Don't Cheat On Me, Baby!

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.

Rated: T

Chaptered

Pair: KaiHun, HanHun

Warning: Yaoi, BL, Typo(s)

Disclaimer: Punya siapa coba

Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..

.

.

.

.

.

.

"Sekolah dimana ?" Adalah kalimat pertama yang Luhan ucapkan saat ia hanya ditinggal berdua oleh si Sehun ini. Di sofa ruang santai dengan posisi duduk yang bersebelahan. Ia hanya berusaha bersikap ramah, tidak seperti Sehun yang hanya sibuk dengan ponselnya sedari tadi.

"Di Sopa" Jawab Sehun singkat.

Merasa tak terlalu digubris, Luhan tak mau kalah untuk membalas sesingkat mungkin "Oh" . Ia mengambil koran dimeja dan menyibukkan diri untuk membacanya.

Dibalik koran tersebut, Luhan diam-diam merutuki bocah SMA kurang ajar yang membuatnya menjadi salah tingkah dan terkesan kekanak-kanakan. Belum tahu siapa Luhan, huh ? Dia ini termasuk dalam jejeran pengusaha tersukses paling muda yang ada di Beijing, atau bahkan seluruh China.

"Hey Luhan" Luhan menyerngit saat nendengar namanya dipanggil dengan begitu tak sopan. Namun serta merta menjauhkan koran tersebut dari wajahnya untuk memandang Sehun.

Sehun akan membuka mulutnya, namun ragu saat melihat wajah tampan pemuda ini yang begitu masam. "Uhm.. boleh pinjam ponsel tidak ?" Luhan lagi-lagi harus dibuat menyerngit heran oleh bocah ini.

"Untuk apa ?" Tanyanya dengan suara sedikit lebih keras, atau yang lebih terdengar.. galak.

"Pokoknya pinjam saja, hanya sebentar kok" Sehun memberikan senyuman paling manisnya agar Luhan mengabulkan yang ia inginkan. Dalam kasus ini.. meminjamkan ponsel.

Namun pemuda kaya raya ini hanya memutar bola matanya, kembali membaca koran dan berkata dengan kejam,

"Tidak boleh"

"Hah tidak boleh ?"

"Hm"

Sehun mengerucutkan bibir, lalu berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Luhan Luhan~ kau ini pelit sekali"

Luhan menghembuskan nafasnya keras, kesal berat atas ucapan bocah nakal satu ini yang entah punya keberanian dari mana memanggilnya begitu.

"Berhenti memanggil ku Luhan Luhan!"

"Loh kan itu namamu ?"

Luhan meremas koran yang ia baca sehingga menjadi bulatan kecil. Sekilas membayangkan yang tengah ia remas ini adalah wajah sok polos Sehun yang begitu menyebalkan. "Aku ini lebih tua darimu, Sehun!"

"Terrusss ?" Sehun bertanya menyebalkan, memainkan helaian rambutnya bermaksud mengejek Luhan. Senyuman iseng yang sangat kekanakan tertera di bibir tipisnya.

Kini Luhan sudah tak tahan, ia melempar koran tersebut jauh-jauh. Lalu memandang Sehun, matanya memincing tajam.

"Kemarikan tanganmu" perintah Luhan meminta Sehun untuk meletakkan tangannya di atas tangan Luhan yang terjulur.

"Huh ?" Sehun tampak kebingunan, namun tak ayal membuatnya untuk tidak mematuhi perintah Luhan, ia meletakkan sebelah tangannya di atas tangan Luhan. Lalu memandang wajah Luhan dan tangan tersebut bergantian. "Lalu apa ?" Tanyanya antusias. Ia berharap Luhan akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.. seperti sulap misalnya

"Lalu.. begini" pekikan Sehun dapat terdengar setelahnya saat kedua tangan Luhan menarik keras sebelah tangan Sehun sehingga tubuhnya jatuh telungkup di sofa panjang yang tengah ia duduki. Untungnya Luhan sudah lebih dulu berdiri dengan masih memegang tangan Sehun sehingga ia tidak tertindih. Tindakan yang direncanakan memang selalu berjalan mulus.

Sehun memberontak ingin bangun, namun dengan cepat Luhan menahan tangan yang satunya sehingga membuat Sehun tak dapat bergerak. Telungkup di sofa, kedua tangan yang ditahan diatas kepala dengan Luhan yang bergerak cepat berlutut di kedua sisi tubuh Sehun. "Lepaskan aku!" Sehun kembali memberontak, ia bahkan menggunakan kakinya berusaha menendang Luhan, namun apa daya, usahanya sia-sia.

"Kau tahu bocah ? Kau ini... menyebalkan" Pekikan yang lebih keras dapat terdengar dari Sehun, ia bahkan sampai menyumpah serapahi Luhan yang dengan santai telah melakukan perbuatan keji pada Sehun. Perbuatan keji apakah yang dilakukan Luhan dalam kasus ini, tentunya sesuatu yang menyakitkan, hm ? Seperti mencubit pipi Sehun seenak hatinya.

"Sialan hentikan bodoh... ini sakit serius!" Luhan menghentikan cubitannya pada pipi Sehun. Namun tak mengubah posisinya sama sekali. "Mau ku lepaskan ?"

"Tentu saja! Cepat lepaskan aku!"

Luhan menyeringai, semakin mengeratkan genggaman tangannya pada kedua pergelanga tangan Sehun.

"Tidak semudah itu" ucapnya santai. "Turuti dulu keinginanku"

Sehun terdiam saat mendengar ucapan Luhan. Ia harus pintar-pintar dalam mengambil tindakan, bisa jadi ini hanya akal-akalan Luhan saja. "Apa dulu keinginanmu itu ?"

"Tidak susah, pertama bersikaplah manis sedikit di depanku" ucap Luhan, menggeleng-gelengkan kepala sendiri mengingat sikap Sehun selama beberapa jam mereka bertemu. Padahal Luhan sudah repot-repot menolongnya pada malam itu.

"Iya iya baiklah aku akan bersikap manis!" Cepat-cepat Sehun menyanggupi permintaan Luhan yang satu itu. Tangannya sudah terasa begitu sakit.

"Kedua, panggil aku Luhan-gege... atau Luhan-hyung pilih saja"

"Iya Luhan..hyung! Sekarang lepaskan"

Luhan menggelengkan kepalanya walau Sehun tak dapat melihat. "Bersikap manis terlebih dahulu"

"Luhan hyung, lepaskan Sehunnie huhu" dengan cepat Sehun melakukan perintah Luhan sehingga membuat Luhan sendiri yang mendengarnya terkejut. Ia kira Sehun ini memang susah bersikap manis, namun nyatanya ia sangat cepat melakukan hal tersebut, bahkan sikap dan nada bicara Sehun terlalu manis untuknya.

Luhan berdehem, menghilangkan rasa kagumnya yang singkat. "Ulangi, yang lebih manis lagi" tentunya Luhan tak akan dengan mudah begitu saja melepaskan Sehun.

Sehun menggeram kesal. Ia memandang Luhan dari balik pundaknya, lalu mengerucutkan bibir bermaksud membuat Luhan luluh. Namun wajah pria itu datar-datat saja saat Sehun melakukannya.

"Baiklah baiklah, lepaskan aku dulu baru aku tunjukkan bbuing-bbuing" Sehun akhirnya mau tak mau mengeluarkan aksi terakhirnya. Ia sebenarnya malas melakukan bbuing-bbuing, dihadapan Jongin saja harus dibelikan ini itu dulu baru mau. Apalagi dihadapan orang lain. Ia tak mengerti apa yang membuat banyak orang menyukainya saat melakukan aegyo tersebut.

"Benarkah ?" Luhan menaikkan alis mendengarnya. Sehun melakukan bbuing-bbuing ? Pastinya sangat ingin melihat hal tersebut.

Setelah menimbang-nimbang, Luhan akhirnya setuju. Ia melepaskan tangan Sehun membiarkan bocah tersebut untuk membenarkan posisinya. Menjadi duduk berhadap-hadapan dengan Luhan.

"Ayo lakukan" desak Luhan saat Sehun hanya diam dengan wajah merengut.

Sehun membuang muka. "Tidak mau ah"

"Kau mau ku-"

"Iya iya hanya bercanda!" Sehun buru-buru memotong ucapan Luhan saat dilihatnya pria itu sudah memasang ancang-ancang ingin menerkam Sehun.

"Yasudah, lakukan"

Sehun mengangkat kedua tangannya di dekat pipi, wajahnya yang masam kini berubah menggemaskan saat memandang Luhan. "Bbuing bbuing~" gumannya lucu dengan melakukan pose aegyo yang paling terkenal itu.

.

"Nah sudahkan!" Suara Sehun yang melengking menyadarkan Luhan dari kekagetannya. Ia berdehem. Lalu menolehkan pandangannya ke sembarang arah. Sehun memang tanpa diragukan sangat menggemaskan saat melakukan aegyo. Pada dasarnya ia memang menggemaskan hanya saja.. yah wajah yang terkadang datar dan sikap menyebalkan tampak lebih mendominasi.

"Sok imut" Tampaknya menggoda bocah SMA adalah hobi baru Luhan yang paling menyenangkan. Terutama menggoda bocah SMA seperti Sehun.

"Apa ? Aku ini memang imut!"

"Hm ?"

"Ah tidak-tidak, maksudku aku ini kan lelaki pastinya tampan bukan imut!"

"Begitukah ?"

"Kau mengejekku, huh!"

"Luhan hyung untukmu, Sehun"

Sehun menyilangkan lengannya di dada. "Iya iya"

Luhan hanya dapat tersenyum sendiri melihat Sehun yang sudah kembali pada ponselnya dengan bibir yang maju. Sepertinya kurang lebih Luhan mulai menyukai bocah ini. Menyukai dalam artian hanya suka. Bukan berarti Luhan masih akan terima di jodoh-jodohkan.

Ia merogoh saku celananya lalu mengambil ponsel berwarna hitam yang diinginkan Sehun untuk dipinjam

"Ini" ia menyerahkan ponsel tersebut di depan wajah Sehun.

Sehun memandang ponsel tersebut lalu memandang wajah Luhan. "Eum.. untuk aku ?" Tanyanya menunjuk diri sendiri. Luhan nyaris akan menepuk kening.

"Tentu saja tidak. Tadi kau bilang ingin pinjam" jelas Luhan. Sebenarnya ada gangguan apa pada otak Sehun ini Luhan sampai pusing.

"Ah iya lupa" Sehun tersenyum sumringah, ia mengambil ponsel Luhan dan mengetikkan beberapa nomor disana.

"Kau mau apa ?"

"Menelfon, pulsa ku habis"

"Menelfon siapa ?"

"Jongin"

"Jongin ?"

"Iya, dia itu ke- ...hallo Jongin.." dan Sehun pun beranjak pergi meninggalkan Luhan sendirian saat kiranya sosok 'Jongin' yang ia hubungi telah mengangkat telfon darinya. Luhan menghela nafas, melirik sedikit pada bokong Sehun yang menarik perhatian saat bocah itu berjalan. Ia mengecek jam ditangannya dan memutuskan untuk beranjak pulang setelah Sehun selesai menelfon.

Tak lama kemudian, Sehun datang. Wajahnya berseri-seri. "Ini ponselmu sudah aku simpan nomorku, terimakasih banyak ya Luhan hyung" Luhan menerima ponselnya. Ia tersenyum dan mengusak-usak rambut Sehun yang sudah berantakan. "Kalau begitu aku pulang dulu, nanti bilang saja pada appa mu" Luhan beranjak berdiri. Diikuti Sehun yang mengekor dari belakang.

"Cepat sekali" guman Sehun namun tak terdengar oleh Luhan yang berjalan di depannya.

"Sudah ya" Luhan mengelus kepala Sehun untuk terakhir kalinya sebelum ia berjalan ke arah mobil. Namun saat di tengah-tengah perjalanan Luhan berbalik lalu sedikit berteriak mengatakan sesuatu pada Sehun.

"Jangan mabuk sampai pingsan lagi Sehun"

Yang hanya Sehun tanggapi dengan mengangguk-anggukan kepalanya tanpa sadar akan maksud dari omongan Luhan.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

"Jongin Jongin Jongin Jongin Jong- ummp"

"Berhenti Sehun! nanti aku gigit bibirmu baru tahu"

Jongin memiting leher Sehun dengan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menutup mulut yang tak henti memanggil namanya itu. Gambaran yang pas sebagai contoh kekerasan dari seme terhadap uke manisnya. Namun tenang, Jongin tidak kasar, dan tidak mungkin bisa berbuat kasar pada Sehun. Mereka hanya bercanda, malah disini Jongin lah individu yang dirugikan karena berkat usahanya membuat Sehun diam, telapak tangannya sendiri yang banjir akan air liur kekasihnya.

"Sehun! Sejak kapan kau jorok begini ?" Marah Jongin, mengelap-ngelapkan tangannya kepada seragam sekolah Sehun. Ia sedari tadi dibuat kesal oleh kekasihnya ini yang mulai masuk dalam mode 'minta ini itu' nya sepulang sekolah. Jongin bukannya pelit, namun ia memiliki uang yang terbatas satu bulan ini, hukuman dari ayahnya karena kasus seminggu lalu saat ia -antara sengaja dan tidak- menabarakkan mobil ke tembok. Belum lagi belakangan ini teman-temannya menawarkan barang bagus, dan Jongin sangat ingin membeli barang tersebut.

"Makanya belikan aku pizza! Bubble tea juga! Yang banyak" Sehun menggerak-gerakkan tangannya untuk mendeskripsikan seberapa banyak pizza dan bubble tea yang ia inginkan. Tidak perduli pada Jongin yang hanya dapat mengerang frustasi.

"Tidak bisa Sehun, kau ini..." Jongin menggertakkan giginya sejenak untuk menahan gemas akan tingkah Sehun yang semaunya sendiri. "Kan sudah ku bilang appa tidak memberiku jajan lebih sebulan ini"

Sehun mendengus, membuat wajah menyelidik pada Jongin. "Tidak diberi jajan lebih lalu tidak bisa membelikan aku makanan, uh?" Tanya Sehun, mengangkat satu jarinya dan menekan-nekan dada Jongin.

Jongin berdecak, menggigit bibirnya dan berusaha sekeras mungkin tak menghadap Sehun. "Lihat kesini, Jongin!"

Menghela nafas panjang, Jongin memberanikan diri menatap Sehun tepat di mata. "Oke baiklah aku mengaku," ucapnya sebelum menambahkan. "Aku memang ingin beli sesuatu" lalu kembali mengalihkan pandangannya saat ia berbicara, kembali enggan menatap Sehun yang ia yakin sudah semakin mencurigainya.

Sehun berdehem kecil. "Hmm," ia mengangguk-anggukan kepalanya. "Membeli sesuatu ya~"

Jongin mengangguk, kali ini melirik sedikit pada wajah kekasih berkulit kontras dengannya itu. "Beli.. apa ?"

"Err.. sesuatu"

"Sesuatu apa Jongin ?"

"Barang"

"Barang seperti apa ?"

"Seperti.." Ia terhenti sebentar sebelum membuang nafas keras, hampir saja ia mengatakan yang sebenarnya. "...sudahlah Sehun kau tidak usah tahu" Jongin menyampingkan badannya dari Sehun, berkacak pinggang sambil menyisirkan jemarinya di rambut, sudah tak tahan memandang wajah Sehun yang mulai menunjukkan tanda-tanda aegyo jika Jongin mulai menyimpan rahasia darinya. Tidak tidak, bukannya Jongin tidak suka melihatnya, malah ia sangat senang, hanya saja jika sampai ia luluh bisa-bisa barang yang ia inginkan ini hanyalah tinggal ingin saja, tidak mungkin bisa menjadi kenyataan.

"Yasudah kalau tidak mau kasih tahu.. asal jangan barang yang aneh-aneh!" Pada akhirnya Sehun menyerah, menyilangkan lengannya di dada dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Jongin yang hanya melirik wajah masam Sehun dari balik pundaknya. Jongin menyusul cepat, merangkul bahu kekasihnya erat sehingga membuat tubuh mereka menempel.

"Sehun" Panggil Jongin, mencolek-colek dagu kekasihnya dengan tangan yang ia gunakan untuk merangkul.

"Hm ?"

"Boleh tidak ?"

"Tidak" Sehun berucap cepat bahkan sebelum Jongin memberitahukan keinginannya. Kurang lebih masih merasa sedikit kesal.

"Aku belum selesai bicara, sunshine" Jongin tak gentar walau diberi pandangan sinis.

"Yasudah apa ?"

"Seharian ini aku di rumahmu saja ya"

Sehun berhenti berjalan. Rasa-rasanya seperti teringat akan sesuatu saat Jongin berbicara tentang rumah. Sesuatu lewat via pesan yang berbunyi 'Sehun, sore nanti hyung main ke rumahmu ya' pesan yang ia baca berulang-ulang hingga tertidur. Pesan dari seseorang pengusaha muda kaya raya yang belakangan ini dekat dengannya. Pesan dari Luhan.

"S-seharian ?" Sehun menatap Jongin, meminta kepastian akan kata-katanya barusan. Dibalas anggukan dari kekasihnya, yang lalu bertanya-tanya saat melihat tingkah yang tak beres dari Sehun.

"Memangnya kenapa dengan hari ini, Jongin ?"

Jongin mengedikkan bahu. "Appa sepertinya masih marah padaku, ya jadi aku tidak ingin pulang dulu untuk menghindari hukuman" jelasnya, memincingkan mata pada Sehun. "Tidak boleh ya ? Sudah ada janji dengan orang lain ?" Tanyanya, perlahan melepas rangkulan pada Sehun dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Berusaha tampak biasa saja walau dalam hati menjerit cemburu akan kemungkinan Sehun memiliki janji dengan orang lain.

"Tidak kok, tidak" Cepat-cepat Sehun mengelak, menarik kembali tangan Jongin agar melingkari pundaknya. "Aku kan hanya tanya"

Jongin hanya diam, memandang Sehun yang melihat ke depan dengan senyuman canggung. Walau masih curiga, demi untuk menghindari terjadinya perkelahian diantara mereka Jongin memilih untuk tidak mengungkit dan hanya bersikap biasa selama perjalanan pulang.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

Sehun dan Jongin kini menghabiskan waktu bersantai mereka dengan menonton tv yang berada di kamar besar Sehun, dengan Jongin yang Sehun jadikan sebagai tempat duduk pribadi. Namun Jongin hanya di buat bingung dengan Sehun yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara apapun, membuat dirinya seperti orang bodoh karena tertawa sendirian akan film komedi yang sedang mereka tonton.

"Sehun, kali ini kenapa lagi, hm ?"

Sehun menggeleng.

"Kau sakit ?"

Sehun kembali menggeleng.

Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan kekasihnya, Jongin memaksa Sehun untuk menoleh padanya dengan memegang kedua sisi pipi Sehun. Mau tak mau membuat Sehun menoleh padanya.

Jongin menatap ekspresi wajah Sehun. Lalu berdehem dengan meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di dagu. "Oke..Wajah masam, bibir maju. Mau berbagi cerita atau tidak ?"

Sehun menunduk, lagi-lagi menggeleng. Menyandarkan tubuhnya di dada Jongin dengan tangan yang melingkari leher kekasihnya.

"Kau tidak bercukur ya ?" Tanya Sehun tiba-tiba, meletakkan tangannya di permukaan kasar dagu Jongin yang mulai di tumbuhi bulu.

"Tidak, biarkan saja" Jongin masih menatap Sehun, membiarkan jemari putih kekasihnya mengelus-elus bagian yang terasa agak geli di dagunya.

"Bercukur Jongin!" perintah Sehun dengan memberikan tatapan menuntut. Dan hanya ditanggapi Jongin dengan menggerakkan bibirnya seolah mengikuti Sehun berbicara. Lalu karena nendapatkan reaksi yang tak mengenakkan dari bibir Sehun yang semakin maju, Jongin menjawab, "Biar lebih manly, baby"

Sehun mengerutkan kening. "Manly apanya ?!" Lalu mencubit gemas ujung dagu Jongin yang lancip dan tampak tegas itu. "Dagumu jadinya kasar"

"Tapi kau suka, 'kan ?"

"Tidak, aku tidak suka"

"Oh ya ? Lalu kenapa kau elus terus, hm ?" Dengan cepat Sehun menarik tangannya dari dagu Jongin. "Aku gemas!" Elaknya keras, kembali melingkari leher Jongin dengan wajah yang turut ia sembunyikan disana. Malu karena telah tertangkap basah menyukai dagu Jongin yang kini sudah ditumbuhi bulu tipis yang kasar.

Jongin tersenyum jahil, meniup-niup kuping Sehun menggoda sehingga Sehun terpaksa harus menutup kupingnya. "Jongwin!" Wajah Sehun yang masih berada di leher Jongin membuat suaranya menjadi tak jelas, tak ayal membuat Jongin pun ikut geli akan gerakan bibir Sehun.

"Sudahlah Sehun jangan malu, kemarikan wajahmu" Jongin menarik rambut Sehun pelan sehingga membuat Sehun mau tak mau menjauh dari lehernya. Tentu dengan wajah yang masam karena telah diperlakukan semena-mena oleh kekasihnya sendiri.

Sehun yang tak henti memajukan bibirnya lama-lama membuat Jongin gemas, menarik leher Sehun mendekat sehingga ia bisa mengecup bibir tipis itu.

Jongin awalnya hanya berniat untuk sekedar memberi kecupan, sungguh, namun kalau Sehun sendiri yang meminta lebih, maka akan dengan senang hati ia penuhi. Seperti saat ini saat dimana Sehun menggigit-gigit bibir Jongin meminta perhatian dengan tangan yang kembali berletak di bagian obsesi terbaru Sehun, yaitu dagu Jongin. Tampak menikmati saat kekasihnya mulai turut mengikut sertakan lidah dalam pertemuan bibir yang sudah terlalu sering mereka lakukan.

"Sehun, ada Luhan hyung-"

Suara melengking eomma Sehun yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya membuat kedua insan yang sedang bermesraan ini memisahkan diri. Jongin kaget bukan main saat melihat eomma Sehun yang terdiam menatap mereka, yang ia pikirkan saat itu adalah citranya yang hanya akan semakin buruk di mata calon mertua. Namun, ia tak sadar bahwa Sehun jauh lebih kaget akan kedatangan dua orang itu di kamarnya, bukan, bukan kaget karena melihat eommanya, namun kaget akan pemuda di samping eommanya yang hanya dapat diam memandang ke arah mereka. Si Luhan hyung tersayang.

.

.

.

.

Tbc