Chapter 4: A Meeting Part 2

Disclaimer: Detective Conan Aoyama Gosho

Warning: OOC, typo, AU. Sisanya silahkan nilai sendiri

Summary: Kehidupan para chara Detective Conan di sebuah tempat bernama Dream Land sebagai peri. Bagaimanakah kehidupan mereka? RnR please! Dedicated for FFC!

.

.

Aku curiga dengan Aoko, batin Ran. Ran pun keluar dari rumahnya dan pelan-pelan terbang ke rumah Aoko. Setelah sampai di sana, dia pun masuk ke rumah Aoko *ceritanya pintunya ga ada kunci. Kalo ada, mau ditaro di mana, coba?*. Dia pun segera masuk ke kamar Aoko.

Sudah kuduga. Dia nekat pergi, pikir Ran. Karena tahu –sebenarnya Ran juga masih ragu-ragu tepat Aoko di mana sekarang, dia pun langsung mengepakkan sayap indahnya ke bukit.

.

X.x.X.x.X.x.X.x

.

"Shinichi! Di mana Kaito?" tanya Yukiko.

"Mana kutahu," ujar Shinichi santai sambil melanjutkan acara membacanya.

"Keluar dari kamarmu sekarang dan cari Kaito!" perintah Yukiko.

"Ya ya ya," ujar Shinichi malas.

Dasar saudara yang merepotkan! Gara-gara kau, aku harus mencarimu, batin Shinichi kesal. Dengan sangat terpaksa, Shinichi mengikuti perintah ibunya. Dia pun mulai bangun dari tidurnya dan pergi keluar kamar. Sejenak Shinichi berpikir.

'Apa jangan-jangan si Kaito itu pergi ke bukit itu, ya? Harus kuperiksa!' pikir Shinichi. Setelha itu, dia muali berjalan keluar istana dan mulai terbang menuju bukit. Shinichi hampir sampai saat pandangannya tersita oleh peri cantik berwarna merah yang kita ketahui bernama Ran.

"Hey," ujar Shinichi mencoba menyapa. Tampak Ran membalikkan badannya.

'Siapa, ya?' tanya Ran. Shinichi pun mulai mendekat dan Ran dapat melihat jelas wajah Shinichi. Ran terkejut. Wajah yang sekarang ada di hadapannya adalah wajah yang sama persis dengan yang dibicarakan Sonoko, walau sedikit berbeda. Selain itu, lambang kerajaan yang tersemat di dadanya memperjelas dugaan Ran.

"A –ah, hey. A –apakah kau pangeran?" tanya Ran gugup.

"Ya. Kau peri yang tadi sore ada di sini, kan?" tanya Shinichi.

"Be –benar. Bagaimana Pangeran bisa tahu?" tanya Ran heran.

'Tunggu dulu! Jangan-jangan dia yang mengawasiku tadi sore?' pikir Ran curiga.

"Soalnya tadi aku dan Kaito sedang jalan-jalan di sini tadi sore. Lalu aku mendengar suara seorang peri bernyanyi. Saat aku dan Kaito menghampirinya, kau malah pergi. Kau peri yang bernyanyi itu, kan?" jelas Shinichi.

'Apa? Ja –jadi Pangeran yang mendengar nyanyianku?' pikir Ran kaget.

"Menurutku suaramu bagus, lho. Lalu, kenapa kau kabur saat itu? Satu lagi, jangan panggil aku pangeran. Panggil saja Shinichi. Kau?" tanya Shinichi.

"Oh, begitu. Terima kasih. Maaf deh. Namaku Ran," ujar Ran. Lalu mereka pun berjabat tangan tanda pertemanan.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Shinichi.

"Mencari temanku. Kau?" tanya Ran.

"Mencari bersama? Aku juga sedang mencari adikku yang bodoh itu," tawar Shinichi.

"Ya." Setelah itu, mereka pun mulai berjalan bersama. Mereka bahkan meneriakkan nama Kaito dan Aoko. Saat sedang mencari, terkadang mereka saling mencuri pandang. Baik itu Shinichi maupun Ran. Begitu pandangan mereka bertemu, mereka segera memalingkan wajah mereka menahan malu. Tapi, tak lama kemudian, Ran berhenti berjalan.

"Eh, kenapa?" tanya Shinichi.

"Bukankah... bukankah itu mereka?" tanya Ran sambil menunjuk orang yang dimaksud. Shinichi pun mengikuti arah tunjukkan Ran. Satu kedutan di dahi Shinichi pun muncul.

"Anak itu... berani-beraninya... berdansa di saat-saat begini!" seru Shinichi. Ran pun bingung. Sebenarnya dia marah juga. Pasalnya, sayap Aoko kan masih terluka.

"Kenapa Shinichi?" tanya Ran.

"Dia itu... waktu membacaku habis gara-gara dia! Seharusnya, sekarang aku sedang membaca bukuku! Awas saja!" seru Shinichi kesal.

"Sebenarnya aku juga marah. Dia itu kan sayapnya masih terluka! Masa sudah berani terbang ke tempat yang jauh seperti ini!" seru Ran marah juga. Mereka berdua tertegun. Ternyata tujuan mereka ke sini itu sama! Yaitu, marah. Seringai licik pun menghiasi wajah mereka saat ini. Rencana yang sama pun telah terancang di kepala masing-masing.

"Kagetkan mereka!" seru mereka bersama. Setelah itu, mereka pun mulai melaksanakan rencana mereka. Keberuntungan bagi mereka, karena saat ini Aoko dan Kaito sedang berdansa di bukit itu sendiri. Setelah sampai di belakan mereka, mereka pun segera mengagetkan mereka.

"Hoy!"

"Kyaa!"

"Huwaa!"

"Kalian sedang apa, eh?" tanya Ran. Sedangkan Shinichi sedang menatap tajam saudaranya yang saat ini sedang bergidik ngeri.

"He he he," ujar Aoko sambil tertawa innocent. Ran dan Shinichi segera meminta penjelasan dari mereka berdua. Lalu, Aoko dan Kaito menjelaskan semuanya.

"Maafkan kami, Shinichi, Ran," ujar Kaito sambil menunduk. Aoko pun terlihat menunduk.

"Ya sudah, kami maafkan. Tapi jangan ulangi lagi!" seru Shinichi.

"Terima kasih Shinichi!" seru Kaito dan Aoko.

"Tapi, kami berdua masih mau di sini," ujar Aoko dengan wajah memelas.

"Hah? Tapi ini sudah malam, Aoko," ujar Ran.

"Aku hanya tidak mau kalian berdua jatuh sakit karena hal ini," ujar Shinichi. Kaito yang mengerti maksud Shinichi hanya tersenyum lebar lalu membawa Aoko 'kabur'.

"Hey!" seru Aoko dan Ran bersamaan.

"Aku tidak mengerti kata-katamu. Kau mengizinkan mereka pergi? Kenapa?" protes Ran saat mereka berdua telah menghilang dari pandangan.

"Sudahlah, biarkan saja. Kaito belum pernah bertemu dengan gadis lain. Kami itu jarang keluar istana. Jadi, ini adalah kesempatan Kaito," ujar Shinichi sambil duduk.

"Oh, begitu. Ya sudah. Lalu, kau sendiri bagaimana?" tanya Ran sambil mengikuti Shinichi.

"Maksudmu? Soal gadis?"

"Tentu saja."

"Katanya sih ada seorang gadis yang menyukaiku. Tapi, aku tidak menyukainya. Dia adalah seorang penasihat kerajaan –seperti asisten ibuku. Namanya Shiho."

"Bagaimana orangnya?"

"Serius, dingin, misterius, pintar, dan terkadang terlihat menyebalkan dan mengerikan."

"Kau terlihat sangat tidak menyukainya."

"Sebenarnya dia itu baik. Dia telah menjadi teman perempuan dan teman pertamaku di sana. Dia juga mengerti aku. Kau?"

"Aku sudah punya pacar. Namanya Araide. Dia adalah seorang dokter. Dia baik hati, ramah, dan yah... begitulah..."

"Kau... pasti sangat mencintainya, bukan?"

"Ah ya begitulah," uajr Ran sambil merona.

"Enak, ya kalau kita punya orang yang kita sayangi atau kita cintai. Yah... seperti kau... tidak sepertiku."

"Hey! Jangan pesimis seperti itu, donk! Banyak kok peri-peri cantik di luar sana."

"Kalau begitu, kau mau tidak?"

"Maksudmu?"

"Hanya teman."

"Bukankah kita sudah menjadi seorang teman beberapa menit yang lalu? Kalau yang kau maksud itu lebih dari teman yaitu sahabat, aku mau kok!"

"Benarkah? Terima kasih. Ehm, besok aku ingin pergi ke tempatmu. Boleh, kan? Aku juga akan mengajak Kaito."

"Tentu saja! Aku akan sangat senang menyambutmu, Shinichi." Sedangkan Shinichi hanya tersenyum. Senyum kali ini berbeda. Ini senyum ketulusan dari hati.

"Ngomong-ngomong, bulan kali ini indah juga, ya," ujar Shinichi.

"Biasa saja. Aku tidak mengerti keindahan malam."

"Ha ha ha. Kau ini lucu, ya!" seru Shinichi sambil mencubit pelan pipi Ran.

"Apa? Apa maksudmu?" ujar Ran sambl mengelus-ngelus pelan pipinya hasil cubitan Shinichi.

"Tidak, bukan apa-apa. Aku baru pertama kali bertemu dengan peri sepertimu," ujar Shinichi.

"Oh ya? Eh, kalau kau bosan besok kau harus ke tempatku. Oke?"

"Oke! Ehm, aku ingin bertanya sesuatu."

"Tentang?"

"Cinta. Apa itu cinta? Dan bagaimana rasanya jatuh cinta dan mencintai seseorang. Walaupun aku sering baca buku, buku yang kubaca bukan tentang percintaan."

"Ehm, bagaimana, ya? Cinta itu adalah perasaan senang atau suka yang berlebihan kepada seseorang. Biasanya, hanya dengan menyebutkan nama orang yang kita suka wajah kita akan memerah. Tapi, terkadang cinta itu bikin sakit. Karena cinta itu tidak harus memiliki. Rasanya jatuh cinta itu senang tapi ada cemburu juga. Kadang rindu dan selalu teringat orang tersebut –tapi aku tidak 'segila' orang yang sedang jatuh cinta, kok. Mencintai seseorang itu... ehm, bagaimana, ya? Ya, kita mencintai seseorang saja. Semua perasaan bercampur di sana. Kalau kita tidak mencintai seseorang, itu artinya kita tidak normal. Kau suka baca buku? Aku tidak menyangka."

"Oh begitu. Buku yang suka aku baca, paling tentang sejarah, kesehatan, dan semacamnya. Kalau tiba-tiba aku merasakan perasaan yang dinamakan cinta kepada seseorang, bagaimana pendapatmu?"

"Kau sedang jatuh cinta?"

"Tidak. Hanya bertanya. Kalau aku sedang jatuh cinta, untuk apa aku menanyakan hal itu padamu?"

"Oh, begitu. Ya, itu artinya kau normal."

"Hanya itu?"

"Kau ingin aku berkomentar apa lagi, eh?"

"Bagaimana kalau orang yang dimaksud adalah kau?" Pertanyaan Shinichi yang satu ini membuat Ran tertegun.

'Pasti Shinichi sedang bercanda,' pikir Ran.

"Ya... tergantung. Kalau aku mencintaimu juga, ya aku akan menerimamu. Kalau tidak, ya begitulah... Memangnya kenapa? Lagipula, untuk saat ini aku sudah punya pacar."

"Jangan salah sangka dulu, lho! Aku hanya bertanya saja. Oh begitu, sekarang kita kan sahabat. Jadi, aku bisa meminta pendapatmu kapanpun aku mau, kan?"

"Asal pada waktunya."

"Tentu saja. Hey, ini sudah malam. Kau belum mau pulang?"

"Kau sendiri? Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri."

"Hah, jadi kau menyuruhku pulang? Temani aku dulu saja. Aku masih bosan dengan istana."

"Oke!"

Tsuzuku

Waduh, apaan lagi ini? Maaf kalo gaje, ya. Boleh minta reviewnya, kan?

Review

I

I

V