Disclaimer : Naruto - Masashi Kishimoto


LOVE & CAREER

Chapter 4

Always Look Bad


Sakura POV

Aku melihat pantulan tubuhku dicermin kamar mandiku. Tidak ada sehelai benang yang melekat ditubuhku. Aku memperhatikan setiap detail tubuhku. Bentuk pinggang, pinggul, bokong, kedua pahaku dan kakiku yang jenjang. Rasanya ada yang kurang Dari tubuhku.

"Sepertinya Karin benar. Payudaraku terlihat tidak menarik. Begitu datar dan lesu." Aku memegang kedua payudaraku. "Bagaimana cara membesarkannya ya, sebaiknya aku tanya Ino saja nanti." Aku masih fokus memandang payudaraku yang terpantul dari embun cermin tersebut. Aku terlihat konyol hanya karena payudara.

"Sakura! Cepatlah! Kita akan terlambat!" Itu teriakan Sasori, Kakakku. Hari ini kami akan pergi ke Rumah Sakit. Kakak mengajakku kesana. Aku tidak tahu siapa yang akan dijenguknya.

.

"Ko-no-ha-hos-pi-tal," aku mengeja tulisan yang cukup besar itu. "Kita akan menjenguk siapa, Kak?" Tanyaku penasaran.

"Seseorang ingin bertemu denganmu. Aku akan pergi ke Singapore besok. Mungkin aku akan seminggu disana. Jadi lebih baik aku mengajakmu sekarang." Jawabnya. Matanya melirik kesana kemari mencari lokasi parkir kosong. Akhirnya, kami menemukan parkir yang kosong.

Kami berdua masuk kedalam rumah sakit. Aroma rumah sakit begitu khas di indera penciumanku. Kami berjalan dilorong yang cukup panjang. Beberapa perawat dan pengunjung lalu lalang diantara kami. Kami berhenti didepan kamar dengan nomor 217. SHION, itu adalah nama yang tertulis dibawah nomor tersebut. Aku merasa tidak mengenal nama itu.

Clek!

"Ah! Sasori! Kenapa datang tiba-tiba! Ah... Wigku berantakan!" Teriak seseorang didalam sana. Aku mengekori kakak yang sudah masuk duluan. Terlihat didalam ruang itu ada seorang pasien yang sedang memperbaiki wignya. Wajahnya sedikit pucat tapi dia sangat cantik. Aku sempat terpaku melihatnya. Mungkin dia seumuran denganku.

"Maaf," kakak tersenyum begitu hangat. Kakak mengecup kening wanita itu. Ini pertama kalinya aku melihat kakak terasa begitu berbeda. Ah, jangan-jangan wanita itu...

"Kali ini Anyelir putih. Cinta yang murni, benar kan?" Ucap wanita itu saat melihat Sasori mengganti bunga yang lama dengan bunga Anyelir yang dibawanya di vas.

"Hn." Ada sedikit semburat merah dipipi kakak. Kakak, kau terlihat begitu berbeda dari biasanya.

"Kau Sakura, kan? Kemarilah! Kenapa mematung disana?" Aku menghampirinya. Dia memelukku dengan hangat. "Kau cantik sekali. Wajahmu seindah namamu." Dia menangkup wajahku. Aku tersenyum hangat padanya. Dia terlihat begitu senang.

"Haruno Sakura. Salam kenal." Aku memperkenalkan diriku.

"Panggil aku Shion. Ini pertama kalinya Sasori mengajakmu. Dari dulu aku ingin sekali bertemu denganmu. Tapi aku tidak punya waktu. Aku senang sekali melihatmu datang kesini. Ah, apa wigku berantakan?" Dia kelihatan sedikit panik.

"Tidak. Kau sangat cantik." Dia tersipu malu.

"Bagaimana imunoterapi-nya? Apa berjalan dengan baik? Kau tidak mengalami efek samping kan?" Suara Sasori sedikit khawatir. Aku melihatnya menggenggam telapak tangan Shion.

"Hn. Semua berjalan dengan baik. Dokter bilang kondisiku semakin baik." Shion meletakkan telapak tangannya di pipi Sasori. Apa dia kekasih kakak? Apa dia menderita penyakit tertentu?

"Ibumu kemana?"

"Dia pulang sebentar. Nanti akan kembali kesini lagi." Senyuman terukir diwajahnya.

"Hn."

"Sakura..." Shion menyadarkanku yang sedang termenung.

"Hmm..."

"Aku pikir rambutmu akan merah seperti kakakmu. Ternyata tidak. Merah muda seperti bunga Sakura. Rambut yang indah. Melihat rambutmu, aku jadi semakin bersemangat untuk cepat sembuh, keluar dari rumah sakit dan memanjangkan rambutku lagi." Walau sakit, dia terlihat begitu ceria. Sasori terlihat tersenyum melihat tingkahnya.

"Ya! Cepatlah sembuh dan panjangkan rambutmu! Nanti kita bisa berfoto bersama dan memamerkan rambut bagus kita." Aku memberikan semangat padanya. Dia terlihat bahagia. Manis sekali. "Hmm... Apa kau kekasih Sasori?" Tanyaku polos.

"Hahahaha! Dasar Sasori bodoh! Apa kau tidak pernah mengatakan pada adikmu?!" Dia mencubit gemas pipi kakak. "Kau pasti sudah tahu jawabanku, kan?" Dia menyengir singkat. Menampilkan deretan giginya yang tertata rapi.

"Benarkah? Kakak tidak pernah mengatakan padaku! Dia sok misterius!" Mataku berbinar-binar. Ternyata benar, dia kekasih kakak.

"Sakuraa..." Sahut kakak sedikit malu.

Kami bertiga bercengkrama bersama. Aku mengupas buah apel untuk Shion. Dia sangat menyukai apel. Sesekali aku lirik kakak yang sedang mengobrol dengan Shion. Tidak dapat kugambarkan ekspresinya. Ada khawatir, senang, dan juga malu. Bukan Sasori yang seperti biasanya.

.

"Jadi kau tidak datang ke acara Naruto waktu itu karena dia?" Tanyaku pada kakak. Kami sudah keluar dari ruang inap Shion.

"Hn. Aku harus terus mendukungnya," Jawab kakak dengan optimis.

"Aku ingin menjenguknya lagi. Dia orang yang ceria. Aku menyukainya."

"Tentu saja. Kau bisa menjenguknya kapan saja."

"Dia sakit apa?" Aku penasaran.

"Kanker payudara." Langkahku berhenti. Aku kaget mendengarnya. "Tenang saja. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Dokter bilang dia punya semangat hidup yang kuat. Bahkan dia hampir berhasil mengalahkan kankernya. Sebentar lagi pasti dia akan sembuh total." Kakak mengacak rambutku. Sepertinya kakak yang sudah memberikan semangat penuh padanya. Kakak orang yang hebat. Aku tersenyum lebar padanya. Aku lalu menggandeng lengannya.

"Kau benar-benar menyukainya?" Aku tersenyum jahil.

"Apa aku harus menjawabnya?" Kakak memalingkan wajahnya. Kelihatannya dia malu. Ah, Manisnya...

"Hihihi..." Aku tertawa kecil.

"Oh iya. Aku baru ingat sesuatu. Sejak kapan kau dekat dengan Sasuke? Apa aku melewatkan sesuatu?" Aku langsung tersenyum kecut mendengar pertanyaan kakak. Aku jadi teringat kejadian bodoh di rumah Naruto.

"Aah... Kau salah paham, Kak. Aku sama sekali tidak dekat dengannya ." Aku mencoba meyakinkan kakak.

"Kau tidur dengannya di sofa. Apa itu tidak dekat namanya?" Dia menautkan sebelah alisnya.

"Ah... Itu... Hmm... Naruto membuatku cukup stress. Aku meminum banyak wine. Aku bahkan tidak sadar jika tidur dibahunya." Aku menampilkan deretan gigiku. Jangan tanya lagi, jangan tanya lagi. Kumohon...

"Kalian berciuman?" Langkah kakiku langsung berhenti.

"Apaaa?! Siapa yang bilang?!" Aku meremas rambutku kuat. Pasti Naruto yang bilang. Awas saja! Beraninya dia membocorkan hal tabu itu kepada kakak!

"Aku melihat fotomu berciuman dengannya." Muka kakak dibuat polos.

"Kakaaakkk... Kau percaya begitu saja? Naruto mengerjai kita. Siapa juga yang mau berciuman dengannya." Aku mengalihkan pandanganku, ada sedikit semburat merah di bawah mataku. Kakak tersenyum jahil.

"Apa kau sedang melanggar prinsip yang sudah kau buat?" Kakak membahas prinsip sepuluh tahunku.

"Aku sama sekali tidak melanggarnya. Aku sudah bilang, kan. Itu semua ulah Naruto."

"Kau tahu, dia orang yang sama denganmu." Kakak menjitak kepalaku pelan. Meninggalkanku yang sedang mengusap-usap kepalaku.

Orang yang sama denganku?

.

"Sakura. Ini untukmu." Wanita berambut ungu memberikan sebuah undangan untukku.

"Anko-san! Kau sudah kembali? Ini untukku?" Aku mengambil sebuah undangan dari tangannya.

"Ya. Seperti yang kau lihat." Anko adalah ahli pola disini. Dia sangat menguasai berbagai jenis pola. Tapi dia sangat buruk dalam mendesain. Karena itu, dia lebih mencintai pola daripada desain. Dia sudah cukup lama bekerja bersama Deidara-san.

"Super Tsunade 65!... Senpou Tokyo... Dresscode black and sexy..." Aku membaca undangan tersebut. Oh, ternyata undangan pesta ulang tahun Tsunade-sama, pemimpin redaksi dari majalah Norche.

"Apa kau diundang juga?" Tanyaku padanya.

"Tentu. Tapi aku tidak bisa datang. Aku harus kerumah mertuaku. Ada acara makan malam bersama." Dia menggidikkan kedua bahunya.

"Hei, bagaimana liburan bulan madumu? Apa menyenangkan?" Aku melipat kembali undangan tersebut.

"Pertanyaanmu polos sekali. Apa yang orang dewasa lakukan tentu saja begitu nikmat." Dia tersenyum menggoda. "Kau harus segera menikah jika kau ingin tahu apakah rasanya menyenangkan atau tidak. Hahaha." Dia menepuk-nepuk bahuku.

"Menikah? Tidak tidak... Aku tidak ada waktu untuk memikirkan itu." Aku menyilangkan kedua tanganku. Prinsipku sudah bulat. Tidak ada pernikahan. Itu hanya akan mengganggu proses karirku.

"Kau akan memikirkannya setelah kau jatuh cinta." Anko-san mengacak rambutku.

Tidak ada kata jatuh cinta.

.

Malam ini aku menghadiri pesta ulang tahun Tsunade-sama. Sesuai dengan perintah dresscode yang tertera dalam undangan tersebut, aku memakai dress hitam pendek yang seksi. Dress-ku lumayan terbuka. Seluruh bagian punggungku terbuka hingga mendekati tulang bawah punggungku. belahan dadaku juga terlihat, bahkan lengkungan samping bawah payudaraku juga sedikit terlihat. Jika diperhatikan baik-baik, puting payudaraku sedikit timbul. Ada belahan sekitar 5 inchi di kedua samping pahaku. Ya Tuhan, pakaian apa yang sedang aku pakai.

Aku berjalan memasuki sebuah gedung yang cukup besar. Itu adalah Senpou Tokyo. Sebuah restorant and nightclub yang cukup ternama di Tokyo. Suara musik malam bergema keras diruangan tersebut. Sepertinya Tsunade-sama menyewa gedung itu untuk malam ini.

"Hai, gadis nakal!" Ino mencolek payudara sampingku.

"Ino. Kau mesum!" Ino memakai dress dengan banyak potongan terbuka. Sangat sexy!

"Hai, Sakura! Kau terlihat cantik dan nakal!" Wanita bernama Yugao memelukku. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.

"Apa kau akan menjadi penari tiang hari ini?" Goda seseorang berambut merah. Dia adalah Mei.

"Kalian senang sekali mengodaku." Ucapku sedikit galak pada mereka.

"Lihat! Puting payudaramu sedikit timbul! Kau mulai berani sekarang! Hahaha..." Goda Ino. Matanya sangat dekat dengan payudaraku. Ya Tuhan, dia benar-benar memperhatikan payudaraku.

"Oh ayolah! Aku hanya melakukan apa yang dresscode katakan." Aku membela diriku. Tentu saja aku tidak akan memakai dress seperti ini kalau bukan karena dresscode itu.

"Ayo foto bersama! Pose wanita jalang!" Ino terlihat begitu semangat. Dia mengambil ponsel silver-nya didalam tas kecil.

"Yeah! We are bitches!" sahut Mei dengan nada suara yang tinggi. Aku tersenyum geli melihat mereka. Kami mengambil beberapa foto. Ada foto dengan menjulurkan lidah, berpose seakan ingin disentuh pria dan sebagainya.

Pesta ulang tahun Tsunade-sama pun dimulai. Musik klub tiba-tiba berubah menjadi lagu Ulang Tahun. Terlihat dipanggung satu persatu wanita berpakaian lingerie naik keatas panggung dengan membawa huruf yang cukup besar. Mereka bergoyang-goyang ria. Huruf yang masing-masing mereka bawa itu membentuk tulisan Happy Birthday Super Tsunade 65. Satu wanita terlihat naik sambil mendorong kue ulang tahun yang cukup besar.

Tsunade-sama muncul diatas panggung dan mengucapkan banyak terima kasih kepada para pengunjung. Seisi pengunjung bersorak ria meneriakkan ucapan selamat ulang tahun padanya. Mereka bertepuk tangan dan juga bersiul. Diusianya yang sudah menginjak umur 65 tahun itu, dia terlihat masih sangat muda. Bahkan wajahnya masih terlihat seperti wanita berumur 30 tahun. Sangat cantik. Apa resep yang digunakannya sehingga awet muda?

Aku melihat Tsunade-sama sedang mengobrol dengan Deidara-san. Mereka seperti saling bersulang satu sama lainnya. Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Aku dan Ino menghampiri mereka bedua.

"Selamat ulang tahun, Tsunade-sama!" Aku mencium pipi kanan dan kirinya.

"Terima kasih, Sakura. Sepertinya dresscode-ku berhasil ditubuhmu." Tsunade-sama mengomentari pakaianku. Dia mengedipkan salah satu bola matanya. Wajah menggoda. Aku tersipu malu ditatapnya.

"Sakura, Kau terlihat sangat berbeda. Dress yang indah! Lengkukan tubuhmu terekspos sempurna. Punggung yang bagus. Ah sepertinya dadamu sudah oke. Hanya kurang sedikit saja. Kau bisa tanyakan pada Tsunade bagaimana membentuk dada yang indah. Hahaha... Aku beri kau nilai 89 untuk malam ini." Deidara mengomentari gaya pakaianku hari ini.

"Hahaha... Kau bisa saja. Butuh kesabaran untuk menghasilkan dada yang indah." tsunade-sama terkekeh mendengar ucapan Deidara-san.

"Ah terima kasih, Deidara-san." Aku tersipu malu.

"Kapan kau membuat dress ini?" Tanyanya lagi.

"Ah, ini dress yang aku buat untuk melengkapi tugas kuliahku dulu."

"Benarkah? Desain yang bagus! Jahitannya sangat rapi! Kau sungguh berbakat." Dia mengacungkan ibu jarinya. "Hei, jangan lupa bawa buku Draping titipanku besok," Ucapnya lagi. Ah, benar. Kemarin aku lupa membawa buku yang dibutuhkannya.

"Baiklah. Besok akan kubawa."

"Kau masih terlihat cantik walau usiamu sudah lebih dari setengah abad. Selamat ulang tahun, Tsunade-san." Aku mengenal suara itu. Seseorang dari belakangku menghampiri Tsunade-sama. Dia memeluk hangat Tsunade-sama. Aku terpaku melihatnya. Kenapa dia juga datang? Ah benar. Orang tuanya kan pemilik klub ini.

Pria itu melirikku sekilas. Aku segera menarik tangan Ino meninggalkan pria itu menuju tempat yang aman. Aku memilih area bar untuk menikmati minuman. Minuman bisa membuatku tenang. Sangat tidak baik menghadapinya sekarang. Ah, Aku harus mencari bahan lain agar pikiranku tenang. Aku menatap payudara Ino. Ah! Benar!

"Hei, Ino. Bagaimana cara membesarkan payudara?" Bisikku pelan. Aku benar-benar konyol.

"Hah? Kau menanyakan payudara?!" Ino berteriak kaget. Aku langsung menutup mulutnya. Untung saja suara musik begitu keras. Kalau tidak mungkin orang-orang sudah menertawakanku.

"Hei, jangan berteriak! Kau membuatku malu." Aku sedikit panik.

"Hahaha... Pertanyaanmu konyol sekali. Apa itu efek dicium pria itu? Tumben sekali kau menanyakan hal seperti itu." Ino meneguk minumannya. Dia menertawakanku.

"Bukan. Bukan! Tidak ada hubungannya dengan dia. Jangan bahas itu. Itu kan hanya insiden." Aku mengerucutkan bibirku.

"Bagaimana rasanya?" Ino masih saja membahas itu.

"Rasanya seperti di neraka!" Jawabku asal.

"Benar kah? Apa begitu nikmat seperti letupan api neraka?"

"Ino! Aku tadi menanyakan tentang payudara. Kenapa kau malah membahas kejadian itu." Aku tidak terima.

"Hahaha... Sakura! Kau lugu sekali! Baiklah. Kau punya dua buah mangkuk?"

"Hm." Aku mengangguk.

"Kau taruh mangkuk itu di kedua payudaramu. Lalu, kau putar-putar seperti ini." Ino memperagakan caranya. Dia memegang kedua payudaranya.

"Terlihat konyol. Apa itu benar-benar efektif?" Aku sepertinya mulai percaya ucapan Ino.

"Kau lihat payudaraku. Ini hasil dari mangkuk itu." Dia membusungkan payudaranya. Memamerkan padaku. Aku memperhatikan secara detail. Mungkin Ino benar. Konyol tapi efektif. Aku mengacungkan kedua jempolku sebagai tanda aku meng-iyakan ucapannya.

"Hei. Aku ingin berjoget disana. Kau mau ikut?" Ino meletakkan gelas koktailnya.

"Tidak. Aku disini saja. Aku masih ingin menikmati koktail." Aku menolaknya.

"Baiklah. Aku kesana dulu! Jika ada pria tampan yang mendekatimu, kau ladeni saja." Bisik Ino sebelum pergi meninggalkanku sendirian yang duduk disini.

Aku melihat ke seluruh penjuru ruangan. Sepertinya aku berhasil kabur dari pria itu. Dia sudah tidak terlihat lagi. Aku melihat banyak sekali pengunjung yang sedang menikmati nuansa musik malam. Mereka bergoyang dan tertawa. Ya, suasana klub malam yang indah. Aku memutar kursiku dan menikmati aroma koktail disini.

"Sexy, seperti bukan dirimu." Suara yang berbeda. Tanpa melihatnya aku tahu itu dia. Aku tidak tahu dia berhasil menemukanku. Aku kira aku sudah aman. Aku menghelakan nafasku. Ya, aku harus menghadapinya.

"Kau juga seperti bukan dirimu." Aku menoleh kearahnya. Dia duduk disampingku, memesan segelas martini, Rob Roy, salah satu koktail klasik.

"Punggung yang indah." Dia memperhatikan kulit punggungku. Aku sadar, dress-ku terlalu terbuka.

"Terima kasih," jawabku.

"Obrolan terakhir kita bukan sesuatu yang penting dirumah Naruto." Ada sedikit seringai di wajahnya. Aku diam sejenak. Kuteguk koktail berwarna sunset milikku.

"Apa kita harus mempunyai bahan pembicaraan yang penting?" Aku ikut berseringai licik. Koktail yang kuminum, membuat kepribadianku menjadi berbeda.

"Tentang masa lalu yang kau hindari." Dia langsung ke topik pembicaraan.

"Apa ada sesuatu yang salah dengan masa laluku?"

"Apa yang kau katakan didepan mereka waktu itu sungguh bertolakbelakang. Apa itu sejenis balas dendam untukku?"

"Kau keberatan?"

"Gaya bicaramu berbeda dari biasanya. Tidak kekanak-kanakan seperti di rumah Naruto waktu itu?"

"Ada saatnya aku menggunakan kepribadian lain." Aku tersenyum sinis. Aku memanggil bartender. Kuminta lagi segelas French Martini. Aku butuh minuman itu untuk menghadapinya.

"Apa gaya pakaianmu mempengaruhi gaya bicaramu?"

"Tentu saja."

"Kau benar-benar menutup hatimu. Bahkan kepada seseorang yang dulu begitu kau kejar."

"Apa aku harus membukanya?"

"Atau kau berencana membukanya untuk orang yang menciummu waktu itu?" Oh, dia menanyakan tentang Sasuke.

"Tidak."

"Waktu itu wajahmu bersemu merah."

"Kau ahli membaca air wajah seseorang." Aku menahan senyumku.

"Kau mudah ditebak."

"Sayangnya kali ini tebakanmu salah."

"Bagaimana jika itu aku, bukan Sasuke? Apa tebakanku kali ini salah juga?" Eh, Dia mulai berandai-andai.

"Ya. Tetap salah."

"Kau tahu, perasaan seseorang bisa berubah. Bahkan ketika kau bertolak ke London." Aku menoleh ke arahnya. Apa aku tidak salah dengar? Apa itu sejenis penyesalannya?

"Apa kau sedang berbicara pada diriku yang masih berusia 14 tahun? Sayangnya aku berusia 25 tahun sekarang." Kuberikan sebuah senyuman kecil kepadanya.

"Rasanya sesuatu sedang menarik perhatianku. Apa pembatas buku yang robek itu masih bisa diperbaiki?" Oh, dia membahas pembatas buku yang pernah aku robek dulu.

"Apa itu sejenis pelarian untuk melupakan mantanmu?"

"Sama sekali tidak." Dia mengatakannya penuh percaya diri.

"Sayangnya aku tidak tertarik padamu." Indra penglihatanku melirik kearahnya. Meyakinkan dia bahwa aku tidak berbohong.

"Kalau begitu kenapa kau terpaku melihatku waktu itu?" Oh, dia tahu.

"Apa aku harus menjawabnya?"

"Tidak perlu." Dia sedikit terkekeh. Dia meneguk koktailnya. Minuman yang mengandung scotch whisky itu sudah habis. Dia berdiri. Mendekati wajahku. Sebuah kecupan ringan tertempel dipipiku, sangat dekat dengan bibirku. "Itu sesuatu yang kau inginkan dulu, bukan?" Bisiknya.

"Gaara..." Aku menyebut namanya. Aku kaget dia mengecupku.

"Setelah 11 tahun, akhirnya kau memanggil namaku lagi." Dia terlihat puas. Tangannya mengacak-acak rambutku. Dia berlalu melewatiku. Aromanya menghilang diantara kerumunan penikmat dunia malam. Jemariku masih meraba bekas kecupannya tadi. Apa segelas koktail merubahnya dalam sekejap?

Rasanya aku sedikit kepanasan. Ini bukan sepertiku. Menghadapinya sama seperti menghadapi dosen penguji. Aku butuh kipas atau apapun yang menyejukkan. Gerah sekali!

"Hei, kau punya kipas kecil atau apapun itu? Batu es juga tak masalah." Tanyaku pada seorang bartender.

"Aku rasa pakaianmu sudah cukup terbuka, Nona. Apa kau masih gerah?" Pemuda itu tersenyum geli.

"Kau mencoba menggodaku? Kalau bukan karena dresscode, aku tidak akan memakai pakaian seperti ini." Ah, akhirnya gaya bicaraku kembali normal.

.

Udara dingin malam menyeruak masuk kedalam mobilku. Tidak sedingin musim dingin. Diluar jalanan terlihat sepi. Makhluk Tokyo sepertinya telah lelah. Kulihat jam di dashboard mobilku sudah menunjukkan pukul 11.57 PM. Tiga menit lagi berganti hari. Sebuah lagu milik seorang diva legendaris menemani kesendirianku. Listen, I am alone at a crossroad. Jemariku menyisir kebelakang mahkota milikku. Pandanganku lurus kedepan. Now I'm done believing you. Lirik yang sempurna. Aku tersenyum kecut. Tadi dia menciumku. Walau hanya dipipi tetap saja ciuman. Ada apa dengannya? Apa itu sebuah karma?

Ck! Aku lupa mampir ke perpustakaan. Ada buku yang harus kuambil. Draping book. Deidara-san membutuhkannya untuk penyempurnaan design-nya. Aku tidak ada waktu untuk datang ke perpustakaan besok pagi. Aku akan ambil larut malam ini juga. Mobilku berputar arah. Aku melewati Yoyogi Park. Akhirnya aku sampai. Perpustakaan nenekku berada disudut perempatan jalan. Aku harus mencari tempat parkir untuk mobilku. Aku menemukannya sekitar 50 meter dari perpustakaan nenekku.

Hawa dingin membuat bulu kudukku berdiri. Ah, aku melupakan jaketku. Aku berjalan di tortoar dengan pakaian yang sangat terbuka. Area pejalan kaki cukup sepi. Hanya sesekali orang berlalu melewatiku. Angin malam menyapu punggung dan pahaku. Aku sedikit menggigil. Aku harus cepat-cepat sampai.

Aku melewati dua orang pria yang sedang duduk dipinggir trotoar. Seketika bau alkohol tercium olehku. Sungguh menyengat. Aku menutup kedua hidungku dan berusaha menghindari mereka. Kedua pria itu menatapku dengan wajah mesum. Salah satunya berdiri dan meraba punggungku. Menjijikkan! Aku berjalan dengan cepat. Mereka mengikutiku.

"Hai, Nona. Mau aku temanin." Tangannya mencoba menggapai tanganku. Aku diam dan mempercepat langkahku. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku harus waspada.

Grab! Salah satunya memegang tangan kiriku. Sial! Aku benci mereka.

"Sombong sekali kau! Hahaha" Wajahnya berbicara sangat dekat denganku. Mencoba menciumku. Bau alkohol yang menjijikkan. Tolong aku! Aku takut. Aku melepas paksa tanganku. Sangat sulit sekali! Aku sangat takut! Akhirnya aku berhasil melepaskan tangan kotor itu.

Aku berlari sekecang mungkin. Aku menoleh kebelakang, Mereka mengikutiku. Aku benar-benar takut. Tolong aku! Aku mohon. Nafasku tersengal-sengal. Akh! Aku terjatuh. Heels ini sungguh menggangguku. Aku secepat mungkin berdiri. Sakit! Lututku luka dan memar. Air mata mengalir sudut mataku. Aku melongok kebelakang. Mereka masih mengikutiku dengan tawa menjijikan.

Aku berhasil sampai di perpustakaan. Tanganku yang bergetar mengambil kunci didalam tasku. Nafasku berderu hebat. Aku takut. Akhirnya aku berhasil membuka pintu itu. Aku langsung masuk. Brak! Aku tutup dengan sangat keras.

Krek! Krek! Krek! Knop pintuku bergerak. Apa mereka masih mengikutiku. Siapapun tolong aku! Aku segera bersembunyi dibawah meja resepsionis. Aku mengambil ponselku. Nama Sasori langsung menjadi tujuanku.

"Kakak.. To-tolong a-a-ku!" Suaraku tersendat-sendat. Akhirnya aku menangis.

"Sakura! Kau dimana?!" Sasori terdengar panik sekali.

"Per-perputakaan... Dua orang mengikutiku. Aku takut. Aku takut, kak! Kakak tolong akuuu!" Aku memohon padanya. Air mataku mengalir deras.

"Aku akan mengirim seseorang. Kau bertahanlah sebentar." Kakak menutup telponnya.

Krek! Krek! Krek! Sial! Mereka belum pergi juga. Aku menutup kedua telingaku. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku masih meringkik ketakutan dibawah kaki meja. Pikiranku benar-benar kalut. Aku menangis terisak-isak. Kakak...

Sudah setengah jam berlalu sejak suara kenop pintu itu. Aku masih tidak mau beranjak dari kolong meja. Lantai dikolong meja itu masih dihiasi bekas tetesan air mataku. Badanku menggigil. Baju ini benar-benar membuatku sial. Aku meremas rambutku yang sudah acak-acakan.

Tok! Tok! Tok! Siapa itu? Aku mengintip dari bawah kolong meja. Apa pria-pria brengsek itu masih menungguku. Aku menggigit-gigit jemariku.

"Sakura. Ini aku. Buka pintunya!" Seseorang dari luar sana berteriak. Aku membulatkan kedua bola mataku. Nafasku yang tersengal-sengal berhenti sejenak. Aku tidak tahu siapa yang berada diluar. Yang penting adalah dia memanggil namaku. Aku berlari menuju pintu itu. Memutar kenopnya. Bruk! Aku langsung memeluk orang itu tanpa melihat wajahnya. Aku benar-benar merasa lemah. Aku butuh perlindungan.

"Sakura... Kau baik-baik saja?" Tanyanya. Rasanya aku mengenal suaranya. Aku tidak peduli siapa dia. Aku tidak mendongakkan kepalaku keatas untuk mengetahui siapa dia. Aku hanya ingin memeluknya. Aku ingin menghilangkan rasa takutku. Aku memeluk erat tubuhnya. Tanganku yang masih bergetar meremas kuat bajunya. Air mataku masih mengalir.

"A-a-aku takut... Aku takut!" Teriakku dengan tangisan kencang. Aku membenamkan kepalaku didadanya. Aku merasakan tangannya menyentuh punggungku. Dia membalas pelukanku. Dia mencoba menenangku dengan mengelus kulit punggungku. Satu tangannya mendekap kepala belakangku. Sesekali dielusnya. Hatiku benar-benar merasa lega.

Aku merasa sedikit lebih baik. Aku penasaran. Siapa yang aku peluk. Rasanya aku mengenal aroma tubuh ini. Sama seperti di rumah Naruto.

"Sa-sasuke?" Aku terkejut saat mendongakkan kepalaku keatas. Benar! Aku mengenalnya. Aku melihat wajah tenangnya yang juga menatapku. Segera kulepas pelukanku. Dia memberikan sedikit senyuman hangat. Bukan, itu senyuman khawatir.

"Kau sudah merasa baikan?" Tanyanya. Ada sedikit kekhawatiran dari suaranya. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak menyangka kakak akan mengirimkan Sasuke.

"Apa mereka masih ada disini?" Tanyaku pelan. Pandanganku kualihkan pada meja resepsionis.

"Tidak ada siapapun diluar." Ah, syukurlah mereka sudah pergi. Aku menghelakan nafasku.

"Kau jangan berpakaian seperti itu lagi. Pantas saja mereka mengikutimu" Dia seperti sedikit marah padaku. Dia melihat penampilanku. Ah, bodohnya aku! Bajuku benar-benar terbuka.

"Maafkan aku," jawabku pelan. Aku mengelus kedua lenganku yang sedang kedinginan.

"Aku akan mengantarmu pulang. Mana kunci mobilmu?" Dia melepaskan jaketnya dan menutupi kulit punggungku. Aku merasa malu. Aku seperti wanita jalang. Dia menungguku didepan pintu. Aku segera mengambil tasku yang ada dibawah meja. Buku Draping titipan Deidara-san juga kuambil. Kunci mobil yang ada ditasku segera aku berikan padanya.

"Dimana mobilmu?" Tanyanya setelah aku mengunci pintu perpustakaan nenek.

"Disana, yang warna putih." Aku menunjukkan arah mobilku.

Dia berjalan didepanku. Aku mengikuti dibelakangnya. Sangat dekat. Aku masih trauma. Aku merasa tidak nyaman. Jantungku masih berteriak waspada. Aku menoleh kearah punggungnya. Tanganku dengan sendirinya menarik kausnya dan membiarkan menggantung disana. Dia berhenti sejenak. Dia menoleh kearahku. Menatapku heran.

"Maaf." Aku melepaskan tanganku dari ujung bajunya. Mungkin dia risih. Aku menunduk kebawah. Menatap jemari kakiku.

"Kau masih takut?" Sasuke melihat kearahku.

"Hm." Aku mengangguk pelan.

"Aku ada disini." Dia menggapai pergelangan tangan kananku dan mengenggamnya. "Ayo kita pulang." Dia menarik pelan tanganku. Aku sedikit lega. Ternyata dia orang yang baik.

Dia ada disebelahku. Aku melirik kearahnya. Jari tangan kananku menggantung di ujung lengan kausnya, seolah menggenggam pergelangan tangannya. Aku tidak peduli dia sedang sibuk menyetir atau tidak. Aku merasa nyaman saat seperti ini. Dia melirikku sekilas, dan membiarkan jemariku yang menggantung itu. Kami tidak berbicara sama sekali sepanjang perjalanan menuju rumahku.

Setengah jam dalam perjalanan yang hening ini, akhirnya kami sampai. Dia meminta kunci pagarku. sebelum turun dari mobil, dia mengacak rambutku. Tanganku terlepas dari ujung kausnya. Dia membuka pintu pagarku dan kembali masuk ke mobil. Mobilku sudah terparkir dihalaman. Dia turun duluan dari mobilku, lalu dia membuka pintu disebelahku.

"Ayo turun." Ajaknya begitu lembut. Tidak ada senyuman ataupun wajah kesal darinya. Begitu datar. Dia menarik tanganku. Aku bisa merasakan tangan yang dingin. Aku mengikutinya.

Jam dinding menunjukkan pukul 01.20 PM. Aku masih memakai jaketnya. Rasanya aroma Sasuke menyelimuti tubuhku. Saat ini aku sedang duduk di ruang tamu bersamanya. Sasuke sedang mengobati kakiku yang terluka. Kedua kakiku berada dipangkuannya. Dia memperlakukan kakiku dengan lembut. Semburat merah bersemi diwajahku. Aku begitu malu.

"Aaahh... Sakit sekali... Ssshh...," rintihku kesakitan saat Sasuke membersihkan lukaku dengan alkohol. Bola mata hitamnya melirik kearahku seakan berkata cepat selesaikan ini. Aku tersenyum kecut. Hei, Itu benar-benar Sakit. Dia mengoleskan obat merah dilukaku. Aku merintih kesakitan lagi.

Nada dering dari ponsel Sasuke berbunyi. Aku melihatnya, dia menjawab panggilan tersebut. Sesekali dia melirikku saat menjawab pertanyaan dari seseorang yang menelponnya. Aku tahu. Itu pasti kakak. Aku merasa sudah merepotkan mereka. Dengan berat hati, kuteguk segelas kopi hangat.

"Apa Kakak menelponmu?" Tanyaku setelah dia menutup teleponnya.

"Hn." Dia menyandarkan punggungnya di sofa.

"Apa kakak yang menyuruhmu datang menjemputku?"

"Hn."

"Ka-kau tidak mengatakan hal yang aneh kan? Mi-misalnya... Hmm... Tentang ba-bajuku," tanyaku terbata-bata. Aku alihkan indera penglihatanku kearah kakiku yang sudah turun dari pangkuannya. Kakak pasti akan marah jika bajuku yang menyebabkan pria mesum itu mengikutiku. Aku menepuk jidatku yang lebar. Aku merasa begitu bodoh.

"Tidak." Dia menatap tajam kearahku. Sepertinya sedang memperhatikan bajuku. Ah! Aku baru sadar. Puting payudaraku sedikit timbul. Dress apa yang sedang aku pakai sekarang?! Aku lalu berlari menuju kamarku. Tidak peduli pada kakiku yang sedang sakit. Aku Meninggalkan Sasuke sendirian diruang tamu. Aku mengganti bajuku dengan kaus lengan panjang dan celana pendek. Kemudian aku turun dan duduk kembali disamping Sasuke.

"Ini jaketmu, terima kasih banyak." Aku mengembalikan jaket kulit miliknya.

"Kenapa kau ke perpustakaan tengah malam?" Nadanya jadi sedikit kesal. Hei, tadi dia terlihat lembut, kenapa jadi marah. Aku jadi tidak berani menatap wajahnya.

"Aku mengambil buku. Aku harus mengambilnya malam ini juga," Jawabku lesu.

"Lalu kau berjalan sendirian dengan pakaian seperti itu?" Dia mulai mengintrogasiku.

"Aku lupa membawa jaketku. Aku begitu bodoh. Aku sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau tidak datang." jawabku lirih.

"Kau harusnya lebih memperhatikan pakaianmu sebelum turun dari mobil. Kau itu wanita, kau harusnya sadar jika berjalan sendirian ditempat sepi. Kau mengundang pria-pria itu melakukan pelecehan terhadapmu. Kau benar-benar membuat Sasori begitu panik!" Dia sepertinya marah. Aku merasa begitu bodoh. Mataku menjadi merah lagi. Aku seakan ingin menangis lagi.

"Maafkan aku. Jangan marahin aku..." Air mataku membendung disudut-sudutnya. Aku meremas kuat ujung kausku.

"Sudahlah. Sebaiknya kau tidur, sudah sangat larut. Aku pulang dulu." Dia bangkit dari tempat duduk. Aku melihat kakinya berjalan melewatiku. Aku tidak mau dia meninggalkanku. Kumohon, jangan pergi. Aku berlari menghampirinya. Aku memeluknya dari belakang disaat dia hendak memutar kenop pintuku. Aku berhasil menghentikan langkahnya.

"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Tetaplah disini... Temani aku... Aku begitu tertekan..." Aku tidak dapat menahan air mataku. Kedua tanganku bergetar. Aku benar-benar tertekan. Aku takut sendirian. Tidak ada Sasori, tidak Nenek, Ibu dan juga Ayah. Aku butuh seseorang untuk menenangkanku.

"Sakura..."

"A-aku... Kenapa aku selalu terlihat buruk saat bersamamu. Sejak bertemu denganmu, kenapa aku begitu bodoh. Kenapa aku tidak pernah terlihat baik. Kenapa aku selalu menyusahkanmu... Sekali ini saja, aku mohon... temani aku. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi... Aku janji..." Aku menangis terisak-isak. Aku membuat punggungnya basah. Ini pertama kalinya aku menangis didepan orang yang baru aku kenal.

Dia melepaskan kedua tanganku yang sedang memeluknya. Apa dia akan pergi? Apa dia tidak mau menemaniku? Hatiku terenyuh. Tidak. Dia membalikkan tubuhnya. Dia memelukku. Dia mengelus kepala belakangku. Aku memeluknya begitu erat. Aku membenamkan wajahku didadanya. Tanganku masih bergetar.

"Tenanglah... Aku akan disini." Dia mencoba menenangkanku. Aku, kenapa aku harus menangis didepannya. Aku membuatnya kerepotan lagi. Cukup lama aku menangis dipelukannya hingga membuat mataku begitu berat. Mungkin aku mengantuk. Aku kelelahan. Kelopak mataku tertutup dengan sendirinya. Apa aku tertidur saat memeluknya?

.

Beep! Beep! Beep! Aku mematikan jam wekerku. Aku bangun dari tidurku dan menuju cermin. Mataku membengkak sempurna. Itu hasil dari tangisanku semalam. Ah! Aku baru sadar. Sasuke?! Apa dia sudah pulang? Aku menangis dipelukan Sasuke semalam. Mungkin Sasuke yang mengangkatku ke tempat tidur semalam. Aku segera turun lantai bawah sambil berlari kecil.

"Kau sudah bangun?" Aku melihat Sasuke sudah duduk dimeja makan. Didepannya sudah tersedia dua piring roti.

"Hn." Singkat seperti biasa.

"Apa ini untukku?" Aku melihat sebuah roti yang dihiasi dengan keju dan saus coklat diatasnya, bentuknya seperti wanita menangis. Dia mengangguk pelan. Aku tersenyum kecil melihat roti itu. Mengingatkanku pada kejadian semalam. Ternyata dia juga punya selera humor.

"Aku akan mengantarmu nanti. Kau mau pulang kerumah kan?" Tanyaku memecahkan keheningan.

"Aku akan ke kantor. Aku meninggalkan mobilku disana semalam."

"Apa kau menggunakan taksi kemarin?" Tebakku.

"Hn. Sasori bilang kau bawa mobil. Jadi, aku pakai taksi kemarin."

"Kau tidur dimana tadi malam?" Aku jadi tidak enak padanya.

"Di sofa."

"Maaf sudah merepotkanmu. Aku benar-benar menyusahkanmu." Ucapku lirih. Dia hanya diam menanggapi ucapanku. Kami melanjutkan sarapan pagi dengan hening.

.

"Kau bekerja disini?" Aku mengerem pelan mobilku dipinggir jalan. Disana terlihat sebuah gedung berwarna putih dengan paduan hijau tersebut.

"Hn." Dia membuka pintu mobilku.

"Hei, terima kasih banyak." Ucapku sebelum dia turun dari mobilku. Dia mengangguk pelan. Ada sedikit senyuman dibibirnya. Aku melihatnya keluar dari mobilku. Dia berjalan menuju gedung tersebut. Beberapa orang menyapanya begitu ramah. Ah, aku melupakan sesuatu. Aku segera turun dari mobilku, membiarkan pintu mobilku terbuka. Aku berlari mengejarnya.

"Tunggu!" Aku terengah-engah. Dia membalikkan badannya dan menatap heran kearahku. Aku mendekatinya. Tidak jauh. Jarak kami tidak sampai satu meter.

"Maukah kau menjadi temanku selamanya? Ah, Mungkin aku terlalu berlebihan." Aku menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal. Aku memintanya menjadi temanku. Dia orang yang sudah aku repotkan. Aku janji tidak akan merepotkannya lagi.

"Bukankah kau penggemarku." Ada seringai tipis diwajahnya.

"Bukan! Kau salah paham! Aku bukan penggemarmu!" Aku menyilangkan kedua tanganku. Aku murni 100% bukan penggemarnya. Dia seperti tidak percaya dengan ucapanku. "Hei, maukah kau jadi temanku?" Aku mengulangi pertanyaanku.

"Hn." dia meng-iyakan permintaanku. Sebuah senyuman mengembang diwajahku. Rasanya aku begitu senang.

"Haruno Sakura." Aku mengulurkan tangan kananku sebagai pembuka pertemanan.

"Uchiha Sasuke." Dia menerima uluran tanganku. Ada sedikit senyuman menghiasi wajahnya.

Sasuke, Dia benar-benar orang yang baik.

...

To be continued