A KaiBaek's story by CekerJongin2

"Ojek payung"

Kim Jongin and Byun Baekhyun

Rated M

Yaoi, typo(s), absurd, mature content

Standart disclaimer applied

Dedicated to my beloved Baby's Breath Kim Bekhyun who gave me this inspiration. Thank you!

Happy reading!

.

.

.

.

Baekhyun duduk di samping Jongin yang sedang tidur di ranjang. Pahanya memangku mangkuk dan tangan kanannya membawa sendok. Dia menyuapi Jongin.

"Tidak seenak masakanmu hyung," jujurnya yang membuat Baekhyun tersenyum tipis. Pemuda itu meletakkan mangkuk kosong tersebut ke meja nakas di samping ranjang.

"Jangan bohong."

"Sungguh," sanggahnya sambil terus menatap Baekhyun yang tersenyum meremehkan. "Kau mau mencobanya?" Jongin memamerkan smirk-nya.

"Eh?"

"Masih ada di mulutku. Kau mau?"

"Ckck mesum," hinanya dengan menunduk malu. Tanpa Baekhyun sadari Jongin telah duduk di sampingnya.

"Hanya denganmu hyung," bisiknya pada telinga Baekhyun. Yang menyebabkan sang pemilik telinga berdesir. Belum lagi tangan nakal Jongin yang telah mengelus paha dalam Baekhyun. Bibir tebalnya sendiri telah bergerilya pada leher mulus Baekhyun. Menyesap, menjilat, mengigit daerah sensitif tersebut.

"Mhh kau sebenarnya sakit tidak?" secara reflek Baekhyun menjenjangkan lehernya. Memberi akses pemuda kulit tan tersebut untuk memuluti lehernya. Yang diberi akses merasa senang dan terus melanjutkan acara 'makan' leher Baekhyun.

Bosan dengan posisi mereka, Jongin mendorong tubuh Baekhyun untuk terlentang di ranjang dan tak lupa menindihi lelaki mungil itu. Mulutnya masih berada di leher Baekhyun. Membentuk tanda kepemilikan berwarna merah.

Sedangkan tangan Jongin sudah berkelana pada tubuh Baekhyun. Meraba sini dan sana menimbulkan suara lengkuhan lolos dari bibir tipis pemuda yang berada di bawahnya.

Kau pasti pelacur sewaan Jongin kan? Lebih baik kau pulang! Jangan membuat Jongin semakin bejat!

Suara bibi Park terngiang pada telinga Baekhyun bersamaan dengan tangan Jongin yang meremas dadanya dari luar. Kakinya bergerak-gerak tidak nyaman. Jauh di dalam sana, hati Baekhyun sakit mendengar suara itu terngiang.

"Jongin hh-," panggilnya dengan diselipi desahan.

Bukan ingin menggoda. Tapi, siapa yang tahan dengan tangan nakal Jongin? Tangan itu menelusup masuk ke sweater berwarna hijau muda milik Baekhyun. Menyibakkan kain itu ke atas. Lalu memilin nipple Baekhyun yang mulai mengeras.

Lihat? Bahkan kau tidak sexy. Kenapa Jongin mau menyewamu?

Lagi-lagi suara itu terngiang. Menambah kedalaman luka di hati Baekhyun. Ciuman Jongin bergerak ke rahangnya. Mengecupnya berkali-kali dengan kasih sayang sebelum melahap bibir tipis Baekhyun.

Kyungsoo lebih di segala-galanya. Seharusnya Jongin menyewa pelacur yang body-nya tidak jauh berbeda dengan body Kyungsoo. Baekhyun tidak tahu kenapa suara itu terngiang kembali dan itu cukup mempengaruhinya.

Lelaki sewaan. Pelacur. Mata Baekhyun memanas. Dengan segera ia memejamkan matanya.

Apakah aku hanya pemuas napsu Jongin?

.

Chapter 4

.

Tangan Jongin meremas tonjolan di selangkangan Baekhyun. Membuat Baekhyun melengkuh nikmat. Sedikit melupakan rasa sakit di dadanya. Jongin meremasnya lagi. Telapak tangannya merasakan bahwa benda itu telah mengeras. Jongin tau celana Baekhyun pasti sudah sesak.

Oh iya. Jangan lupakan mulut Jongin yang telah berpindah ke dada penuh keringat milik si mungil. Nipple yang sudah keras itu diemut olehnya. Keluar dan masuk. Belum lagi lidah Jongin yang basah dan hangat menari-nari pada tonjolan kecil itu.

Baekhyun membusungkan dada karena ulah Jongin. Matanya membuka dan menutup karena rasa nikmat. Tangan kanan Baekhyun mendorong kepala Jongin tanda meminta lebih.

Belum lagi jari jemarinya yang tidak sengaja menjambak surai hitam milik Jongin. Memberi rangsangan tersendiri bagi namja kulit tan tersebut. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas sprei hingga kusut.

"Eungh… Jongin-ahh," panggilnya yang membuat tubuh berkeringat Jongin semakin panas. Suhu dingin karena hujan sepertinya lenyap saat itu juga dan sialnya mereka tidak menyalakan pendingin ruangan tadi. Karena masalah cuaca.

Dengan gerakan tidak sabar, Jongin membuka zip celana Baekhyun. Menariknya turun lalu menurunkan celana dalam berwarna putih Baekhyun dengan kakinya. Jongin adalah seorang profesional dalam hal seperti ini. Sepertinya.

Penis putih, mulus itu terekpos dengan indah. Jongin langsung mengocok organ milik Baekhyun itu. Seakan-akan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu barang sedetik pun.

Tunggu apa lagi? Sana pergi! Bentakan Chanyeol yang terngiang di telinga Baekhyun. Membuat lelaki telanjang itu sadar. Ia melepaskan tangannya yang ada pada kepala Jongin. Mekeka tidak bisa seperti ini. Lalu Baekhyun mendorong bahu Jongin dan mendudukkan dirinya.

"Kita tidak bisa seperti ini," ia memberi tahu dengan memundurkan tubuhnya. Menjauh dari Jongin. Si mungil menundukkan kepalanya. Baekhyun tahu Jongin sedang menatapnya kaget, kecewa dan… entah Baekhyun tidak dapat mengartikan tatapan Jongin lebih dalam.

"Kenapa hyung?" Jongin merangkak mendekati Baekhyun. Baekhyun kembali mundur untuk mejauhi Jongin. Sampai akhirnya punggunya menyentuh kepala ranjang. Ia terpenjara di sana.

Jarak mereka cukup dekat. Baekhyun dapat merasakan napas terengah-engah milik Jongin di kulitnya. Begitu pula tatapan matanya. Meskipun ia sedang menduduk sampai sekarang.

"Jika kau menyuruhku tinggal di sini untuk kepentingan napsumu," Baekhyun memberanikan dirinya untuk menatap Jongin. "Aku tidak bisa," lanjutnya.

Dadanya kembali sakit. Oksigen mulai susah ia dapatkan dan mata kecilnya memanas. Jongin dapat melihat bola mata indah itu sekarang berwarna merah. Mereka hanya saling bertatap-tatapan.

"I-ini bukan napsu hyung. Aku mencintaimu," Jongin mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Baekhyun yang baru saja basah karena air mata.

"Tidak. Ini napsu Jongin! Aku bukan alat pemuas napsu! Aku manusia! Aku punya hati," serunya dengan suara parau yang menyedihkan. Jongin benar-benar sedih melihatnya. Ia merasa bersalah.

Jongin membawa Baekhyun masuk ke dalam pelukkannya. Lalu menaik-turun tangannya pada punggung mulus Baekhyun.

"Aku mau pergi," pintanya sambil memelas dalam pelukan namja tinggi itu.

"Jangan pergi," ia membalas dengan berbisik. "Aku mencintaimu," Jongin menambahi.

"Aku bukan pemuas napsu Jongin. Semua ini terlalu cepat. Aku… aku tidak percaya."

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku mencintaimu jika kau pergi meninggalkanku? Bagaimana kau bisa percaya?" Baekhyun merasa Jongin ada benarnya. Ia terdiam. Tak tau harus menjawab apa.

"Tinggalah bersamaku," pintanya sambil mulai menjilati daun telinga Baekhyun. Si mungil nan manis itu terpengaruh.

"Iya. Aku akan di sini bersama Jongin," senyum mengembang di bibir tipisnya.

"Aku mencintaimu," bisik Jongin sebelum mengubah jilatan itu menjadi sebuah kuluman. Baekhyun hanya pasrah. Jujur saja Baekhyun sudah lemas sedari tadi. Jantungnya terus saja berdebar dan Baekhyun suka.

"Aku mencintaimu juga," Baekhyun menjawab seraya menutup matanya menikmati tindakan Jongin yang mulai memuluti tubuh telanjangnya.

Namun hanya sebentar karena beberapa menit kemudian Baekhyun membuka matanya. Hal itu disebabkan Jongin yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Pemuda itu menatap Jongin dengan mata kecewa.

Jongin hanya menyeringai. Dalam hitungan detik ia sudah melepaskan semua celananya. Menyebabkan pipi Baekhyun memerah setelah melihat kejantanan Jongin yang begitu jantan.

"Kita langsung ke inti," pemuda dua tahun lebih muda dari Baekhyun itu merangkak mendekati Baekhyun. Pikiran Baekhyun benar-benar 'ke mana-mana'. Ia memikirkan bagaimana sensasinya penis besar itu memasuki lubang anusnya. Pipinya semakin merah karena hal itu. Lalu merutuki dirinya sendiri dalam hati.

Tanpa terasa Jongin telah membuka paha Baekhyun lebar-lebar. Menundukkan kepalanya untuk mendekati lubang milik Baekhyun yang masih perjaka. Jongin yakin itu. Sangat yakin.

Hangat dan basah Baekhyun rasakan saat lidah Jongin menyapa anusnya. Ia sedikit kaget. Ia tidak tahu jika Jongin akan menjilati saluran pembuangannya tersebut.

"Shh- Jonginhh… itu jorok, jangan," titahnya sambil menjauhkan tubuhnya dari Jongin. Jongin menegakkan badannya. Menatap Baekhyun dengan seringaian.

"Ini untuk mengurangi rasa sakit di sana," tapi jujur saja. Baekhyun merasa sensasinya enak.

"Apa iya?" tanya si mungil polos. Jongin mengangguk dan kembali membuka paha Baekhyun lebar-lebar. Sang pemilik paha hanya pasrah pahanya dibuka-buka oleh Jongin. Sedetik kemudian Baekhyun dapat merasakan rasa hangat dan basah itu lagi. Ia menggigit bibir bawahnya. Matanya memejam menikmati perlakuan Jongin.

Tanpa dia sadari. Kedua tangannya terulur dan mendorong kepala Jongin untuk berbuat lebih kepada lubangnya. Jongin memasukkan lidahnya ke lubang tersebut. Baekhyun melengkuh dan bergelinjang. Tak lupa kedua tangannya menjambak surai hitam Jongin.

"Ngh- dalam lebih -ah dalam Jongin ahh," pintanya sambil menggerakkan kepalanya ke sana dan ke sini. Menikmati apa yang Jongin lakukan pada anusnya. Rasanya gatal juga.

Tangan Jongin tak diam saja. Ia menggerakkan tangan kirinya untuk mengelus paha dalam Baekhyun. Sesekali ia mencari posisi yang pas untuk dapat mengakses lebih dalam.

Lagi-lagi Baekhyun menatapnya kecewa. Ia menghentikan kegiatan memuluti anus Baekhyun. Tapi, Jongin hanya menyeringai santai, mengelus pipi Baekhyun, dan mulai menaiki si mungil tersebut.

Debaran jantung Baekhyun semakin cepat. Ia gugup. Ini pertama kali untuknya. Wajahnya mungkin sudah memerah sempurna seperti apel karena membayangkan sesuatu yang 'iya-iya' bersama Jongin.

"Jika terasa sakit kau bisa menjambakku, menyakarku, apa pun itu asal mengurangi rasa sakitmu. Kau mengerti hyung?" Baekhyun mengangguk malu-malu. Jongin tersenyum manis. Mengecup kening lelaki mungil itu setelah mengacak rambutnya.

Alat kelamin Jongin mulai masuk ke dalam lubang sempit Baekhyun. Itu masuk dalam sekali hentakan. Rasanya seperti dipijat karena lubang tersebut terlalu sempit. Jongin memejamkan matanya karena nikmat yang ia dapatkan.

Sedangkan Baekhyun meringis menahan sakit. Pangkal pahanya terasa ngilu. Sangat ngilu. Tangannya mencengkram bahu Jongin erat. Menyalurkan rasa sakitnya pada lelaki di atasnya itu. Matanya perih. Hingga pada akhirnya dua bola itu mengeluarkan air mata.

Jongin tahu itu. Jadi ia mendekati wajah Baekhyun. Mencium bibir tipis yang berada di sana. Mencoba untuk membantu Baekhyun mengurangi rasa sakit yang ia dapatkan.

Baekhyun menyambutnya. Bahkan lelaki pendek itu. Membalas lumatannya. Kedua tangan Baekhyun yang semula berada di bahu Jongin mulai berpindah ke leher lelaki hitam tersebut. Menarik tengkuk yang Jongin miliki. Agar ciuman mereka semakin dalam.

Jongin memasukkan lidahnya dan Baekhyun melengkuh. Sepertinya pemuda cantik itu sudah lupa tentang rasa sakit di pangkal pahanya. Namun Jongin masih tidak tega untuk menggerakkan pinggulnya. Ini pertama bagi Baekhyun. Pasti rasanya sakit. Pikirnya.

Tak lama kemudian mereka kehabisan napas. Baekhyun melepaskan ciuman mereka. Lalu mengambil napas sebanyak-banyaknya. Jongin juga. Mereka mengambil napas dengan saling menatap.

Sungguh, menurut Jongin, Baekhyun sangatlah cantik. Dan itu berlaku bagi Baekhyun juga. Jongin sangat tampan bagi Baekhyun. Baekhyun tersenyum malu-malu. Ia cukup gengsi untuk meminta Jongin bergerak. Tapi kenapa Jongin tidak peka?

"Move," pintanya yang diberi seringaian oleh Jongin. Lelak berkulit tan itu pun mulai menggerakkan pinggunya. Keluar dan masuk dengan tempo sedang. Dan semakin lama semakin cepat.

Baekhyun. Lelaki yang ada di bawah hanya bisa memejamkan matanya nikmat. Bibirnya mendesah hebat. Kedua tangannya meremas sprei. Sesekali tangannya menarik leher Jongin untuk melakukan ciuman.

Biarkan aku gila untuk malam ini.

.

.

.

Jam mulai menunjukkan pukul tujuh lebih. Namun dua insan tersebut masih tertidur dengan nyenyak. Jongin memeluk tubuh mungil itu. Pemilik tubuh mungil itu sendiri menempelkan kepalanya di dada bidang Jongin. Mata mereka sama-sama terpejam.

Jongin adalah pihak yang pertama kali membuka mata. Dan wajah damai Baekhyun adalah hal yang pertama kali ia lihat. Jari Jongin bergerak ke wajah cantik tersebut. Merapikan helaian rambut yang tidak rapi.

Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah damai tersebut. Meninggalkan kecupan hangat di kening si mungil. Seraya mengucapkan, "Selamat pagi, milikku," dengan senyum yang merekah.

Akibatnya pihak yang dicium oleh Jongin terbangun. Mengerjapkan matanya imut. Membiasakan mata kecil itu dengan cahaya matahari yang mulai bersinar. Membuat Jongin menahan rasa gemas. Belum lagi pipi mulusnya yang merona. Ingin sekali Jongin mengecupnya.

"Pagi Jongin," lelaki mungil itu merenggangkan tangannya. Menyebabkan selimut berwarna putih yang mereka pakai tersibak dan menampakkan tubuh putih mulus Baekhyun yang penuh dengan tanda merah. Tanda jika ia milik Kim Jongin seorang.

"Lebih baik hyung tidur dulu," tangan kanan Jongin mengelus puncak kepala Baekhyun, "Aku mau mandi, hyung tidur ok?" Baekhyun hanya menguap.

Jongin mengacak rambutnya dan beranjak menuju kamar mandi. Namun, langkah kakinya terhenti saat Baekhyun memanggil namanya. Ia membalikkan badannya, melontarkan pertanyaan "Ada apa hyung?" dan memandang Baekhyun yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.

"Tentang status kita," Jongin berjalan mendekatinya. Duduk di pinggir ranjang dengan tatapan yang tertuju pada si sipit.

"Aku belum mempercayaimu. Aku masih ragu denganmu," Jongin mengangguk. Kemarin ia menembak Baekhyun. Tapi Baekhyun hanya mendesah.

"Aku tidak pergi. Karena aku…," ada jarak beberapa detik, "Aku menunggu pembuktianmu."

"Aku akan membuktikan padamu jika aku benar-benar mencintaimu. Aku serius hyung. Kau bukan pelarian, bukan pelampiasan, apalagi alat pemuas. Kau berada di sini karena aku mencintaimu."

"Tapi ini terlalu cepat Jongin. Aku ragu. Aku takut kau ak-"

"Kau percaya cinta pada pandangan pertama?" pertanyaan Jongin meninterupsi. Baekhyun mengangguk. Tentu saja ia percaya. Ia merasakan itu dengan Jongin.

"Aku mencintaimu sejak pandangan pertama," Jongin menempelkan tangan kanannya di pipi kiri Baekhyun. "Istirahatlah, kau pasti lelah," lalu mengecup kening lelaki mungil itu lagi.

Sedangkan Baekhyun hanya terdiam. Dengan pipi yang memerah. Dengan jantung yang berdetak cepat. Dengan perut yang dipenuhi kupu-kupu.

Apakah aku harus mempercayai Jongin?

.

.

.

Jongin melilitkan handuk berwarna putih di pinggangnya. Membuat enam kotak coklat di perutnya terekspos. Tetesan air memberi kesan sexy pada tubuh berwara tan tersebut.

Hidungnya mencium aroma sedap masakan saat ia menarik daun pintu. Ia keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya dan mendapati Baekhyun tidak ada di sana.

Baekhyun hyung pasti sedang memasak di dapur, simpulnya tanpa di sadari menarik kedua ujung bibir tebalnya. Menciptakan sebuah senyum yang menawan.

Dengan segera Jongin membuka lemarinya. Mengambil t-shirt berwarna hitam dan celana denim selutut. Memakainya kemudian berjalan menuju dapur dengan semangat.

Sesampainya di dapur. Jongin menemukan Baekhyun sedang sibuk dengan wajannya. Lelaki mungil itu memakai baju yang Jongin kemarin malam. T-shirt biru tua berlengan panjang. Terlihat kebesaran di tubuh mungil Baekhyun.

Walaupun kebesaran pakaian tersebut hanya dapat menutupi setengah paha Baekhyun yang mulus. Sesekali t-shirt itu terangkat karena kegiatan Baekhyun. Entah ia mengambil bumbu atau yang lainnya. Membuat Jongin menelan ludahnya dengan susah payah.

Jongin harus menahan napsunya. Ia harus bersyukur kemarin Baekhyun mau ia tiduri. Jongin berjalan mendekat dengan mata yang terkunci pada Baekhyun.

Dalam pikirannya ia ingin melingkarkan tangannya di pinggang kecil tersebut. Memeluknya erat, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Baekhyun. Menciumi daerah itu secara bertubi-tubi.

Tapi, Jongin tak ingin melakukannya. Cinta bukanlah acara peluk, cium, dan sex. Itu namanya lebih ke napsu. Jongin ingin membuktikan bahwa ia mencintai Baekhyun dengan cara yang romantis dan dewasa.

Jadi, Jongin hanya berdiri di samping Baekhyun. Baekhyun melirik ke arahnya saat Jongin mengambil tomat yang baru dicuci oleh Baekhyun dan memakannya.

"Sudah selesai mandi?" Baekhyun dapat menghirup aroma segar dari tubuh Jongin. Berbeda dengannya yang masih bau keringat bercampur sperma. Lelaki dengan tinggi 183 cm itu mengangguk. Mulutnya masih mengunyah tomat.

"Kau akan memasak apa hyung?" tanyanya saat buah merah itu telah habis.

"Ayam asam manis," Baekhyun menjawab dengan eyes smile yang menyebabkan Jongin semakin terpesona. Dadanya bergemuruh. Rasanya senang.

"Tunggu sebentar ya? Tinggal mencampur ayam goreng dengan sausnya," Jongin mengangguk dan menurti kata-kata Baekhyun. Ia menarik kursi di meja makan dan mendudukinya.

Menunggu masakan Baekhyun tersaji di hadapannya. Matanya memandang Baekhyun yang sedang memasak. Senyuman lebar tergambar secara permanen di bibir Jongin.

Jongin yakin. Di masa depan. Baekhyun akan memasak untuk dirinya dan keturunannya. Anak-anaknya akan merengek di kaki Baekhyun minta dibuatkan susu.

Atau mereka akan duduk di meja makan bersamanya, menunggu masakan Baekhyun dengan mulut yang terus mengoceh. Melontarkan kalimat protes yang masih belum sempurna, "Umma, atu thudah lapal. Atu mau matan," senyuman Jongin semakin melebar.

Bahkan bila anaknya perempuan, maka anak-anaknya akan membantu Baekhyun memasak. Jongin akan datang dengan jas hitam. Mengecup pipi istri dan anak-anaknya dan mengucapkan "Selamat pagi, koki-kokiku."

Ah indahnya, batin Jongin sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Tanpa ia sadari Baekhyun telah meletakkan masakannya di sana. Kemudian mengambil nasi dari magic jar dan duduk di depan Jongin.

"Jongin-ah, ayo makan!" serunya yang membuat Jongin mengehentikan lamunannya. Duduk dengan tegak dan mendapatkan senyuman manis dari Baekhyun.

"Kau harus makan yang banyak. Bukankan kau harus bekerja?" Baekhyun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta masakannya. Jongin terkekeh mendengar kalimat Baekhyun.

"Hari ini hari minggu hyung," ia memberi tahu bersamaan dengan Baekhyun yang meletakkan piring berisi makanan di depan Jongin. "Kau lupa?" Jongin melanjutkan sambil memberinya smirk.

"Oh ya?" Baekhyun menatapnya dengan tatapan tanpa dosa, "Aku tidak ingat, hehe," Baekhyun menyengir dan mengambil makanannya.

"Sepertinya enak," Jongin mendekatkan indra penciumannya ke piring yang baru saja Baekhyun beri, "Harum. Masakanmu selalu enak," pujinya. Baekhyun hanya tertawa kecil.

"Kau bahkan belum memakannya, Jongin-ah! Ayo makan!"

"Selamat makan!" seru mereka berdua hampir bersamaan.

.

.

.

Sore ini Baekhyun dan Jongin sedang berbelanja di mall. Mall sangat ramai karena hari ini adalah hari minggu. Sebenarnya tujuan mereka bukan untuk senang-senang. Jongin bilang ia akan membelikan Baekhyun pakaian.

Ya, karena Baekhyun tidak memilikinya. Saat ini saja Baekhyun sedang meminjam sweater abu-abu milik Jongin. Sweater itu sudah tidak cukup untuk Jongin, tapi masih terlihat kebesaran untuknya. Lalu skiny jeans. Yang terlihat tidak skiny di kaki kecil Baekhyun.

"Kau sangat kecil hyung," komentar Jongin sebelum berangkat ke mall tadi. Dan membuat Baekhyun memamerkan pout-nya dan mencubit lengan Jongin hingga sang pemilik mengaduh kesakitan.

"Aku mau yang bergambar Micky Mouse," gumamnya saat Jongin memilihkan t-shirt untuknya. Jongin menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Baekhyun. Lelaki mungil itu sedang melihat ke sekeliling.

"Micky Mouse?" Jongin mengulanginya. Dengan cepat Baekhyun memfokuskan dirinya pada Jongin.

"Eh? Em… tidak."

"Aku akan membelikan yang bergambar Micky Mouse," Baekhyun panik terhadap keputusan Jongin. Baekhyun tidak ingin merepotkan Jongin. Ia tidak sengaja tadi.

"Tidak Jongin! Tidak usah!" serunya sambil menarik-narik tangan kiri Jongin. mencoba menghentikan langkah kaki. Pemuda berkulit tan tersebut.

"Di mana tempat kaus bergambar Micky Mouse?"

"Jongin tidak usah," pintanya dengan volume pelan. Namun, terlambat. Sang penjaga toko telah menunjuk rak berisi pakaian bergambar Micky Mouse. Ia hanya pasrah digandeng oleh Jongin ke sana.

Dengan cekatan Jongin mengambil selusin t-shirt ukuran S dari rak tersebut. Mengambilnya satu dan melemparkan sisanya ke dalam keranjang yang sedang di Baekhyun. Menempelkan t-shirt berwarna biru muda tersebut ke badan mungil Baekhyun.

"Pas kan?" tanyanya. Baekhyun mengangguk. Ia sangat senang dan juga sungkan. Ia menunduk melihat gambar Micky Mouse yang tercetak pada t-shirt tersebut. Mengelus gambar berwarna itu dan merasakan nostalgia. Ia rindu keluarganya.

Baekhyun memasukkan t-shirt tersebut ke dalam ke ranjang. Kemudian mengamati Jongin yang telah memasukkan 6 potong sweater bermacam-macam warna ke dalam keranjangnya.

Jongin lelaki yang baik, ia terus memandang lelaki berkemeja hitam tersebut. Lelaki itu sibuk memambilkan baju untuk Baekhyun di rak tertinggi, lalu memasukkannya ke keranjang.

Namun, sebaik apa pun Jongin. Baekhyun masih ragu dengannya. Ia takut ini hanya jebakan Jongin. Lelaki itu hanya berpura-pura baik padanya untuk meluluhkan hati Baekhyun. Setelah Baekhyun luluh, lelaki itu akan menjadikannya budak sex.

Baekhyun tidak mau. Ia mempunyai ide. Ia harus terus menyimpan rasa luluhnya hingga berbulan-bulan. Atau bahkan setahun lebih. Ia harus menguji Jongin.

"Apa kau juga mau celana dalam bergambar Micky Mouse?" tanyanya dengan sebuah smirk. Tangan Jongin memamerkan celana dalam berwarna Micky Mouse. Celana dalam anak kecil. Untung saja toko yang mereka kunjungi tidak ramai seperti yang lainnya.

"Jongin!" Baekhyun mendelik dan menarik tangan Jongin turun.

"Aku tidak memakai celana dalam seperti itu! Itu celana dalam anak SD! Ck!" Baekhyun memukuli pemuda tan yang sedang tertawa puas tersebut.

"Bukankah kau anak SD?" Baekhyun semakin jengkel mendengar pertanyaan Jongin. Dengan cepat tangannya menjambak rambut Jongin. Walau sedikit susah karena ia harus bejinjit.

"Hyung hentikan! Hyung!" pinta Jongin masih dengan tawa di sela-selanya.

"Tidak mau! Sebelum kau minta maaf dengan benar, aku tidak mau," lelaki pendek itu beralih memukuli lengan Jongin. Bibir tipisnya maju beberapa centimeter.

Tangan kokoh Jongin memegangi pergelangan tangan mungil tersebut. Membuat gerakannya terhenti. Jongin menatap mata kecilnya serius dan dalam. Pada saat itu Baekhyun tidak dapat mengontrol dirinya. Ia hanya diam dengan detak jantung yang cepat. Lalu Jongin memegangi pundak Baekhyun.

"Aku hanya bercanda, hyung. Maafkan aku," Baekhyun mengangguk pelan.

"Aku mencintaimu," Jongin mulai menghapus jarak di antara mereka. Sedangkan, Baekhyun memejamkan matanya. Otaknya berpikir. Memikirkan sesuatu. Kurang beberapa centi untuk menempel di bibir tipis Baekhyun. Namun, sang pemilik bibir mendorong dadanya.

"Aku memaafkanmu. Tapi, aku tidak mau dicium," Jongin menghela napas kecewa, "Aku masih ragu. Aku ingin kau membuatku percaya."

"Baik, I will do it for you. I will do everything for you, hyung," ungkapnya sebelum menarik tubuh Baekhyun memasuki pelukannya. Lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung Baekhyun.

"Aku butuh tindakan bukan perkataan."

"Aku akan melakukannya. Esok, atau bahkan hari ini kau akan melihatnya," Jongin memeluknya semakin erat.

"Bahkan kau mau meninggalkan keluargamu untukku?" bisiknya pelan. Ia tahu ini pertanyaan yang kurang ajar. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia takut.

"…."

"…."

"…."

"…."

"…."

"…."

Jongin membuang napasnya kasar. "Aku tahu bibi Park memang jahat. Tapi, aku tidak dapat meninggalkan keluargaku hyung. Terlebih ayahku. Aku anak lelaki satu-satunya."

"Bagaimana jika ayahmu tidak merestui hubunganku denganmu karena hasutan bibimu?" Baekhyun masih berbisik.

"Aku akan membuktikan bahwa kau adalah orang yang baik."

"Hanya itu?"

"Itu adalah segalanya. Pilihan terbaik. Aku dan kau akan tinggal bersama ayah. Biar dia tahu bagaimana karakter yang membuat aku jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta tanpa syarat harta dan keluarga."

"Kau mencintaiku apa adanya?" anggukan adalah yang Baekhyun dapatkan dari Jongin sebagai jawaban atas pertanyaannya.

"Memangnya apa yang aku dapatkan darimu?" Jongin ikut berbisik.

"Sex?"

"Aku punya uang hyung. Bukannya sombong. Aku bisa membeli budak jika itu hanya untuk sex," ia menjawab masih dengan berbisik. Baekhyun tersadar. Jongin benar.

Orang kaya bisa mendapatkan apa saja yang ia mau. Teman tidur adalah hal kecil.

Baekhyun merasa pikirannya terhadap Jongin adalah salah. Jadi, Jongin tidak memanfaatkanku untuk sex? Baekhyun merasa bersalah. Digigitnya bibir bawah miliknya.

"Aku membutuhkanmu. Bukan untuk sex. Tapi, untuk kehidupanku," Jongin terdiam beberapa detik, melonggarkan pelukan mereka, lalu mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Baekhyun, dan melanjutkan kata-katanya, "Kau adalah serpihan yang melengkapiku, hyung."

Pipi Baekhyun bersemu merah dengan sendirinya. Detakan cepat dari jantungnya menimbulkan rasa bahagia.

"L-lebih baik k-kita m-melanjutkan belanja," ujarnya untuk mengalihkan pembicaraan. Jongin terkekeh karena ucapan Baekhyun yang terbata-bata.

.

.

.

Mereka pulang dengan tangan penuh oleh kantung plastik. Jongin sedikit kerepotan saat membuka pintu rumahnya.

"Lebih baik kita memesan ayam goreng."

"Tidak usah. Biar aku memasak untukmu, Jongin-ah," sahut Baekhyun sambil melepas sepatunya dan meletakkan benda berwarna putih itu di rak sepatu.

"Kau lelah hyung. Kau pasti juga lapar. Aku akan menelpon restoran cepat saji."

"Aku tidak lelah. Biar aku yang memasak oke?" Baekhyun tersenyum manis pada pemuda itu.

"Kau memang tidak lelah. Tapi aku tidak mau membuatmu le-"

"Dari mana saja kalian?"

Baekhyun dan Jongin dikagetkan dengan sebuah suara wanita tua. Dengan cepat mereka berdua menoleh ke arah belakang. Di ambang lorong dan ruang tamu. Di sana terdapat bibi Park yang sedang menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi. Tangannya diletakkan di pinggang. Benar-benar aristocratic.

"Kenapa ada orang luar di sini?" tanyanya dengan penekanan pada farasa orang luar.

.

.

.

Bersambung….

.

.

.

A/N:

Halo ._.

Hehe maaf kalo adegan 'iya-iya' gak hot :'v

maunya diskip tapi di sana konflik pergolakan hati seorang Baekhyun/? /apa sih gaje -_- /

Chapter ini pendek ya? :'v maaf maaf, udah update lama, chapnya pendek :'v

Oh iya, jangan lupa amal di kotak review ya :3

Satu review kalian sangat berarti bagi ceker ( ;^;)9

Jelek-jelek gini ff ini juga butuh perjuangan /? :'3 /lebay :v /

Wkwk ok don't forget to leave you review. Thanks for read my ff. makasih juga buat yang udah review di chapter sebelumnya :3

With love,

cekernya Jongin.