Untuk menebus kelamaan update (ah, sebenernya sih sekalian aja, mumpung udah bikin part ini), gue update aja sekaligus. Please enjoy the reading!

Disclaimer: Maid-sama dan Kuroshitsuji bukanlah punya saya tapi punya Hiro Fujiwara sensei dan Yana Toboso sensei.


That Butler, is the Maid Servant

Part 4: Reunion

"Usui-kun?"

Suara Erika memecah lamunan Misaki. Tanpa sadar tangannya gemetar melihat sosok pria yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun itu. Bodoh. Kenapa aku gemetaran begini? pikir Misaki sambil mengaitkan jemarinya erat-erat. Sebastian melirik Misaki dan menyadari tangan gadis itu gemetaran tapi tidak berkomentar apa-apa. Jadi pria ini…pikirnya yang baru saja membaca pikiran Misaki.

Usui memasuki kafe dan tersenyum seperti biasa. "Wah wah, sedang ada pesta ya?" tanyanya sambil melihat dekorasi kafe yang lebih heboh dari yang biasa. Saking syoknya melihat kedatangan Usui, tidak satupun dari mereka yang sanggup menjawab. Padahal semua orang disana kecuali Misaki dan trio payah (Sebastian sudah tahu karena baru saja membaca pikiran mereka) tahu kalau Usui akan datang tapi tetap saja mereka tak bisa bereaksi apa-apa karena terkejut.

Tingginya telah bertambah beberapa senti sejak terakhir kali mereka melihatnya tiga tahun lalu. Pakaiannya yang biasanya hanya kemeja atau kaos berantakan plus jeans kini berganti dengan setelan jas biru tua yang rapi, walau cara pakai dasinya masih sama seperti dulu, acak-acakan. Rambut sewarna madunya yang dulu mencuat kesana-kemari kini disisir rapi. Namun sorot mata hijaunya yang santai dan tak pedulian tidak berubah sama sekali.

"Usui!"

Tahu-tahu saja nyaris seluruh orang yang ada disana memeluk Usui bersama-sama; mula-mula trio payah, lalu Satsuki dan diikuti seluruh pegawai Maid Latte yang lain. Bahkan Aoi yang sangat membenci Usui sejak kepergiannya nyaris tak sanggup menahan diri untuk tidak menitikkan airmata haru yang buru-buru di hapusnya karena malu. Sebagai sahabat, dia tidak bisa membohongi diri sendiri kalau dia senang melihat Usui kembali.

"Usui-kun bodoh! Kenapa tidak sekalipun memberi kabar sejak pergi?"

"Aduh, ternyata Satsuki-san begitu merindukanku ya?"

"Sekedar telepon untuk mengabarkan kau baik-baik saja masa' tidak bisa?"

"Maafkan aku."

"Huhuhu, Usui-san!"

"Cup cup cup, kenapa kalian ikut-ikutan menangis, trio payah?"

"Jangan panggil kami trio payah!"

"Hahahaha."

Saat itulah tahu-tahu Aoi menyibakkkan kerumunan itu dan melayangkan tinju ke arah Usui. Usui diam tak bergerak walaupun dia menyadari kalau jarak tinju Aoi dan wajahnya hanya beberapa senti. Semua orang menahan napas melihat adegan itu.

Namun Aoi menghentikkan tinjunya tepat di depan wajah pemuda bermata hijau itu. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Usui-san bodoh!" makinya dengan suara bergetar. Usui langsung paham kenapa Aoi menyebutnya bodoh.

"Maafkan aku."

"Usui-san tolol! Bodoh!"

"Maafkan aku." Usui mengulangi perkatannya. Kali ini lebih serius.

"Bukan padaku seharusnya kau minta maaf!"

Siiing. Suasana jadi hening dan atmosfer udaranya tiba-tiba berat. Semua orang kini menolehkan kepala ke arah Misaki yang terlihat semakin pucat.

Usui ragu sejenak sebelum menatap Misaki secara langsung untuk pertama kalinya sejak dia memasuki kafe. Mulutnya setengah terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu tapi saat melihat sorot mata Misaki yang ketakutan menatapnya, dia mengurungkan niat dan menutupnya kembali.

"A…ah, pesta! Bagaimana kalau kita melanjutkan pestanya?" tiba-tiba saja Satsuki memecah kesunyian yang makin pekat itu sambil tersenyum gugup. "Oh…iya! Pesta! Benar!" Subaru ikut menimpali. "Aku akan mengambil kue-kue dari dapur!" Honoka berseru sambil berlari ke dapur. Erika terburu-buru pergi menyusulnya dan beberapa detik kemudian mereka kembali membawa meja-meja dorong berisi tumpukan kue yang menguarkan harum yang membuat perut yang sedang kenyangpun keroncongan.

"Wangi ini…pistachio coklat?"

Semua orang sontak menoleh kerah Sebastian. "I…iya. Memang ada pistachio coklat diantara kue-kue ini. Kenapa Sebastian-san bisa tahu?"

Misaki langsung melotot menatap iblis tampan itu. Sudah kubilang jangan pernah mengatakan hal-hal yang mencurigakan seperti itu! omelnya dalam hati. Sebastian tersenyum kecil sambil merunduk sedikit untuk berbisik pada Misaki.

"Maaf, saya hanya reflek mengatakannya. Sebelum menjadi pelayan anda, saya cukup ahli membuat kue-kue semacam ini. Sepertinya saya sudah pernah bilang pada anda."

Misaki merenggut mengingatnya. Tentu saja dia ingat. Dia ingat kalau sebelum dia menjadi majikan Sebastian, Sebastian menjadi butler seorang anak berusia 12 tahun yang egois. Anak yang menulis buku harian berisikan panduan memanggil iblis.

"Jadi, silahkan sebutkan keinginan anda, majikan baruku."

"Perintah?"

"Ya. Keinginan anda sehingga memanggilku kemari."

Misaki bingung. Dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. 'Jadilah pelayanku'? Terlalu vokal. 'Patuhi perintahku?' Ya…tapi bukan itu saja. Tidak…yang tepat adalah…

"Aku…aku ingin kau menemani dan mematuhi semua perintahku! Sampai akhir!"

Sebastian tertegun sejenak sebelum tertawa pelan mendengar perintah yang menimbulkan perasaa déjà vu itu. "Ke, kenapa kau tertawa?"

"Ah, maafkan saya. Perintah anda mirip dengan perintah majikan saya sebelum ini jadi tanpa sadar…"

"Majikanmu sebelum ini. Maksudmu…yang menulis buku itu?" tiba-tiba saja Misaki merasa tertarik mendengarnya.

"Ya. Anda mau dengar ceritanya?"

Misaki mengangguk. Sebastian menceritakan tentang majkannya sebelum Misaki, bocah egois bernasib tragis. Seorang bangsawan Inggris yang memiliki harga diri tinggi dan menyuruhnya menjadi seorang butler serba bisa untuk menutupi identitasnya sebagai iblis.

"Apakah butler memang harus se-serba bisa itu?" Misaki ternganga mendengar apa saja yang Sebastian lakukan selama menjadi butler. "Yah, setidaknya butler keluarga Phantomhive memang harus begitu," jawab Sebastian. Misaki terdiam sejenak sebelum,

"Aku juga mau!"

"Hah?"

"Aku mau kau seperti saat menjadi butler keluarga Phantomhive,"perintah Misaki.

"Maksudnya menjadi butler anda?"

"Iya."

"Lalu apa anda juga ingin diperlakukan seperti bangsawan itu?"

"Emm, yah…tidak sebegitunya juga sih, "Misaki mengingat saat Sebastian memberitahunya kalau dia juga memandikan tuan mudanya itu, "tapi aku ingin kau melayaniku seperti itu."

Walaupun tegar dan mandiri tapi jauh di lubuk hatinya Misaki mendambakan ingin diperlakukan seperti seorang putri. Keinginan yang wajar bagi anak perempuan kan'?

Sebastian tersenyum dan membungkukan badan mendengar perintah itu. "Baiklah kalau begitu, my lady."

"Eh, tapi jangan perlakukan aku seperti itu kalau kita sedang tidak berdua saja ya!"

"Yah, lihat saja nanti."

Flashback selesai.

"Sebenarnya saya lumayan bisa membuat kue-kue semacam ini. Misaki sangat menyukainya," ucapan Sebastian membuat wajah Misaki bersemu merah. Usui menatap Sebastian dan Misaki dengan ekspresi kosong tak terbaca seperti yang dia tunjukkan saat pertama kali muncul hari ini sementara yang lainnya menahan keinginan untuk menggoda Misaki tapi tidak enak kalau harus melakukannya dihadapan Usui. Situasi jadi terasa sedikit canggung.

"Ah, Usui-kun juga pintar membuat kue kan'? Bagaimana kalau kalian membuat bertanding membuat kue? Biar Misaki-chan yang akan menjadi jurinya nanti!"

"Eeeh?"

Semuanya jadi ribut mendengar usul Satsuki itu. "Gimana sih, manajer?" bisik Subaru panik pada Honoka dan Erika. Trio payah mengerut di pojok ruangan sambil berbisik-bisik bingung. Aoi melipat lengannya dan memutuskan untuk tidak ikut campur, menonton dengan tenang sambil bersandar di dinding.

"Baiklah."

Usui tiba-tiba bicara. Sorot matanya berubah jadi lebih tajam. Sebastian menyadari aura menantang dalam sorot mata itu lalu menoleh ke arah Misaki, minta persetujuan.

"E…eh? Aku tidak tahu…baiklah," akhirnya Misaki memutuskan, "dan," dia menambahkan dengan suara pelan, "jangan sampai kalah."

Sebastian tersenyum kecil lalu mengecup pipi majikannya dan diam-diam betbisik,

"Yes, My Lady."

Bersambung


Author's note: kenapa bisa sampe jadi pertandingan bikin kue ya?Anyway, please RnR! Your review is my happiness!