A/N: maaf untuk update yang laaamaaaaa sekali. Aku kaya gak punya muka aja dengan beraninya update ini setelah sekian lama berlalu. At least, itu terserah kalian untuk membacanya atau nggak. Terus buat yang mau menghujat, gak usah di komentar atau inbox ya, dalam hati aja dan close tab ini sesegera mungkin. Aku bukannya munafik dan naif, aku gak bisa dapet komentar yang buat aku down (hujat aku semau kalian aja deh wkwk)

A/N: ini udah ditulis lama tapi baru dikelarin sekarang, agak kaya maksa kesannya hewhew

INTINYA DLDR

.

.

Terhitung telah lima hari Baekhyun menghindari Nyonya dan Tuan Park. Joohyun telah menaruh kecurigaan kepada dirinya, apalagi seorang pelayan bernama Nayeon yang setiap waktu dia mintai menggantikan tugasnya membawa minuman ke ruang Nyonya mereka. Dia terus berdalih bahwa Chanyeol membutuhkannya, ibunya memanggilnya, atau ada pekerjaan yang harus dia dahulukan.

"Uh-huh, Tuan Muda sedang bersama tutornya dan ibumu di kebun Anggur, kamu mungkin mau menemani Joohyun di dapur?" –Nayeon, yang sudah bosan mendengar alasannya di suatu waktu.

Baekhyun tahu bahwa menghindar bukanlah cara yang tepat, dia hanya mempersulit dan memperpanjang suatu perkara saja. Sebenarnya dia pun tak nyaman dengan itu semua. Saat dia bersama Chanyeol, dia tidak dapat menjadi dirinya yang sebelum-sebelumnya, dia terus memikirkan tentang perjodohan mereka.

Pikiran-pikiran tentang kehidupan yang akan mereka hadapi jika hal itu terjadi memenuhi kepalanya. Bagaimana jika mereka memiliki rumah tangga sendiri? Apakah akan ada beberapa anak? Apakah mereka akan terus bahagia? Tapi sebelum semua hal itu, dia lebih memikirkan apakah Chanyeol akan menerimanya. Di samping dia adalah pelayan Chanyeol, dia juga bukan manusia. Jika mereka memiliki anak, anak itu bisa saja membawa genetik hybrid. Meski tidak ada perbedaan yang tampak di kehidupan sosial mereka, tapi Baekhyun tahu akan ada suatu masalah yang dapat ditimbulkan.

Chanyeol begitu polos, bisa saja saat ini anak itu akan menerima dengan senang hati, tapi di masa yang akan datang, tak ada yang dapat menjadi jaminan segalanya tetap berjalan pada semestinya. Selain itu, suatu ketentuan tentang pernikahan ini juga pasti hanya dilakukan dalam batas formalnya saja. Tuan dan Nyonya Park tak ingin keluarga mereka menjadi buah bibir orang lain, sudah cukup bagi mereka memiliki Chanyeol sebagai putra mereka. Mereka mungkin orang yang baik, tapi mereka juga terlihat begitu memiliki harapan yang besar terhadap Chanyeol.

"Baek-hyung, apakah bersekolah di sekolah umum itu menyenangkan?"

Tiba-tiba Chanyeol bertanya padanya. Anak itu biasanya akan terus terfokus pada mainan legonya sampai dia selesai merangkai semuanya dan menghindari percakapan sedikit saja, tapi kali ini berbeda, dia memulai percakapan masih sambil merangkai legonya.

"Uhm... aku kurang tahu juga. Sekolahku bukan sekolah umum seperti teman-teman Tuan Muda."

Itu benar. Baekhyun memang sempat bersekolah, tapi sekolah itu tak lebih dari apa yang Chanyeol bayangkan. Dia bersekolah di sekolah khusus pelayan yang terletak di pusat kota selama tiga tahun, jam masuknya pun hanya seminggu sekali setiap hari sabtu. Jadi itu tidak menjamin dia dapat menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Tapi Baek-hyung pernah bersekolah dengan teman-teman, kan?"

Baekhyun tidak punya teman dekat di sekolahnya –hanya Nayeon, itupun karena mereka sama-sama tinggal di bawah naungan Keluarga Park. Anak-anak lain pun jarang yang berteman akrab. Mereka harus terus bersaing untuk menamatkan sekolah itu secepatnya agar dapat secepatnya pula layak menjadi pelayan yang sebenarnya dan menggunakan seragam mereka.

"Y-ya, ada banyak anak di kelasku dulu. Mungkin tiga puluh atau mungkin juga lebih."

"Ceritakan padaku, apakah menyenangkan?"

Tidak ada yang menyenangkan dari kehidupan sekolah yang Baekhyun jalani, dia bukan penikmat keramaian apalagi keributan. Anak-anak yang sudah dekat memang saling berkelompok dan terlihat begitu menyenangkan, tapi anak yang tak memiliki teman akan sulit untuk memasuki lingkar pertemanan itu sendiri.

"Cukup menyenangkan jika kau memiliki teman." Ya, itu akan sangat menyenangkan jika dia memiliki teman. " Setiap pagi kau bisa menunggu temanmu di pintu gerbang, berjalan bersama-sama dengan yang lain dan bercerita tentang apa yang kalian sukai. Kantin juga akan menyenangkan jika berkumpul bersama. Pulang sekolah juga bisa pergi bersama-sama, bisa langsung pulang atau bermain ke tempat yang bagus pula."

Dari kecil, Chanyeol tidak pernah merasakan sekolah umum. Dia telah mengemban home-schooling hingga umurnya yang kelima belas ini. Dia pasti merasa penasaran terhadap sekolah umum tempat teman-temannya belajar. Anak-anak yang bermain di taman bersama Chanyeol sering bercerita tentang sekolah mereka dan saling bermain dengan teman sekelompok mereka saja.

"Jadi, jika aku di sana, aku tidak akan memiliki teman?"

Pertanyaan Chanyeol sungguh di luar pikiran Baekhyun, dia tidak menyangka Chanyeol akan berkata seperti itu.

"Tuan Muda, bukan seperti itu. Anda pasti akan punya banyak teman. Ada banyak teman-teman Anda di sana, anak dari teman-teman Tuan dan Nyonya Park juga banyak. Tapi belajar seperti yang anda lakukan saat ini..."

"Home-schoooling namanya."

"Iya, home-schooling seperti ini lebih bagus bagi Anda terlebih lagi..."

Chanyeol melepas legonya dan menatap Baekhyun. "Baek-hyung, kau tidak punya teman, ya?" Lalu Baekhyun terdiam karenanya.

Apa yang Chanyeol katakan itu terngiang. Bukan karena semua anak terlalu berpacu dalam hal prestasi sehingga mereka saling tak acuh, itu hanya masalah pada dirinya yang tidak memiliki teman. Dia tak punya seorangpun yang berdiri di sampingnya, Nayeon hanya ada untuknya selama setengah tahun sebelum kemudian perempuan itu lulus terlebih dahulu. Mereka hanya mengobrol sedikit, formalitas untuk dua calon pelayan dari keluarga yang sama.

Dia tidak pernah mempermasalahkan dirinya yang sulit memiliki teman, tetapi mendengar Chanyeol bertanya secara langsung terhadap dirinya, dia tahu semua orang pasti juga menyadari hal itu dan dia pun tahu seberapa menyedihkan dirinya.

"Ya, bisa dibilang seperti itu. Mungkin karena aku sangat payah dalam memulai suatu pertemanan."

"Tidak, kau orang yang menyenangkan. Aku suka bermain bersama denganmu. Kau juga lucu dan suka tertawa."

Chanyeol seperti sedang menghiburnya saja. Dia semakin sedih, kenapa pula Chanyeol manjadi seseorang yang menghiburnya? Jelas-jelas, itu adalah kesalahannya sendiri.

"Tapi bukan berarti aku mudah mendapatkan teman."

Anak itu datang mendekat padanya. "Akhir-akhir ini kau begitu murung, aku harap itu bukan karena aku." Lalu ia merasakan pelukan yang begitu hangat, asalnya dari punggung lebar yang dulu selalu didekapnya. Kini segalanya telah berbalik.

Baekhyun merasa begitu gagal. Dia tidak seharusnya mendapatkan perlakuan tersebut dari Chanyeol. Chanyeol terlalu baik untuk pelayan seperti dirinya, tapi di satu sisi, Baekhyun tak ingin ada Jie Qieong lain yang akan melukai perasaan lembut Chanyeol.

"Omong-omong, aku bertanya bukan karena aku penasaran kepada teman-temanku. Lagi pula, mereka bukan temanku. Aku hanya ingin tahu apakah aku akan mendapatkan teman jika aku belajar di sana juga."

Saat itu, Baekhyun sadar. Chanyeol telah tumbuh menjadi semakin dewasa, dia bukan lagi seorang Tuan Muda kecil yang begitu bodoh. Kembali, kenyataan bahwa Chanyeol telah mengerti segala hal yang terjadi membuat Baekhyun merasa gagal menjadi pelayan yang baik.

Malam itu, Chanyeol telah tertidur lelap, sedangkan Baekhyun tidak berada di sampingnya, dia ternyata tetap bisa tidur. Baekhyun bukannya menghilang, dia hanya beristirahat sebentar di kamar Joohyun, bersandar di bahu perempuan yang lebih tua beberapa tahun darinya itu.

"Noona, jika aku bertanya suatu hal, apa kau akan menjawabku?"

Joohyun bergerak dan menatap Baekhyun dari samping. Dia menatap wajah apik lelaki yang tengah menutupkan mata di pundaknya itu. Bulu matanya begitu cantik, pemandangan wajah yang indah dari jarak yang begitu dekat. "Uhum, selama itu bukan pernyataan cinta."

Baekhyun terkekeh pelan. "Tidak, nanti Junmyun bisa saja membunuhku." Junmyun itu seorang pelayan dari keluarga Park lain –pelayan dari Park Jinri, yang bertemu dengan Joohyun tiga tahun lalu pada suatu acara keluarga dan mereka menjalin hubungan di kemudian hari.

"Tidak, kau adalah adik kesayangannya." Mereka tertawa kecil bersama. Baekhyun mendekatkan tubuhnya dan Joohyun memeluk lengannya sendiri. "Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan." Sangat jarang Baekhyun datang ke kamarnya seperti saat ini. mereka memang dekat, tapi Baekhyun biasanya selalu tidur di kamar Chanyeol atau ibunya. Terakhir kali hal seperti ini terjadi adalah saat pertama kali Baekhyun mengetahui perihal latar belakang ibu dan ayahnya.

Cukup lama mereka terdiam, kemudian Baekhyun berbisik kecil, begitu lembut, udara menyapa telinga Joohyun dengan cara berbeda. "Keluarga Park memintaku untuk menjadi mate Chanyeol." Lalu dia menjatuhkan wajahnya ke pundak Joohyun, menenggelamkan wajahnya.

Joohyun cukup terkejut. Kenyataan bahwa keputus-asaan Keluarga Park begitu dalam karena masalah pendamping Chanyeol yang gagal hingga meminta seorang pelayan sebagai ganti adalah suatu hal yang menggelikan. Itu adalah alasan mengapa Baekhyun agak berbeda beberapa hari terakhir, lelaki itu pasti terus memikirkan hal tersebut di setiap waktunya.

"Hm. Lalu?" Joohyun ingin mendengar lebih lanjut lagi.

"Mereka menawarkan kebebasan untuk semua keluarga Byun dan jaminan hidup."

Tawarannya begitu menggiurkan, tapi itu sama saja menukarkan kebebasannya sendiri dengan kebahagiaan seluruh keluarganya. Meski tidak terlihat secara gamblang, tapi seorang pelayan yang menjadi mate dari keluarga berada sungguh menjadi suatu beban. Akan ada kesenjangan sosial di antara keduanya yang menimbulkan banyak isu di antara para konglomerat tersebut. Baekhyun bisa saja berada dalam bahaya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya di masa yang akan datang.

"Itu sungguh bagus. Seluruh Keluarga Byun akan hidup bahagia sampai kapanpun, tapi kau juga tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Joohyun menjeda perkataannya. Dia menatap gelang kerang pemberian Junmyun di hari jadi mereka tahun lalu. "Kau tidak akan hidup bahagia hanya dengan cinta semata." Lalu dia menghela napas pelan, mengalihkan pandangannya dari gelang tersebut. Mungkin terdengar begitu materialistis, tapi dia tahu bahwa dia tidak salah.

"Noona..." Baekhyun memanggil pelan, menatap Juhyun dari sisi samping.

"Malam ini aku akan mengizinkanmu tidur di sampingku. Pikirkan dengan baik-baik, hm?"

Malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka kembali tidur berdampingan, sebagai saudara tak sedarah. Mereka saling lupa kapan terakhir kali berada di ruangan yang sama untuk lelap beristirahat, tapi rasa itu masih belum berubah. Nyamannya masih sama, hangat yang tak ada entah bagaimana terasa di sela angin malam yang dingin. Kembali, mereka mengingat sesuatu yang mereka tak dapat ingat dengan pasti.

Joohyun terlelap lebih dahulu, memimpikan kenangan bahagia antara dirinya dan Junmyun yang nyaris tak pernah lagi teringat olehnya, pun juga pernikahan yang seandainya akan terjadi, kehidupan rumah tangga yang membosankan, dan anak-anaknya kelak yang akan memiliki kehidupan seperti dirinya.

Sedangkan Baekhyun masih tetap terjaga, dia tidak dapat semudah itu tertidur dengan beban yang masih mengambang di dalam kepalanya. Dia sebenarnya ingin tertidur pula. Kemudian cepat menyelami mimpi, untuk berdoa semoga pagi memberinya jawaban.

Chanyeol yang memberikannya jawaban itu.

Setelah menghadapi pilihan yang begitu sulit, Baekhyun masih belum dapat untuk memutuskan. Bahkan setelah dia merenungi segalanya di malam ketika dia bersama Joohyun pun segalanya masih belum terselesaikan. Ada saat di mana dia begitu menyayangi Chanyeol, entah sebagai seorang pelayan, adik, atau hal yang lebih pun dia masih ragu.

Awalnya dia merasa buruk bagi Chanyeol, bagaimana mungkin anak itu hidup dengan seseorang yang tidak benar-benar mencintainya seperti layaknya pasangan yang lain? Tetapi pikiran akan Chanyeol yang hanya akan dimanfaatkan saja oleh orang lain mengalahkan segala kekhawatirannya. Setidaknya dia ingin melindungi Chanyeol. Untuk saat ini, mungkin hanya itu saja.

Siang itu, saat salah satu pelayan akan mengantarkan minuman dan camilan ke ruangan Tuan Park, dia menghadang pelayan itu, berkata dengan sopan bahwa dia yang akan melakukannya. Dia menghabiskan lima belas menit lebih berdiri di hadapan pintu besar ruangan tempat Tuan dan Nyonya Park biasa menghabiskan waktu mereka guna menghilangkan kegugupannya.

Kemudian dia mengetuk pintu dengan begitu hati-hati.

"Masuk." Lalu suara seorang perempuan yang begitu menekan terdengar.

Baekhyun masuk dengan perasaan cemas. Alih-alih mendapati wajah keras kedua majikannya, dia malah disambut dengan begitu hangat.

"Oh, itu kau, Baekhyun." Nyonya Park menyambutnya dengan begitu hangat, berbanding terbalik dengan dirinya berlaku pada pelayan yang lain. Dia menyatukan kedua ujung tangannya, bertepuk-tepuk dengan pelan. "Jika kau akhirnya datang, berarti akan ada berita bagus, kan?"

Itu bagus bahwa dirinya memang benar-benar akan menerima pinangan dari Keluarga Park. Jika tidak, mungkin dia akan menjadi seorang korban pemaksaan. Nyonya Park tiba-tiba menjadi tipikal ibu-ibu yang sulit untuk ditakhlukkan.

"Sayang, jaga sikapmu. Jangan buat Baekhyun tertekan." Sedangkan Tuan Park masih seperti biasanya, dia tidak memaksa walau ikut berharap.

Baekhyun tersenyum dan meletakkan nampan yang dibawanya. Dia memberi hormat terlebih dahulu sebelum kemudian berucap tanpa aba-aba dan dengan begitu pasti. "Saya menerima penawaran Tuan dan Nyonya sekalian." Kemudian dia menghela napasnya, menjatuhkan segala ketakutan dan keraguan yang sempat merambati dirinya.

To be continued...

Review? Fav? Follow? Terserah siapa yang mau aja lah