Disclaimer : Masashi kishimoto (Om Maskish, setelah lama wondergrave hibernasi, kali ini wonder mau pinjem Chara om maskish lagi yaa)

Genre : Drama/romance, Hurt/Comfort, Marriage Life

Pairing : SasuHina | slight GaaHina | slight SasuSaku | slight GaaSaku

Rated : T semi M (always wkwkwk)

Warning : AU, OOC, gaje, typo, dll

Wondergrave Proudly Present :

Miracle in Revenge

Dentingan gelas kaca berisi wine sudah sedari tadi memenuhi sebuah ruangan di salah satu rumah minimalis yang terletak di tengah komplek dimana kelas atas tinggal. Fasilitas di komplek ini lumayan lengkap ditambah dengan pemandangan indah sejauh mata memandang menambah daya tarik tersendiri bagi komplek ini.

"Akhirnya, setelah sekian lama berusaha kita bisa bersatu secara resmi Gaara-kun." Sakura tersenyum tipis sambil kembali menuangkan wine ke gelas kaca Gaara yang telah kosong. Gaara membalas senyuman Sakura.

"Kau tau bagaimana sulitnya aku berusaha meyakinkan Otou-san." Tambah Sakura dengan nada agak merengek, membuat Gaara semakin geram melihat tingkah lucu Sakura.

"Aku tau, aku hargai itu Sakura. Kau juga tau bagaimana sulitnya diriku mempertahankan Uchiha corp dan meyakinkan segala pendukung." Sakura tertawa renyah mendengar rengekan manja Gaara.

"Haaahhhh….." Gaara menghela nafas panjang lalu membiarkan Sakura untuk bersandar dibahunya. Mereka berdua memandang jauh ke pemandangan yang tersuguh didepan mereka.

"Aku lebih menyukai komplek ini dibanding apartment lama."

"Ya, karena kita akan membuka lembaran baru kita Sakura, sebaiknya kita kubur masa lalu kita berdua. Lupakan segalanya." Sakura mengangguk pelan, lalu kembali meneguk wine.

"Sakura, kau tidak lupa kan, kalau keluargaku akan tinggal bersama kita juga, disini?"

"Tentu Gaara-kun. Ajak saja, rumah sebesar ini terlalu sepi untuk kita berdua." Gaara mengangguk kemudian mengusap puncak kepala Sakura dan menciumnya sekilas.

"Gaara-kun, berbicara tentang masa depan. Aku rasa, ada yang belum kita selesaikan." Gaara mengernyit heran.

"Apa?"

"Aku merasa tidak enak karena wanita berambut indigo itu. Wanita itu, sungguh mengganggu." Sakura mempoutkan bibirnya, sedang Gaara hanya bisa menghembuskan nafas panjang lagi ketika mendengar 'wanita berambut indigo' lagi.

"Kau tidak perlu khawatir Sakura, pernikahan kami bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi. Tiada orang yang tau, bahkan keluargaku pun tidak mengetahuinya."

Sakura tersentak, ia melihat tepat ke mata jade Gaara, dan tak menemukan kebohongan sedikitpun.

"Me-mengapa?"

"Kau tau sendiri, dia hanya wanita polos dan naif. Dan aku adalah lelaki beruntung yang menemukannya duluan dibanding lelaki manapun didunia ini. Aku yakin, dia akan melakukan apa saja demi aku, demi kebahagiaanku."

"Benarkah? Tapi, aku merasa bahwa dia berbahaya."

"Ya, mungkin jika kau mengganggunya lebih jauh."

"Kalau begitu, kita musnahkan saja." Gaara menatap Sakura tidak percaya, sedang Sakura terlihat sangat bertekad dan kegusaran memenuhinya. Gaara menggelengkan kepalanya.

"Itu akan merusak dirimu sendiri Sakura, kau tidak akan bisa bertahan."

"Cih, apa kau belum mengenalku Gaara-kun? Padahal sebulan lagi kita menikah. Aku hanya tidak nyaman jika wanita itu masih berkeliling disekitar kita. Gaara, kau juga melihat kehadirannya di pesta pertunangan kita 'kan? Bagaimana kalau dia muncul lagi di pesta pernikahan kita, dan kemudian pada saat itu dia mengungkap permainan yang kita lakukan selama ini. Kau tidak tau kapan bom akan meledak Gaara-kun."

Gaara terdiam, berusaha mencerna semua perkataan Sakura. Memang benar, ya ada benarnya juga 'bom akan meledak tersebut'. Gaara kembali menerawang ekspresi Hinata saat melihat dirinya bertunangan dengan Sakura. Penuh dengan sarat kebencian dan dendam, semua orang pasti bisa mengartikan ekspresi mudah ditebak dari wanita itu. Sangat berbahaya juga kalau wanita itu masih berjalan dengan kedua kakinya. Lalu, bagaimana dengan Sasuke? Ahh… dia adalah lelaki, perusahaan? Sudah berada didalam genggaman Gaara. Semua pemegang saham sudah berpaling kepadanya dan Sasuke tak pernah memunculkan batang hidungnya lagi diperusahaan selama setahun ini. Dia benar-benar kalah telak.

"Apa rencanamu Sakura?" Sakura menyeringai.

"Aku akan membantumu balas dendam Hinata, balas dendam terhadap Gaara dan Sakura."

Langkah Hinata terhenti seketika, ia pun menoleh kearah Sasuke yang tampak penuh percaya diri. "Bagaimana?" tambah Sasuke dengan muka penuh keyakinan bahwa Hinata akan menyetujuinya sedang Hinata masih menatap Sasuke dalam diam.

Hinata menghela nafas panjang. "Pulanglah tuan psikopat. Aku tidak memiliki keinginan balas dendam." Sasuke shock namun semuanya bisa tertutupi sempurna oleh wajah stoic nya.

"Bagaimana bisa kau bertahan? Sebaiknya kau pikirkan lagi tawaranku."

"Aku tidak perlu berpikir lama untuk orang sepertimu." Sasuke mengerti apa yang dimaksudkan dari perkataan Hinata, ada makna tersembunyi disana, ya…. Hinata tidak mempercayai Sasuke. Ada benarnya juga, karena mereka baru bertemu dan tidak memiliki hubungan apa-apa.

"Apa kau akan percaya kepadaku jika aku berkata bahwa aku adalah mantan suami Sakura?" sudut bibir Hinata terangkat sehingga membuat Sasuke sedikit tersentak dengan perubahan ekspresi wanita berambut indigo didepannya.

"Justru, setelah aku mengetahui hal tersebut. Aku semakin tidak mempercayaimu." Hinata berbalik, kembali melangkah ke toko buku. Sasuke tampak frustasi, ia menjambak rambut ravennya, namun bukan Sasuke namanya kalau mudah menyerah. Sasuke dengan segera menarik lengan Hinata, membuat Hinata kaget.

"Baiklah, buat saja kesepakatan sederhana. Aku tidak akan meminta apa-apa darimu, aku hanya akan membantumu balas dendam."

Hinata menepis pelan tangan Sasuke dari lengannya, namun Sasuke malah semakin menggenggam lengan Hinata. Hinata melengos, lalu kembali menatap kedua onyx Sasuke yang penuh sarat akan…

Kepedihan

Hinata tertegun, onyx kelam yang begitu memikat itu berhasil membuat Hinata terdiam dan melunak untuk sementara.

"Kau sangat haus akan balas dendam, aku bisa melihatnya dari matamu, Hinata." Sasuke menyeringai, Hinata tersadar dan ia langsung menunduk, menutupi wajah ayu-nya yang telah memerah, lalu kembali berusaha menepis tangan kekar Sasuke.

"Le-lepaskan aku." Ucap Hinata dengan agak bergetar, sedang Sasuke tetap masih memaksa berharap agar Hinata menerima tawarannya.

"Aku akan mengajarimu bagaimana cara untuk balas dendam dan meletakkan semuanya pada tempatnya. Kau tidak akan menyesal jika balas dendam. Kau akan menerima kepuasan tersendiri. Percayalah padaku."

"Bagaimana bisa aku percaya pada suami yang tidak bisa menjaga istrinya sendiri?!" tolak Hinata dengan teriakan dan penuh ketegasan sehingga membuat Sasuke kaget. Ya, kaget akan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Hinata.

"Menjaga istrimu saja kau tidak bisa, bagaimana kau ingin menjaga orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa denganmu. Benar! benar aku ingin sekali menjambak rambut pinky milik mantan istrimu itu, aku ingin sekali menarik lengan lelaki yang menjadi mantan suamiku dan kembali memeluknya dalam kehangatan. Tapi…..tapi….."

Kata-kata Hinata terhenti, terganti dengan air mata serta isakan isakan kecil. Pegangan Sasuke meregang, badan Sasuke juga terlemas, memberi kesempatan bagi Hinata untuk kabur. Hinata berlari dari Sasuke dan toko buku tempat dimana ia bekerja.

Hinata berlari sekuat tenaga sambil menangis keras. Ia tidak memedulikan orang-orang yang tampak heran melihatnya. Hatinya sangat sakit saat ini, memorinya kembali memutar ketika melihat betapa bahagianya ekspresi Gaara ketika ia bersanding dengan Sakura. Gigi-gigi putih dan senyum penuh yang belum pernah Hinata lihat sebelumnya ketika bersama Gaara. Kemudian, cara Gaara menatap Sakura. Rasanya, ia ingin merampas tatapan tersebut, tapi apa daya…..

'asal dia bahagia, sudah cukup baginya'

Hinata berhenti, ia berdiri terdiam ditengah-tengah keramaian orang-orang yang sibuk berlalu lalai ingin pulang dan istirahat dirumah tercintanya, setelah seharian ini bekerja banting tulang hanya untuk sesuap nasi dan kembali menikmati senyuman yang terpancar dari orang-orang tercintanya.

Hinata tersenyum miris, lalu bahunya kembali bergetar dan tangisan pun lolos dari mulutnya. Kepalanya dan matanya jelalatan, menyusuri setiap gedung tinggi yang berada disekitarnya. Matanya tertuju kesebuah gedung yang berjarak 7 gank dari tempatnya berdiri sekarang. Dengan segera ia berlari untuk menuju gedung tinggi tersebut.

Hanya satu tujuannya, yakni tangga darurat.

Sepi, kelam, dan pengap. Tapi bagi Hinata, tangga darurat ini begitu hangat. Disini, Hinata bisa mengeluarkan semua emosinya, memang benar-benar hangat serta setia. Hinata kembali menangis sambil memeluk erat kedua lututnya.

"Gaara-kun….Hiro-kun…." Jerit Hinata sesekali, kemudian kembali menangis. Takdir begitu kejam, dari dahulu sampai sekarang, Hinata tidak pernah mendapat apa-apa. Hanya ibunyalah dan juga senyuman Gaara. Namun, ternyata senyuman itu palsu, dan juga ibunya….. Hinata tidak bisa berkata apa-apa tentang itu.

Entah itu ibunya atau bukan, ia terus memanggilnya dengan panggilan Hinata, dengan nada yang sama dan tatapan yang sama. Lalu, siapa dirinya? Siapa wanita berambut indigo ini sebenarnya? Untuk apa dia hidup? Apakah sebagai pencundang? Bahkan pecundang pun mungkin tak akan mengalami kesialan berkali-kali seperti ini. Hinata berangsur-angsur terdiam dari tangisannya. Dipegangnya dadanya yang terasa sangat sakit, ditepuk-tepukkannya seraya mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.

Sedang Sasuke… ia masih terdiam ditempat sambil melihat kepergian Hinata. Kata-kata Hinata bagai pedang sekaligus asam jeruk nipis yang menyiram lukanya. Apakah seburuk itu dirinya, sampai-sampai memang tidak pantas untuk dipercayai? Kaki Sasuke terasa bergetar, ia pun kemudian berjalan cepat menuju mobil nya. Ia menepuk nepuk kemudi lalu menjerit frustasi. Matanya telah memerah menahan amarah dan juga air mata agar tidak kembali mengalir. Ia tidak boleh cengeng, ia harus kuat dan bangkit kembali. Diliriknya sebuah pas foto yang masih terpajang cantik di dekat kemudinya. Sakura dengan balutan baju pernikahannya, yang tampak sangat bahagia. Sasuke menerka, apakah senyum itu bohong dan hanya acting belaka? Benarkah? Sasuke hanya bisa tertegun dan tersenyum miris, jika itu memang acting, dan hanya ingin membuatnya bahagia, biarkan dia menikmatinya. Lalu, jika itu asli, Sasuke sangat berterima kasih…. Berterima kasih karena senyuman itu yang selalu bisa membuatnya bangkit disaat ia terpuruk, baik dahulu…. Maupun sekarang….

Masih, Sasuke masih mencintai gadis yang sama…. Sakura…

Hinata berjalan pelan sambil memeluk dirinya sendiri, berusaha menyalurkan kehangatan Gaara yang mungkin masih tersisa sedikit didirinya.

"Nee-chan!"

Hinata tidak menanggapi panggilan tersebut

"Nee-chan!"

Lagi… ia segan menanggapinya hingga tepukan tangan berhasil membuat Hinata terbangun sehingga ia menoleh kebingungan seperti orang linglung.

"Nee-chan menyebalkan, aku panggil tidak menjawab terus." Seorang gadis berambut yang hampir mirip dengannya tengah berdiri sambil menampilkan wajah sebalnya. Matanya juga hampir seperti milik Hinata. Hinata jadi curiga, apakah wanita ini memiliki hubungan darah dengannya. Tapi tidak mungkin, karena wanita yang didepannya ini memiliki asal usul jelas, Hinata sudah mengurusnya sejak setahun lalu dipanti asuhan, mungkin hanya gesturnya saja yang mirip.

"Hanabi… gomen ne." hanya itu yang bisa Hinata katakan. Hanabi tersenyum riang.

"Aku sudah mendapatkan gajiku, jadi bisa membayar cicilan terakhir mobil nee-chan yang aku beli."

"Kenapa tidak transfer lewat bank saja. Nee-chan sudah bilang kan, kau tidak perlu menemui nee-chan hanya untuk transaksi."

"Aku tau nee-chan, tapi ini cicilan terakhirku. Sekaligus aku ingin berterima kasih kepada nee-chan atas kesabaran nee-chan. Dan juga terima kasih telah membimbingku sampai aku bisa sebesar ini. Kapan-kapan, aku akan mampir ke Panti asuhan lagi, aku akan memulai kehidupan baruku dengan mobil nee-chan, akan kutunjukkan pada nee-chan dan juga obaa-san obaa-san yang berada di Panti kalau aku bisa sukses melebihi sekarang." Hinata tersenyum, diusapnya pelan puncak kepala Hanabi, lalu memeluknya penuh kasih sayang.

"Kau harus terus hidup bahagia, dan juga jangan lupa untuk terus berhati-hati."

"Uhm…" Hanabi mengangguk mantap. "Aku akan menjadi koki terhebat dimasa depan, terima kasih atas ilmu yang nee-chan berikan. Aku bahagia bisa bertemu nee-chan sekaligus sensei seperti nee-chan." Hinata melepas pelukannya, lalu menatap Hanabi seksama.

"Nee-chan juga bahagialah." Balas Hanabi kemudian, lalu setelah memberi kepada Hinata sejumlah uang cicilan terakhir, Hanabi-pun berlalu dengan mobilnya. Hinata tertegun melihat kepergian Hanabi dan juga…..mobilnya. Hinata sengaja menjual mobil itu, karena mobil itu terlalu banyak menyimpan kenangan indah.

Sudahlah…. Hinata sudah lelah dengan kenangan indah itu. Semua hanya kebahagiaan semu dan sandiwara belaka.

Hinata berbalik menuju gang rumahnya yang tampak kumuh dan terpencil, Hinata tidak peduli semengerikan dan sesempit apa tempatnya hidup karena yang penting ia bisa hidup tanpa Gaara dan tanpa mengganggu kebahagiaan Gaara.

Hinata menghembuskan nafasnya panjang ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri didepan rumahnya dengan ekspresi datarnya.

"Tuan Shikamaru, apa yang kau lakukan?" Shikamaru menggeleng pelan, lalu menunjuk kearah pintu rumah Hinata yang sangat jelek dan rapuh.

"Aku bisa mendobraknya." Hinata menunduk, lalu merogoh saku celananya, seraya mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan boneka ulat bewarna hijau.

"Kau tidak perlu mendobraknya tuan. Aku punya kuncinya. Aku akan masuk sebentar, tuan tunggulah disini, kita bicara diminimart 24 jam dekat sini saja."

"Tidak, aku mau berbicara dirumahmu saja. Menyusahkan sekali harus berjalan lagi, aku pegal." Hinata melirik Shikamaru dari sudut matanya.

"Nanti tuan bisa terkena panu." Cicit Hinata namun masih bisa didengar oleh Shikamaru. Shimamaru terkekeh, lalu dengan seenaknya menyingkirkan Hinata dari depan pintu dan masuk kedalam rumah Hinata, Hinata terkesiap, ia pun langsung menyusul Shikamaru.

"Tuan! Tidak baik masuk keru—" Hinata memotong perkataannya begitu saja dan digantikan dengan helaan nafas panjang, ia hanya bisa pasrah melihat Shikamaru yang sudah duduk di lantai rumahnya.

"Tak ada perabotan huh—? Tapi cukup nyaman, tidak apa."

"Anda bisa sakit, aku akan menggelar tikar, berdirilah." Shikamaru menggeleng mantap dan malahan menampilkan sebuah kantung plastic hitam yang sedari tadi ia bawa.

"Kita akan makan, merepotkan sekali memakai tikar, nanti kotor!" Hinata membalas Shikamaru dengan senyuman simpulnya, lalu ia pun segera mengambil beberapa piring dan peralatan makan sedang Shikamaru hanya duduk mantap sambil melihat-lihat semua barang yang berada di rumah mungil Hinata. Shikamaru terdiam melihat sebuah foto yang berada dibingkai kecil diatas meja kecil juga didekat futon Hinata. Foto Hinata dengan balutan gaun putih yang membuatnya sangat anggun dan disampingnya berdiri seorang lelaki yang tidak lain adalah Gaara. Shikamaru tertegun, dialihkannya pandangan kearah Hinata yang tampak sibuk. Hinata begitu rapuh, namun ia sangat tegar dan berusaha terlihat kuat diluar, itulah kesimpulan yang bisa Shikamaru ambil. Hinata kaget lalu tersenyum ketika menyadari Shikamaru sedang menatapnya dari tadi.

"Silahkan makan, tuan."

"Jangan panggil aku tuan, Hinata. Seperti biasa jika kita berada diluar jam kerja, kau bisa memanggilku Shikamaru." Suasana hening seketika, digantikan dengan suara sumpit dan piring yang bertemu. Lama Hinata menunduk sambil mengemut sumpitnya, lalu ia kemudian tersenyum sambil menatap Shikamaru.

"Sepertinya aku sudah lebih mengerti posisiku sekarang tuan, aku tidak boleh kurangajar dengan seseorang yang memiliki kasta lebih tinggi." Shikamaru berhenti makan, dan kemudian gantian menatap Hinata yang sedang makan dengan ekspresi datar.

"Maaf, aku tidak melarangmu. Aku tidak tau kalau kau memiliki masalah juga dengan lelaki bernama Gaara itu. Setauku, dia tidak memiliki istri." Hinata tersenyum miris mendengar apa yang Shikamaru katakan.

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa tuan. Aku memang pantas ditindas dan dipermalukan."

"Kau bodoh Hinata." Hinata hanya kembali tersenyum kearah Shikamaru, sedang Shikamaru terpaku melihat ekspresi ketegaran Hinata. Ia tidak tau, kalau ia telah menemukan mutiara diantara sampah masyarakat yang bertebaran. Sejak pertama kali ia bertemu dengan Hinata, ia kira Hinata hanya memiliki masalah simple seperti tidak memiliki uang untuk biaya rumah sakit ibunya, Hinata juga tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan Shikamaru. Shikamaru sungguh tidak menyangka, kehidupan Hinata sungguh menarik. Namun, rasanya agak sakit melihat Hinata yang muram.

"Mulai sekarang, kau bisa bercerita denganku Hinata. Anggap aku sahabatmu jika diluar jam kerja dan aku harap tidak ada penolakan."

Hinata hanya bisa terdiam mendengar perkataan Shikamaru, lalu melanjutkan makan tanpa menghiraukan perkataan Shikamaru.

Seperti biasa, hari ini Hinata memulai kerjanya dirumah Shikamaru. Hinata bersikap professional tanpa tetap tak memedulikan Shikamaru. Sedang Shikamaru tak bisa melakukan apa-apa, mungkin Hinata hanya butuh waktu untuk berpikir.

"Aku akan menyiapkan sarapan. Tuan ingin makan apa?"

"Aku ingin roti bakar saja, minumnya ocha."

"Tuan, sarapan anda terlalu beresiko. Boleh aku tambah telur goreng?" Shikamaru mengangguk pelan lalu menunjuk meja ruang Tv "Aku ingin sarapan sambil menikmati Tv"

Untuk orang seperti Shikamaru, sekilas berita adalah acara yang paling indah di pagi hari. Selain menambah pengetahuan juga tidak ada yang aneh-aneh mengenai acara tersebut seperti lelucon yang membosankan. Hinata telah selesai menyelesaikan sarapan dan langsung mengantarnya ke meja Tv.

"Silahkan dimakan." Shikamaru mengangguk, sedang Hinata ingin berlalu melanjutkan pekerjaannya, namun suara presenter menginterupsinya untuk melangkah.

"Pemirsa, telah terjadi kecelakaan di perbatasan antara suna dan konoha, tepatnya di jalur tua yang jarang sekali dilewati oleh warga saat ini. Kecelakaan mengerikan itu telah memakan korban jiwa yakni sang pengemudi mobil yang memiliki nomor polisi ******. Para polisi sudah menyelidiki siapa pemilik malang mobil tersebut, dan telah berhasil mengetahui identitas wanita itu yakni Hinata."

DEG… Hinata kaget, begitu pula Shikamaru. Sontak kepala Shikamaru langsung menoleh kearah Hinata. Dilayar Tv telah ditampilkan biodata Hinata secara lengkap, ditambah foto Hinata yang Hinata tau, tiada satu orang pun yang memiliki fotonya, bahkan teman sekolahnya sekalipun…. Hanya satu orang tepatnya yang memiliki koleksi fotonya yakni Gaara. Hinata tertegun, dilihatnya dengan jelas korban yang sedang dimasukkan kemobil ambulance.

"Korban telah jatuh kejurang dan mobilnya meledak didasar jurang. Untung sekali TIM SAR bisa mengeksekusinya. Dan malangnya lagi, wajah wanita ini sangat hancur dan rusak serta tubuhnya memiliki kehancuran yang fatal."

Air mata Hinata kembali menuruni pipi, Hinata tidak menyangka bahwa Gaara serta wanita pinky bernama Sakura tersebut akan bergerak sejauh ini. Tak cukupkah mereka yang menganggap Hinata telah meninggal? Mengapa rakyat di negeri ini juga harus menganggap Hinata mati? Hinata tidak bisa mengucap kata syukur kepada kami-sama bahwa ia tidak meninggal karena Hinata tau sendiri siapa gerangan yang sebenarnya telah mengalami kecelakaan tersebut yakni Hanabi. Hinata menyesali perbuatannya yang menjual mobilnya kepada Hanabi. Padahal Hanabi baru saja ingin menjalani hidup baru yang penuh kebahagiaan, namun hanya dalam waktu satu malam, Hinata telah menghancurkan impian gadis yang berdosa itu dengan menjual mobil kepadanya. Jika itu memang dirinya… jikalau memang dirinya yang meninggal, Hinata tak akan semarah ini, tapi… Gaara dan Sakura telah keterlaluan.

Layar Tv telah menghitam dan tak menampilkan berita lagi. Ya…. Shikamaru langsung saja mematikan Tv tersebut, dan menikmati sarapannya dengan nikmat.

"Duduklah Hinata, kita sarapan bersama. berita tadi, tak usah kau pedulikan. Mereka 80% berbohong."

"Aku ingin berhenti bekerja." Ucap Hinata tegas, sedang Shikamaru termenung menatap roti bakarnya.

"Aku akan menaikkan gajimu Hinata, jadi jangan berhenti." Isakan Hinata semakin terdengar sehingga membuat Shikamaru tidak tahan. Shikamaru segera beranjak dari sofanya dan menghampiri Hinata. Hinata menunduk dalam, sehingga Shikamaru hanya bisa mendengar tangisan yang Hinata tahan, bahu Hinata terlihat bergetar seirama.

"Biarkan saja mereka Hinata. Cukup…. Cukup orang-orang yang memiliki hati yang mengetahui bahwa kau masih hidup bersama kami." Tangisan Hinata tambah keras, lalu Hinata pun melepas apron yang ia pakai dan melemparnya seenaknya.

"Jangan tahan aku." Hinata mulai untuk melarikan diri, namun langkahnya tertahan oleh Shikamaru yang menahan pergelangan tangan Hinata.

"Jangan ikut campur lebih jauh. Aku takut kau akan lebih terluka." Hinata menatap kedua mata Shikamaru tajam. Bulu kuduk Shikamaru terangkat sedikit melihat tatapan mengerikan itu. Hinata … sudah penuh dengan dendam dan emosinya sudah mendidih. Shikamaru terlemas dan melepaskan Hinata. Tanpa aba-aba lagi, Hinata langsung berlari keluar dari kediaman Shikamaru, meninggalkan Shikamaru yang mematung.

Hinata berlari kearah rumah sakit dimana ia yakini sang presenter telah sebutkan tadi. Ia sungguh tak bisa membiarkan seseorang yang telah ia anggap sebagai adik sendiri, mati sendirian didalam kedinginan. Setidaknya, ia adalah orang yang satu-satunya mengetahui identitas Hanabi. Ia mengetahui Hanabi.

Jantung Hinata semakin bergerak cepat begitu tiba dirumah sakit. Ia rasanya tak sanggup untuk menatap Hanabi walau ia tau bahwa Hanabi tak mungkin melihatnya saat ini. Hinata berjalan pelan dan langsung saja menuju kamar mayat. Dibukanya pelan kamar tersebut dengan tangan dan badan yang gemetar. Hawa dingin menyerang Hinata ketika Hinata melangkahkan kakinya dikamar tersebut. Mata Hinata menelusuri setiap catatan yang berada di setiap tempat tidur mayat. Berusaha mencari nama yang sedang ia tuju, yakni 'Hinata'. Nama dia sendiri…..

Dia terdapat disana, diujung tembok dengan lemah. Kain putih menutupinya. Hinata semakin lemas, ia tak sanggup untuk melihat adik angkatnya disana. Hinata menggapai kain putih itu tersebut dan membukanya, Hinata terkesiap lalu mundur menjauh. Hanabi tak memiliki wajah lagi. Wajahnya telah hancur. Hinata menangis keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hanabi-chan….." Hinata bersandar didinding sambil memeluk kakinya. Ia kembali mengingat semua kenangan pedihnya, dan menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Hanabi. Ia masih mengingat kata-kata Hanabi dan ekspresi senangnya ketika ingin memulai hidup barunya dengan penuh kebahagiaan. Hinata memukul-mukuli dirinya.

"Dasar pembawa sial…!" Hinata semakin menangis keras. Lama ia menangis, lalu kemudian seperti biasa, ia terdiam. Lalu tiba-tiba Hinata terdiam seraya teringat akan perkataan terakhir yang Hanabi katakan kepadanya "Nee-chan juga bahagialah."

Hinata beranjak, dan berjalan lurus menatap kosong apa yang ia lewati didepannya. Ia hanya terus berjalan menuju resepsionis dan juga tempat pembayaran. Semua biaya pemakaman Hanabi ia bayar dengan uang cicilan mobil Hanabi yang lalu. Tanpa ia pikir sepeserpun tersisa untuk hidupnya. Yang terpikir hanyalah untuk Hanabi dan juga untuk ibunya yang berada dirumah sakit yang sama. Tak lupa juga ia mengunjungi ibunya, namun ia mengurungkan niatnya untuk masuk kekamar ibunya karena ia melihat ibunya yang sedang menangis keras melihat kearah Tv. Hinata yakin bahwa ibunya sedang melihat berita mengenai kematian yang terjadi pada dirinya.

Hinata hanya bisa menunduk dan mengeluarkan air matanya dengan diam. Sekarang dirinya bukanlah siapa-siapa. Dia sudah hilang dari dunia ini. Sudah dihapuskan kehadirannya. Tidak ada yang peduli padanya. Andai Hinata bisa memutar waktu, ia ingin sekali lenyap pada saat ia berumur 5 tahun. Mengapa ia harus selamat saat itu? Percuma saja kan, Hinata tak memiliki ingatan apa-apa mengenai hidupnya. Itulah yang ada dipikirannya saat ini.

Tanpa ia sadari….. ia telah melewati dua orang yang tampak khawatir berlari kerumah sakit dan bertanya kepada resepsionis mengenai 'Hinata' yang berada di 'kamar mayat'

Dua lelaki itu memiliki paras yang sama, dan yang berbeda hanyalah umur. Ya, salah seorang lelaki lebih tua dari yang lain. Mereka memiliki mata ametys dan juga surai coklat panjang. Mereka hanya bisa menggeram ketika melihat jasad 'Hinata' di kamar mayat. Salah satunya memukul-mukul tembok sedang yang satunya bersedih didalam diam.

"Ini semua salah ayah." Ujar salah seorang lelaki dingin, lalu kemudian hendak berlalu sebelum mengatakan satu hal kembali. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu ayah. Kau telah membunuh ibu dan juga adikku. Ayah benar-benar jahat."

Sang ayah hanya terdiam tak merespon apa yang anaknya katakan. Ia terlihat sangat frustasi. Dengan tangan yang bergetar, ia usap kain putih tersebut.

"Hinata….. maafkan ayah. Ayah bukanlah ayah yang baik. Tetapi, tidak bisakah kau bertemu ayah sekali saja? Ayah berharap ini semua mimpi! Setelah 18 tahun ayah menunggumu kembali, tetapi…. Kau kembali dengan keadaan yang tak terduga. Maafkan ayah, Hinata. Ayah tak sempat membahagiakanmu." Air mata lolos dari kedua amethyst milik lelaki itu.

Hinata tak tau lagi harus berbuat apa sekarang. Apakah ia harus kembali bekerja untuk memenuhi kehidupan perawatan ibunya? Lucu…. Hinata yakin, semua pegawai dan boss ditempat kerjanya telah menganggap ia telah tiada. Hinata tersenyum miris lalu ia masukkan tangannya kesaku celananya karena hawa dingin mulai berhembus mengusik kehangatan badannya. Hinata merasakan sebuah kertas mengganjal dikantungnya, lalu dengan cepat ia merogoh sakunya dan mengeluarkan benda kertas itu.

Sebuah kartu nama milik seseorang….

Hinata terdiam melihat kartu nama itu lama. Ia pikirkan kembali percakapan dirinya dengan lelaki itu kemarin malam. Hinata menggelengkan kepalanya mantap lalu tak lama ia menampilkan ekspresi berpikir dan….. ia pun berbalik dan berlari kencang.

Sasuke hanya bisa tertawa sungkan melihat berita yang menyatakan mengenai kematian Hinata. "Dia sungguh menyedihkan, mati dengan menyedihkan. Apa ini jangan-jangan karena aku kemarin?" Sasuke tampak berpikir, namun kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin….. hmmm… tapi mengerikan juga." Sasuke bergidik lalu dengan cepat mematikan televisinya. Sasuke meregangkan badannya yang terasa pegal namun kemudian sebuah bel menginterupsinya. Ia pun segera menuju pintunya dan memeriksa terlebih dahulu melalui kamera. Sasuke terdiam melihat tamunya tersebut.

"Ada apa kak…." Sebuah pukulan melayang di pipi Sasuke sehingga membuatnya terjerembab.

"Setahun kau menghindariku dan ibu. Apakah itu pantas untuk kau katakan, Sasuke?" Sasuke hanya terdiam sambil dengan susah payah beranjak.

"A-aku, tak pantas untuk bertemu dengan kalian." Kembali Sasuke menerima bogem mentah dari kakaknya.

"Tentu saja, sudah sepantasnya kau mengatakan hal itu. Kau tidak tau betapa khawatirnya ibu." Sasuke kembali beranjak dan berdiri menunduk.

"Maafkan aku kak."

"Dasar memalukan, seorang Uchiha tak sepantasnya menunduk seperti ini. Ahh… jangan-jangan kau menunduk juga didepan bajingan bernama Gaara itu?" Sasuke menggeleng pelan.

"Tak pernah kau pikirkan sedikitpun kah perasaan ibu ketika hanya menerima uang transferanmu tanpa kau beri kabar? Kau pikir ia hanya ingin uangmu. SASUKE! JIKA KAU MASIH UCHIHA, TATAP AKU!" dengan takut-takut, Sasuke pun mengangkat kepalanya. Sekarang ia bisa dengan jelas melihat raut dan ekspresi kakaknya, bukan kemarahanlah yang tertampilkan, melainkan kesedihan dan kekakhawatiran. Jika orang awam yang melihat ekspresi Itachi pasti menerjemahkannya terbalik. Itulah Uchiha, ekspresi mereka tidak bisa ditebak kecuali oleh keluarga mereka sendiri.

Itachi mendekati Sasuke lalu tiba-tiba memeluk Sasuke. Sasuke memejamkan matanya, kehangatan dan kerinduan ia rasakan dari kakak semata wayangnya itu. Sasuke bisa merasakan tepukan demi tepukan yang Itachi berikan dipunggungnya.

"Kau tidak perlu bersembunyi dari kami Sasuke." Ucap Itachi sambil melepaskan pelukannya dan kembali berpose seperti biasa.

"Maafkan aku kakak, aku belum bisa membanggakan kalian."

"Ssst…. Kau sudah berusaha. Yang penting kau masih hidup." Sasuke hanya bisa tersenyum miris. "Lain kali, pulanglah kerumah. Ibu merindukanmu." Sasuke mengangguk pelan lalu kemudian mengajak Itachi untuk masuk kerumahnya sekadar minum teh sebentar, namun Itachi menolaknya karena ia memiliki urusan lain, tentu saja Sasuke tak keberatan karena kakaknya itu sibuk sekali dari dulu sampai sekarang, namun Sasuke sangat bangga karena Itachi tak pernah melupakan keluarganya. Setelah insiden perusahaan diambil, Itachi otomatis juga dipecat. Itachi sekarang bekerja sebagai manajer disuatu perusahaan, sungguh keluarga Uchiha yang malang. Dibesarkan seperti pangeran namun sekarang, harus merasakan hidup yang tak terlalu mewah seperti bangsawan lagi. Sasuke memandang punggung Itachi sampai ia benar-benar berlalu dan tak terlihat.

"Uchiha…. Sasuke…." Sasuke kaget, ia seperti mengenal suara tersebut. Tiba-tiba bulu kuduk Sasuke terangkat. Dengan pelan-pelan, Sasuke pun berbalik dan iapun menjerit histeris, sehingga membuat manusia yang ada dihadapannya juga kaget dan berteriak sejenak.

"HAANTUUU! Pergi dariku!" Sasuke berlari dan masuk kedalam rumahnya. Sedang manusia yang Sasuke panggil melihat Sasuke linglung dan kemudian mengetuk-ngetuk pintu Sasuke.

"Sa-Sasuke-san, i-ini aku Hinata…."

"Pergi! Aku mohon maafkan aku hantu Hinata! Aku tak bersalah!" Hinata menghela nafas panjang, lalu ia terdiam didepan pintu Sasuke. Hinata menunduk, bahkan Sasuke pun menganggapnya telah mati. Tapi tak apa, toh Sasuke bukan siapa-siapanya. Sedang Sasuke yang masih menahan pintunya kini bingung karena ia tak mendengar ketukan-ketukan lagi. Sasuke berjalan pelan dan mengecek dari kameranya, Hinata masih terlihat mematung disana.

"Bukankah hantu tak akan terlihat dari kamera sejelas ini….." gumam Sasuke. Lama Sasuke menatap Hinata dari kamera tersebut, lalu iapun akhirnya memutuskan untuk membuka pintunya.

"Kau belum mati?" tanya Sasuke dan dibalas Hinata dengan gelengan pelan.

"Itu bukan diriku…. Dia adalah adik asuhku dipanti asuhan." Sasuke mengangkat alisnya sebelah, lalu mempersilahkan Hinata masuk "Masuklah, diluar dingin." Hinata mengiyakan perkataan Sasuke, dan masuk begitu saja kerumah Sasuke. Ia pun duduk disalah satu sofa yang berada diruang tengah.

"Aku rasa… Sakura dan Gaara telah merencanakan pembunuhan ini. Memang benar, mobil tsb adalah mobilku, namun sudah pindah hak milik ke tangan adik asuhku." Cerita Hinata dengan nada yang lirih, Sasuke yang duduk didepannya hanya mengangguk-angguk mengerti, ada benarnya juga kalau itu pembunuhan yang direncanakan, jadi intinya ini adalah kejahatan terencana. Ia benar-benar tak menyangka, mantan istrinya merencanakan hal sekeji ini.

"Sasuke-san….." Sasuke memandang kearah Hinata yang memanggilnya, Sasuke terkaget ketika melihat kedua lavender Hinata yang telah berkaca-kaca ditutupi oleh mutiara air mata indahnya. "Selamatkan aku dari ini semua. Aku tau kita tidak punya hubungan ….. ta-tapi…. Entah mengapa aku teringat akan tawaranmu malam kemarin." Isakan Hinata mulai terdengar, Sasuke menatap Hinata iba.

"Aku tau ini sangat berat bagimu. Tapi tawaran itu, tak akan pernah aku lupakan Hinata, kapanpun kau siap, aku akan melakukannya." Hinata terdiam, berbalik menatap onyx kelam Sasuke, terdapat kesungguhan disana. Hinata menghapus air matanya dan kemudian beranjak.

"Aku siap sekarang." Tegas Hinata, sehingga membuat seringaian terparkir diwajah rupawan Sasuke, Sasuke pun beranjak dari duduknya.

"Tapi kita tetap harus membuat kontrak." Ucap Sasuke, sehingga membuat Hinata bingung.

"Kontrak?" seringaian Sasuke pun mulai melebar.

©Wondergrave-MIRACLE IN REVENGE-TBC©

#HAAIII apa kabar reader? :) maaf ya wonder lama banget update.. huhu TT_TT tapi yang penting udah update xixixixixixixi... oh iya reader dan reviewer, wonder ga bisa lama lama nih nulis pesan soalnya... soalnya... wonder buru-buru wkwkwkwkwk... wonder akan melakukan beberapa test kedepannya jadi harus mempelajari beberapa hal sekarang # jadi dengan sangat menyesal wonder akan membalas reviewers dari kalian di chapter depan yaaa... seeyou reader and reviewer tercinta XXD #kissbye