Blue Tears

Cast : Lee Donghae, Lee Hyukjae, and other cast

Main pair : HaeHyuk/KyuHyuk, SiBum, YeWook/KyuWook

Rated : T

Genre : Romance, drama, Hurt/comfort

Warning : Uke as Girl, GENDERSWITCH FIC, Always OOC, and many typos.

all Cast belong to God. not my own. Tapi cerita ini MURNI PUNYA SAYA. ga ada cerita plagiat atau tuduhan mengambil cerita orang. ide dari otak saya ini. berharap kita bisa saling menghargai ne?

langsung aja..

HAPPY READING ALL~~

~Chapter 3~ : Regret

"Mwo? Jadi—"

Suara seorang namja dari belakang tubuh Hyukjae membuat gadis itu menoleh, begitupun Kibum yang langsung mengalihkan pandangannya pada sosok lain dibalik tubuh Hyukjae itu. mereka cukup kaget melihat orang itu.

"Siapa yang menyuruhmu mendengar pembicaran kami, Siwon-Ssi?" tanya Hyukjae dengan pandangan kesal ke arah namja yang kedapatan menguping itu. yah ... tidak bisa dikatakan menguping sih, secara posisi Hyukjae dan Kibum kini ada di tempat umum—Kantin—ditambah lagi cara mereka mengobrol pun biasa saja. tidak bisik-bisik seperti ada niat menyembunyikan rahasia. Jadi siapapun yang ada didekat mereka, sengaja tidak sengaja pasti ikut mendengar apa yang dua gadis itu bicarakan. Termasuk Siwon yang awalnya ingin menghampiri Kibum—lagi.

Siwon mengelus tengkuknya canggung sambil memasang cengirannya.

"Bisakah diralat? Bukan mendengar tapi terdengar." Kata Siwon sambil berjalan mendekati meja, tempat Hyukjae dan Kibum duduk. Ia pun mengambil posisi duduk disamping Hyukjae dan menoleh ke arah gadis itu.

"Apakah benar?" tanya Siwon sambil memandang Hyukjae intens. Kibum yang melihat itupun sedikit risih dan tak suka. Mungkin kalau diperjelas bisa dikatakan cemburu. "Jadi alasan kau tidak mau masuk klub dance itu karena—"

"Ne!" Jawab Hyukjae singkat sebelum Siwon menyelesaikan kata-katanya.

Jadi hal yang sejak tadi ingin ditanyakan Siwon pada Kibum tadi ialah perihal Hyukjae yang tidak masuk klub dance. Siwon yang notabene adalah sahabat dekat Donghae sejak SMP pun otomatis secara tidak langsung menjadi dekat dengan Hyukjae yang sering berurusan dengan Donghae. Siwon pun tahu akan hobi dan ambisi keduanya dalam bidang dance. Jadi, aneh saja kalau tiba-tiba Hyukjae beralih bidang seni seperti sekarang ini. meski ada alasan lain dibaliknya juga yaitu untuk sekalian mendekati Kibum lagi.

"Kenapa kau tidak bilang pada Donghae?" tanya Siwon heran.

"Untuk apa? memangnya dia orang penting sampai aku harus memberitahukan segalanya pada namja itu." balas Hyukjae sedikit kesal.

"Tapi dia sangat putus asa, Hyukkie. Saat kau—"

"Jangan memanggilku seperti itu. kurasa kita tidak pernah akrab."

"Baiklah. Kau tahu, saat kau kembali ke Seoul lagi, Donghae sangat senang. Namun dia harus kecewa sekaligus karena kau menghindarinya. Saat terakhir aku bertemu dengannya, kulihat wajahnya tampak sangat putus asa. Apa kau tega?" kata Siwon dengan sedikit mendramatisir keadaan.

"Kurasa Donghae tidak seperti yang kau katakan Siwon-Ssi. Aku tahu bakatmu dalam hal akting, jadi aku tidak akan tertipu begitu saja. lagipula Donghae adalah orang yang ambisius dan tidak mudah putus asa. Dan lagi, dia tidak akan menunjukkan kelemahannya, apalagi didepan orang sepertimu sekalipun kau adalah sahabat baiknya." Ujar Hyukjae sambil beranjak berdiri. "Bummie aku ada kelas sehabis ini. aku pergi dulu." Pamit Hyukjae lalu pergi keluar dari wilayah kantin. seperginya Hyukjae, Siwon beralih menatap Kibum.

Kibum menatap datar Siwon. Gadis itu pun ikut beranjak berdiri dan kini meninggalkan Siwon seorang diri.

"Aku jadi penasaran." Gumam Siwon. "Sebenarnya ada apa dengan kaki Hyukjae sampai dia tidak bisa menari lagi?

.

.

"Kyuhyun..." Sebuah suara yang lembut dan manis lantas membuat seorang namja yang merasa terpanggil menoleh. Sejak tadi namja tampan itu sedang asik sendiri dengan dunianya. Bermain game.

"Ada apa Wookkie Noona?" respon Kyuhyun sambil mengalihkan kembali pandangannya ke layar psp.

"Jangan bermain psp terus. Bukankah kita harus latihan untuk akhir tahun nanti." Keluh Ryeowook yang melihat Kyuhyun tetap acuh tak acuh.

"Tanpa berlatih pun suaraku sudah bagus Noona." balas Kyuhyun dengan percaya dirinya, membuat Ryeowook hanya bisa menghela nafas berat.

Berdasarkan rencana dan atas saran pelatih vokal mereka, Kyuhyun dan Ryeowook memang sudah direncanakan akan mengisi acara pada Pentas Seni Malam Natal bulan depan. Karena itu, sekarang mereka sedang berdua saja di ruang musik yang memang pada jam sekarang sedang kosong. Rata-rata, para anggota memiliki jadwal kelas mereka masing-masing.

Akhirnya Ryeowook memilih untuk duduk di lantai sambil meluruskan kakinya.

"Kyu..." panggil Ryeowook pelan sambil memainkan jari-jarinya pada lantai keramik.

"Eumm?"

"Kau mengenal Eunhyuk Eonnie?" tanya Ryeowook dengan suara yang nyaris seperti cicitan.

"Begitulah. Dia ingin masuk klub musik jadi bertanya-tanya padaku. Wae?"

"Ani. Aneh saja saat kemarin aku melihatmu dan dia sedang berjalan bersama. kau tidak biasanya mudah akrab dengan para gadis."

"Aku kan tidak sepertimu yang hanya bisa dekat denganku dan Yesung Hyung." Cibir Kyuhyun dan mematikan pspnya. Ia pun memasukkan gadget persegi itu ke dalam tasnya dan menoleh pada Ryeowook.

"Harusnya aku yang bertanya, apa kau mengenal Eunhyuk? Kau tampak aneh kalau sudah menyangkut dia. Raut wajahmu itu akan berubah Wookie." Kata Kyuhyun lagi sambil bersidekap dada. Namja itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Begitulah." Sahut Ryeowook sambil mengendikkan bahunya. Membuat Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. "Jangan memandangku begitu Kyu. Aku belum bisa cerita karena aku sendiri masih tidak yakin. Kalau kau penasaran, tanya saja pada Yesung Oppa. Dia tahu banyak." Kata Ryeowook sambil beranjak berdiri. Dia menepuk beberapa kali bagian belakangnya lalu berkacak pinggang.

"Sekarang bukan saatnya bermalas-malasan. Ayo latihan!" ajak Ryeowook. Kyuhyun hanya menyahutinya dengan gumaman.

Eunhyuk Eonnie~ batin Ryeowook.

Kyuhyun dan Ryeowook, mereka adalah dua anak yang sudah berteman baik sejak masih di panti. Tepatnya bersama Yesung juga. Mereka bertiga adalah 3 anak beruntung yang diangkat serta di asuh oleh Tuan besar Kim.

Meski dirinya sendiri sudah memiliki seorang putri, karena kemurahan hatinya, tuan Kim mau mengangkat 3 anak malang yang sejak kecil menjadi yatim piatu itu. Memberikan mereka tempat tinggal dan seorang ibu asuh—tuan Kim tidak mengurus mereka secara langsung—selain itu, mereka juga mendapatkan pendidikan yang layak dan hidup yang cukup mapan meski tidak tinggal di rumah mewah keluarga Kim.

Sampai suatu hari, tuan Kim membawa Ryeowook ke istana megahnya dan mengenalkan gadis itu pada putri kandungnya. Menimbulkan rasa tidak suka dan percikan api yang akan memulai sebuah masalah.

Sesungguhnya ada alasan dibalik segala hal yang dilakukan Tuan Kim, salah satunya ialah untuk melindungi keselamatan putri tercintanya, Kim Hyukjae.

.

.

Di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi kebun bunga matahari. Warna kuning yang indah nan menyilaukan seakan beradu cahaya dengan sang mentari.

"Tuan... Ini permintaan anda." Seorang pria dengan jas lengkapnya berjalan mendekati seorang pria tua yang kini sudah duduk di kursi roda. Tampak rapuh dengan tubuh ringkih dan kulit pucatnya.

"Dia benar-benar kembali, Yesung-ie."

"Ne Tuan."

"Gadis bodoh itu. susah payah aku melindunginya. Mengirimnya ke negara yang aman, kenapa dia tiba-tiba kembali?"

"Saya tidak tahu Tuan."

"Hhh... kenapa jadi rumit seperti ini. disaat aku sudah tua seperti ini, orang jahat itu masih segar bugar dan bisa kapan saja merengut nyawa putriku." Yesung—asisten pribadi Tuan Kim hanya bisa diam dan tak menyahut sedikitpun.

Tuan Kim menoleh, menatap langsung wajah rupawan Yesung. "Kali ini, tugas yang kuberikan padamu ialah lindungi putriku. Menyamarlah di universitas itu agar kau dapat mengawasinya dengan mudah. Tapi rahasiakan ini dari Kyu. Sejak awal, bukankah hanya dia yang tidak pernah kumasukkan dalam masalah ini. sesungguhnya aku tidak ingin membahayakan kalian bertiga. Namun aku tidak ada pilihan lain."

"Tanpa dipinta, aku akan selalu mengabdi padamu. Karena jika tidak ada dirimu, aku tidak akan bisa mencapai posisi sekarang ini. kau Appa yang baik dan bijak. Dan aku bangga mengakuimu sebagai Appa sekaligus Tuanku." Kata Yesung sambil berjalan ke belakang kursi roda Tuan Kim.

"Yesung-ie.." panggil Tuan Kim dengan suara pelan. Perlahan angin semilir menerpa wajahnya. angin yang hangat.

"Ne Tuan?"

"Bisakah jika kita hanya berdua, kau memanggilku 'Appa'. Aku tidak ingin dianggap 'tuan' oleh putraku sendiri." kata Tuan Kim sambil tersenyum.

"Baiklah Appa."

"itu terdengar baik..."

.

.

Ryeowook terduduk di meja kantin. posisinya tepat bersebelahan dengan jendela yang mengarah langsung keluar. Gadis itu tampak sedang melamun.

.

From : Yesung-ie Oppa

Besok Aku akan ke kampusmu. ada hal penting, Wookie. Rahasiakan ini dari Kyu.

.

Gadis manis itu menghela nafas berat. Dia sudah menduga akan terjadi hal ini lagi. perihal kembalinya Hyukjae yang tiba-tiba itu.

Bola mata gadis itu mengarah pada bangku taman yang sekarang sedang di duduki dua insan. Disana, ada Kyuhyun dan Hyukjae. Ryeowook sama sekali tidak mengerti kenapa kedua orang itu bisa menjadi dekat? Apa Hyukjae tidak tahu siapa itu Kyuhyun?—Dia memang tidak tahu—dan mungkinkah Kyuhyun tidak mengenali Hyukjae sama sekali. Ah... Ryeowook hampir saja lupa, Kyuhyun dan Hyukjae bahkan hanya pernah bertemu satu kali yaitu ketika Kyuhyun baru berumur 4 tahun dan Hyukjae 7 tahun. Saat itu ialah perayaan ulangtahun Hyukjae yang dilangsungkan dipanti asuhan tempat Kyuhyun-Ryeowook-Yesung tinggal selama ini.

Dan mungkin Kyuhyun juga tidak sadar sama sekali kalau pria dewasa yang mengangkatnya 5 tahun kemudian ialah Appa dari seorang Kim Hyukjae. Intinya, mereka semua tidak saling mengenal. Berbeda dengan Ryeowook dan Yesung yang lebih dewasa.

"Lagi-lagi aku harus melindungi orang yang bahkan tidak pernah mengakuiku." Gumam Ryeowook sambil membuang mukanya. Ia beralih melihat makanan di depannya yang sejak tadi belum tersentuh sama sekali.

"Apa maksudmu?" Ryeowook tersentak kaget ketika mendengar suara yang seakan menghakiminya. Ia segera menoleh. Aku tadi tidak menyebut nama Eunhyuk Eonnie kan?—Batin Ryeowook panik. Namun gadis itu dengan lihai mengatur mimik wajahnya.

"Ne? Bukan apa-apa Kibum-ah."

"Baiklah. Aku percaya." Sahut Kibum sambil mengendikkan bahunya.

.

.

Di Taman

"Kyu... kenapa kau suka sekali bermain psp?" tanya Hyukjae dengan wajah yang dibuat sekesal mungkin. Sedari tadi dia bicara, Kyuhyun hanya fokus pada benda kotak itu bukan padanya.

"Karena aku suka game."

"Kenapa kau suka game?"

"Karena aku suka."

"Itu bukan alasan Kyu. Bahkan ketika ada gadis cantik disampingmu, kau tidak akan sadar." Ujar Hyukjae. Hal ini berhasil membuat Kyuhyun menoleh.

"Aku sadar kalau Noona sejak tadi mengoceh disampingku." Balas Kyuhyun sambil tersenyum. "Tapi aku tidak mengakui kalau Noona cantik ya.?" Lanjut namja itu sambil menyeringai.

"Ya! Tidak sopan." Sentak Hyukjae sambil mem-poutkan bibirnya.

"Hahaha ... aku bercanda. Noona cantik kok, tapi lebih cantik Wookie Noona." awalnya Hyukjae ingin tertawa namun mendengar nama Ryeowook yang disebutkan justru membuat gadis itu memasang wajah datar.

"Siapa Wookie itu?" tanya Hyukjae pura-pura tidak tahu.

"Ah, dia Kim Ryeowook. Gadis yang waktu itu berkenalan denganmu juga. Dia satu Appa angkat denganku." mendengar itu, membuat Hyukjae semakin bingung. 'Appa angkat'? bukankah Ryeowook adalah anak dari istri kedua Appanya—begitulah kesimpulan yang diambil Hyukjae 6 tahun yang lalu. Apa Kyuhyun termasuk salah satunya juga?

"Tapi margamu tidak sama dengannya Kyu?"

"Memang tidak. kami tidak pernah mengubah marga kami. Kebetulan marga wookie Noona memang Kim dari awalnya." Jelas Kyuhyun.

Kyuhyun dan Ryeowook itu sangat dekat. Tapi mereka tidak pernah menjelaskan secara detail hubungan mereka. beruntung aku dekat dengan Kyu jadi dia mau jujur padaku. mendengar semua penjelasannya membuatku semakin bebas suka padanya—begitulah potongan cerita Sungmin waktu itu. Hyukjae sama sekali tidak memotong ataupun bertanya pada Sungmin. Gadis itu hanya mendengarkannya dengan rasa sedikit terpaksa. Sejujurnya, Hyukjae sangat kesal mendengar nama 'Wookie' itu. orang yang menurutnya sudah 'merebut' segalanya darinya.

"Kyu... Aku ada kelas. aku pergi dulu ya." Hyukjae buru-buru pamit dan pergi meninggalkan Kyuhyun.

"Bukankah tadi dia bilang tidak ada kelas? aneh sekali." Gumam Kyuhyun sambil mengendikkan bahu. Ia pun ikut bangkit berdiri dan beranjak pergi. dia berniat untuk pergi ke ruang vokal. Menghabiskan waktu disana terasa lebih menarik dibanding di alam terbuka seperti ini.

.

.

.

Apa maksudnya?

Ryeowook dan Kyuhyun ialah saudara. Mereka satu Appa angkat?

Kenapa banyak sekali yang tidak ku ketahui. Kalau tahu begini, untuk apa aku mendekati Kyuhyun?

Tapi sepertinya, Kyuhyun sama sekali tidak mengenaliku. Jelas saja, waktu itu Appa hanya membawa Ryeowook. Aku saja tahu sama sekali.

Lalu apa maksudnya juga dengan 'panti'? Apa Ryeowook benar-benar berasal dari sana juga? Siapa wanita waktu itu.

Ahhhh..

Hyukjae mengacak rambutnya frustasi. Ia menghentak-hentakkan kakinya. Beribu pertanyaan berputar-putar diotaknya dan sama sekali tidak terpecahkan. Posisinya disini seperti orang baru yang tidak tahu apapun.

"Arrrgghhhh..." Hyukjae mengangkat wajahnya kaget saat mendengar erangan kesakitan itu. ia tersentak saat melihat Donghae sedang berjongkok dilantai sambil memegangi kepala. Namja itu kenapa?

Dengan segera Hyukjae mendekati namja itu?

"Hae? Kau kenapa? kepalamu sakit? Hae..." tanya Hyukjae panik. Ia memegangi tangan namja itu yang meremas rambutnya sendiri. "Hae..."

"Appo..." ringis Donghae sambil tetap menunduk.

"Sakit dimananya? Hey... kau jangan begini. Aku bantu membawamu ke UKS bagaimana?" Hyukjae masih terbawa suasana panik. Bahkan matanya mulai terasa panas. Dia tak tega melihat Donghae yang kesakitan seperti itu. bahkan dia sampai melupakan imagenya yang selama ini menjauhi Donghae.

"Aku bohong." Tiba-tiba Donghae mengangkat wajahnya dengan cengiran yang teramat khas. Tidak tersisa sama sekali wajah yang penuh kesakitan tadi. Hyukjae melongo melihat itu semua. Jadi itu hanya akting?

"Ya!" Hyukjae memukul kepala Donghae keras.

"AH! Sakit." Ringis Donghae sambil mengelus-elus kepalanya.

"Hiks ... kau jahat sekali. Tadi aku benar-benar panik." Perlahan air mata Hyukjae jadi sungguhan turun.

"Yahhh.. kenapa kau menangis? Hyukkie aku hanya bercanda. Aku hanya ingin menarik perhatianmu."

Tiba-tiba Hyukjae bangkit berdiri—tadi dia ikut berjongkok—ia mengusap kasar airmata yang membasahi pipi putihnya. Karena itu, Donghae pun ikut berdiri.

"Tidak tahu malu. Berjongkok di lorong-lorong sambil meringis sakit dan itu semua hanya akting. Dimana otakmu itu Lee Donghae? Tidak peduli. Mulai sekarang aku benar-benar tidak mau peduli lagi padamu. Aku tidak mengenal Lee Donghae dan tidak akan pernah mau mengenalnya." Ujar Hyukjae dan setelah menyelesaikan kata-katanya, gadis itu langsung berlari pergi meninggalkan Donghae.

Donghae hanya memandang kepergian Hyukjae tanpa ada niatan untuk mengejar gadis itu. sampai akhirnya, Hyukjae benar-benar sudah pergi. beberapa orang yang melewati lorong koridor itu hanya memandang heran pada Donghae. Namun namja itu tak peduli, seolah di lorong itu memang hanya dirinya sendiri.

"Ah... Neomu Appo." Ringis Donghae sambil memegangi kepalanya yang—sungguhan—sakit lagi. "Obat sialan itu tertinggal di asrama lagi." dengus Donghae sambil melangkah tertatih pelan.

Sebenarnya ... dia tidak berakting tadi.

.

.

Hari Sabtu, pukul 11,00

.

.

"Bummie, aku akan jalan-jalan sebentar." Kata Hyukjae pada ponselnya.

'Aku tidak mau ikut' sahut sang lawan bicara diseberang sana.

"Aku tidak mengajakmu kok. Cuma memberi tahu saja. Weekkk.."

"Ya ya ya... terserahmu saja. aku matikan ya."

"Mwo?" Hyukjae melongo melihat sambungan telepon yang dimatikan secara sepihak itu. "Dasar tidak asyik." Cibir Hyukjae lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. ia kembali memandang ke depan dan secara tidak sengaja ia berpapasan dengan Hyukjae. Dengan wajah kesal, ia membuang wajahnya dari Donghae.

"Hyuk—"

Belum sempat Donghae bicara, Hyukjae sudah pergi meninggalkannya. Membuat namja itu hanya bisa menghela nafas pasrah.

Karena terlihat sibuk membuang muka dari Hyukjae, ia jadi tidak memperhatikan jalan di depannya.

Brukkk...

"Ah Mianhae..." kening Hyukjae jadi bertubrukan dengan dada seorang namja. hal ini pun membuat Hyukjae mengadahkan kepalanya. Terlihat seorang namja berkepala besar yang menunduk memandangnya dengan tatapan aneh. Buru-buru Hyukjae menjauhkan dirinya.

"Mianhae, aku sungguh tidak sengaja." Dan setelah itu, Hyukjae langsung berjalan melewati namja itu.

Namja itu memutar badannya dan memandang punggung Hyukjae yang perlahan menjauh.

"dia ... Kim Hyukjae."

~~.. To Be Continued ..~~

words: 2.376

18/08/2013

aduuuhhhh... ga tau mau ngomong apa. maaf ya kalo lama bgt updatenya terus juga tambah jelek. author kehilangan ide cerita ini. hiks.. udah deh. terserah apa pendapat kalian. langsung aja... di review.

at last ..

Review ne?^^ :*