. Aku tak peduli. Apa aku harus mengkhayal untuk membunuh waktu? Aku benar-benar tidak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur kalau ada Jung Daehyun di dekatku? Bagaimana kalau dia mengantuk dan kita kecelakaan dan aku mati? Hoh, lumayan. Bagaimana kalau dia punya niat buruk? Seperti, memperkosaku? Ew, rasanya aku mau muntah.

"Tuan Muda."

"Hmm."

"Bagaimana kehidupan SMA-mu?"

Oooh. Aku sudah menekan tombol hitung mundur Sakit Kepala Yoo Youngjae. Tapi mungkin ada baiknya aku mengobrol dengan Tuan Muda tentang kehidupan High School Student yang biasanya digambarkan dengan kebebasan. Memang aku lupa alasannya, tapi aku merasa aku boleh membicarakannya dengan Jung Daehyun. Yahh, pendekatan diri. Kurasa.

Dia menghela napas. "SMA.. Saat itu kalau tak salah aku ada di Inggris." Pandangannya masih fokus ke jalanan. "Lumayan menyenangkan, dan makanannya enak-enak."

Aku mengernyitkan wajah. Makanan? Kenapa dia sering membicarakan makanan? Apa dia food monster? Uukh. Tampaknya akan terjadi pergantian topik tak lama lagi kalau aku tak membalasnya.

"Apa kau punya banyak teman?"

Ujung matanya menatapku sebentar. "Ya.." Dia mengangguk pelan, tampaknya dia merasakan nada bicaraku yang mencurigakan. "Memangnya kenapa?"

Kepalaku menggeleng. Sebagian dari tubuhku memerintahkan Yoo Youngjae untuk menceritakan alasannya, dan sebagian dari tubuh Yoo Youngjae yang lainnya menolak. Bahkan bagian tubuh yang menolak menyatakan ultimatum, bahwa jika Yoo Youngjae memberitahu Tuan Muda, sebagian dari tubuhnya akan mengambil alih, menggigit leher Jung Daehyun dan memakan otaknya. Tapi sebelum itu; mencium Jung Daehyun.

Jung Daehyun menepuk pundakku. Dan jaringan kulit di sana terbakar. Aku ingin menatap wajahnya, tapi aku takut aku tak sanggup aku tak berani. Leherku kaku. Seakan aku bisa membaca bahasa tubuh Jung Daehyun, dia mengatakan, "Ne, aku tahu. Ternyata kau tak berubah." Aku memang tak berubah Tuan Muda Jung Daehyun. Hanya ada sel-sel brengsek di otakku, yang membuat masa SMA Yoo Youngjae mengenaskan.

Tanpa pikir panjang aku menempelkan telapak tangan ke wajah, lalu menekannya sampai mataku terasa panas. Aku berharap cahaya phosphenes ini menghilang dan semuanya menjadi gelap total. Seluruh pandangan mataku yang tertutup berwarna jingga karena sinar lampu jalan. Kepalaku sakit. Tubuhku pegal. Stress, depresi. Aku benar-benar ingin menggores pergelangan tangan. Menambah garis berwarna merah di tangan kananku seperti tato.

Aku tak peduli kalau Jung Daehyun melihat bekas-bekas luka itu. Aku malas menanggapi urusan sepele yang terus diciptakan otak rusakku. Jung Daehyun berpikir aku gila, aku tak peduli. Jung Daehyun berpikir untuk membunuhku, aku tak peduli. Aku harus fokus pada hal lain, seperti bagaimana cara paling mudah untuk membunuh Jung Daehyun, agar aku bisa melupakan potret buram saat SMA yang tiba-tiba muncul.

Masuk ke dalam parralel universe buatan Yoo Youngjae secara tak sengaja. Berada di mobil Jung Daehyun, Yoo Youngjae menggigit bibir sampai berdarah, lalu menggigit pergelangan tangannya sendiri, menelan pembuluh nadi. Berada di mobil Jung Daehyun, Yoo Youngjae mencium pipi Jung Daehyun lalu mengulitinya. Berada di dalam Jung Daehyun, ada psikopat yang bersembunyi di jok belakang lalu menusuk mata Yoo Youngjae dengan pecahan kayu yang didapatnya dari taman dekat gerbang.

Aku terus mengkhayalkan hal seperti itu sampai detak jantungku kembali normal. Suara Jung Daehyun memutar stir memasuki rest area terdengar.

.

.

"Annyeong, Youngjae-ssi. Long time no see."

Aku mengangguk singkat, membalas salam dari dokter yang saat ini mengoleskan cairan antispetik ke kulitku. Rambut panjangnya terurai hingga ke bahu, kadang aku mencium aroma stroberi dalam jarak dekat. Jemarinya langsing dan lentik. Dan dia tampak anggun dalam balutan jas panjang berwarna putih.

Sudah lama aku tidak kontrol ke rumah sakit. Aku malas. Lagipula aku tak ingin uang umma habis hanya untuk cek darah dan biaya operasi. Lebih baik umma menggunakan uang itu untuk perawatan kulit atau belanja atau wisata keliling dunia. Dan kalau aku juga mendapatkan uangnya, aku akan membeli air soft gun atau swiss army knife atau konsol game terbaru. Sehat itu mahal. Dan itu artinya aku tidak berusaha ingin sehat.

"Bagaimana perasaanmu saat ini?"

Itu pertanyaan yang rutin diberikan setiap kali dia menjentikkan jarum suntik. Selalu. Dia tampaknya tak peduli dengan perasaanku, meskipun aku menjawabnya dengan 'Oh aku sekarat.' atau 'Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.' atau 'Aku ingin mabuk-mabukan lalu mati.' Dia hanya ingin memastikan apa otakku masih sanggup mengolah kata-kata.

"Fucked."

Maaf, aku tak bisa menahannya. Aku benar-benar merasa ingin membunuh seseorang saat ini. Aku benar-benar ingin dibunuh seseorang saat ini. Ingatanku akan kejadian saat SMA membuatku mual dan sakit. Ditambah semua penjelasan Jung Daehyun yang membuatku ingin memecahkan kepala. Ah mood-ku berubah cepat sekali.

"Sungguh?" Dia menusukkan jarum suntik ke lenganku, agak perih. "Karena apa?"

Oh, ini pertama kalinya dia membalas. Kata fucked sangat berpengaruh, ternyata. "Entahlah aku tak tahu." Dan aku tak ingin obrolan ini berlanjut. Rasanya ada gunung es raksasa di dalam tubuh, membuat organ dalamku tertekan dan sesak. Kalau aku berbicara, gunung itu akan runtuh dan pecahan esnya akan menusuk seluruh daging di dalam tubuh.

Selesai dengan urusannya, dia menyibakkan rambut. Bagian wajah yang kulihat pertama kali: matanya. Matanya coklat dan berkilau. Mata yang selalu menatapku dengan hangat tapi entah kenapa aku menolak kehangatan itu. Bibirnya pink alami dan dia hanya menggunakan sedikit blush on.

Dia mengambil kursi dan duduk menatapku, membuatku agak grogi dan kecewa karena dia tak segera pergi dan malah menyuruh asistennya yang gendut dan bermake up tebal untuk memeriksa darahku. Oh. Aku tak suka diperhatikan oleh dokter paling cantik di rumah sakit ini di ruangan tes darah.

"Kau tahu.." Tangannya meregang dan dia membetulkan posisi duduk. "Kau boleh menceritakannya padaku."

"Apa?!" Suaraku serak dan pecah karena spontan kukeluarkan. Pupil mataku mengecil. Matanya masih menatapku dengan tenang, seakan suaraku tadi hanyalah angin lalu.

"Ini sama sekali bukan urusanmu Kim Himchan noona. Maaf kalau aku kasar, tapi aku tak ingin kau ikut campur."

Alisku bertautan. Menghantam wajahku dengan kedua telapak tangan, dadaku sakit. Iblis di dalam tubuhku mengamuk dan ingin merobek lapisan kulit untuk menampakkan diri, sakit karena aku harus menahan iblis itu. Aku tak ingin masalah 'Jung Daehyun dan Yoo Youngjae adalah tetangga 15 tahun yang lalu dan kau tahu apa? Dia tetangga baruku sekarang! Luar biasa sekali, bukan?' Dan 'Oh aku pernah di-bully saat SMA. Rasanya setiap kali aku ingat akan hal itu kepalaku akan terbelah.' Aku ingin kedua kasus itu dilupakan dan menghilang. Bagaimana mungkin aku menceritakannya pada dokter Kim Himchan noona.

"Youngjae-ssi, psikologis juga mempengaruhi kesehatanmu."

Jemariku meremas rambut hitam tipis yang menempel di kulit kepala. Aku tak ingin menjawabnya. Aku takut menjawabnya. Aku takut jika aku menjawabnya kesabaranku akan pecah dan aku akan membunuhnya. Aku tak pernah membunuh orang sebelumnya tapi aku merasa ingin membunuh orang sekarang.

"Kalau kau terus memendamnya seperti itu, kau akan stress dan depre-"

"Aku SUDAH depresi!"

Matanya terbelalak. Aku tidak menangis. Tatapan mataku membakarnya. Urat di pergelangan tanganku menegang. Ujung jemariku panas. Pita suaraku sakit karena menghasilkan nada tinggi. Aku tak peduli jaka nanti ada manusia yang lewat di depan pintu dan mempermalukan Kim Himchan noona ataupun aku sendiri.

"Aku sudah depresi, Kim Himchan noona. Kau ini hanyalah dokter yang bertugas untuk menyembuhkan penyakit sialanku. Oh bahkan mungkin kau hanya memeriksa darahku."

Suaraku tidak sekeras tadi. Kali ini aku sedikit berbisik. Aku tidak menangis. Tenggorokanku sakit. Otakku mendidih. Rasanya jaringan kulitku robek dan darahku menguap. Wajahku panas. Aku tak bisa berpikir. Aku tak bisa merangkai kata yang lebih sopan.

"Dan kau tak punya hak apapun untuk ikut campur."

Raut wajah sedih muncul di wajah Kim Himchan noona. Aku tak tahu. Mataku sakit. Perasaanku tidak enak sedari tadi. Perasaanku selalu tidak enak. Aku bangkit dari kursi tanpa sepatah katapun. Napasku memburu, rasanya aku akan meledak. Hari-hariku sepekan ini menjengkelkan. Kemunculan pasukan kanker di otakku dan Jung Daehyun dan semua potret gelap saat SMA yang dimunculkan otak brengsek Yoo Youngjae.

Aku tidak membanting pintu berpermukaan putih bersih. Suara detik jam terdengar, membetulkan T-shirt yang kukenakan. Lalu berjalan pergi.

Sialan.

Trauma memang penyakit yang sulit diobati.

Trauma itu penyakit abadi.

Yang tak akan hilang meski otak sudah hancur.

.

.

Wajah umma langsung pucat saat aku bilang padanya kalau aku kabur. Katanya aku sudah menghamburkan uang dan mempertipis kesempatan untuk hidup lebih lama. Aku membalasnya dengan sopan, lembut dan singkat. 'Oke.' Ya. hanya itu. Kalaupun aku membalasnya sesuai dengan hati dan menuruti hawa nafsu, umma sudah pingsan. Setelah itu, umma mencium dahiku lalu aku pergi ke kamar mandi.

Aahh rasanya lega sekali, akhirnya menyingkirkan keringat yang sudah mengendap selama 4 hari. Rasanya tubuhku menjadi lebih ringan. Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kulitku sering diterpa angin dingin, termasuk saat ini. Di luar hujan. Beruntung sekali aku sampai dirumah sebelum hujan menyerang.

Hujan. Seakan masuk ke dalam time paradox, kembali ke masa dimana aku berdiri di samping jendela, memandangi hujan dan mengenakan mantel emerald peninggalan appa. Ada 5 garis berwarna merah di pergelangan tangan kanan, dan aku berencana untuk menambahnya.

Kali ini, aku memastikan untuk mengunci pintu. Kumohon. Kali ini, jangan ada yang menggangguku. Aku stress. Aku selalu stress. Aku selalu depresi. Yoo Youngjae si buruk rupa selalu mengalami tekanan batin. Tekanan batin yang berkomplikasi sejak aku kecil.

Kakiku mengayun ke arah meja, mencari benda tajam yang bisa digunakan untuk menggores kulit manusia. Nihil. Tak ada gunting atau pensil atau cutter ataupun pecahan gelas. Bahkan peniti pun hilang dari kotaknya. Goddammit. Apa umma yang mengenyahkan semua barang wajib di meja kamarku? Uuuuungh. Darah di wajahku serasa meluncur ke bawah. Ada yang mengganjal di tenggorokan.

Punggung bersandar ke tembok dan bokong mencium lantai. Sialan. Lalu bagaimana aku menambah koleksi? Menggigitnya? Ukh, gigiku tak cukup tajam. Menggoresnya dengan kunci? Hmm... Tidak. Kunci terlalu tumpul untuk membuat goresan.

Kata kunci membuatku teringat akan kunci bermotif bintang, yang membuka box berwarna hitam pekat. Ah kertas tosca itu masih ada di jeans bernoda tanah! Aku langsung melesat ke keranjang laundry di pojok kamar, mengaduk-ngaduknya, dan tersenyum singkat saat menemukan kertas lecek di dalam saku jeans.

Daun telingaku tidak menangkap suara apapun selain suara detak jantung yang tak tertahankan. Kertas itu terasa besar di tanganku yang kurus. Mengingat kertas ini dilindungi box bergembok, aku merasa membuka sebuah brankas penting milik negara. Aku menahan napas.

Oh.

Sedihnya, detak jantungku pun kecewa dengan isi kertas tosca.

Tulisan anak kecil. Yahh aku serius. Ini benar-benar tulisan anak kecil yang berantakan dan susah dibaca. Oow. Kertas ini begitu penting sampai-sampai aku ingin membunuh Jung Daehyun karena menculikku selama 4 hari untuk memberikannya padaku.

Tapi tunggu. Kurasa aku masih bisa membaca huruf kapital di baris paling atas. Walau mataku harus menyipit membentuk garis lurus berwarna hitam.

"Yoo Youngjae's... Wishlist."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Huuuuuufffftttt.

Yayaya D tau, epep D selalu jelek dan semakin jelek karena otak D semakin tua. Oh setua apa sih D? Hayo tebaak~~ *plakk*

Yang bisa nebak umur D, nanti D kasih hadiah peluk cium deh *plakkplakkplakk*

Oh dan untuk semuanya yang udah ngereview, D SAYANG KALIAN YA AMPUN D NANGIS SEKARANG D SAYANG BGT SAMA KALIAN D NANGIS DARAH SEKARANG KALIAN HARUS TAU! *dipenggal*

D masih butuh segudang kritik dan saran, yang mau ngebash juga silakan, D ga melarang. Kalian semua punya hak #yeahsokbijak. Kan D baik *dikubur*

JANGAN LUPA REVIEW NEEEEEE :'D