Ladies and getlemen, akhirnya chapter 4 keluar juga!! Silahkan baca dan nikmati cerita ini dengan lebay sesuai saran author karena itu akan membuat cerita lebih mudah dinikmati. Makasih banyak buat yang ngereview. I love you banget. Dan untuk I. Ish. The. Onion. Man, Günter itu 'e'nya dibunyiin kaya 'e' di kata 'elang'. Oh ya, buat korban J.W Marriott yang meinggal, please DO rest in peace.

Yap, without any further procrastination, please enjoy chapter four!!


"Aku mengirimmu kecupan kosmis dari lubuk hatiku yang terdalam.

Kita tak akan terpisahkan walau planet berotasi di arah yang salah.

Dan walau dirimu berada nun jauh di sana,

'Kan kunaiki komet untuk menuju tempatmu berada.

Kecupan kosmis, hey.

Dalam satu detik tatapan berubah menjadi kecupan

Dalam satu detakan, ku tahu kaulah satu-satunya.

Denganmu di sini duniaku tak 'kan sama.

Karena…

Ku tlah mengirimmu kecupan kosmis dari lubuk hatiku yang terdalam.

Kita tak akan terpisahkan walau planet berotasi di arah yang salah.

Dan walau dirimu berada nun jauh di sana,

'Kan kunaiki komet untuk menuju tempatmu berada."

...

...

Sebuah nyanyian cempreng membahana di lorong-lorong Black Order yang bermandikan cahaya matahari pagi, membangunkan hampir semua peneliti-peneliti malang yang baru saja tidur beberapa menit terakhir.

Rambut Coklat kemerahan melompat-lompat seolah memiliki jiwa sendiri, mengikuti irama lagu yang dinyanyikan sang gadis.

Lagu tidak jelas apakah itu??

"OI BODOOOH!!" terdengar suara menggelegar dan kepala merah kecoklatan tersebut menengok ke arah sumber suara mengganggu tersebut seakan-akan nyanyiannya tidak lebih mengganggu dari suara samurai cantik Black Order tersebut.

"Ya, Yuu?" tanya Fia dengan senyum yang tak biasanya manis, memperlihatkan sederet geligi putih. Jari-jarinya terletak di pipinya, membingkai muka ovalnya yang memancarkan sinar keemasan tidak jelas. Dan anehnya, exorcist slengean ini bahkan tidak bergidik saat Sang Dancing Samurai memamerkan kombo terdashyatnya yaitu geraman paling mematikan yang disertai pelototan maut, Ia hanya tersenyum lebih lebar yang membuatnya terlihat luar biasa konyol, membuat Kanda menjauhinya beberapa langkah sebelum mengamatinya dengan curiga.

"Zilinski?"

"Yes, Yuu? Ini pagi yang indah bukan?? Lihatlah, matahari bersinar begitu terang!" Hujan deras mulai turun "Burung-burung kecil yang berisik itu pun berkicauan dengan hati gembira dalam menyambut datangnya hari ini" Koreksi, di sini tak ada burung karena minggu lalu mereka sudah dibantai Fia yang tak bisa tidur karena kicauan mereka "Dan cuaca hari ini pun begituuuu cerah." Hujan? Mendung? Dua-duanya.

Kanda benar-benar tak mengerti otak cewek nyentrik ini.

"A-ada apa denganmu Zilinski?" tanya Kanda tak pasti, tangannya menepis milik Fia yang tengah menggelayutkan diri dengan tampang bodoh ke badan Kanda.

"Aaah Yuu-chan, aku hanya sedang mengapresiasikan karya Tuhan Yang Maha Esa dan bersyukur padaNya akan semua yang telah Ia berikan padaku sehingga diriku yang tak layak ini masih bisa hidup sampai sekarang~~" Seru Fia, menyanyikan kalimatnya keras-keras, yang tentu saja, membuat Kanda jatuh pingsan. Untuk pertama kalinya Kanda Yuu tak berkutik di hadapan Fia Zilinski.

"Oh Yuu, seharusnya kau tak bangun kalau masih ngantuk. Fufufufufufuu~~"

"Fi…Fia-chan?" tanya sebuah suara lagi membuat orang yang dipertanyakan memutar kapalanya hampir 180° dan menjawabnya lantang.

"Kau tampak aneh…apa kau salah makan seperti kemarin ini?"

"Ah! Omong kosong, Luna-chan! Aku terlalu senang tak akan ada racun yang bisa memiliki efek pada tubuhku ini!" Katanya mengibas-ngibaskan tangannya di udara sambl tertawa cekikikan seperti anak sekolah yang tengah bergosip dengan teman se-gengnya.

"Ta-tapi, kau sudah berpakaian rapi dan wangi padahal sekarang kan baru jam 6 pagi. Dan kau berhasil menjatuhkan Kanda. DAN kau kan atheis?"

"Ah, Lena-chan manis, itu tak berarti apa-apa. Aku kan perempuan sudah seharusnya aku rapi dan wangi. Oh ya, aku agnostik, bukan atheis. Tsk, tsk, Lena~~"

"Kecuali kau bukan perempuan." Sahut suara yang jauh lebih berat dari suara-suara cerwis para gadis-gadis tersebut. Di ujung lorong, bisa terlihat Günter, bersandaran di dinding dengan malas terbalut dalam celana boxer dan kaos oblong yang digunakannya untuk tidur. Rambut pirangnya mencuat-cuat ke segala arah dan wajahnya bete berat.

"Hohohoho, tak akan ada kalimat yang kau katakan hari ini yang bisa membuatku marah Günter, TAK ADA! Bahkan, sebenarnya hari ini aku mau memaafkanmu untuk semua kesalah yang telah kau perbuat, segala pelecehan seksual-"

"Tak sudi aku melecehkanmu, tak ada yang bisa dilecehkan. Kau tak punya 'aset' sebagai perempuan, dada rata."

"-ledekan, keisengan yang kau lakukan bersama Lavi dan seeeeeeeeeeeeemuanya!" Kata Fia mengakhiri kalimatnya dengan cengiran lebar sebelum ia melompat-lompat kecil ke arah kantin.

"Aneh, ada apa dengan Fia ya?" gumam Luna, sebuah jari terposisikan di ujung bibirnya yang merah ranum bagai apel.

"Ah, Günter, masih tidur ya?" tanya Lenalee melirik ke arah Günter sambil menahan darah yang sedang mengalir naik ke pipinya, mencoba memfokuskan pandangan ke muka Günter dan bukan…hal yang lain yang tak patut dilihat seorang perempuan sepolos dan semurni Lenalee.

"Sudah gak lagi." Jawab pria Jerman itu sambil melemparkan senyum ke arah Lenalee dan Luna sebelum berbalik dan melambaikan tangan kepada mereka, berjalan menuju sanubari, eh salah, maksudnya kamarnya lagi.

"Dasar cewek gila, menganggu tidur orang saja…" gerutu Günter, di otaknya senyum 1000 watt Fia masih terpampang jelas, membuat senyum misterius menampakan dirinya untuk pertama kalinya di wajahnya.

xXx

Orang-orang malas mulai menampakkan diri, bahkan sebagian, kalau bukan kebanyakan, baru menggeliat-menggeliat malas di bawah selimut hangat mereka yang begitu menggoda dan menarik mereka untuk tak pernah meninggalkan kelembutan dan keempukan benda fantastis yang sudah ditemukan sejak zaman mesir tersebut. Namun, bagi satu orang gadis dan satu orang pria yang tengan duduk berdua di pojokan dapur Black Order, pagi sudah dimulai sedari dulu (Emang lagu Tompi?).

Suara cekikikan kecil yang menyaingi Kuntilmama bisa terdengar dari sudut dapur yang bersih mengkilap tersebut dan dari sudut yang pas, kita bisa melihat seuntai kepangan menyembul keluar dari balik sebuah oven raksasa. Yap, tak salah lagi, kedua orang tersebut sedang bergosip, sejak jam 6 pagi tepatnya.

"Jerry! Aku pesan Spaghetti Carbonara satu, Chicken Teriyaki satu, Pskovsky Hot Vinegret satu, Gutap satu, Beef Stroganov satu, Pelmeni satu, Chebureki satu, Forshmak satu, Zeleny Schi satu, Botvinia satu, Ossetrina pod Shouboy satu, Zapechonaya Treska satu, Salat Iz Yaits satu, Khalva satu, dan Gozinakh satu ya. Untuk minumnya aku mau orange juice, susu 2 boks sama air putih. Thank You, Jerry." Sebuah ketukan di meja pesanan bisa tedengar dan kedua kepala di pojokan mengengok ke atas, memperlihatkan wajah cerah ceria bersama esianya Allen Walker. Rambut putihnya tertata begitu rapi seperti juga seragam exorcistnya. Sepasang sarung tangan putih melapisi tangan Allen, membuatnya terlihat begitu pelik dan bersih. Postur tubuhnya tegap dan tegak. Tipikal Inggris.

"Ah!! Allen kau mengganggu saja. Aku kan sedang bergosip dengan JerryJerry-chii!!" Keluh kepala pertama sambil cemberut.

"Tsk, tsk, Allen, tak pernah mendengan istilah 'Girls Talk' ya? Dalam waktu-waktu tersebut perempuan tak boleh diganggu tahu?" Timpal kepala kedua, walaupun ia tetap bangun dari tempat persembunyiannya dengan panci di tangan, siap untuk memasak pesanan Allen.

"Maaf ya Fia, aku tak tahu kamu sedang bergosip dengan Jerry." Jawab Allen, menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Iya deh, Gak pa-pa. Aku juga udah selesai kok." Fia berdiri dan meluruskan lipatan di roknya. "Tumben masakan Rusia, Allen?"

"Iya nih, kemarin setelah dari kantor Komui-san, aku dan Luna-san bicara cukup banyak dan dia memberi tahu aku mengenai makanan-makanan Rusia. Kedengarannya lezat, jadi aku ingin mencobanya hari ini." Jawab Allen. Mukanya mencerminkan pikirannya, yang sekarang ini dipenuhi ekspetasi terhadap rasa masakan Rusia yang tengah dimasak Jerry.

"Oh ya, Fia, kamu dicari-cari sama Luna loh?"

"Heeeh? Benarkah? Aku ke tempat dia sekarang deh." Gadis pendek tersebut menyelipkan tubuh kecilnya keluar melalui salah satu lubang dan berlari-lari meninggalkan Allen sambil menyanyikan nama Luna dengan nada lagu Gosudarstvenny Gimn Rossiyskoy Federatsii dan dengan sukses mendapatkan timpukan roti baguette di kepalanya.

"Lunaaaaa~~~! Kata Allen kau mencariku?" Tanya Fia begitu Ia melihat tubuh mungil La-Luna Zalcolity yang baru keluar dari kamarnya dan membalikan tubuhnya kembali ke arah kamar, menyebabkan gadis Rusia itu membalikkan kepala dengan pandangan muram. "Luna?"

"Fia-chan? Ada apa sih denganmu hari ini? Kau terlihat begitu aneh. Kau membuatku khawatir, Fia."

"Eheheh…masa sih? Tidak ada yang salah kok denganku. Aku hanya be-gi-tuuuuuu bahagia~~" Cengir Fia. "Kau tak akan percaya apa yang terjadi padaku kemarin!!"

"Memangnya apa terjadi denganmu?" Tanya Luna, membuat Fia tersipu malu dan cekikikan lagi selagi menceritakan kejadian kemarin setelah sebelumnya membuat Luna bersumpah untuk tidak membocorkannya.

"Lalu?" Tanya Luna bodoh.

"Lalu?! Luna! Kemarin Reever akhirnya memberiku izin untuk pergi ke kota! Itu hal besar, Luna! Sejak aku membuatnya marah kemarin ini Reever sama sekali tidak mengizinkanku melangkahkan kaki dari Balck Order kecuali untuk misi. PLUS! Komui itu kan overprotective banget dengan semua exorcist perempuan. Jadinya aku hanya bisa hidup sendirian di sini bagai burung yang disangkar." Jelas Fia lebay.

"Oh.. begitu toh. Memangnya kenapa harus mita izin Reever-san?"

"Soalnya…yah…aku gak tahu juga sih. Kebiasaan saja kali ya? Tapi ingat ini Luna, nanti aku akan mengajakmu pergi! Kau perlu baju kan? Sekalian Lenalee juga mau membeli beberapa barang. Dan Akira juga pasti mau ikut! Anak itu memang senang banget cuci mata. Tapi aku gak yakin Miranda-chan mau ikut deh…Hmmmmm.."

"Miranda?"

"Iya, Miranda Lotto. Orang Jerman, tapi dia beda jauh dengan Günter. Kalau Casanova Jerman cap kaleng itu pede abis, Miranda kebalikannya. Sekarang ini dia sedang ada misi bareng Marie dan Krory. Aku dengar gossip katanya mereka terlibat cinta segitiga loh. Ooooo…" Tepat setelah Fia menyelesaikan kalimatnya, Lenalee dan Akira masuk ke kamar Luna yang lupa ditutup. Akira di depan dan Lenalee mengikutinya.

Fakta terbaru: Wanita bisa mencium arah datangnya gosip.

"Iya, aku juga sering dengar kalau Miranda menyukai Marie. Tapi Krory juga menyukai Miranda." Sahut Akira seru. Lenalee mengangguk-angguk di belakangnya sebelum menimpali bahwa sebenarnya Marie juga menyukai Miranda.

"Lalu kenapa Miranda dan Marie-san tidak pacaran?" tanya Luna untuk kesekian kalinya.

"Karena mereka berdua pemalu banget!! Kau tahu, Luna, mereka sudah pernah berciuman loh!! Yah…tidak secara sengaja sih. Tapi tetap saja!" Kata Lenalee, mengambil posisi duduk di sebelah Fia dan Akira di sebelah Luna, membentuk lingkaran kecil.

"Cinta memang rumit ya…" Ujar Luna merenung, di pikirannya, senyum seorang lelaki muncul dan Luna merona merah.

"Memang sih…tapi bila kita mencintai seseorang, tidak ada orang lain di hatimu. Dialah yang paling penting, satu-satunya orang yang kau pedulikan. Oran yang paling berharga bagimu. Kau bakal rela melakukan apapun demi mereka. Seperti aku dan Lavi, hihihihihi…." Akira tertawa terkekeh-kekeh, mengingat 'kegiatan' mereka semalam.

"Omong kosong…" Fia melengos membuat ketiga cewek lainnya menatap Fia seakan dia memiliki tiga kepala. Fia mendesah.

"Dengar ya, kalau kau membatasi dirimu kepada satu orang saja dan menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadanya, cepat atau lambat dia akan mencoba mengaturmu. Kau berada dalam kuasanya. Kalau dia tidak mau kau belajar, bekerja, ataupun bertarung, well, nasibmu… Lelaki itu menyebalkan tahu. Mereka hanya mencari enaknya saja. Setelah mereka selesai 'memakai' kita, mereka akan berpindah ke cewek lain dan membuang kita."

"Fia, itu agak…" Mulai Lenalee.

"Dulu tetanggaku, Rosa, selalu mengatakannya padaku. Dia bilang dia adalah perempuan yang bebas, menolak untuk diikat. Sejumlah pria tak cukup untuknya, dia selalu bilang dia ingin satu tanah penuh! Oolala~" Lanjut Fia, menyebabkan kaum hawa di kamar itu tertawa terbahak-bahak.

"Aku rasa aku terdoktrin olehnya. Bayangkan saja setiap hari mendengar perkataan itu. Mau tak mau kau percaya kan?"

"Aku rasa kau takut Fia." Potong Luna. Matanya menatap Fia tajam.

"Apa?" Tanya Fia setelah hening sesaat. Wajahnya tampak tak percaya akan perkataan yang meluncur dari mulut Luna.

"Kau merasa menyerahkan hatimu dan dirimu kepada lelaki adalah suatu bentuk kelemahan. Kau takut akan komitmen dan hubungan. Kau takut dilukai. Apakah aku betul, Fia?"

"…Itu tak benar. Bicaramu tak kawuran, Zalcolity. Aku mau ke toilet sebentar. Kalian lanjutkan saja tanpaku."

"Fia…" Panggilan Lenalee hanya dijawab dengan suara bantingan pintu yang keras.

"Aku salah bicara ya?"

"Tidak kok, Luna-chan, Fia memang begitu orangnya, kok." Jelas Akira, mencba meringankan rasa bersalah exorcist baru tersebut.


Hohoho...maaf ya, rada panjang. Maaf buat yang bosen (semoga gak ada sih...). Yang udah baca tolong reviewnya ya...nanti dikasih kue via facebook deh... :D

Lirik lagu punya Memuro, jangan diambil-ambil ya, makasih...

Buat Akira dan Chi, seperti biasa, semoga gak OOC ya, OCnya. DGM punya Hoshino Katsura, wokeh?