Hai. Saya kembali lagi. Hihii...
Terimakasih yg uda nambah favo n follow
Mau balas review dulu ah...
UchiHaruno Sya-Chan~hihihi,, gpp kan namanya pendapat senpai... makasih masukannya. Disini sebenere sih Sasu Saku nya tak buat galau, tapi feel galaunya ngena gag ya..hehe baca aja deh.
EchaNM~ ya ampun Senpai.. itu novel uda aku baca 7tahun yang lalu, bahkan critanya aku uda lupa banget Cuma inget judulnya aja...hehe gara2 senpai q jadi browsing summary nya' 8,9,10 uda belom?' bener deh, ketika senpai bilang novel ini, saya jadi keinget umur,, jadi karena novel itu sudah 7tahun yang lalu aku baca, apakah berarti kita seumuran...hihihiiih
Elzakiyyah~ iya sama2 senpai.
SantiDwiMw~ makasih ssenpai. Moga masih suka sama fic ini sampe tamat.. hehe
Hanazono yiri~ maaf telat update senpai
Aisyah-Aoi-Chan~ ni baru ngelanjut senpai...
Diniavivah23~ terimakasih sebelumnya uda baca fic saya..
Saya tau typo dan alur geje saya itu sudah biasa.. hehe...
Yang penting masukannya ya readers...
Disclaim... Masashi K
DLDR
Selamat membaca guys..
Sakura Pov
Aku segera turun karena Ibu memanggilku untuk makan malam. Tumben sekali. Tanpa dipanggilpun biasanya aku makan malam pukul 7 tepat.
Aku segera turun dari tangga karena kali ini, panggilan Sasori nii tak henti-hentinya mendengung di telingaku.
"Iya iya aku turun"
Setelah apa yang aku lihat, oh apa ini... kenapa rumahku sedikit rame.
"Sakura. Ayo cepat sini. Hari ini keluarga Uchiha akan makan malam bersama kita" Ibu berlalu lalang menghidangkan makanan di bantu Bibi yang sepertinya adalah nyonya Uchiha itu. "Ayo bantu kami"
"Ya" jawabku sedikit malas karena orang yang menjengkelkan-barusan masuk kamarku dengan seenaknya-sedang menyeringai ke arahku. Aku melaluinya tanpa melihat onyx yang menjengkelkan itu. Walaupun disana ada Ayahku, Saso nii, tuan Uchiha dan satu lagi pria dewasa yang wajahnya mirip Sasuke, mungkin kakaknya, atau entahlah, aku tidak peduli.
Makanan sudah siap dan kami makan bersama. Ada cengkrama antar keluarga, biasalah karena lama tak bertemu. Aku hanya diam dalam percakapan antar orang tua. Tapi yang aku sesalkan, kenapa aku harus bersebelahan dengan Sasuke?
"Sakura. Lama tak bertemu kau terlihat semakin tinggi dan cantik. Aku jadi ingin anak perempuan" nyonya Uchiha baru saja berkata padaku.
Aku hampir tersedak mendengarnya. Kau tau, karena mereka seperti akrab bersama kami. Sedangkan aku, tak lagi ingat mereka. Aku tidak tau harus menjawab apa.
"Benarkah? Aku hanya bertambah dewasa saja Bibi" jawabku seolah malu-malu.
"Kalau begitu, kau boleh memilih salah satu dari Sasuke atau Itachi"
Kali ini tidak hampir, bahkan aku tersedak ludahku sendiri. Dan tiba-tiba Sasuke menginjak kakiku.
"Aw" aku segera menghunuskan tatapan terkejamku pada si pantat ayam itu. Dia tak menoleh, sengaja masih asik dengan makanannya.
"Oh jadi Sakura sudah memilih Sasuke" Saso nii ikutan jadi orang menyebalkan di daftarku. Walau ia tak tertawa seperti mereka.
"Bu-bukan. Barusan aku, aku.. hm.."
"Hahaha.. Tidak apa Sakura. Kalian cocok"
"Lagipula kalian sudah bersama sejak kecil"
Bahkan Ayah dan Ibuku ikutan tertawa dengan penderitaanku. Ya Tuhan...
"Benar Sakura. Aku senang punya adik ipar manis sepertimu" timpal kakak Sasuke, namanya Itachi kalau tidak salah tadi.
Kenapa semua jadi menyudutkanku. Bahkan, bahkan, Sasuke malah tersenyum, seolah mengiyakan.
Keluarga macam apa ini, menjerumuskanku dengan orang angkuh dan menyebalkan itu...
.
.
Sasuke Pov
Baguslah hari ini Sakura mengajakku bicara. Bukan di kelas, tapi dia mengajakku ke cafe ice cream sepulang sekolah. Walaupun sebenarnya aku tidak suka makanan manis.
"Jadi apa ini bisa dianggap kencan?" tanyaku sengaja membuatnya menautkan kedua alisnya.
Ia berdehem "Maaf saja Tuan muda yang manja. Kau salah faham"
"Aku tidak manja. Aku mandiri"
"Terserahlah. Yang jelas. Aku ingin bertanya sesuatu"
"Hn. Katakan"
Sebelum bertanya, ia menyeruput ice cramnya terlebih dulu. "Jika memang dulu kita pernah bersama. M-maksutku pacaran. Kenapa kau tidak menghubungiku waktu di Suna"
Pertanyaan yang sudah aku siapkan jawabannya "Tentu saja. Kita break waktu itu. Karena aku tidak tau kapan waktunya kembali kesini"
Sakura menatapku curiga. Aku selalu memasang wajah stoic ku agar dia tak bisa menebak ekspresiku.
"Lalu bagaimana bisa aku tak memiliki catatan apapun tentang dirimu. Buku harian, foto atau apa. Biasanya orang pacaran selalu menulis sesuatu di hari kebersamaan mereka"
"Kalau itu tanyakan pada dirimu sendiri. Kau bahkan melupakanku"
Sakura terdiam.
"apalagi?"
"Berapa bulan kita pacaran?"
"Sejak kita lahir" . Perempat siku muncul di keningku.
"Jawab yang benar ayam"
"Baiklah. 4 bulan"
"Kau tau tanggal lahirku?"
"28 maret"
"Makanan kesukaanku?"
"Makanan manis" jeda "Kau bertanya atau sedang melakukan sensus?"
"Aku hanya ingin tau saja" ia mendengus pelan.
Ayolah. Aku tau kau keras kepala, tapi kalau soal berdebat denganku kau takkan menang.
.
.
Entah apa yang ia pikirkan. Dia sedang berada di rumahku sekarang, di kamarku.
"Kemarin kau seenaknya masuk kamarku. Sekarang aku melakukan hal yang sama"
"Tidak masalah jika itu kau" jawabku enteng. Aku terduduk di ujung ranjangku.
Ia mengamati seluruh isi kamarku. Entah apa yang sedang dicarinya.
Mata emeraldnya berhenti di bingkai kecil foto kami bertiga-aku,Sakura dan Naruto. Ia memegang nya.
"Kenapa tidak ada foto yang hanya kita berdua?"
"Kau menginginkannya? Baiklah ayo kita lakukan" jawabku, seringai andalan ku keluarkan.
"Bukan begitu. Aku hanya mencari bukti"
Terserah apapun alasanmu. Kau sendiri yang datang ke dalam kandang singa.
Aku mendekat , semakin mendekat. Ia memundurkan langkahnya. Sampai menabrak dinding kamar.
"Apa? Kau mau bertindak kurang ajar. Dasar Mesum!"
"Aku hanya berlaku seperti ini padamu" aku berbisik kecil sambil menyentuhkan bibirku di telinganya. Tanganku mengunci pergerakan di sebelah bahunya. "Jadi apa kau masih mau lari dari kenyataan?"
Aku benar-benar tak bisa menahannya. Gejolak yang memburu di dadaku. Rasanya panas setiap kali melihat Sakura. Aku menurunkan bibirku pada lehernya. Tapi sayangnya dia tak memberontak seperti omongannya tadi. Aku melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya. Semakin mengeratkan tubuh kami.
Aku melihatnya sedikit gemetar dan mata emeraldnya mulai sayu akibat perlakuanku.
"Teriaklah kalau kau ingin teriak. Kamarku dilapisi peredam suara. Lagi pula hanya ada Itachi nii"
"Si-sial kau Sasuke"
"Katakan. Kau menikmati setiap sentuhanku kan?"
Sakura menghindari tatapanku. Wajahnya masih merona. Tak menjawab.
"Kau tak menjawab berarti Aku anggap iya" aku melanjutkan aksiku. Tangan kananku membelai wajahnya, rambutnya, sampai pada tengkuk lehernya.
Aku mendekatkan bibirku, tak ada penolakan sejauh ini. Aku mencium bibirnya. Mengecapnya berkali-kali sampai ia membuka mulutnya. Aku memasukkan lidahku. Sedikit lama sampai ia merespon ciumanku. Ya, dia merespon dengan kesadarannya. Aku menikmati tiap kecupan yang kami buat.
Tangan kananku membuka dua kancing teratas bajunya lalu beralih menarik kaki kirinya sedikit ke atas. Karena ia memakai rok mini, memudahkanku dalam meraba pahanya.
BUAGH. Satu hantaman tangan kecil Sakura mendarat di wajahku. Aku hampir terjatuh, sambil memegang pipiku.
"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH !" teriaknya. Lalu berlari keluar kamar. Dengan kancing kemeja yang terbuka dan rok mini yang tersingkap itu?
Aku hanya menggidikkan bahuku. Ternyata sifat bar-bar nya tak berubah.
Setidaknya, kau ikut menikmatinya Sakura.
.
.
Sakura POV
Aku berlari kencang mengusuri lorong rumahnya yang besar ini. Aku hampir saja tersesat kalau aku tidak menabrak seseorang.
Brugh..
"Aw..." aku terjatuh dan pantatku mendarat sedikit keras di lantai. Aku meringis kesakitan.
"Sakura.. Kenapa kau berlarian? Maaf membuatmu terjatuh" Itachi nii mengulurkan tangan kanannya padaku untuk membantuku berdiri. Aku segera menggapainya.
"Tidak apa Itachi nii. Aku hanya ..." jawabku gugup.
Itachi memandangku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi, kemudian ia terkekeh kecil. "Rapikan penampilanmu dulu Sakura"
Blush. Wajahku memerah. Aku hanya mengangguk tanpa menatapnya. Mengancingkan kembali kancing bajuku, merapikan rambutku dan rok ku. "Ikut aku dulu Sakura" Aku mengukutinya menuju ruang kerja miliknya. Ruang kerja yang mewah, aku tidak menyangka Uchiha begitu kaya raya seperti ini.
Aku duduk sesuai arahannya di sofa, dia di sebelahku. Itachi nii memeberikan aku sebuah kaleng soda. "Minumlah" aku membuka kaleng soda dan segera meneguknya.
Benar. Aku seperti terbakar. Antara gugup, berdebar dan hmmm mungkin, sedikit menikmatinya. Dan pertanyaan bodoh apalagi yang akan aku tanyakan pada diriku sendiri mengenai kejadian di kamar Sasuke tadi. Onyx kelam itu seakan mengunci perasaanku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi apabila aku tidak bisa mengontrol tubuhku tadi, pasti berakhir di ranjang yang panas. Oohhh tidaaakkk...!
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Membuyarkan pikiran nistaku.
"Kau tidak apa-apa?" aku mengangguk lagi. "Ngomong-ngomong, kau banyak berubah Sakura"
"Tentu saja. Setelah 4 tahun"
"Sasuke juga sedikit berubah ketika kembali kesini. Apa itu karena kau?"
"Aa... Aku tidak mengerti. Berubah? Sasuke?"
"Kau lupa. Betapa angkuhnya dia yang dulu. Bahkan di Suna dia tak punya teman " jeda "Suatu ketika di Suna, sepertinya dia merindukan kalian-Kau dan Naruto. Hanya saja dia cowok yang kaku, tidak mungkin ia merengek dan menangis hanya karena hal itu"
Aku hanya manggut-manggut menyimak ceritanya.
"Akhir-akhir ini dia sering tersenyum kecil, jika aku perhatikan dia akan memasang wajah datarnya lagi. Aku rasa, ada sesuatu antara kau dan Sasuke? Apa itu benar?"
"Ti-tidak. Bukan seperti yang Itachi nii bayangkan"
Itachi terkekeh lagi. "Baka otouto itu, walaupun sikapnya menjengkelkan, tapi dia anak yang baik. Sekalipun ia menyebalkan, pasti ada alasan dia bersikap seperti itu. Jadi, aku harap kau mengerti maksudku Sakura"
"Aku mengerti Itachi nii, hanya saja-"
"Disini kau rupanya?" Sasuke bersidekap menopang kedua lengannya di dada sambil bersandar di pintu.
Aku segera beranjak dari tempat yang aku duduki "Aku harus segera pulang Itachi nii" aku berlalu tanpa menghiraukan lirikan dari si Pantat ayam itu.
Aku sudah sampai di pintu depan mansionnya sampai ia menarik lenganku "H-hei! lepaskan Sasu" aku sedikit memberontak.
Sasuke menatapku tajam dan mendekat. "Apa yang kau lakukan dengan Itachi?"
Aku mengerucutkan bibirku. Ingin tertawa, tapi tertahan. Oh apakah kau cemburu hei pantat ayam?
"Bukan urusanmu"
"Sekarang itu menjadi urusanku. Kau tidak ingat beberapa menit lalu kita melakukan apa?"
Blush. Sekali lagi. Wajahku memerah padam. Tidakkah dia bisa berbicara sedikit pelan. Walaupun mansion terasa sepi, tetap saja, kalimatnya terlalu fulgar.
"Sasuke, jangan mulai lagi. Aku mau pulang" aku merajuk agar aku bisa segera pulang. Aku malas berdebat dengannya.
Akhirnya, ia melepas genggaman tangannya.
"Biar ku antar"
Aku memutar bola mataku bosan. "terkadang, rumah kita hanya selisih beberapa meter. Haruskah kau mengantarku dengan mobilmu dan kau menginap di rumahku. Mengawasiku. Memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa denganku? Atau kau takut orang lain menyentuku?" Upss... aku termakan emosiku sendiri. Lihat seringainya makin melebar.
Aku menepuk jidat lebarku.
.
.
Sasuke POV
Hari minggu. Aku menghabiskan waktuku sampai siang hanya untuk bermain game bersama Dobe di rumahnya. Tentu saja rumahnya sangat sepi, karena dia tinggal sendiri. Ibunya meninggal sejak ia lahir dan ayahnya, kudengar setahun lalu menikah lagi dengan wanita dari Amegakure, tapi Naruto enggan untuk ikut bersama Ayahnya. Jika aku tanya, dia akan menjawab bahwa Ia lebih suka disini. Kau benar Naruto, aku juga lebih suka tinggal disini.
"Sial. Teme! Kau curang. Kau mencuri Startku" Naruto meracau sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Sejak awal kau ditakdirkan kalah Dobe" aku meletakkan stick game ku.
"Tau seperti ini aku lebih baik kencan dengan hime ku agar moodku bagus hari ini"
"Dasar Dobe! Kau terlalu terobsesi dengan gadismu itu"
"Tidak Teme. Kau hanya belum merasakannya saja. Ketika kau jatuh cinta, apa saja akan kau lakukan demi gadismu"
Apa saja? Membohonginya juga? Apa ini juga bisa disebut mencintai?
"Lalu bagaimana rasanya?"
"Ya Tuhan, Teme... Kau belum pernah menyukai gadis? Kau Gay?" tudingnya ke arahku. Ke wajahku.
Bletak. Satu kepalan tanganku mendarat di kepalanya.
"Aku normal Dobe!"
" .. Jadi begini. Kau selalu membayangkannya, ingin menjaganya, ingin selalu di dekatnya, dan ujing-ujungnya, kau ingin memilikinya. Memilikinya. Maksudku. Kau mengerti obrolan orang dewasa.. err.. menyentuhnya di-"
Pletak. Selali lagi. Naruto memegangi kepalanya sambil mengumpat.
"Aku sudah tau"
"Sudah tau kau masih tanya. Dasar Teme!"
Aku terkekeh kecil. Memang dasar Dobe. Aku tau arah obrolannya akan kemana.
"Bagaimana pendekatanmu dengan Sakura?"
"Eh?" dia tau.
"Jangan pura-pura. Aku tau apa yang terjadi di antara kalian. Tatapan kalian sudah berbeda"
"Berisik Dobe!" aku bangkit dari dudukku dan akan melangkah pulang.
Naruto setengah berteriak "Kau hanya belum menyadarinya Teme. Coba kau jujur pada perasaanmu sendiri"
Tanpa berbalik aku berkata "Aku hanya senang menjahilinya"
"Jangan sampai kau buat Sakura sebagai mainanmu" Tegasnya.
Aku menghentikan langkahku tepat di pintu kamarnya. Aku seperti tertohok dengan kalimat Naruto. Tidak. Aku tidak seperti itu. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju luar.
Benarkah aku tidak seperti itu?
.
.
Sakura POV
Inikan hari libur, kenapa aku tidak kemana-mana? Jalan-jalan pagi misalnya. Atau ke pusat kota berbelanja bersama Ino dan Hinata. Berbincang-bincang mengenai cowok keren, atau pacar masing-masing?
Tunggu. Yang terlintas di benakku malah Sasuke si pantat ayam mesum itu. Oh hell, ada yang putus di syaraf otakku?
"Bisakah kau tidak mengganggu konsentrasiku Saki!" Saso nii menatapku tajam dibalik kacamata tebalnya yang biasanya ia pakai pada saat ia belajar ataupun membaca buku. Dia sedang mengerjakan Skripsi dan aku mengganggunya. Entah kenapa aku ada di kamar Sasori nii. Aku hanya bosan di kamarku. "Kau membolak balik arah tidurmu berkali-kali"
Aku merapatkan selimut Sasoo nii yang aku pakai semakin ke atas membenamkan wajahku.
"Kau tidak keluar di minggu cerah seperti ini?" tanyanya lagi sambil terus mengetik di laptopnya. "Kau sedang menunggu seseorang?"
Aku membuka selimutku "Tidak" jawabku cepat.
Sasori nii menghentikan ketikannya. Diam sebentar. Lalu berdiri menuju arahku. Duduk di sampingku.
"Semangat sekali menjawabnya. Jadi memang betul kau menunggu seseorang?"
"Hm.. aku.."
"Sasuke? Benar?" selidiknya.
Aku hanya terdiam. Yang jelas wajahku merona kertika Saso nii menyebut namanya.
Saso nii memasang wajah seriusnya "Kau menyukainya?" tatapan seperti ini tak pernah aku lihat.
"Saso nii.. aku.."
"Jauhi dia"
Deg.
Saso nii serius. Aku sedikit takut. Tapi kenapa? Aku teringat obrolan keluarga Uchiha waktu makan malam di rumah tempo hari. Ya, aku tidak melihat Saso nii ikut menertawakanku.
"Ini bukan perintah. Ini sebuah peringatan!"
Rasa takut itu semakin menjalar ketika Saso nii meninggalkanku sendiri di kamar dengan kalimat terakhirnya.
TbC
Ada yang tau band Korea The Trax gag?
Beberapa minggu ini saya galau gara2 MV nya. Judulnya BLIND.
MV yang telah aku abaikan selama 5tahun, ketika saya melihatnya lagi, ngeh banget ke hati saya..
Awalnya karena Mv cameo nya Kyuhyun Suju, tapi ketika jelas liat voalisnya ~Jay Kim,, oohh... Kami-sama...
apa yang saya lihat atau dengar, sangat mempengaruhi mood saya. Apalagi liat Drakor atau baca Fic yang sad ending... bakal berhari2 sembuhnya ni hati.. kayak diputus pacar aja...heheheheheeee
Jadi. Mohon maaf apabila telat update Atau kalian gag suka sama chapter ini.
Gomen readers.
Masukannya ya...
.
.
