"Kau berpikir terlalu berlebihan, Lils."

Lily mendongak dan mendapati Remus tengah menahan senyum. Geli. Sesungguhnya, Lily sendiripun tak mengerti apa yang tengah dipikirkannya. Mengapa mendadak dia teringat akan pandangan yang selalu diberikan James untuk dirinya dalam tatapan Remus? "A-apakah kau—"

Remus mengangguk. "Tapi bukan seperti yang kau bayangkan."

Perlahan, bahu Lily yang tadi tegang kini mengendur. Pun dengan napasnya yang sedari tadi dia tahan, perlahan dihembuskannya. "Maaf."

Remus tersenyum lemah. "Tak apa. Wajar saja kau berpikir seperti itu. Reaksimu bahkan lebih baik daripada James dan Sirius."

"Potter dan Black tahu?"

"Umm," Remus mengangguk. "Kau akan sangat sulit menyembunyikan semua hal dari sahabat dekatmu. Termasuk rahasia tergelapmu." Pandangan matanya menerawang. "Saat itu, James hanya terpaku terdiam begitu aku mengakuinya. Siriuslah yang nyaris memukulku, jika tak dicegah oleh James. Dan kau tahu apa yang dikatakan oleh James?"

Lily menggeleng.

"Dia hanya mengatakan bahwa cinta memang suatu hal yang sangat sulit diduga. Dia percaya bahwa aku tak pernah mengkhianatinya." Remus memandang lurus kea rah Lily. "Dari situ aku belajar banyak, Lils."

.

.

.


Analogi Snitch

By WatchFang


.

Harry Potter masih punya JK Rowling

Saya hanya meminjam tokohnya saja dan tak mengambil keuntungan dari pembuatan fic ini

.

.

Bagian Empat

Tak Terduga

.

.

.

"Hei, Prongs, kita pamit dulu ya. Madam Pomfrey sudah beratus kali melayangkan pandangan membunuhnya padaku. Cepatlah sembuh, dan minumlah semua ramuan menjijikkan itu," kata Sirius seraya menepuk pundak James.

James mengaduh sambil meringis. "Hati-hati, Pads. Kau nyaris saja menyenggol bekas luka sialan ini."

"Maaf," ucap Sirius sambil memasang wajah yang tak berdosa. "Aku sengaja loh. "

James mengepalkan tangan kirinya ke arah Sirius. "Awas kau, Pads, kalau saja aku sudah sembuh nanti. Aku ingin sekali meninju wajah innocentmu itu!"

Sirius hanya bisa tergelak mendapati James tengah berbaring tak berdaya ini. "Dengan senang hati, Prongs. Aku sudah kangen dengan tinjuan-tinjuanmu di wajah tampanku ini." Dia memerkan senyuman menawannya ala Black.

James menatap Peter yang kini mengusap air matanya akibat tertawa terpingkal-pingkal mendengar setiap ucapan konyol Sirius. James mendengus. "Kau selalu saja begitu, Wormy. Padahal kau sudah bertahun-tahun di samping Sirius, tetapi kau tetap saja tergelak mendengar ucapan konyol dia."

"Kau cemburu padaku, Prongs." Sirius menggelengkan kepalanya, "Cemburu itu tidak baik, Sobat. Akui sajalah kalau sobatmu ini memang cowok paling tampan di Hogwarts."

Uh. Selalu saja James merasakan migrain mendadak saat Sirius mulai mengeluarkan pernyataan tentang 'cowok tertampan'. Sebenarnya, memang Sirius tampan sih. Asal dia tidak terus-menerus memasang wajah malas nan cuek, James yakin kalau sahabatnya ini pasti sudah berkencan dengan berpuluh-puluh gadis Hogwarts yang tengah menanti kejatuhan cinta sang Sulung Keluarga Black ini.

Sebenernya sih, mereka berempat memang tampan. Kalau Wormy, umm, 'sedikit kurang tampan 'dibanding dirinya sih. Tapi, anehnya, mengapa hanya James yang menunjukkan ketertarikannya pada seorang gadis ya? "Aku bingung."

Sirius menaikkan alisnya. "Bingung? Mencari cara agar diterima oleh Evans?"

James menggeram kesal. "Bukan. Kalau hal itu sih, sudah biasa bagiku. Tapi, aku memikirkan kalian," James menatap ke arah Peter dan berhenti di sepasang mata gelap Sirius, "terutama kau. Kuakui, kau memang tampan sih, tapi, mengapa kau tak pernah kencan dengan seorang gadis, Pads?" James memasang muka yang sangat serius, dan mendadak menjetikkan jarinya. "Ah! Atau kau tidak tertarik dengan perempuan?"

Sirius hanya terbatuk mendengar pernyataan James. Raut wajahnya tiba-tiba memerah. "A-aku tidak. Ah, sialan kau, Prongs! Aku masih normal kalau kau mau tahu."

James menggeleng, dramatis. "Buktikanlah, Pads."

Kini, James tertawa dalam hati menikmati menggoda Sirius. Gadis dan kencan, memang hal sensitif bagi Sirius. James tahu itu. Maka dari itu, James menggunakan kedua hal ini untuk memutarbalikkan keadaan mereka.

Sirius berdiri, wajahnya mengeras. "Dengar, Prongs, akan kubuktikan kalau aku memang—"

"Jantan?" sela Peter.

Tawa James pun meledak, diikuti dengan kikikan Peter.

"JAMES POTTER! AKAN KUBALAS—"

"Mr. Black! Jaga suaramu di area bangsal rumah sakit!" Madam Pomfrey tiba-tiba menyibak tirai yang melingkupi tempat tidur James sambil berkacak pinggang. Tatapannya nyaris bisa membekukan siapa saja. James bahkan bisa melihat mulut Sirius membuka dan menutup dengan geram. "Lebih baik kau keluar. Bawa Mr. Pettigrew juga." Dengan kibasan jubah putih—seragam peyembuhnya, Madam Pomfrey berbalik menuju meja kantornya.

Sirius hanya memandang James, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan langsung meninggalkan sisi tempat tidur James, menuju pintu keluar. Wajahnya masih memerah. Peter mengikuti di belakang Sirius seraya menganggukkan kepala pada James, dan berbisik di telinga James bahwa Sirius hanya dengan kesal dan menjalani aksi ngambeknya.

Bunyi debum pintu menandakan kepergian mereka. Dan kesunyian kini kembali menyapa indra pendengaran James. James tahu, becandanya dengan Sirius sudah kelewat batas, tapi, sebenarnya, James hanya mau mengingatkan Sirius agar menyadari orientasinya sebagai lelaki.

James menarik napas dan membuangnya perlahan. Memikirkan Sirius sama pusingnya dengan memikirkan kisah cintanya sendiri. Sejauh ini, tak ada perkembangan berarti dari usahanya mendekati Lily Evans. Ada godaan untuk menyerah, membalikkan badan dari Evans dan mengencani gadis lain yang sudah menunggu dirinya. Ada Kate Hawthorn dari Ravenclaw dengan rambut pirang lurusnya dan senyuman menawannya. Ada gadis Hufflepuff, dengan senyum lembutnya serta tubuh mungilnya yang senantiasa membantu James mengerjakan proyek Herbologinya tahun lalu. Dan ada puluhan gadis lainnya yang telah menyatakan ketertarikannya kepada James. Tapi, semua itu tak dapat mengalahkan kilauan rambut merah yang tertimpa sinar matahari, pendar hijau di sepasang bola matanya, bahkan cacian yang terlontar dari bibir Evans sudah seperti lantunan melodi tersendiri di telinga James.

Ah, James sendiri tak tahu mengapa dia jatuh hati setengah meti terhadap Lily Evans. Yang dia tahu hanyalah, dengan memikirkan Evans, dia samar-samar teringat akan angin sepoi-sepoi yang menghembuskan aroma bunga Lily di rumahnya. Mengingatkan akan kelembutan ibunya, kehangantan senyum ayahnya. Mengingatkan akan kehangatan sebuah keluarga. Maka, saat dia berpapasan dengan Evans di gerbong Hogwarts Express di tahun pertamanya, dia bertekad untuk menjadikan Evans sebagai istrinya kelak.

Sudut bibir James berkedut. Menahan senyum, megingat pikiran konyolnya itu. Jangankan istri, menjadikannya sebagai pacarpun belum berhasil. James memijit keningnya yang berdenyut dan melepaskan kacamata bundarnya, menaruhnya di atas meja samping tempat tidurnya. Perlahan, James merebahkan diri. Sedikit rasa sakit dari tangan kanannya menyengatnya.

Sudah pukul lima sore. Biasanya, ini waktunya perban James diganti dan dilanjutkan dengan meminum setengah lusin ramuan beraneka warna dan aroma. Tapi, mengapa Madam Pomfrey tak kunjung datang?

Perlahan, James merasa kelopak matanya memberat begitu dia menyentuh bantal.

.

-OoooO-

.

James mengingat semua kenangan masa kecilnya. Hampir.

Tapi, tak tahu mengapa, akhir-akhir ini saat dia terlelap, sebuah kenangan saat dia berumur empat tahun selalu menghampirinya.

Bahkan, saat dia terbangun, samar-samar James dapat mencium harum bunga-bunga Lily serta pendar sepasang manik hijau yang menatapnya dengan antusias. Sialnya, saat James berusaha mengingat siapa pemilik sepasang bola mata hijau itu, James selalu merasakan sakit di kepalanya.

Sebenarnya, mungkin, kenangan ini adalah salah satu faktor mengapa dia sangat tertarik dengan Evans. Sepasang mata hijau itu … James amat sangat ingin menatapnya sepanjang hari di sisa masa hidupnya. Namun, semakin James mengejarnya, bayang itu semakin menjauh.

.

-OoooO-

.

Setengah sadar, James samar-samar mencium beraneka aroma ramuan. Ah, ini memang waktunya dia menenggak selusin macam ramuan. James enggan membuka matanya. Dia lebih memilih menenggelamkan diri dalam dunia mimpi bersama Evans. Bahkan ironisnya, dalam mimpi pun, James tak dapat meraih gadis impiannya. Sungguh, dunia ini memang kejam!

Namun, entah mengapa di antara bau ramuan yang menyengat di udara, samar-samar James dapat membaui aroma bunga Lily di sekitar tempat tidurnya. Apakah kini ada tambahan ramuan baru untuknya yang terbuat dari ekstrak bunga Lily? Untuk apa khasiatnya? James mengerutkna keningnya.

"Aku tahu kalau kau sudah bangun."

Sontak, James membuka matanya. Suara itu, Lily Evanskah? James mengutuk penglihatan yang kabur tanpa bantuan dari kacamata bundarnya. "Evans?"

"Uhuh."

James meraba sisi tempat itdurnya, mencari-cari benda penyelamat penglihatannya. Seingatnya, sebelum tertidur, james masih memakai kacamatanya. Ini mengapa mendadak hilang?

"Kau mencari ini?"

james menyipitkan mata dan memfokuskan penglihatannya. Samar, James dapat melihat Lily tengah mengangsurkan gagang kacamatanya. tanpa pikir panjang, James segera menyambar kacamatanya.

Sengatan listrik—atau entah apa itu namanya terjadi saat James tak sengaja menyentuh telapak tangan Lily. Hanya singkat, namun membuat perutnya seperti diaduk-aduk. James bergidik. Dengan cepat dia menarik tangannya dan lekas-lekas menyorongkan gagang kcamatanya ke lipatan telinganya. "Terima kasih. Evans."

Dilihatnya gadis itu hanya mengangkat bahu, sambil terus fokus ke ramuan-ramuan yang tengah disiapkannya. "Kau tertidur dan kau masih memakai kacamata."

James mengangkat bahunya. "Entah kau orang keberapa yang telah mengkritik kebiasaan burukku itu."

Lily mengangkat kepalanya dan menatap James. "Sungguh? Kau tak tahu apa akibat dari kebiasaan burukmu itu, Potter. Kacamatamu bisa patah dan lensanya bisa pecah."

Oh. Kacamata. Mengapa Evans sampai demikian peduli pada kacamatanya alih-alih dirinya yang terbaring di rumah sakit demi menyelamatkan Evans. Mendadak, James merasa kesal. "Aku tahu. Entah sudah berapa kali lensa kacamataku pecah. Sederhana saja. Seperti ini," James mengambil tongkat sihirnya dari balik bantalnya dan mengayunkan tongkatnya ke lensa kacamata yang retak. "Reparo," gumamnya. "Lihat. Ini mudah, Evans. Hanya dengan jentikan tongkat sihir, dan kacamataku kembali utuh seperti semula."

"Kau begitu arogan, Potter," desis Lily. "Tak pernahkah kau bayangkan bagaimana seorang Muggle berusaha menjaga barang-barangnya agar tetap awet? Tak pernahkah kau berlatih untuk mengubah sedikit kebiasaan burukmu itu? Kau memang sombong sekali, Potter. Sama seperti anak-anak Slytherin itu."

Whoaa… Mengapa Lily mendadak jadi marah-marah kepadanya? Mengapa dari urusan kacamata merambah ke anak-anak Slytherin? "Tenang, Lils," James mengabaikan pelototan Lily karena memanggil nama depannya, "yang pertama aku ini Gryffindor. Jangan samakan aku dengan anak Slytherin yang licik itu, oke? Yang kedua, aku minta maaf untuk masalah kacamataku. A-aku tahu ini kebiasaan buruk, tapi aku akan berusaha menghilangkannya. Jadi, tenangkan emosimu dan jangan meledak kepadaku. Kau tahu, aku kan sedang sakit," ringis James sembari menunjukkan lengan kirinya.

Dilihatnya, gadis berambut merah itu hanya bisa menghela napas dan membalikkan diri menuju meja Madam Pomfrey. Tunggu, mengapa Lily ada di sini? Di Hospital Wing dan di bangsal tempatnya dirawat?

.

OoooO

.

Lily kembai sambil membawa segulung perban bersih. James yang tengah menghabiskan ramuan kesepuluhnya nyaris tersedak ketika meliha gadis itu menarik kursi dan mendekat kea rah tempat tidurnya. "Apa yang kaulakukan di sini, Evans?"

Sudut bibir Lily membentuk garis lurus. "Jadi, Remus belum menceritakannya kepadamu?"

James menggelengkan kepalanya sembari terus menatap ke sepasang mata hijau Lily.

"Aku ditugaskan Kepala Sekolah untuk merawatmu," desah Lily. "Sampai sembuh."

Tunggu. Lily akan merawatnya? Sampai sembuh? Lelucon macam apa ini? James menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin."

"Inilah kenyataanya, Potter," ucap Lily sinis. "Aku tak tahu apa yang dipikirkan Profesor Dumbedore mengenai keputusan ini. Yang jelas, aku harus merawatmu. Suka atau tidak suka." Lily mencondongkan tubuhnya. "Sekarang, bisa kulihat lengan kirimu, Potter?"

James setengah sadar mengangsurkan lengan kirinya ke gadis itu. Memperhatikan bagaimana Lily mengganti perban di lukanya dengan lembut. Haruskah James berterima kasih kepada Profesor Dumbledore?

.

OoooO

.

Remus hanya bisa memijit pelipisnya. Lelah dengan segala bombardir pertanyaan James. Bukan salah Remus sendiri yang sudah lama absen menjenguk dirinya. James tahu, tugas sebaga Prefek memang cukup menyita waktu Remus terlebih dengan pasca transformasinya di setiap bulan.

"Tapi, mengapa kau tak memberitahuku mengenai hal ini, Remus?"

"Aku tahu, James, Maafkan aku. Aku … lupa."

James membelalakkan matanya. "Apa? Kau lupa? LUPA?"

Remus meringis. James tampak luar biasa kesal dengan kenyataan bahwa Remus sudah mengetahui Lily Evans akan merawat James. "Akhir-akhir ini, banyak sekali pikiran yang membuatku terdistraksi akan hal itu. Tapi, hei, Prongs, lihatlah sisi baiknya. Anggap saja ini seperti sebuah kejutan."

Bagaimana bisa James menganggap ini sebuah kejutan jika Lily Evans nampak setengah hati merawatnya. James hanya ingin kalau Lily merawatnya dengan tulus. Tanpa harus ada beban. Tanpa harus ada embel-embel menaati peraturan Kepala Sekolah. "Kau tak tahu bagaimana perasaanku mengenai hal ini, Moony," gumam James. "Kalau aku tahu dari awal sebelum Evans ke sini, aku bisa membujuk Profesor Dumbledore untuk membatalkan ini."

Remus menatap ke sepasang mata hazel James. "Mengapa?"

James mengangkat bahu. "Karena aku tak ingin Evans merasa terbebani denganku."

.

OoooO

.

"Selamat pagi, Mr. Potter."

James menyipitkan matanya saat seberkas sinar matahari menelusup masuk melalui jendela yang terbuka. Menusuk pandangannya. Dia menggosok-gosokkan kedua matanya.

"Dan, nampaknya kau tidur memakai kacamatamu lagi," dengus suara itu.

Tanpa melihatpun, James sudah menebak siapa pemilik suara itu. suara gadis yang hampir enam tahun ini selalu menjadi pusat atensinya. "Kau terlalu pagi, Miss Evans."

Lily menaikkan alisnya sembari mengulurkan segelas piala mengepul. "Minumlah."

Ugh, James dengan enggan menerima ramuan tersebut dan langsung menenggak habis cairan tersebut. Setelah pandangannya terfokus, kini dia dapat melihat bahwa Lily tengah memakai sweater hijau yang serasi dengan sepasang matanya, alih-alih seragam Hogwarts. "Kau membolos pelajaran demi merawatku, Evans?" tanya James sambil menyeringai.

Lily menarik paksa piala yang masih dalam genggamannya itu dan memukulkannya ke kepala James. "Enak saja! Ini hari Minggu kalau kau mendadak lupa ingatan."

James meringis sambil mengusap kepalanya. "Uh, kau kasar sekali. Maaf, aku lupa hari. Kau tahu? Berhari-hari berabring di sini sangat membosankan."

Lily menatapnya sejenak sebelum menyibukkan diri dengan menyiapkan gulungan-gulungan perba dan Cairan Penambah Darah. Enath hanya perasaan James saja, sekilas James menangkap sorot simpati dari tatapan Lily tersebut. James benci merasa dikasihani. Terlebih dengan orang yang disukanya.

"Kalau kau sudah selesai dengan renunganmu, bisakah kau ulurkan lengan kirimu, Mr. Potter? Agar aku dapat mengganti perbannya." Lily kembali menatap James sambil tersenyum sambil menarik kursi kea rah tempat tidurnya. Memang Lily tersenyum, tapi senyum yang tak mencapai matanya.

Mendadak James merasa kesal.

.

.

.

"Kalau kau tak suka, bilang saja pada Profesor Dumbledore," gumam James.

Lily menghantikan balutannya pada lengan James dan menatapnya. Sepasang mata hijau itu menyipit. "Apa maksudmu, Potter?"

"Kau tak usah senyum kalau kau merasa terpaksa. Dan kau tak perlu repot-repot merawatku," jawab James, mengangkat bahu.

Lily kembali menyelesaikan balutan perbannya di lengan James. Keheningan menggangtung di antara mereka. James tak tahan dengan suasana ini. James lebih memilih menghadapi Lily yang mencaci maki dirinya daripada Lily yang tersenyum dibuat-buat dan lembut yang palsu.

Lily mengetukkan tongkat sihirnya, dan perban-perban itu menyimpulkan diri dengan simpulan yang rapi. Menyibakkan rambut merahnya yang jatuh ke matanya, Lily balik memandang James. "Kau pikir aku terpaksa?"

James mengangkat bahu.

"Kau bodoh, Potter," ucap Lily sambil membalikkan badannya.

James refleks menggenggam pergelangan tangan Lily dan menarik ke arahnya. James tak memperkirakan bahwa tarikannya yang terlalu kuat mengakibatkan tubuh Lily limbung ke arahnya. Hingga nyaris jatuh menimpa James kalau saja Lily tak menggunakan tangannya untuk menopang berat tubuhnya.

Sepasang mata itu menatap James tajam.

Kedekatan tubuh James dan Lily serta wajah keduanya yang berjarak sekita lima belas sentimeter, kembali menciptakan aliran listrik di antara mereka. James menatap intens sepasang mata hijau itu. Dalam enam tahun terakhir, inilah jarak terdekat dimana James dapat memandang pendar hijau itu.

"Potter, apa yang kau—"

James memandang bibir Lily. Menggunakan lengan kirinya, James mengusap pipinya, dan menipiskan jarak di antara mereka.

Degup jantung James bertalu kencang. Gelenyar di perutnya kian membara saat James menyentuh Lily. Sepasang emerald itu membelalak menatapnya tatkala James kembali menghapus jarak di antara mereka. Hingga mereka saling bertautan.

James hanya mampu mendengar degupan jantung yang kencang. Jantungnya kah? Atau jantung Lily? Adrenalin mengalir deras di tubuh James saat dia kembali menangkup bibir Lily. Samar, dia bisa merasakan belaian halus di dadanya.

Oh, Merlin. James ingin menghentikan waktu saat ini juga.

Saat dimana tak ada jarak di antara mereka.

.


.

TBC

.

.


A/N:

Maaf sekali baru sempat update setelah setahun dianggurin. Karena mendadak filenya setengah ketikan ini hilang dan terlalu malas ngetik ulang. Adakah yang masih ingat? /kabur/

As always, kasih saran dan kritikan ya? Terutama typo.

Dan terima kasih yang sudah baca.

Hug,

Fang.