"Aku harus, Sasuke-kun. Aku... aku tidak ingin Sasuke-kun terus merasakan perasaan yang menyakitkan lagi. Aku juga tidak ingin terus-terusan menyakiti hatiku dengan terus menyukai Naruto-kun. Aku harus bisa melupakan Naruto-kun dan menyukaimu!" Hinata menatap Sasuke lekat-lekat. "Kau bilang akan membantuku kan Sasuke-kun? Makanya..."

"Bagaimana jika aku menciummu?"

"Eh?"

Kalimat Hinata terhenti, terlalu kaget membuat air matanya juga berhenti mengalir. Kedua bola mata lavender itu membulat ketika telapak tangan Sasuke berada di belakang kepalanya, ketika kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata hitam itu.

Perlahan, jarak wajah mereka semakin memendek. Perlahan, kedua kelopak mata pucat milik bungsu Uchiha itu tertutup hingga menyembunyikan kedua bola mata onyx Sasuke.

Perlahan...

Hyuuga Hinata pun menutup kedua matanya, menggenggam lengan yang melintas di samping wajahnya dan mendekatkan dirinya hingga merapat ke tubuh Sasuke.

Saat kembang api entah dari mana berarak riang di langit hitam sana, Hinata menyadari sebuah perubahan.

Perubahan darinya dan dari seorang Uchiha Sasuke.


.

L O V E

Another Fanfiction from me to you

.

Standar Warning diterapkan disini. (OOC, Typo, GJ, dll)

.

Spesial Thanks:

keiKo-buu89; Hyou Hyouichiffer; Guest (5/31); Uchiha Cullen; Diane Ungu; Dr. Boo-Chan; Dewi Natalia; Ryu Matsuda; Astia Morichan; Kirei Murasaki; Gece; Axx-29; Lily Purple Lily; Anne Garbo; and all silent readers.

.

Semoga Fict ini gak mengecewakan :D

Happy reading, minna~


Hyuuga Hinata menjatuhkan tubuh kecilnya di ranjang. Gadis manis itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Jelas sekali bahwa ada yang dipikirkannya saat gadis itu memandang langit-langit kamarnya yang ditempeli hiasan bintang-bintang kecil.

Wajah seorang pemuda bertampang datar dan memiliki mata hitam yang menyedot perhatian seseorang.

Wajah Hyuuga itu mendadak memerah dan Hinata secara refleks langsung berbalik ke kanan, menghadap tembok kamarnya yang berwarna kuning pucat sembari memeluk gulingnya, menyembunyikan wajahnya yang kini semerah tomat. Jantung Hinata berdebar kencang. Terasa hangat dan manis. Memorinya menampilkan wajah sang kekasih yang perlahan semakin jelas, semakin dekat, kelopak mata itu tertutup dan...

KYAAA!

Lagi, Hinata membenamkan seluruh wajahnya di bantal. Gadis manis itu semakin salah tingkah. Padahal kejadiannya beberapa jam yang lalu, tapi Hinata masih dengan jelas mengingatnya. Kulit wajahnya, hidungnya yang mancung, lalu bibirnya yang... lembut.

Hinata menyentuh bibirnya dengan telunjuk, jantungnya semakin berdebar tak karuan, dan Hinata tersenyum hingga tanpa disadarinya gadis itu terlelap, masuk ke dalam dunia mimpinya yang indah.

Malam itu, Hinata bermimpi indah.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

Hinata tidak pernah menyangka bahwa waktu berlalu begitu cepat. Bahkan berlalu tanpa disadari oleh Hinata sendiri. Dua minggu berlalu sejak kencan tersebut, dua minggu yang menyenangkan bagi Hinata. Perlahan namun pasti, proposi Sasuke mulai bertambah di hati Hinata, sedikit demi sedikit mengambil porsi Naruto di hatinya. Selama dua minggu ini, meski mereka tidak sama-sama bertemu tapi komunikasi mereka berjalan cukup baik, dan mendebarkan bagi Hinata.

Sasuke tak pernah banyak bicara. Saat dikirim pesan singkatpun, sasuke menjawab seperlunya, singkat dan kadang membuat Hinata kehabisan bahan obrolan. Tapi entah kenapa tidak pernah membosankan bagi Hinata untuk menerima balasan singkat Sasuke. Bahkan kadang, Sasuke menelponnya di malam hari, hanya mengatakan Halo dan biasanya dia akan diam, sibuk dengan apa yang dilakukannya di seberang sana, meski sambungan tetap terhubung. Hubungan yang aneh, tapi Hinata suka.

Hinata merasa, Sasuke selalu menemaninya, ada di sisinya.

Dering ponsel membuyarkan lamunan Hinata dari sosok bernama Sasuke. Tersenyum Hinata mengambil ponselnya dan mengernyit ketika yang menghubunginya adalah nomor yang tidak dikenal. Berusaha mengenyahkan prasangka buruk, dengan dahi berkerut Hinata mengangkat teleponnya.

"Moshi-moshi?"

Untuk beberapa saat, Hinata tidak mendengar jawaban. Hinata mencoba menyapa seseorang di sana, namun belum selesai sapaannya yang ketiga dari seberang sana terdengar sebuah suara.

Dan Hinata Mendadak beku.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

Hinata menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan sebelum mengambil napas lalu menyandarkan punggungnya di dinding stasiun. Hinata memperhatikan palang keluar kereta api, mencari sosok yang katanya ingin menemuinya di sini. Jantung Hinata berdebar kencang. Perasaannya aneh. Antara ingin bertemu sekaligus tidak. Tapi tidak ingin bertemu pun, Hinata tidak bisa membatalkannya. Orang ini sudah jauh-jauh datang ke tempatnya hanya untuk bertemu Hinata dan Hinata sudah menyetujuinya meski dengan hati yang bimbang.

"Hinata-san."

Hinata terlonjak ketika mendengar namanya dipanggil. Orang itu tersenyum lembut ke arahnya. Hinata memasang senyum gugup sebelum membenarkan posisi berdirinya sebelum membungkuk sopan lalu tersenyum. Hinata tak menolak ketika gadis seusianya berjalan menghampirinya lalu memeluknya erat. Malah, Hinata membalas pelukan gadis ini.

Hati Hinata semakin tidak enak ketika bibirnya mengucapkan sebuah kalimat sekaligus nama gadis yang memeluknya erat penuh kerinduan ini.

"Youkoso, Sakura-san."

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

"Mau minum apa?"

Hyuuga Hinata menyalakan lampu kamar kost-nya sebelum berjalan ke arah dispenser dan menyalakannya. Haruno Sakura, dengan sedikit rasa enggan memasuki kamar Hinata yang cukup bersih namun sedikit sesak karena begitu banyak rak berisi buku di kamar yang hanya berukuran 3x3 meter tersebut.

"Tak perlu repot-repot, Hinata-san," sahut Sakura setelah gadis berhelai merah jambu itu menggantungkan tas dan jaket tebalnya lalu duduk di kasur Hinata. Hinata menggeleng sebagai ungkapan bahwa dia tidak direpotkan dan mulai memindahkan kue yang tadi sengaja dibelinya untuk menjamu Sakura.

"Teh atau kopi?" tanya Hinata dan Sakura memilih teh karena tatapan Hinata kepadanya benar-benar memaksa. Hinata tersenyum lalu mulai membuat dua cangkir teh untuk Sakura dan dirinya.

"Gomen, aku tak membawa apa-apa," kata Sakura menyesal. Hinata menggeleng memaklumi lalu menyajikan teh dan tempat berisi gula kepada Sakura. Hinata lalu mengambil tehnya dan duduk di lantai beralas tikar, berseberangan dengan Sakura.

"Apa kabarmu, Hinata-san?" Sakura memulai topik ketika keheningan mulai menguasai suasana diantara mereka. Gadis itu mengambil cangkir teh miliknya dan memasukkan dua sendok teh gula kedalamnya sebelum menyeruput teh beraroma strawberry yang dihidangkan Hinata.

"Baik. Sakura-san?"

"Seperti yang terlihat."

Lalu hening. Sejujurnya Hinata tidak mempercayai penglihatannya. Sakura, Haruno Sakura, calon tunangan Naruto datang menemuinya. Beberapa jam lalu Hinata menerima telepon dari sakura. Katanya Sakura ingin bertemu dengannya dan kalau bisa ikut menginap di kost-nya. Hinata tidak punya alasan untuk menolak, makanya gadis itu menyetujui saja permintaan Sakura.

Perlahan Hinata menatap Sakura yang terlihat menikmati teh yang dihidangkannya lalu mulai menyendokkan cake bagiannya dengan anggun dan sopan. Hinata tahu alasan kenapa Naruto bisa menyukai Sakura. Sakura tidak cantik, tapi Sakura manis dan anggun. Kulitnya putih dan kedua bola matanya indah. Hinata menghela napas ketika gadis itu menyadari bahwa dia benar-benar kalah dari Sakura dari segi penampilan.

"Seperti kata Naruto, Hinata-san benar-benar mengoleksi buku ya?"

Hinata melihat Sakura mengamati rak berisi koleksi manga-nya. Well, sepertinya Sakura berusaha keras untuk mencairkan keheningan di antara mereka yang seolah membeku dan dingin, dan Sakura berhasil.

"Sepertinya manga-manga yang Hinata-san koleksi menarik ya?"

Hinata mengangguk senang. "Ya. Sakura-san juga senang membaca manga?"

Sakura menggeleng lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Aku tertarik, tapi aku tidak bisa membacanya. Lagipula aku lebih tertarik membaca novel daripada manga."

"Hm... Sayang sekali. Kalau aku sebaliknya. Aku lebih suka membaca manga daripada novel."

"Eh? Tapi Hinata-san punya banyak novel juga ya?"

"Iya. Tapi aku lebih suka baca manga. Kalau novel lebih suka ber-genre fantasi dan supranatural. Aku suka novel-novel yang membahas tentang vampire, detective! Kalau Sakura-san?"

"Hm... Aku suka cerita romantis, Classic Romance dan sejenisnya. Terkadang aku suka yang genre hurt sih, lebih seneng lagi kalau sad ending, tapi sangat membenci Death chara!"

"Iya! Aku juga!" Hinata berseru semangat. "Aku suka sebel kalau endingn-ya ada yang mati, apalagi kalau yang mati adalah chara cowok favorite-ku. Aku pasti gak rela. Hm... tentang romance, Sakura-san mau coba baca manga koleksiku?" Hinata sibuk memilih-milih beberapa manga dari rak bukunya lalu menyerahkan tiga buah manga.

"Recomended banget. Sebenarnya ada lima belas volume sih, tapi baca aja dulu volume satunya. Meski gak terlalu menonjolkan romance-nya tapi aku suka. Tokoh perempuannya, Takamiya Uru* mengajarkan banyak hal kepada kita."

Hinata melihat Sakura terlihat bersemangat untuk membaca manga rekomendasinya. Gadis itu menyimpan dua buah manga di sampingnya lalu mulai membuka manga tersebut. Sakura terlihat kesulitan saat membaca manganya dan Hinata menjelaskan cara membaca panelnya membentuk huruf Z. Sakura mengangguk mengerti dan tak lama kemudian gadis itu tenggelam dalam dunia manga yang dibacanya.

Hinata tersenyum tipis dan mulai mengambil beberapa manga yang belum sempat dibacanya. Sebelumnya, Hinata mengambil ponselnya dan Hinata melihat satu pesan masuk, dari Sasuke.


From : Sasuke-kun

Subject : no subject

Hinata.


Hinata mengernyit. Isi pesan itu hanya satu kata dan itu berisi namanya. Masih bingung, Hinata menjawab pesan itu.


To : Sasuke-kun

Subject : Re: no subject

Ya?


Tak lama ada pesan balasan dari Sasuke.


From : Sasuke-kun

Subject :Re:Re no subject

Hn.


Belum sempat membalas, Sasuke mengirimkan pesan lagi.


From : Sasuke-kun

Subject : Hari ini

Boleh bilang kangen?


Blush.

Hinata tidak bisa mengendalikan warna merah di kedua pipinya.


To : Sasuke-kun

Subject :Re: Hari ini

E-Eh? Tu-tumben Sasuke-kun, ada apa?


Beberapa menit kemudian Sasuke membalas yang membuat Hinata mengernyit bingung sekaligus blushing berat.


From : Sasuke-kun

Subject : Re: Re: Hari Ini

Tak apa, ingin saja.

Sudah ya, Hinata. Aku mencintaimu.


Di saat Hinata sibuk dengan ponselnya, Sakura melirik ke arah Hinata dengan tatapan sedih.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

"Hinata-san, sudah tidur?"

Malam hari, saat lampu kamar Hinata dimatikan dan gadis itu telah menggelar kasur lipat miliknya dan membiarkan Sakura tidur di tempat tidurnya, saat mereka telah sama-sama berada di bawah selimut selama dua puluh menit dalam keadaan mata terbuka, akhirnya Sakura berbicara.

Sebenarnya Hinata ingin menjawab, tapi entah kenapa gadis itu memilih untuk diam, pura-pura tidur. Karena tak ada jawaban dari Hinata, Sakura menghela napas.

"Sudah tidur ya? Kalau begitu aku bisa bebas berbicara ya..."

Sepertinya Sakura tahu Hinata belum tidur.

"Kau tahu alasanku datang kemari?" Tak ada jawaban. Hinata merasa Sakura mengubah posisi tidurnya dan menghadap ke arahnya. "Aku ingin memastikan sesuatu dan aku minta maaf jika kau terganggu karena itu."

Sakura menghela napas dan dada Hinata berdebar.

"Hinata-san... Apa kau pernah menyukai Naruto? Atau mungkin masih menyukainya?"

Hinata tahu saat nama Naruto disebut-sebut gadis itu merasa jantungnya di remas-remas tangan tak terlihat.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

"Aku merasa akhir-akhir ini Hinata-chan menghindariku," pernyataan Naruto disertai wajah muram pemuda itu menghentikan kegiatan Sakura yang sedang mengolesi cake-nya dengan krim lalu duduk di seberang Naruto yang terpisah oleh meja makan.

"Hinata-chan pemilik akun Lavender Hana itu?"

Naruto mengangguk lesu. Masih mengutak-atik ponsel. Sepertinya itu pesannya yang keberapa yang hanya dibalas Hinata dengan singkat. Sakura mengamati calon tunangannya dengan penuh selidik.

"Hinata-chan itu sahabatmu sejak SMA itu kan?" Naruto mengangguk lagi. "Lalu kenapa tiba-tiba dia menghindar? Kau melakukan apa kepadanya?"

Naruto mengangkat bahu. "Hinata-chan mulai menjauhiku setelah aku mengundangnya hadir di pesta pertunangan kita."

Sakura tahu firasat perempuannya memaksanya untuk bertemu dengan gadis bernama Hinata itu.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

"Bisa dibilang aku cemburu padamu, Hinata-san. Itu pertama kalinya kulihat Naruto muram hanya karena dijauhi seorang perempuan." Sakura tersenyum. Entah kenapa dia jadi banyak bicara hal-hal yang terasa melow malam ini. Padahal Sakura bukan tipe orang yang akan membicarakan hal yang membuat cengeng seperti ini. Padahal Sakura tak pernah sekalipun merasa cemas dan takut kehilangan Naruto. Sakura tahu Naruto akan selalu menyayanginya. Sakura tahu itu dan dia tidak perlu merasa cemas karena hal itu.

Tapi, entah kenapa Sakura merasa tak nyaman jika Naruto mulai bercerita tentang sesosok gadis yang dikenal Sakura sebagai 'Lavender Hana', mereka berteman di dunia maya sebenarnya, mereka juga sering banyak 'bicara' saat ada di dunia maya. Tapi ini kali pertama Sakura melihat sosok Lavender Hana dan Sakura merasa kalah.

Pantas saja Naruto merasa sepi ketika jauh dari Hinata, itu pikir sakura.

"Aku mengenal Naruto saat kami masih sebelas tahun dan kami selalu bersama nyaris sembilan tahun. Dan rasanya aku akan hancur jika Naruto tak ada di sisiku lagi."

Sakura mengingatnya. Pertemuan pertamanya dengan Naruto yang menyebalkan. Saat-saat yang membuat Sakura tertawa akan tingkah Naruto. Saat Naruto menembaknya pertama kali saat SMP, Saat Naruto tertawa, saat Naruto mengatakan dengan semangat bahwa 'Yang kucintai adalah Sakura-chan-ttebayo!'

Sakura tersenyum hingga tanpa terasa air matanya mulai terlihat di ujung matanya.

"Aku –"

"Sakura-san!"

Sakura tersentak ketika Hinata mengangkat tubuhnya dan menghadap kepadanya. Meski lampu di kamar Hinata tidak menyala, tapi dari cahaya lampu di luar sana, Sakura dapat melihat wajah Hinata dengan jelas. Gadis itu duduk bersimpuh dan menatap Sakura yang juga bangkit dari tempat tidurnya.

"Bagi Naruto-kun, Sakura-san adalah cinta pertamanya. Selama nyaris sebelas tahun Naruto-kun tka pernah melepaskan pandangannya ke arahmu. Mungkin Naruto-kun pun akan merasa hancur jika tak bersama denganmu, Sakura-san, percayalah padanya."

Sakura menatap Hinata yang memaksakan diri untuk tersenyum padahal jelas-jelas air mata menuruni kedua pipinya dan suaranya mulai tersendat-sendat.

"Bagi Naruto-kun, aku hanyalah adiknya. Tak lebih dan tak kurang. Sakura-san tidak perlu merasa cemas dan ragu akan perasaan Naruto-kun, Naruto-kun tidak pernah ... menganggapku lebih dari adiknya." Hinata lalu mengusap pipinya sebelum mengambil telapak tangan Sakura lalu menggenggamnya. "Aku pun menganggap Naruto-kun tak lebih dari perasaan seorang adik kepada kakaknya. Tak lebih."

Sakura tak perlu belajar psikologi untuk tahu bahwa Hinata bohong.

Malam itu mereka habiskan untuk menangis selama beberapa puluh menit ke depan hingga keduanya kecapaian dan tertidur sembari bergenggaman tangan.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

Uchiha Sasuke berjalan pelan menuju kamar kost-nya ketika Sasuke baru saja memasukan kunci kamarnya ke tempatnya, ponselnya berbunyi. Sasuke merogoh saku celana jeans-nya, mengambil ponsel flip-nya dan membacanya sekilas.


From : Hinata

Subject : Hei :D

Sasuke-kun, aku ada di stasiun Ame, mau menjemputku? :D


Uchiha Sasuke menghela napas sebelum kembali mengunci kamarnya dan segera menuju stasiun tempat kekasihnya berada.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

Hyuuga Hinata menatap ponselnya sebelum menutupnya dan memasukkannya ke dalam tas. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di tembok stasiun. Menghela napas, menatap langit-langit stasiun Ame.

"Hufft."

Kenapa ya dia bisa ada di sini?

Hinata tidak tahu. Hanya saja, tadi pagi Hinata sudah melihat Sakura yang telah berpakaian rapi. Hinata melihat emerald Sakura yang sedikit memerah lalu meminta maaf atas kejadian semalam lalu sepertinya Sakura memilih untuk menutup insiden malam tadi dan berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Sakura baru kembali ke Iwa setelah sarapan dan sebagai tuan rumah yang baik, Hinata mengantarnya. Mereka berbicara singkat dan ucapan Sakura sebelum mereka berpisah membuat Hinata gelisah dan tahu-tahu saja Hinata sudah memesan tiket kereta ke kota di mana Sasuke tinggal hanya dengan membawa sebuah tas selempang berisi ponsel dan dompet.

Selalu Sasuke yang menjadi tempatnya bersandar. Selalu Sasuke yang selalu direpotkannya. Selalu Sasuke yang Hinata ingat saat Hinata kembali terluka karena Naruto. Hinata merasa dia adalah gadis terburuk di dunia ini. Lebih buruk dari wajah nenek sihir dalam dunia dongeng.

"Hinata."

Hinata mendongak. Sasuke berdiri di depannya, dan Hinata tersenyum getir. Gadis itu menyentuh jaket Sasuke dan menggenggamnya.

"Sasuke-kun ... Apa ... yang harus kulakukan sekarang?"

Kenapa hanya karena cinta yang tak terbalas Hinata harus selemah ini. Meski tak dikehendaki, tahu-tahu saja ingatan Hinata memutar ulang kalimat Sakura tadi pagi saat mereka berpisah.

"Hinata-san, bagiku mengungkapkan lebih baik daripada menyimpannya sendiri dan terluka karenanya. Bukankah itu hanya mengorbankan dirimu tanpa makna yang berarti? Bagiku, kebahagian Hinata-san adalah prioritas keduaku setelah kebahagiaan Naruto dan orang tuaku."

Hinata masih ingat Sakura tersenyum sebelum membungkuk. Hinata masih ingat senyum Sakura yang membuat perutnya mendadak sakit karena terlalu stress. Hinata masih ingat dengan jelas kalimat itu.

"Lakukan apa yang mau kau lakukan, Hinata."

Sasuke mengucapkannya dengan datar sembari membawa tubuh Hinata dalam pelukannya, memberi Hinata kekuatan untuk dapat mengangguk dan perasaan sesaknya sedikit berkurang.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

Akhirnya saat ini tiba.

Hinata menatap kalender yang ada di kamarnya dengan perasaan aneh. Dua bulan berlalu saat kisah ini di mulai. Kisah kegalauan Hinata karena Naruto memberitahunya bahwa dia akan bertunangan dengan gadis yang selama ini dikejar-kejarnya dan hari ini adalah harinya.

Suara ketukan membuat Hinata berjalan lalu membuka pintu. Hyuuga Hanabi terlihat di depan pintu kamarnya sembari memamerkan wajah sedikit menggoda.

"Hinata-nee, ada yang ingin menemuimu." Baru saja Hinata akan bertanya siapa, Hanabi sudah menjawab sembari menyeringai jahil. "Seorang lelaki."

Wajah Hinata panas. Gadis itu terbatuk dan mengusap kepala Hanabi yang masih duduk di bangku SMP sebelum Hinata berlalu pergi karena Hanabi paling tidak suka kepalanya dibelai. Hinata menuruni tangga rumahnya, berjalan menuju pintu rumah dan Hinata tersenyum ketika melihat Sasuke ada di depan pintu dengan setelan jas hitam yang membuatnya semakin tampan saja.

"Sudah siap?"

Hinata mengangguk meski sebenarnya dia tidak sesiap itu. Sasuke menarik lengan Hinata. "Ayo."

Hinata kembali mengangguk. Dia sudah mempersiapkan hatinya untuk hari ini. Hinata sudah memutuskannya.

Hari ini, Hinata harus mengakhirinya.

.

#Love by Fuyu no Yukishiro#

.

Hinata menatap plat yang terpampang di depan pintu berwarna cokelat. Tulisannya 'Ruang Rias'. Hinata menghela napas sebelum menggerakkan punggung tangannya mengetuk pintu itu.

"Masuk."

Embusan napas kedua sebelum Hinata mengambil knop pintu dan mendorong pintu itu hingga Hinata dapat melihat Naruto yang duduk di depan meja rias tertawa lebar ketika melihat dirinya.

"Hinata-chan!" Naruto tampak senang melihatnya. Pemuda berambut pirang itu berbalik dan mendekati Hinata, begitupun Hinata yang berjalan dengan langkah cepat hingga Hinata dan Naruto bertemu di tengah ruangan dalam waktu sepersekian detik. Mereka saling tatap dengan senyum penuh bahagia.

"Hai, Naruto-kun."

Naruto tersenyum lalu memeluk Hinata erat. Hinata tersenyum dan membalas pelukan Naruto yang sangat dirindukannya.

"Kau tahu betapa aku sangat merindukanmu Hinata-chan..."

Hinata tahu Naruto mengatakannya tanpa maksud apapun di sana. Detak jantung Naruto masih normal. Tak ada debaran jantung cepat seperti detak jantung Sasuke yang memeluknya erat. Hinata tahu Naruto mengatakannya dalam subjek 'persahabatan' dan bukannya 'percintaan'. Naruto tahu itu.

Tapi, meskipun tahu, meskipun Hinata melarang dirinya berharap, tapi hatinya mengabaikan peringatan itu. Hati Hinata begitu saja terbang, melayang hingga sampai langit ke tujuh. Hinata tidak bisa menghentikan laju perasaannya yang begitu bahagia karena memang, semenyakitkan apapun hatinya menerima kenyataan tentang Naruto dan Sakura, bersama Naruto adalah tempat ternyaman bagi Hinata.

Maka, saat telapak tangan Hinata menggenggam erat kain jas yang menutupi punggung Naruto, saat bibir mungilnya bergetar mengatakan satu kalimat ini dengan hatinya yang terasa sesak dan aneh, Hinata tahu hal selanjutnya yang akan membuat hatinya semakin hancur berserakan.

"Aku juga merindukanmu, Naruto-kun."

Mengatakan perasaan yang benar-benar Hinata rasakan adalah saat-saat yang menyakitkan bagi Hinata.

Saat Naruto dan Hinata tengah berpelukan, di samping kanan pintu kamar rias yang tak tertutup, sepasang manusia menyandarkan tubuhnya di tembok, mendengar dan melihat adegan itu dengan hati yang berharap cemas dan takut.

.

.

To Be Continued

.

* Takamiya Uru adalah tokoh utama dari komik happy cafe karya Kou-sensei... Ceritanya seru dan romance-nya romance humor. Salah satu komik favoriteku itu... :D


Author notes:

Yups... Tadinya mau bikin satu chapter terakhir. Tapi saya tahu otak bebal saya malah bikin dua chapter yang menyebalkan. Sejujurnya chapter ini gak ada dalam rencana... Tapi ya sudahlah, saya lagi galau dan butuh tempat untuk melampiaskannya. Jadi, saya memutuskan melanjutkan fict ini. Saya janji next chapter adalah ending.

Tadinya saya gak mau bawa-bawa Sakura ... tapi entah kenapa rasanya scene itu penting. Kebanyakan SiNet Indo tokoh ceweknya kan saling ngerebutin hingga saling menjatuhkan, nah saya ingin membuat sesuatu yang beda. Bagaimana jika kalian ada di posisi Sakura? Rasanya daripada marah-marah trus ngelabrak orang yang jelas-jelas berusaha untuk tak menunjukkan perasaannya pada orang yang kamu sukai, kamu pasti bakal ngerasa gak bersalah. Kalau gak setuju silakan koment!

Tolong Sampahi saya dengan tagihan di FB kalau bulan depan saya gak update ini fict... :'D

Ngingetin maksudnya... heheh

Sebelum ada yang protes kenapa di ending chapter ini ada adegan NaruHina... Itu ada alesannya. :D

Coba tebak, apakah Naruto juga sebenarnya menyukai Hinata atau tidak? Apakah Sakura akan salah paham dan membatalkan pertunangannya yang hanya beberapa jam lagi atau tidak? Apakah Sasuke akan melepaskan Hinata atau tidak? #DiHajarReader.

Clue : Ending Pairing tetep SasuHina.


Pojok Repiuw

keiKo-buu89 : Gak jadi chapter terakhir... :D Bulan depan sepertinya. Silakan repiuw lagi.. .:D

Dan makasih Keiko-chan udah bacain semua fanfic-fanfict saya yang aba-abal.. :D

Guest (5/31) : SasuHina emang COCOK! #Fangirlingan.

Yosh! Udah lanjut. Arigatou gozaimasu udah suka sama fict abal ini. Repiuw?

Uchiha Cullen : Udah lanjut, Repiuw lagi dong... #PuppyEyes

Diane Ungu : Udah lanjut. Repiuw? Maaf, ending masih chapter depan.

Dr. Boo-Chan : Siap! Udah lanjut. Repiuw?

Dewi Natalia : Terkadang cinta membuat orang jadi egois. Egois dan menutup mata. Mereka akan terus dan terus memegang keegoisan mereka sebagai bukti pembenaran bahwa apa yang mereka sukai itu tepat. #Eh?

Pengennya gitu... Tapi kalau gitu malah panjang. Di chapter kemarin Hinata ditinggal Sasuke beberapa menit aja, Hinata udah galau... :'(

Ryu Matsuda : Udah Update!

Astia Morichan : Udah.. makasih repiuwnya...

Kirei Murasaki : Ma-makasih

Rasanya Hinata udah merasakan perasan cinta sama Sasuke deh... Buktinya tanpa Hinata sadari Hinata pergi ke tempat Sasuke dan kepikiran masalah uhukkissuuhuk-nya. :D

Gece : Udah. Repiuw lagi?

Axx-29 : Makasih udah repiuww... #Hug

Lily Purple Lily : Udah update tapi maaf lama banget... Rasanya akan jadi Happy Ending.

Anne Garbo : Aku juga suka chara begitu. Gomen, gak jadi ending. Chapter depan insya Allah bulan depan (Amin).

Hyou-chan : Iya udah update... :D, Hina udah mulai suka

Makasih Hyou-chan.. btw, udah ganti nama FB? Apa namanya? Add aku dong.. :D

.

.

Rasanya terima kasih tak cukup untuk semua reviuw, Fave, Feedback dan reader-reader yang nyempetin waktu untuk baca fict abal-abal ini... Hontoni Arigatou Gozaimasu.

Mungkin tanpa kalian, saya tidak akan bisa menulis cerita yang sejujurnya menguras emosi saya seperti fict 'Love' ini. :D

.

.

2 Juni 2013

Fuyu No Yukishiro

.


Next Chapter:

.

Karena Cinta hanyalah sebuah perasaan tanpa tedeng aling-aling menyerang tanpa mengenal siapa korbannya.

Karena Sayang adalah sesuatu yang muncul tanpa pernah diprediksi.

Karena Aku hanyalah perempuan yang bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

Karena meski jarak persahabatan dan percintaan setipis benang, namun jarak tetaplah jarak.

Karena kalian adalah orang yang begitu penting untukku.

Karena tak seharusnya orang baik sepertinya menderita.

Karena aku ingin hidup bersamamu, berkeluarga dan memiliki seorang anak yang akan semakin mendekatkan hati ini.

.

Terima kasih karena selalu ada bersamaku, selamanya, untuk hati yang selalu berubah.

.

.

.

REPIUW?