Sebelumnya di Devil Ninja...
.
.
CRASSSHH...
"Arggghh..." Darah merembes dari tangan kiri Naruto yang saat ini telah putus dan tergeletak ditanah. Karlamine yang melihat serangan itu berhasil langsung menyerang Naruto membabi buta. Menghiraukan sakitnya, Naruto mencoba menghindar dan sesekali menangkis serangannya dengan tangan kanannya yang menjadi keras layaknya besi. Tak memperdulikan darah yang terus keluar dari tangannya. Ia langsung melompat dan salto kebelakang.
"Uggh Sial..." umpat Naruto sambil memegang tangan kirinya yang buntung. Lalu menatap waspada sisa dari Peerage Riser.
"Naruto-kun" sementara itu Rias, Sona, Akeno, minus Koneko menatap khawatir sosok pirang yang tengah menahan sakit itu. Itu bukanlah luka kecil, pertarungan ini bagaikan tempat hidup dan mati.
Naruto © Masashi Kishimoto
My Story
Naruto dan High School DxD beserta karakter dan ceritanya milik penciptanya masing-masing.
Warn : Gaje, Typo, OOC, OC, Lemon,Ecchi
Terdapat adegan yang tidak pantas dilihat untuk reader. So bagi kalian yang belum berumur 17+ keatas jangan membaca dan tekan tombol back sekarang. Arigatou
Let's go Happy Reading
.
~O~
"Jangan lengah ninja-kun" ucap Karlamine yang bersiap melakukan serangan lagi dengan pedangnya kearah Naruto. tak sedikit pun memberikan kesempatan lawannya untuk bergerak.
Naruto dengan cepat mengambil langkah kearah samping. Mencoba menghindari sabetan tersebut. Melemparkan beberapa kunai peledak kearah Karlamine yang dengan mudah ditangkis olehnya
"Kau terlalu meremehkanku ni..-
DUARRR...
Ledakan tercipta dari kunai Naruto menimbulkan asap tebal disekelilingnya. Para penonton memandang takjub pemuda pirang bernama Naruto ini minus Sirzechs yang tadinya sempat meragukan kekuatannya.
Naruto POV
"Heh belum pernah bertarung dengan ninja yah" ejek Naruto kepada anggota peerage Riser yang tersisa minus Riser yang menatap geram sosok Naruto. Serangan kejutan tadi dengan telak mengalahkan Karlamine. Sebuah keberuntungan lawannya menangkis kunai tadi daripada mencoba menghindar.
Kurangnya pengetahuan mereka terhadap ninja membuatku mendapatkan keuntungan. Jika mereka memakai otot maka aku dengan otak. Setidaknya salah satu dari mereka telah berkurang. Tapi kedepannya akan lebih sulit mengingat tangan kiriku yang sudah tidak ada sehingga tak dapat merapal jutsu.
WUSHH...
Pasukan orang-orang mati juga telah hilang karena keadaannya yang sekarang. Beban yang ditanggung ditubuhnya saat ini tak dapat mempertahankan jutsu terlarang itu lebih lama lagi.
.
.
.
Isabela dan Zuelan yang melihat Karlamine telah dikalahkan langsung melesat cepat kearah Naruto yang saat ini telah bersiaga. Dua pukulan dari arah yang berbeda dengan cepat mengarah kearah pemuda pirang itu. Naruto yang melihat itu terdiam sejenak lalu memandang Isabela dengan sebelah mata hitamnya.
SRINGG...
Darah segar keluar sedikit demi sedikit dari mata kirinya.
DEGG...
"RASAKAN INI..." teriak Isabela dan Zuelan bersamaan.
DUAKKK...
Mereka yang berada didepan layar minus Sirzechs melebarkan matanya tak terkecuali Rias dan yang lainnya. Pukulan dua arah dari bidak benteng Riser itu membuat tanah disekitar mereka retak.
Tapi yang membuat mereka semua terkejut adalah melihat dua bidak benteng Riser yang tergeletak didekat sosok Naruto yang tetap berdiri tegak dengan rambut pirangnya yang berkibar tertiup angin.
"A-Apa yang terjadi" ucap salah satu iblis.
"Tolong putarkan tayangannya lagi dengan efek Slowmotion" Perintah Tuan Phoenix selaku ayah Riser. Grayfia mengangguk setuju lalu memencet tombol Slow
.
.
Slowmotion : On
SRINGG...
DEGG...
"RASAKAN INI..." teriak Isabela dan Zuelan bersamaan menyerang sosok Naruto yang masih terdiam disana. Pergerakan mereka saat ini sangatlah lambat karena efek slow tadi sehingga dapat melihat apa yang terjadi sebenarnya.
"D-Dia B-Berpindah tempat" ucap Tuan Phoenix saat melihat detik-detik Naruto yang hampir terkena pukulan itu. Saat itu, bagaikan menembus dimensi tubuh Naruto sudah bertukar dengan tubuh Isabela yang membuat Zuelan tidak dapat menghentikan serangannya
DUAKKK...
Keduanya memukul dirinya masing-masing dan terkapar tak sadarkan diri disamping tubuh Naruto yang telah berpindah tempat
Slowmotion : Off
.
.
"R-Rias sebenarnya siapa dia" ucap Sirzechs melihat sosok Naruto.
"Aku kurang tau Niisan...
"Beberapa hari yang lalu kami mereinkarnasinya"
Flashback : On
"Buchou, Kaicho. Apa kalian tau kejadian saat kita mereinkarnasi Naruto-kun" ucap Akeno.
"Hmm. Waktu itu bukan hanya satu bidak pionku saja yang bereaksi padanya" ucap Sona
"Kau benar. saat itu juga dua bidak Pionku bereaksi"
"Jadi sekarang Naruto-kun menjadi budak kami bukan. Mengingat saat itu jumlah bidak kami lebih banyak bereaksi dibanding kau Sona"
"A-Apa enak saja. Walaupun begitu satu pionku sudah masuk ketubuh Naruto-kun dan bukannya kau sudah punya bocah naga itu. Jangan serakah"
"T-Tidak Naruto-kun milikku"
"Punyaku...
"Milikku...
"Punyaku...
"Mili..-
BLETAKK...
Jitakan dari Akeno sukses menimbulkan benjolan kecil dikepala Rias dan Sona yang sekarang memandang Akeno dengan ekspresi kesal
"Naruto-kun itu bukan barang" ujar Akeno.
Sona memandang kesal Rias begitu juga sebaliknya. Tatapan mereka seolah saling menyalahkan satu sama lain. Aura permusuhan terlihat jelas dimata mereka berdua terlihat sebuah percikan listrik yang saling beradu dari mata mereka.
"Cih gara-gara kau dasar tomat" umpat Sona
"A-Apa ngajak berantem heh mata empat"
"Grrrrr...
CTARR...
"Ara ara bisakah kalian berhenti sekarang" potong Akeno yang sudah memegang sebuah cambuk entah darimana. Menatap mereka dengan senyuman ala psikopat yang siap menyiksa siapapun. Membuat mereka merinding ketakutan sampai memeluk satu sama lain.
"M-Menakutkan" batin mereka bersamaan.
"Bagus, untuk apa kalian bertengkar itu tidak menyelesaikan masalah" ucap Akeno. Mereka terdiam. Akeno benar, tak ada gunanya bertengkar. Rias minus Sona menatap satu sama lain.
"Tidak ada salahnya untuk berbagi" pikir mereka berdua tersenyum lalu menatap Akeno
"Jadi apa selanjutnya" tanya Sona
Akeno berfikir keras sambil menempelkan telunjuk kanannya kedahi layaknya pose seorang Einstein. Setelah lima menit berfikir keras yang sudah hampir membuat Rias dan Sona mati kebosanan akhirnya sebuah ide terlintas diotak kecil Akeno.
"Aku rasa...
Rias dan Sona menatap serius Akeno.
"Lebih Baik...
"Naruto-kun...
"Jadi milikku saja...
BRAKK...
"Aku tidak terima...
"Aku juga...
Rias dan Sona menolak keras ide yang diusulkan Akeno. Apa-apaan tadi menjadi miliknya. Tidak adil pikir dua iblis cantik itu.
"Fufufu...Naruto-kun milikku" ejek Akeno pada mereka berdua. Tiga iblis cantik itu lalu memasang kuda-kuda mereka dan nampak siap untuk bertempur dan terjadilah perkelahian gaje antara mereka bertiga diruang penelitian gaib tersebut.
BRUUKK...
PRANGG...
"H-hoi jangan menarik rokku dasar tomat"
"Kau yang duluan menarik bajuku dan jangan panggil aku tomat dasar mata empat"
"Grrr...
"Ara-ara...
Tap...Tap
Sementara itu sebuah langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk. Perlahan membuka pintu tersebut dan menampilkan sosok Naruto berpakaian seragam olahraganya.
"Ada apa sih berisik seka.." mata naruto melebar saat melihat pemandangan yang sanggup membuat junior bahwanya mengeras. Salahkan tiga iblis cantik didepannya ini. Baju mereka terlihat robek dimana-mana ditambah lagi rok yang tersingkap membuat ia dapat melihat sesuatu. Kam*pret kenapa jadi membayangkan yang tidak-tidak sih.
"li..." sambung Naruto yang tersadar dari lamunannya. Saat melihat ketiga gadis tadi dengan aura hitam dan jangan lupakan mata mereka yang mendadak bercahaya merah layaknya seekor rubah memangsa buruannya.
"Tangkap dia..." perintah Akeno yang entah kenapa dituruti Rias dan Sona.
GREPP...
"E-Ehh Sekarang apa lagi" Naruto terkejut saat kedua tangannya dipegang Rias dan Sona dengan kuat. Mereka langsung membawa Naruto kedalam dan melemparnya kearah kasur yang berukuran king size.
"Na..ru..to..kun ~
Naruto dapat melihat mereka bertiga mendekat kearahnya secara perlahan membuat dirinya bergerak mundur kebelakang.
"Kamp*et, K-Kenapa harus ada dinding sih" ucap Naruto mengutuk dinding yang ada dibelakangnya. Mereka terus berjalan kearahnya hingga sesuatu terjadi...
GREEP...
"A-Apa yang kalian mau..." ucap Naruto saat melihat Rias dan Sona telah memegang tangan dan kakinya sehingga tak dapat bergerak sama sekali. Sedangkan Akeno tengah membawa sebuah gunting dan tali tambang.
"Aku punya firasat buruk tentang ini" batin Naruto melihat Akeno yang sudah mendekat kearahnya
"T-Tunggu...
BRAKKK...
BUKKK...
SEETT...
Flashback : Off
"L-Lalu selanjutnya" ucap Sirzechs penasaran dengan adegan selanjutnya membuat dirinya dihadiah jitakan penuh cinta Grayfia yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Anata~
"G-Grayfia..." Sirzechs menatap takut istrinya yang sekarang dalam mode marah. Sungguh saat perempuan marah adalah hal yang ingin dihindarinya.
"Tak ada jatah malam ini" ucap Grayfia dan berhasil membuat Sirzechs menunduk sambil menangis gaje yang dibalas tatapan sweatdrop para hadirin disana.
.
.
.
Naruto POV End
Naruto menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mata kiri yang awalnya berwarna hitam retak dibagian dalamnya kini telah menyebar sampai pipinya. Ia tak menyangka teknik ini akan sangat beresiko.
"Cih akan sangat beresiko jika aku menggunakan mata kananku"
"Efek dari mata kiri ini saja sudah sangat parah. Ditambah keadaanku yang sekarang membuatku tak dapat bergerak."
Riser menatap Naruto dengan amarah yang memuncak. Semua Peeragenya telah dikalahkan sekarang. Melihat keadaan Naruto saat ini, dengan cepat ia melesat kearahnya menendang Naruto dengan kaki yang telah diselimuti apinya. Membuat Naruto terlempar kebelakang dan menabrak dinding pembatas.
DUAKK...
Riser yang melihat perubahan kekuatan Naruto menyeringai lebar saat lawan didepannya sudah tak berdaya. Keturunan Phoenix itu dengan angkuhnya berjalan pelan kearah Naruto. Walaupun pemuda ini telah berhasil mengalahkan semua peeragenya tetap saja dia tak sebanding dengannya.
"K-Kusso...ughh" Dirinya tak kuat lagi menopang tubuhnya, sembari memuntahkan darah dan mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Dia mengedarkan pandangan matanya ke arah depan, berjalan tertatih sambil memegang perutnya.
"Sekuat apapun kau berusaha tetap saja kau hanyalah seorang iblis rendahan" ucap Riser menyiapkan pukulan yang telah diselimuti api miliknya
"Mengapa kau berusaha sampai seperti ini" tanya Riser yang melihat Naruto berjalan tertatih dengan satu tangannya yang tersisa. Para penonton menatap sosok tersebut serius, ada juga yang meremehkan dan terlihat mengkhawatirkannya salah satunya gadis berkacamata.
"Naruto-kun, Onee-sama. Tolong hentikan pertarungan ini" ucap Sona khawatir melihat keadaan Naruto babak belur dan meminta kakaknya Serafall untuk menghentikannya.
"So-tan. Aku tak bisa, semua keputusan ada ditangan Maou-sama" ucap Serafall
"Hikss..gomen Naruto-kun"
Serafall tak pernah melihat Sona sesedih ini. Pandangannya beralih kesosok pemuda yang dengan beraninya menantang Riser itu. Naruto nama pemuda itu yang telah membuat adiknya jadi begini.
DUAKKK...
Lagi-lagi pukulan dengan telak mengenai wajah Naruto yang mengeluarkan sedikit darah dari bibirnya. Tergeletak tak berdaya dengan nafas terengah-engah. Riser mulai menampakkan wajah sombongnya itu lagi melihat Naruto tak lagi membalas serangannya
Naruto Pov
DEGG...
Dingin. Seluruh tubuhku mendadak dingin. Sekilas bayangan masa lalu saat Tousan terbunuh terlihat jelas dimataku. Waktu itu...
"T-Touchan K-Kau..."
"N-Nande...
"N-Naruto gomen...
"J-Jaga Neechan dan Kaachanmu...
"Arrrgghh I-Ittai I-ttai...
"N-Nande, K-Kenapa disini sangat sesak"
BLARRRR...
Ledakan kekuatan tercipta dari tempat Naruto. Semua penonton minus Riser memandang serius.
"Grrr...Raurrr..."
"S-Siapa kau sebenarnya" ucap Riser ketakutan melihat sosok Naruto yang terlihat sangat berbeda.
Mata biru langitnya kini telah tergantikan dengan warna hitam legam yang dingin menatap kosong sosok Riser didepannya. Berjalan perlahan sembari mengangkat tangan kanannya dan warna hitam tersebut perlahan keluar dan membentuk sebuah sabit layaknya seorang Shinigami
SRAKK... SRAKK...
Gesekan antara sabit yang dipegangnya dengan tanah menjadikan alunan lagu tersendiri bagi Riser yang sekarang menatap waspada. Baru kali ini ia merasakan sebuah ketakutan yang luar biasa pada seseorang.
"Bunuh...
"Bunuh...
SRINGGG...
"N-Nani D-Dia menghilang" ucap Riser kaget saat Naruto dengan cepatnya menghilang dari pandangannya.
DEG...
DUAGG...
Naruto dengan sekejap sudah berada dibelakang Riser dan membenturkan kepalanya sangat keras sehingga membuat keturunan Phoenix itu terpental jauh.
"Uugghh..." lenguh Riser saat merasakan denyutan dibagian kepalanya
SRINGG...
BUAGHH...
"A-Apa itu..." batin Sirzechs saat merasakan kekuatan aneh yang mencoba mengambil alih tubuh Naruto saat ini. Mendadak semua terdiam saat tekanan kekuatan ini perlahan menghilang dan menyelimuti tubuh Naruto.
"Naruto/Naruto-kun" ucap Rias dan semuanya terkejut melihat Naruto termasuk Serafall selaku kakak Sona.
"D-Dia...
Apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa merasakan kesedihan dan penderitaan mendalam yang sangat jelas dari sosok ini. Pemuda yang bernama Naruto ini. S-Seberat apa H-Hidupnya
"M-Menangis..." ucap mereka serempak saat sosok Naruto yang terdiam setelah memukul Riser hingga terpental jauh. Air mata nampak keluar dari mata kanannya dan berjalan melewati pipi hingga sampai terjatuh ketanah.
"O-Orang ini. Dia sedang melawan kekuatannya sendiri" batin Serafall tak percaya
"Kami-sama tolong selamatkan Naruto" ucap Issei diikuti kepalanya yang mendadak sakit. Sebuah kenyataan bila iblis memang dilarang berdoa kepada sang pencipta. Sedangkan Kiba yang melihat Issei memegang kepalanya mencoba membantunya.
"Kau tidak apa-apa Issei" tanya Kiba
"Ahh Daijobu Kiba"
.
.
.
"Phoenix-sama ?" ucap Sirzechs menatap ayah dari Riser yang terlihat khawatir dengan anaknya.
"Biarkan pertarungan berlanjut"
"Kurasa sudah saatnya ia belajar mengurangi kesombongannya itu" Sirzechs menghela pasrah. Dirinya hanya tidak ingin kerjasama yang telah dibangun klan Gremory dan Phoenix hancur. Tapi sudahlah ia hanya perlu melihat pertandingan ini berlangsung.
.
.
.
Naruto vs Riser
"S-Siapa Kau?!" Riser bergetar ketakutan saat melihat sosok Naruto dengan sabit besarnya berjalan kearahnya
"Grrrr...
Sial bukan saatnya untuk takut. Pikir Riser melihat Naruto yang sudah ada didepannya. Ia kemudian menyelimuti tangan kanannya dengan api yang ia miliki. Sekuat tenaga mengumpulkan kekuatannya yang tersisa
"MATI...KAU..." teriak Riser memukul sosok Naruto dan membuat debu beterbangan menutupi penglihatan penonton. Semua menatap sabar menunggu debu tersebut hilang.
CRASSH...
"Arrrghh..." Jerit Riser kesakitan saat kedua tangannya ditebas dengan sabit yang dibawah Naruto. Dengan ekspresi datarnya ia melanjutkan menebas kaki kiri Riser
"Argghh...Percuma saja aku abadi" ucap Riser. Namun dirinya dibuat terkejut saat kedua tangan dan kakinya tak dapat beregenerasi. Para hadirin minus klan Phoenix menatap terkejut akan hal itu.
CRASSHH...
Lagi. Kaki kanan Riser telah lepas dari tubuhnya. Menimbulkan jerit pilu Riser yang terdengar jelas oleh penonton.
"K-Kumohon A-Ampuni aku" mata Riser melebar saat benda tajam itu hampir menggores kepalanya. Ia tak dapat berfikir lagi kali ini. Ia sudah pada batasnya. Ego yang ia junjung tinggi kini telah hilang digantikan rasa takut yang telah menjalar disekujur tubuhnya.
DEGGG...
Riser menutup matanya. Pasrah dengan apa yang terjadi, tapi ia tak merasakan apapun. Mencoba mengumpulkan keberaniannya ia perlahan membuka matanya.
"A-Apa yang terjadi" ucap Riser melihat sosok Naruto melepaskan sabitnya dan perlahan tangan kanan itu memegang dadanya sendiri. Air mata mengalir deras dari sosok Naruto yang kini terduduk.
"Sesak...
"S-Sesak...
"K-Kumohon..
"T-Tolong...
"Siapa saja tolong aku..
Lirih. Semua terdiam melihat kesakitan dan penderitaan sosok yang bernama Naruto itu. Semuanya minus Riser yang tak lagi memperdulikan rasa sakit disekujur tubuhnya.
"N-Naruto. itu namamu kan?!" ucap Riser memberanikan diri.
"K-Kau...
"A-Aku memahami kesedihanmu" ucap Riser lirih. Ia tak pernah seempati ini pada seseorang. Tapi melihat kerapuhan pada diri Naruto saat ini entah kenapa ia ingin menolong sosok tersebut.
DEG..
Perlahan mata yang tadinya berwarna hitam kini memudar dan telah berganti menjadi biru lautan lagi. Kesadaran yang sempat hilang kini telah kembali. Naruto menatap sosok Riser didepannya.
Sunyi...
Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir pemuda yang bermarga Uzumaki itu. Semua penonton minus Rias, Sona dan Peeragenya menatap layar monitor itu dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan. Seluruh sudut dalam monitor tersebut tertuju pada sosok Naruto yang memandang Riser.
Tap...
Derap langkah Naruto berdengung dalam sepi. Berjalan pelan lalu membawa tubuh Riser ditangannya. Menatap kelayar monitor dengan surai pirang yang menutupi wajahnya. Lalu menatap kearah monitor dengan tersenyum
"Buchou...Aku Berhasil!" ucap Naruto. Riser yang ada ditangan Naruto tidak terlihat marah akan kekalahannya. Setidaknya kejadian ini membuatnya belajar akan sesuatu dan pemuda yang bernama Naruto inilah yang telah menyadarkannya.
"N-Naruto lain kali kita bertarung lagi" ucap Riser yang berada digendongan Naruto
"Hmm. Tentu, tapi sebelum itu batalkan dulu pertunangan ini" tegas Naruto
"Baiklah. Lagipula aku tidak tertarik lagi tentang pertunangan ini" ucap Riser membuat Naruto mengulas senyum. Lalu tubuh mereka bercahaya dan menghilang dari arena pertandingan.
.
.
.
Naruto vs Riser : End
"NARUTO..." teriak Issei melihat Naruto yang telah kembali. Tubuh Riser dan semua Peeragenya begitu juga Naruto telah diberi perawatan dengan air mata Phoenix membuat luka seberat apapun hilang seketika. Terlihat tangan kiri Naruto yang tadinya buntung kini telah tumbuh kembali.
"Yo, Issei!" ucap Naruto
BUAGGH...
Sebuah pukulan sukses membuat Naruto menatap kesal bocah naga itu.
"Teme..apa kau tidak liat aku sedang terluka parah.." ucap Naruto
"Heh salahkan dirimu yang hampir terbunuh tadi" ucap Issei
"Mah. Kau terlalu berlebihan Issei, aku ini kuat" Naruto sedikit menyombongkan diri yang dengan sukses membuat Grayfia tertawa akan sifat periang Naruto.
"Naruto/Naruto-kun" ucap Rias, Sona, Akeno, dan Koneko yang dengan cepat telah memegang tangan Naruto
"E-Ehh ada apa dengan kalian" ucap Naruto melihat tatapan menyeringai dari Akeno dan memerintahkan Rias dan Sona yang telah mengerti maksudnya.
"Apa ya..-hmmpfff...!" ucap Naruto yang telah dibekap Rias dari belakang dan membawa tubuh Naruto yang tak berdaya itu kedalam ruangan keluarga Gremory. Sirzechs menatap binar adiknya begitu juga Serafall yang melihat imoutonya yang imut sudah menjadi dewasa.
"Enaknya masa muda..." batin Sirzechs
.
.
.
~Warning Lemon ~
V
V
V
"Sona ambilkan benda itu" perintah Akeno pada Sona yang langsung melangkahkan kakinya kearah sebuah tas kecil punya Akeno. Diambilnya dua buah borgol lalu menyerahkan satu ke Akeno. Naruto melebarkan matanya, dia sekarang tak dapat bergerak karena tangan dan kakinya telah dikunci oleh Rias dan Koneko.
Ceklek...
Dua borgol itu sukses membuat tangan dan kaki Naruto menyatu. Empat iblis betina itu menatap Naruto dengan lapar yang membuat Naruto menjadi merinding ketakutan.
"A-Apa M-Mau kalian" tanya Naruto takut melihat mereka semua telah menanggalkan pakaiannya. Sebagai laki-laki normal wajar Naruto saat ini terangsang akibat perlakuan mereka. Oh Shit terlebih lagi saat ia merasakan bahwa juniornya telah menegang
"Ara-ara nampaknya yang disini mulai sempit" Goda Akeno sambil menjilat jari telunjuknya yang sukses membuat Naruto merinding dan mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain. Pipi Naruto sedikit bersemu merah
"Kawai.." batin mereka bersamaan melihat wajah Naruto yang terlihat menggemaskan.
Sona langsung duduk diatas tubuh kekar Naruto yang kini hanya memakai celana boxernya saja. Membuat yang lain merasa iri dan melebarkan matanya. Rias tak mau kalah ia sekarang sudah duduk diatas kaki Naruto dan Koneko telah berada disamping Naruto. Mereka tersenyum nakal saat mengetahui nafas Naruto yang naik turun
"Nhe Naru puaskan kami ~
DEG...
Naruto memanas saat wajah Sona mendekatinya. Jantungnya berdetak dua kali lipat ketika gadis keturunan Sitri itu mencium bibirnya dengan nikmat. Apalagi saat ini tangan Rias dengan nakalnya mengelus kejantanannya yang terus mengeras.
Mereka menyerang Naruto dengan ganas. Belum lagi Koneko yang nampak senang menjilati area perutnya menimbulkan sensasi geli berujung nikmat.
"Ughh Henti..ahh!" desah Naruto dengan nafas yang tersengal-sengal. Mereka tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Naruto saat ini. Apalagi kejantanan Naruto yang sudah terlihat basah.
"Ara-ara Naruto-kun sudah ejakulasi fufufu" ucap Akeno yang menyeringai iblis. Sona melepas ciumannya sehingga tercipta benang saliva antara mereka.
"Haa...Haa...Y-Yamete..!" Nafas Naruto kembang kempis. Penderitaannya masih tetap berlanjut saat ia melihat Akeno berjalan kearah celana boxer yang dipegang Rias dengan senyum evil miliknya
"K-Kau mau apa?" ucap Naruto ketakutan saat dirasakannya celana boxer yang ia miliki perlahan turun.
"J-Jangan dita..Mmhhmm" desah Naruto saat Sona lagi-lagi menyumpal bibirnya dengan miliknya. Hal yang membuat Naruto tambah ngeri saat melihat Akeno yang dengan sukses telah membuka kebanggaannya. Mereka semua minus Sona yang sedikit melirik untuk melihatnya merona sempurna saat aset Naruto dengan tegak mencuat keatas.
"Ara-ara Naruto-kun akan kuberikan sesuatu yang sangat nikmat fuufufu" ucap Akeno yang telah menghimpit kejantanan Naruto dengan kedua kakinya yang terbalut stocking tanpa ampun.
"MMmmmphh..." desah Naruto tertahankan akibat ulah Sona yang masih terus menciumnya ditambah lagi Koneko yang masih asik menjilati perutnya dan Rias yang sudah mulai berani menyentuh sedikit junior Naruto.
Tubuhnya terasa diberi aliran listrik yang tak biasa. Saat Stocking Akeno dengan halus menggesek kejantanannya. Rasanya benar-benar. Ughh... Nikmat. Sial aku tak dapat berfikir jernih lagi.
Akeno Tersenyum. Dia memberikan footjob pada Naruto yang sukses membuat Naruto menggelinjang hebat ditambah dirinya yang tersiksa akibat kedua borgol yang mengunci ini.
"Ahhh...
"Ara-ara Stockingku jadi kotor" ucap Akeno dengan wajah yang dibuat kesal. Tubuh Naruto gemetar hebat karena telah melakukan ejakulasi untuk yang kedua kalinya. Nafasnya makin tersengal-sengal.
"Hah..Hah...K-Kumohon T-Tidak lagi" ucap Naruto dengan wajah memelas yang malah membuat empat iblis itu semakin tersenyum melihat wajah tampan Uzumaki itu.
"Ara-ara Naruto-kun kita akan bermain sampai pagi, benarkan semuanya" ucap Akeno dibalas anggukan mereka bertiga. Hiks...Neechan aku tidak ingin didominasi empat iblis laknat ini. Huaahh... Neechan selamatkan imoutomu ini.
"S-Sial" umpat Naruto saat Rias mulai menjilati kejantanannya dengan nikmat lalu memasukkan seluruhnya kedalam mulut. Dia merasakan tubuh Naruto bergejolak lagi.
"K-Kuso..Ahh" desah Naruto penuh nikmat saat Rias memaju-mundurkan kejantanannya tanpa ragu.
"A-Aku mau keluar" teriak Naruto mendongakkan kepalanya yang langsung dibalas ciuman kasar Sona. Rias tak mau kalah dengan Sona ia semakin cepat memaju-mundurkan kepalanya dan membuat hisapannya semakin kuat
"Henti..ugh..keluar!" desah Naruto tertahan. Rias menatap kejantanan Naruto yang berdenyut hebat.
"Ini saatnya!" batin Akeno menatap Rias dan pandangan mereka bertemu dan saling mengangguk. Rias melepaskan emutannya lalu dengan cepat Akeno mengikat kejantanan Naruto dengan seutas tali.
"A-Apa..ugh..yang..agh..kalian..lakukan" teriak Naruto kesakitan.
SENSOR
...
...
...
...
Oke dengan kuasa yang hebat. Author meng-Skip adegan ini. Hahahaha...Hasemeleh-Hasemeleh... [kam*ret kau Author...Lagi enak nhe]. Khukhukhu [evil-smile ) ].
.
.
.
"Hiks...hiks hilang sudah...!" lirih seseorang nampaknya ia barusan telah mengalami kejadian yang luar biasa bagi dirinya. [plakk.. pergi kau Author gaje], [Khukhukhu, aku akan pergi. Tapi penyiksaan ini belum berakhir Naruto]
"Maa..maa. Cup-cup jangan menangis Naru-tan" ucap Serafall mengusap lembut surai pirang Naruto. Sirzechs, Grayfia minus Keluarga Gremory yang ada disana menatap tajam empat sosok perempuan yang membuat Naruto begini.
"Kalian berempat. Harus mendapatkan hukuman yang setimpal" ucap Sirzechs dengan tegas kepada Sona, Rias, Koneko yang tengah menunduk sedangkan Akeno memasang wajah polosnya. Mendengar kata hukuman Naruto mendongak dan menyeringai kepada mereka berempat. Sona, Rias dan yang lainnya melihat tatapan meremehkan Naruto langsung mengumpat dalam hatinya.
"Awas kau Naru...ini belum selesai
"Kuhisap kuat juniormu...
"Kulahap bibir manismu
"Aku ingin menggigit puting Naruto-senpai...
"Ara-ara..fufuufu...
Begitulah berbagai macam umpatan mereka berempat yang tak akan pernah didengar Naruto. Sirzechs yang melihat adiknya minus sahabat-sahabatnya menatap sweatdrop saat melihat raut muka mesum mereka.
"Hah..baiklah...
.
.
"Sebagai hukumannya...
.
.
"Kalian...
.
.
Berikan hukuman yang paling berat Sirzechs-sama. Batin Naruto dengan senyuman angkuh khas Uzumaki. Sedangkan empat iblis betina itu berdoa kepada Kami-sama untuk diringankan hukumannya dan sukses membuat kepala mereka berdenyut kesakitan. Membuat Sirzechs heran.
"Harus..."
. . .
"Menikah dengan Naruto...
Tik...Tok...
Tik...Tok...
Naruto terdiam mencerna maksud Sirzechs. Mereka semua merutuki kebodohan Naruto yang terlalu lambat memikirkan sesuatu. Sampai Naruto mulai mengerti dan menjawab dengan polosnya.
"Baiklah..." ucap Naruto dengan santai dan memejamkan matanya. Tunggu dulu. Hukuman mereka apa tadi. Menikah pikir Naruto pucat
"S-Sirzechs-sama bisa kau ulangi lagi" ucap Naruto yang masih tak yakin
"Menikah dengan Naruto...
"E-EEHHHHH...
"APPPPAAAA...NO NO NO..." teriak Naruto frustasi.
"Yes/Yes" batin senang empat iblis betina ini. Dengan raut muka yang semakin mesum menatap Naruto yang menangis gaje tidak terima hukuman yang diberikan Sirzechs
To Be Continued...
A/N : Hallo Minna! Gimana. Jujur ini pengalaman pertama saya membuat adegan lemon. Ada rasa-rasa gimana gitu saat ditengah-tengah pengerjaannya. So tapi jangan terlalu dipikirkan, fict ini dibuat untuk Happy Fun aja okay dan untuk masalah sudut pandang dan Typo yang masih bertebaran dimana-mana saya mohon maaf. Karena saya juga manusia biasa yang tak luput dari dosa dan maksiat [Khukhukhu...Hasemele..Hasemele]. Tidak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah mereview, follow, fav cerita saya. Okay sekarang saatnya membalas review reader-reader Uyeee...
1. Masalah Harem mungkin 4-5 chara
2. Saat Naruto vs Kokabiel dia belum menjadi iblis jadi ketika melawan Riser yang dirinya telah menjadi iblis otomatis kekuatan Naru bercampur dengan kekuatan iblisnya
3. Undead, pasukan orang orang mati yang dipanggil Naru berupa mayat hidup bukan tengkorak. Tapi ntar berubah seiring chap
4. Profile jutsu Naruto sementara ini
Rank : Low Demon ( Human Former )
Status : 3 Pawn
Ability :
a) Kamui = Menembus benda
b) Hiraishin Lv 3 = Teleportasi menggunakan media benda yang ada disekitarnya ~ New ~
c) Elemen = Api
d) Kuchiyose = Memanggil pasukan orang mati
Oke segitu aja dulu yah Author pamit dulu pengen tidur nyenyak dan semoga gak kelewatan tidurnya biar gak Hiatus fict nhe. Bye
Logout...
#Salam Naru
