Title : That's Should Be Mine

Pairing : TaecSung/ TaecChan (Taecyeon and Chansung)

Cast : 2PM member and other

Rating : PG-13 (NC-17 for later)

Genre : Angst, Violence, Smut, Rape, Romance

Long : Chaptered

Chapter : 3/?

Dear my lovely reader, ini update buat chapter 3. Ok author udah g mikirin tuh review-an. Mau ada kek, ngga kek bodo kucing, yang penting cerita tetep kudu dan musti dilanjut. Setuju pa kagak?

Thanks buat semua yang udah nyempetin buat review. Mian karena kembali di chapter ini author bikin singkat banget, but di chapter selanjutnya mungkin bakalan sedikit lebih panjang... mohon jangan terlalu berharap banyak. Mian juga kalo di chap kemarin banyak typos, maklum author rada' males ngoreksi.

I NEED TO CONFESS

Taecyeon POV

Kurebahkan tubuhku ke atas kasur. Kutatap langit-langit kamarku dan ingatanku menerawang menembus waktu, kembali pada saat tiba-tiba Junho masuk ke dalam kamar Chansung ketika aku sedang mengancamnya. Dengan amat sangat terpaksa aku harus memeluk Chansung dan berbohong pada Junho bahwa pemuda dalam dekapanku baru saja bermimpi buruk. Dengan begitu pemuda berambut merah menyala itu tidak akan menaruh curiga padaku.

Namun, hal yang sangat aneh kurasakan saat aku memeluk Chansung. Dongsaengku ini tidak berhenti-hentinya menangis dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tanpa sadar aku mendorong tubuhnya terlalu keras ke arah tempat tidur, karena penyebab aku memeluk Chansung sudah pergi. Jantungku berdebar-debar dan tiba-tiba aku merasa kasihan saat melihat airmata kembali mengalir di pipi mulusnya.

Aku tahu, apa yang kulakukan sekarang adalah hal terbodoh di dunia. Tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku tahu, melukai Chansung adalah perbuatan jahat yang tak bisa dimaafkan, tapi aku tak bisa menghindarinya. Chansung telah merebut semuanya dariku. Kemerdekaanku.

Kenapa kemerdekaanku?

Dari awal aku memasuki dunia modeling, kedua orangtuaku sangat menentangnya. Aku sudah bersusah payah untuk mewujudkan cita-citaku agar bisa berjalan di atas catwalk dan mengenakan baju rancangan desainer terkenal dari seluruh dunia. Dulu orangtuaku menyuruhku untuk kuliah di luar negeri dan melanjutkan bisnis keluarga, tetapi aku menolaknya. Walaupun aku tetap menurut untuk kuliah di luar negeri, tapi hal itu kulakukan semata-mata karena aku ingin melihat kemajuan fashion luar negeri.

Suatu hari aku menyatakan pada mereka bahwa aku bisa menjadi model utama sebuah acara fashion show terbesar yang diselenggarakan oleh sebuah majalah ternama jika saja mereka mengizinkanku berkarir di dunia modeling. Saat itu, orangtuaku menghormati keputusan yang kuambil dan dengan berat hati melepaskanku setelah kelulusanku dari kuliah di luar negeri. Namun, mereka tidak begitu saja mengizinkanku menjadi model. Apabila dalam jangka waktu lima tahun aku gagal menunjukkan pada kedua orangtuaku tentang hal yang pernah kujanjikan, maka aku harus menuruti semua kemauan orangtuaku. Salah satunya adalah menikah dengan calon yang sudah mereka pilih.

Dan hal terburuk itu terjadi sekarang.

"Yoboseyo," dengan malas-malasan kujawab telepon dari orangtuaku. Aku tahu apa yang akan mereka katakan sehingga aku sudah malas mendengarnya bahkan saat melihat caller ID di layar handphoneku saja sudah membuatku bosan setengah mati.

"Ok Taecyeon, dimana sopan santunmu?" suara keras ayahku terdengar berang sehingga aku harus sedikit menjauhkan handphone dari telingaku agar aku tidak tuli.

"Ne, mianhae aboji. Waegurae?" dengan sedikit memperbaiki nada bicaraku, kembali ku dekatkan handphone yang tadi sengaja kujauhkan.

"Minggu depan pulanglah ke rumah!" tanpa basa-basi ayahku sudah menyuruhku untuk pulang ke rumah.

"Aku ada pemotretan aboji," kukeluarkan alasan yang mungkin bisa menghambat atau bahkan membatalkan acara apapun yang sudah direncanakan ayahku.

"Batalkan pemotretannya! Pulanglah, kalau tidak ayah sendiri yang akan bertindak," dengan nada mengancam, ayahku menutup saluran telepon bahkan sebelum aku sempat menjawab sepatah katapun. Sambil mendengus kesal karena sikap orangtuaku yang sudah keterlaluan, kulemparkan handphone ke atas kasur.

Hancur sudah hidupku. Seandainya saja skandal itu tidak terkuak dan manajemen tidak memberikan peran itu pada Chansung, pasti tak akan seperti ini jadinya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Arrrgggghhh aku perlu menghilangkan stres ini.

Kuambil telepon yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurku dan kutekan sebuah nomer yang bahkan sudah kuhapal di luar kepala.

"Yoboseyo," sebuah suara terdengar menjawab.

"Khun-ah, let's have a drink!"

"What's wrong with you man? Are you okay?"

"You wanna go out or not?"

"Ok, I'll go. Mind if Wooyoung come with us?"

"I'm sorry Khun. But I just wanna drink with you. Maybe next time Wooyoung can go. For now, I need to say something to you, personally."

"Geurae."

.

.

Aku duduk di depan seorang bartender yang sedang mencampur minuman pesanan pengunjung bar. Sekilas ia melemparkan senyum padaku karena aku adalah salah satu pengunjung tetap bar ini. Dengan cekatan, pemuda itu mengocok botol pencampur cocktail dan menuangkannya ke sebuah gelas berleher jenjang. Cairan berwarna biru cerah memenuhi badan gelas. Setelah memberi sedikit hiasan kecil, pemuda itu memberikan gelas pesanan itu pada pemesannya.

Pandanganku beralih ke arah pintu masuk bar, dan beberapa saat kemudian seorang pemuda jangkung masuk. Dia menatap ke arahku dan melambaikan tangannya seolah menyapaku. Senyumnya terus terkembang dan aku menyambut kedatangannya dengan balik tersenyum singkat.

"Hey man!" Khun mengangkat tangannya dan mengajakku high five.

Dia duduk di sampingku dan kami langsung memesan minuman yang biasa kami pesan pada Changmin, pemuda bartender langganan kami.

Tiba-tiba Khun berbalik menatapku dan menunjukkan ekspresi khawatir yang hanya ia tunjukkan jika ada masalah yang amat pelik.

"Tell me!" kalimatnya memang pendek, tetapi dari nada bicaranya, Taecyeon sudah bisa menebak bahwa sahabatnya satu ini sangat khawatir padanya.

"Ini pesanan kalian. Feel free to taste it," setelah memberikan sebuah botol minuman dan dua buah gelas kecil ke depan kami, Changmin berlalu menuju salah seorang pelanggan yang memanggilnya.

Kutuang minuman itu ke dalam gelas dan meneguknya sekali habis. Nickhun yang ada di sampingku masih tidak beranjak dan tetap memperhatikanku. Kutuang minuman itu sekali lagi dan kembali kuteguk isi gelas sampai habis tak bersisa. Setelah merasa bahwa aku cukup siap untuk menceritakan semuanya, aku menghadap Nickhun dan menatap matanya.

"Ready to tell me the truth?" nickhun mengangkat sebelah alisnya seiring dengan pertanyaannya.

"OK. I'll tell you the truth. I'll make a confession now," kutundukkan wajahku dan kupandangi ujung sepatu yang kukenakan.

"Confession? Don't tell me you are gay!" Nickhun, orang yang tahu betul bahwa aku bukan gay dan selalu mengajakku berpikir bahwa gay tidaklah begitu buruk, sekarang tambah mengernyitkan dahinya mendengar perkataanku barusan.

"I'm not. But, maybe I'm worst than that," perlahan demi perlahan kuungkapkan dosa yang telah kuperbuat.

"Worst? Like what?" pemuda Thailand ini semakin bingung dengan pernyataanku yang berputar-putar.

"I've raped someone."

"Mwo?" kulihat wajah hyung dan sahabatku ini berubah seketika.

.

.

To be continued