Disclaimer: 17 © Pledis Entertainment


.

.


Country Roads, Take Me Home


.

.


4 of 7 : this world was never meant for one as beautiful as you


April 2013

Wonwoo dan Jeonghan bertengkar hebat satu kali. Mingyu tidak begitu ingat tanggal spesifiknya, juga tidak tahu penyebab pasti perseteruan dua orang itu. Saat itu Mingyu baru tiba sehabis menjemput Chan. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah Seungcheol tanpa permisi dan langsung menuju kamar pemuda itu seperti yang selalu mereka lakukan.

Teriakan bernada tinggi Jeonghan adalah hal pertama yang didengar Mingyu saat memasuki ruangan. "Berhenti bersikap dramatis. Hanya karena kau terpaksa pindah ke pulau kecil dan meninggalkan kehidupan kotamu yang serba mudah di luar keinginanmu, bukan berarti hidupmu paling susah di sini, Jeon Wonwoo."

Mingyu dan Chan berdiri terpana di depan pintu yang baru mereka buka. Sama sekali tidak mengharapkan disambut pemandangan seperti ini di baliknya. Jeonghan dan Wonwoo berdiri di dekat tempat tidur Seungcheol. Saling berhadapan, masing-masing seperti berusaha untuk terlihat lebih besar dari yang lain. BooSeokSoon yang lazimnya tidak mengenal konsep keheningan kali ini berubah hening, duduk diam di lantai dengan kaki tersilang, kepala menunduk canggung.

"A..ada apa ini?" Mingyu bertanya hati-hati sambil berjalan pelan ke dalam ruangan, diikuti oleh Chan yang menutup pintu di belakangnya ketakutan.

Mingyu tidak melewatkan sama sekali bagaimana dada Wonwoo naik turun terdorong emosi, matanya fokus pada Jeonghan yang juga dalam kondisi serupa di hadapannya. Perhatiannya sama sekali tidak terdistorsi kepada Mingyu. Penghuni ruangan yang lain pun nampak tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Mingyu. Hanya Seokmin yang mengangkat kepalanya dan menggeleng lemah seolah memberi isyarat untuk Mingyu menutup mulut.

Pada saat yang sama keluar suara bernada tinggi seperti milik Jeonghan sebelumnya, kali ini dari Wonwoo. "Ya, hidupku memang sangat susah. Kau pasti tidak tahu itu kan?"

"Aku tidak percaya ini." Jeonghan membalas seraya tertawa sinis. "Kau sudah salah. Yang perlu kau lakukan hanya minta maaf. Tapi kau lebih memilih untuk keras kepala dan membuat ini jadi panjang."

Mingyu memandang Jeonghan lalu Wonwoo secara bergantian. Sama sekali tidak ada ide apa yang mereka bicarakan atau kenapa mereka terlihat seperti hanya satu detik jauhnya dari saling membunuh. Seungkwan, Seokmin, dan Soonyoung yang terlalu sibuk menghindari saling menatap dengan siapa pun dalam ruangan sama sekali tidak membantu.

"Dengar, aku mengatakan apa yang kukatakan. Itu pendapat pribadiku. Aku tidak akan menariknya kembali juga tidak akan minta maaf. Kalau itu tidak sesuai dengan keyakinanmu, ayo sepakat untuk tidak sepakat."

"Apa yang kau katakan itu salah. Aku tersinggung, oke. Dan bukan aku saja. Tapi semua orang yang kau rendahkan dalam pendapatmu itu." Jeonghan membentuk tanda kutip di udara pada kata pendapat. "Kau tidak bisa menyelesaikannya dengan 'sepakat untuk tidak sepakat' dan berharap lepas begitu saja lalu semua orang akan lupa."

Mingyu selayaknya tersesat dalam kegelapan. Dia ingin tahu apa yang membuat Jeonghan dan Wonwoo tidak bisa setuju satu dengan yang lain sampai bertengkar hingga urat-urat mereka tertarik. Apa yang sudah dikatakan Wonwoo sehingga Jeonghan begitu murka. Setahu Mingyu, Jeonghan—meski dengan semua sikap curang dan tukang perintahnya—sama sekali bukan tipe yang akan meninggikan suara pada teman-temannya. Sebenarnya apa yang sudah dikatakan Wonwoo sampai menarik keluar sisi Jeonghan yang ini. Tidak ada yang mau menjelaskan kepadanya.

Mingyu semakin tidak mengerti ketika tawa keras Wonwoo memenuhi seluruh ruangan. Itu berlangsung selama lebih dari lima detik. Tawanya sama sekali bukan jenis yang tulus, atau karena merasa terhibur. Murni sinis dan kepahitan. "Karena kau benar, bukan berarti aku salah. Kau hanya belum pernah melihat dunia dari posisiku. Aku tetap tidak akan minta maaf. Jadi kau bisa simpan energimu dengan semua omong kosong itu. Aku muak."

Dengan itu Wonwoo beranjak dari posisi berdirinya. Melewati Mingyu tanpa mengatakan apa-apa dan membanting pintu dengan keras di belakangnya.

Tidak ada yang berani berbicara maupun bergerak selama beberapa saat sampai Chan berbicara. "Uh.. apa tidak ada yang mau mengejar Wonwoo hyung?"

BooSeokSoon yang seperti masih dalam kondisi post trauma sehabis pertengkaran sama sekali tidak beranjak dari posisi mereka. Mingyu menganggap ini sebagai isyarat untuk dia yang bergerak. Lagi pula di antara mereka semua, Wonwoo paling dekat dengannya. Mingyu memandang ragu kepada Jeonghan sesaat, meminta persetujuan dari yang lebih tua namun pemuda itu malah membuang mukanya.

Mingyu mengerutkan kening sebelum membuang nafas banyak-banyak. "Dengar hyung, aku tidak tahu apa masalahmu dengan Wonwoo. Jadi kau harus tahu kalau aku tidak memihak siapa pun. Tapi sekarang aku akan mengejar Wonwoo. Dia masih buta dengan pulau ini."

"Aku tidak peduli." Jeonghan membalas ketus namun Mingyu tidak terlalu memusingkannya.

Mingyu masih bisa melihat punggung Wonwoo ketika keluar dari pagar rumah Seungcheol. Dia berjalan ke arah yang sama sekali berlawanan dengan rumahnya. Mingyu membawa kaki panjangnya berlari untuk menyusul Wonwoo. Sepatu putihnya perlahan berubah coklat terang akibat debu yang beterbangan setiap kali kakinya menghentak tanah. Mingyu sangat menyukai sepatu itu tapi pada momen itu segala sesuatu yang bukan mengejar Wonwoo terasa non trivial. Dia berhenti berlari ketika sudah berada tepat di belakang yang lebih tua. Menyamakan irama langkah mereka tanpa berusaha berjalan berdampingan.

Mingyu tahu kalau Wonwoo sadar akan kehadirannya meski dia berusaha untuk meredam langkah kaki sepelan mungkin dan mengunci bibir rapat. Namun pemuda itu tidak mengatakan apa-apa, tidak menyuruhnya enyah, juga tidak memanggilnya untuk berjalan di sisinya. Dia hanya terus berjalan dalam diam. Mingyu cukup tahu diri untuk tidak melanggar batasnya di saat seperti ini.

Sekitar lima menit berjalan lurus di jalan setapak, Wonwoo mengambil belokan ke arah kanan. Mingyu mengikutinya. Jalan yang Wonwoo ambil adalah jalan menanjak yang menuju bukit. Tempat mereka terkadang menghabiskan sore berdua, bersembunyi dari semua orang. Wonwoo berhenti tepat di depan sebuah batu besar. Mengambil nafas sebentar lalu naik ke atasnya. Batu itu cukup besar untuk bisa menampung tiga orang dewasa. Mingyu hanya berdiri diam memandang Wonwoo yang sedang berusaha mencari posisi nyaman. Setelah beberapa detik, Wonwoo berhenti bergerak, dia sudah duduk di sisi kanan batu, lalu memandang Mingyu dengan mata sipitnya yang selalu terlihat menghakimi setiap keputusan hidup Mingyu.

"Apa yang kau lakukan di situ?"

"Uh..."

"Ayo naik," alis Wonwoo menekuk tidak puas seolah Mingyu gagal memahami intruksi yang sudah sangat jelas. Seraya menepuk spasi kosong di sisi kiri batu, Wonwoo berkata "Duduk di sini. Apa yang mau kau lakukan berdiri di situ?"

Satu hal yang Mingyu sadari tentang dirinya sendiri akhir-akhir ini, dia tidak bisa menolak apa pun yang dikatakan Wonwoo. Bukan hanya tentang karakternya yang memang tidak akan menolak siapa saja yang meminta tolong atau tidak bisa berkata tidak. Ini adalah sesuatu yang berbeda. Jika dia mengeluh dalam hati ketika disuruh-suruh oleh Jeonghan dan Seungcheol, hatinya tidak pernah keberatan berkata ya seluruh perintah Wonwoo. Jika Wonwoo mengajaknya ke gudang belakang untuk menciumnya sampai otak Mingyu terasa lumpuh, dia akan mengikutinya ke sana, kalau Wonwoo bilang dia tidak ingin mencium Mingyu sampai minggu ini berakhir, Mingyu tidak akan memaksanya, kalau Wonwoo bilang dia ingin mendatangi tempat-tempat paling berbahaya di Cheongsan, Mingyu akan membawanya. Apapun yang dikatakan Wonwoo, apapun, Mingyu akan melakukannya. Mingyu sama sekali tidak tahu apa yang salah dengannya, atau apa yang ada pada pemuda ini sehingga membuatnya sampai habis-habisan seperti itu. Yang Mingyu tahu, ada kemunginan besar bahwa dia bahkan rela membunuh untuk Wonwoo. Untuk saat ini, permintaan Wonwoo sama sekali tidak berat atau melibatkan kematian siapa pun. Hanya untuk Mingyu duduk di atas batu bersamanya. Mingyu sama sekali tidak membuang waktu untuk melakukannya.

Baiklah. Mingyu berbohong tadi. Mungkin saja dia sedikit berpihak pada Wonwoo walaupun pemuda itu sudah bersalah kepada Jeonghan.

Wonwoo sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang pertengkarannya dengan Jeonghan. Mingyu sendiri tidak berani menyinggungnya. Mereka menghabiskan waktu seperti bagaimana mereka selalu melakukannya jika hanya berdua. Yang tidak jauh dari sekedar mengunci bibir dan mendesah di antara ciuman mereka.

Mingyu tidak tahu seberapa banyak waktu yang berjalan ketika dia hilang dalam pertemuan bibirnya dengan Wonwoo. Lagipula waktu bukanlah sesuatu yang signifikan baginya setiap kali dihabiskan dengan Wonwoo. Dia tidak sudi menghitungnya. Hanya saja ketika Wonwoo menarik lidahnya keluar dari mulut Mingyu kemudian menjauhkan wajahnya, Mingyu tidak bisa memberi nama untuk hal lain yang lebih indah dari Jeon Wonwoo yang bernafas terengah dengan bibir merah basah oleh percampuran saliva mereka. Sesuatu di bawah perut Mingyu bergejolak, namun tidak sehebat apa yang di atasnya. Ini sama sekali bukan perasaan yang baru. Jantungnya berdetak seperti akan pecah di bawah dadanya setiap kali melakukan ini dengan Wonwoo. Awalnya dia pikir ini adalah karena gairah yang ditimbulkan dari ciuman pertamanya dengan manusia lain. Selanjutnya dia pikir ini dipicu oleh adrenalin tapi kalau memang iya, seharusnya perasaan itu berhenti ketika mereka sudah terlalu sering melakukannya. Seharusnya dia tidak lagi merasa menggebu seperti saat pertama. Kenyataannya, perasaan itu tetap selalu ada setiap kali Wonwoo sudah meletakkan kedua tangannya menangkup wajah Mingyu sebelum mulai menciumnya seperti tidak ada hari esok. Atau ketika dia melingkarkan lengannya di leher Mingyu sehingga membuat apa yang mereka lakukan terasa lebih intim dari seharusnya. Perasaan itu selalu ada, sekuat saat pertama, kalau bukannya lebih dahsyat lagi.

"Hanya ada satu mobil yang lewat sepanjang kita duduk di sini. Membosankan." Wonwoo berbicara di sebelahnya. Dia sudah tidak lagi melihat ke arah Mingyu, melainkan jalan setapak di bawah mereka. "Jalan di Changwon tidak pernah sesepi ini."

Mingyu memandang ragu ke arah Wonwoo. Dari posisi mereka sekarang, dia hanya bisa melihat sisi samping wajahnya. Dia mencoba membaca ekspresi pemuda itu, apa arti dari bias di belakang irisnya, apa yang dia pikirkan, apa yang akan dia lakukan berikutnya, atau kenapa dia selalu terlihat tenang dan terkendali setiap mereka habis melakukan ini sementara Mingyu merasa seperti jantungnya akan melompat keluar untuk dilihat seluruh dunia bagaimana dia jatuh cinta pada pemuda kota ini.

Mingyu menahan nafasnya tiba-tiba begitu sadar apa yang baru saja dipikirkan oleh kepalanya. Apa dia baru saja mengatakan kalau dia jatuh cinta?

Oh.

Mingyu memutar kepalanya untuk melihat jalan setapak yang juga diperhatikan Wonwoo. Lalu kembali pada pemuda itu. Lalu ke jalan lagi. Berkali-kali sampai Wonwoo terganggu dan menyuruhnya berhenti. Jadi dia berhenti. Dan hanya memandang wajah Wonwoo yang juga dihadapkan padanya. Dunia seolah bergerak dalam slow motion sebelum berhenti sepenuhnya ketika Mingyu menyadari kalau ya, itu adalah penjelasan yang masuk akal. Dia, entah bagaimana jatuh cinta pada Wonwoo. Semakin dia menyadarinya, semakin Mingyu merasa seperti jantungnya akan pecah dan keping-kepingnya berhamburan di udara.

Indah.

Perasaan baru ini sangat indah, sama seperti warna mata Wonwoo.

Namun euforia Mingyu yang baru menyadari perasaannya itu segera terhenti ketika Wonwoo tanpa perike-Mingyu-an menghancurkan kontak mata mereka. Dia kembali mengalihkan mata ke jalan setapak di bawah mereka. Menghitung mobil yang sama sekali tidak lewat.

"Aku ini bajingan," kata Wonwoo.

Mingyu berhenti merasa gembira detik itu juga. Satu alisnya menukik heran memandang Wonwoo.

"Kau tahu kenapa Jeonghan marah?"

"Kenapa?"

Wonwoo mendengus seperti sedang mengejek setiap penduduk Cheongsan dan ibu mereka. "Kubilang dia sakit."

Mingyu mengerutkan keningnya semakin bingung.

"Dia dan Seungcheol tepatnya," kata Wonwoo lagi. "Kubilang kalau apa yang mereka lakukan salah. Sesama laki-laki saling mencintai? Konyol sekali kalau mereka berharap dunia tidak akan memicingkan mata kepada mereka. Bukankah itu salah?"

Wonwoo masih mengatakan sesuatu setelah itu tapi Mingyu sama sekali tidak mendengarnya lagi. Seketika kepalanya terasa kosong. Dia memandang mulut Wonwoo bergerak, namun memblokade suaranya. Dia bertanya omong kosong apa yang dikatakan Wonwoo kepada Jeonghan sementara dia secara religius nyaris setiap hari mencium Mingyu yang sepanjang ingatannya juga adalah laki-laki? Apa yang ada dalam kepalanya?

Semua terjadi terlalu cepat, Mingyu tidak bisa memproses segala sesuatu sekaligus. Seperti kembang api di musim panas. Satu detik dia melambung ke udara dan meledak indah, detik berikutnya redup hanya meninggalkan kehampaan. Dia baru saja menyadari perasaan barunya kepada Wonwoo, tidak sampai satu jam berikutnya pemuda yang sama dengan objek cintanya itu mengeluarkan komentar homofobia tepat di depan wajahnya. Apa ini? Mingyu merasa seperti bukan hanya hati tapi seluruh dirinya dicabik-cabik dengan brutal tanpa konsiderasi sedikitpun oleh Jeon Wonwoo.

Mingyu pikir, bukan hanya Wonwoo bajingan, tapi dia adalah bajingan munafik. Berita buruknya, Mingyu sudah terlanjur jatuh cinta kepada dia yang seperti itu. Dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan kejatuhannya.

.

.

16 Juli 2024 18:02

Titik-titik air masih belum berhenti menghantam permukaan tanah Cheongsan seperti seorang kekasih yang marah. Mingyu dan teman-temannya harus berpuas diri terkurung di dalam rumah. Tidak ada yang bersemangat memanggang daging-daging yang sudah dipotong sebelumnya. Semua orang hanya duduk meringkuk di atas sofa dan mencuri semua selimut yang bisa mereka jarah dari lemari Seungcheol sembari menyibukkan diri dengan ponsel atau membuka setiap bungkusan camilan yang dibawa Wonwoo.

Mingyu sendiri berdiri di depan jendela mengamati gumpalan awan di luar sana. Kepalanya terasa tidak baik hari ini. Dia merasa tidak berdaya. Sangat melankolis dan bergantung kembali pada masa lalu. Sesuatu yang sudah tidak terjadi lagi untuk waktu yang lama. Ini bukan tipikal Mingyu. Meratapi air hujan seperti seorang pecinta yang penuh duka. Dia tidak biasa meromantisasi hujan, atau awan kelabu, atau badai musim panas Changwon. Itu adalah pekerjaan Wonwoo.

"Sangat cantik kan?"

Seolah terpanggil oleh pemikiran sepintas Mingyu, Wonwoo tiba-tiba berdiri tepat di sebelahnya. Ikut-ikutan memandang objek-objek abstrak di luar jendela.

Mingyu memilih untuk mengatupkan mulutnya hanya untuk memandang raut wajah Wonwoo, berusaha memahami apa yang dipikirkan orang ini.

Sama sekali tidak memberi perhatian kepada Mingyu dan tatapan tidak berdayanya, Wonwoo mengangkat gelas sirup ke depan wajahnya. Meminum dari sana sementara matanya masih terpaku pada air yang menari-nari di luar ruangan bersama tumbuhan di kebun belakang Seungcheol.

Sekali lagi, mau tidak mau cincin di jari manis Wonwoo menarik perhatian Mingyu. Sesuatu dalam dirinya ingin marah untuk alasan tertentu. Melihat Wonwoo berdiri dengan tubuh kurusnya seperti ini. Sangat santai menikmati sirup dingin dari gelas yang bagian luarnya berkeringat saking dinginnya. Mengangkat tangan bebas ke udara dan memamerkan betapa indah dan sempurna cincin berlian itu melingkar di jari keempatnya tepat di bawah hidung Mingyu. Dan memandang badai yang mengamuk di luar sana seraya memulai pembicaraan basa-basi seolah tidak ada yang terjadi. Seolah semua baik-baik saja di antara mereka.

Mereka jelas tidak baik-baik saja.

"Kau tidak mengatakan apa-apa." Wonwoo berbicara lagi. Kali ini dia menghadapkan wajahnya pada Mingyu. Yang datar tanpa ekspresi, tidak memberi petunjuk sedikitpun akan emosinya. Akan apa yang terjadi di bawah tempurung kepalanya.

Berkebalikan dengan Mingyu yang mengeraskan rahang menahan seluruh emosi di bawah dada untuk tidak membuncah keluar saat itu juga di depan teman-teman mereka. Hal terakhir yang Mingyu inginkan sekarang adalah menarik perhatian semua orang dan membuat mereka sadar bahwa dia dan Wonwoo memiliki sejarah. Mingyu yakin wajahnya menunjukkan sangat jelas akan apa yang dia rasakan tentang sirkumtansi mereka sekarang.

Karena selanjutnya Wonwoo bertanya tanpa menunggu dia merespon kalimatnya sebelumnya. "Kau masih marah?"

Mingyu tidak menjawab.

Wonwoo membuang nafas panjang. Meletakkan gelasnya di pinggiran jendela, sama sekali tidak takut benda itu akan jatuh. "Kau tidak sedingin ini di dermaga tadi. Kukira kita baik-baik saja?"

Mingyu masih dengan keras kepala menolak menjawab. Karena dia tahu bahwa Wonwoo tidak mungkin senaif itu percaya bahwa setelah segala sesuatu yang terjadi, Mingyu akan begitu saja melunak padanya lagi seperti yang selama ini selalu dia lakukan. Mingyu tidak... dia sudah bukan orang itu lagi. Dia tidak akan membiarkan Wonwoo melakukan itu lagi padanya. Mingyu sekarang sudah belajar. Itu adalah kesalahannya. Dia selalu secara tidak berdaya menyerah pada orang ini. Membiarkan hatinya memegang kendali untuk segala keputusan yang dia ambil dalam hidupnya. Membiarkan perasaannya pada Wonwoo menghancurkan setiap pertahannya. Membiarkan Wonwoo menguasai setiap sel paling kecil dalam tubuhnya. Hanya untuk apa? Untuk lagi-lagi dimanipulasi dan dipermainkan sesuka hati yang lebih tua.

Dari sudut matanya, Mingyu melihat Jeonghan duduk di sofa yang cukup dekat dengan posisi berdiri mereka. Memandang penasaran.

Wonwoo mengepalkan tangan di sisi kanan kiri tubuhnya. Wajahnya masih bertahan dengan ekspresi pokernya yang tidak mengandung emosi dan itu mengganggu Mingyu lebih dari yang mau dia akui. Wonwoo memutar tubuhnya lagi untuk memandang ke luar jendela sebelum Mingyu sempat mengatakan apa-apa.

"Badai musim panas. Tidak terjadi setiap hari di Cheongsan, eh?" katanya.

Sekarang dia tiba-tiba ingin berganti membicarakan iklim. Mingyu sama sekali tidak mengerti orang ini.

Sangat perlahan, Wonwoo menaikkan kedua telapak tangannya sehingga sejajar dengan wajahnya. Matanya masih tidak berpindah dari objek apa pun yang membuatnya terpaku di luar sana. Jari-jarinya bermain dengan cincin itu lagi. Seolah dia sengaja melakukan itu di depan Mingyu. Padahal tanpa itu pun, Mingyu sudah sangat sadar dengan kehadiran benda itu di sana.

"Bayangkan berapa banyak orang yang membenci badai ini, Mingyu." Wonwoo berbicara lagi. "Seungcheol jelas sangat tidak suka kehadirannya. Sama seperti dia tidak suka padaku."

"Itu tidak benar." Akhirnya Mingyu mengatakan sesuatu sebagai balasan. "Seungcheol bukannya benci padamu. Dia hanya..."

"Tidak pernah mengharapkan kehadiranku." Wonwoo menyelesaikan untuknya. Mingyu sekali lagi bergeming. Seungcheol bukan seseorang yang picik. Dia punya alasan untuk ketidaksukaannya pada Wonwoo. Saat mereka semua masih remaja naif yang tidak memikirkan siapa-siapa kecuali diri sendiri, tidak bisa dipungkiri bahwa Wonwoo sudah menyakiti mereka—Jeonghan dan Seungcheol—sebagai bentuk protesnya akan tidak adilnya dunia padanya. Itu bukan sesuatu yang bisa dilupakan dengan mudah tidak peduli apa pun alasan di balik tindakannya atau seberapa besar dia menyesalinya sekarang.

"Kau tahu, Mingyu?" Suara Wonwoo kembali menarik perhatan Mingyu. "Aku ini seperti badai musim panas. Selalu datang tanpa pemberitahuan pada saat yang tidak diharapkan. Menyakiti semua orang. Tidak pantas untuk dicintai, orang-orang menutup jendela jika aku datang. Badai menyimpan terlalu banyak rasa marah, terlalu banyak kesedihan, mereka meledak dalam emosi. Aku meledak terlalu sering. Seperti sebuah masalah yang sama sekali tidak bisa diatasi. Tapi kau, Gyu..." Wonwoo menghentikan kalimatnya sejenak. Memandang Mingyu tepat di matanya.

Tidak. Mingyu tidak ingin mendengarnya lagi. Dia tidak akan dibuat lemah dengan mata sedih itu lagi.

"...kau datang dengan menabrak semua pertahananku, masuk begitu saja tanpa perlindungan, menari bersama badai."

Mingyu mengerutkan keningnya sedikit marah. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan Wonwoo darinya sekarang. Mengatakan itu semua padanya. Dia memaksa lidahnya bergerak, "Tapi badai, jika aku menari terlalu lama bersamanya dan dia tidak berhenti, bisa membuatku kedinginan."

Wonwoo tersenyum tipis. Mingyu tidak tahu apa artinya itu. Jika itu menggambarkan penyesalan atau hanya sekedar sinisme. Dan dia hanya mengatakan "Aku tahu." Sebelum mengambil lagi gelas yang dia letakkan di pinggiran jendela tadi dan berlalu dari sana.

Mingyu bersumpah dia akan membayarkan seluruh harta kekayaanya jika itu memungkinkan. Hanya untuk menghapus topeng tanpa ekspresi Wonwoo selamanya dan membiarkan dia mengerti sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki itu? Tentang dunia ini. Tentang Cheongsan. Tentang teman-teman yang dia tinggalkan. Tentang Mingyu. Tentang mereka.

.

.

17 Juli 2013

Mingyu tidak akan pernah lupa satu-satunya waktu Wonwoo akhirnya menanggalkan seluruh topeng keangkuhan di mana dia selalu bersembunyi di baliknya. Ini adalah satu ingatan yang sangat kontradiktif baginya. Sesuatu yang sangat memuaskan egonya karena akhirnya dia melihat wajah asli Wonwoo di balik topeng itu tapi di saat yang sama dia nyaris tidak pernah ingin melihat betapa lemah dan hancurnya Wonwoo.

Beberapa hari sebelum libur musim panas selesai, Mingyu tinggal di rumah sendiri. Ayah, Ibu, dan Minseo sedang mengunjungi keluarga mereka di Wando. Mingyu yang tidak ingin melewatkan campfire tahun ini menolak ikut karena orang tuanya berencana untuk kembali ke rumah dua hari setelah campfire. Mingyu pikir dia bisa membunuh waktu dengan bermain bersama teman-temannya. Tapi ternyata semua orang sibuk musim panas ini. Jeonghan dan Seungcheol hanya ingin menghabiskan waktu berdua, Seungkwan pergi ke Jeju bersama keluarganya, Soonyoung dan Seokmin entah sedang apa berdua, jujur Mingyu sama sekali tidak ingin terlibat kalau kedua orang itu tidak didampingi Seungkwan, Wonwoo sudah beberapa hari tidak ada kabarnya. Mingyu memilih untuk tidak terlalu memusingkan anak laki-laki itu meski dia sudah seperti mau gila tidak mendengar suaranya lebih lama dari yang pernah dia lakukan. Akhir-akhir ini dia selalu menghabiskan waktu dengan Chan tapi anak itu juga ada urusan di Wando hari ini. Yang membuat Mingyu harus berpuas diri membaca majalah atau komik di kamarnya, atau diam-diam membayangkan seorang anak laki-laki bertubuh kurus dan bibir paling cantik yang dia tahu. Dia yang sudah menghancurkan hati Mingyu berkali-kali lalu mengangkatnya dari tanah hanya untuk dihempaskan kembali dengan brutal.

Hubungan mereka rumit. Wonwoo jelas-jelas mengatakan kalau hubungan sesama laki-laki tidak normal, menunjukkan kalau dia tidak menginginkan hubungan dengan Mingyu, di saat yang sama dia tidak berhenti merangkak pada Mingyu pada hari baik maupun buruk dan menciumnya seperti Mingyu adalah satu-satunya yang berarti di dunia. Mingyu sendiri tidak mengerti apa yang dia harapkan dari Wonwoo, dia hanya... menerima, apa pun yang bersedia Wonwoo berikan untuknya.

Musim panas ini adalah saat di mana semuanya berubah. Setidaknya untuk Mingyu.

Temperatur udara ada pada puncak tertinggi hari itu. Sehingga bayangan untuk melangkah keluar dari kamarnya yang sudah dia pasangi kipas angin—dia memindahkan kipas keluarga dari ruang tengah—terasa terlalu berlebihan bagi Mingyu. Dia sudah mengurung diri sejak pagi setelah tahu kalau Chan hari ini tidak akan ada di Cheongsan. Membaca komik, bermain komputer, memasak makan siang, menonton tv sambil makan, membaca komik lagi, secara umum bermalas-malasan.

Mingyu sedang di tengah tidur siang ketika pintu depan rumahnya digedor tidak sabaran oleh seseorang. Dengan pikiran yang masih setengah bermimpi, Mingyu berpikir kalau dia langsung masuk pagar dan menggedor pintu, artinya itu adalah salah satu temannya, tapi mereka semua sudah bilang hari ini tidak bisa main jadi suara gedoran itu pasti hanya dalam mimpinya. Mingyu memilih mengabaikannya. Suara gedoran masih terdengar konstan di depan pintu tapi Mingyu malah memperbaiki posisi bantal untuk tidur. Beberapa kali seperti itu sampai dia mendengar namanya diteriakkan.

Setengah mengigau Mingyu bertanya pada ruang kosong di kamar. "Kenapa aku mendengar Wonwoo berteriak memanggilku di mimpi?"

"Kim Mingyuuuuu!" namanya diteriakkan lagi.

Kali ini Mingyu terjaga. Dia mendengar gedoran di depan pintu lalu namanya disebut lagi. Mingyu duduk cepat, mendengar lebih seksama dan suara Wonwoo terdengar lebih jelas juga putus asa.

"Shit! Itu Wonwoo asli." Dia segera bangkit dari tempat tidurnya, terjatuh karena kakinya tersangkut seprei dan menabrak setumpuk majalah di lantai. Dengan cekatan dia bangkit, namanya diteriakkan beberapa kali lagi sebelum Mingyu sampai di depan pintu, merapikan rambutnya sedikit dan akhirnya menarik daun pintu untuk bertemu pandang dengan Wonwoo.

Kepalan tangan Wonwoo hampir tidak sengaja akan mendarat di wajah Mingyu kalau dia tidak menarik kepalanya ke belakang dengan sigap.

"Wonwoo, bukannya kau kembali ke Changwon?"

Wonwoo menurunkan tangannya perlahan sambil terus memandangi Mingyu, matanya terlihat seperti sedang menghakimi Mingyu dan membenci.

Tatapan Wonwoo ini serta merta membuat Mingyu tidak nyaman, dia memeriksa jika ada sesuatu yang salah dengannya namun menemukan nihil. Baiklah mungkin dia terlihat kurang pantas saat ini karena hanya memakai kaus berlengan pendek yang sangat besar di tubuhnya, seluruh lengan dan bawah ketiak hingga rusuknya telihat jelas ditambah celana boxer yang menggantung tinggi di atas pahanya—Mingyu merasa Wonwoo tidak seharusnya mengahakimi pilihan busananya karena temperatur udara memang sangat tinggi dan seolah memanggil untuk busana seperti ini.

Wonwoo, di sisi lain sama sekali tidak berkomentar apa-apa. Nyatanya dia tidak peduli dengan apa yang dipakai Mingyu. "Boleh aku masuk?" katanya. Dan baru setelah itu Mingyu sadar lingkar hitam pada matanya, tubuhnya yang seperti menyusut dan menjadi lebih kurus lagi sepanjang musim panas, ditambah rasa lelah yang kentara dalam suaranya.

Mingyu langsung curiga kalau ada yang tidak beres. Dia cukup tahu untuk tidak mengatakan apa-apa, segera menyingkir dari pintu untuk memberi Wonwoo jalan masuk. Wonwoo sendiri langsung melangkah ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar Mingyu. Dia tahu letak persis kamar yang lebih muda, dari banyaknya waktu yang dia habiskan di sana.

Mingyu menyusul Wonwoo setelah memastikan pintu rumahnya dikunci lagi. Yang lebih tua sedang berbaring dengan hanya setengah tubuh di atas kasur, lengannya digunakan untuk memblokir cahaya dari matanya saat Mingyu masuk ke dalam ruangan. Mingyu tahu Wonwoo bisa merasakan kehadirannya namun pemuda itu sama sekai tidak bergerak. Hanya berbicara pelan. "Tolong tutup pintu dan tirainya."

Mingyu berdiri diam pada posisinya selama beberapa detik, terus memandang Wonwoo yang juga stasioner di atas tempat tidur. Dia membuang nafas panjang sebelum melakukan persis perintah Wonwoo. Seperti biasa, tidak bisa berkata tidak. Mingyu cukup yakin kalau kebiasaan ini sangat tidak sehat untuknya. Tapi ini adalah Wonwoo, kalau dia harus sakit untuknya, Mingyu tidak akan keberatan.

Kamar menjadi remang setelah Mingyu menutup segala sumber cahaya dan jalan keluar dari situ. Wonwoo melepas lengan yang menutupi matanya lalu bergerak untuk duduk di atas tempat tidur, dia menepuk spasi di sebelahnya mengundang Mingyu untuk naik seolah dia pemilik tempat itu bukan sebaliknya. Mingyu hanya menurut serta mengikuti alur permainan Wonwoo. Dia berjalan perlahan, naik ke atas kasur seperti perintah Wonwoo. Setelah itu Wonwoo melebarkan kaki Mingyu tanpa aba-aba lalu berbaring di antaranya dengan kepala diistirahatkan pada salah satu paha Mingyu. Masih menolak untuk berbicara, Wonwoo menarik satu tangan Mingyu lantas memposisikannya sesuka hati di atas rambutnya. Mingyu menganggap ini sebagai sinyal untuk dia mengelus kepala pemuda itu. Saat ini Wonwoo benar-benar mirip seekor kucing yang manja. Itu melakukan sesuatu pada jantung Mingyu. Rasanya seperti seluruh organ dalam tubuhnya ingin membuncah keluar.

"Aku suka setiap kali kau mengelus rambutku seperti itu." Tiba-tiba Wonwoo berkata setelah membiarkan udara di sekitar mereka hanya diisi suara nafas selama beberapa menit. "Itu membuatku tenang."

Mingyu melanjutkan gerakan tangannya. Sejak awal pertemanan mereka Mingyu selalu saja secara tidak sadar melakukan ini pada Wonwoo. Terlalu terbiasa melakukan hal serupa kepada adiknya. Wonwoo tidak pernah terlihat keberatan diperlakukan seolah lebih muda oleh Mingyu tapi Mingyu juga tidak pernah tahu kalau Wonwoo menyukainya. Untuk adilnya, Wonwoo tidak sekali pun mengatakan apa-apa mengenai itu sebelum ini.

Wonwoo berbicara lagi. "Kenapa kau selalu mengelus kepalaku dengan lembut?"

Mingyu mengernyit bingung. "Apa kau lebih suka kalau aku kasar?"

Entah untuk alasan apa, Wonwoo tertawa mendengar pertanyaan Mingyu. "Kinky," katanya. Mingyu tidak tahu apa yang dia bicarakan. "Maksudku adalah, kalau kau lembut seperti itu, nanti aku jadi terlalu nyaman."

"Tujuannya memang untuk membuatmu nyaman kan?"

"Tidak, tidak," kata Wonwoo. "Kau tidak boleh membuatku terlalu nyaman. Itu tidak baik. Nanti aku jatuh."

Kerutan di kening Mingyu semakin dalam. "Apa yang kau bicarakan?"

Untuk sesaat Wonwoo mengatupkan bibirnya. Dengan mata tertutup masih menikmati elusan Mingyu, dia menghela nafas. Saat dia membuka mata, Mingyu melihat semacam kekecewaan di matanya yang segera hilang ketika dia berkata, "Lupakan."

Ini bukan kali pertama Wonwoo berbicara dengan teka-teki, Mingyu ingin tidak memusingkannya tapi biar bagaimana pun dia khawatir. "Apa kau minum alkohol?"

"Tidak," jawab Wonwoo cepat.

"Makan sesuatu yang aneh?"

"Tidak juga."

"Jadi kenapa?" Mingyu mengerang frustasi. "Apa sesuatu terjadi di rumah?"

Wonwoo tidak menjawab, Mingyu menganggapnya bahwa itu berarti ya. "Apa tentang Bohyuk? Orang tuamu? Aku sama sekali tidak melihatmu selama musim panas. Apa ini ada hubungannya dengan itu?"

Mingyu menyadari perubahan raut wajah Wonwoo yang signifikan setelah itu. Dia menarik tangan kanan Mingyu, meremasnya kuat seperti sedang mencoba mentransfer seluruh beban hidupnya ke sana. Wajahnya merah entah menahan tangis atau emosi atau keduanya.

"Wonwoo hyung?" panggil Mingyu. "Kau tahu kalau aku selalu bersedia mendengarkan. Ceritalah kalau itu bisa membuatmu lega. Bukankah itu tujuanmu ke sini?"

Wonwoo tertawa mengejek. "Aku ke sini untuk menenangkan diri, sok pintar."

"Dan kau akan tenang kalau kau membagi bebanmu dengan orang lain, hyung. Jangan menyimpan semua sendiri."

Wonwoo bergeming.

Mingyu mencoba lagi. "Hyung? Kau tahu kalau aku mau melakukan apa saja asal kau bisa bahagia."

"Jangan lakukan itu," ucap Wonwoo. Dia menutup matanya seraya melanjutkan dalam bisikan "Nanti aku jatuh cinta."

Mingyu menahan nafas. Seandainya Wonwoo tahu kalau itu adalah hal yang paling dia inginkan saat ini di muka bumi. Untuk Wonwoo jatuh padanya. Tapi Mingyu memilih untuk tidak berkata apa-apa. Momennya tidak tepat.

Wonwoo menarik nafas panjang sebelum dia melepas genggamannya pada tangan Mingyu. Kemudian dia duduk. Dia memandang Mingyu, membuat yang lebih muda merasa sangat kecil di bawah tatapannya. Dia berkata, "Kau tidak keberatan selalu mendengar keluhanku?"

Mingyu mengedik. "Kan aku sendiri yang minta."

"Baiklah," kata Wonwoo. "Baiklah." Wajahnya nampak menimbang sebelum akhirnya dia menghirup seluruh oksigen yang bisa dia ambil seakan-akan takut kalau dia tidak akan bisa melakukannya lagi setelah mulai berbicara. "Kau tahu kalau aku kembali ke Changwon selama liburan kan?"

Mingyu sama sekali tidak tahu. Jadi itu alasan Wonwoo sama sekali tidak nampak batang hidungnya sepanjang musim panas.

"Kami sudah satu tahun tidak ke sana," Wonwoo melanjutkan. "Dan semua menyenangkan awalnya. Karena sudah lama aku tidak di sana. Aku sangat rindu kota itu. Dan kukira... kukira... kalau kami kembali ke Changwon setelah satu tahun, semua akan berubah. Aku yang memaksa keluargaku untuk menghabiskan liburan di sana. Karena... karena semua sudah sangat baik, Gyu. Semua sudah sempurna. Bohyuk sudah semakin baik, mama papa tidak pernah bertengkar, aku... juga baik-baik saja. Kupikir semua akan bisa kembali seperti dulu."

Lagi-lagi Mingyu tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Wonwoo tapi dia tidak menginterupsi. Membiarkan Wonwoo mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.

"Ah, bodohnya aku." Wonwoo berbicara lagi. "Kau pasti bingung aku membicarakan apa ya kan?"

Mingyu mengangguk ragu.

"Kenapa kami pindah ke sini, apa kau sudah tahu?"

Wonwoo memberitahunya tentang ini pada tahap paling awal pertemanan mereka. "Karena Bohyuk sangat nakal di Changwon?"

Wonwoo tersenyum kecut. "Ya, itu juga. Tapi apa kau mau tahu alasan sebenarnya?"

Jadi masih ada alasan lainnya? Apa ada hal lain yang lebih buruk dari semua sikap bermasalah Bohyuk yang diceritakan Wonwoo dulu? Mingyu tidak yakin apa dia benar-benar ingin tahu atau tidak. Terutama ketika dia melihat mata Wonwoo yang merah, sesuatu yang bening di depan pupilnya. Apa dia akan menangis?

Wonwoo nampaknya sama sekali tidak peduli dengan jawaban Mingyu. Jika yang lebih muda memang ingin tahu atau tidak. Dia langsung meneruskan. "Semua orang dalam keluargaku sakit, Gyu. Semua. Bukan hanya Bohyuk. Papa berselingkuh. Entah sudah berapa lama. Pacarnya masih muda dan sangat cantik. Perempuan itu membuat mamaku hampir gila. Mama mulai suka mengonsumsi alkohol. Awalnya hanya sedikit untuk menenangkan kepalanya, lama-lama dia menjadi pemabuk, sampai aku hampir tidak pernah melihatnya dalam kondisi tidak teler."

Mingyu bermain ke kediaman Wonwoo dua kali sepanjang karirnya sebagai teman terdekatnya. Pada dua kesempatan itu, dia bertemu orang tua Wonwoo. Ayah Wonwoo seorang pria paruh baya yang sangat bijaksana. Sangat ramah dan selalu memuji Mingyu tampan. Ibu Wonwoo adalah wanita termanis yang pernah dia temui. Dia memasak berbagai macam camilan lezat, tipikal ibu rumah tangga yang baik. Bohyuk juga berperilaku terkendali selama yang Mingyu tahu. Mereka semua, dalam satu cara sangat protektif kepada Wonwoo. Seluruh keluarganya meneriakkan gambaran keluarga sempurna. Siapa yang akan menebak ada cerita seperti itu di baliknya.

"Apa sekarang kau mengerti?" kata Wonwoo lagi. "Keluargaku itu... sangat sakit. Kami butuh pertolongan."

"Jadi itu alasan kalian pindah?"

"Belum selesai."

Masih ada yang lebih buruk?

"Aku dan Bohyuk... sepanjang masa remaja kami sangat kurang kasih sayang. Yah memangnya apa lagi yang bisa diharapkan dengan kondisi ibu dan ayah yang seperti itu di dalam rumah? Lalu... Bohyuk menjadi nakal. Dia sama sekali tidak mendapat perhatian di rumah, bahkan dari kakak laki-lakinya yang gagal ini. Jadi dia berusaha mendapatkannya dengan membuat segala jenis masalah. Sementara aku... aku..."

Mingyu menunggu dengan gugup. Entah apa yang akan dikatakan oleh Wonwoo, dia memiliki firasat bahwa itu sama sekali tidak akan menyenangkan.

"Aku adalah alasan utama kami pindah ke sini. Kenapa Papa segera sadar dan berhenti selingkuh, kenapa mama berhenti minum. Aku..."

"Bukankah itu hal bagus?"

"Tentu saja," sergah Wonwoo. "Tentu saja," ulangnya seraya tersenyum berusaha terlihat kuat tetapi air mata mengkhianatinya. Ini adalah pertama kali Mingyu melihat Wonwoo menangis, dia tidak tahu harus melakukan apa. "Tapi untuk itu, aku yang hancur."

Mingyu berusaha bertanya hati-hati. "Apa... apa.. yang terjadi?"

"Aku mengenal seorang anak kuliah saat aku kelas satu, dan aku menyukainya. Sangat."

Wonwoo berhenti di sana. Mingyu menunggu untuk dia melanjutkan tetapi dia tidak melakukannya sehingga Mingyu bertanya. "Lalu? Apa ada yang salah dengan itu?"

"Tidak, setidaknya bagiku tidak."

"Bagi orang lain?"

"Semua orang bilang itu salah. Tapi persetan dengan mereka."

"Berapa tahun perbedaan usia kalian?"

Mendengar pertanyaan ini, Wonwoo tertawa seolah Mingyu baru saja mengucapkan sesuatu yang konyol. "Oh, Mingyu, apa kau pikir ini hanya tentang perbedaan usia?"

Mingyu menaikkan satu alisnya mengindikasikan kebingungan.

Wonwoo tertawa lagi, Mingyu sama sekali tidak mengerti apa yang lucu. Lalu Wonwoo berkata, "Dia laki-laki. Aku gay." Dan semua menjadi masuk akal.

"Oh."

"Ya, oh."

Tapi bukankah Wonwoo mengatakan kalau hubungan sesama laki-laki tidak normal?

"Aku mengenalnya di perpustakaan. Dia sangat baik padaku. Belum pernah ada yang memberiku perhatian seperti itu seumur hidup, jadi aku... dengan bodohnya menyukainya. Aku sangat sangat sangat sangat menyukainya. Aku bahkan rela melakukan apa saja untuknya. Aku sangat bahagia sewaktu bersamanya, Gyu. Kau tidak akan mengerti. Rasanya seperti hidup sangat baik. Tapi satu hari entah bagaimana foto kami tersebar di sekolah. Bukan foto-foto berbahaya. Hanya foto kami berdua yang diambil diam-diam entah oleh siapa.

Rumor yang tidak menyenangkan menyebar. Kurasa teman-temanku sedkit banyak sudah bisa menebak, tapi foto itu sedikit menjadi bukti jelas bagi mereka. Sejak itu aku dikenal sebagai 'si homo' di sekolahku. Anak-anak mulai menjahiliku. Mencoret meja dan loker, menyembunyikan sepatu, mengurungku di toilet, memukuliku. Aku dipanggil jalang, pelacur dan semua nama-nama yang tidak menyenangkan. Hanya karena orientasi seksualku. Aku berani bersumpah aku tidak pernah melakukan apa-apa dengan orang itu. Kau adalah ciuman pertamaku. Dia tidak pernah menyentuhku. Aku sendiri tidak tahu kalau dia suka aku atau tidak, atau bahkan kalau dia gay. Aku tidak tahu. Dan dia menghilang sangat cepat dari hidupku. Segitu dangkalnya hubungan kami. Aku menunggunya bermingu-minggu di perpustakaan seperti orang bodoh, tapi dia tidak pernah datang. Pembullyan di sekolah terus berlanjut. Mereka... mereka bahkan pernah mencoba... memaksaku..." Wonwoo menggigit bibirnya keras, terlihat tidak ingin mengucapkan apa yang di kepalanya. "Walaupun aku berhasil lolos tapi itu meninggalkan efek yang sangat dalam. Aku tidak bisa mengadu kepada siapa pun di rumah, adikku sendiri juga tukang bully, ironis bukan? Aku sangat takut pergi ke sekolah tapi tidak ada yang tahu itu. Bahkan tidak guru-guru. Selama seminggu aku membolos dari sekolah sampai orang tuaku menerima surat panggilan. Papa sama sekali tidak senang dan murka. Dia dan mama bertengkar hebat, saling menyalahkan kenapa dua anak mereka tidak satu pun yang baik. Aku... merasa tidak berdaya dan tidak tertolong. Rasanya seperti seluruh dunia membalikkan punggung padaku. Aku sama sekali tidak merasa aman di sekolah tapi juga tidak punya tempat pulang. Karena itu kupikir akan lebih baik kalau aku menghentikan rasa sakitku sendiri. Toh, tidak akan ada yang peduli. Aku... mencoba bunuh diri."

Mingyu terkesiap terkejut di sini. Sama sekali tidak pernah membanyangkan hal seperti itu pernah terjadi. Apa itu yang membuat suara-suara dalam kepala Wonwoo (seperti yang dia katakan) tidak mau berhenti? Sekarang Mingyu merasa seperti bajingan tidak berhati yang terlalu menghakimi tanpa tahu apa-apa dulu.

Berusaha mengabaikan reaksi Mingyu, Wonwoo melanjutkan tanpa peduli. "Aku mencuri sangat banyak obat tidur dari mama. Sayangnya aku tidak mati. Ini... adalah bagian dimana segala sesuatu berubah untuk keluargaku. Setelah dipaksa menemui terapis berkali-kali, seluruh rahasiaku terbongkar, orang tuaku mengetahui kondisiku. Apa yang terjadi di sekolah, kenapa itu terjadi. Sisanya kau sudah tahu. Kami semua ada di sini dan aku bertemu kau dan yang lain. Hidup menjadi lebih baik. Mama, Papa, Bohyuk selalu memastikan aku bahagia di sini. Itulah kenapa mereka semua bersikap seperti itu sekarang. Kupikir semua sudah teratasi. Kupikir sudah tidak akan ada lagi yang bisa menyakitiku walaupun aku kembali ke Changwon. Aku sangat bahagia minggu pertama aku ada di sana. Sebelum aku bertemu anak-anak itu lagi."

Mingyu melihat jelas bagaimana Wonwoo bergidik. Seolah bahkan hanya sekedar ingatan tentang orang-orang itu bisa menyakitinya secara fisik.

"Mereka tidak melakukan apa-apa kecuali menghinaku secara verbal. Bahkan tidak satu pun yang menaikkan tangan untuk memukul. Tapi aku... ketakutan setengah mati seperti tikus yang terpojok. Aku seperti melihat kembali dengan jelas setiap momen anak-anak itu memukulku, meudahiku, menginjakku. Men..mencoba memperkosaku. Aku pulang ke rumah menangis. Seluruh sendiku ngilu padahal tidak ada yang menyentuh kulitku. Bahkan sekarang, tubuhku seperti terasa remuk dipukuli. Semua pengobatan, sesi terapi, dan anti depresan yang kuminum menjadi sia-sia hanya dalam satu pertemuan."

Wonwoo berhenti berbicara. Dia mempertemukan mata dengan Mingyu. Sebuah emosi yang menggambarkan kesedihan, ketidkberdayaan, dan keputusasaan mendalam ada di sana. "Kurasa seberapa jauh pun aku berlari, seberapa baikpun kondisi keluargaku sekarang, seberapa tebal topeng yang kupasang untuk menyembunyikan identitasku, aku akan tetap hidup dalam ketakutan seumur hidup, Gyu. Rasanya seperti mau mati saja."

Pada poin ini, Mingyu sadar kalau Wonwoo menjadi histeris. Air matanya tidak berhenti mengalir dari mata juga dari hidung. Jari-jarinya seperti berusaha melepaskan kulit dari tengkoraknya. Itu membuat Mingyu takut. "Wonwoo jangan lakukan itu, kau panik. Tenangkan dirimu." Tapi Wonwoo seakan-akan tuli akan seruannya.

Sekarang, Mingyu sama sekali tidak pernah berhadapan dengan yang seperti ini seumur hidup, tapi saat itu dia melakukan seuatu yang menurutnya paling benar untuk dilakukan. Dia memaksa memisahkan jari-jari Wonwoo dari wajahnya sebelum pemuda itu berhasil menyakiti dirinya sendiri. Meski Wonwoo memberi sedikit perlawanan, Mingyu jauh lebih bertenaga. Ditariknya lengan yang lebih tua dan membawa tubuhnya ke dalam pelukan Mingyu. Tubuh Wonwoo bergetar hebat ketika menyentuh dadanya, secara perlahan berkurang hingga berhenti total ketika Mingyu menjalankan tangannya naik turun di punggung Wonwoo untuk menenangkannya sementara Wonwoo membalas memeluknya seraya menangis tanpa bersuara. Mingyu tahu kalau ketakutan yang dirasakan temannya sama sekali bukan main-main. Mingyu seketika merasa sangat marah. Kepada wajah-wajah tidak dikenal yang membuat Wonwoo jadi menyedihkan seperti ini. Dia sama sekali tidak pantas mengalami semua kepedihan itu.

"Tenanglah. Ada aku di sini."

Mungkin ada setengah jam atau satu jam atau mungkin sebenarnya tidak lebih dari sepuluh menit mereka tinggal dalam posisi itu. Tapi rasanya seperti sudah selamanya dan Mingyu mulai tidak bisa merasakan kakinya karena kram menanggung berat Wonwoo. Wonwoo sudah berhenti menangis dan sekarang hanya menikmati suara senandung dari mulut Mingyu ditambah tangan kirinya yang tidak berhenti mengelus rambutnya sementara yang lain menepuk-nepuk punggungnya.

Tiba-tiba Wonwoo mengangkat kepalanya yang tadi disandarkan di dada Mingyu. Tangan Mingyu segera berhenti karena pergerakannya. Dia memandang Mingyu dengan mata yang masih merah akibat menangis. Mingyu membalas dengan memberi tatapan bertanya. Bukannya memberi penjelasan, Wonwoo menelengkan kepala, nampak seperti mempertimbangkan sebuah keputusan yang berat selama beberapa sekon. Mingyu sama sekali tidak ada ide apa yang menempati kepala Wonwoo saat ini. Sampai tiba-tiba Wonwoo berkata, "Kau akan melakukan apa saja untuk membantu meringankan bebanku?"

Itu pertanyaan tiba-tiba yang tidak disangka. Namun Mingyu tahu apa yang sudah dia katakan dan dia belum berubah pikiran. Dianggukkannya kepalanya sebagai jawaban. Seolah itu belum cukup, dia menambahkan. "Tentu saja. Apa kau butuh sesuatu?"

"Aku ingin lupa."

Mingyu menaikkan satu alisnya sebagai respon.

Wonwoo melanjutkan lagi. "Apa kau akan membantuku melupakannya? Semua rasa sakitku?"

"Wonwoo kurasa itu tidak... bukankah itu semua terserah padamu? Untuk lupa atau tidak."

"Ya, dan aku ingin lupa. Karena itulah," balas Wonwoo cepat. Kemudian dia mengulangi dengan suara yang lebih lembut. "Karena itulah... bantu aku."

Masih kebingungan, Mingyu memilih untuk menuruti saja apa perkataan Wonwoo. "Baiklah, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu lupa?"

Wonwoo menundukkan kepalanya sebagai upaya untuk menyembunyikan wajah dari tatapan menyelidik Mingyu, tetapi yang lebih muda sudah sempat menangkap merah di pipinya. Tentang apa itu semua? "Buat aku..." mulai Wonwoo. Suaranya jauh lebih rendah dari biasa. "Buat aku merasa sangat nikmat dan nyaman."

"Kamarku cukup nyaman."

Tapi Wonwoo seperti tidak mendengar. "Atau lakukan dengan kasar sampai aku berteriak dan tidak ada lagi sisa ruang dalam kepalaku untuk mengingat hal lain selain dominasimu."

Mingyu membatu begitu mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Wonwoo. "Wonwoo apa yang..."

Wonwoo memotong sebelum Mingyu bahkan bisa memikirkan lanjutan kalimatnya. "Kumohon, Gyu. Buat aku merasa nikmat."

"Wonwoo, kau tahu kalau kata-katamu itu bisa membuatku salah paham kan?"

Raut memelas yang sangat penuh dosa adalah balasan yang didapat Mingyu. Mingyu sama sekali tidak tahu apa yang ada di pikirkn Wonwoo. Atau jika dia memang sedang membiacarakan apa yang di kepala Mingyu sekarang. Atau Mingyu saja yang otaknya terlalu mesum dan langsung mengarahkan pikirannya ke sana karena kalimat serta raut wajah Wonwoo sekarang. Seperti satu kali di jip Seungcheol saat badai itu.

"Kau tahu apa maksudku." Wonwoo membalas. Dan tidak mungkin Mingyu salah mengartikan perkataannya saat tangan Wonwoo sudah melingkar ke belakang punggung Mingyu, menggerakkankan jarinya membentuk pola di sana, membuat seluruh tubuh Mingyu bergetar.

Sangat memalukan bagaimana gerakan sekecil itu saja menggugah hormonnya. "Kau mau aku..." Mingyu bergumul dalam kepalanya untuk memikirkan kata yang tepat. Yang tidak membuatnya tidak terlalu... amoral. "...menyetubuhimu?" Pemilihan kata yang sangat buruk.

Mingyu bisa dengan jelas merasakan bahu Wonwoo mengangkat karena yang lebih tua menahan nafasnya. Biar bagaimana pun ketika terucap secara gamblang begitu, rasanya sangat tidak pantas. Jantung Mingyu berdetak seperti akan melompat dari dadanya dan berlari ke pelukan Wonwoo.

"Jangan.. jangan menyebutnya seperti itu. Kau membuatnya terdengar buruk, seperti binatang."

Mingyu tidak menyangkal itu.

"Bercinta," kata Wonwoo lagi. "Aku mengajakmu bercinta."

Mingyu sama sekali tidak tahu apa hubungannya semua rasa sakit imajiner Wonwoo dengan dia mengajak Mingyu melakukan itu. Atau kalau yang lebih tua tidak tahu dia juga akan merasakan sakit saat melakukannya. "Kurasa kau tidak tahu apa yang kau bicarakan hyung. Emosimu tidak stabil dan..."

Wonwoo mengeratkan tangannya di belakang punggung Mingyu. Nafasnya tertahan sebelum dia berbisik sangat pelan di depan dada Mingyu. "Kumohon, Gyu. Aku hanya ingin terdistraksi dari semua rasa sakit ini. Kau bisa memberikan itu untukku."

Mingyu adalah manusia yang sangat menjunjung moral, sungguh. Dia tahu ini tidak benar. Wonwoo sedang kebingungan, emosinya tidak stabil, dia mungkin tidak tahu apa yang dia inginkan. Menuruti permintaannya sekarang sama saja seperti mengambil keuntungan dari kebingungannya. Tapi di atas itu semua, Mingyu juga hanya remaja biasa yang hormonnya meledak-ledak. Nafas Wonwoo yang dihembuskan tepat di depan dadanya ditambah jari-jarinya yang melakukan pekerjaan ajaib di belakang sana membuat Mingyu nyaris lupa diri. Fakta bahwa dia jatuh cinta dengan pemuda ini juga sama sekali tidak membantu untuk keadaannya sekarang. "Wonwoo percayalah kau akan menyesali ini nanti. Aku sudah mengambil ciuman pertamamu. Aku tidak mau ini juga."

"Aku tidak akan menyesal. Dan kau tidak mengambilnya secara paksa. Aku yang menawarkan."

"Wonwoo..."

Kedua tangan Wonwoo dengan lihai sudah berada di balik kaus Mingyu. Kapan itu terjadi? Dia menyentuh kulit punggung Mingyu sangat teramat lembut jelas-jelas berusaha membuat pikiran Mingyu berkabut sehingga seluruh moralnya mengabur. "Mingyu, kumohon..."

Dan segala pertahanan diri Mingyu runtuh. Dia menarik lengan Wonwoo. Memaksa mempertemukan mata mereka. Sama sekali tidak ada keraguan pada pupil Wonwoo dan Mingyu pikir persetan. Wonwoo yang menawarkan, dia hanya memberi bantuan. Ini sama sekali tidak salah. Dengan sangat perlahan Mingyu mendorong Wonwoo untuk berbaring, mengungkungnya di bawah tubuhnya.

"Tidak akan menyesal?" tanyanya untuk terakhir kali.

"Sama sekali tidak." Tidak ada satu keraguanpun dalam pandangan mata Wonwoo. Dia mengangkat satu tangannya menyentuh pipi Mingyu. "Kau?"

Seraya menarik kausnya melewati kepala, Mingyu menjawab mantap. "Tidak."

(Wonwoo ternyata tidak seberani saat dia mengajaknya tadi. Berbeda dengan apa yang Mingyu bayangkan. Wajahnya sangat merah karena malu dan tidak percaya diri. Itu sangat menggemaskan.

Satu hal yang disadari Mingyu adalah bahwa Wonwoo insecure dengan tubuhnya.

"jangan lakukan itu, kau membuatku malu," katanya seraya meletakkan telapak tangan menutup wajah. Ini karena Mingyu tertegun terlalu lama memandanginya dari ujung rambut sampai kaki setelah benang terakhir tanggal dari tubuhnya. Dia terlihat seperti ingin menarik selimut dan menutupinya lagi.

Mingyu tertawa ringan, dia juga sedikit gugup tapi berusaha menyembunyikan dengan baik.

"hei sudah terlalu terlambat untuk merasa malu sekarang."

"makanya jangan memandang tubuhku seperti itu."

"kau tidak bisa menyalahkanku. kau... sangat indah."

"apa-apaan? aku kurus begini. seluruh rusukku kelihatan."

"kecantikan itu tergantung pada siapa yang melihat, Won. bagiku kau indah. sangat indah."

Wonwoo membuat sedikit spasi pada jarinya untuk dia bisa mengintip Mingyu. Wajahnya sangat jelas memerah karena kata-kata yang lebih muda. "jangan banyak bicara. cepat lakukan saja."

"slow down baby, kita tidak sedang buru-buru."

Atau ketika dia berusaha menahan Mingyu untuk berhenti bergerak. Matanya berkaca-kaca, menahan air matanya untuk tidak jatuh. Mingyu sempat dibuat khawatir karena ini.

"wonwoo? apa kau baik-baik saja?" Mingyu menyingkirkan rambut di dahi Wonwoo lalu menghapus keringat dan air matanya selembut mungkin.

"ya..." jawabannya diucapkan dengan isakan ringan. "hanya... kau terlalu cepat. aku kesakitan."

"oh maafkan aku, baby," kata Mingyu seraya mendaratkan satu ciuman ke kening yang lebih tua. "aku akan berusaha lebih lembut."

Wonwoo sama sekali bukan tipe yang vokal ketika berhubungan seks. Kegiatan mereka lebih banyak diisi dengan suara nafas yang berat dan sedikit desahan nikmat (dan kesakitan) di sana sini ketimbang suara-suara mengerang janggal yang menurunkan libido seperti orang-orang di video porno. Ketika dia hampir sampai di puncak, Wonwoo sekali lagi berusaha menyembunyikan ekspresinya dari Mingyu tetapi yang lebih muda segera mencekal tangannya sebelum dia bisa melakukan itu. Melihat wajah Wonwoo saat orgasme adalah salah satu hal terbaik dalam hidup Mingyu—di samping semua hal lain yang dia lakukan bersama pemuda itu. Sebuah kebahagiaan murni. Itu mendorong Mingyu untuk mencapai klimaksnya juga.

Mingyu mengeluarkannya di dalam diiringi dengan janji yang secara tidak sadar lolos dari bibirnya. Bahwa dia akan melakukan apa saja agar Wonwoo bahagia.)

Jadi Mingyu menyerahkan seluruh kepolosan yang dulu dia miliki sebagai anak-anak kepada Wonwoo. Ciuman, bibir, lidah, tubuh, dan bagian paling rahasia dirinya yang selama ini terbatas untuk orang lain sudah dijamah Wonwoo. Dia sudah memberikan seluruh yang dia miliki untuk pemuda itu. Dan selama sesaat, untuk sesaat yang singkat Mingyu dibuat terlena, merasakan bahagia untuk sebuah fatamorgana.

Mereka berbaring di atas tempat tidur Mingyu, Wonwoo ada dalam dekapannya tertidur pulas, menggunakan salah satu lengannya sebagai bantal. Matahari mungkin sudah tenggelam di luar sana, burung-burung kembali ke rumah mereka. Dalam ruangannya yang remang, Mingyu tidak bisa berhenti memandang Wonwoo. Mengagumi hasil kerjanya di atas tubuh pemuda itu. Setiap jejak ciuman dan bekas genggamannya. Setiap tanda yang mengingatkan erangan tidak tertolong Wonwoo ketika mereka melakukannya tadi. Wonwoo bernafas teratur menandakan betapa lelap tidurnya, jelas lelah tapi juga puas dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tidak bisa dipungkiri momen itu indah, meski tubuhnya terasa menjijikkan pasca seks dengan keringat dan sisa sperma yang menempel. Dia menggunakan tangan yang satunya untuk mengelus rambut Wonwoo, sebagaimana menurut pengakuan yang lebih tua disukainya.

"Bagaimana ini? Aku sangat jatuh cinta denganmu, Wonwoo."

Dan mungkin meski dia sudah menyeberang ke dunia mimpi, alam bawah sadar Wonwoo bereaksi terhadap kalimat itu. Dia bergetar di bawah lengan Mingyu, seperti menggigil sebelum menarik Mingyu untuk lebih dekat lagi dengannya, memeluknya sangat erat. Dan Mingyu rela memberi apa saja untuk mempertahankan momen ini selamanya.

Ada banyak emosi yang berkecamuk dalam kepala Mingyu memandang wajah damai Wonwoo yang berbaring di atas lengannya. Rasa marah akan seluruh dunia yang sudah memaksa anak ini untuk selalu memasang topeng tanpa ekspresi menyembunyikan wajah aslinya. Lalu ada sebuah emosi di bawah dadanya yang membuat kewalahan. Mingyu jatuh cinta lebih dalam lagi dari sebelumnya begitu melihat Wonwoo yang tidak berdaya tanpa pertahanan seperti itu. Dia ingin melihatnya lebih sering.

Hari itu Mingyu berjanji bahwa apa pun yang terjadi, dia akan selalu ada di sana untuk Wonwoo. Melindunginya dari semua rasa sakit dan orang-orang yang berusaha merebut senyumnya.

(di kemudian hari, dia berharap menghapus senyuman Wonwoo dari kepalanya)


-tbc-


a.n ini harusnya diupdate semalam tp ffn nya error sori

fun fact: judul chapter ini awalnya mau aku pake buat judul keseluruhan ceritanya loh. itu aku ambil dr lirik lagunya Don Mclean yg judulnya Vincent, salah satu lagu kesukaan aku btw dan tiap denger lirik "this world was never meant for one as beautiful as you" entah kenapa aku selalu kepikiran Wonwoo bcs seriously what have this world ever done to deserve someone incredible as Jeon Wonwoo? Hence the title. (please listen to the song if you can. it's a tribute for Vincent van Gogh and it's beautiful)

btw sori aku gak jago nulis adegan itu (kln tau yg mana) makanya aku cuman bikin gitu hehe. hope you guys dont mind krn cerita ini emang juga bukan fokus kesitu ;) sbnrnya gak terlalu eksplisit ya tp aku ttp ganti ratenya just in case.

anyway kmrn banyak yg nanya soal cincin ya :p ayoooo tebak itu cincin apa dr siapa :)))